Anda di halaman 1dari 4

Ini, Rindu...

Kupandangi terus gerombolan Merpati di tepi pantai itu, bulu coklat dan putihnya semakin cantik terpapar lembayung senja. Aku sendirian, menunggu matahari tenggelam ke dalam lautan. Ada gusar yang sempurna menyelinap di balik eksotis warna senja. Aku mencintai desah ombak yang menyapu bibir pantai, meski ia tak pernah menyapu kenangan. Kenangan dari warna suara yang tak pernah tertukar dalam gelombang. Tentang seseorang yang menarik perhatian dan cinta dalam hitungan detik, tentang seseorang yang pergi tanpa mengucapkan selamat tinggal. *** Kania, jangan direkam dong. Ia mendekatiku dan meraih camera yang kupegang. Kamu suka banget ngerekam? kupegang mempertahankan muka risihnya. dan kali ini ia berhasil. Suka aja. Jawabku cekikikan, masih sambil mempertahankan camera yang Kenapa harus suka video, Kania? Ia masih berusaha meraih camera di tanganku, Karena.. Menurut aku, kalau kita enggak bisa ketemu nanti ya kita bisa langsung lihat videonya. Aku hampir menjelaskan sebagian perasaanku, ternyata. aku? Bola matanya berkumpul di sebelah kiri, mendelik menggodaku. Berarti seandainya kamu enggak bisa ketemu aku lagi, kamu bakal kangen sama Hmm, enggak.. enggak.. bukan itu maksudnya. Dan aku, gugup. Ayo ngaku?? Seseorang yang berhasil membuatku gugup itu bernama Billy Rahardjo, mahasiswa Teknik yang satu Universitas denganku. Yang ku kenal secara tak sengaja di sebuah jembatan yang menghubungkan fakultas kami, Teksas. mulai senang merekamnya. Keempat, kelima, keenam, hingga kencan kesekian yang tak terhitung. Aku masih senang terus merekamnya, hingga ia menghilang. Singkatnya kami berkenalan dan kemudian, bisa disebut kencan. Kencan ketiga aku

Billy, aku telah mendayuh dari satu kenangan ke kenangan yang lain, namum di setiap dermaganya ada kau. Bisakah kau berhenti menjadi sekedar kenangan? *** ada di hadapanku saat ini. Meski waktu berjalan melewati dua September, ia tetap tak pergi sejengkal pun dari otakku, Billy Billy dan Billy. Bahagia yang ku miliki sempurna lenyap, mungkin ditikam gulungan ombak yang

tergantikan. Suaranya entah mengiang atau mengaung di sekelilingku, Billy tak pernah Aku menyandarkan kepala di bahu tegaknya, disini lain. Aku yakin setiap orang memiliki tempat terbaik yang dianggapnya, dan disini tempatku, bahu Billy. Bil, kalau kita lulus nanti, kamu mau kemana? Aku, belum tahu. Kamu? Ia tak berekspresi, air wajahnya datar. Aku meliriknya. Aku, aku juga belum tahu. kapan dimulainya, yang mengalirkan cinta dari detik-detik pertama bertemu hingga aku sadar bahwa aku tak ingin mengakhirinya. Billy.. Iya, Kania? Sampai kapan kamu di samping aku? .... Ia hanya diam, mengusap rambut kecoklatanku, dan menciumnya. *** lembayung. Menabur warna sepi di muka air asin yang menyantapnya. Tahukan ia, resah ini bak irisan belati pada mangsanya. Baru kemarin rasanya, aku melewati malam dingin berselimutkan sweater Billy, memeluk erat diatas laju kencang sepeda motornya. Ingin ku ulang. Lewat video-video yang ku kumpulkan, aku merindukannya. Lewat senja, ombak dan angin. *** Hari itu, seandainya dapat kuhapus. Lautan di ufuk barat itu kini telah melahap sebagian tubuh matahari, senja semakin Hampir empat tahun aku dan Billy menjalin sebuah hubungan, yang tak sadar

