Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH KELOMPOK 5 NEUROBEHAVIOR II

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN ANSIETAS


Disusun oleh : Christina Martha Dina Supriyanti Ichana Dessi Monica Tunjung Rossi s.p Poa Winda Purwandani Tuti (1002018) (1002030) (1002056) (1002073) (1002091) (1002107) (1002103)

PROGRAM STUDI S-1 STIKES BETHESDA YAKKUM YOGYAKARTA

TA 2012 / 2013
ANSIETAS
Konsep Medis Pengertian Ansietas adalah kekhawatiran atau keadaan emosional yang tidak jelas dan menyebar, yang berkaitan dengan perasaan tidak pasti dan tidak berdaya, tidak memiliki objek yang spesifik, dialami secara subjektif serta dikomunikasikan secara intrapersonal (Stuart, 2007). Ansietas adalah suatu kekhawatiran yang berlebihan dan dihayati disertai berbagai gejala sumatif, yang menyebabkan gangguan bermakna dalam fungsi sosial atau pekerjaan atau penderitaan yang jelas bagi pasien (Mansjoer, 1999). Ansietas adalah perasaan takut yang tidak jelas dan tidak didukung oleh situasi (Videbeck, 2008). Ansietas atau kecemasan adalah respons emosi tanpa objek yang spesifik yang secara subjektif dialami dan dikomunikasikan secara interpersonal (Suliswati, 2005). Berdasarkan uraian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa ansietas adalah respons emosi tanpa objek, berupa perasaan takut dan kekhawatiran yang tidak jelas dan berlebihan dan disertai berbagai gejala sumatif yang menyebabkan gangguan bermakna dalam fungsi sosial atau penderitaan yang jelas bagi pasien. Teori teori yang Mendasari Ansietas Teori yang dikembangkan untuk menjelaskan penyebab ansietas adalah (Stuart & Sudeen): Teori psikoanalitik Menurut Sigmund Freud struktur kepribadian terdiri dari tiga elemen, yaitu id, ego, dan superego. Id melambangkan dorongan insting dan implus primitif. Superego mencerminkan hati nurani seseorang dan dikendalikan oleh norma norma budaya seseorang, sedangkan ego atau aku digambarkan sebagai mediator antara tuntutan dari id

dan superego. Menurut teori psikoanalitik, ansietas merupakan konflik emosional yang terjadi antar id dan superogo, yang berfungsi memperingatkan ego tentang sesuatu bahaya yang perlu diatasi. Teori interpersonal Ansietas terjadi dari ketakutan akan penolakan interpersonal. Hal ini juga dihubungkan dengan trauma masa pertumbuhan seperti kehilangan, perpisahan yang menyebabkan seseorang menjadi tidak berdaya. Individu yang mempunyai harga diri rendah biasanya sangat mudah untuk mengalami ansietas berat. Teori perilaku Ansietas merupakan hasil frustasi dari segala sesuatu yang mengganggu kemampuan seseorang untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Para ahli perilaku menganggap ansietas merupakan sesuatu dorongan yang dipelajari berdasarkan keinginan untuk menghindarkan rasa sakit. Teori ini meyakini bahwa individu yang pada awal kehidupannya dihadapkan pada rasa takut yang berlebihan akan mewujutkan kemungkinan ansietas berat pada kehidupan masa dewasanya. Kajian keluarga Kajian keluarga menunjukan bahwa gangguan ansietas merupakan hal yang biasa ditemui dalam suatu keluarga. Kajian biologis Kajian biologis menunjukkan bahwa objek mengandung reseptor khusus untuk benzodiazepin. Reseptor ini mungkin membantu mengatur ansietas. Selain itu kesehatan umum seseorang mempunyai predisposisi terhadap ansietas. Ansietas mungkin disertai dengan gangguan fisik dan selanjutnya menurunkan kapasitas seseorang untuk mengatasi stressor. Penyebab

