Anda di halaman 1dari 5

Tinjauan Pustaka

Dampak Asap Kebakaran Hutan pada Pernapasan


Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia - RS Persahabatan, Jakarta, Indonesia PENDAHULUAN Indonesia mempunyai hutan ke-3 terluas dunia setelah Brazil dan Zaire. Luas hutan Indonesia kini diperkirakan mencapai 120,35 juta hektar atau 63 persen luas daratan.1 Kebakaran hutan telah menjadi masalah bukan hanya di Indonesia tetapi juga berdampak regional di Asia Tenggara yang berpengaruh terhadap berbagai sektor kehidupan seperti gangguan aktivitas kehidupan sehari-hari, hambatan transportasi, kerusakan ekologis, penurunan pariwisata, dampak politik, ekonomi dan gangguan kesehatan.3,4 World Wildlife Fund (WWF) menyampaikan kerugian akibat kebakaran hutan pada tahun 1997 di Indonesia kurang lebih 4,4 milyar dolar Amerika Serikat. World Wildlife Fund (WHO) memperkirakan sekitar 20 juta orang Indonesia telah terpajan asap kebakaran hutan yang mengakibatkan berbagai gangguan paru dan sistem pernapasan.3,5 Sejumlah besar bahan kimia asap kebakaran hutan dapat mengganggu kesehatan meliputi partikel dan komponen gas seperti sulfur dioksida (SO2), karbon monoksida (CO), formaldehid, akrelein, benzen, nitrogen oksida (NOx) dan ozon (O3).3,5 Dampak buruk ini akan lebih nyata dijumpai pada para manula, bayi, serta mereka yang memiliki penyakit paru sebelumnya. Dampak buruk tersebut juga dapat mengenai populasi orang sehat.2 Tinjauan pustaka ini membahas pengaruh asap akibat kebakaran hutan pada pernapasan serta cara pencegahannya. KEJADIAN Hampir semua negara di dunia sudah pernah mengalami kebakaran hutan kecuali Antartika. Perancis pernah mengalami kebakaran hutan yang menghanguskan 21.100 hektar (ha), di Portugal pada tahun 2005 sekitar 286.400 ha atau 3.1% wilayah negara terbakar, kebakaran hutan di Amerika menghanguskan 1,74 juta ha atau 0,18% wilayah negara. Negara bagian California terpajan 7.000 kebakaran hutan atau sekitar 125.000 hektar setiap tahun dengan rata-rata biaya pertahun 75 juta dolar Amerika. Pada tahun 1992 dilaporkan lebih dari 900 bangunan hancur karena kebakaran hutan. Penyebab paling umum kebakaran hutan adalah pembakaran, akibat saluran listrik dan petir.5 Di Indonesia kebakaran hutan pertama kali terjadi pada tahun 1982 pada sejumlah hutan batubara muda di Kalimantan. Sejak tahun 1997 sampai saat ini, kebakaran telah menghanguskan lebih dari 165.000 hektar hutan di beberapa provinsi, yaitu Sumatera Utara, Riau, Jambi, Bengkulu, Kalimantan, Maluku, dan Papua.1,2 Kebakaran hutan di Indonesia telah menghanguskan sekitar: 4 Tahun 1982 dan 1983 : 3,6 juta hektar Tahun1997 dan 1998 : 9,8 juta hektar Tahun 2005 : 13.328 hektar. Data lain menunjukkan bahwa akibat kebakaran hutan di Indonesia, ambang batas atau total suspended particulate (TSP) sebesar 260 g/m3 telah terlampaui di beberapa provinsi, seperti Sumatera Barat (5 10 kali ambang batas), Riau (0,8-7 kali), Sumatera Selatan (3,5-8 kali), Kalimantan Barat (0,5-7,3 kali), dan Kalimantan Tengah (5-15 kali).5 DEFINISI Kebakaran hutan (wildfire) adalah keadaan api menjadi tidak terkontrol dalam vegetasi yang mudah terbakar di daerah pedesaan atau daerah yang luas. Nama lainnya yaitu bush fire, forest fire, grass fire, hill fire, peat fire, vegetation fire, wildland fire, tergantung dari tipe vegetasi yang terbakar. Kebakaran hutan berbeda dengan kebakaran biasa berdasarkan kekuatan dan luasnya api. Perbedaannya adalah penyebaran yang jauh dari tempat semula, dapat berganti arah tanpa diduga.6 Definisi lain kebakaran hutan adalah kebakaran liar atau kebakaran vegetasi. Kebakaran rumput atau kebakaran semak yaitu kebakaran yang terjadi di alam liar, yang dapat juga memusnahkan rumah atau sumber daya pertanian.4 PENYEBAB Penyebab alami kebakaran hutan ada empat yaitu petir, erupsi vulkanik, percikan api dari reruntuhan batu dan pembakaran spontan. Kebakaran hutan juga dapat disebabkan ulah manusia seperti arson, puntung rokok yang masih menyala, percikan api dari peralatan. Di beberapa daerah orang membakar habis suatu lahan perhutanan agar menjadi subur dengan cara lebih murah. Di Amerika, Kanada, dan Cina Utara, petir menjadi penyebab utama, sedangkan di negara lain (seperti Meksiko, Amerika Tengah, Afrika, Asia Tenggara, Fiji, dan Selandia Baru), kesalahan manusia menjadi penyebab utama. Penyebab kebakaran liar, antara lain :5,6 Sambaran petir pada hutan kering akibat musim kemarau panjang Kelalaian manusia seperti membuang puntung rokok sembarangan atau lupa mematikan api di perkemahan Aktivitas vulkanis seperti terkena aliran lahar atau awan panas dari letusan gunung berapi Tindakan disengaja seperti membersihkan lahan pertanian atau membuka lahan pertanian yang baru atau vandalism Kebakaran di bawah tanah gambut dapat menyulut kebakaran di atas tanah saat musim kemarau KOMPOSISI ASAP Asap merupakan perpaduan atau campuran karbon dioksida, air, zat yang terdifusi di udara, zat partikulat, hidrokarbon, zat kimia organik, nitrogen oksida dan mineral. Ribuan komponen lainnya dapat ditemukan tersendiri dalam asap. Komposisi asap tergantung dari banyak faktor, yaitu jenis bahan pembakar, kelembaban, temperatur api, kondisi angin

