Anda di halaman 1dari 34

Sejarah Perkembangan Bangsa Indonesia

PENDAHULUAN Sejarah Indonesia meliputi suatu rentang waktu yang sangat panjang yang dimulai sejak zaman prasejarah berdasarkan penemuan "Manusia Jawa" yang berusia 1,7 juta tahun yang lalu. Periode sejarahIndonesia dapat dibagi menjadi lima era: Era Prakolonial, munculnya kerajaan-kerajaan HinduBuddha serta Islam di Jawa dan Sumaterayang terutama mengandalkan perdagangan; Era Kolonial, masuknya orang-orang Eropa (terutama Belanda) yang menginginkan rempah-rempah mengakibatkan penjajahan oleh Belanda selama sekitar 3,5 abad antara awal abad ke-17 hingga pertengahan abad ke-20; Era Kemerdekaan Awal, pasca-Proklamasi Kemerdekaan Indonesia(1945) sampai jatuhnya Soekarno (1966); Era Orde Baru, 32 tahun masa pemerintahan Soeharto (19661998); serta Era Reformasi yang berlangsung sampai sekarang. Wilayah utama daratan Nusantara terbentuk dari dua ujung Superbenua Pangaea di Era Mesozoikum(250 juta tahun yang lalu), namun bagian dari lempeng benua yang berbeda. Dua bagian ini bergerak mendekat akibat pergerakan lempengnya, sehingga di saat Zaman Es terakhir telah terbentuk selat besar di antara Paparan Sunda di barat dan Paparan Sahul di timur.Pulau Sulawesi dan pulau-pulau di sekitarnya mengisi ruang di antara dua bagian benua yang berseberangan. Kepulauan antara ini oleh para ahli biologi sekarang disebut sebagai Wallacea, suatu kawasan yang memiliki distribusi fauna yang unik. Situasi geologi dan geografi ini berimplikasi pada aspek topografi, iklim, kesuburan tanah, sebaranmakhluk hidup (khususnya tumbuhan dan hewan), serta migrasi manusia di wilayah ini. Bagian pertemuan Lempeng Eurasia di barat, Lempeng Indo-Australia di selatan, dan Lempeng Pasifik di timur laut menjadi daerahvulkanik aktif yang memberi kekayaan mineral bagi tanah di sekitarnya sehingga sangat baik bagi pertanian, namun juga rawan gempa bumi.Pertemuan lempeng benua ini juga mengangkat sebagian dasar laut ke atas mengakibatkan adanya formasi perbukitan karst yang kaya guadi sejumlah tempat. Fosil-fosil hewan laut ditemukan di kawasan ini. Nusantara terletak di daerah tropika, yang berarti memiliki laut hangat dan mendapat penyinaran cahaya matahari terus-menerus sepanjang tahun dengan intensitas tinggi. Situasi ini mendorong terbentuknya ekosistem yang kaya keanekaragaman makhluk hidup, baik tumbuhan maupun hewan. Lautnya hangat dan menjadi titik pertemuan dua samudera besar. Selat di antara dua bagian benua (Wallacea) merupakan bagian dari arus laut dari Samudera Hindia keSamudera Pasifik yang kaya sumberdaya laut. Terumbu karang di wilayah ini merupakan tempat dengan keanekaragaman hayati sangat tinggi. Kekayaan alam di darat dan laut mewarnai kultur awal masyarakat penghuninya. Banyak di antara penduduk asli yang hidup mengandalkan pada kekayaan laut dan membuat mereka memahami navigasi pelayaran dasar, dan kelak membantu dalam penghunian wilayah Pasifik (Oseania). Benua Australia dan perairan Samudera Hindia dan Pasifik di sisi lain memberikan faktor variasi iklim tahunan yang penting. Nusantara dipengaruhi oleh sistem muson dengan akibat banyak tempat yang mengalami perbedaan ketersediaan air dalam setahun. Sebagian besar wilayah mengenal musim kemarau dan musim penghujan. Bagi pelaut dikenal angin barat (terjadi pada musim penghujan) dan angin timur. Pada era perdagangan antarpulau yang mengandalkan kapal berlayar, pola angin ini sangat penting dalam penjadwalan perdagangan. Dari sudut persebaran makhluk hidup, wilayah ini merupakan titik pertemuan dua provinsi flora dan tipe fauna yang berbeda, sebagai akibat proses evolusi yang berjalan terpisah, namun kemudian bertemu. Wilayah bagian Paparan Sunda, yang selalu tidak jauh dari ekuator, memiliki fauna tipe Eurasia, sedangkan wilayah bagian Paparan Sahul di timur memiliki fauna tipe Australia. Kawasan Wallacea membentuk "jembatan" bagi percampuran dua tipe ini, namun karena agak terisolasi ia memiliki tipe yang khas. Hal ini disadari oleh sejumlah sarjana dari abad ke-19, seperti Alfred Wallace,Max Carl Wilhelm Weber, dan Richard Lydecker. Berbeda dengan fauna, sebaran flora (tumbuhan) di wilayah ini lebih tercampur, bahkan membentuk suatu provinsi flora yang khas, berbeda dari tipe di India dan Asia Timur maupun kawasan kering Australia, yang dinamakan oleh botaniwan sebagai Malesia. Migrasi manusia kemudian mendorong persebaran flora di daerah ini lebih jauh dan juga masuknya tumbuhan dan hewan asing dari daratan Eurasia, Amerika, dan Afrika pada masa sejarah. Fosil-fosil Homo erectus yang ditemukan di beberapa tapak di Jawa menunjukkan kemungkinan kontinuitas populasi mulai dari 1,7 juta tahun (Sangiran) hingga 50.000 tahun yang lalu (Ngandong). Rentang waktu yang panjang menunjukkan perubahan fitur yang berakibat pada dua subspesies berbeda (H. erectus paleojavanicusyang lebih tua daripada H. erectus soloensis). Swisher (1996) mengajukan tesis bahwa hingga 50.000 tahun yang lalu mereka telah hidup sezaman dengan manusia modern H. sapiens. Migrasi H. sapiens (manusia modern) masuk ke wilayah Nusantara diperkirakan terjadi pada rentang waktu antara 160.000 dan 100.000 sampai tahun yang lalu. Masyarakat berciri fisik Austrolomelanesoid, yang kelak menjadi moyang beberapa suku pribumi di Semenanjung

Malaya (Semang), Filipina (Negrito), AboriginAustralia, Papua, dan Melanesia, memasuki kawasan Paparan Sunda. Mereka kemudian bergerak ke timur. Gua Niah di Sarawak memiliki sisa kerangka tertua yang mewakili masyarakat ini (berumur sekitar 60 sampai 50 ribu tahun). Sisa-sisa tengkorak ditemukan pula di gua-gua daerah karst di Jawa (Pegunungan Sewu). Mereka adalah pendukung kultur Paleolitikum yang belum mengenal budidaya tanaman atau beternak dan hidup meramu (hunt and gathering). Penemuan seri kerangka makhluk mirip manusia di Liang Bua,Pulau Flores, membuka kemungkinan adanya spesies hominid ketiga, yang saat ini dikenal sebagai H. floresiensis. Selanjutnya kira-kira 2000 tahun sebelum Masehi, perpindahan besar-besaran masuk ke kepulauan Nusantara (imigrasi) dilakukan oleh ras Austronesia dari Yunan dan mereka menjadi nenek moyang suku-suku di wilayah Nusantara bagian barat. Mereka datang dalam 2 gelombang kedatangan yaitu sekitar tahun 2.500 SM dan 1.500 SM. Bangsa nenek moyang ini telah memiliki peradaban yang cukup baik, mereka paham cara bertani yang lebih baik, ilmu pelayaran bahkan astronomi. Mereka juga sudah memiliki sistem tata pemerintahan sederhana serta memiliki pemimpin (raja kecil). Kedatangan imigran dari India pada abad-abad akhir Sebelum Masehimemperkenalkan kepada mereka sistem tata pemerintahan yang lebih maju (kerajaan). ISI 1. PRASEJARAH Secara geologi, wilayah Indonesia modern (untuk kemudahan, selanjutnya disebut Nusantara) merupakan pertemuan antara tiga lempeng benua utama: Lempeng Eurasia, Lempeng Indo-Australia, dan Lempeng Pasifik (lihat artikel Geologi Indonesia). Kepulauan Indonesia seperti yang ada saat ini terbentuk pada saat melelehnya essetelah berakhirnya Zaman Es, hanya 10.000 tahun yang lalu. Pada masa Pleistosen, ketika masih terhubung dengan AsiaDaratan, masuklah pemukim pertama. Bukti pertama yang menunjukkan penghuni pertama adalah fosil-fosil Homo erectusmanusia Jawa dari masa 2 juta hingga 500.000 tahun lalu. Penemuan sisa-sisa "manusia Flores" (Homo floresiensis) di Liang Bua, Flores, membuka kemungkinan masih bertahannya H. erectus hingga masaZaman Es terakhir. Homo sapiens pertama diperkirakan masuk ke Nusantara sejak 100.000 tahun yang lalu melewati jalur pantai Asia dari Asia Barat, dan pada sekitar 50.000 tahun yang lalu telah mencapai Pulau Papua dan Australia. Mereka, yang berciri rasial berkulit gelap dan berambut ikal rapat (Negroid), menjadi nenek moyang penduduk asliMelanesia (termasuk Papua) sekarang dan membawa kultur kapak lonjong (Paleolitikum). Gelombang pendatang berbahasa Austronesiadengan kultur Neolitikum datang secara bergelombang sejak 3000 SM dari Cina Selatan melalui Formosa dan Filipina membawa kultur beliung persegi (kebudayaan Dongson). Proses migrasi ini merupakan bagian dari pendudukan Pasifik. Kedatangan gelombang penduduk berciri Mongoloid ini cenderung ke arah barat, mendesak penduduk awal ke arah timur atau berkawin campur dengan penduduk setempat dan menjadi ciri fisik penduduk Maluku serta Nusa Tenggara. Pendatang ini membawa serta teknik-teknik pertanian, termasuk bercocok tanam padi di sawah (bukti paling lambat sejak abad ke-8 SM), beternak kerbau, pengolahan perunggu dan besi, teknik tenun ikat, praktekpraktek megalitikum, serta pemujaan roh-roh (animisme) serta benda-benda keramat (dinamisme). Pada abad pertama SM sudah terbentuk pemukiman-pemukiman serta kerajaan-kerajaan kecil, dan sangat mungkin sudah masuk pengaruh kepercayaan dari Indiaakibat hubungan perniagaan. 2. SEJARAH NAMA INDONESIA 2.1. NAMA INDONESIA PADA TAHUN 1847 DI SINGAPURA TERBIT SEBUAH MAJALAH ILMIAH TAHUNAN, JOURNAL OF THE INDIAN ARCHIPELAGO AND EASTERN ASIA (JIAEA), YANG DIKELOLA OLEH JAMES RICHARDSON LOGAN (1819-1869), SEORANG SKOTLANDIA YANG MERAIH SARJANA HUKUMDARI UNIVERSITAS EDINBURGH. KEMUDIAN PADA TAHUN1849 SEORANG AHLI ETNOLOGI BANGSA INGGRIS, GEORGE SAMUEL WINDSOR EARL (1813-1865), MENGGABUNGKAN DIRI SEBAGAI REDAKSI MAJALAH JIAEA. Dalam JIAEA volume IV tahun 1850, halaman 66-74, Earl menulis artikel On the Leading Characteristics of the Papuan, Australian and Malay-Polynesian Nations. Dalam artikelnya itu Earl menegaskan bahwa sudah tiba saatnya bagi penduduk Kepulauan Hindia atau Kepulauan Melayu untuk memiliki nama khas (a distinctive name), sebab nama Hindia tidaklah tepat dan sering rancu dengan penyebutan India yang lain. Earl mengajukan dua pilihan nama:Indunesia atau Malayunesia (nesos dalam bahasa Yunani berarti pulau). Pada halaman 71 artikelnya itu tertulis "... the inhabitants of the Indian Archipelago or Malayan Archipelago would become respectively Indunesians or Malayunesians".

Earl sendiri menyatakan memilih nama Malayunesia (Kepulauan Melayu) daripada Indunesia (Kepulauan Hindia), sebab Malayunesia sangat tepat untuk ras Melayu, sedangkan Indunesia bisa juga digunakan untuk Ceylon (Srilanka) dan Maldives (Maladewa). Earl berpendapat juga bahwa bahasa Melayu dipakai di seluruh kepulauan ini. Dalam tulisannya itu Earl memang menggunakan istilah Malayunesia dan tidak memakai istilah Indunesia. Dalam JIAEA Volume IV itu juga, halaman 252-347, James Richardson Logan menulis artikel The Ethnology of the Indian Archipelago. Pada awal tulisannya, Logan pun menyatakan perlunya nama khas bagi kepulauan tanah air kita, sebab istilah Indian Archipelago terlalu panjang dan membingungkan. Logan memungut nama Indunesia yang dibuang Earl, dan huruf u digantinya dengan huruf o agar ucapannya lebih baik. Maka lahirlah istilah Indonesia. Untuk pertama kalinya kata Indonesia muncul di dunia dengan tercetak pada halaman 254 dalam tulisan Logan: "Mr. Earl suggests the ethnographical term Indunesian, but rejects it in favour of Malayunesian. I prefer the purely geographical term Indonesia, which is merely a shorter synonym for the Indian Islands or the Indian Archipelago". Ketika mengusulkan nama "Indonesia" agaknya Logan tidak menyadari bahwa di kemudian hari nama itu akan menjadi nama resmi. Sejak saat itu Logan secara konsisten menggunakan nama "Indonesia" dalam tulisan-tulisan ilmiahnya, dan lambat laun pemakaian istilah ini menyebar di kalangan para ilmuwan bidangetnologi dan geografi. Pada tahun 1884 guru besar etnologi di Universitas Berlin yang bernama Adolf Bastian (1826-1905) menerbitkan buku Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipel ("Indonesia atau Pulau-pulau di Kepulauan Melayu") sebanyak lima volume, yang memuat hasil penelitiannya ketika mengembara di kepulauan itu pada tahun 1864sampai 1880. Buku Bastian inilah yang memopulerkan istilah "Indonesia" di kalangan sarjana Belanda, sehingga sempat timbul anggapan bahwa istilah "Indonesia" itu ciptaan Bastian. Pendapat yang tidak benar itu, antara lain tercantum dalam Encyclopedie van Nederlandsch-Indi tahun 1918. Pada kenyataannya, Bastian mengambil istilah "Indonesia" itu dari tulisan-tulisan Logan. Pribumi yang mula-mula menggunakan istilah "Indonesia" adalah Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara). Ketika dibuang ke negeri Belanda tahun 1913 ia mendirikan sebuah biro pers dengan nama Indonesische Pers-bureau. Nama Indonesisch (Indonesia) juga diperkenalkan sebagai pengganti Indisch ("Hindia") oleh Prof Cornelis van Vollenhoven (1917). Sejalan dengan itu, inlander (pribumi) diganti dengan Indonesir (orang Indonesia). . 2.2. POLITIK Pada dasawarsa 1920-an, nama "Indonesia" yang merupakan istilah ilmiah dalam etnologi dan geografi itu diambil alih oleh tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia, sehingga nama "Indonesia" akhirnya memiliki makna politis, yaitu identitas suatu bangsa yang memperjuangkan kemerdekaan. Sebagai akibatnya, pemerintah Belanda mulai curiga dan waspada terhadap pemakaian kata ciptaan Logan itu. Pada tahun 1922 atas inisiatif Mohammad Hatta, seorang mahasiswa Handels Hoogeschool (Sekolah Tinggi Ekonomi) diRotterdam, organisasi pelajar dan mahasiswa Hindia di Negeri Belanda (yang terbentuk tahun 1908 dengan nama Indische Vereeniging) berubah nama menjadi Indonesische Vereeniging atau Perhimpoenan Indonesia. Majalah mereka, Hindia Poetra, berganti nama menjadi Indonesia Merdeka. Bung Hatta menegaskan dalam tulisannya, "Negara Indonesia Merdeka yang akan datang (de toekomstige vrije Indonesische staat) mustahil disebut "Hindia-Belanda". Juga tidak "Hindia" saja, sebab dapat menimbulkan kekeliruan dengan India yang asli. Bagi kami nama Indonesia menyatakan suatu tujuan politik (een politiek doel), karena melambangkan dan mencitacitakan suatu tanah air di masa depan, dan untuk mewujudkannya tiap orang Indonesia (Indonesir) akan berusaha dengan segala tenaga dan kemampuannya." Di Indonesia Dr. Sutomo mendirikan Indonesische Studie Clubpada tahun 1924. Tahun itu juga Perserikatan Komunis Hindia berganti nama menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI). Pada tahun 1925 Jong Islamieten Bond membentuk kepanduan Nationaal Indonesische Padvinderij (Natipij). Itulah tiga organisasi di tanah air yang mula-mula menggunakan nama "Indonesia". Akhirnya nama "Indonesia" dinobatkan sebagai nama tanah air, bangsa, dan bahasa pada Kerapatan Pemoeda-Pemoedi Indonesia tanggal 28 Oktober 1928, yang kini dikenal dengan sebutan Sumpah Pemuda.

Pada bulan Agustus 1939 tiga orang anggota Volksraad(Dewan Rakyat; parlemen HindiaBelanda), Muhammad Husni Thamrin, Wiwoho Purbohadidjojo, dan Sutardjo Kartohadikusumo, mengajukan mosi kepada Pemerintah Belanda agar nama Indonesidiresmikan sebagai pengganti nama "Nederlandsch-Indie".Permohonan ini ditolak. Dengan pendudukan Jepang pada tanggal 8 Maret 1942, lenyaplah nama "Hindia-Belanda". Pada tanggal 17 Agustus 1945, menyusul deklarasi Proklamasi Kemerdekaan, lahirlah [Republik Indonesia]. 3. ERA PRA KOLONIAL 3.1. Sejarah awal Para cendekiawan India telah menulis tentang Dwipantara atau kerajaan Hindu Jawa Dwipa di pulau Jawa dan Sumatra sekitar 200 SM. Bukti fisik awal yang menyebutkan tanggal adalah dari abad ke-5 mengenai dua kerajaan bercorak Hinduisme: Kerajaan Tarumanagaramenguasai Jawa Barat dan Kerajaan Kutai di pesisir Sungai Mahakam,Kalimantan. Pada tahun 425 agama Buddha telah mencapai wilayah tersebut. Di saat Eropa memasuki masa Renaisans, Nusantara telah mempunyai warisan peradaban berusia ribuan tahun dengan dua kerajaan besar yaitu Sriwijaya di Sumatra dan Majapahit di Jawa, ditambah dengan puluhan kerajaan kecil yang sering kali menjadi vazaltetangganya yang lebih kuat atau saling terhubung dalam semacam ikatan perdagangan (seperti di Maluku). 3.2. Kerajaan Hindu-Buddha Pada abad ke-4 hingga abad ke-7 di wilayah Jawa Barat terdapat kerajaan bercorak Hindu-Budha yaitu kerajaan Tarumanagarayang dilanjutkan dengan Kerajaan Sunda sampai abad ke-16. Pada masa abad ke7 hingga abad ke-14, kerajaan Buddha Sriwijayaberkembang pesat di Sumatra. Penjelajah Tiongkok I Chingmengunjungi ibukotanya Palembang sekitar tahun 670. Pada puncak kejayaannya, Sriwijaya menguasai daerah sejauh Jawa Barat dan Semenanjung Melayu. Abad ke-14 juga menjadi saksi bangkitnya sebuah kerajaan Hindu di Jawa Timur, Majapahit. Patih Majapahit antara tahun 1331 hingga 1364, Gajah Mada berhasil memperoleh kekuasaan atas wilayah yang kini sebagian besarnya adalah Indonesia beserta hampir seluruh Semenanjung Melayu. Warisan dari masa Gajah Mada termasuk kodifikasi hukum dan dalam kebudayaan Jawa, seperti yang terlihat dalam wiracarita Ramayana. 3.3. Kerajaan Islam Islam sebagai sebuah pemerintahan hadir di Indonesia sekitarabad ke-12, namun sebenarnya Islam sudah sudah masuk keIndonesia pada abad 7 Masehi. Saat itu sudah ada jalur pelayaran yang ramai dan bersifat internasional melalui Selat Malaka yang menghubungkan Dinasti Tang di Cina, Sriwijaya di Asia Tenggara danBani Umayyah di Asia Barat sejak abad 7.[4] Menurut sumber-sumber Cina menjelang akhir perempatan ketiga abad 7, seorang pedagang Arab menjadi pemimpin pemukiman Arab muslim di pesisir pantai Sumatera. Islam pun memberikan pengaruh kepada institusi politik yang ada. Hal ini nampak pada Tahun 100 H (718 M) Raja Sriwijaya Jambi yang bernama Srindravarmanmengirim surat kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz dari Kekhalifahan Bani Umayyah meminta dikirimkan da'i yang bisa menjelaskan Islam kepadanya. Surat itu berbunyi: Dari Raja di Raja yang adalah keturunan seribu raja, yang isterinya juga cucu seribu raja, yang di dalam kandang binatangnya terdapat seribu gajah, yang di wilayahnya terdapat dua sungai yang mengairi pohon gaharu, bumbu-bumbu wewangian, pala dan kapur barus yang semerbak wanginya hingga menjangkau jarak 12 mil, kepada Raja Arab yang tidak menyekutukan tuhan-tuhan lain dengan Allah. Saya telah mengirimkan kepada anda hadiah, yang sebenarnya merupakan hadiah yang tak begitu banyak, tetapi sekedar tanda persahabatan. Saya ingin Anda mengirimkan kepada saya seseorang yang dapat mengajarkan Islam kepada saya dan menjelaskan kepada saya tentang hukum-hukumnya. Dua tahun kemudian, yakni tahun 720 M, Raja Srindravarman, yang semulaHindu, masuk Islam. Sriwijaya Jambi pun dikenal dengan nama 'Sribuza Islam'. Sayang, pada tahun 730 M Sriwijaya Jambi ditawan oleh Sriwijaya Palembang yang masih menganut Budha. Islam terus mengokoh menjadi institusi politik yang mengemban Islam. Misalnya, sebuah kesultanan Islam bernamaKesultanan Peureulak didirikan pada 1 Muharram 225 H atau 12 November 839 M. Contoh lain adalah Kerajaan Ternate. Islam masuk ke kerajaan di kepulauan Maluku ini tahun 1440. Rajanya seorang Muslim bernama Bayanullah. Kesultanan Islam kemudian semikin menyebarkan ajaran-ajarannya ke penduduk dan melalui pembauran, menggantikan Hindu sebagai kepercayaan utama pada akhir abad ke-16 di Jawa dan Sumatera. Hanya Bali yang tetap mempertahankan mayoritas Hindu. Di kepulauan-kepulauan di timur, rohaniawanrohaniawan Kristen danIslam diketahui sudah aktif pada abad ke-16 dan 17, dan saat ini ada mayoritas yang besar dari kedua agama di kepulauan-kepulauan tersebut. Penyebaran Islam dilakukan melalui hubungan perdagangan di luar Nusantara; hal ini, karena para penyebar dakwah atau mubalighmerupakan utusan dari pemerintahan Islam yang datang dari luarIndonesia, maka untuk menghidupi diri dan keluarga mereka, paramubaligh ini bekerja melalui cara berdagang, para

