Anda di halaman 1dari 8

A.

Aspek Hukum Menurut hukum-hukum yang berlaku di Indonesia, aborsi atau pengguguran janin termasuk kejahatan, yang dikenal dengan istilah "Abortus Provocatus Criminalis". Yang dikenai hukuman dalam hal ini : 1. Wanita yang yang melakukan abortus 2. Orang lain/Dokter/bidan/dukun/tenaga kesehatan lain yang melakukan aborsi 3. Orang-orang/pihak yang mendukung (menyuruh, membantu ataupun ikut serta) terlaksananya aborsi Aturan aborsi di Indonesia yang berlaku hingga saat ini yaitu : 1. Undang-Undang RI No. 1 Tahun 1946 tentang Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) yang menjelaskan dengan alasan apapun, aborsi adalah tindakan melanggar hukum. Sampai saat ini masih diterapkan. 2. KUHP pasal 299, 346, 347, 348, 349 : tentang larangan pengguguran kandungan. Penjelasan :

Pasal 346 : Seorang wanita yang sengaja menggugurkan atau mematikan kandungannya atau menyuruh orang lain untuk itu, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun.

Pasal 347 : (1) Barang siapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan seorang wanita tanpa persetujuannya, diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun. (2) Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita tersebut,diancam dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun.

Pasal 348 : (1) Barang siapa dengan sengaja menggunakan atau mematikan kandungan seorang wanita dengan persetujuannya, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun enam bulan. (2) Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita tersebut,diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun.

Pasal 349 : Jika seorang dokter, bidan atau juru obat membantu melakukan kejahatan berdasarkan pasal 346, ataupun membantu melakukan salah satu kejahatan dalam pasal 347 dan 348, maka pidana yang ditentukan dalam pasal itu dapat dditambah dengan sepertiga dan dapat dicabut hak untuk menjalankan pencaharian dalam mana kejahatan dilakukan.

3. Undang-Undang RI No. 7 Tahun 1984 tentang Pengesahan Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Perempuan. 4. Undang-undang RI No. 23 Tahun 1992

Pasal 15 tentang kesehatan yang menuliskan dalam kondisi tertentu, bisa dilakukan tindakan medis tertentu (aborsi). Penjelasan :

Ayat (1) Tindakan medis dalam bentuk pengguguran kandungan dengan alasan apapun, dilarang karenabertentangan dengan norma hukum, norma agama, norma kesusilaan dan norma kesopanan.Namun dalam keadaan darurat sebagai upaya untuk menyelamatkan jiwa ibu atau janin yangdikandungnya dapat diambil tindakan medis tertentu.

Ayat (2) Butir a : Indikasi medis adalah suatu kondisi yang benar-benar mengharuskan diambil tindakan medis tertentu sebab tanpa tindakan medis tertentu itu,ibu hamil dan janinnya terancam bahayamaut.Butir b : Tenaga kesehatan yang dapat melakukan tindakan medis tertentu adalah tenaga yangmemiliki keahlian dan wewenang untuk melakukannya yaitu seorang dokter ahli kandunganseorang dokter ahli kebidanan dan penyakit kandungan.Butir c :Hak utama untuk memberikan persetujuan adalah ibu hamil yang bersangkutan kecualidalam keadaan tidak sadar atau tidak dapat memberikan persetujuannya ,dapat diminta darisemua atau keluarganya.Butir d :Sarana kesehatan tertentu adalah sarana kesehatan yang memiliki tenaga dan peralatanyang memadai untuk tindakan tersebut dan ditunjuk oleh pemerintah.