Fikri Faisal, Faisal Yunus, Fachrial Harahap

CDK-189/ vol. 39 no. 1, th. 2012

31

Tinjauan Pustaka
dan hal lain yang mempengaruhi cuaca, baik asap tersebut baru atau lama. Jenis kayu dan tumbuhan lain yang terdiri dari selulosa, lignin, tanin, polifenol, minyak, lemak, resin, lilin dan tepung, akan membentuk campuran yang berbeda saat terbakar.5,6,8 Materi partikulat atau Particulate Matter (PM) merupakan bagian penting dalam asap kebakaran untuk pajanan jangka pendek (jam atau mingguan). Materi partikulat adalah partikel tersuspensi, yang merupakan campuran partikel solid dan droplet cair. Karakteristik dan pengaruh potensial materi partikulat terhadap kesehatan tergantung pada sumber, musim, dan keadaan cuaca. Materi partikulat dibagi menjadi: Ukuran lebih dari 10 mm biasanya tidak sampai ke paru; dapat mengiritasi mata, hidung dan tenggorokan. Partikel kurang atau sama dengan 10 mm; dapat terinhalasi sampai ke paru. Partikel kasar (coarse particles) berukuran 2,5 10 mm. Partikel halus (fine particles) berdiameter kurang dari 2,5 mm. Partikel debu atau materi partikulat melayang (suspended particulate matter) merupakan campuran sangat rumit berbagai senyawa organik dan anorganik di udara dengan diameter <1 m sampai maksimal 500 m. Materi partikulat akan berada di udara dalam waktu relatif lama dalam keadaan melayang dan masuk ke dalam tubuh manusia melalui saluran pernapasan. Karena komposisi materi partikulat yang rumit dan pentingnya ukuran partikulat dalam menentukan pajanan, banyak istilah digunakan untuk menyatakan materi partikulat di udara. Beberapa istilah mengacu pada metode pengambilan sampel udara seperti suspended particulate matter (SPM), total suspended particulate (TSP) atau ballack smoke. Istilah lain lebih mengacu pada tempat di saluran napas, tempat materi partikulat mengendap yaitu inhalable thoracic particulate yang terutama mengendap pada saluran napas bagian bawah.8,12 Partikel asap cenderung sangat kecil dengan ukuran hampir sama dengan panjang gelombang cahaya yang terlihat atau 0,40,7 mm. Partikel asap tersebut hampir sama dengan fraksi partikel PM2,5 sehingga dapat menyebar dalam cahaya dan mengganggu jarak pandang. Partikel halus dapat terinhalasi ke dalam paru sehingga lebih berisiko mengganggu kesehatan dibandingkan partikel lebih besar. Polutan lain yang berbahaya adalah karbon monoksida yang tidak berwarna, tidak berbau, yang dihasilkan dari pembakaran kayu atau material organik yang tidak sempurna. Kadar tertinggi karbon monoksida adalah saat smoldering, khususnya dekat api. Polutan udara lain yang dapat mengiritasi saluran pernapasan yaitu akrolein, formaldehid, dan benzena - karsinogen dalam jumlah lebih rendah dibandingkan materi partikulat dan karbon