mubaligh inipun menyebarkan Islam kepada para pedagang dari penduduk asli, hingga para pedagang ini memeluk Islam dan meyebarkan pula ke penduduk lainnya, karena umumnya pedagang dan ahli kerajaan lah yang pertama mengadopsi agama baru tersebut. Kerajaan Islam penting termasuk diantaranya: Kerajaan Samudera Pasai, Kesultanan Bantenyang menjalin hubungan diplomatik dengan negara-negara Eropa,Kerajaan Mataram, dan Kesultanan Ternate dan Kesultanan Tidore diMaluku. 4. ERA COLONIAL 4.1. Kolonisasi Portugis Keahlian bangsa Portugis dalam navigasi, pembuatan kapal dan persenjataan memungkinkan mereka untuk melakukan ekspedisi eksplorasi dan ekspansi. Dimulai dengan ekspedisi eksplorasi yang dikirim dari Malaka yang baru ditaklukkan dalam tahun 1512, bangsa Portugis merupakan bangsa Eropa pertama yang tiba di kepulauan yang sekarang menjadi Indonesia, dan mencoba untuk menguasai sumber rempah-rempah yang berharga dan untuk memperluas usahamisionaris Katolik Roma. Upaya pertama Portugis untuk menguasai kepulauan Indonesia adalah dengan menyambut tawaran kerjasama dari Kerajaan Sunda. Pada awal abad ke-16, pelabuhan-pelabuhan perdagangan penting di pantai utara Pulau Jawa sudah dikuasai oleh Kesultanan Demak, termasuk dua pelabuhan Kerajaan Sunda yaitu Banten danCirebon. Khawatir peran pelabuhan Sunda Kelapa semakin lemah, rajaSunda, Sri Baduga (Prabu Siliwangi) mencari bantuan untuk menjamin kelangsungan pelabuhan utama kerajaannya itu. Pilihan jatuh kePortugis, penguasa Malaka. Dengan demikian, pada tahun 1512 dan 1521, Sri Baduga mengutus putra mahkota, Surawisesa, ke Malaka untuk meminta Portugis menandatangani perjanjian dagang, terutamalada, serta memberi hak membangun benteng di Sunda Kelapa. Pada tahun 1522, pihak Portugis siap membentuk koalisi dengan Sunda untuk memperoleh akses perdagangan lada yang menguntungkan. Tahun tersebut bertepatan dengan diselesaikan penjelajahan dunia oleh Magellan. Komandan benteng Malaka pada saat itu adalah Jorge de Albuquerque. Tahun itu pula dia mengirim sebuah kapal, So Sebastio, di bawah komandan Kapten Enrique Leme, ke Sunda Kalapa disertai dengan barang-barang berharga untuk dipersembahkan kepada raja Sunda. Dua sumber tertulis menggambarkan akhir dari perjanjian tersebut secara terperinci. Yang pertama adalah dokumen asli Portugis yang berasal dari tahun 1522 yang berisi naskah perjanjian dan tandatangan para saksi, dan yang kedua adalah laporan kejadian yang disampaikan oleh Joo de Barrosdalam bukunya "Da Asia", yang dicetak tidak lama sebelum tahun 1777/78. Menurut sumber-sumber sejarah ini, raja Sunda menyambut hangat kedatangan orang Portugis. Saat itu Prabu Surawisesa telah naik tahta menggantikan ayahandanya dan Barros memanggilnya "raja Samio". Raja Sunda sepakat dengan perjanjian persahabatan dengan raja Portugal dan memutuskan untuk memberikan tanah di mulutCiliwung sebagai tempat berlabuh kapal-kapal Portugis. Selain itu, raja Sunda berjanji jika pembangunan benteng sudah dimulai maka beliau akan menyumbangkan seribu karung lada kepada Portugis. Dokumen kontrak tersebut dibuat rangkap dua, satu salinan untuk raja Sunda dan satu lagi untuk raja Portugal; keduanya ditandatangani pada tanggal 21 Agustus 1522. Pada dokumen perjanjian, saksi dari Kerajaan Sunda adalahPadam Tumungo, Samgydepaty, e outre Benegar e easy o xabandar, maksudnya adalah "Yang Dipertuan Tumenggung, Sang Adipati, Bendahara dan Syahbandar Sunda Kelapa". Saksi dari pihak Portugis, seperti dilaporkan sejarawan Porto bernama Joo de Barros, ada delapan orang. Saksi dari Kerajaan Sunda tidak menandatangani dokumen, mereka melegalisasinya dengan adat istiadat melalui "selamatan". Sekarang, satu salinan perjanjian ini tersimpan diMuseum Nasional Republik Indonesia, Jakarta. Pada hari penandatangan perjanjian tersebut, beberapa bangsawan Kerajaan Sunda bersama Enrique Leme dan rombongannya pergi ke tanah yang akan menjadi tempat benteng pertahanan di mulut Ci Liwung. Mereka mendirikan prasasti, yang disebut Luso-Sundanese padro, di daerah yang sekarang menjadi Kelurahan Tugu di Jakarta Utara. Adalah merupakan kebiasaan bangsa Portugis untuk mendirikan padrao saat mereka menemukan tanah baru. Padrao tersebut sekarang disimpan di Museum Nasional Jakarta. Portugis gagal untuk memenuhi janjinya untuk kembali ke Sunda Kalapa pada tahun berikutnya untuk membangun benteng dikarenakan adanya masalah di Goa/India. Perjanjian inilah yang memicu serangan tentara Kesultanan Demak ke Sunda Kelapa pada tahun 1527 dan berhasil mengusir orang Portugis dari Sunda Kelapa pada tanggal 22 Juni 1527. Tanggal ini di kemudian hari dijadikan hari berdirinya Jakarta. Gagal menguasai pulau Jawa, bangsa Portugis mengalihkan perhatian ke arah timur yaitu ke Maluku. Melalui penaklukan militer dan persekutuan dengan para pemimpin lokal, bangsa Portugis mendirikan pelabuhan dagang, benteng, dan misi-misi di Indonesia bagian timur termasuk pulau-pulau Ternate, Ambon, dan Solor. Namun demikian, minat kegiatan misionaris bangsa Portugis terjadi pada pertengahan abad ke-16, setelah usaha penaklukan militer di kepulauan ini berhenti dan minat mereka beralih kepada Jepang, Makao dan Cina; serta gula di Brazil.

Kehadiran Portugis di Indonesia terbatas pada Solor, Floresdan Timor Portugis setelah mereka mengalami kekalahan dalam tahun 1575 di Ternate, dan setelah penaklukan Belanda atas Ambon, Maluku Utara dan Banda.[4] Pengaruh Portugis terhadap budaya Indonesia relatif kecil: sejumlah nama marga Portugis pada masyarakat keturunan Portugis di Tugu, Jakarta Utara, musik keroncong, dan nama keluarga di Indonesia bagian timur seperti da Costa, Dias, de Fretes, Gonsalves, Queljo, dll. Dalam bahasa Indonesia juga terdapat sejumlah kata pinjaman dari bahasa Portugis, seperti sinyo, nona, kemeja, jendela, sabun, keju, dll. 4.2. Kolonisasi VOC Mulai tahun 1602 Belanda secara perlahan-lahan menjadi penguasa wilayah yang kini adalah Indonesia, dengan memanfaatkan perpecahan di antara kerajaan-kerajaan kecil yang telah menggantikan Majapahit. Satusatunya yang tidak terpengaruh adalah Timor Portugis, yang tetap dikuasai Portugal hingga 1975 ketika berintegrasi menjadi provinsi Indonesia bernama Timor Timur. Belanda menguasai Indonesia selama hampir 350 tahun, kecuali untuk suatu masa pendek di mana sebagian kecil dari Indonesia dikuasai Britania setelah Perang Jawa Britania-Belanda dan masa penjajahan Jepang pada masaPerang Dunia II. Sewaktu menjajah Indonesia, Belanda mengembangkan Hindia-Belanda menjadi salah satu kekuasaan kolonial terkaya di dunia. 350 tahun penjajahan Belanda bagi sebagian orang adalah mitos belaka karena wilayah Aceh baru ditaklukkan kemudian setelah Belanda mendekati kebangkrutannya. Pada abad ke-17 dan 18 Hindia-Belanda tidak dikuasai secara langsung oleh pemerintah Belanda namun oleh perusahaan dagang bernama Perusahaan Hindia Timur Belanda (bahasa Belanda:Verenigde Oostindische Compagnie atau VOC). VOC telah diberikan hak monopoli terhadap perdagangan dan aktivitas kolonial di wilayah tersebut oleh Parlemen Belanda pada tahun 1602. Markasnya berada di Batavia, yang kini bernama Jakarta. Tujuan utama VOC adalah mempertahankan monopolinyaterhadap perdagangan rempah-rempah di Nusantara. Hal ini dilakukan melalui penggunaan dan ancaman kekerasan terhadap penduduk di kepulauankepulauan penghasil rempah-rempah, dan terhadap orang-orang non-Belanda yang mencoba berdagang dengan para penduduk tersebut. Contohnya, ketika penduduk Kepulauan Banda terus menjualbiji pala kepada pedagang Inggris, pasukan Belanda membunuh atau mendeportasi hampir seluruh populasi dan kemudian mempopulasikan pulau-pulau tersebut dengan pembantu-pembantu atau budak-budak yang bekerja di perkebunan pala. VOC menjadi terlibat dalam politik internal Jawa pada masa ini, dan bertempur dalam beberapa peperangan yang melibatkan pemimpin Mataram dan Banten. 4.3. Kolonisasi pemerintah Belanda Setelah VOC jatuh bangkrut pada akhir abad ke-18 dan setelah kekuasaan Britania yang pendek di bawah Thomas Stamford Raffles, pemerintah Belanda mengambil alih kepemilikan VOC pada tahun1816. Sebuah pemberontakan di Jawa berhasil ditumpas dalamPerang Diponegoro pada tahun 1825-1830. Setelah tahun 1830 sistemtanam paksa yang dikenal sebagai cultuurstelsel dalam bahasa Belanda mulai diterapkan. Dalam sistem ini, para penduduk dipaksa menanam hasil-hasil perkebunan yang menjadi permintaan pasar dunia pada saat itu, seperti teh, kopi dll. Hasil tanaman itu kemudian diekspor ke mancanegara. Sistem ini membawa kekayaan yang besar kepada para pelaksananya - baik yang Belanda maupun yang Indonesia. Sistem tanam paksa ini adalah monopoli pemerintah dan dihapuskan pada masa yang lebih bebas setelah 1870. Pada 1901 pihak Belanda mengadopsi apa yang mereka sebutKebijakan Beretika (bahasa Belanda: Ethische Politiek), yang termasuk investasi yang lebih besar dalam pendidikan bagi orangorang pribumi, dan sedikit perubahan politik. Di bawah gubernur-jendralJ.B. van Heutsz pemerintah HindiaBelanda memperpanjang kekuasaan kolonial secara langsung di sepanjang Hindia-Belanda, dan dengan itu mendirikan fondasi bagi negara Indonesia saat ini. 4.4. Gerakan nasionalisme Pada 1905 gerakan nasionalis yang pertama, Serikat Dagang Islam dibentuk dan kemudian diikuti pada tahun 1908 oleh gerakan nasionalis berikutnya, Budi Utomo. Belanda merespon hal tersebut setelah Perang Dunia I dengan langkah-langkah penindasan. Para pemimpin nasionalis berasal dari kelompok kecil yang terdiri dari profesional muda dan pelajar, yang beberapa di antaranya telah dididik di Belanda. Banyak dari mereka yang dipenjara karena kegiatan politis, termasuk Presiden Indonesia yang pertama, Soekarno. 4.5. Perang Dunia II Pada Mei 1940, awal Perang Dunia II, Belanda diduduki olehNazi Jerman. Hindia-Belanda mengumumkan keadaan siaga dan di Juli mengalihkan ekspor untuk Jepang ke Amerika Serikat dan Britania. Negosiasi dengan Jepang yang bertujuan untuk mengamankan persediaan bahan bakar pesawat gagal di Juni 1941, dan Jepang memulai penaklukan Asia Tenggara di bulan Desember tahun itu. Di bulan yang sama, faksi dari Sumatra menerima bantuan Jepang untuk mengadakan revolusi terhadap pemerintahan Belanda. Pasukan Belanda yang terakhir dikalahkan Jepang pada Maret 1942.

4.6. Pendudukan Jepang Pada Juli 1942, Soekarno menerima tawaran Jepang untuk mengadakan kampanye publik dan membentuk pemerintahan yang juga dapat memberikan jawaban terhadap kebutuhan militer Jepang.Soekarno, Mohammad Hatta, dan para Kyai didekorasi oleh Kaisar Jepang pada tahun 1943. Tetapi, pengalaman dari penguasaan Jepang di Indonesia sangat bervariasi, tergantung di mana seseorang hidup dan status sosial orang tersebut. Bagi yang tinggal di daerah yang dianggap penting dalam peperangan, mereka mengalami siksaan, terlibat perbudakan seks, penahanan sembarang dan hukuman mati, dan kejahatan perang lainnya. Orang Belanda dan campuran Indonesia-Belanda merupakan target sasaran dalam penguasaan Jepang. Pada Maret 1945 Jepang membentuk Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Pada pertemuan pertamanya di bulan Mei, Soepomo membicarakan integrasi nasional dan melawan individualisme perorangan; sementara itu Muhammad Yamin mengusulkan bahwa negara baru tersebut juga sekaligus mengklaim Sarawak, Sabah, Malaya, Portugis Timur, dan seluruh wilayah Hindia-Belanda sebelum perang. Pada 9 Agustus 1945 Soekarno, Hatta dan Radjiman Widjodiningrat diterbangkan ke Vietnam untuk bertemu Marsekal Terauchi. Mereka dikabarkan bahwa pasukan Jepang sedang menuju kehancuran tetapi Jepang menginginkan kemerdekaan Indonesia pada 24 Agustus. 5. ERA KEMERDEKAAN 5.1. Proklamasi kemerdekaan Mendengar kabar bahwa Jepang tidak lagi mempunyai kekuatan untuk membuat keputusan seperti itu pada 16 Agustus, Soekarno membacakan "Proklamasi" pada hari berikutnya. Kabar mengenai proklamasi menyebar melalui radio dan selebaran sementara pasukan militer Indonesia pada masa perang, PasukanPembela Tanah Air (PETA), para pemuda, dan lainnya langsung berangkat mempertahankan kediaman Soekarno. Pada 18 Agustus 1945 Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) melantik Soekarno sebagai Presiden danMohammad Hatta sebagai Wakil Presiden dengan menggunakan konstitusi yang dirancang beberapa hari sebelumnya. Kemudian dibentuk Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) sebagai parlemen sementara hingga pemilu dapat dilaksanakan. Kelompok ini mendeklarasikan pemerintahan baru pada 31 Agustus dan menghendaki Republik Indonesia yang terdiri dari 8 provinsi: Sumatra,Kalimantan (tidak termasuk wilayah Sabah, Sarawak dan Brunei),Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi, Maluku (termasukPapua) dan Nusa Tenggara. 5.2. Perang kemerdekaan Dari 1945 hingga 1949, persatuan kelautan Australia yang bersimpati dengan usaha kemerdekaan, melarang segala pelayaran Belanda sepanjang konflik ini agar Belanda tidak mempunyai dukungan logistik maupun suplai yang diperlukan untuk membentuk kembali kekuasaan kolonial. Usaha Belanda untuk kembali berkuasa dihadapi perlawanan yang kuat. Setelah kembali ke Jawa, pasukan Belanda segera merebut kembali ibukota kolonial Batavia, akibatnya para nasionalis menjadikanYogyakarta sebagai ibukota mereka. Pada 27 Desember 1949 (lihat artikel tentang 27 Desember 1949), setelah 4 tahun peperangan dan negosiasi, Ratu Juliana dari Belanda memindahkan kedaulatan kepada pemerintah Federal Indonesia. Pada 1950, Indonesia menjadi anggota ke-60 PBB. 5.3. Demokrasi parlementer Tidak lama setelah itu, Indonesia mengadopsi undang-undang baru yang terdiri dari sistem parlemen di mana dewan eksekutifnya dipilih oleh dan bertanggung jawab kepada parlemen atau MPR. MPR terbagi kepada partai-partai politik sebelum dan sesudah pemilu pertama pada tahun 1955, sehingga koalisi pemerintah yang stabil susah dicapai. Peran Islam di Indonesia menjadi hal yang rumit. Soekarno lebih memilih negara sekuler yang berdasarkan Pancasila sementara beberapa kelompok Muslim lebih menginginkan negara Islam atau undangundang yang berisi sebuah bagian yang menyaratkan umat Islam takluk kepada hukum Islam. 5.4. Demokrasi Terpimpin Pemberontakan yang gagal di Sumatera, Sulawesi, Jawa Barat dan pulau-pulau lainnya yang dimulai sejak 1958, ditambah kegagalan MPR untuk mengembangkan konstitusi baru, melemahkan sistem parlemen Indonesia. Akibatnya pada 1959 ketika Presiden Soekarnosecara unilateral membangkitkan kembali konstitusi 1945 yang bersifat sementara, yang memberikan kekuatan presidensil yang besar, dia tidak menemui banyak hambatan. Dari 1959 hingga 1965, Presiden Soekarno berkuasa dalam rezim yang otoriter di bawah label "Demokrasi Terpimpin". Dia juga menggeser kebijakan luar negeri Indonesia menuju non-blok, kebijakan yang didukung para pemimpin penting negara-negara bekas jajahan yang menolak aliansi resmi dengan Blok Barat