Aku mulai cemas ketika bahkan ia tak dapat menjawab sampai kapan ia ada di sampingku, namun aku tetap diam seolah semua akan baik-baik saja. aku bahagia, tapi... sesuatu yang dingin menyelinap ke dalam ruang yang tak ku kenali. Hmm, Siap dong Billy . Aku membalas pesannya. Hari ini, sebagian mahasiswa 2007 akan resmi mendapat gelar Sarjana, aku dan Billy adalah dua diantaranya. panjangnya jalanan trotoar, bertopi penyihir, berpapan nama merah muda dengan tulisan Terbayang seorang gadis dengan seragam SMA berkepang dua berjalan melewati Kania, kamu siap? pop up SMS muncul di layar handphoneku, pagi ini seharusnya

KANIbAl ketika aku melewati gedung demi gedung menuju Balairung. Gadis itu aku, rambutku membentuk bulatan indah bernama konde. Hari ini, aku menjemput gelar sarjanaku.

empat tahun lalu. Hari ini, aku melewati jalanan ini dengan kebaya coklat creamy,

Perjalanan menuju Balairung menyelimutkan haru, aku sedikit mengenang dan meneteskan air mata. bisa disebut lari. Hari ini, ia menatapku dengan cara yang berbeda. Entah karena kebayaku, atau sesuatu yang lain... kuusahakan, entahlah ada sesuatu yang beku, yang ingin kupecahkan. Billy, gimana? Aku menunjukkan penampilanku pada Billy, dengan senyum yang Cantik, Kania. Kamu selalu cantik. Deretan giginya berjajar memamerkan senyum paling indah sedunia yang ku punya, yang aku sama sekali tak ingin kehilangannya. Kami memasuki Balairung bersama, Billy menggenggam tanganku. Sedikit atau banyak, Billy memang berbeda hari ini. Ia tak berhenti melihat ke arahku, seolah ia takut kehilangan jejakku. Beberama menit aku selesai meraih gelar sarjanaku, Billy tersenyum hangat dari pojok sana, tempatnya bersama teman-teman fakultas tekniknya. Ia menatapku dengan berkaca-kaca, aku melihatnya. Ia terharu dan pergi ke toilet untuk memuaskan harunya, pikirku. Handphoneku bergetar, satu pesan baru dari Billy. Selamat Kania, Ill always love you. Billy nampaknya sudah siap menyambut kedatanganku, langkahnya hampir saja

Thanks for everything Billy, you too congratulation . Ill too. Aku membalasnya tanpa sedikit pun curiga, seolah memang semua akan baik-baik saja. kembali sejak kupikir ingin memuaskan haru, aku belum sempat mengambil videonya dengan Toga hari ini. Aku mulai cemas, setelah setiap teleponku berakhir mailbox. Sejak saat itu, Billy tak pernah kembali. *** merindu lagi. Kini tak satu pun tangis yang kau redam, kau tak disini. Aku melahapnya sendirian. Sedikit lagi saja, lautan itu akan menenggelamkan surya tanpa ampun. Seperti kau menenggelamkan rinduku tanpa ampun pula. Namun, ia menanam cinta dengan cara terbaiknya di hatiku, hingga berakar rindu sampai ke setiap pembuluh di sekelilingnya, mematikan aku ketika sakau ingin bertemu. Tapi, pada siapa aku harus menitipkan surat yang berisi deburan rasa yang menghantam-hantam dinding hatiku? Kemana aku harus mengirimka pesan untuk menghabisi sakauku? Tak ada yang tahu Billy dimana.. Entah salah siapa, sampai saat ini aku belum bisa menghentikan bayangannya. Billy, wajahmu itu mendamaikan, setiap resahku luluh habis dalam dekapmu, aku Sampai sore tiba, ketika Balairung hampir sepi, aku masih menunggu Billy yang tak