Anda di halaman 1dari 14

PENDAPAT HUKUM (LEGAL OPINION) *)

(Suatu Pengantar)
-----------------------------------------------
Paulus Hadisuprapto

Pendahuluan

Pembicaraan tentang Pendapat Hukum atau “Legal Opinion” pada hakikat-

nya tidak dapat dilepaskan dari perbincangan tentang Penulisan Hukum. Pe

nulisan Hukum adalah karya akademik yang berkaitan dengan hukum, Penulisan

Hukum dapat dibedakan atas dasar tujuan yang ingin dicapai. Penulisan Hukum

yang bertujuan untuk kepentingan akademik berbeda dengan penulisan hukum

yang bertujuan praktis. Penulisan Hukum akademik dapat berupa karya tulis ilmi

ah seperti, makalah, artikel ilmiah untuk majalah hukum, laporan penelitian, skrip

si, tesis dan disertasi. Sementara penulisan hukum untuk kepentingan praktis be

rupa Memoranda Hukum (Legal memorandum), Pendapat Hukum (Legal Opini

on), Pembelaan Tertulis, Penulisan untuk penyuluhan hukum atau penulisan do

kumen-dokumen hukum.

Dari paparan di atas, jelas bahwa Pendapat Hukum (Legal Opinion) meru

pakan salah satu bentuk Penulisan hukum yang utamanya disajikan dalam rang

ka kepentingan praktis. Sajian segenggam ini ingin mengemukakan pokok ba

hasan yang berkaitan dengan apa yang disebut Pendapat Hukum Itu. Sebelum

-------------------------------

*) Makalah disajikan sebagai Materi Kuliah “Legal Opinion” pada Pendidikan


Khusus Profesi Advokat,, Fakultas Hukum Universitas Diponegoro, Semarang,
11 Maret 2007.

1
membahas tentang Pendapat Hukum terlebih dahulu akan dikemukakan pembi

caraan tentang Penulisan Hukum.

Ciri-ciri Penulisan Hukum

Penulisan Hukum merupakan wujud karya ilmiah pada hakikatnya tidak da

pat dilepaskan dengan disiplin ilmu hukum itu sendiri. Ilmu Hukum memiliki ciri-ci

ri khas yang berbeda dengan disiplin ilmu lain. Secara singkat Penulisan Hukum

memiliki ciri-ciri (a) penulisan hukum merupakan upaya klarifikasi bagaimana hu

kum berlaku dalam keadaan tertentu, (b) penulisan hukum merupakan kegiatan

penulisan dalam rangka menyelesaikan masalah hukum (c) penulisan hukum

berangkat dari pendeskripsian tentang pengertian-pengertian pokok dalam hu

kum, meliputi subyek hukum, peranan dalam hukum, peristiwa hukum, hubung

an hukum, obyek hukum dan masyarakat hukum. 1

Sementara pada sisi lain, ada pula pendapat, bahwa Ilmu Hukum adalah Il

mu yang bersifat preskriptif dan terapan.2 Preskriptif karena di dalam kajian ilmu

hukum itu terkandung adanya upaya pemahaman tentang tujuan hukum, nilai-ni

lai keadilan, validitas aturan hukum, konsep-konsep hukum dan nor ma-norma

hukum, Terapan karena ilmu hukum berusaha menetapkan standard prosedur,

ketentuan-ketentuan, rambu-rambu dalam mengimplementasikan aturan hukum.

Berlandaskan pada pemahaman tersebut di atas, maka “rule” yang terkan

dung dalam pengertian Ilmu Hukum yang demikian itu tidak dapat dilepaskan da

lam rangka kegiatan penulisan hukum, pada satu sisi pengkajian diarahkan pada

subyek hukum, peranan dalam hukum, peristiwa hukum, hubungan hukum,

1
Purnadi Purbacaraka, Soerjono Soekanto, Chidir Ali, Kaidah Hukum, Jakarta : Jambatan, 1985, hal. 10
2
Peter Mahmud, SH, MS, Dr. Prof. , Penelitian Hukum, Jakarta : Prenada Media, 2005, hal. 22

2
obyek hukum dan masyarakat hukum, dan pada sisi lain mengkaji ketaatasasn

antara tujuan hukum, nilai-nilai keadilan, validitas aturan hukum, dalam pengim

plementasiannya beracara menangani kasus-kasus hukum di masyarakat.