maupun Blok Uni Soviet. Para pemimpin tersebut berkumpul di Bandung, Jawa Baratpada tahun 1955 dalam KTT Asia-Afrika untuk mendirikan fondasi yang kelak menjadi Gerakan Non-Blok. Pada akhir 1950-an dan awal 1960-an, Soekarno bergerak lebih dekat kepada negara-negara komunis Asia dan kepada Partai Komunis Indonesia (PKI) di dalam negeri. Meski PKI merupakan partai komunis terbesar di dunia di luar Uni Soviet dan China, dukungan massanya tak pernah menunjukkan penurutan ideologis kepada partai komunis seperti di negara-negara lainnya. 5.5. Konfrontasi Indonesia-Malaysia Soekarno menentang pembentukan Federasi Malaysia dan menyebut bahwa hal tersebut adalah sebuah "rencana neo-kolonial" untuk mempermudah rencana komersial Inggris di wilayah tersebut. Selain itu dengan pembentukan Federasi Malaysia, hal ini dianggap akan memperluas pengaruh imperialisme negara-negara Barat di kawasan Asia dan memberikan celah kepada negara Inggris dan Australia untuk mempengaruhi perpolitikan regional Asia. Menanggapi keputusan PBB untuk mengakui kedaulatan Malaysia dan menjadikan Malaysia anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB, presiden Soekarno mengumumkan pengunduran diri negara Indonesia dari keanggotaan PBB pada tanggal 20 Januari 1965 dan mendirikan Konferensi Kekuatan Baru (CONEFO) sebagai tandingan PBB danGANEFO sebagai tandingan Olimpiade. Pada tahun itu juga konfrontasi ini kemudian mengakibatkan pertempuran antara pasukan Indonesia dan Malaysia (yang dibantu oleh Inggris). 5.6. Nasib Irian Barat Pada saat kemerdekaan, pemerintah Belanda mempertahankan kekuasaan terhadap belahan barat pulau Nugini(Papua), dan mengizinkan langkah-langkah menuju pemerintahan-sendiri dan pendeklarasian kemerdekaan pada 1 Desember 1961. Negosiasi dengan Belanda mengenai penggabungan wilayah tersebut dengan Indonesia gagal, dan pasukan penerjun payung Indonesia mendarat di Irian pada 18 Desember sebelum kemudian terjadi pertempuran antara pasukan Indonesia dan Belanda pada 1961 dan 1962. Pada 1962 Amerika Serikat menekan Belanda agar setuju melakukan perbincangan rahasia dengan Indonesia yang menghasilkan Perjanjian New York pada Agustus 1962, dan Indonesia mengambil alih kekuasaan terhadap Irian Jaya pada 1 Mei 1963. 5.7. Gerakan 30 September Hingga 1965, PKI telah menguasai banyak dari organisasi massa yang dibentuk Soekarno untuk memperkuat dukungan untuk rezimnya dan, dengan persetujuan dari Soekarno, memulai kampanye untuk membentuk "Angkatan Kelima" dengan mempersenjatai pendukungnya. Para petinggi militer menentang hal ini. Pada 30 September 1965, enam jendral senior dan beberapa orang lainnya dibunuh dalam upaya kudeta yang disalahkan kepada para pengawal istana yang loyal kepada PKI. Panglima Komando Strategi Angkatan Darat saat itu, Mayjen Soeharto, menumpas kudeta tersebut dan berbalik melawan PKI. Soeharto lalu menggunakan situasi ini untuk mengambil alih kekuasaan. Lebih dari puluhan ribu orang-orang yang dituduh komunis kemudian dibunuh. Jumlah korban jiwa pada 1966 mencapai setidaknya 500.000; yang paling parah terjadi di Jawa dan Bali. 6. ERA ORDE BARU Setelah Soeharto menjadi Presiden, salah satu pertama yang dilakukannya adalah mendaftarkan Indonesia menjadi anggota PBB lagi. Indonesia pada tanggal 19 September 1966 mengumumkan bahwa Indonesia "bermaksud untuk melanjutkan kerjasama dengan PBB dan melanjutkan partisipasi dalam kegiatankegiatan PBB", dan menjadi anggota PBB kembali pada tanggal 28 September 1966, tepat 16 tahun setelah Indonesia diterima pertama kalinya. Pada 1968, MPR secara resmi melantik Soeharto untuk masa jabatan 5 tahun sebagai presiden, dan dia kemudian dilantik kembali secara berturut-turut pada tahun 1973, 1978, 1983, 1988, 1993, dan 1998. Presiden Soeharto memulai "Orde Baru" dalam dunia politik Indonesia dan secara dramatis mengubah kebijakan luar negeri dan dalam negeri dari jalan yang ditempuh Soekarno pada akhir masa jabatannya. Orde Baru memilih perbaikan dan perkembangan ekonomi sebagai tujuan utamanya dan menempuh kebijakannya melalui struktur administratif yang didominasi militer namun dengan nasehat dari ahli ekonomi didikan Barat. Selama masa pemerintahannya, kebijakan-kebijakan ini, dan pengeksploitasian sumber daya alam secara besar-besaran menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang besar namun tidak merata di Indonesia. Contohnya, jumlah orang yang kelaparandikurangi dengan besar pada tahun 1970-an dan 1980-an. Dia juga memperkaya dirinya, keluarganya, dan rekan-rekat dekat melalui korupsi yang merajalela. 6.1. Irian Jaya Setelah menolak supervisi dari PBB, pemerintah Indonesia melaksanakan "Act of Free Choice" (Aksi Pilihan Bebas) di Irian Jaya pada 1969 di mana 1.025 wakil kepala-kepala daerah Irian dipilih dan kemudian diberikan latihan dalam bahasa Indonesia. Mereka secara konsensus akhirnya memilih bergabung dengan

Indonesia. Sebuah resolusi Sidang Umum PBB kemudian memastikan perpindahan kekuasaan kepada Indonesia. Penolakan terhadap pemerintahan Indonesia menimbulkan aktivitas-aktivitas gerilya berskala kecil pada tahun-tahun berikutnya setelah perpindahan kekuasaan tersebut. Dalam atmosfer yang lebih terbuka setelah 1998, pernyataan-pernyataan yang lebih eksplisit yang menginginkan kemerdekaan dari Indonesia telah muncul. 6.2. Timor Timur Dari 1596 hingga 1975, Timor Timur adalah sebuah jajahan Portugis di pulau Timor yang dikenal sebagai Timor Portugis dan dipisahkan dari pesisir utara Australia oleh Laut Timor. Akibat kejadian politis di Portugal, pejabat Portugal secara mendadak mundur dari Timor Timur pada 1975. Dalam pemilu lokal pada tahun 1975, Fretilin, sebuah partai yang dipimpin sebagian oleh orang-orang yang membawa paham Marxisme, dan UDT, menjadi partai-partai terbesar, setelah sebelumnya membentuk aliansi untuk mengkampanyekan kemerdekaan dari Portugal. Pada 7 Desember 1975, pasukan Indonesia masuk ke Timor Timur. Indonesia, yang mempunyai dukungan material dan diplomatik, dibantu peralatan persenjataan yang disediakan Amerika Serikat dan Australia, berharap dengan memiliki Timor Timur mereka akan memperoleh tambahan cadangan minyak dan gas alam, serta lokasi yang strategis. Pada masa-masa awal, pihak militer Indonesia (ABRI) membunuh hampir 200.000 warga Timor Timur melalui pembunuhan, pemaksaan kelaparan dan lain-lain. Banyak pelanggaranHAM yang terjadi saat Timor Timur berada dalam wilayah Indonesia. Pada 30 Agustus 1999, rakyat Timor Timur memilih untuk memisahkan diri dari Indonesia dalam sebuah pemungutan suara yang diadakan PBB. Sekitar 99% penduduk yang berhak memilih turut serta; 3/4nya memilih untuk merdeka. Segera setelah hasilnya diumumkan, dikabarkan bahwa pihak militer Indonesia melanjutkan pengrusakan di Timor Timur, seperti merusak infrastruktur di daerah tersebut. Pada Oktober 1999, MPR membatalkan dekrit 1976 yang mengintegrasikan Timor Timur ke wilayah Indonesia, dan Otorita Transisi PBB (UNTAET) mengambil alih tanggung jawab untuk memerintah Timor Timur sehingga kemerdekaan penuh dicapai pada Mei 2002 sebagai negara Timor Leste. 6.3. Krisis ekonomi Pada pertengahan 1997, Indonesia diserang krisis keuangan dan ekonomi Asia (untuk lebih jelas lihat: Krisis finansial Asia), disertaikemarau terburuk dalam 50 tahun terakhir dan harga minyak, gas dan komoditas ekspor lainnya yang semakin jatuh. Rupiah jatuh, inflasi meningkat tajam, dan perpindahan modal dipercepat. Para demonstran, yang awalnya dipimpin para mahasiswa, meminta pengunduran diri Soeharto. Di tengah gejolak kemarahan massa yang meluas, serta ribuan mahasiswa yang menduduki gedung DPR/MPR, Soeharto mengundurkan diri pada 21 Mei 1998, tiga bulan setelah MPR melantiknya untuk masa bakti ketujuh. Soeharto kemudian memilih sang Wakil Presiden, B. J. Habibie, untuk menjadi presiden ketiga Indonesia. 7. ERA REFORMASI 7.1. Pemerintahan Habibie Presiden Habibie segera membentuk sebuah kabinet. Salah satu tugas pentingnya adalah kembali mendapatkan dukungan dariDana Moneter Internasional dan komunitas negara-negara donor untuk program pemulihan ekonomi. Dia juga membebaskan para tahanan politik dan mengurangi kontrol pada kebebasan berpendapat dan kegiatan organisasi. 7.2. Pemerintahan Wahid Pemilu untuk MPR, DPR, dan DPRD diadakan pada 7 Juni1999. PDI Perjuangan pimpinan putri Soekarno, Megawati Sukarnoputrikeluar menjadi pemenang pada pemilu parlemen dengan mendapatkan 34% dari seluruh suara; Golkar (partai Soeharto - sebelumnya selalu menjadi pemenang pemilu-pemilu sebelumnya) memperoleh 22%; Partai Persatuan Pembangunan pimpinan Hamzah Haz 12%; Partai Kebangkitan Bangsa pimpinan Abdurrahman Wahid(Gus Dur) 10%. Pada Oktober 1999, MPR melantik Abdurrahman Wahid sebagai presiden dan Megawati sebagai wakil presiden untuk masa bakti 5 tahun. Wahid membentuk kabinet pertamanya, Kabinet Persatuan Nasional pada awal November 1999 dan melakukanreshuffle kabinetnya pada Agustus 2000. Pemerintahan Presiden Wahid meneruskan proses demokratisasi dan perkembangan ekonomi di bawah situasi yang menantang. Di samping ketidakpastian ekonomi yang terus berlanjut, pemerintahannya juga menghadapi konflik antar etnis dan antar agama, terutama di Aceh, Maluku, dan Papua. Di Timor Barat, masalah yang ditimbulkan rakyat Timor Timur yang tidak mempunyai tempat tinggal dan kekacauan yang dilakukan para militan Timor Timur pro-Indonesia mengakibatkan masalah-masalah kemanusiaan dan sosial yang besar. MPR yang semakin memberikan tekanan menantang kebijakan-kebijakan Presiden Wahid, menyebabkan perdebatan politik yang meluap-luap.

7.3. Pemerintahan Megawati Pada Sidang Umum MPR pertama pada Agustus 2000, Presiden Wahid memberikan laporan pertanggung jawabannya. Pada29 Januari 2001, ribuan demonstran menyerbu MPR dan meminta Presiden agar mengundurkan diri dengan alasan keterlibatannya dalam skandal korupsi. Di bawah tekanan dari MPR untuk memperbaiki manajemen dan koordinasi di dalam pemerintahannya, dia mengedarkan keputusan presiden yang memberikan kekuasaan negara sehari-hari kepada wakil presiden Megawati. Megawati mengambil alih jabatan presiden tak lama kemudian. 7.4. Pemerintahan Yudhoyono Pada 2004, pemilu satu hari terbesar di dunia diadakan dan Susilo Bambang Yudhoyono tampil sebagai presiden baru Indonesia. Pemerintah baru ini pada awal masa kerjanya telah menerima berbagai cobaan dan tantangan besar, seperti gempa bumi besar di Aceh dan Nias pada Desember 2004 yang meluluh lantakkan sebagian dari Aceh serta gempa bumi lain pada awal 2005 yang mengguncang Sumatra. Pada 17 Juli 2005, sebuah kesepakatan bersejarah berhasil dicapai antara pemerintah Indonesia dengan Gerakan Aceh Merdekayang bertujuan mengakhiri konflik berkepanjangan selama 30 tahun di wilayah Aceh.

Kemajuan IPTEK di Indonesia Pengetahuan ilmu pengetahuan memberikan dampak yang besar dalam penemuan baru di bidang teknologi. Pada akhir abad ke-15 muncul gerakan yang bertujuan mengembangkan kebudayaan dan ilmu pengetahuan yang dikenal dengan istilah renaisans, yaitu suatu gerakan yang ingin melahirkan kembali kebudayaan Yunani dan Romawi Kuno. Renaisans menjunjung tinggi kemampuan manusia, baik cara berfikir atau menemukan dan menciptakan. Dengan adanya gerakan ini, semua orang bebas berfikir untuk menghasilkan penemuan baru di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Selain gerakan renaisans, juga muncul gerakan yang disebut dengan humanisme, yaitu suatu gerakan yang bertujuan mempelajari dan mengembangkan kebudayaan dan ilmu pengetahuan untuk diabdikan bagi kepentingan manusia. Memasuki abad ke-18, ilmu pengetahuan berkembang pesat hingga abad ini sering di sebut dengan abad pemikiran. Abad ke-18 merupakan abad penemuan berbagai bidang ilmu pengetahuan, baik ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial, maupun teknologi. Penemuan di bidang teknologi merupakan awal abad teknologi yang membawa dunia berkembang dengan lebih jauh dan lebih cepat dari masa sebelumnya. Bersamaan dengan itu, pertumbuhan bangsa-bangsa dan segala peradabannya juga melaju dengan cepat sehingga abad ke-21 manusia mampu menciptakan berbagai peralatan dan teknologi canggih. Pertumbuhan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berjalan pesat mendorong berkembangnya berbagai macam industri di berbagai negara, termasuk Indonesia. Di Indonesia, ilmu pengetahuan dan teknologi mulai berkembang sejak masa kolonial Belanda. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pada masa kolonial Belanda ini ditandai dengan berdirinya perusahaan swasta asing, misi keagamaan dan pendidikan Barat. Semuanya itu merupakan bagian dari eksploitasi ekonomi. Teknologi modern barat memperkenalkan teknologinya yang pertama dengan melalui pabrik gula. Modernisasi teknologi tersebut kemudian menyebar ke sektor lainnya seperti pada galangan kapal, pertambangan batu bara, timah, gas, dan minyak bumi. Sejak pertengahan abad ke-19, perkembangan ilmu pengetahuan barat telah tersebar di Indonesia dengan melalui pembukaan sekolah-sekolah barat bagi penduduk bumiputra. 1. Faktor-faktor Penyebab Ketertinggalan Perkembangan IPTEK di Indonesia Ilmu pengetahuan dan teknologi yang dipelopori bangsa barat pada masa kolonial Belanda ternyata belum mampu mendorong terjadinya revolusi ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia. Pada masa pendudukan Jepang sempat diperkenalkan beberapa teknologi baru, khususnya dalam bidang pertanian. Akan tetapi ternyata hal tersebut tidak banyak berpengaruh pada masyarakat pada masa itu. Penerapan teknologi modern di dalam masyarakat hanya berpusat pada bidang tertentu dan sebagian besar dikuasai oleh pengusaha asing. Pada masa itu, Indonesia masih tertinggal jauh dibandingkan dengan negara-negara barat dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal tersebut diantaranya disebabkan oleh faktor-faktor sebagai berikut:

1. Terbatasnya jumlah penduduk Indonesia yang mendapat pendidikan 2. Terbatasnya jumlah orang Indonesia yang terlibat langsung dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi 3. Tidak adanya keinginan baik dari penguasa kolonial Belanda maupun kolonial swasta asing dalam melakukan alih teknologi bagi penduduk pribumi 4. Tidak terjadinya industrialisasi 5. Tidak terjadinya inovasi teknologi yang berarti dalam masyarakat Indonesia sendiri 6. Pengeksploitasian Ruang Angkasa di Indonesia Indonesia belum pernah terlibat secara langsung dalam eksplorasi ruang angkasa, tetapi Indonesia sebenarnya termasuk negara yang cukup disegani karena pengalamannya dalam mengeksploitasi teknologi keantariksaan. Saat penggunaan satelit bagi sebagian besar negara masih sangat jarang, Indonesia telah meluncurkan satelitnya yang pertama, Palapa A1 pada 9 Juli 1976. Ini mencatatkan Indonesia sebagai negara ketiga di dunia setelah AS dan Canada yang menggunakan satelit komunikasi domestiknya sendiri. Indonesia juga sudah memanfaatkan jasanya untuk meluncurkan satelit Palapa generasi kedua, Palapa B1, pada 19 Juni 1983. Operasi penyelamatan satelit Palapa B2, menyusul kegagalan pada peluncurannya yang juga dilakukan oleh misi ulang-alik merupakan operasi bersejarah yang kerumitannya boleh ditandingkan dengan operasi perbaikan teleskop antariksa Hubble pada dasawarsa 90-an. Pada pertengahan era 1980-an, Indonesia bahkan sempat menyiapkan astronautnya untuk mengikuti misi ulang-alik tetapi karena terjadi bencana Challenger misi ini dibatalkan. Dalam teknologi peroketan, Indonesia tercatat sebagai negara kedua di Asia, setelah Jepang, yang berhasil meluncurkan roketnya sendiri. Prestasi ini dihasilkan melalui keberhasilan LAPAN meluncurkan roket Kartika 1 pada 14 Agustus 1964. Keberhasilan ini juga tidak lepas dari bantuan teknis dari Rusia. Akan tetapi Indonesia gagal melakukan alih-teknologi. Akibatnya, selama lebih dari seperempat abad sejak meluncurkan satelit pertamanya, Indonesia hanya bisa bertindak sebagai konsumen. Sementara itu, negara-negara lain justru mulai menyiapkan diri untuk mulai belajar mengembangkan teknologi satelit melalui pembuatan satelit mikro (mikrosat). Malaysia misalnya, yang semula tertinggal puluhan tahun dari Indonesia dalam pemanfaatan teknologi satelit, sejak tahun 2000 telah berhasil meluncurkan satelit mikronya yang pertama, Tiungsat-1, yang merupakan hasil kerja sama dengan Universitas Surrey, Inggris. Sementara itu, Indonesia baru mulai berancangancang membuat satelit mikronya pada tahun 2003 ini melalui kerja sama dengan Universitas Berlin, Jerman. Program yang dilaksanakan dalam dua tahap selama lima tahun hingga 2007 itu, sekarang masih memasuki tahap pertama yang direncanakan selama tahun 2003-2004. Dalam bidang teknologi roket pun juga kurang berhasil. Akibatnya, pengembangan teknologi roket di Indonesia terhenti, sementara negara-negara Asia lain, seperti India dan Cina, yang lebih belakangan menekuni teknologi ini akhirnya melampaui Indonesia dengan keberhasilannya meluncurkan roket pengangkut satelit ke antariksa. Indonesia sebenarnya memiliki potensi yang jarang dimiliki negara lain untuk mengembangkan teknologi antariksanya sendiri. Potensi itu berupa garis katulistiwa yang membentang di atasnya. Sekitar 13% dari garis katulistiwa berada di atas wilayah Indonesia. Dengan demikian, Indonesia tercatat sebagai negara pemilik garis katulistiwa yang terpanjang di dunia. Hal ini menjadikan wilayah Indonesia sebagai tempat yang sangat ideal untuk menjadi lokasi peluncuran roket pengangkut satelit. Peluncuran roket dari dekat garis katulistiwa akan lebih menghemat bahan bakar roket, dan karenanya lebih murah dari segi biaya. Potensi inilah yang juga diminati oleh pihak asing. Rusia misalnya, sudah lama mengincar Pulau Biak di Irian Jaya (Papua) untuk menjadi lokasi bandar antariksanya. Tapi karena kita kurang cepat menanggapi tawaran itu, Akibatnya, Rusia akhirnya memilih Pulau Christmast di Australia sebagai lokasi bandar antariksanya. Selain Rusia, sebuah perusahaan swasta AS juga pernah amat tertarik dan bersedia menanam investasi untuk menjadikan Biak sebagai lokasi peluncuran roket. Rencananya, roket yang akan dioperasikan dari jenis berbahan bakar padat, di angkut melalui laut dari pantai timur AS ke dermaga bandar antariksa Biak. Alternatif lain, bagian-bagian roket diterbangkan dan mendarat di bandar udara Frans Kasiepo Biak, kemudian diangkut melalui darat ke tempat peluncuran