Ayat (3) Dalam Peraturan Pemerintah sebagai pelaksanan dari pasal ini dijabarkan antara lain mengenal keadaan darurat dalam menyelamatkan jiwa ibu hamil atau janinnya,tenaga

kesehatanmempunyai keahlian dan wewenang bentuk persetujuan, sarana kesehatan yang ditunjuk. 2.Abortus Provocatus Criminalis ( Abortus buatan illegal ) Yaitu pengguguran kandungan yangtujuannya selain untuk menyelamatkan atau menyembuhkan si ibu, dilakukan oleh tenaga yangtidak kompeten serta tidak memenuhi syarat dan cara-cara yang dibenarkan oleh undang-undang.Abortus golongan ini sering juga disebut dengan abortus provocatus criminalis karena didalamnya mengandung unsur kriminal atau kejahatan.Abortus hanya dapat dibenarkan sebagai pengobatan, apabila satu-satunya jalan untuk menolong jiwa ibu dari

bahaya maut atau abortus provokatus therapiuticus, seperti juga tercantum dalamUndang-undang tentang Kesehatan No.23 tahun 1992. Keputusan untuk melakukan abortus,sekurang-kurangnya 2 dokter, dan persetujuan tertulis dari isteri, suami dan keluarga terdekat,dan sebaiknya dilakukan di rumah sakit atau sarana kesehatan yang memadai.Sedangkan dalam Kitab Undang- Undang Hukum Pidana (KUHP) tindakan penggugurankandungan yang disengaja digolongkan ke dalam kejahatan terhadap nyawa (Bab XIX pasal 346s/d 249). Pasal 77c : kebebasan menentukan reproduksi Pasal 80 : dokter boleh melakukan aborsi yang aman.

B. Apabila ditinjau dari Human Rights (HAM) :


Setiap manusia berhak kapan mereka bereproduksi RUU pasal 7 : berhak menentukan kapan dan jumlah reproduksi. RUU Kesehatan pasal 63

C. Aspek Etika Kedokteran

Bunyi lafal sumpah dokter : Saya akan merahasiakan segala sesuatu yang saya ketahui dari pasien bahkan hingga pasien meninggal.

Bunyi lafal sumpah dokter : Saya akan menghormati setiap hidup insane mulai dari pembuahan.

Penjelasan Pasal 7c KODEKI : Abortus Provokatus dapat dibenarkan dalam tindakan pengobatan/media

Pasal 10 KODEKI : Dokter wajib mengingat akan kewajibannya melindungi hidup tiap insani

http://www.aborsi.org/hukum-aborsi.htm (12Oktober 2007) Kamus Kedokteran Dorland. Jakarta : EGC

http://stitidharma.org/modules.php?name=Content&pa=showpage&pid=34

http://www.mui.or.id/mui_in/fatwa.php?id=101 Kode Etik Kedokteran Indonesia dan Pedoman Pelaksanaan Kode Etik Kedokteran Indonesia. Sumatera Utara: Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

library.usu.ac.id/modules.php?op=modload&name=Downloads&file=index&req=getit&lid=447

http://www.gaulislam.com/aborsi-dalam-pandangan-hukum-islam/ (14 Agustus 2007)

http://www.scribd.com/doc/76713847/Aborsi-dalam-etika Ada 3 aturan aborsi di Indonesia yang berlaku hingga saat ini yaitu : 5. Undang-Undang RI No. 1 Tahun 1946 tentang Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) yang menjelaskan dengan alasan apapun, aborsi adalah tindakan melanggar hukum. Sampai saat ini masih diterapkan. 6. Undang-Undang RI No. 7 Tahun 1984 tentang Pengesahan Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Perempuan. 7. Undang-undang RI No. 23 Tahun 1992 tentang kesehatan yang menuliskan dalam kondisi tertentu, bisa dilakukan tindakan medis tertentu (aborsi). Aborsi itu sudah jelas-jelas tidak dizinkan oleh etika kedokteran, kecuali atas indikasi medis seperti gangguan mental, perkosaan, bayi cacat/kelainan bawaan, sosial. Akan tetapi banyak dokter yang melakukan praktek aborsi secara illegal. Terlepas dari sikap pro dan kontra, aborsi memang telah menjadi suatu komoditas industri yang menggiurkan untuk meraup uang dengan mudah, dan kebanyakan inilah yang difikirkan oleh dokter tanpa mempermasalahkan keselamatan pasien. Padahal telah kita ketahui bahwa tindakan aborsi ini sangat bertentangan dengan sumpah dokter sebagai pihak yang selalu menjadi pelaku utama (selain para tenaga kesehatan baik formal maupun non-formal lainnya) dalam hal tindakan aborsi ini. Pengguguran atau aborsi dianggap suatu pelanggaran pidana. Ketentuan Hukumnya dalam KUHP Bab XIX Pasal 346 s/d 350 dinyatakan sebagai berikut

a.