Dengan demikian karena Pendapat Hukum merupakan bagian dari Penu

lisan Hukum, maka ciri-ciri yang menjadi karakteristik penulisan hukum itupun

berlaku untuk penyusunan Pendapat Hukum. Dalam arti apa yang seharusnya

menjadi pokok bahasan dalam Pendapat Hukum di dalamnya juga membicara

kan sedikit banyak tentang Subyek Hukum, Peranan dalam Hukum, Peristiwa

Hukum, Hubungan Hukum, Obyek Hukum, Masyarakat Hukum, dan juga meng

kaji ketaatasasan penerapan hukum inkonkretto dengan tujuan hukum, nilai

keadilan, validitas aturan hukum dalam Ketentuan Beracara dalam praktek pena

nganan kasus-kasus hukum di masyarakat.

Pendapat Hukum (Legal Opinion)

Pendapat Hukum (Legal Opinion) adalah penulisan hukum yang dibuat oleh

Kantor Hukum (Law Office) untuk kepentingan kliennya. Penulisan Hukum jenis

ini biasanya adalah untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan klien tentang suatu

permasalahan hukum tertentu. Misalnya, seorang klien meminta pendapat hu

kum mengenai masalah hukum untuk kepentingan dirinya sendiri – bekas direk

tur PT meminta pendapat hukum apakah ia bisa digugat untuk perbuatannya se

lama ia menjabat sebagai direktur PT tersebut, padahal ia sekarang sudah mele

paskan jabatannya., atau seorang investor perusahaan asing menanyakan ten

tang apa yang harus dilakukan apa ia ingin menanam modalnya pada bidang

usaha tertentu di Indonesia. Sebagai langkah awal biasanya perusahaan asing

3
itu ingin mengetahui segala ketentuan hukum yang mengatur kegiatan yang

diminatinya. Perusahaan yang berwawasan luas pasti ingin mengetahui segala

hal yang berkaitan dengan investasi yang akan dilakukannya. Untuk hal-hal yang

berhubungan dengan masalah-masalah hukum biasanya perusahaan tersebut

berusaha memperoleh Pendapat Hukum dari Kantor Hukum yang dianggapnya

bonafid.

Pendapat Hukum ini memang dimaksudkan untuk memberikan keterangan

kepada klien yang ingin mengetahui segala hal yang berkenaan dengan perma

salahan yang dihadapinya, maka isinya juga harus dapat memenuhi haparan si

klien tersebut. Dengan demikian pendapat hukum sering tidak cukup hanya me

ngemukakan segi substanstif dari segala peraturan yang dimintakan oleh klien,

namun menjelaskan juga aspek struktural tentang lembaga-lembaga apa yang

saja yang memiliki kaitan dengan permasalahan klien bersangkutan. Sering juga

mengkait pada budaya hukum yang meliptui sistem nilai yang berpengaruh ter

hadap sikap-sikap tindak warga masyarakat yang memiliki sangkut paut dengan

pertanyaan klian. Pendapat hukum tidak hanya mengemukakan apa yang seha

rusnya akan tetapi juga apa yang senyatanya ada. 3

Pendapat Hukum : Laporan Penelitian Hukum

Berlandaskan pada konsep tentang Pendapat Hukum di atas, maka tidak

terlalu berkelebihan bila dalam rangka penyusunan Pendapat Hukum perlu ada

nya dukungan data-data baik data hukum substantif maupun pratek penegakan

hukum senyatanya di masyarakat. Pendapat Hukum pada hakikatnya tidak lain

3
Victor Purba, SH. LLM, MSc (et.al) Penulisan Hukum, Jakarta : Korsorsium Ilmu Hukum, 1993, hal.
32-33.

4
adalah “laporan penelitian hukum” yang dituangkan dalam bentuk Pendapat Hu

kum. Atas dasar itu menjadi kebutuhan dalam rangka kegiatan penulisan Penda

pat Hukum, diperlukan adanya pemahaman tentang Penelitian Hukum Normatif.