Rencana inipun gagal dengan sebab-sebab yang tidak jelas. Satu-satunya pihak asing yang telah memanfaatkan potensi Biak adalah Badan Ruang Angkasa India (Indian Space Research Organization, ISRO) yang telah bekerja sama dengan LAPAN untuk membangun stasiun TT&C (Tracking, Telemetry, and Command) di sana. Stasiun ini menjadi penting karena saat India meluncurkan roket pengangkut satelitnya, proses pelepasan muatan roket dilakukan di atas angkasa Irian, dan satu-satunya stasiun bumi yang bisa memonitor dan mengendalikan proses ini hanyalah stasiun di Biak.Pengembangan teknologi keantariksaan memang bukan prioritas di Indonesia. Tapi paling tidak, kita masih memiliki harapan untuk menuju ke arah sana. Indonesia sebenarnya tidak kekurangan orang-orang pintar. Tetapi yang kurang sebenarnya adalah kemauan politis (political will) dari pemerintah. Hal ini tentu tidak boleh menyurutkan semangat kita untuk terus belajar dan mengejar ketertinggalan dalam bidang teknologi dari negara-negara yang lebih maju. Kebangkitan IPTEK di Indonesia Selain Hari Kebangkitan Nasional yang jatuh tanggal 20 Mei, Indonesia sudah punya Hari Kebangkitan Teknologi Nasional yang diperingati setiap 11 Agustus. Beberapa tahun lalu peraturan berupa Undang-Undang yang mengatur sistem IPTEK nasional juga sudah disahkan. Kalau sebelumnya Menteri Negara Riset dan Teknologi adalah politisi, sekarang adalah teknorat dari perguruan tinggi ternama negeri ini. Banyak kebijakan baru yang telah diluncurkan Kantor Menteri Negara Riset dan Teknologi sebagai koordinator lembaga-lembaga pemerintah yang melakukan penelitian seperti LIPI, BPPT, Batan, Lapan, dan Bakorsutanal, maupun yang mencuat dari pandangan para wakil rakyat di Komisi VII DPR yang membidangi masalah iptek. Antara lain yang menonjol adalah penajaman fokus bidang iptek yang diprioritaskan maupun pengurangan tumpang tindih penelitian. Semuanya masih dalam tataran makro, sementara pembenahan di tingkat mikro seperti pemberdayaan peneliti belum terdengar. a. Floating Mass Salah satu alasan yang sering diungkapkan mengapa riset iptek kita tertinggal adalah belum adanya critical mass peneliti yang mencukupi. Memang tidak ada angka baku berapa jumlah minimum peneliti agar suatu bidang dapat dikembangkan dengan baik. Tak di pungkiri, dibandingkan dengan negara maju, jumlah perkapita peneliti kita jauh lebih sedikit. Namun di lain pihak, ada joke bila di jalan-jalan kampus PT terdepan kita, seperti UI, IPB, ITB, dan UGM semeter melangkah saja sudah ketemu doktor. Hanya saja, di Indonesia bukan critical mass yang diperoleh, melainkan floating mass. Seperti buih di lautan, jumlahnya banyak tetapi tidak menciptakan agregat yang mempu menggulirkan roda kemajuan iptek b. Perkembangan Teknologi Telekomunikasi, Informasi, dan Transportasi 1. Pengertian Informasi, Komunikasi, dan Transportasi Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, sistem berarti perangkat unsur yang secara teratur saling berkaitan sehingga membentuk suatu totalitas. Informasi adalah data yang telah diperoleh, sehingga mempunyai arti dan nilai. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, informasi berarti penerangan, keterangan, pemberitahuan, kabar atau berita. Menurut Alfin Toffler (Seorang Futurolog AS), informasi adalah fakta, laporan, perkembangan, perasaan-perasaan, membuat kecenderungankecenderungan yang dapat memengaruhi keputusan/pembentukan masyarakat/dunia. Pengertian komunikasi adalah membagi informasi, memberitahu, memindahkan atau bentukan pikiran baik secara lisan maupun tulisan. Definisi lain menyebutkan komunikasi adalah suatu transformasi informasi antarorang atau kelompok atau lembaga dalam bentuk penyebaran berita melalui lisan, tulisan, suara, gambar maupun lambang tertentu. Komunikasi massa adalah penyebaran informasi atau komunikasi yang membawa pesan untuk orang banyak, Misalnya koran, televisi, majalah, radio sebagai pemberi informasi (sender) dan masyarakat sebagai penerima informasi (receiver). Pengertian transportasi adalah pengangkutan barang (benda) atau sebagai jenis kendaraan sesuai dengan kemajuan teknologi.

2 . Media Komunikasi Massa Pada masa pendudukan Jepang, pasukan Jepang sepenuhnya mengendalikan media komunikasi massa seperti surat kabar, majalah, kantor berita, radio, film, sandiwara dan sebagainya. Sementara itu, dalam masa pembangunan, peran media massa sangat penting. Peran media komunikasi massa dalam masa pembangunan adalah sebagai berikut: 1. alat penunjang pelaksanaan pembangunan Indonesia. 2. alat penyiar informasi, gagasan, pendapat-pendapat, inovasi dan komunikasi yang beraneka ragam dan berjarak jauh. 3. mengubah sikap dan cara hidup untuk mencapai taraf yang lebih tinggi. 4. memberikan motivasi kepada masyarakat untuk berpartisipasi dalarr pembangunan. 5. memberikan penilaian kepada hasilhasil pembangunan yang te1ah berhasil dicapainya. 6. memberitahukan kepada masyarakat tentang hambatan, gangguan tantangan maupun ancaman yang harus dihadapi dalam masala pembangunan. 7. menginformasikan tentang perkembangan sebuah masyarakat, bangsa ataupun sebuah negara. 8. alat kontrol dan pengawasan terhadap jalannya pelaksanaan rintahan agar tidak menyimpang dan tujuan yang telah ditetapkan. 3. Sistem Komunikasi Satelit Domestik (SKSD) Palapa Dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia dilakukan pembangunan Sistem Komunikasi Satelit Domestik (SKSD) untuk keperluan komunikasi. SKSD Palapa adalah sistem satelit komunikasi yang dikendalikan oleh sistem satelit komunikasi pengendali bumi yang dibuat oleh HAC (Hughes Aircraft Company) Perumtel Indonesia. Nama palapa diambil dari sumpah Gajah Mada yang akan mempersatukan Nusantara. Satelit komunikasi mempunyai masa kerja tertentu, Satelit yang masa kerjanya sudah habis harus diganti dengan satelit generasi baru. Secara bertahap seluruh daerah di Indonesia dapat dijangkau oleh jaringan SKSD Palapa. SKSD Palapa dibangun tahun 19741976 dengan peluncuran generasi 1-A1. Sampai tahun 1996 sudah generasi 3 dengan code C2 yang jarak jangkauannya dari Irian sampai Vladivostok (Rusia), dari Australia sampai Selandia Baru. Juga dipakai oleh negara-negara tetangga, Australia, Papua Nugini, Maca, Selandia Baru, dan Vietnam. Adapun nama satelit yang telah diluncurkan Indonesia adalah : Nama Satelit Waktu Peluncuran Generasi Pertama Palapa A1 8 Juni 1976 Palapa A2 10 Maret 1977 Generasi kedua Palapa B1 19 Juni 1983 Palapa B2 6 Februari (gagal) digantikan B2P Palapa B2P 20 Maret 1987 Palapa B2R 20 Maret 1990 Palapa 4 7 Mei 1992 Generasi ketiga Palapa C1 1 Februari 1996 Palapa C2 16 Mei 1996 Sekarang ini kita mengenal satelit komunikasi yang lain, yakni Telkom-1 dan Garuda-1. Fungsi SKSD Palapa adalah sebagai berikut. 1. Hubungan komunikasi antardaerah, antarnegara lebih mudah. 2. Mempererat penyebaran informasi melalui televisi, internet, faksimile. 3. Mempermudah komunikasi telepon SLI, SLJJ, STO (Sentral Telepon Otomat). 4. Sebagai satelit pengulang (repeater). 4. Radio Radio telah menjalani proses perkembangan yang cukup lama sebelum menjadi media komunikasi seperti sekarang mi. Dr. Lee De Forest dari AS merupakan penemu radio tahun 1916 sehingga mendapat julukan The Father of Radio. Tahun 1919 Dr. Frank Conrad (seorang ahli pada

westing house Company di Pitssberg AS) berhasil mengadakan eksperimen menyiarkan musik. Tahun 1920 masyarakat Amerika dapat menikmati siaran radio dan mulai tahun 1923 stasiun radio meningkat tajam menjadi SSG Stasiun. Tahun 1933, Prof. E.H. Amstrong memperkenalkan FM (Frequency Modulation) yang mempunyai kelebihan antara lain: 1. Dapat menghilangkan interference (gangguan) yang disebabkan oleh cuaca, bintik-bintik matahari, alat listrik, atau dua stasiun yang bekerja pada gelombang yang sama, 2. Suaranya jelas dan jernih. Perkembangan Radio di Indonesia 1 April 1933, Mangkunegoro VII dan Sarsito Mangunkusumo mendirikan SRV (Solossche Radio Vereenging) di Surakarta. SRV sebagai pelopor timbulnya siaran radio yang diusahakan oleh bangsa Indonesia sendiri. Sedangkan radio siaran yang pertama diusahakan oleh Hindia Belanda tanggal 16 Juni 1925 bernama BRV (Bataviasche Radio Vereenging) di Jakarta. Badan-badan radio yang lainnya adalah: 1. NIROM : Nederlansch Indische Radio Omroep Mij di Jakarta, Bandung, dan Medan. 2. MAVRO : Mataramse Vereenging Voor Radio Omroep di Yogyakarta. Atas usaha M. Sutarjo Kartohadikusumo dan Sarsito Mangunkusumo tanggal 24 Maret 1937 didirikan PPRK (Perserikatan Perkumpulan Radio Ketimuran) di Bandung dengan tujuan berupaya memajukan kesenian dan kebudayaan nasional guna kemajuan masyarakat Indonesia secara rohani dan jasmani. Pada masa pendudukan Jepang, penyelenggaraan radio ditangani oleh Hoso Kanri Kyoku. Perkembangan radio merosot karena semua radio siaran diarahkan untuk kepentingan militer Jepang. Pada awal kemerdekaan, radio berperan menyebarkan berita Proklamasi. Tanggal 11 September 1945 diadakan rapat di Jakarta yang dipimpin oleh Abdurrachman Saleh dan dihadiri oleh 16 pemimpin dari Jakarta, Bandung, Purwokerto, Semarang, Yogyakarta, dan Surakarta. Adapun hasilnya adalah sebagai berikut. 1. Menetapkan tanggal 11 September 1945 sebagai hari berdirinya RRI. 2. Semua yang hadir menyatukan diri sebagai pegawai RRI. 3. Pusat RRI di Jakarta. 4. Abdurrachman Saleh dipilih sebagai Pemimpin Umum RRI. 5. Cabang RRI yang pertama adalah Jakarta, Bandung, Surakarta, Purwokerto, Semarang, Yogyakarta, Malang, dan Surabaya. 6. Semboyan RRI sekali di udara tetap di udara. PP No. 21 / 1967 tentang amateurisme radio amatir adalah seperangkat pemancar radio yang digunakan untuk berhubungan dalam bentuk percakapan. Radio amatir tergabung dalam ORARI (Organisasi Radio Amatir Republik Indonesia). Disusul PP No. 55 tahun 1970 tentang radio siaran nonpemerintah yang berfungsi sosial yaitu sebagai alat pendidikan, penerangan, dan hiburan. Tahun 1974 stasiun radio swasta niaga bergabung dalam wadah PRSSNI (Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia). Tahun 1984, RRI mendapat penghargaan dari The Population Institute (Lembaga Kependudukan) yang berpusat di Washington, karena siaran sandiwara radionya terbaik se-Asia dengan judul Butir-butir pasir di laut (yang bertemakan KB). Setelah merdeka siaran luar negeri Indonesia dikenal dengan nama The Voice of Free Indonesia. Sekarang siaran luar negeri RRI dari Jakarta dikenal dengan nama Voice of Indonesia (Suara Indonesia). RRI ditunjang oleh MMTC (Multimedia Training Center) yang bertujuan untuk mendidik dan melatih para karyawan. Adapun fungsi radio sejak ditemukan sampai sekarang adalah sebagai: 1. Hiburan; 2. Penerangan; 3. Pendidikan; 4. Propaganda (Jepang dengan propaganda Hakko I-Chiu, artinya delapan penjuru mata angin dalam satu atap); 5. Pembangunan (menyampaikan hasil-hasil pembangunan dan memotivasi masyarakat untuk turut berpartisipasi dalam pembangunan nasional).

5. Televisi Paul Nipkow (seorang mahasiswa Berlin German Timur) dikenal sebagai Bapak Televisi karena penemuannya berupa electrische teleschope yang dapat mengirim gambar melalui udara dari satu tempat ke tempat lain pada tahun 1883 1884. Tahun 1939 masyarakat AS telah menikmati televisi. Sejak penemuan televisi, di benbagai negana di dunia mulai diperkenalkan televisi sebagai sarana yang dapat memberikan informasi kepada masyarakat umum. Televisi diperkenalkan ke Indonesia sekitar tahun 1962 yaitu bertepatan dengan pelaksanaan olahraga Asia IV (Asian Games IV) di Jakarta. TVRI lahir berdasarkan SK Menpen tahun 1961 untuk menayangkan/meliput semua kegiatan kejuaraan Asia Games IV di Jakarta. Proyek ini ditangani oleh perusahaan elektronika Jepang Nippon Electric Company (NEC). TVRI berhasil mengudara pada acara liputan 17 Agustus 1962 di Istana Negara. Tanggal 24 Agustus 1962, TVRI diresmikan oleh Presiden Soekarno. Melalui televisi banyak informasi yang di dapat dari berbagai belahan dunia Mulai 11 Maret 1963, TVRI menayangkan siaran iklan/siaran niaga. Tapi mulai 1 April 1981 pemerintah melarang siaran niaga dengan alasan: 1. TVRI berfungsi sebagai government tool (alat pemerintah) yang bertugas menyiarkan pembangunan dan hasil-hasilnya ke seluruh pelosok Indonesia. 2. TVRI berperan meningkatkan pengetahuan dan wawasan pola pikir masyarakat. 3. Masyarakat bersifat konsumerisme. Untuk biaya operasional TVRI dilakukan dengan cara berikut ini. 1. Pemerintah memberi subsidi. 2. Masyarakat pemilik televisi dikenakan iuran. 3. Siaran televisi swasta boleh menyiarkan iklan, hasilnya sebagian untuk TVRI. Mulai tahun 1989, pemerintah mengizinkan kehadiran televisi swasta, sehingga bermunculan TV-TV swasta antara lain: 1. RCTI, 24 Agustus 1989 di Jakarta; 2. SCTV, 24 Agustus 1990 di Surabaya; 3. TPI, 23 Januari 1991; 4. ANTV, tahun 1993; 5. Indosiar, Januari 1995 6. Hingga kini telah mengudara sekitar 8 stasiun televisi swasta, dengan tambahan televisi swasta yang baru mengudara sejak tahun 2001 antara lain Metro TV, Trans TV, TV7, Global TV, dan Lativi. Selain televisi swasta nasional di atas, juga mulai banyak bermunculan beberapa televisi daerah yang dikelola oleh daerah masing-masing seperti JTV di Jawa Timur, CTV di Banten, Bali TV di Bali, dan lain-lain. 7. Sarana Transportasi/Perhubungan Pengaruh teknologi dalam bidang transportasi di Indonesia dibawa oleh pemerintah koionial Belanda dengan tujuan untuk mempermudah dan mempercepat proses pengawasan terhadap daerahdaerah yang jauh dan pusat kegiatan pemerintahan. Penggunaan sarana transportasi di Indonesia terus berkembang sejak zaman kolonial hingga sekarang Penggunaan roda diperkenalkan pertama oleh bangsa Hyksos tahun 1675 SM. Penemuan mesin uap oleh James Watt 1769 membawa perubahan besar karena transportasi (kapal, lokomotif, mobil) dijalankan dengan mesin uap. Dengan berkembangnya sektor perhubungan/transportasi berperan untuk: 1. Meningkatkan produksi dan jasa; 2. Meningkatkan arus wisata; 3. Memperlancar arus informasi; 4. Memperlancar arus barang dan manusia; Sarana perhubungan meliputi darat, laut, dan udara; a. Perhubungan Darat

Sarana perhubungan darat paling banyak diminati karena relatif murah, cepat, mudah dijangkau. Untuk meningkatkan sarana transportasi upaya yang ditempuh pemerintah, antara lain sebagai berikut. 1) Pemeliharaan rehabilitasi jalan raya yang sudah ada. 2) Membangun jalan tol dan jalan layang, ringroad. 3) Pembangunan jalan kereta api. 4) Rehabilitasi infrastruktur dan penyediaan tambahan perlengkapan operasional jalan KA. 5) Pengadaan kereta api lebih modern, Argo Bromo, dan Argo Gede. Dalam bidang perhubungan darat, peranan jalan raya sebagai media lalu-lintas semakin penting. Untuk itu, pemerintah telah mengrahkan pembangunan transportasi pada upaya rehabilitasi dan pemeliharaan jalan raya yang sudah ada. Sampai tahun 1988 jalan raya yang sudah dibangun pemenrintah mencapai sepanjang 4 km. Selama tahun 1990-an perhatian difokuskan pada pembangunan raya di daerah-daerah pusat produksi dan jalan raya yang menghubungkan ke daerahdaerah tempat pemasaran hasil industri. Pada tahun 1993/1994, 152 km jalan raya dibangun di wilayah Irian Jaya (Papua), di daerah Sulawesi sepanjang 46 km, di daerah Kalimantan sepanjang 248 km, dan di daerah Maluku sepanjang 23 km. Pembangunan jalan merupakan agenda utama yang dicanangkan pemerintah Orde Baru. Sarana transportasi ini menjadi penting karena akan memperlancar arus barang dan jasa. Jalan tol menjadi pilihan utama dalam mengembangkan jalur transportasi ini. Jembatan-jembatan juga dibangun jembatan Membramo di Irian Jaya jembatan Barito di Kalimantan. mengatasi meningkatnya tuntutan transportasi yang cepat di kota-kota, seperi Jakarta, telah dibangun beberapa ruas tol dan jalan layang, misalnya jalan tol Cawang Interchange, jalan layang semanggi jalan layang Tomang, dan jalan tol lingkar Jakarta (Outer Ring Road, ORR). Di samping itu, juga dilakukan pembangunan sarana angkutan dengan menggunakan kereta api. Pembangunan jalur kereta api pertama dilndonesia yang dibangun pada masa kolonial Belanda, terdapat di Pulau Jawa. Jalur rel yang dibangun untuk pertama kali itu menghubungkan Desa Kamijen dengan Desa Tanggung (Semarang, Jawa Tengah) sepanjang 25 kilometer. Pembangunan rel kereta api ini ditandai dengan pencangkulan pertama oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda Mr. L.A.J. Baron Sloet van Den Beele (17 Juni 1864). Pembangunan jalur rel kereta api ini merupakan prakarsa dari perusahaan kereta api hindia belanda, Naamlooze Venootschap Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NV NISM) yang dipimpinoleh Jr. J.P de Bordes. Jalur kereta api ini dibuka untuk umum tanggal 10 Agustus 1867. Jalur kereta api yang pertama itu dilanjutkan hingga sampai Yogyakarta dan Solo. Pada tahun 1922 di Sulawesi Selatan juga telah dibangun jalur kereta api sepanjang 47 kilometer yang menghubungkan Makassar dengan Takalar. Jalur Makassar-Takalar ini mulai dioperasikan tanggal 1 Juli 1923. Selanjutnya dibangun jalur Makassar-Maros (namun belum selesai). Hingga tahun 1939, jalur kereta api yang telah dibangun oleh pemerintah Hindia Belanda di Indonesia mencapai panjang 6.811 kilometer, Namun higga tahun 1950, jalur kereta api itu menyusut menjadi 5.910 kilometer. Penyusutan ini terjadi karena Iebih dari 901 kilometer jalur kereta api itu hilang. Hilangnya jalur kereta api ini diduga dibongkar oleh pasukan Jepag dan diangkut ke Myanmar untuk pembangunan jalur kereta api di sana. Pada masa pendudukan Jepang, pembangunan jalur kereta api dilakukan antara Bayah-Cikara (Banten) sepanjang 83 kilometer, kemudian dilakukan pembangunan jalur Muaro-Pakanbaru sepanjang 22 kilometer. Pembangunan jalur kereta api yang dilakukan pada masa pendudukan Jepang ini mengerahkan tenaga romusha atau pekerja paksa dan banyak menelan korban. Setelah Indonesia merdeka (17 Agustus 1945), karyawan kereta api yang tergabung dalam Angkatan Moeda kereta api (AMKA) mengambil-alih perusahaan perkeretaapian dan pihak Jepang. Peristiwa bersejarah ini terjadi tanggal 28 September 1945 dan kemudian diperingati sebagai Hari Kereta Api Indonesia. Hari penting itu ditandai dengan pembentukan Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia (DKARI). Sejak Indonesia merdeka, perkembangan perkeretaapian di Indonesia semakin bertambah pesat, walaupun telah berkali-kali mengalami perubahan nama perusahaan yang mengelolanya seperti menjadi Perusahaan Negara Kereta Api (PNKA, 25 Mei 1963), selanjutnya menjadi Perusahaan