Pasal 346 : Seorang wanita yang sengaja menggugurkan atau mematikan kandungannya atau menyuruh orang lain untuk itu, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun.

b.

Pasal 347 : (1) Barang siapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan seorang wanita tanpa persetujuannya, diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun. (2) Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita tersebut,diancam dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun.

c.

Pasal 348 : (1) Barang siapa dengan sengaja menggunakan atau mematikan kandungan seorang wanita dengan persetujuannya, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun enam bulan. (2) Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita tersebut,diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun. Pasal 349 : Jika seorang dokter, bidan atau juru obat membantu melakukan kejahatan berdasarkan pasal 346, ataupun membantu melakukan salah satu kejahatan dalam pasal 347 dan 348, maka pidana yang ditentukan dalam pasal itu dapat dditambah dengan sepertiga dan dapat dicabut hak untuk menjalankan pencaharian dalam mana kejahatan dilakukan.

d.

http://www.scribd.com/doc/76713847/Aborsi-dalam-etika

Pada penjelasan UU no 23 tahun 1992 pasal 15 dinyatakan sebagai berikut:

Ayat (1) Tindakan medis dalam bentuk pengguguran kandungan dengan alasan apapun, dilarang karenabertentangan dengan norma hukum, norma agama, norma kesusilaan dan norma kesopanan.Namun dalam keadaan darurat sebagai upaya untuk menyelamatkan jiwa ibu atau janin yangdikandungnya dapat diambil tindakan medis tertentu. Ayat (2) Butir a : Indikasi medis adalah suatu kondisi yang benar-benar mengharuskan diambil tindakanmedis tertentu sebab tanpa tindakan medis tertentu itu,ibu hamil dan janinnya terancam bahayamaut.Butir b : Tenaga kesehatan yang dapat melakukan tindakan medis tertentu adalah tenaga yangmemiliki keahlian dan wewenang untuk

melakukannya yaitu seorang dokter ahli kandunganseorang dokter ahli kebidanan dan penyakit kandungan.Butir c :Hak utama untuk memberikan persetujuan adalah ibu hamil yang bersangkutan kecualidalam keadaan tidak sadar atau tidak dapat memberikan persetujuannya ,dapat diminta darisemua atau keluarganya.Butir d :Sarana kesehatan tertentu adalah sarana kesehatan yang memiliki tenaga dan peralatanyang memadai untuk tindakan tersebut dan ditunjuk oleh pemerintah. Ayat (3) Dalam Peraturan Pemerintah sebagai pelaksanan dari pasal ini dijabarkan antara lain mengenalkeadaan darurat dalam menyelamatkan jiwa ibu hamil atau janinnya,tenaga kesehatanmempunyai keahlian dan wewenang bentuk persetujuan, sarana kesehatan yang ditunjuk. 2.Abortus Provocatus Criminalis ( Abortus buatan illegal ) Yaitu pengguguran kandungan yangtujuannya selain untuk menyelamatkan atau menyembuhkan si ibu, dilakukan oleh tenaga yangtidak kompeten serta tidak memenuhi syarat dan cara-cara yang dibenarkan oleh undangundang.Abortus golongan ini sering juga disebut dengan abortus provocatus criminalis karena didalamnya mengandung unsur kriminal atau kejahatan.Abortus hanya dapat dibenarkan sebagai pengobatan, apabila satusatunya jalan untuk menolong jiwa ibu dari bahaya maut atau abortus provokatus therapiuticus, seperti juga tercantum dalamUndang-undang tentang Kesehatan No.23 tahun 1992. Keputusan untuk melakukan abortus,sekurang-kurangnya 2 dokter, dan persetujuan tertulis dari isteri, suami dan keluarga terdekat,dan sebaiknya dilakukan di rumah sakit atau sarana kesehatan yang memadai.Sedangkan dalam Kitab Undang- Undang Hukum Pidana (KUHP) tindakan penggugurankandungan yang disengaja digolongkan ke dalam kejahatan terhadap nyawa (Bab XIX pasal 346s/d 249). Beberapa pasal yang mengatur abortus provocatus dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP):

