Anda di halaman 1dari 5

Gambaran Radiologi Sinusitis Maksilaris Bilateral dengan Mastoiditis Sinistra

ABSTRAK Sinusitis adalah radang mukosa sinus paranasal, bila mengenai beberapa sinus disebut multisinusitis, sedangkan bila mengenai semua sinus paranasal disebut parasinusitis. Sinus maksilaris merupakan daerah yang paling sering terkena. Sinusitis mungkin hanya terjadi pada beberapa hari (sinusitis akut) atau berlanjut menjadi sinusitis kronis jika tanpa pengobatan yang adekuat Penyebabnya dapat virus, bakteri, atau jamur. Faktor predisposisi berupa obstruksi mekanik, rhinitis alergi, udara dingin dan kering. Diagnosis sinusitis dapat ditegakkan dengan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang radiologi, baik foto rontgen maupun ct-scan. Pasien wanita, 44 tahun, datang dengan keluhan pusing berputar, demam, pilek tak kunjung sembuh disertai nyeri kepala kambuh-kambuhan. Dari anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang didapatkan tanda-tanda sinusitis maksilaris bilateral kronik eksaserbasi akut dan suspek mastoiditis sinistra. Key word: sinusitis, maksilaris, bilateral, kronis, mastoiditis KASUS Penderita wanita umur 44 tahun datang dengan keluhan utama pusing berputar disertai demam, telinga berdengung dan pandangan kedua mata kabur. Pasien mengeluh sering pusing berputar sejak beberapa bulan terakhir, namun sebulan terakhir keluhan tersebut dirasakan makin parah. Pasien juga mengeluh pandangan kedua mata kabur. Pasien mempunyai riwayat pilek yang tidak sembuh-sembuh disertai lendir yang kental dan berbau, serta hidung tersumbat, terutama pada hidung sebelah kanan. Pasien demam sejak 5 hari sebelum masuk rumah sakit. Tidak ada batuk, tidak ada nyeri tenggorokan, tidak ada mual maupun muntah, tidak ada diare, tidak ada nyeri perut. Pasien mengeluh telinga kanan dan kiri sering berdengung namun tidak ada nyeri yang dirasakan pada kedua telinga. Pada pemeriksaan fisik didapatkan kondisi umum cukup, kesadaran compos mentis. Pemeriksaan tanda vital, tekanan darah 130/80 mmHg, nadi 120x/menit, pernafasan 24x/menit, suhu 38C per aksila. Status generalis thorak, abdomen dan ektremitas dalam

batas normal. Tidak ditemukan tanda-tanda syok maupun tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial yang spesifik. Pasien telah diperiksa oleh dokter spesialis syaraf (diagnosis kerja: vertigo), dokter spesialis mata (diagnosis kerja: ODS papil edema), dokter spesialis THT (diagnosis kerja sinusitis maksilaris bilateral kronis eksaserbasi akut). Pada pasien ini dilakukan pemeriksaan penunjang radiologi Head CT-Scan potongan axial sejajar OML dengan interval slice 10 mm tanpa kontras. Didapatkan hasil sebagai berikut: Kesan: Sinusitis maxillaris bilateral terutama dextra Suspek mastoiditis sinistra Gyri dan sulci tidak prominen. Batas white matter dan gray matter tegas Tampak lesi isodens di sinus maxillaris bilateral terutama dextra, air fluid level (+) (pada slice 12-14, HU 32) Tak tampak lesi isodens, hipodens maupun hiperdens intracerebral/intracelebellar. Sistema ventrikel dan cyterna tampak normal Struktura mediana di tengah, tak terdeviasi Gambaran air cellulae mastoidea sinistra tampak minimal.

DIAGNOSIS Pemeriksaan radiologi Head CT-Scan potongan axial sejajar OML dengan interval slice 10 mm tanpa kontras menyokong gambaran Sinusitis maxillaris bilateral terutama dextra dan suspek mastoiditis sinistra. TERAPI Pengelolaan pada pasien ini diserahkan kembali pada dokter spesialis saraf dan dokter spesialis THT. DISKUSI Sinusitis kronis berbeda dengan sinusitis akut dalam berbagai aspek, umumnya sukar disembuhkan dengan pengobatan medikamentosa saja. Harus dicari faktor penyebab dan faktor predisposisinya.