monoksida. Secara umum, peningkatan kadar PM 10 m di udara dihubungkan dengan:3 Peningkatan berbagai keluhan pernapasan Peningkatan kunjungan ke instansi gawat darurat Peningkatan rawat inap dan risiko kematian Eksaserbasi akut asma bronkial dan penyakit paru obstruktif kronik. Karakteristik asap kebakaran Beberapa faktor yang berperan seperti cuaca, fase kebakaran dan struktur tanah dapat mempengaruhi sifat api dan efek asap kebakaran. Secara umum cuaca berangin membuat konsentrasi asap lebih rendah karena asap akan bercampur dengan udara. Sistem cuaca regional akan membuat api kebakaran menyebar lebih cepat dan membawa dampak yang lebih besar. Intensitas panas, khususnya saat awal kebakaran akan membawa asap ke udara dan menetap, kemudian turun jika suhu menurun. Asap kebakaran pertama biasanya langsung dibawa angin sehingga menjadi prediksi area yang terbakar.4 Beberapa produk pembakaran dikategorikan sebagai berikut:5,6,8 1. Partikel 2. Polynuclear aromatic hydrocarbon 3. Karbon monoksida 4. Aldehid 5. Asam organik 6. Semivolatile dan senyawa organik yang mudah menguap 7. Radikal bebas 8. Ozon 9. Fraksi partikel anorganik. Penilaian polusi udara Beberapa negara seperti Singapura dan Brunei Darusalam menggunakan pollutant standard index (PSI) yang dikeluarkan oleh United States Evironmental Protection Agency (USEPA) untuk melaporkan konsentrasi populasi udara sehari-hari. Indonesia menggunakan istilah Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) atau PSI dengan pembagian sebagai berikut :2 PSI 0 50 : sehat PSI 51- 100 : sedang PSI 101 199 : tidak begitu baik PSI 200 - 299 : tidak sehat PSI 300 399 : berbahaya PSI 400 : sangat berbahaya Udara tercemar akan masuk ke dalam tubuh manusia dan mungkin mempengaruhi paru dan saluran napas. Komponennya juga diedarkan ke seluruh tubuh; artinya selain terhisap langsung, manusia dapat menerima akibat buruk polusi ini dan secara tidak langsung dapat mengkonsumsi zat makanan atau air yang terkontaminasi. Polusi udara lain yang berdampak buruk pada kesehatan adalah Ozon (O3), radiasi pengion dan asap rokok. Penilaian polusi udara perlu memperhatikan beberapa hal meliputi :2 Partikel: TSP, PM 10, PM 2,5, PM 1,0 Gas: CO, NOx , SO2 Variasi geografis Variasi cuaca Faktor meteorologi. Asap biomassa yang keluar pada kebakaran hutan mengandung beberapa komponen yang dapat merugikan kesehatan baik dalam bentuk gas maupun partikel. Komponen gas dalam biomassa besar yang mengganggu kesehatan adalah karbon monoksida (CO), sulfur dioksida (SO2), nitrogen dioksida (NO2), dan aldehid. Beberapa senyawa lain seperti ozon (O3), karbon dioksida (CO2) dan hidrokarbon juga mempunyai dampak buruk terhadap paru. Bebagai jenis gas golongan nitrit dan nitrogen organik bisa