PASAL 299 1) Barang siapa dengan sengaja mengobati seorang wanita atau menyuruh supaya diobati,dengan diberitahukan atau ditimbulkan harapan, bahwa karena pengobatan itu hamilnya dapatdigugurkan, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun atau denda paling banyak empat pulu ribu rupiah. 2) Jika yang bersalah, berbuat demikian untuk mencari keuntungan, ataumenjadikan perbuatan tersebut sebagai pencaharian atau kebiasaan atau jika dia seorang tabib,bidan atau juru obat, pidananya dapat ditambah sepertiga. 3) Jika yang bersalah melakukankejahatan tersebut dalam menjalankan pencaharian, maka dapat dicabut haknya untuk melakukanpencaharian.

PASAL 346 Seorang wanita yang sengaja menggugurkan atau mematikan kandungannya atau menyuruhorang lain untuk itu, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun. PASAL 347 1) Barang siapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan seorang wanita tanpapersetujuan, diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun. 2) Jika perbuatan itumenyebabkan matinya wanita tersebut, dikenakan pidana penjara paling lama lima belas tahun. PASAL 348 1) Barang siapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan seseorang wanitadengan persetujuannya, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun enam bulan. 2)Jika perbuatan tersebut mengakibatkan matinya wanita tersebut, dikarenakan pidana penjarapaling lama tujuh tahun. PASAL 349 Jika seorang dokter, bidan atau juru obat membantu melakukan kejahatan yang tersebut pasal346, ataupun melakukan atau membantu melakukan salah satu kejahatan yang diterangkan dalampasal 347 dan 348, maka pidana yang ditentukan dalam pasal itu dapat ditambah dengn sepertigadan dapat dicabut hak untuk menjalankan pencaharian dalam mana kejahatan dilakukan. PASAL 535 Barang siapa secara terang-terangan mempertunjukkan suatu sarana untuk menggugurkankandungan, maupun secara terang-terangan atau tanpa diminta menawarkan, ataupun secaraterang-terangan atau dengan menyiarkan tulisan tanpa diminta, menunjuk sebagai bisa didapat,sarana atau perantaraan yang demikian itu, diancam dengan kurungan paling lama tiga bulan ataudenda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah. Dari rumusan pasal-pasal tersebut diatas dapat ditarik kesimpulan : 1. Seorang wanita hamil yang sengaja melakukan abortus atau ia menyuruh orang lain, diancamhukuman empat tahun.

2. Seseorang yang sengaja melakukan abortus terhadap ibu hamil, dengan tanpa persetujuan ibuhamil tersebut diancam hukuman 12 tahun, dan jika ibu hamil itu mati diancam 15 tahun3. Jika dengan persetujuan ibu hamil, maka diancam hukuman 5,5 tahun penjara dan bila ibuhamil tersebut mati diancam hukuman 7 tahun penjara.4. Jika yang melakukan dan atau membantu melakukan abortus tersebut seorang dokter, bidanatau juru obat (tenaga kesehatan) ancaman hukumannya ditambah sepertiganya dan hak untuk praktek dapat dicabut.Meskipun dalam KUHP tidak terdapat satu pasal pun yang memperbolehkan seorang doktermelakukan abortus atas indikasi

medik, sekalipun untuk menyelamatkan jiwa ibu, dalamprakteknya dokter yang melakukannya tidak dihukum bila ia dapat mengemukakan alasan yangkuat dan alasan tersebut diterima oleh hakim (Pasal 48). Selain KUHP, abortus buatan yang ilegal juga diatur dalam Undang Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan:

PASAL 80 Barang siapa dengan sengaja melakukan tindakan medis tertentu terhadap ibu hamil yang tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 15 ayat (1) dan ayat (2), dipidanadengan penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana denda paling banyak Rp.500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah)Dengan demikian jelas bagi kita bahwa melakukan abortus buatan dapat merupakan tindakankejahatan, tetapi juga bisa merupakan tindakan ilegal yang dibenarkan undang-undang.