Penelitian hukum dalam konteks ini dapat juga disebut sebagai penelitian
4
hukum normatif adalah “…applied research being directed to specific pro

blems and aiming for tangible outcomes for professional use”. … research which

provides a systematic exposition of the rules governing a particular legal catego

ry, analyses the relationship between rules, explain areas of difficulty and per

haps predicts future development.” 5 Sementara itu Peter Mahmud, menyatakan

bahwa penelitian hukum adalah suatu proses untuk menemukan aturan hukum

guna menjawab isu hukum yang dihadapi. Penelitian hukum dilakukan untuk

menghasilkan argumentasi, teori atau konsep baru sebagai preskripsi dalam me

nyelesaikan masalah yang dihadapi. Produk penelitian hukum adalah rights, ap-

propriate, inappropriate, or wrong.6

Berkaitan dengan metode berpikir yang diterapkan dalam tipe penelitian hu

kum yang demikian, maka metode berpikir yang diterapkan dalam penelitian hu

kum ini adalah metode deduktif, dari hal-hal yang bersifat umum menuju hal-hal

yang bersifat khusus. Wujud dari metode berpikir seperti ini tampak dalam apa

yang disebut sebagai Sillogisme yang diajarkan oleh Aristoteles. Penggunaan

metode berpikir deduktif ini berangkat dari “premis mayor”, dihadapkan pada “pre

4
Soerjono Soekanto, Purnadi Purwobotjaraka, dalam kaitan ini membedakan antara penelitian hukum
doctrinal bila masalah yang dikaji lebih mengarah pada substansi hukum dalam ranah Ideal, dan Penelitian
Hukum Empiris bila yang dikaji lebih mengarah pada substansi hukum dalam ranah Riel. (Soerjono Soekan
to, Purnadi Purbortjaraka, opcit, hal. 11.
5
Terry Hutchinson, Researching and Writing in Law, Lawbook Co, Sydney, 2002, hal. 8.
6
Peter Mahmud, 2002 (op.cit,), hal. 35

5
mis minor” dari kajian antara keduanya menghasilkan “Conclusio”. Premis Mayor

adalah aturan-aturan hukum (lazimnya bersifat umum), premis minor adalah fak-

ta-fakta hukum (kasus-kasus konkrit hukum) dari keduanya dihasilkan kesimpul

an (conclusio) apakah aturan hukum itu dapat dijadikan sarana penetapan ka

sus-kasus hukum yang ada.

Prosedur dan Mekanisme Penyusunan Pendapat Hukum

Oleh karena Pendapat Hukum pada hakikatnya adalah “laporan penelitian

hukum” maka prosedur dan mekanisme penyusunannya pun memerlukan pe

ngetahuan hukum yang komprehensif mengenai masalah yang dimintakan penje

lasan. Pemahaman tentang hukum tidak terbatas hanya pada peraturan perun

dang-undangan saja, tetapi juga bersumber pada keputusan-keputusan penga

dilan dan pendapat-pendapat para praktisi hukum senior.

Isi pendapat hukum tidak hanya berkisar pada bunyi peraturan perundang-

undangan saya tetapi juga menyangkut bagaimana pelaksanaan ketentuan per

undang-undangan itu dalam praktek sehari-hari. Di Indonesia, sering terjadi in

konsistensi antara peraturan perundang-undangan yang satu dengan peraturan

perundang-undangan yang lain, baik secara vertical maupun horizontal. Keten

tuan perundang-undangan sering menyimpang dari Ketentuan Hukum yang ting

katnya lebih tinggi. Di samping itu tidak jarang suatu ketentuan hukum ditafsir

kan secara berbeda oleh berbagai instansi. Sering pula tidak semua hal yang di

tanyakan Klien sudah ada peraturan perundang-undangannya. Bahkan sering

suatu peraturan perundang-undangan tidak dilengkapi oleh Peraturan Pelaksana

annya. Dalam banyak hal sering Keputusan Pengadilan lebih maju daripada pera

6
turan perundang-undangan yang ada, misalnya Pembaharuan Hukum ten-tang

Merk justru dimulai dari Pengadilan. Walaupun Indonesia tidak menganut prinsip

“Stare decisis” tetapi keputusan-keputusan pengadilan tetap penting arti nya

dalam lingkup kegiatan penyusunan Pendapat Hukum.

Secara singkat dapat diringkaskan bahwa penyusunan Pendapat Hukum

perlu didukung ketrampilan untuk (a) bagaimana memformulasikan masalah, (b)

bagaimana peraturan perundang-undangan mengatur masalah tersebut (c) bagai

mana keputusan pengadilan mengenai masalah tersebut dan (d) bagaimana pen

dapat dan sikap pejabat mengenai masalah tersebut.