32

CDK-189/ vol. 39 no. 1, th. 2012

Tinjauan Pustaka
terbang jauh dan dapat dikonversi menjadi gas lain seperti ozon atau menjadi partikel dan nitrit organik.2 Partikel akibat asap kayu yang terbakar hampir seluruhnya berukuran <1 m, sebagian besar antara 0,15 sampai 0,4 m. Polusi di dalam rumah mempunyai dampak lebih besar karena penghuni rumah akan terpajan asap dalam konsentrasi tinggi selama bertahun-tahun. Pajanan kebakaran hutan biasanya berlangsung selama 4 5 bulan dalam setahun dan intensitasnya tergantung pada luas kebakaran hutan.3 Mekanisme umum akibat kebakaran Proses kebakaran adalah sebuah proses kompleks yang melibatkan api, bahan bakar, faktor iklim termasuk ketinggian dan meteorologi. Pembakaran bahan organik adalah proses oksidasi yang menghasilkan uap air dan karbondioksida (CO2) sehingga terbentuk senyawa yang tidak teroksidasi sempurna (misalnya karbon monoksida) atau terbentuk senyawa tereduksi (misalnya metana dan amonia). Senyawa ini ditemukan dalam asap yang terdiri dari partikel terhirup iritan dan gas serta dalam beberapa kasus mungkin karsinogenik. Asap sendiri adalah kompleks campuran dengan komponen yang bergantung pada jenis bahan bakar, kadar air, bahan bakar aditif seperti pestisida yang disemprot pada dedaunan atau pohon.10 Pengaruh asap terhadap kesehatan terjadi melalui berbagai mekanisme, antara lain iritasi langsung, kekurangan oksigen yang menimbulkan sesak napas, serta absorpsi toksin. Cedera termal (luka bakar) terjadi pada daerah terkena pada permukaan eksternal tubuh, termasuk hidung dan mulut; luka bakar di bawah trakea jarang terjadi karena adanya efisiensi saluran napas bagian atas yang menyerap panas. Kematian karena menghirup asap tanpa luka bakar jarang terjadi (sekitar <10%), sedangkan kematian karena menghirup asap dengan luka bakar lebih sering, yaitu sekitar 30-50%.7 Dampak asap terhadap kesehatan Penurunan kualitas udara sampai taraf membahayakan kesehatan dapat menimbulkan dan meningkatkan penyakit saluran napas seperti infeksi saluran napas akut (ISPA). Penderita ISPA di daerah bencana asap meningkat 1,8 3,8 kali dibandingkan jumlah penderita ISPA pada periode sama tahun-tahun sebelumnya.8,10 Pada saat kebakaran hutan tahun lalu, kualitas udara di wilayah Kalimantan Barat sudah pada tahap membahayakan kesehatan dengan kadar debu >1.490 g/m3 (batas yang diperkenankan 230 g/m3). Kabut asap akibat kebakaran hutan telah merambah ke berbagai propinsi seperti Kalimantan Tengah, Sumatera Utara dan Riau bahkan sudah mencapai Malaysia dan Thailand.2,5 Asap menimbulkan iritasi mata, kulit dan gangguan saluran pernapasan yang lebih berat, fungsi paru berkurang, bronkitis, asma eksaserbasi, dan kematian dini. Selain itu konsentrasi tinggi partikel-partikel iritasi pernapasan dapat menyebabkan batuk terus-menerus, batuk berdahak, kesulitan bernapas dan radang paru. Materi partikulat juga dapat mempengaruhi sistem kekebalan tubuh dan fisiologi melalui mekanisme terhirupnya benda asing ke paru. Dampak yang ditimbulkan tergantung dari individu seperti umur, penyakit pernapasan sebelumnya, infeksi dan kardiovaskuler dan ukuran partikel.12 Zat asap kebakaran yang mengenai saluran napas: 3,7,10 Karbon monoksida (CO) beredar melalui aliran darah dan paru, mengurangi pengiriman oksigen ke jaringan tubuh (anoksia) menimbulkan gejala sesak napas, kebingungan, dan dada terasa berat.7 Konsentrasi CO pada penduduk tertentu yang terpajan asap api tidak menimbulkan bahaya bermakna kecuali pada individu yang sensitif; mereka yang memiliki penyakit jantung mengalami nyeri dada dan aritmia. Pada tingkat pajanan lebih tinggi CO dapat menyebabkan sakit kepala, lemah, pusing kebingungan, disorientasi, gangguan penglihatan, koma dan kematian. Sulfurdioksida (SO2), gas pedas yang bisa menimbulkan sesak napas, mengi karena bronkokonstriksi selanjutnya mengiritasi mukosa pernapasan. Nitrogendioksida (NO2) dikeluarkan selama kebakaran suhu tinggi seperti saat kebakaran badai. Ozon (O3) dapat mengiritasi tenggorokan. Sianida (CN-) dihasilkan oleh pembakaran bahan-bahan alami dan sintetik bila kadar laktat tinggi; dapat berguna sebagai indikator di rumah sakit.