Jawatan Kereta Api (PJKA, 15 September 1971), dan tanggal 2 Januari 1991 diubah namanya menjadi Perusahaan Umum Kereta Api (Perumka). KA pertama dikelola oleh PJKA. Sekarang dikelola oleh Perumka (Perusahaan Umum Kereta Api), yaitu BUMN di bawah Departemen Perhubungan yang mengelola KA di Indonesia. Untuk mempersingkat waktu dan mempercepat jarak tempuh, maka Perumka dengan persetujuan pemerintah Republik Indonesia mengoperasikan kereta cepat. Oleh karena itu, pada bulan Agustus 1995 penggunaan kereta api cepat yang dinamakan Argo Bromo dan Argo Gede telah diresmikan oleh Presiden Soeharto. Dengan kereta api Argo Bromo jarak Jakarta. b. Perhubungan Laut Kapal laut merupakan sarana yang penting di dalam aktivitas hubungan antara masyarakat dan pulau yang satu dengan pulau yang lainnya. Hal ini juga menyebabkan bahwa bangsa Indonesia mendapat julukan bangsa pelaut, karena mereka telah terbiasa mengarungi lautan di wilayah Nusantara, bahkan telah berlayar sampai ke luar wilayah Nusantara. Bukti-bukti yang menunjukkan bahwa bangsa Indonesia telah memanfaatkan kapal-kapal sebagai sarana penting dalam transportasi laut, seperti yang tergambar pada relief-relief Candi Borobudur dalam bentuk perah bercadik yang telah mampu berlayar hingga jauh sampai ke Pulau Madagaskar (Afrika). Juga pembuatan kapal phinisi yang dilakukan oleh bangsa Bugis di Sulawesi Selatan. Industri perkapalan di Indonesia berawal dari sebuah bengkel tempat mereparasi kapal Kemudian bengkel itu berkembang menia industri yang merancang dan membangun kapal sebagai sarana transportasi laut dioperasikan oleh PT. Pelayaran Laut Nasional Indonesia (PT. Pelni). Industri kapal Indonesia dimotori oleh PT. PAL Indonesia. Perusahaan ini merupakan sebuah Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Pendirian perusahaan kapal ini telah dirintis sejak tahun 1823, yaitu pada masa pemerintahan Hindia Belanda pendirian bengkel reparasi kapal laut dimunculkan oleh Gubernur Jenderal. Hindia Belanda V.D. Capellen. Nama perusahaan itu adalah NV. Nederlandsch Indische Industrie. Pada tahun 1849, sarana perbaikan dan pemeliharaan kapal mulai terwujud di daerah Ujung, Surabaya. Namun, pada tahun 1939 pemerintah Hindia Belanda mengganti namanya menjadi (ME). ME berfungsi sebagai sebuah pabrik pemeliharaan dan perbaikan kapal. Pada tahun 1978, status PT. PAL diubah menjadi perusahaan umum (Perum) PAL. Tiga tahun kemudian, yaitu tahun 1981 bentuk badan usaha Perum PAL diubah menjadi perseroan dengan pimpinan Prof. Dr. Ing. B.J. Habibie (saat itu menjadi Menteri Riset dan Teknologi). Upaya pemerintah dalam meningkatkan sarana transportasi laut adalah: 1) Merehabilitasi dan meningkatkan kapasitas infrastruktur yang ada. 2) Pengadaan kapal Feri dan kapal pengangkut barang. 3) Perbaikan pelabuhan laut, terminal peti kemas, dan dermaga-dermaga. 4) Meluncurkan kapal cepat Palindo Jaya 500 tahun 1995. 5) Mendirikan PT PAL di Surabaya sebagai pusat pengembangan industri maritim Indonesia. Tujuan pembangunan perhubungan laut: 1) Mempercepat lalu lintas antarpulau. 2) Meningkatkan perdagangan domestik dan internasional. c. Perhubungan Udara Perkembangan transportasi udara ditandai dengan semakin mudah dan cepatnya transportasi antarprovinsi, antarpulau, dan antarnegara. Dengan adanya maskapai penerbangan perintis, yaitu Merpati Nusantara, Mandala, Bouroq, Sempati, dan PT Industri Pesawat Terbang Nurtania berubah menjadi IPTN (Industri Pesawat Terbang Nusantara) yang sekarang dikenal dengan pesawat NC-212, Helikopter NBO 105, CN 235 (Tetuko), N-250 (Gathotkaca), serta produksi komponen pesawat F-16, Boeing 747, dan Boeing 737. Sejarah berdirinya industri pesawat di Indonesia berawal pada sebuah bangunan bekas gudang kapuk di Magetan, dekat Madiun (Jawa Timur). Pada tahun 1946, di gudang yang diubah menjadi bengkel itulah pesawat terbang pertama dengan semua bahan-bahannya berasal dan Indonesia, dirakit serta dibangun oleh putra-putri Indonesia. Pesawat itu adalah pesawat layang jenis zogling tanpa mesin yang biasa dipakai untuk olahraga terbang layang. Pesawat itu diberi nama NWG-1 sesuai dengan inisial pembuatnya yaitu Nurtanio Pringgoadisuryo dan Wiweko Supono. Kerangka NWG itu

dibuat dan kayu jamuju. Pelapis badan dan sayap NWG adalah kain blacu yang dilumuri bubur cingur sebagai pengganti thinner. Keberhasilan NWG-1 mendorong Kepala Staf Angkatan Udara mengusulkan pembentukan Komisi Penerbangan. Nurtanio dikirim ke Manila, Filipina untuk mempelajari teknik pembuatan pesawat di Far Eastern Aero Technical. Ketika kembali ke Indonesia, Nurtanio mencoba untuk merakit pesawat bermesin. Mesin yang digunakannya adalah mesin sepeda motor jenis Harley Davidson buatan tahun 1928. Kerangka pesawat dan sayap terbuat dan kayu dengan pipa baja yang dilapisi kain blacu. Pesawat yang dibuat oleh Nurtanio itu mampu terbang. Pesawat yang diberi nama WEL (Wiweko Experimental Lightplane) itu merupakan pesawat mesin pertama di Indonesia. Nurtanio memberi nama WEL pada pesawat itu untuk menghormati Wiweko Supono yang menjadi atasannya. Namun, kemudian nama itu diubah menjadi RI-X. Pada tahun 1953, Nurtanio bersama dengan 15 orang stafnya berhasil membangun pesawat serba logam pertama yang berkursi tunggal. Dengan bermodalkan pesawat tua peninggalan Belanda, dibangunlah pesawat serba logam untuk tujuan antigerilya. Pesawat dengan rodanya dan roda vespa itu diberi nama Si Kumbang. Pada tangga1 17 April 1958, Si Kumbang mampu terbang melintasi Pulau Jawa. Pesawat itu sekarang dijadikan monumen di depan gedung ittama PT. Dirgantara Indonesia di Bandung. Pembuatan pesawat ini merupakan suatu proyek besar, maka untuk mewujudkannya itu Nurtanio memilih menjalin hubungan kerja sama dengan pabrik pesawat asing yaitu dengan pabrik pesawat Cekop dan Polandia. Tujuan jalinan kerja sama ini adalah untuk memproduksi pesawat Wilga dalam skala besar sehingga proyek ini diberi nama Wilga oleh Presiden Soekarno. Tetapi, pada tanggal 21 Maret 1966 Nurtanio mendapat musibah ketika pesawat yang ditumpanginya jatuh di Kiara Condong (Bandung) sehingga menghentikan proyek besarnya itu. Pada tahun 1976, industri pesawat yang dirintis oleh Nurtanio itu diberi nama PT. Industri Pesawat Terbang Nurtanip (IPTN). Tetapi, ketika B.J. Habibie memimpin IPTN nama Industri Pesawat Terbang Nurtanio diubah menjadi Industri Pesawat Terbang Nusantara (dengan singkatan tetap IPTN). Di bawah pimpinan Habibie, IPTN berhasil memproduksi pesawat jenis C-212 Aviocar dan helikopter jenis BO-105. Pada tahun 1979 bersama CASA Spanyol, IPTN memproduksi CN-235 dan diberi nama oleh Presiden Soeharto. Pesawat CN-235 itu diperlihatkan kepada umum untuk pertama kalinya tanggal 10 September 1983. Pada tahun 2003 nama IPTN diubah menjadi PT. Dirgantara Indonesia (PT. DI). PT. DI inilah yang melanjutkan kegiatannya seperti memproduksi komponen pesawat CN-235, NC-212, Boeing 737, dan F-16. Untuk pelayanan jasa transportasi udara di Indonesia terdapat beberapa maskapai penerbangan di antaranya maskapai penerbangan nasional Garuda Indonesia, Merpati Nusantara, Mandala, Bouraq. Kini, maskapai penerbangan di Indonesia semakin bertambah ramai dengan hadirnya beberapa maskapai lainnya, seperti maskapai penerbangan Sriwijaya, Pelita, Adam, Lions dan sebagainya. Perkembangan informasi, komunikasi, dan transportasi dapat meningkatkan arus informasi, memperpendek jarak antarpulau, maupun antarnegara. C. Teknologi Pertanian dan Revolusi Hijau 1. Pengertian Revolusi Hijau Revolusi hijau sering dikenal dengan revolusi agraria yaitu suatu perubahan cara bercocok tanam dari cara tradisional berubah ke cara modern untuk meningkatkan produktivitas pertanian. Definisi lain menyebutkan revolusi hijau adalah revolusi produksi biji-bijian dari penemuan ilmiah berupa benih unggul baru dari varietas gandum, padi, jagung yang membawa dampak tingginya hasil panen. Tujuan revolusi hijau adalah meningkatkan produktivitas pertanian dengan cara penelitian dan eksperimen bibit unggul. 2. Latar Belakang Munculnya Revolusi Hijau Adapun latar belakang munculnya revolusi hijau adalah sebagai berikut. 1. Hancurnya lahan pertanian akibat PD I dan PD II. 2. Pertambahan penduduk meningkat sehingga kebutuhan pangan juga meningkat. 3. Adanya lahan tidur. 4. Upaya peningkatan produksi pangan.

Gagasan tentang revolusi hijau bermula dari hasil penelitian dan tulisan Thomas Robert Malthus (1766 1834) yang berpendapat bahwa Kemiskinan dan kemelaratan adalah masalah yang dihadapi manusia yang disebabkan oleh tidak seimbangnya pertumbuhan penduduk dengan peningkatan produksi pertanian. Pertumbuhan penduduk sangat cepat dihitung dengan deret ukur (1, 2, 4, 8, 16, 32, 64, 128, dst.) sedangkan peningkatan produksi pertanian dihitung dengan deret hitung (1, 3, 5, 7, 9, 11, 13, 15, dst.). Pengaruh tulisan Robert Malthus tersebut, yaitu: 1. gerakan pengendalian pertumbuhan penduduk dengan cara pengontrolan jumlah kelahiran; 2. gerakan usaha mencari dan meneliti bibit unggul dalam bidang pertanian. 3. Perkembangan Revolusi Hijau Revolusi hijau dimulai sejak berakhirnya PD I yang berakibat hancurnya lahan pertanian. Penelitian disponsori oleh Ford and Rockefeller Foundation di Meksiko, Filipina, India, dan Pakistan. IMWIC (International Maize and Wheat Improvement Centre) merupakan pusat penelitian di Meksiko. Sedangkan di Filipina, IRRI (International Rice Research Institute) berhasil mengembangkan bibit padi baru yang produktif yang disebut padi ajaib atau padi IR-8. Pada tahun 1970 dibentuk CGIAR (Consultative Group for International Agriculture Research) yang bertujuan untuk memberikan bantuan kepada berbagai pusat penelitian international. Pada tahun 1970 juga, Norman Borlang Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi di Indonesia 133 mendapatkan hadiah nobel karena gagasannya mencetuskan revolusi hijau dengan mencari jenis tanaman biji-bijian yang bentuknya cocok untuk mengubah energi surya menjadi karbohidrat pada tanah yang diolah menjadi subur dengan tanaman yang tahan terhadap hama penyakit. Upaya meningkatkan produktivitas pertanian antara lain dengan cara sebagai berikut. 1. Pembukaan areal pertanian dengan pengolahan tanah. 2. Mekanisme pertanian dengan penggunaan alat-alat pertanian modern seperti bajak dan mesin penggiling. 3. Penggunaan pupuk-pupuk baru. 4. Penggunaan metode yang tepat untuk memberantas hama, misalnya dengan alat penyemprot hama, penggunaan pestisida, herbisida, dan fungisida. Perkembangan Revolusi Hijau juga berpengaruh terhadap Indonesia. Upaya peningkatan produktivitas pertanian Indonesia dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut. 1. Intensifikasi Pertanian Intensifikasi pertanian yaitu upaya peningkatan produksi pertanian dengan menerapkan formula pancausaha tani (pengolahan tanah, pemilihan bibit unggul, pemupukan, irigasi, dan pemberantasan hama. 1. Ekstensifikasi Pertanian Ekstensifikasi pertanian yaitu upaya peningkatan produksi pertanian dengan memperluas lahan pertanian, biasanya di luar Pulau Jawa. 1. Diversifikasi Pertanian Diversifikasi pertanian yaitu upaya peningkatan produksi pertanian dengan cara penganekaragaman tanaman, misal dengan sistem tumpang sari (di antara lahan sawah ditanami kacang panjang, jagung, dan sebagainya. 1. Rehabilitasi pertanian Rehabilitasi pertanian yaitu upaya peningkatan produksi pertanian dengan cara pemulihan kemampuan daya produktivitas sumber daya pertanian yang sudah kritis.Faktor-faktor penyebab timbulnya lahan kritis adalah sebagai berikut : 1) Penanaman yang terus menerus. 2) Penggunaan pupuk kimia (pestisida, herbisida). 3) Erosi karena penebangan liar. 4) Irigasi yang tidak teratur. Upaya untuk memperbaiki lahan pertanian antara lain dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut. 1) Reboisasi untuk kawasan hutan/nonhutan. 2) Melakukan tebang pilih. 3) Pembibitan kembali. 4) Penanaman sejuta pohon.

5) 6)

Penanaman tanah lembah/pegunungan dengan terasering/sengkedan. Seleksi tanaman (tanaman pelindung/tua).

Tahun 1988, Indonesia mendapat penghargaan dari FAO karena berhasil dalam swasembada pangan. 4. Perkembangan Industri Pertanian James Watt berhasil mengadakan perbaikan penemuan Mesin Uap tahun 1765 yang sebelumnya ditemukan oleh New Comen. Inovasi ini menjadi dasar dari turbin (mesin penggerak dalam industri berat). Sehingga James Watt dikenal sebagai Bapak Revolusi, sebab penemuannya (mesin uap) menjadi tenaga penggerak mesin industri dan menjadi salah satu pendorong terjadinya revolusi industri. Pada abad ke18, revolusi industri membawa kemajuan ekonomi di Eropa, AS, dan negara berkembang. Kebijaksanaan dalam pembangunan industri antara lain sebagai berikut. 1. Untuk meningkatkan pendapatan per kapita. 2. Menciptakan lapangan kerja baru. 3. Pemerataan kesempatan berusaha. 4. Meningkatkan nilai tambah bahan mentah dan bahan baku. 5. Meningkatkan produktivitas. 6. Meningkatkan ekspor. 7. Menghemat devisa. Untuk melaksanakan kebijaksanaan dalam pembangunan, langkah-langkah yang ditempuh adalah sebagai berikut: 1. Mengembangkan industri kecil dan industri rumah tangga dalam upaya menambah pendapatan dan penciptaan lapangan kerja. 2. Mengembangkan industri pengolahan hasil pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, dan kehutanan dalam rangka memanfaatkan seoptimal mungkin sumber daya nasional. 3. Mengembangkan industri yang berorientasi ekspor sebagai penggerak utama untuk mempercepat laju pertumbuhan industri dan ekonomi. 4. Meningkatkan kemampuan pengusaha teknologi termasuk pengembangan inovasi dalam proses produksi teknologi serta penguasaan teknologi rancang bangun. 5. Mengembangkan kewirausahaan dan profesionalisme tenaga industri, baik secara kuantitas maupun kualitas. Pembangunan industri di Indonesia ditopang oleh beberapa faktor antara lain sebagai berikut. 1. Cadangan bahan mentah yang melimpah meliputi hasil pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, kehutanan, kelautan. 2. Jumlah penduduk yang besar sebagai tenaga kerja dan pemasaran hasil industri. 3. Letak Indonesia sangat strategis pada posisi silang dunia. 4. Berkembangnya ahli-ahli iptek. Pada Pelita VI dalam PJPT II, prioritas diletakkan pada penataan industri nasional, iptek menuju masyarakat industri serta pembangunan SDM. Industri Pertanian Industri pertanian adalah industri yang mengolah dan menghasilkan barang yang mendukung sektor pertanian. Industri pertanian meliputi industri pertanian, perkebunan, perikanan, kehutanan, dan peternakan. Adapun tujuan pembangunan industri pertanian adalah sebagai berikut. 1. Meningkatkan hasil dan mutu produksi. 2. Meningkatkan taraf hidup dan pendapatan petani, peternak, dan nelayan. 3. Memperluas lapangan kerja dan kesempatan berusaha untuk menunjang pembangunan industri. 4. Meningkatkan pendapatan negara melalui ekspor. a. Industri Pertanian Pembangunan pertanian Indonesia (padi) dengan pancausaha tani mampu mengantarkan Indonesia berswasembada pangan. Upaya meningkatkan produksi beras/nonberas antara lain dengan cara berikut. 1) Pancausaha tani.

