Anda di halaman 1dari 16

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 LATARBELAKANG Human immunodeficiency virus (HIV) adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia dan melemahkan kemampuan tubuh yang digunakan untuk melawan segala penyakit yang datang. Virus ini khususnya menyerang sel T yang berada dalam sel darah putih yang pada akhirnya menyebabkan deficiency T-helper atau limfosit T4 yang memegang peranan penting pada imunitas seluler. Sel limfosit T yang berkurang ditandai dengan berkurangnya jumlah CD4 kurang dari 200/cu mm, atau persentase CD4 di bawah 14%. Berkurangnya CD4 mengakibatkan seseorang mudah diserang beberapa jenis penyakit (sindrom) yang kemungkinan tidak berpengaruh ketika kekebalan tubuh orang tersebut sehat. Penyakit tersebut disebut dengan infeksi oportunistik. CD 4 adalah sebuah marker atau penanda yang berada di permukaan sel-sel darah putih manusia. HIV berada terutama dalam cairan tubuh manusia. Cairan yang berpotensial mengandung HIV adalah darah, cairan sperma, cairan vagina dan air susu ibu.Seseorang akan lebih rentan terserang penyakit jika sistem kekebalan tubuhnya rusak. Pada saat HIV menginfeksi tubuh yang kemudian menyebabkan sel limfosit T4 pada tubuh rusak akan menyebabkan tubuh mudah terkena penyakit terutama ketika jumlah CD4 akan terus berkurang karena infeksi HIV. Kumpulan beberapa gejala yang disebabkan menurunnya sistem kekebalan tubuh yang disebabkan oleh HIV tadi disebut dengan Acquired immunodeficiency syndrome (AIDS). Proporsi orang yang terinfeksi HIV yang terus bertambah dan dengan tidak adanya obat yang dapat melawan virus ini menyebabkan banyak penderita HIV ini yang kemudian menjadi AIDS dan pada akhirnya tidak banyak yang dapat bertahan terhadap penyakit ini, kebanyakan berakhir dengan kematian. Kejadian AIDS masih sangat sulit diatasi saat ini karena belum ada metode yag dianggap tepat untuk mencegah dan mengobati penyakit ini. Beberapa obat mulai empat dikembangkan di beberapa daerah, tetapi obat-obat tersebut cenderung mahal dan berbahaya karena memiliki efek toksik jangka panjang dan menyebabkan virus HIV menjadi resisten terhadap obat. Sebagai alternatif dari pengembangan obat, saat ini berbagai penelitian tentang vaksin dilakukan agar dapat dihasilkan vaksin yang aman dan efektif untuk mencegah infeksi HIV. Salah satu yang mendapat perhatian adalah vaksin DNA. Vaksin DNAmenjadi salah satu vaksin yang menjanjikan untuk dikembangkan sebagai upaya preventif penyebaran HIV. 1.2 TUJUAN Mengetahui metode pengembangan vaksin DNA untuk HIV sebagai upaya pencegahan infeksi HIV

1.3 RUMUSAN MASALAH Bagaimana metode pengembangan vaksin DNA untuk upaya pencegahan infeksi HIV?

BAB II PEMBAHASAN 2.1 ETIOLOGI VIRUS Human immunodeficiency virus (HIV) adalah penyebab acquired immunodeficiency syndrome (AIDS). Virus ini terdiri dari dua grup, yaitu HIV-1 dan HIV-2. Kedua tipe HIV ini bisa menyebabkan AIDS, tetapi HIV-1 yang paling banyak ditemukan di seluruh dunia, dan HIV-2 banyak ditemukan di Afrika Barat. Virus HIV diklasifikasikan ke dalam golongan lentivirus atau retroviridae. Genom virus ini adalah RNA, yang mereplikasi dengan menggunakan enzim reverse transcriptase untuk menginfeksi sel mamalia (Finch, Moss, Jeffries dan Anderson, 2007 ). Virus ini akan membunuh limfosit T helper (CD4), yang menyebabkan hilangnya imunitas yang diperantarai sel. Selain limfosit T helper, sel-sel lain yang mempunyai protein CD4 pada permukaannya seperti makrofag dan monosit juga dapat diinfeksi oleh virus ini. Maka berkurangnya nilai CD4 dalam tubuh manusia yang mengindikasikan berkurangnya sel-sel darah putih yang berperan dalam sistem pertahanan tubuh manusia, sehingga ini meningkatkan probabilitas seseorang untuk mendapat infeksi oportunistik (Levinson, 2008). Saat ini ada dua tipe (type) HIV: HIV-1 dan HIV-2. Di seluruh dunia, virus yang utama adalah HIV-1, Baik HIV-1 dan HIV-2 disebarkan melalui hubungan seksual, darah, dan dari ibu-kebayi, serta keduanya terlihat mengakibatkan AIDS yang secara klinis tidak dapat dibedakan. Namun, HIV-1 lebih mudah disebarkan dibanding dengan HIV-2, dan jangka waktu antara penularan dan penyakit yang timbul karena HIV-2 lebih lama. HIV-1 adalah virus yang sangat berubah-ubah yang dapat bermutasi dengan sangat mudah. Jadi ada banyak jenis (strain) HIV-1 yang berbeda-beda. Jenis ini digolongkan menurut golongan (group) dan subtipe (subtype). Ada dua golongan, yaitu golongan M dan golongan O. Pada September 1998, peneliti dari Perancis mengumumkan penemuan jenis HIV baru pada seorang wanita dari Kamerun di Afrika Barat. Jenis ini tidak termasuk dalam golongan M atau pun golongan O, dan hanya ditemukan pada tiga orang lainnya, semua di Kamerun. Saat ini dalam golongan M sedikitnya diketahui ada sepuluh subtipe HIV-1 yang secara genetis berbeda. Subtipe ini terdiri dari A sampai J. Tambahan pula, golongan O terdiri dari beberapa golongan yang berbeda dari virus yang sangat beraneka ragam. Subtipe di golongan M dapat berbeda antar subtipe sebanyak perbedaan golongan M dengan golongan O. Subtipe tersebar sangat tidak merata di seluruh dunia. Sebagai contoh, subtipe B kebanyakan ditemukan di sekitar Amerika (utara dan selatan), Jepang, Australia, Karibia, dan Eropa; subtipe A dan D adalah yang paling sering ditemukan di Afrika subSahara; subtipe C di Afrika Selatan dan India; dan subtipe E di Republik Afrika Tengah, Thailand, dan negara lainnya di Asia Tenggara. Subtipe F (Brazil dan Rumania), G dan H (Rusia dan Afrika