Pada akhirnya perlu pula dikemukakan hal-hal yang harus diperhatikan da

lam penyusunan Pendapat Hukum, yaitu (a) akurat,, “check and recheck” harus

dilakukan untuk menghindarkan kesalahan fakta-fakta, pendapat-pendapat, ang

ka-angka, kutipan-kutipan dan kepustakaan. (b) singkat, hal-hal yang tidak rele

van tak usah dituliskan, (c) jelas, “ambiguity” harus dihindarkan dalam penulisan

Pendapat Hukum, (d) Perurutan, pemilihan dan pengaturan bahan harus cukup

sistematis. 7

Format Pendapat Hukum

Sebelum dikemukakan tentang format pendapat hukum, ada baiknya dikete

ngahkan terlebih dahulu tentang fungsi dari pendapat hukum. Fungsi utama dari

pendapat hukum adalah menemukan jawab atas isu hukum. Isu hukum biasa

nya dimintakan jawaban oleh klien tertentu dalam situasi tertentu. Peranan penu

lis pendapat hukum lebih cenderung bersifat prediktif ketimbang persuasive. Pe

7
Erman Rajagukguk, “Pentingnya Pengetahuan dan Kemampuan Menyusun “Pendapat Hukum” (Legal
Opinion) dan Kemampuan Ilmiah (academic writing) bagi Sarjana Hukum”, Makalah disampaikan di
Jakarta, 1993, hal. 100-101.

7
nulis pendapat hukum harus menunjukkan cara pandang obyektif terhadap perta

nyaan yang dimintakan jawab secara professional.

Format standar pendapat hukum lazimnya terdiri atas : (a) Judul, (b) Isu hu

kum yang diajukan, (c) Jawaban Singkat, (d) Pernyataan fakta (e) Pembahasan

Hukum dan (f) Simpulan.

Judul, fungsi dari judul adalah pengidentifikasian nasihat hukum yang di min

takan pendapat, penulis, tanggal penulisan, persoalan hukum khusus. Isu Hu

kum yang diajukan, pertanyaan terarah pada pengidentifikasian persoalan hu

kum yang dimintakan jawaban, melalui point ini memungkinkan pembaca diya

kinkan bahwa penulis pendapat hukum mengerti dan menguasai masalah yang

dipertanyakan. Jawaban Singkat, jawaban singkat harus diberikan dalam waktu

singkat, baru kemudian upaya pengelaborasian dan penje lasan jawaban singkat

itu disajikan belakangan dalam pembahasan dan simpulan. Pernyataan fakta,

berisi perangkat fakta sebagai dasar jawaban atas permintaan pendapat hukum.

Dalam rangka pembicaraan pernyataan fakta ini sering untuk menghindari keku

rangcermatan, fakta-fakta dibicarakan secara intens dengan klien yang meminta

pendapat hukum itu. Hal ini berguna untuk meyakinkan klien bahwa penyusun

pendapat hukum tidak “misunderstood” atas fakta yang nantinya berdampak pa

da analisis hukumnya. Klien akan puas mengemukakan fakta sambil mengeva

luasi penjelasan hukum dan aplikasinya atas kasus yang diajukan, Permintaan

pendapat hukum akan kasus tertentu akan memungkinkan profesi hukum yang

lain untuk mengakses analisis hukum yang tertuang dalam pendapat hukum.

Pembahasan, dalam bagian ini secara substansial berisi tentang penjelasan

8
pada klien anda analisis yang membimbing dan melahirkan jawaban anda atas

kasus-kasus yang dimintakan pendapat. Bagian ini merupakan inti dari suatu pen

dapat hukum, bahkan dapat dikatakan “otak” dari suatu pendapat hukum terletak

pada bagian ini. Ketrampilan yang memadai dalam penganalisaan hukum dalam

berbagai aspeknya akan terlihat pada bagian ini. Simpulan, mengarah pada ring

kasan atas beberapa point analisis anda. Simpulan akan sangat berguna bila,

analisis atas masalah yang kompleks dan multifaset menghasilkan keterkaitan

dan ringkasan pembahasan atas masalah yang kompleks dan multifaset itu. Di

samping itu simpulan dapat mula meningkatkan opsi bagi klien anda untuk me

nentukan seberapa jauh perhatian untuk mencoba memahami rincian dari ana

lisis anda. Simpulan lebih luas daripada jawaban singkat yang telah anda sampai

kan di point 2. sekaligus merupakan berisi hasil pengujian terhadap jawaban

singkat yang di sampaikan pada point 2..