Tabel 1. Pengaruh polutan asap kebakaran pada sistem pernapasan dan organ lain4
Polutan Partikulat (partikel kecil < 10 , diameter aero dinamik < 2.5 Mekanisme Akut: iritasi bronkus, inflamasi dan reaktivitas meningkat Berkurangnya bersihan mukosilier Mengurangi respons makrofag dan imunitas lokal Reaksi fibrotik Efek potensial pada kesehatan Mengi, asma eksaserbasi Infeksi saluran napas Bronkitis kronik dan PPOK PPOK eksaserbasi

Karbon monoksida

Berikatan dengan hemoglobin Berat badan bayi lahir rendah menghasilkan karboksi hemoglo- Meningkatnya kasus kematian bin yang dapat mengurangi transperinatal port oksigen ke organ vital dan menyebabkan gangguan janin Karsinogenik Pajanan akut menyebabkan reaktivitas bronkus Pajanan kronik dapat meningkatkan kerentanan infeksi bakteri dan virus Kanker paru Kanker mulut, nasofaring dan laring Mengi, asma eksaserbasi Infeksi saluran napas Berkurangnya fungsi paru anak

Hidrokarbon aromatik polisiklik (benzo-alpyrene) Nitrogen dioksida

Sulfur dioksida

Pajanan akut menyebabkan Mengi, asma eksaserbasi reaktivitas bronkus PPOK eksaserbasi Pajanan kronik sulit untuk memis- Penyakit kardiovaskuler ahkan efek partikel Absorpsi racun ke dalam lensa se- Katarak hingga terjadi perubahan oksidatif