2) Penanganan pascapanen. 3) Menentukan harga yang layak bagi produsen dan konsumen. 4) Penyediaan sarana dan prasarana. 5) Pengembangan dan pemanfaatan teknologi. 6) Pemanfaatan lahan kering pekarangan dan rawa. 7) Pengembangan holtikultura (buah-buahan, sayur-sayuran, dan obat-obatan). b. Industri Perkebunan Usaha industri perkebunan meliputi perkebunan kecil/rakyat (tebu, tembakau, kelapa, kopi, karet, dan teh) dan perkebunan karet. Produksi perkebunan untuk meningkatkan ekspor, memenuhi kebutuhan dalam negeri. Upaya meningkatkan indistri perkebunan ditempuh dengan cara berikut. 1) Peremajaan yaitu mengganti tanaman yang tua dan busuk. 2) Rehabilitasi yaitu pemulihan kemampuan daya produktivitas. 3) Pemanfaatan lahan kering dan lahan transmigrasi. 4) Penganekaragaman komoditas. 5) Ekstensifikasi dan intensifikasi (penggunaan teknologi tepat guna). Tujuan perkebunan ada 3 yang disebut Tridharma Perkebunan, yaitu: 1) meningkatkan pendapatan dan devisa negara; 2) menciptakan lapangan pekerjaan; 3) memelihara kelestarian sumber daya dan lingkungan hidup. c. Industri Perikanan Budaya perikanan Peningkatan produksi perikanan bermanfaat untuk: 1) memenuhi kebutuhan pangan dan gizi; 2) meningkatkan pendapatan dan taraf hidup nelayan; 3) memajukan desa-desa pantai. Perikanan dibedakan menjadi 2 yaitu: 1) perikanan laut dengan hasil ikan tongkol, hiu, selar, laying lemusu, dan lain-lain; 2) perikanan darat dalam bentuk kolam, empang, danau, waduk dengan jenis ikan mas, mujair, tawes, gurami, dan lele. Upaya peningkatan produksi perikanan melalui hal-hal berikut. 1) Pengembangan dan pemanfaatan teknologi tepat guna. 2) Penyuluhan dan pembinaan. 3) Penyediaan sarana dan prasarana. 4) Kemampuan pemasaran. d. Industri peternakan Pembangunan peternakan bertujuan untuk: 1) memantapkan swasembada pangan; 2) memperbaiki mutu makanan khususnya penyediaan protein nabati dan hewani. Peternakan dibagi dalam 3 jenis, yaitu: 1) peternakan hewan besar (sapi, kerbau); 2) peternakan hewan sedang (kambing, biri-biri, dan babi); 3) peternakan hewan unggas (ayam, itik, puyuh). Upaya untuk meningkatkan produktivitas antara lain sebagai berikut. 1) Pemanfaatan dan pengembangan teknologi tepat guna. 2) Meningkatkan kuantitas dan kualitas ternak. 3) Penyuluhan terhadap petani ternak. 4) Memelihara kesehatan ternak dan kebersihan kandang. 5) Memanfaatkan limbah ternak (untuk pupuk). e. Industri Kehutanan Hutan merupakan kekayaan alam, maka perlu pengelolaan yang teratur agar dapat memberikan manfaat, tetapi tetap menjaga kelestarian hutan. Peranan hutan adalah sebagai berikut. 1) Sebagai sumber pendapatan dan lapangan kerja. 2) Menghasilkan kayu, mulai tahun 1980 ekspor kayu olahan dengan industri kayu lapis.

3) Untuk keperluan bahan bakar dan paru-paru dunia. 4) Untuk konstruksi bangunan dan kerajinan, sumber energi. 5) Sumber obat-obatan tradisional dan sumber penyimpan, pengatur air. 6) Sumber plasma nutfah (penerus genetika) flora dan fauna. Upaya peningkatan hasil hutan adalah sebagai berikut. 1) Peningkatan pengusahaan hutan produksi. 2) Penyempurnaan tata guna hutan serta pemanfaatan hasilnya. 3) Peningkatan perlindungan hutan. 4) Penanaman hutan-hutan yang rusak serta konversi sebagian hutan alam menjadi hutan buatan. 5) Peningkatan penertiban penebangan hutan. D. Dampak Perkembangan IPTEK bagi Masyarakat Indonesia Ilmu pengetahuan ialah sejumlah pengetahuan yang tersusun secara sistematis dan rasional sehingga dapat dibuktikan kebenarannya oleh siapapun. Kebenaran ilmu bersifat objektif dan rasional. Teknologi ialah penerapan praktis dari ilmu. Hubungan ilmu dan teknologi sangat erat. Keduanya sulit dipisahkan dan saling membutuhkan. Tanpa ilmu tidak ada penerapan baru dalam teknologi dan tanpa teknologi sulit dapat menikmati penemuan ilmu. Manfaat iptek bagi kemajuan bangsa yaitu manusia dapat hidup lebih sejahtera. Kegiatan manusia lebih efektif dan efisien. Pembangunan bidang iptek pada PJPT II merupakan kesinambungan perluasan dari PJPT I. Menurut GBHN 1993 sasaran pembangunan ekonomi PJPT II adalah sebagai berikut. 1. Tercapainya kemampuan nasional dalam pemanfaatan, pengembangan, dan penguasaan iptek yang dibutuhkan bagi peningkatan kesejahteraan, kemajuan, peradaban, ketangguhan, dan daya saing bangsa. 2. Terpacunya pembangunan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan menuju masyarakat yang berkualitas, maju, mandiri, dan sejahtera yang dilandasi nilai-nilai spiritual, moral dan etik berdasarkan nilai luhur bangsa serta nilai keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Untuk mencapai sasaran tersebut, maka arah pembangunan iptek adalah sebagai berikut. 1. Pemanfaatan pengembangan dan penguasaannya dapat mempercepat proses pembaharuan. 2. Meningkatkan produktivitas dan efisiensi. 3. Memperluas lapangan kerja. 4. Meningkatkan kualitas harkat dan martabat bangsa serta meningkatkan kesejahteraan rakyat. Sedangkan kebijaksanaan iptek dalam Pelita VI pada PJPT II ada 5 sektor sebagai berikut. 1. Teknik Produksi Yaitu keseluruhan unsur yang turut berperan dalam kegiatan manusia yang menghasilkan barang dan jasa. 1. Sektor Teknologi Yaitu kemampuan teknologi dan rekayasa yang mendasari kemampuan bangsa Indonesia dalam melakukan inovasi. 1. Sektor Ilmu Pengetahuan Terapan Yaitu Ilmu pengetahun yang dapat dimanfaatkan dalam berbagai aspek kehidupan manusia. 1. Sektor Ilmu Pengetahuan Dasar Yaitu ilmu pengetahuan yang menjadi landasan bagi pengembangan Ilmu Pengetahuan Alam, Sosial, Humaniora, dan mendukung mutu SDM. 1. Sektor Kelembagaan Iptek Yaitu iptek yang diarahkan untuk meningkatkan SDM agar lebih produktif, kreatif, dan inovatif. Ilmu pengetahuan dan teknologi di satu sisi bermanfaat bagi manusia dan makhluk hidup lainnya, di sisi lain menimbulkan dampak negatif. 1. Kemajuan dan Manfaat Iptek 1. Limbah ternak untuk pupuk (kompos). 2. Sampah dimanfaatkan menjadi gas bio yang berguna untuk keperluan memasak, penerangan, dan tenaga gerak.

3. Dengan detoksifikasi surya yaitu sistim pengolahan air yang terkontaminasi dengan memanfaatkan panas matahari/ultraviolet sehingga menghasilkan air yang bersih. 4. Dalam bidang komunikasi (radio,TV, telephone, handphone, internet) sehingga penggunaan waktu lebih efisien dan cepat mendapatkan informasi. Dapat mendatangkan kemudahan hidup dengan adanya kalkulator, alat rumah tangga elektrolik, pesawat terbang, kereta api, dan sebagainya. 1. Kemajuan bidang kedokteran dan kesehatan sehingga ditemukan pengobatan berbagai macam penyakit termasuk alat kontrasepsi yang berguna mengatur dan membatasi kelahiran. 2. Pada bidang pertanian (traktor, alat pemotong padi, pupuk buatan) menjadi lebih efektif dan efisien dan meningkatkan produktivitas pertanian dengan teknik mutasi buatan dapat menghasilkan buah buahan yang besar tidak berbiji (contoh buah semangka tanpa biji). 3. Memperluas lapangan kerja karena dibukanya industri-industri baru. 4. Meningkatkan produksi barang-barang kebutuhan masyarakat (sandang, pangan, kendaraan, alat elektronika, dan sebagainya) 5. Pengolahan SDA lebih berkualitas dan optimal. 6. Kemajuan bidang pertahanan keamanan dengan persenjataan yang canggih (rudal, patriot, nuklir, bom atom, dan lain-lain) bermanfaat untuk mempertahankan pertahanan dan keamanan wilayahnya. 7. Peningkatan dan pemanfaatan sumber energi baru. Televisi memberikan dampak baik positif maupun negatif antara lain sebagai berikut. A. Dampak positif dari televisi 1) Menambah wawasan di bidang politik, ekonomi, sosial, dan budaya. 2) Menambah pendidikan dan pengetahuan. 3) Mengomunikasikan hasil-hasil pembangunan. B. Dampak negatif dari televisi 1) Penjajahan informasi dari negara tertentu terhadap negara lain. 2) Budaya konsumerisme dan konsumtif. Adapun keuntungan dari adanya Revolusi Hijau, adalah berikut ini. 1. Ditemukannya berbagai jenis tanaman dan biji-bijian/varietas unggul. 2. Meningkatnya produksi pertanian yang berarti dapat mengatasi pangan. 3. Pendapatan petani meningkat yang berarti meningkatnya kesejahteraan petani. Sedangkan kelemahan dari Revolusi Hijau adalah berikut ini. 1. Menghabiskan dana yang besar untuk biaya penelitian. 2. Menurunnya daya produksi tanah karena ditanami terus menerus. 3. Polusi tanah dan air akibat penggunaan pupuk pestisida yang berlebihan. 4. Dengan mekanisasi pertanian mengakibatkan tenaga manusia digantikan mesin 2. Dampak Positif dan Negatif dari Pembangunan Industri Pemerintah Orde Baru banyak membangun industri besar dalam rangka program pembangunannya. Salah satunya adalah Krakatau Steel di Cilegon yang merupakan industri baja terbesar di Indonesia. a. Dampak positif dari pembangunan industri 1) Mengurangi pengangguran; kebijakan pembangunan industri di Indonesia masih mengarah kepada industri padat karya, yaitu industri yang banyak menyerap tenaga kerja atau industri yang menggunakan mesin-mesin semiotomatis, sehingga tenaga kerja manusia masih diperlukan. Jika mesin-mesin otomatis yang digunakan seperti robot, maka hanya sedikit tenaga kerja yang dapat diserap. 2) Kebutuhan akan barang-barang dipenuhi; pengembangan industri mi mengakibatkan berbagai kebutuhan akan barang dapat dipenuhi. Jika barang-barang itu masih harus diimpor, maka penduduk akan membelinya dengan harga yang mahal, sehingga terjadi pemborosan devisa negara. 3) Menambah penghasilan negara; jika neara telah mampu mengembangkan industrinya, maka barang-barang yang diekspor tidak lagi berupa bahan mentah, tetapi barang jadi, sehingga

devisa yang masuk ke negara semakin bertambah besar dan juga penghasilan penduduk mengalami peningkatan. 4) Menekan laju pertumbuhan penduduk; perkembangan industri memberi kesempatan lebih banyak kepada kaum wanita untuk bekerja, sehingga hal mi dapat mengurangi laju pertumbuhan penduduk. b. Dampak negatif dari pembangunan industri Selain berdampak positif, pembangunan industri juga berdampak negatif. Berikut dampak negatif dan pembangunan industri. 1) Pencemaran lingkungan; pemakaian teknologi produksi di suatu pabrik dapat merusak atau mencemari lingkungan bila dilakukan dengan kurang bijaksana baik pada tahapan praproduksi, proses produksi maupun pada pemakaian produk-produknya, seperti: a) Penebangan pohon-pohon di hutan tanpa memperhatikan regenerasinya akan berakibat merusak keseimbangan ekosistem, berbagai organisme akan punah, bencana alam akan timbul b) Pemakaian batu bara sebagai bahan bakar akan mengotori udara, juga asap yang dikeluarkan dan cerobong pabrik berisi beragam polutan. c) Limbah pabrik yang melewati sungai akan sampai ke laut sehingga akan menimbulkan kematian organisme air. d) Air yang tercemar tidak dapat lagi digunakan penduduk untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. e) Produk-produk berbahan plastik yang tak dapat didegradasi oleh mikroorganisme akan mencemari tanah dan air. 2) Perubahan budaya: perkembangan industri mengakibatkan terjadinya perubahan budaya pada masyarakat. Masyarakat cenderung bersifat individualis dan konsumtif, sehingga sifatsifat gotong-royong yang berkembang dalam kehidupan masyarakat agraris semakin sulit untuk ditemukan. Perubahan budaya semakin jelas terlihat dalam kehidupan masyarakat setelah semakin majunya sistem komunikasi, bahkan semakin berkembangnya peradaban manusia dengan memasuki era glonbalisasi. 3) Luas lahan pertanian semakin berkurang; perkembangan industri membutuhkan tanah yang semakin luas untuk bangunan, sarana dan prasarana pabrik. Tanah yang diprioritaskan untuk pembangunan industri adalah tanah yang kurang produktif. Namun, karena berbagai pertimbangan, maka lahan pertanian juga dialihfungsikan sebagai areal industri.
Akibat Dan Dampak Revolusi Industri Terhadap Indonesia Di Bidang Politik, Sosial, Ekonomi, Iptek, Budaya, Dan Demografi Pada Masa Penjajahan / Kolonial Secara garis besar Revolusi Industri memiliki pengaruh yang positif dan negatif. Antara keduanya saling berhubungan satu sama lainnya. Berikut ini adalah dampak Revolusi Industri terhadap perkembangan sejarah Indonesia. 1. Dalam Bidang Politik Betapapun Revolusi Industri tidak terjadi di Belanda, namun sebagai negara yang memiliki kesamaan karakter, Belanda menjadi pengikut revolusi juga. Imbas terhadap Indonesia sebagai negara jajahan Belanda adalah lahirnya imperialisme modern di Indonesia yang diusung oleh Belanda. Selain itu, Inggris sebagai lokomotif imperialisme modern memiliki kepentingan tersendiri dengan wilayah Indonesia yang benar-benar kaya sumber daya alam. Peralatan-peralatan yang ditemukan di Inggris membutuhkan begitu banyak bahan untuk diolah. Inggris sebagai negara dengan kekuatan imperialisme yang besar ternyata berseteru dengan pihak Belanda, sampai akhirnya peperangan yang terjadi antara Prancis dan Inggris dimenangkan oleh Inggris. Secara langsung Indonesia diserahkan kepada Inggris. Dalam sejarah kolonialisme Indonesia, kita mengenal Thomas Stamford Raffles yang merupakan utusan Inggris untuk menjadi Gubernur Jenderal di Hindia Belanda. Untuk empat tahun Indonesia dipimpin oleh imperialisme Inggris. Sejak masuknya pedagang-pedagang Eropa, khususnya Belanda ke Indonesia telah membawa perubahan yang sangat signifikan. Pola perdagangan monopoli yang dipraktekkan oleh VOC (kolonial Belanda) menjadikan tersentralisasinya kekuasaan di tangan penguasa asing. Imbas terbesar bagi para penguasa pribumi (raja/sultan) adalah hilangnya hak kekuasaan sebagai penguasa lokal. Karena mereka dijadikan oleh pemerintah kolonial Belanda sebagai pegawai negeri yang mendapat gaji dari pemerintah kolonial. Padahal menurut aturan adat, penguasa pribumi mendapat upeti langsung dari rakyat.

Hal ini terjadi setelah para penguasa-penguasa pribumi tidak mampu mempertahankan wilayah kekuasaannya dari penetrasi orang-orang Eropa yang berupaya menguasai wilayah-wilayah di Indonesia untuk menjalankan politik dagang monopolinya. Pada akhirnya, dengan diterapkannya sistem pemerintahan baru (pemerintahan kolonial), para raja/sultan semakin kehilangan peranannya dalam mengatur kebijakan politiknya, sedangkan pemerintahan kolonial semakin kuat. 2. Dalam Bidang Ekonomi dan Industrialisasi Salah satu akibat dari munculnya Revolusi Industri adalah munculnya praktik kapitalisme dalam hal ekonomi. Ideologi kapitalisme berpendapat bahwa untuk meningkatkan pendapatan perlu ditunjang dengan jumlah modal atau kapital yang banyak, penguasaan sektor produksi, sumber bahan baku dan ditribusi. Indonesia atau pada saat itu bernama Hindia Belanda memiliki sumber daya alam yang hasilnya sangat laku di pasaran dunia. Penemuan-penemuan teknologi baru telah mengantarkan wilayah Hindia Belanda menjadi incaran negara-negara maju dalam teknologi tersebut. Akhirnya perekonomian rakyat diperas, tetapi pemerintahan tidak pernah mampu memberikan kesejahteraan tersendiri untuk Indonesia. Indonesia menjadi lahan baru untuk para kapitalis yang hanya mementingkan keuntungan. Imperialisme modern telah mampu mengeruk ekonomi Indonesia dengan keuntungan yang gilang gemilang di tangan para imperialis, sementara rakyat menjadi kuli di rumahnya sendiri. Bangsa Indonesia sempat dikenalkan dengan beberapa sistem perekonomian dari dunia Barat, namun kerugian yang diderita oleh Indonesia jauh lebih besar ketimbang keuntungan yang dihasilkan. Perubahan mendasar terjadi ketika Indonesia mengalami masa sistem ekonomi liberal dan tanam paksa. Pada era ini rakyat diharuskan melakukan kegiatan ekonomi berupa pengolahan perkebunan yang cenderung hanya memperhatikan pada kebutuhan orang-orang Eropa saja, sedangkan kebutuhan rakyat pribumi, seperti pertanian, menjadi terabaikan. Pada masa pemerintahan Raffles, dengan politik sewa tanahnya yang diilhami dari pengaruh paham liberal, rakyat Indonesia belum paham sepenuhya dengan sistem ekonomi uang. Sehingga sistem land rente dianggap mengalami kegagalan, karena rakyat masih terbiasa dengan sistem ekonomi tertutup, dimana pembayaran pajak belum sepenuhnya dengan uang tetapi in natura. Faktor utama lainnya yang dianggap sebagai biang kegagalan liberalisasi ekonomi Indonesia adalah masih kuatnya praktik budaya feodalisme. Setelah Indonesia kembali menjadi jajahan Belanda, di bawah pengawasan Gubernur Jenderal van Den Bosch yang beraliran konservatif, diterapkan sistem tanam paksa yang bertentangan dengan sistem sewa tanah sebelumnya. Hal ini, menurut van Den Bosch, dikarenakan kondisi realitas Indonesia yang bersifat agraris, seperti halnya keadaan negara induk (Belanda) yang juga masih bersifat agraris. Walaupun keadaan di Eropa, rentang waktu 18001830, sedang muncul pertentangan pemikiran, antara liberalis dan konservatis telah mengakibatkan kegamangan dalam pelaksanaan pemerintahan di negara jajahan. Tetapi satu hal yang perlu dipahami, baik konservatif yang akan meneruskan sistem politik VOC atau liberalis yang ingin meningkatkan taraf hidup rakyat, dalam tujuannya sama-sama menginginkan daerah jajahan perlu memberi keuntungan bagi negeri induk. Keadaan ekonomi rakyat Indonesia semakin parah, seiring dengan diberlakukannya kebijakan Politik Pintu Terbuka. Hal ini menjadikan jiwa-jiwa wirausaha semakin menghilang, karena para petani, pedagang yang kehilangan lapangan sumber mata pencahariannya beralih menjadi buruh di perusahaan-perusahaan swasta asing. Kondisi ekonomi bangsa Indonesia saat itu sangat menyedihkan. Hal itu dapat dilihat pada awal abad ke-20, diketahui bahwa penghasilan rata-rata sebuah keluarga di Pulau Jawa hanya 64 gulden setahun. Dengan penghasilan yang sangat sedikit itu, mereka harus melakukan berbagai kewajiban, antara lain untuk urusan desa. Hal itu menggambarkan betapa miskinnya rakyat Indonesia, padahal Indonesia memilki kekayaan alam yang melimpah. Selama masa tanam paksa, pemerintah Belanda memperoleh keuntungan ratusan juta gulden. Keuntungan yang diperoleh itu semuanya digunakan untuk membangun negeri Belanda. Tidak ada pemikiran untuk menggunakan sebagian keuntungan itu bagi kepentingan Indonesia. Kemiskinan yang diderita rata-rata rakyat Indonesia adalah akibat politik drainage (politik pengerukan kekayaan) yang dilakukan pemerintah Belanda untuk kepentingan negeri Belanda. Politik dranaige itu mencapai puncaknya pada masa tanam paksa (cultuur stelsel) dan kemudian dilanjutkan pada masa sistem ekonomi liberal. Sistem ekonomi liberal pun tidak meningkatkan taraf kehidupan rakyat. pada masa itu berkembang kapitalisme modern yang berlomba-lomba menanamkan modalnya di Indonesia, antara lain perkebunan raksasa. Pemerintah mengizinkan para pemilik modal menyewa tanah, termasuk tanah rakyat. Akibatnya, lahan untuk pertanian rakyat berkurang. Sebagian besar petani terpaksa menjadi buruh di pabrik atau perkebunan dengan upah yang rendah.