9
Contoh Pendapat Hukum

Disusun untuk : Permohonan Penasihat Hukum


Disusun oleh : Summer Clerk
Tanggal : 9 November 1995
Issu Hukum : Beth Buckley : File No. 756385 ; pencurian mobil ;
Apakah Buckley dapat dibatalkan perbuatannya mem
beli mobil karena usia Buckley belum dewasa.

PERTANYAAN DASAR
Dapatkah Buckley, seorang anak, dibatalkan pembelian mobilnya manakala
ia tidak dapat memahami pertanyaan agen penjualan dan kemudian daripada itu
secara eksiden menyatakan bahwa umurnya sudah 18 tahun ?

JAWABAN SINGKAT

Mungkin dapat dibatalkan, Seorang anak dapat dibatalkan kontrak yang di


buatnya, kecuali anak memalsukan dan mendorong pihak lain terlibat dalam kon
trak. Fakta Buckley, pengadilan mungkinakan menetapkan bahwa pernyataan pe
malsuan yang dilakukan tanpa kesalahan seperti Buckley tak dapat dinyatakan
sebagai penipuan dan kemudian daripada itu akan menghalangi diri anak untuk
melakukan pembatalan kontrak. Sepertinya, pengadilan akan juga menetapkan
bahwa penjual tidak memungkinkan untuk menilai keadaan usia Buckley yang se
sungguhnya.

FAKTA

Klien kami, Beth Buckley berusia 17 tahun dan seorang siswa SLTA, Ia
akan berusia 18 tahun pada tanggal 15 desember. Dua bulan yang lalu ia mem
beli mobil bekas seharga USD 3,000 dari Willis Chevrolet. Ia telah membayar tu
nai, uang berasal dari tabungannya selama bekerja di musim panas. Buckley
mengansuransikan mobilnya, tetapi tidak ditanggungkan untuk asuransi kehilang
an mobil. Minggu lalu mobil dicuri dan Buckley bertanya apakah yang harus
dilakukannya agar ia dapat memperoleh asuransi atas hilangnya mobilnyai itu.
Ketika Buckley pertama melihat mobil di pasar mobil bekas, agen penjualan
menanyakan apakah ia cukup usia untuk dapat membeli mobil, Buckley tidak me
nyadari bahwa ia seharusnya berusia 18 tahun untuk dapat melakukan transaksi
pembelian mobil, bahkan ketika ia membayar tunai sekalipun. Ia berpikir bahwa
agen penjualan mobil bertanya apakah ia cukup usia untuk mengemudikan mobil
dan dijawabnya “Ya”. Agen penjualan mobil tidak meminta melihat kartu identitas
Buckley dan memikirkan lagi tentang masalah usia si pembeli (Buckley).
Hari esoknya, Buckley kembali ke pasar mobil, lalu memilih mobil yang ia
inginkan untuk dibelinya dan menyelesaikan transaksi, Ia ingat “menandatangani
secarik Kertas” tetapi tidak membacanya dan tidak paham apa yang tertulis di da
lam secarik kertas itu. Ia mengatakannya bahwa agen penjualan tidak mencoba
untuk menjelaskan dokumen itu. Ia dengan enaknya menunjukkan ia harus tanda

10
tangan di bagian mana dari dokumen, dan Buckley pun lalu menandatanganinya
Ia tidak menyadari bahwa ia masih memiliki copy dokumen itu, akan tetapi ia
akan melihat surat-surat itu dan memberikan kepada kami untuk kami ketahui isi
nya.