Meski

penyebab

ansietas

belum

sepenuhnya

diketahui,

namun

gangguan

keseimbanganneurotransmitter dalam otak dapat menimbulkan ansietas pada diri seseorang. Faktor genetik juga merupakan faktor yang dapat menimbulkan gangguan ini.Ansietas terjadi ketika seseorang mengalami kesulitan menghadapi situasi, masalah dantujuan hidup (Videbecek, 2001). Setiap individu menghadapi stres dengan cara yang berbeda-beda, seseorang dapat tumbuh dalam suatu situasi yang dapat menimbulkan stres berat pada orang lain. Faktor Predisposisi Dalam pandangan psikoanalisis, ansietas adalah konflik emosional yangterjadi antara dua elemen kepribadian, id dan superego. Id mewakili dorongan insting dan impuls primitif, sedangkan superego mencerminkan hati nurani dan dikendalikan oleh norma budaya. Menurut pandangan interpersonal, ansietas timbul dari perasaan takut terhadap ketidaksetujuan dan penolakan interpersonal. Menurut pandangan perilaku, ansietas merupakan produk frustasi yaitusegala sesuatu yang mengganggu kemampuan individu untuk mencapai tujuan. Kajian keluarga menunjukkan bahwa gangguan ansietas biasanya terjadi dalam keluarga. Gangguan ansietas juga tumpang tindih dengan depresi. Sedangkan kajian biologis menunjukkan bahwa otak mengandung reseptor khusus untuk benzodiasepin, obat-obatan yang meningkatkan neuroregulator inhibisi asamasam gama-aminobutirat (GABA), yang berperan penting dalam mekanisme biologis yang berhubungan dengan ansietas. Faktor Presipitasi Stresor presipitasi adalah semua ketegangan dalam kehidupan yang dapat mencetuskan timbulnya kecemasan (Suliswati, 2005). Stresor presipitasi kecemasan dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu :

Ancaman terhadap integritas fisik. Ketegangan yang mengancam integritas fisik yang meliputi : Sumber internal, meliputi kegagalan mekanisme fisiologissistem imun, regulasi suhu tubuh, perubahan biologis normal (misalnya: hamil). Sumber eksternal, meliputi paparan terhadap infeksi virus dan bakteri, polutan lingkungan, kecelakaan, kekurangan nutrisi, tidak adekuatnya tempat tinggal.

Ancaman terhadap harga diri meliputi sumber internal dan eksternal. Sumber internal : kesulitan dalam berhubungan interpersonal dirumah dan tempat kerja, penyesuaian terhadap peran baru. Berbagai ancaman terhadap integritas fisik juga dapat mengancam harga diri. Sumber eksternal : kehilangan orang yang dicintai, perceraian, perubahan status pekerjaan, tekanan kelompok, sosial budaya.

Tanda dan Gejala Keluhan-keluhan yang sering dikemukan oleh orang yang mengalami ansietas

(Hawari,2008), antara lain sebagai berikut : Cemas, khawatir, firasat buruk, takut akan pikirannya sendiri, mudah tersinggung. Merasa tegang, tidak tenang, gelisah, mudah terkejut. Takut sendirian, takut pada keramaian dan banyak orang. Gangguan pola tidur, mimpi-mimpi yang menegangkan. Gangguan konsentrasi dan daya ingat. Keluhan-keluhan somatik, misalnya rasa sakit pada otot dan tulang, pendengaran berdenging (tinitus), berdebar-debar, sesak nafas, gangguan pencernaan, gangguan perkemihan, sakit kepala dan sebagainya.