Kondesat asap biomass, termasuk hidrokarbon aromatik polisiklik dan ion metal

CDK-189/ vol. 39 no. 1, th. 2012

33

Tinjauan Pustaka
Hidrokarbon, contohnya gas benzene hasil pembakaran bahan organik yang tidak sempurna. Aldehid (akrolin, formaldehid/HCHO) hasil pembakaran bahan organik yang tidak sempurna. Materi Partikulat (PM), bisa padat atau cair, dihasilkan dari pembakaran tidak sempurna dengan ukuran dari 0,005 m sampai 100 m, dapat menembus saluran napas sampai ke paru. Inhalasi merupakan satu-satunya jalur pajanan yang menjadi perhatian kesehatan. Pengaruh materi partikulat bentuk padat maupun cair di udara sangat tergantung pada ukurannya. Ukuran materi partikulat yang membahayakan kesehatan umumnya berkisar antara 0,1 10 m. Partikulat 5 m dapat langsung masuk ke dalam paru dan mengendap di alveoli. Partikulat >5 m juga berbahaya karena partikulat dapat menganggu saluran pernapasan bagian atas dan dapat menyebabkan iritasi. Keadaan ini akan bertambah parah apabila terjadi reaksi sinergis dengan gas SO2 di udara.13 Kondisi kronik terpajan polusi udara beracun dengan konsentrasi tinggi sedikit meningkatkan risiko kanker. 6 berdahak dan 2 orang (3,7%) mengeluh nyeri dada.2 Populasi rentan Kebanyakan orang dewasa sehat dan anakanak akan sembuh dengan cepat dari pajanan asap dan tidak akan mendapat efek jangka panjang. Namun, populasi sensitif tertentu dapat mengalami gejala kronik yang lebih berat. Bahan yang terkandung dalam asap kebakaran hutan dapat mengiritasi mukosa serta mencetuskan gangguan pernapasan akut dan kronik seperti asma, bronkitis, penurunan faal paru, kanker sampai kematian. Gangguan fungsi makrofag, peningkatan kadar albumin dan laktosa dehidrogenase yang menunjukkan kerusakan membran sel serta kerusakan sel epitel dapat ditemukan akibat pajanan asap kebakaran hutan.3,6,11 Pada pasien penyakit jantung terdapat hubungan antara peningkatan serangan jantung dengan jumlah partikel asap di udara. Orang berusia tua mudah terpengaruh oleh asap karena mekanisme pertahanan saluran napas mereka terutama fungsi pembersih partikel sudah berkurang. Pajanan asap akan meningmengatasi sumbernya yaitu memadamkan kebakaran itu sendiri. Perlu dibina kerjasama lintas sektoral kesehatan, lingkungan hidup dan pihak meteorologi yang baik untuk memantau polusi akibat kebakaran hutan. Kalau asapnya telah menyebar, perlu dilakukan berbagai tindakan untuk melindungi masyarakat luas dari pajanan asap.2 Masyarakat sedapat mungkin melindungi dirinya sendiri dari pajanan asap dan pemerintah setempat memberikan penyuluhan tentang bahaya dan cara pencegahan kebakaran hutan.3 Saat ini cara pencegahan yang banyak digunakan adalah pemakaian masker karena relatif murah dan dapat disebarluaskan tetapi efektivitasnya masih dipertanyakan. National Institute of Occuposional Safety and Health (NIOSH) telah melakukan pengujian di Amerika Serikat dan menetapkan beberapa jenis masker yang mampu menyaring lebih dari 99% partikel silika berukuran 0,5 m. Beberapa badan kesehatan lain merekomendasikan masker yang baik yaitu mampu menyaring lebih dari 95% partikel > 0,3 m dan biasanya diberi kode R95, N95, atau P95. Masker ini harus dipasang dengan cukup rapat sehingga udara tidak dapat masuk di selasela pinggiran masker dan kulit wajah; hal yang tidak mudah dilakukan. Alat bantu napas bisa digunakan setelah penatalaksanaan lain yang lebih efektif, antara lain dengan mengurangi pajanan, termasuk tinggal di dalam rumah, dan mengurangi aktivitas, terutama pada individu yang sensitif.14 SIMPULAN 1. Kebakaran hutan merupakan masalah kesehatan yang serius 2. Asap polusi terkandung dalam biomassa yang besar pengaruhnya terhadap kesehatan paru, terutama yang berukuran <10 mm 3. Dampak asap terhadap kesehatan berupa berbagai gangguan dan keluhan pernapasan, terutama pada orang yang berisiko tinggi atau sensitif 4. Kebakaran hutan mutlak harus dicegah.