Pada sisi lain, perusahaan-perusahan pribumi mengalami kemunduran atau sama sekali gulung tikar sebab tidak mampu bersaing dengan modal raksasa. Pengusaha tekstil tradisional pun terpukul akibat membanjirnya tekstil yang diimpor dari Belanda. Para pengusaha pribumi juga dirugikan sebab pemerintah Belanda lebih banyak memberikan kemudahan kepada pedagang Cina. 3. Dalam bidang Iptek dan Budaya Revolusi Industri lahir dengan latar belakang ilmu pengetahuan yang pekat. Ketika Indonesia dijajah oleh Inggris, maka hal itu pun sangat berpengaruh. Raffless yang dalam kesempatan tersebut menjadi gubernur jendral yang sangat perhatian terhadap ilmu pengetahuan dan alam, maka salah satu bunga bangkai yang ditemukan di Bengkulu dinamai dengan bunga Raflesia Arnoldi. Bahkan, Kebun Raya Bogor juga merupakan itikad dari istri Raffles. Dalam hal ilmu perbintangan, di Bandung didirikan pula tempat obsevasi yang didirikan Van den Bosch. Seiring dengan munculnya hubungan Hindia Belanda dengan Inggris, maka sedikit demi sedikit masyarakat Indonesia dikenalkan juga dengan kemajuan teknologi tersebut. Penjajahan Indonesia yang sempat kembali ke tangan Belanda menghentikan kemajuan tersebut, namun dalam perkembangan kontemporer, pengaruh Revolusi Industri sangat terlihat dan terasa. 4. Dalam Bidang Sosial Industrialisasi sejak semula sangat berkaitan dengan masalahmasalah sosial-kemasyarakatan. Adanya perbedaan pendapatan ekonomi cenderung membuat manusia mengukur segala sesuatu dengan mahalmurahnya harga sesuatu. Dengan perbedaan tersebut, muncullah diskriminasi sosial yang tidak manusiawi. Selain itu, ada pula dampak positif dari Revolusi Industri ini, yaitu dibukanya jalur transportasi darat yang baru rel kereta api guna mempercepat proses mobilisasi dan penyampaian informasi dan komunikasi. a. Diskriminasi Sosial Dalam bidang sosial terjadi perbedaan yang mencolok antara golongan Barat atau Belanda dengan golongan pribumi. Dalam bidang pemerintahan juga terjadi diskriminasi, pembagian kerja dan pembagian kekuasaan didasarkan pada warna kulit. Orang pribumi yang mendapatkan jabatan pastilah jabatan rendah dan dibatasi kekuasaannya. Diskriminasi juga terjadi di kalangan militer. Untuk pangkat yang sama, gaji orang Indonesia yang berdinas dalam militer Belanda lebih rendah daripada gaji anggota militer Belanda. Bahkan diadakan pula perbedaan gaji antara serdadu Ambon dan serdadu Jawa. Diskriminasi berlaku juga di tempat hiburan. Ada tempat-tempat yang tidak boleh dimasuki oleh orang Indonesia, seperti tempat pemandian, restoran bahkan pada angkutan umum, seperti kereta api lintas-kota atau trem (kereta api dalam kota). Rupanya para penggagas Politik Etis hendak menciptakan hubungan yang harmonis antara Belanda dan golongan pribumi, namun kesamaan pandangan yang diharapkan ternyata tak berbuah seperti yang diharapkan. Orang-orang Indonesia yang telah mendapatkan pendidikan dari Belanda, semakin menyadari tentang arti penting kemerdekaan yang pada akhirnya mereka menjadi pemuda-pemuda pergerakan kemerdekaan Indonesia. Hal ini membuktikan bahwa diskriminasi berdasarkan ras menjadi salah satu faktor lahirnya pergerakan nasional. b. Dibangunnya Jalur Transportasi Darat Revolusi Industri secara tidak langsung berdampak pula dalam hal transportasi di Indonesia, terutama darat. Untuk mempermudah mobilitas penduduk dan perdagangan, pemerintah Hindia Belanda membangun jalur kereta api di Pulau Jawa. Hal ini dilakukan guna mempercepat hubungan komunikasi dan dagang. Untuk daerah pegunungan yang banyak terdapat perkebunan (misalnya di Jawa Barat), dibangun khusus jalur kereta api untuk mengangkut hasil bumi ke kawasan pabrik guna diolah menjadi bahan setengah jadi atau jadi. Sesungguhnya jalur darat telah dibuka sejak masa Daendels memerintah Jawa, yaitu dengan dibukanya rute baru: Anyer-Panarukan yang membelah Pulau Jawa pada awal abad ke-19. Dengan tujuan semula untuk mempercepat proses informasikomunikasi antarkantor pos, maka Jalan Raya Pos (The Grote Postweg) ini pada masa selanjutnya berguna pula untuk jalur mobilitas penduduk yang ingin ke luar kota atau pulau. c. Mobilitas Penduduk dan Masalah Demografi Industrialisasi mengakibatkan perpindahan penduduk dari desa ke kota-kota besar. Berdirinya pabrikpabrik telah mendorong kehidupan baru dalam masyarakat Indonesai yang sebelumnya masyarakat agraris dan maritim. Terbentuklah komunitas pekerja kasar dan buruh yang bekerja di pabrik-pabrik partikelir

(swasta). Kota-kota besar, terutama Jakarta dan Surabaya, merupakan tempat tujuan orang-orang untuk mengadu nasib. Untuk mendapatkan pegawai-pegawai semacam juru ketik atau tulis yang murah maka pemerintah kolonial membangun sekolah-sekolah kejuruan guna menghasilkan tenaga-tenaga ahli dari pribumi yang tentunya jauh lebih murah honornya bila dibandingkan tenaga ahli dari Eropa. Tenaga tulis/ketik tersebut selain dipekerjakan di instansi pemerintahan, juga dipekerjakan pegawai rendah di perkebunan pemerintah. Pada masa pelaksanaan ekonomi liberal sekolah didirikan untuk tujuan yang sama. Pada 1851, didirikan sekolah dokter pertama di Jawa yang sebenarnya merupakan sekolah untuk mendidik mantri cacar atau kolera. Maklum kala itu kedua penyakit tersebut sering menjadi wabah di beberapa daerah. Sekolah mantri tersebut kemudian berkembang menjadi STOVIA (School Tot Opleiding Voor Inlandse Artsen) atau sekolah dokter pribumi. Munculnya sekolah-sekolah ala Eropa di Jawa, khususnya Batavia dan Bandung, menggiring orangorang dari Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan tempat-tempat lainnya berdatangan ke Jawa. Orangorang di Jawa pun, terutama anak-anak priyayi dan bangsawan atau pedagang kaya yang memiliki biaya lebih, berbondong-bondong datang ke Jakarta dan Bandung yang saat itu memiliki sekolah setingkat perguruan tinggi (THS dan STOVIA). Perpindahan atau mobilitas kaum terpelajar tersebut tentunya sangat memengaruhi populasi kota. Perubahan demografis cukup mecengangkan.

Isu-Isu Internasional yang Mempengaruhi Indonesia Sejarah politik internasional diwarnai aneka sistem politik yang hubungannya diwarnai saling dominasi dan mencari submisi. Demikian cara pandang realisme dalam politik internasional. Cara pandang ini mirip dengan apa yang diutarakan kalangan pendukung biopolitik dalam memandang perilaku politik individu dalam kelompok. Penulis seperti Charles W. Kegley bahkan menyusun daftar pencarian dominasi oleh komunitas-komunitas politik (atau negara-negara) di dunia 1495 hingga 2025? (tahun 2025 adalah prediksi) yang disebutnya sebagai pencarian hegemoni dalam sistem politik internasional, dan ia rangkum ke dalam tabel berikut ini: Sistem politik internasional seperti pembentukan Uni Eropa, neoliberalisme Amerika Serikat, multipolaritas kekuasaan politik dunia, turut mempengaruhi kinerja sistem politik suatu negara. Pergerakan pada level sistemik (di tingkat internasional) memiliki pengaruh tertentuk di tingkat nasional suatu negara. Kegley menyebut bahwa pada rentang 14951540 terjadi hegemoni kekuasaan Portugis. Pola ini bahkan terasa hingga wilayah Indonesia (saat itu masih berupa kerajaan-kerajaan nusantara). Portugis bahkan bisa menguasai Malaka pada tahun 1511, lalu mendirikan benteng-benteng dagang di Pasai, Banten hingga Ternate. Portugis pun merupakan bangsa yang pertama kali menyebarkan agama Kristen (Katolik) di kepulauan Indonesia. Rivalitas Portugis saat itu hanya bisa didekati oleh Spanyol, yang lebih berkonsentrasi di kepulauan utara nusantara (kepulauan Filipina). Tahun 15601609 ditandai memudarkan hegemoni Portugis untuk kemudian diganti rivalnya terdahulu, Spanyol. Salah satu penantang Spanyol yaitu Belanda mulai menantang dominasinya yaitu dengan melakukan pendaratan di Indonesia tahun 1596. Pendaratan Belanda saat itu bukan atas nama Kerajaan Belanda melainkan multinational corporation-nya yaitu VOC. VOC ini lambat laut menguat di kepulauan nusantara sehingga mampu menggantikan dominasi Portugis. Tahun 1610 1648 Eropa dilanda pertentangan antara otoritas agama dengan otoritas politik (surgawi versus diaboli). Di masa ini VOC semakin menguat di nusantara serta mulai terlibat dalam politik pada komunitas-komunitas lokal di Indonesia misalnya di Gowa-Tallo, Mataram, dan mulai menghabisi sisa-sisa armada Portugis di Kepulauan Maluku. Tahun 16501715 kekuasaan VOC relatif mulai menyebar di nusantara. Eropa saat itu tengah mengalami hegemoni Raja Louis XIV dari Perancis. Raja ini merupakan otokrat dan memiliki musuh hampir seluruh kerajaan yang ada di Eropa. Sejak 1688 hingga 1713 Eropa dilanda peperangan Aliansi Besar. VOC di Indonesia semakin kuat cengkeramannya, terutama di wilayah Jawa. Tahun 17921815 merupakan masa senja VOC di Indonesia. Perusahaan ini bangkrut tahun 1799 terutama karena korupsi di tubuh manajemen internalnya. Di masa ini pula sempat berkuasa gubernur jenderal yang pro Napoleon. Jawa ditandari pembangunan jalur penghubung (poros) AnyerPanarukan. Setelah Napoleon kalah dalam Perang Waterloo 1815 oleh pasukan Admiral Wellington dari Inggris, kerajaan eropa lautan ini sempat berkuasa 1811 dengan Raffles sebagai gubernur

jenderalnya. Masa singkat ini digunakan Inggris untuk memperbaiki administrasi pemerintahan kolonial yang semrawut di periode akhir kekuasaan VOC. Setelah itu, Inggris melepaskan nusantara ke tangan Belanda sebagai penguasa status quo pasca penaklukan Napoleon. Orang-orang Anglo-Saxon ini lebih berkonsentrasi di pulau pusat perdagangan: Temasek (Singapura) yang dipertukarkan Belanda dengan Bengkulu (Bengkulen). Tahun 18711914 ditandai proses industrialisasi, agribisnis, dan transmigrasi besar-besaran di sekujur kepulauan nusantara dengan Belanda sebagai regulatornya. Aceh, komunitas politik yang belum tunduk pada Belanda, takluk pada 1905. Di sisi lain, benih-benih nasionalitas komunitas politik nusantara semakin terbentuk. Mereka dipersatukan oleh Belanda, sebagai berkah tersamar (bless in disguise). Kalangan liberal di Belanda mulai mengupayakan perbaikan nasib penduduk koloni, politik etis mulai diberlakukan. Tercipta intelektual-intelektual dan elit-elit politik baru yang didasarkan pada achievement bukan lagi ascribe status. Di level internasional, hegemoni terbagi atas tiga kekuatan militer strategis yaitu Jerman, Turki, dan federasi Austria-Hongaria. Dunia ditandai oleh Perang Dunia I. Liga bangsa-bangsa didirikan untuk mengendalikan biopolitik negara-negara di Eropa dan Asia. Inggris, Amerika Serikat, dan Perancis mulai menunjukkan kecederung blok kapitalisnya. Tahun 19451991 dunia ditandai dengan bipolaritas politik internasional dan perang dingin antara dua kekuatan utama dunia: Amerika Serikat dan Uni Soviet. Indonesia merdeka tahun 1945 dan dihadapkan pada realitas dunia yang terbelah ke dalam dua kutub. Pilihan politik luar negeri Indonesia diucapkan Moh. Hatta tanggal 2 September 1948 di Yogyakarta bertajuk Mendayung diantara Dua Karang. Politik luar negeri Indonesia tidak berat ke Amerika Serikat ataupun Uni Soviet melainkan berhubungan dengan keduanya selama mendapat manfaat bagi pemenuhan kepentingan nasional Indonesia. Sistem politik Indonesia sangat dipengaruhi oleh perang dingin antar dua kekuatan ini. Di masa Sukarno, Indonesia berupaya membangun blok alternatif yang terdiri atas negara-negara Asia dan Afrika. Uni Soviet mendukung sementara Amerika Serikat tidak terlampau menyukai. Amerika Serikat semakin melihat lewat aktivitasnya di Konferensi Asia Afrika dan politik luar negeri agresif Sukarno cenderung berayun ke kiri. Tahun 1958 tentara Indonesia berhasil menangkap seorang pilot berkebangsaan Amerika Serikat yang memasok bantuan senjata untuk pemberontak PRRI atau Permesta. Ketimbang menghukum berat, Soekarno malah mengembalikan pilot tersebut ke negara induknya Amerika Serikat dan kembali ke pangkuan keluarganya. Amerika Serikat juga berkepentingan atas potensi tambang emas di pulau kepala burung dan awalnya mendukung Belanda untuk mengakuisisi wilayah tersebut. Sukarno melakukan psywar dengan memperlengkapi alutsista Indonesia dengan produk-produk mutakhir buatan Uni Sovyet yang mampu menandingi persenjataan Barat. Akhirnya, Soekarno pun berhasil dalam perjuangan diplomasi dan senjata melalui operasi Mandala sehingga tahun 1963 Irian Jaya masuk ke dalam wilayah Indonesia. Amerika Serikat mengubah sikap dengan mendukung integrasi Irian Jaya ke pangkuan ibu pertiwi. Amerika Serikat tentu saja lega ketika akhirnya Soekarno terjungkal tahun 19651966. Amerika Serikat melihat adanya wilayah dekat sekutu mereka (Australia) yang diterlantarkan satu negara Eropa yaitu Portugal: Timor Timur. Wilayah ini dicurigai menjadi basis pelatihan gerilyawan komunis. Amerika Serikat tidak mungkin langsung menginvasi Timor Timur karena akan mencederai reputasinya di mata Portugal. Amerika Serikat menggunakan Soeharto untuk menginvasi Timor Timur tahun 1975 dan tahun 1976 Timor Timur masuk ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Indonesia memperoleh keuntungan tambahan dengan adanya potensi minyak di Celah Timor. Indonesia pun digunakan Amerika Serikat sebagai bagian dari containment policy untuk membendung ekspansi kekuatan komunis dari utara, karena Amerika Serikat kalah perang dengan Vietcong tahun 1976. Vietnam menjadi komunis dan ancaman ekspansi komunis ke Australia akan terbuka jika Indonesia menjadi merah oleh Partai Komunis Indonesia. Sekurangnya selama rentang 19801990 Indonesia merupakan sekutu Amerika Serikat yang tidak bermasalah. Indonesia mulai menerapkan deregulasi dan debirokratisasi dan ini seiring dengan ideologi neokonservatif dan neoliberal yang mulai mencengkeram politik luar negeri Amerika Serikat sejak tahun 1980-an. Pengaruh Amerika Serikat kepada Indonesia salah satunya melalui pintu International Monetary Fund di mana Amerika Serikat adalah pemegang saham terbesar.

Indonesia mulai membandel tatkala mulai tercipta monopoli-monopoli oleh keluarga dan pebisnis lingkar istana. Selain itu, peralihan kuda-kuda politik Soeharto ke arah Islam modernis-moderat mulai dilihat secara curiga. Amerika Serikat kini telah memenangkan perang dingin dengan runtuhnya tembok Berlin pada 1989 dan diakhiri bangkrutnya Uni Soviet pada 1991. Periode bangkrutnya Uni Soviet menandai hegemoni tunggal Amerika Serikat atas dunia internasional. Tahun 19912025? merupakan periode Unipolar dalam sistem politik internasional. Amerika Serikat secara agresif melakukan pembukaan pasar bebas di hampir seluruh belahan dunia. Neoliberalisme yang diusung Amerika Serikat menempatkan pemerintah Amerika Serikat bertugas membuka pasar-pasar ekonomi baru bagi kalangan pengusaha mereka. Kecenderungan monopoli keluarga Soeharto atas sejumlah bisnis strategis seperti cengkih, pembangunan jalan tol, dan produksi mobil tentu menggelisahkan penganut free-fight capitalism. Ketiga terjadi krisis global Asia tahun 1997, Amerika Serikat (melalui IMF) memanfaatkan situasi untuk melakukan perubahan-perubahan struktural Indonesia yang kondusif bagi pasar bebas sehingga tidak aneh jika bantuan IMF terkesan blunder dalam mengatasi devaluasi nilai tukar rupiah. Sebagai sebuah kekuatan Unipolar yang memiliki kekuatan ekonomi, politik, militer, serta teknologi paling tinggi di dunia (mengalahkan pesaing-pesaing terdekatnya yaitu Cina, Rusia, Jepang, dan Jerman) membuat Indonesia harus akomodatif atas politik luar negeri Amerika Serikat. Berkonfrontasi dengan Amerika Serikat lebih besar mudarat ketimbang manfaatnya. Indonesia pun tidak luput dari kecenderungan neoliberalisme yang aktivitasnya diwakili MNCMNC besar yang berhubungan dekat dengan Amerika Serikat. Dapat kita saksikan berapa banyak privatisasi perusahaan BUMN ke tangan swasta, semisal saham PT. Telkom kepada Temasek (perusahaan Singapura), diteruskannya eksploitasi emas Papua oleh Freeport, eksploitasi emas Buyat di Minahasa oleh Newmont, ataupun pengelolaan tambang emas di Malifut oleh New Crest Mining perusahaan asal Australia, sekutu Amerika Serikat. Dalam masalah sistem politik internasional juga terdapat competing ideologi. Revivalisme Islam yang berkelindan dengan efek merusak kolonialisme Barat mendorong kehadiran Islam sebagai pesaing berat bagi hegemoni Barat yang sekular dan materialistik. Munculah fundamentalisme dalam politik Internasional. Fundamentalisme ini menjelaskan bagaimana struktur agama mempengaruhi kondisi perpolitikan di suatu negara, misalnya perkembangan aliran-aliran Islam baru sejak 1800-an. Wahhabi di Arab Saudi menjadi ideologi dan agama resmi Arab Saudi. Ikhwanul Muslimin di Mesir menginsipirasikan gerakan-gerakan politik intelektual Islam di negara-negara Timur Tengah bahkan Indonesia. Jamaah Islamiyah di Pakistan menginspirasikan perubahan sistem politik demokrasi sekuler menjadi kekhalifahan Islam. Taliban di Afghanistan memenangkan perang melawan kelompok moderat yang cocok bagi Barat. Jamaah al-Jihad di Mesir mengibarkan bendera fundamentalisme. Syiah Itsna Asyariyah di Iran berhasil menggulingkan rezim politik Pahlevi dukungan Amerika Serikat dan bergegas mengekspor Revolusi Islam Iran ke seluruh dunia, hingga Indonesia. Wilayahwilayah yang awalnya bercorak otoritarian sekuler maupun demokrasi liberal satu demi satu berjatuhan untuk kemudian jatuh ke tangan pemerintahan-pemerintahan yang menggunakan Islam sebagai metode kepolitikannya. Selain agama, masalah ekonomi juga memiliki dampak kuat bagi perubahan sistem politik suatu negara. Dalam studinya mengenai alasan Amerika Serikat melakukan Perang Melawan Teroris, Michel Chossudovsky menulis: Americas New War consists in extending the global market system while ope ning up new economic frontiers for US corporate capital.More specically, the US-led military invasionin close liaison with Britainresponds to the interests of the Anglo-American oil giants, in alliance with Americas Big Five weapons producers: Lockheed Martin, Raytheon, Northrop Grumman, Boeing and General Dynamics. Menurut Chossudovsky, alasan Amerika Serikat menyerang Iraq, Afghanistan, dan perang global melawan teroris tidak lain akibat motif ekonomi kapitalis mereka. Mereka berupaya membuka pasar dan meluaskan produksi minyak dan penjualan senjata. Indonesia tidak luput dari pengaruh sistem sosial internasional ini. Contohnya adalah, tuntutan pembentukan sistem pemerintahan Islam