Tingkatan Ansietas Ansietas Ringan Ansietas ringan adalah perasaan bahwa ada sesuatu yang berbeda dan membutuhkan perhatian khusus. Stimulasi sensori meningkat dan membantu individu memfokuskan perhatian untuk belajar, menyelesaikan masalah, berpikir, bertindak, merasakan, dan melindungi diri sendiri. Menurut Videbeck (2008), respons dari ansietas ringan adalah sebagai berikut : a. Respons fisik - Ketegangan otot ringan - Sadar akan lingkungan - Rileks atau sedikit gelisah - Penuh perhatian - Rajin b. Respon kognitif - Lapang persepsi luas - Terlihat tenang, percaya diri - Perasaan gagal sedikit - Waspada dan memperhatikan banyak hal - Mempertimbangkan informasi - Tingkat pembelajaran optimal c. Respons emosional - Perilaku otomatis

- Sedikit tidak sadar - Aktivitas menyendiri - Terstimulasi - Tenang Ansietas Sedang Ansietas sedang merupakan perasaan yang menggangu bahwa ada sesuatu yang benar-benar berbeda; individu menjadi gugup atau agitasi. Menurut Videbeck (2008), respons dari ansietas sedang adalah sebagai berikut : a. Respon fisik : - Ketegangan otot sedang - Tanda-tanda vital meningkat - Pupil dilatasi, mulai berkeringat - Sering mondar-mandir, memukul tangan - Suara berubah : bergetar, nada suara tinggi - Kewaspadaan dan ketegangan menigkat - Sering berkemih, sakit kepala, pola tidur berubah, nyeri punggung b. Respons kognitif - Lapang persepsi menurun - Tidak perhatian secara selektif - Fokus terhadap stimulus meningkat - Rentang perhatian menurun

- Penyelesaian masalah menurun - Pembelajaran terjadi dengan memfokuskan c. Respons emosional - Tidak nyaman - Mudah tersinggung - Kepercayaan diri goyah - Tidak sabar - Gembira Ansietas Berat Ansietas berat, yakni ada sesuatu yang berbeda dan ada ancaman, memperlihatkan respons takut dan distress. Menurut Videbeck (2008), respons dari ansietas berat adalah sebagai berikut : a. Respons fisik - Ketegangan otot berat - Hiperventilasi - Kontak mata buruk - Pengeluaran keringat meningkat - Bicara cepat, nada suara tinggi - Tindakan tanpa tujuan dan serampangan - Rahang menegang, mengertakan gigi - Mondar-mandir, berteriak

- Meremas tangan, gemetar b. Respons kognitif - Lapang persepsi terbatas - Proses berpikir terpecah-pecah - Sulit berpikir - Penyelesaian masalah buruk - Tidak mampu mempertimbangkan informasi - Hanya memerhatikan ancaman - Preokupasi dengan pikiran sendiri - Egosentris c. Respons emosional - Sangat cemas - Agitasi - Takut - Bingung - Merasa tidak adekuat - Menarik diri - Penyangkalan - Ingin bebas Tingkat Panik dari Ansietas

Panik, individu kehilangan kendali dan detail perhatian hilang, karena hilangnya kontrol, maka tidak mampu melakukan apapun meskipun dengan perintah. Menurut Videbeck (2008), respons dari panik adalah sebagai berikut : a. Respons fisik - Flight, fight, atau freeze - Ketegangan otot sangat berat - Agitasi motorik kasar - Pupil dilatasi - Tanda-tanda vital meningkat kemudian menurun - Tidak dapat tidur - Hormon stress dan neurotransmiter berkurang - Wajah menyeringai, mulut ternganga

b. Respons kognitif - Persepsi sangat sempit - Pikiran tidak logis, terganggu - Kepribadian kacau - Tidak dapat menyelesaikan masalah - Fokus pada pikiran sendiri - Tidak rasional - Sulit memahami stimulus eksternal

- Halusinasi, waham, ilusi mungkin terjadi c. Respon emosional - Merasa terbebani - Merasa tidak mampu, tidak berdaya - Lepas kendali - Mengamuk, putus asa - Marah, sangat takut - Mengharapkan hasil yang buruk - Kaget, takut - Lelah Rentang respon ansietas :