Tabel 2. Berbagai dampak kesehatan akibat terpajan kabut yang terkait dengan kebakaran hutan di 8 Provinsi di Indonesia, September - November 19971
Dampak kesehatan Jumlah kasus 527 298.125 58.095 1.446.120 4.758.600 36.462 15.822 2.446.352

Kematian Asma Bronkitis Infeksi saluran napas akut Kendala melakukan kegiatan setiap hari Peningkatan perawatan pasien rawat jalan Peningkatan perawatan pasien rawat inap Kehilangan hari kerja

Bagian Pulmonologi FKUI/RS Persahabatan dan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) cabang Jakarta yang berkunjung ke Palembang pada awal Oktober 1997 menemukan dari 158 orang yang sebelumnya sehat, 128 orang (81%) mengeluh batukbatuk, 38 orang (24,1%) mengeluh sesak napas, 30 orang (19%) mengeluh batuk berdahak dan 14 orang (8,9%) mengeluh nyeri dada. Dari 54 orang yang memiliki riwayat penyakit paru, 45 orang (83,3%) mengeluh batuk-batuk, 36 orang (66,7%) mengeluh

katkan kemungkinan infeksi saluran napas oleh bakteri dan virus akibat penekanan aktivitas makrofag sehingga timbul gejala pneumonia dan komplikasi pernapasan lain.14 Pencegahan dan penanganan penyakit Upaya terbaik tentu mencegah kebakaran hutan, ini perlu jadi prioritas utama. Karena keterbatasan sarana kesehatan dalam mencegah bahaya kebakaran hutan maka usaha pencegahan paling utama adalah

34

CDK-189/ vol. 39 no. 1, th. 2012

Tinjauan Pustaka
DAFTAR PUSTAKA
1. Rumajomi HB. Kebakaran hutan di Indonesia dan dampaknya terhadap kesehatan [Makalah pengantar Filsafah Sains, Program Pasca Sarjana]. Bogor: Institut Pertanian Bogor; 2006. 2. Aditama TY. Dampak asap kebakaran hutan terhadap kesehatan paru. Jakarta: YP IDI & IDKI, 1999; p.3-33. 3. Brauer M. Health impact of biomass air pollution. WHO. [cited 2007 Nov 4]. Available from: http//www.firesmokeheealth.org. 4. National Interagency Fire Center. The science of wildland fire. [cited 2011 Jan 9]. Available from www.nifc.gov/preved/comm_guide/wildfire/fire 4.html. 5. Dawud Y. Smoke episodes and assessment of health impacts related to haze from forest fires: Indonesian experience. The Indonesian Association of Pulmonologist, Persahabatan Hospital Jakarta; 1999.p 313-22 6. A Guide for Public Health Officials. Wildfire smoke revised July 2008. Available from: http://www.arb.ca.gov/smp/progdev/pubeduc/wfgv8.pdf 7. Disaster planning for lung health: Fire Fact Sheet. California Thoracic Society American Lung Association; 2008.p. 1-6. 8. WHO guidelines for vegetation fire events. Available from: http://www.who.effn/egry/fire.htm.accessed on november 15th,2005 9. Samet JM.Utell MJ. Indoor and Outdoor air pollution. In: Fisman Pulmonary Diseases and Disorders, 4th ed. New York : McGraw Hill Medica; 2008. pp. 1009-36. 10. Malilay J. A review of factors affecting the human health impacts of air pollutants from forest fires. Health guideline for vegetation fire. WHO october 1998.255-70. 11. WHO. Wildfires and heat-wave in the Russian Federation- public health advice. Aug. 19th, 2010. 12. D Schwela. The WHO-unepwmo Health Guidelines for Vegetation Fire Events. Department of Protection of the Human Environment, Occupational and Evironmental. Dec 4th 2001. 13. Departemen Kesehatan. Parameter pencemar udara dan dampaknya terhadap kesehatan. [cited 2011 Jan 10]. Available from: www.depkes.go.id/downloads/udara.pdf 14. Englert N. Fine particles and human health a review of epidemiological studies. Toxicol Letters 2004; 149: 235-42.

CDK-189/ vol. 39 no. 1, th. 2012

35

Anda mungkin juga menyukai