ditandai oleh aktivitas beberapa organisasi Islam transnasional semisal Hizbut Tahrir, Jamaah Islamiyah, Ikhwanul Muslimin, kelompok-kelompok berpaham Wahhabi, bahkan pelaku teror seperti Al Qaedah. Hizbut Tahrir sebagai misal, organisasi yang punya pimpinan pusatnya berkedudukan di Yordania dan operasional politik di London ini mengupayakan perubahan sistem politik dari demokrasi menuju kekhalifahan secara global. Tuntutan pembentukan pemerintahan Islam, penerapan syariat Islam, serta perda-perda syariat Islam di sejumlah daerah Indonesia salah satunya adalah akibat aktivitas organisasi-organisasi transnasional ini. Selain itu, perang global melawan terorisme pun mengakibatkan Indonesia perlu membuat Undang-undang Nomor 15 tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. Dalam proses pembuatannya, undang-undang ini diyakini merupakan tekanan dari Amerika Serikat dan ditentang baik oleh kalangan Islam maupun aktivis hak asasi manusia di Indonesia. Sistem Sosial Internasional Sistem sosial internasional lebih mudah didekati lewat konsep international regime (rezim internasional). Stephen D. Krassner mendefinisikan international regime sebagai: ... as sets of implicit of explicit principles, norms, rules, and decision-making procedures around which actors expectations converge in a given area of international relations. Principles are beliefs of fact, causation, and rectitude. Norms are standards of behavior defined in terms of rights and obligations. Rules are specific prescriptions or proscriptions for actions. Decisionmaking procedures are prevailing practices for making and implementing collective choice. Berdasarkan definisi Krasner, rezim internasional mirip dengan konsep masyarakat dalam ilmu-ilmu sosial di mana masyarakat ini berupaya mengatur perilaku individu. Rezim internasional adalah seperangkat prinsip, norma, aturan, dan prosedur-prosedur pembuatan keputusan dengan mana harapan (juga kepentingan) para aktor internasional saling berkonvergensi di salah satu area dalam hubungan internasional. Sebab itu rezim internasional tentu saja tidak hanya satu melainkan banyak. Mirip di dalam masyarakat, di mana ia terdiri atas aneka struktur dengan fungsi masingmasing (sistem pendidikan, sistem ekonomi, sistem agama, sistem perdagangan) maka rezim internasional pun terdiri atas aneka struktur yang masing-masing memiliki fungsi mengatur yang spesifik atau berlingkup pada satu bidang. Studi mengenai rezim internasional sekurangnya diwakili oleh tiga paradigma yaitu realis, neoliberal, dan kognitivis. Paradigma realis fokus pada aspek hubungan kekuatan atau kekuasaan, paradigma neoliberal fokus pada aspek kepentingan, sementara paradigma kognitivis fokus pada aspek dinamika pengetahuan, komunikasi, dan identitas. Seperti telah disebutkan sebelumnya, fokus paradigma realis adalah pada hubungan antarkekuatan di antara aktor-aktor politik internasional, kepentingan adalah fokus utama paradigma neoliberal, dan dimensi pengetahuan adalah fokus paradigma kognitivis. Rezim internasional, sama seperti struktur-struktur sosial di dalam masyarakat umumnya diterjemahkan ke dalam lembagalembaga. Dalam memandang lembaga-lembaga internasional (rezim internasional) tersebut, paradigma realis menganggapnya lemah, paradigma neoliberal menganggapnya cukup kuat (medium), sementara paradigma kognitivis memandangnya sebagai kuat. Paradigma realis dan neoliberalis mengembangkan teori-teori rasionalistik dalam mengkaji hubungan antaraktor dalam rezim internasional misalnya prisoner dilema, rational-choice, maupun game-theory. Sementara itu, paradigma kognitivis lebih menggunakan teori-teori bercorak sosiologis dalam melakukan pengkajian rezim internasional. Akhirnya, model perilaku yang ditunjukkan oleh paradigma realis bagaimana para aktor dalam rezim internasional cenderung pada pencapaian relatif atas tujuan keterlibatan mereka. Paradigma neoliberalis, lebih bercorak ekonomis, yaitu setiap aktor cenderung memaksimasi pencapaian tujuan mereka sementara paradigma kognitivis cenderung memandang para aktor dalam rezim internasional sebagai tengah memainkan peran-peran tertentu. Salah satu rezim internasional yang populer saat ini adalah International Atomic Energy Agency (IAEA) di mana Indonesia telah menjadi anggota sejak tahun 1957. Organisasi ini kini beranggotakan 152 negara. Sesuai namanya, fungsi utama IAEA adalah memastikan bahwa penggunaan teknologi serta ilmu pengetahuan mengenai nuklir dilakukan secara aman serta

bertujuan damai. Pengaturan nuklir ini adalah penting karena dahsyatnya efek merusak nuklir jika digunakan sebagai senjata perang. Indonesia memiliki satu badan yang mengelola ketenaganukliran yaitu Batan dan Batan ini tidak terlepas dari pengawasan IAEA. Rencana-rencana Batan untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir di Indonesia tentu harus melalui perizinan IAEA ini. Sebagai sebuah rezim internasional yang punya legitimasi tinggi (jumlah anggotanya cukup besar) IAEA berhak untuk memeriksa kondisi ketenaganukliran di setiap negara anggota rezimnya. Rezim internasional lain di mana Indonesia juga menjadi anggotanya adalah International Monetary Fund (IMF). Rezim yang berdiri sejak 1945 ini memiliki 187 anggota masyarakat. Awalnya Indonesia gabung tanggal 15 April 1954, keluar tanggal 17 Agustus 1965, lalu kembali gabung tanggal 21 Pebruari 1967. Sebagai anggota IMF, Indonesia berhak memperoleh pinjaman saat menghadapi kesulitan neraca pembayaran, memperoleh bantuan teknis baik usulan ataupun pelatihan terkait valuta asing maupun moneter (terutama bagi pejabat bank pemerintah dan bank sentralnya), hak menyampaikan pendapat dalam bentuk voting power, dan konsultasi secara periodik. Selain hak, Indonesia pun punya kewajiban pada IMF seperti membayar kontribusi dan kenaikan kuota (25% berbentuk reserve assets sesuai ketentuan IMF, yaitu dalam mata uang SDR atau USD, Yen, Poundsterling, dan 75% dalam mata uang domestik) dan memberikan data serta informasi kepada tim IMF yang melakukan kunjungan ke negara anggota saat konsultasi baik terkait nilai tukar (eksporimpor, gaji, harga, tenaga kerja, suku bungan, sirkulasi uang, investasi, pendapatan pajak, pengeluaran pemerintah) serta aspek-aspek ekonomi lainnya. Pengaruh IMF atas sistem politik Indonesia tampak pada letter of intent tanggal 15 Januari 1998 dimana pokok-pokok program IMF meliputi kebijakan makro ekonomi (fiskal, moneter dan nilai tukar), restrukturisasi sektor keuangan (restrukturisasi bank serta memperkuat aspek hukum dan pengawasan untuk perbankan) dan reformasi struktural (perdagangan luar negeri dan investasi, deregulasi dan swastanisasi, social safety net, dan lingkungan hidup). Reformasi struktural merupakan bagian dari persyaratan bantuan IMF pada Indonesia dan tidak hanya meliputi aspek ekonomi saja melainkan meluas ke bidang-bidang lain. Swastanisasi salah satunya dilakukan atas BUMN, perusahaan milik negara dan sebab itu bersinggungan dengan kedaulatan pemerintahan Soeharto. Selain itu sistem politik Indonesia harus membuka peluang lebih besar bagi investasi, salah satu ciri neoliberalisme dalam ekonomi internasional. Amerika Serikat, selaku pemegang saham terbesar IMF, tentu berkepentingan di dalam program-program ini. Inter Parliementary Union (IPU) adalah rezim internasional yang mewadahi parlemenparlemen sedunia. Salah satu rekomendasi IPU adalah keterwakilan politik perempuan di dalam parlemen. Sejak tahun 1994 rezim ini merekomendasikan agar 1 dari 3 calon anggota legislatif adalah perempuan. Rekomendasi IPU ini mempengaruhi proses pembuatan legislasi yang mengatur soal pemilihan umum di Indonesia kendati bertahap. Dalam Undang-undang Nomor 12 tahun 2003 hanya satu pasal yang menyebut mengenai persoalan keterwakilan politik perempuan yaitu Pasal 65 ayat (1) yang bunyinya Setiap Partai Politik Peserta Pemilu dapat mengajukan calon Anggota DPR, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota untuk setiap Daerah Pemilihan dengan memperhatikan keterwakilan perempuan sekurang-kurangnya 30%. Rekomendasi IPU kemudian terwujud ke dalam affirmative action dari gerakan perempuan Indonesia agar pemerintah lebih tegas lagi memasukkan aturan keterwakilan politik perempuan ke dalam legislasi negara. Hasilnya, ketentuan kuota 30% perempuan semakin tegas pada Undangundang Nomor 10 tahun 2008 di mana masalah kuota ini terdapat dalam Pasal 8 (1d), Pasal 15 (d), Pasal 53, Pasal 55 (2), Pasal 57 (1, 2, 3), Pasal 58 (2), Pasal 61 (6), dan Pasal 66 (2). Bandingkan dengan undang-undang sebelumnya yang hanya disebut oleh satu pasal saja. Rincian legislasi yang mempermasalahkan keterwakilan politik perempuan ternyata naik secara signifikan antara produk undang-undang pemilu yang dibuat tahun 2003 dengan tahun 2008. Sistem Ekologi Internasional Bumi cuma satu, tetapi ia semakin rusak. Kerusakan bumi akibat faktor antroposentris dalam melakukan eksploitasi kegiatan ekonomi membuat bumi mengalami perubahan perilaku. Jika bumi rusak, maka seluruh penduduk dunia - tanpa memandang pandang negara asal mereka akan musnah. Inilah alasan utama yang mendasari pentingnya perhatian atas pengaruh sistem ekologi

internasional atas sistem politik suatu negara. Sistem ekologi internasional adalah lingkungan fisik serta non manusia yang memiliki dampak atas kinerja sistem politik. Secara khusus, sistem ekologi internasional fokus pada teori-teori yang berupaya memberi penjelasan tentang sifat politik dari kondisi ekologi internasional. Hal utama yang dibicarakan dalam sistem ekologi internasional adalah: (1) kelangkaan sumber daya; (2) polusi lintas yuridiksi sistem politik; dan (3) masalah-masalah sehubungan dengan kualitas lingkungan secara umum. Masalah ekologi internasional memaksa setiap sistem politik untuk melakukan adaptasi sesuai apa yang disepakati oleh rezim lingkungan internasional. Tidak terkecuali Indonesia. Masalah kelangkaan sumber daya merupakan masalah internasional. Tidak setiap negara memiliki cadangan sumber daya, terutama yang berasal dari fosil, secara mencukupi. Untuk masalah ini dapat diambil contoh Amerika Serikat. Amerika Serikat adalah negara industri yang paling besar sehingga wajar ia merupakan konsumen nomor satu akan minyak mentah. Kebutuhan minyak mentah Amerika Serikat adalah 18.700.000 barrel per hari. Dari kebutuhan harian tersebut, 9.000.000 hingga 12.000.000 harus diimpor setiap harinya. Selama ini, impor dilakukan dari negara-negara secara berturut-turut - Kanada 1.938.000 barrel per hari, Meksiko 1.096.000 barrel per hari, Arab Saudi 989.000 barrel per hari, Venezuela 965.000 barrel per hari, Nigeria 771.000 barrel per hari, Angola 449.000 barrel per hari, dan Iraq 448.000 barrel per hari. Kualitas minyak mentah di Iraq adalah yang terbaik dan sebab itu wajar jika rezim tertutup Sadam Hussein harus digulingkan sehingga kebutuhan minyak mentah untuk industri-industri di Amerika Serikat tidak mengalami hambatan. Alasan serupa juga digunakan ketika Amerika Serikat melibatkan diri dalam konflik politik di Libya: Libya adalah salah satu negara produsen minyak sekaligus anggota OPEC. Ini merupakan ilustrasi pengaruh sistem ekologi terhadap perubahan sistem politik suatu negara. Arah pengaruh sistem ekologi lainnya diperlihatkan oleh penggunaan bahan bakar alternatif. Mahalnya harga minyak membuat sejumlah negara industri atau tengah menjadi negara industri beralih ke sumber daya fosil lainnya: Batubara. Konsumsi batubara Cina baik untuk industri maupun pembangkit listrik adalah 1.310.000.000 ton per tahunnya dan merupakan peringkat pertama dunia. Amerika Serikat berada di posisi kedua dengan konsumsi 1.060.000.000 per tahunnya. Tahun 2005, Cina merupakan produsen batubara pertama dunia yaitu 2.204.729.000 ton per tahun, sementara Amerika Serikat di posisi kedua dengan 531.822.000 ton per tahun. Selain Cina, India dan Indonesia pun merupakan negara industri baru yang mengalihkan pembakaran minyak menjadi pembakaran batu bara demi kelangsungan industri dan pembangkit listriknya. Apa yang terjadi jika pemakaian bahan bakar fosil terjadi secara massal di hampir seluruh belahan dunia? Hasil pembakarannya menjadi polutan yang menginap ratusan tahun di atmosfer bumi. Panas matahari yang memasuki atmosfer tidak bisa dipantulkan ke luar angkasa, karena tersekat oleh kumpulan aneka gas polutan (GHG) yang mengendap di atmosfer. Pemanasan global adalah hasil pengaruh Green House Effect (GHG). Efek ini menurut Protokol Kyoto akibat pengendapan lima jenis gas yang mencegah keluarnya panas dari atmosfer bumi yaitu: karbondioksida (CO2), methana (CH4), nitro oksida (N2O), hidrofluorokarbon (HFC), perfluorokarbon (PFC), dan sulfur heksafluorida (SF6). HFC, PFC, dan SF6 adalah tiga jenis gas hasil kegiatan industri yang termasuk kategori High Global Warming Potential (HGWP). Data per tahun 2004 menunjukkan komposisi tersusunnya GHG di atmosfer bumi yaitu: 57% disumbangkan karbondioksida hasil pembakaran bahan bakar fosil (minyak dan batubara), 17% disumbangkan karbondioksida hasil penebangan hutan dan peluruhan biomassa (sampah), 14% disumbangkan gas Methana, 8% disumbangkan Nitro Oksida, 3% disumbangkan karbondioksida dari sumber lain, dan 1% disumbangkan gas-gas tipe F (gas-gas yang termasuk HGWP). Tumpukan karbondioksida di atmosfer paling banyak disumbangkan pembakaran batubara, yang paling berbahaya adalah batubara coklat ketimbang hitam. Data per tahun 2006 menyebutkan 82,3% produksi Karbondioksida di atmosfer disumbangkan kegiatan industri dan transportasi di Amerika Serikat. Didukung dua sumber panas berlebih ini (polutan yang terus menerus diproduksi dan sinar matahari yang masuk atmosfer kemudian tidak bisa dipantulkan ke ruang angkasa) suhu bumi lambat tetapi pasti meningkat. Terjadilah apa yang populer disebut pemanasan global (global warming) yang membuat es-es di kutub utara dan selatan meleleh dan menaikkan permukaan laut,

menciptakan perubahan iklim (pola angin, curah hujan), fenomena hujan asam (acid rain) karena awan mengandung nitro oksida dan sulfurheksafluorida. Perserikatan Bangsa-bangsa telah membentuk World Commission on Environment and Development tahun 1983 dengan tujuan utama memecahkan persoalan bagaimana komunitas internasional seharusnya menyikapi degradasi lingkungan dan mempertahankan kelangsungan ekologi internasional. Beberapa negara seperti Tuvalu, Kiribati, dan Nauru adalah yang paling cepat menghilang ke bawah permukaan laut akibat pemanasan global. Komunitas lain yang paling terpukul oleh pemanasan global ini adalah komunitas Eskimo, yang hidup di atas permukaan es dengan memburu anjing laut dan beruang kutub. Tahun 1997 dibicarakan pemangkasan emisi gas buang 35 negara industri, yang pada tahun 2012 tingkatnya harus sudah 5,2% di bawah emisi yang pernah mereka buang tahun 1990. Kisaran di bawah 5,2% adalah minimal, di mana negara-negara yang tergabung dalam Uni Eropa menargetkan pengurangan hingga 8%, Amerika Serikat 7%, Jepang 6%. Russia mendapat pengecualian yaitu 0%, Australia diizinkan menaikkan emisinya hingga 8% dan Islandia 10%. Indonesia termasuk salah satu negara yang meratifikasi Protokol Kyoto, sehingga menurut pasal 10 butir (d) Undang-undang No. 24 tahun 2000 pemerintah Indonesia harus melakukan pengesahan suatu perjanjian internasional dengan menerbitkan undang-undang karena berkaitan dengan hak asasi manusia dan lingkungan hidup. Undang-undang yang paling akhir meratifikasi Protokol Kyoto adalah UU No. 32 tahun 2009. Misalnya pasal 7 ayat (4) undang-undang ini menyebutkan tentang pelestarian fungsi atmosfer yang meliputi upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, upaya perlindungan lapisan ozon, dan upaya perlindungan terhadap hujan asam. Selain itu, adalah tugas dan kewenangan pemerintah pusat, pemerintah provinsi, dan pemerintah kabupaten atau kota untuk melakukan inventarisasi emisi gas rumah kaca. Akibat arus budaya global, isu-isu internasional banyak berpengaruh pada aspek politik. a. Isu Tentang Demokrasi Paham demokrasi berasaskan kedaulatan berada di tangan rakyat. Oleh karena itu, rakyatlah yang memegang kekuasaan tertinggi negara. Demokrasi sebagai sistem politik harus mengikutsertakan rakyat dalam pengambilan keputusan. Semua negara ingin disebut sebagai negara demokrasi. Negaranegara yang belum berpemerintahan demokrasi atau masih melakukan praktek pemerintahan otoriter banyak dikecam oleh negara lain. Negara otoriter umumnya terkucilkan dari pergaulan internasional. b. Isu Tentang Hak Asasi Manusia Masalah hak asasi manusia berkaitan erat dengan demokrasi. Sekarang dunia Internasional sangat memperhatikan penegakan hak asasi manusia. Adanya berbagai perang, pertentangan dan konflik antar bangsa dikarenakan adanya penindasan terhadap hak asasi manusia dan perilaku sewenangwenang. c. Isu Tentang Transparansi (keterbukaan) Transparansi atau keterbukaan terutama ditujukan pada penyelenggaraan pemerintahan negara. Pemerintahan yang tertutup tidak akan lama bertahan sebab kemajuan informasi telah mampu menerobos berbagai ketertutupan yang disembunyikan pemerintah. Pemerintahan yang tertutup dianggap tidak demokratis karena tidak ada pertanggungjawaban publik dan tidak mengikutsertakan rakyat dalam bernegara. d. Isu Tentang Pelestarian Lingkungan Hidup Lingkungan hidup merupakan isu internasional yang ditujukan kepada negara. Sekarang ini lingkungan hidup yang rusak dapat menjadi ancaman baru bagi umat manusia. Negara-negara yang

memiliki kekayaan alam dan hutan dihimbau untuk serius dalam melestarikan lingkungan hidup. e. Isu Tentang Pluralisme Dalam masyarakat global, hubungan antar manusia akan semakin intensif dan tidak hanya manusia sebangsa, tetapi manusia yang berbeda ras, agama, nilai budaya, bahasa dan adat. Sikap menghargai keberanekaan perbedaan (pluralisme) sangat dibutuhkan. f. Isu Tentang Pasar Global dan Pesaing Global Dalam era global, barang, jasa dan produk dari berbagai negara akan masuk dan saling berkompetisi dengan produk lokal. Arus keluar masuk barang dan jasa tidak lagi dibatasi.