Penatalaksanaan Menurut Hawari (2008) penatalaksanaan ansietas pada tahap pencegahaan dan terapi memerlukan suatu metode pendekatan yang bersifat holistik, yaitu mencangkup fisik

(somatik), psikologik atau psikiatrik, psikososial dan psikoreligius. Selengkpanya seperti pada uraian berikut : Upaya meningkatkan kekebalan terhadap stress, dengan cara : a. Makan makan yang bergizi dan seimbang. b. Tidur yang cukup. c. Cukup olahraga. d. Tidak merokok. e. Tidak meminum minuman keras. Terapi psikofarmaka. Terapi psikofarmaka merupakan pengobatan untuk cemas dengan memakai obat-obatan yang berkhasiat memulihkan fungsi gangguan neuro-transmitter (sinyal penghantar saraf) di susunan saraf pusat otak (limbic system). Terapi psikofarmaka yang sering dipakai adalah obat anti cemas (anxiolytic), yaitu seperti diazepam, clobazam, bromazepam, lorazepam, buspirone HCl, meprobamate dan alprazolam. Terapi somatik Gejala atau keluhan fisik (somatik) sering dijumpai sebagai gejala ikutan atau akibat dari kecemasan yang bekerpanjangan. Untuk menghilangkan keluhan-keluhan somatik (fisik) itu dapat diberikan obat-obatan yang ditujukan pada organ tubuh yang bersangkutan. Psikoterapi Psikoterapi diberikan tergantung dari kebutuhan individu, antara lain : Psikoterapi suportif, untuk memberikan motivasi, semangat dan dorongan agar pasien yang bersangkutan tidak merasa putus asa dan diberi keyakinan serta percaya diri. Psikoterapi re-edukatif, memberikan pendidikan ulang dan koreksi bila dinilai bahwa ketidakmampuan mengatsi kecemasan. Psikoterapi re-konstruktif, untuk dimaksudkan memperbaiki kembali (rekonstruksi) kepribadian yang telah mengalami goncangan akibat stressor.

Psikoterapi kognitif, untuk memulihkan fungsi kognitif pasien, yaitu kemampuan untuk berpikir secara rasional, konsentrasi dan daya ingat. Psikoterapi psiko-dinamik, untuk menganalisa dan menguraikan proses dinamika kejiwaan yang dapat menjelaskan mengapa seseorang tidak mampu menghadapi stressor psikososial sehingga mengalami kecemasan. Psikoterapi keluarga, untuk memperbaiki hubungan kekeluargaan, agar faktor keluarga tidak lagi menjadi faktor penyebab dan faktor keluarga dapat dijadikan sebagai faktor pendukung. Terapi psikoreligius Untuk meningkatkan keimanan seseorang yang erat hubungannya dengan kekebalan dan daya tahan dalam menghadapi berbagai problem kehidupan yang merupakan stressor psikososial.

Mekanisme Koping Kemampuan individu menanggulangi kecemasan secara konstruksi merupakan faktor utama yang membuat klien berperilaku patologis atau tidak. Bila individu sedang mengalami kecemasan ia mencoba menetralisasi, mengingkari atau meniadakan kecemasan dengan mengembangkan pola koping. Pada kecemasan ringan, mekanisme koping yang biasanya digunakan adalah menangis, tidur, makan, tertawa, berkhayal, memaki, merokok, olahraga, mengurangi kontak mata dengan orang lain, membatasi diri pada orang lain (Suliswati, 2005). Mekanisme koping untuk mengatasi kecemasan sedang, berat dan panik membutuhkan banyak energi. Menurut Suliswati (2005), mekanisme koping yang dapat dilakukan ada dua jenis, yaitu : Task oriented reaction atau reaksi yang berorientasi pada tugas.