Polusi bahan kimia menyebabkan silia rusak, sehingga terjadi perubahan mukosa hidung. Perubahan tersebut juga dapat disebabkan oleh alergi dan defisiensi imunologik, sehingga mempermudah terjadinya infeksi, dan infeksi menjadi kronis apabila pengobatan sinusitis akut tidak sempurna. Gejala Subjektif Bervariasi dari ringan sampai berat, terdiri dari : - Gejala hidung dan nasofaring, berupa sekret pada hidung dan sekret pasca nasal (post nasal drip). - Gejala faring yaitu rasa tidak nyaman dan gatal di tenggorokan. - Gejala telinga berupa pendengaran terganggu oleh karena terjadi sumbatan tuba eustachius. - Ada nyeri atau sakit kepala. - Gejala mata, karena penjalaran infeksi melalui duktus nasolakrimalis. - Gejala saluran nafas berupa batuk dan komplikasi di paru berupa bronkhitis atau bronkhiektasis atau asma bronkhial. - Gejala di saluran cerna imukopus tertelan sehingga terjadi gastroenteritis. Gejala Objektif Temuan pemeriksaan klinis tidak seberat sinusitis akut dan tidak terdapat pembengkakan pada wajah. Pada rinoskopi anterior dapat ditemukan sekret kental, purulen dari meatus medius atau meatus superior. Pada rinoskopi posterior tampak sekret purulen di nasofaring atau turun ke tenggorokan. Pemeriksaan Mikrobiologi Merupakan infeksi campuran oleh bermacam-macam mikroba, seperti kuman aerob S. aureus, S. viridans, H. influenzae dan kuman anaerob peptostrepto coccus dan fuso bakterium. Diagnosis Sinusitis Kronis Anamnesis yang cermat, pemeriksaan rinoskopi anterior dan posterior serta pemeriksaan penunjang berupa transluminasi untuk sinus maksila dan sinus frontal, pemeriksaan radiologik, pungsi sinus maksila, sinoskopi sinus maksila, pemeriksaan histopatologik dari jaringan yang diambil pada waktu dilakukan sinoskopi, pemeriksaan meatus medius dan meatus superior dengan menggunakan naso endoskopi dan pemeriksaan CT- Scan. Gambaran Radiologi Sinusitis

Pada foto sinus paranasal akan tampak sedikit perubahan pada sinus. Sinusitis bacterial yaitu terjadinya infeksi dari sinus ke sinus yang menyebabkan ostium sinus tersumbat diikuti dengan pembentukan secret yang berlebihan. Hal ini sering terjadi asimetris dimana satu sinus atau lebih dari satu sinus secara unilateral terserang. Bila sisi kontralateral terserang, sering terlihat asimetri dalam tingkatan atau lokasi anatomis. Pada sinusitis maksilaris, pada foto polos sinus sfenoidalis tampak normal, tetapi apabila dilakukan pemeriksaan bakteriologik 67% -75% kasus memperlihatkan infeksi yang sama pada sinus sfenoidalis. Pada sinusitis tampak : Penebalan mukosa Air fluid level (kadang-kadang) Perselubungan homogeny atau tidak homogeny pada satu atau lebih sinus paranasal Penebalan dinding sinus dengan sklerotik (pada kasus-kasus kronik) Pada sinusitis, mula-mula tampak penebalan dinding sinus, yang paling sering diserang adalah sinus maxilaris, tetapi pada sinusitis kronik tampak juga sebagai penebalan dinding sinus yang disebabkan karena timbulnya fibrosis dan jaringan parut yang menebal. Foto polos tak dapat membedakan antara penebalan mukosa dan gambaran fibrotik beserta pembentukan jaringan parut, dimana hanya tampak sebagai penebalan dinding sinus. CT scan dengan penyuntikan kontras dimana apabila terjadi enhance menunjukkan adanya inflamasi aktif, tetapi bila tidak terjadi enhance biasanya jaringan fibrotik dan jaringan parut. Pasien ini mempunyai keluhan pusing berputar kronis dan kambuh-kambuhan, mempunyai riwayat pilek yang tidak sembuh-sembuh disertai lendir yang kental dan berbau, serta hidung tersumbat, dan telinga sering berdengung. Untuk membantu menegakkan diagnosa maka pada pasien ini dilakukan pemeriksaan Head CT-Scan yang hasilnya menyokong gambaran sinusitis maksilaris bilateral terutama dextra dan mastoiditis sinistra.

KESIMPULAN Pada pasien yang dicurigai sinusitis, maka dapat dilakukan pemeriksaan penunjang radiologi untuk mengakkan diagnosis. Misalnya dengan foto polos, ct-scan, atau dengan MRI.

Foto Polos Pada sinusitis tampak: Penebalan mukosa, Air fluid level (kadangkadang), Perselubungan homogeny atau tidak homogeny pada satu atau lebih sinus paranasal, Penebalan dinding sinus dengan sklerotik (pada kasus-kasus kronik). Foto polos tak dapat membedakan antara penebalan mukosa dan gambaran fibrotik beserta pembentukan jaringan parut, dimana hanya tampak sebagai penebalan dinding sinus. CT scan dengan penyuntikan kontras dimana apabila terjadi enhance menunjukkan adanya inflamasi aktif, tetapi bila tidak terjadi jaringan parut. enhance biasanya jaringan fibrotik dan

KEPUSTAKAAN 1. Damayanti dan Endang, Sinus Paranasal, dalam : Efiaty, Nurbaiti, editor. Buku Ajar Ilmu Kedokteran THT Kepala dan Leher, ed. 5, Balai Penerbit FK UI, Jakarta 2002, 115 119. 2. Anonim, Sinusitis, dalam ; Arif et all, editor. Kapita Selekta Kedokteran, Ed. 3, Penerbit Media Ausculapius FK UI, Jakarta 2001, 102 106. 3. Peter A. Hilger, MD, Penyakit Sinus Paranasalis, dalam : Haryono, Kuswidayanti, editor, BOIES, buku ajar Penyakit THT, penerbit buku kedokteran EGC, Jakarta, 1997, 241 258. 4. Rasyad, Syahriar. Radiologi Diagnostik. Penerbit Gaya Baru, Jakarta, 2005 5. http://emedicine.medscape.com/article/384649-imaging diakses tanggal 25 Februari 2010

PENULIS: Ciptaning Sari Dewi Kartika NIM 2004.031.0111 NIPP 1535.24.08.2008 Homebase: RSUD Temanggung Bagian Radiologi