PEMBAHASAN

1. Dapatkah Beth Buckley membatalkan transaksi pembelian mobilnya ?

Seorang yang belum cukup umur tidak memiliki kemampuan untuk mengikat
kandiri dalam transaksi, akan tetapi transaksi yang dibuat oleh seorang belum cu
kup umur tidak otomatis batal. Kasus Hood v. Duren, 125, S.E. 787 (Ga. Ct, App.
1924). Secara umum, seseorang yang belum cukup umur pada saat ia membuat
transaksi dapat membatalkan transaksi atas dasar alasan waktu setelah umur-
nya mencapai usia mayoritas. O.C.G.A, # 13-3-20 (1982) Merrits v Jowers, 193
S.E. 238 (Ga. 1937) Pertimbangan kaidah adalah pengakuan bahwa seseorang
yang belum cukup umur tak memiliki cukup kematangan atas keputusan yang di
buatnya, sehingga kaidah hukum bermaksud melindunginya dari akibat-akibat
yang merugikan diri mereka.
Meskipun, seorang yang belum cukup umur dapat dihentukan dari pembatal
an pembuatan transaksi hanya apabila (a) anak telah membuat kesalahan dan
memalsukan usianya (b) para pihak yang terlibat transaksi menyadari akan pe-
malsuan usia itu dan (c) anak telah mencapai uisa diskresi. Karena unsur perta
ma sepertinya harus didisposisi dalam kasus Buckley, pendapat hukum dapat di
kemukakan berikut ini.
Buckley tanpa kesengajaan memalsukan usianya mungkin tak cukup untuk
menyatakan dirinya sebagai pelaku penipuan umur.
Unsur pertama yang diperlukan untuk menghentukan hal itu adalah penyam
paian kesalahan atau ketidakbenaran informasi. Seorang belum cukup umur
membuat kesalahan dan penyampaian informasi palsu apabila ia secara affirma
tif dan sengaja membuat pernyataan umurnya, dengan maksud agar agen pen
jualan itu memakai pernyataan anak itu sebagai dasar perbuatannya agen itu.
Seperti yang terjadi pada kasus Carney, anak itu mengatakan pada agen penjual
bahwa ia telah berumur 22 tahun, agen itu mencatatnya dan menggunakan kete
rangan anak itu untuk pengajuan lamaran kredit, dan anak menandatanganinya
dan jual beli mobil pun terjadi. Pengadilan menguatkan pendapat pengadilan di
tingkat pertama bahwa anak telah memalsukan umurnya dan transaksi pembeli
an mobil itupun dibatalkan.

SIMPULAN

Buckley dapat dibatalkan sejauh ia telah (a) memberikan keterangan palsu


tentang umurnya (b) Willis Chevrolet dapat dibernarkan melandaskan keterang-
an palsu anak itu, dan (c) Buckley telah mencapai umur untuk dapat kasusnya di
lakukan diskresi. Atas dasar fakta sebagaimana dikemukakan diatas, pengadilan

11
dapat menetapkan bahwa Buckley tidak memberikan keterangan palsu atas
umurnya, Pengadilan mungkin dapat pula menetapkan bahwa Willis Chevrolet
tak dapat dibenarkan melandaskan keputusannya menjual mobil pada anak itu
pada keterangan palsu anak itu dan dan menyatakan Buckley transaksinya diba
talkan karena tidak memenuhi syarat kedewasaan seseorang untuk berperilaku
dalam peristiwa hukum.

Penutup

1. Pendapat hukum merupakan salah satu bentuk dari Penulisan Hukum.

2. Pendapat Hukum seperti juga sifat dari Penulisan Hukum memerlukan pema

haman kajian-kajian hukum secara doctrinal

3. Pendapat Hukum pada dasarnya merupakan “laporan hasil Penelitian norma

tif” atas kasus-kasus tertentu yang dimintakan pendapat pihak lain

4. Format Penulisan Pendapat Hukum adalah (a) Judul (b) Isu Hukum (c) Ja

waban Singkat (d) Pernyataan Fakta (e) Pembahasan kasus dan (e) Sim

pulan.

---------- o0o ----------

12
Daftar Pustaka

Agus Brotosusilo, Victor Purba, Theodorus Sardjito, Buku Pegangan Dosen Pe


nulisan Hukum, Jakarta : KIH, Yayasan Asia, 1995.

Linda Holdeman Edwards, Legal Writing, Process, Analysis and Organization,


New York : Little Brown and Company, 1996

Peter Mahmud, Penelitian Hukum, Jakarta : Prenada Media, 2005

Rahmat Syafaat, Advokasi dan Pilihan Penyelesaian Sengketa, Malang :


Agritek YPN, 2005

Thomas R. Haggard, Legal Drafting in a Nutshell, St. Paul Minnesota : West


Publishing Co. 1996

---------- o0o ----------

13
14