Tujuan yang ingin dicapai dengan melakukan koping ini adalah individu mencoba menghadapi kenyataan tuntutan stress dengan menilai secara objektif ditujukan untuk mengatasi masalah, memulihkan konflik dan memenuhi kebutuhan. Perilaku menyerang digunakan untuk mengubah atau mengatasi hambatan pemenuhan kebutuhan. Perilaku menarik diri digunakan baik secara fisik maupun psikologik untuk memindahkan seseorang dari sumber stress. Perilaku kompromi digunakan untuk mengubah cara seseorang mengoperasikan, mengganti tujuan, atau mengorbankan aspek kebutuhan personal seseorang. Ego oriented reaction atau reaksi berorientasi pada ego. Koping ini tidak selalu sukses dalam mengatasi masalah. Mekanisme ini seringkali digunakan untuk melindungi diri, sehingga disebut mekanisme pertahanan ego diri biasanya mekanisme ini tidak membantu untuk mengatasi masalah secara realita. Untuk menilai penggunaan makanisme pertahanan individu apakah adaptif atau tidak adaptif, perlu di evaluasi halhal berikut : Perawat dapat mengenali secara akurat penggunaan mekanisme pertahanan klien. Tingkat penggunaan mekanisme pertahanan diri terebut apa pengaruhnya terhadap disorganisasi kepribadian. Pengaruh penggunaan mekanisme pertahanan terhadap kemajuan kesehatan klien. Alasan klien menggunakan mekanisme pertahanan. Pohon Masalah

Konsep Keperawatan Pengkajian Perilaku Ansietas dapat diekspresikan secara langsung melalui perubahan fisiologis dan perilaku dan secara tidak langsung melalui timbulnya gejala atau mekanisme koping sebagai upaya untuk melawan ansietas. Intensitas perilaku meningkat sejalan dengan peningkatan ansietas (Stuart, 2007). Faktor Predisposisi (Menurut Stuart, 2007,hal 146) terdapat bebrapa teori yang dapat menjelaskan ansietas, diantaranya: Pandangan Psikoanalitis, ansietas adalah konflik emosional yang terjadi antara dua elemen kepribadian : id dan superego. Id mewakili dorongan insting dan implus primitif, sedangkan superego mencerminkan hati nurani seseorang dan dikendalikan oleh norma norma budaya seseorang. Ego atau aku berfungsi menengahi tuntutan dari dua elemen yang bertentangan tersebut dan fungsi ansietas adalah menginggatkan ego bahwa ada bahaya.

Pandangan Interpersonal, ansietas timbul dari perasaaan takut terhadap tidak adanya penerimaan / persetujuan dan penolakan interpersonal. Ansietas berhubunngan dengan perkembangan trauma, seperti perpisahan dan kehilangan, yang menimbulkan kelemahan tertentu. Orang yang mengalami harga diri rendah terutama mudah mengalami perkembangan ansietas berat.

Pandangan Perilaku, ansietas merupakan produk frustasi yaitu segala sesuatu yang mengganggu kemampuan seseorang untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Pakar perilaku menggangap sebagai dorongan belajar berdasarkan keinginan dari dalam untuk memghindari kepedihan. Individu yang terbiasa dengan kehidupan dini dihadapkan pada ketakutan berlebihan lebih sering menunjukkan ansietas dalam kehidupan.

Kajian Keluarga, ansietas merupan hal yang biasa ditemui dalam keluarga. Ada tumpang tindih dalam gangguan ansietas dan antara gangguan ansietas dengan depresi.

Kajian Biologis, otak mengandung reseptor khusus untuk benzodiazepine. Reseptor ini membantu mengatur ansietas. Penghambat GABA (asam gama aminobutirat) juga berperan utama dalam mekanisme biologis berhubungan dengan ansietas sebagaimana halnya dengan endofrin. Ansietas mungkin disertai dengan gangguan fisik dan selanjutnya menurunkan kapasitas seseorang untuk mengatasi stressor.

Faktor Presipitasi Faktor Presipitasi dibedakan menjadi (Stuart & Sudeen,1998 hal 181): Ancaman terhadap integritas seseorang meliputi ketidakmampuan fisiologis yang akan datang atau menurunnya kapasitas untuk melakukan aktivitas hidup sehari hari. Ancaman terhadap sistem diri seseorang dapat membahayakan identitas, harga diri, dan fungsi sosial yang terintegrasi seseorang.

Penilaian Stressor Pemaahaman tentang ansietas perlu integrasi banyak faktor, termasuk pengetahuan dari perspektif psikoanalisis, interpersonal, perilaku, genetik dan biologis. Penilaian mendorong pengkajian perilaku dan persepsi pasien dalam mengembangkan intervensi keperawatan yang tepat. Penilaian juga menunjukkkan berbagai faktor penyebab dan menekankan hubungan timbal balik antara faktor faktor tesebut dalam menjelaskan perilaku yang terjadi. Dengan demikian, pemahaman yang benar tentang ansietas bersifat holistik (Stuart, 2007, hal 147). Sumber Koping Individu dapat mengatasi stres dan ansietas dengan menggerakkan sumber koping di lingkungan. Sumber koping tersebut yang berupa model ekonomi, kemampuan penyelesaian masalah, dukungan sosial, dan keyakinan budaya dapat membantu individu mengintegrasikan pengalaman yang menimbulkan stres dan mengadopsi strategi koping yang berhasil (Stuart, 2007, hal 147).

Mekanisme koping Tingkat ansietas sedang dan berat menimbulkan jenis mekanisme koping sebagai berikut (Stuart & Sudeen, 1998, hal 182). Reaksi yang berorientasi pada tugas yaitu upaya yang disadari dan berorientasi pada tindakan untuk memenuhi secara realistik tuntutan situasi stres, misalnya perilaku menyerang untuk mengubah atau mengatasi hambatan pemenuhan kebutuhan, Menarik diri untuk memindahkan dari sumber stes, Kompromi untuk mengganti tujuan atau mengorbankan kebutuhan personal. Mekanisme Pertahanan Ego membantu mengatasi ansietas ringan dan sedang, tetapi berlangsung tidak sadar dan melibatkan penipuan diri dan distorsi realitas dan bersifat maladaptif.

Diagnosa Keperawatan

Perumusan diagnosa keperawatan mengharuskan perawat untuk menentukan kualitas (kesesuaian) respon pasien, kuantitas (tingkat) ansietas pasien, dan sifat adaptif atau maladaptif mekanisme koping yang digunakan. Diagnosa keperawatan NANDA yang utama berhubungan dengan respon ansietas disajikan pada kotak dibawah. Suatu pengkajian keperawatan yamg lengkap harus mencakup semua respon maladaptif pasien. Banyak masalah keperawatan tambahan akan teridentifikasi pada saat ansietas pasien mempengaruhi area lain kehidupan secar timbal balik. (Stuart, 2007, hal 151).
Diagnosa Keperawaatan NANDA yang Berhubungan dengan Respon Ansietas Penyesuaian , Gangguan Ansietas* Pola Pernapasan, Ketidakefektifan Komunikasi, Hambatan Verbal Konfusi, Akut Koping, Ketidakefektifan * Diare Ketakutan* Pemeliharaan Kesehatan, Ketidakefektifan Cedera, Risiko Memori, Kerusakan Nutrisi, Ketidakseimbangan Sindrom Pasca Trauma Ketidakberdayaan Ketidakberdayaan, Risiko Sindrom Stress akibat perpindahan, Risiko Harga Diri, Risiko Rendah situasional Harga Diri, Rendah Situasional Persepsi Sensori, Gangguan Pola tidur, Gangguan Interaksi Sosial, Hambatan Proses Pikir, Gangguan Eliminasi Urin, Gangguan

(Stuart, 2007, hal 151) Diagnosa Keperawatan: 1. Isolasi sosial b.d Gangguan konsep diri 2. Gangguan konsep diri b.d Koping individu tidak efektif 3. Koping individu tidak efektif b.d Ansietas 4. Ansietas b.d stressor Nama Nomor Rm Rencana Keperawatan : Nn. D :00-92-6xxx Ruangan Diagnosa Medis :D :

Diagnosa Keperawatan

Perencanaan Tujuan (Umum dan Khusus)

Intervensi

Berhubungan ansietas sedang

dengan TUM : TUK 1

1.

jadilah pendengar yang hangat dan responsif beri waktu yang cukup pada klien

Klien dapat menjalin dan 2.

membina hubungan saling untuk berespon percaya 3. beri dukungan pada klien untuk mengekspresikan perasaannya 4. identifikasi pola prilaku klien atau pendekatan yang dapat menimbulkan perasaan negatif 5. bersama klien mengenali perilaku dan respon sehingga cepat belajar dan berkembang

TUK 2 Klien dapat

1.

bantu klien untuk mengidentifikasi

mengenal dan menguraikan perasaannya 2. 3. hubungkan perilaku dan perasaannya validasi kesimpulan dan asumsi terhadap klien 4. gunakan pertanyaan terbuka untuk mengalihkan dari topik yang

ansietasnya

mengancam ke hal yang berkaitan dengan konflik 5. gunakan konsultasi

TUK 3 Klien dapat kesadarannya

1.

bantu klien mernjelaskan situasi dan yang dapat segera

memperluas interaksi

terhadap menimbulkan ansietas 2. bersama klien meninjau kembali penilaian klien terhadap stressor yang dirasakan mengancam dan

perkembangan ansietas

menimbulkan konflik 3. kaitkan pengalaman yang baru terjadi dengan pengalaman masa lalu yang relevan TUK 4 1. gali cara klien mengurangi ansietas di

Klien dapat menggunakan masa lalu mekanisme koping adaptif yang 2. tunjukkan akibat mal adaptif dan destruktif dari respons koping yang digunakan 3. dorong klien untuk menggunakan respons koping adaptif yang dimilikinya 4. bantu klien untuk menyusun kembali

tujuan hidup, memodifikasi tujuan, menggunakan sumber dan

menggunakan koping yang baru 5. latih klien dengan menggunakan ansietas sedang 6. beri aktivitas fisik untuk menyalurkan energinya 7. libatkan pihak yang berkepentingan sebagai sumber dan dukungan sosial dalam membantu klien menggunakan koping adaptif yang baru TUK 5 Klien dapat menggunakan teknik relaksasi

ajarkan klien teknik relaksasi untuk meningkatkan kontrol dan rasa percaya diri dorong klien untuk

menggunakan relaksasi dalam menurunkan tingkat ansietas

Daftar Pustaka http://ml.scribd.com/doc/68462406/Asuhan-Keperawatan-Klien-Dengan-Ansietas diakses tanggal 04 Oktober 2012 jam14:28 http://ml.scribd.com/doc/52926261/LP-Ansietas-Pooh diakses tanggal 04 Oktober 2012 jam14:28 Stuart and Sunden. 1998. Keperawatan Jiwa.Jakarta:EGC Stuart, G. W. (2007). Buku Saku Keperawatan Jiwa. (5th ed). Jakarta : EGC

Tomb, D. A. (2001). Buku Saku Psikiatri (5th ed).Jakarta : EGC http://ners-novriadi.blogspot.com/2012/09/askep-klien-ansietas.html diakses tanggal 04 Oktober 2012

Townsend, M.C. (1998).Buku Saku Diagnosa Keperawatan pada Keperawatan Psikiatrik: Pedoman untuk Pembuatan Rencana Perawatan (3rd ed).Jakarta :EGC

Videbecek, S. L. (2001). Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta : EGC

Anda mungkin juga menyukai