Tengah), I (Siprus), dan golongan O (Kamerun) mempunyai prevalensi sangat rendah. Di Afrika, sebagian besar subtipe ditemukan, walaupun subtipe B kurang umum. Perbedaan utama terletak pada susunan genetisnya; perbedaan yang bersifat sangat biologis di tabung percobaan dan pada manusia dapat mencerminkan hal ini. HIV-1 adalah yang paling umum dan patogen strain virus. Para ilmuwan membagi HIV-1 menjadi kelompok utama (Grup M) dan O dua atau lebih kelompok kecil. Setiap kelompok diyakini mewakili transmisi independen ke manusia. Grup M :Dengan 'M' untuk "besar", ini adalah jauh jenis yang paling umum dari HIV, dengan lebih dari 90% kasus HIV / AIDS berasal dari infeksi HIV-1 grup M. Kelompok M dibagi lebih lanjut ke clades, disebut subtipe. Ada juga "beredar bentuk rekombinan" atau CRF berasal dari rekombinasi antara virus subtipe yang berbeda yang masing-masing diberi nomor. CRF12_BF, misalnya, adalah rekombinasi antara subtipe B dan F.

Subtipe A umum terjadi di Afrika Barat. Subtipe B adalah bentuk dominan di Eropa, Amerika, Jepang, Thailand, dan Australia. Subtipe C adalah bentuk dominan di Afrika Selatan, India, dan Nepal. Subtipe D umumnya hanya terlihat di Afrika Tengah dan Timur. (Subtipe E) belum pernah diidentifikasi sebagai nonrecombinant, hanya digabungkan dengan subtipe A sebagai CRF01_AE. Subtipe F telah ditemukan di Afrika Tengah, Amerika Selatan dan Eropa Timur. Subtipe G (dan CRF02_AG tersebut) telah ditemukan di Afrika dan Eropa Tengah. Subtipe H terbatas pada Afrika Tengah. (Subtipe I) pada awalnya digunakan untuk menggambarkan strain yang kini dicatat sebagai CRF04_cpx, dengan cpx untuk "kompleks" rekombinasi beberapa subtype.

Subtipe J terutama ditemukan di Utara, Tengah dan Afrika Barat, dan Karibia Subtipe K terbatas pada Republik Demokratik Kongo dan Kamerun.

2.2 VAKSIN DNA Vaksin dapat berupa galur virus atau bakteri yang telah dilemahkan sehingga tidak menimbulkan penyakit. Vaksin dapat juga berupa organisme mati atau hasil-hasil pemurniannya (protein, peptida, partikel serupa virus, dsb.). Vaksin akan mempersiapkan sistem kekebalan manusia atau hewan untuk bertahan terhadap serangan patogen tertentu, terutama bakteri, virus, atau toksin. Vaksin juga bisa membantu sistem kekebalan untuk melawan sel-sel degeneratif (kanker). Pemberian vaksin diberikan untuk merangsang sistem imunologi tubuh untuk membentuk antibodi spesifik sehingga dapat melindungi tubuh dari serangan penyakit yang dapat dicegah

dengan vaksin. Ada beberapa jenis vaksin. Namun, apa pun jenisnya tujuannya sama, yaitu menstimulasi reaksi kekebalan tanpa menimbulkan penyakit. Vaksin untuk HIV sulit dikembangkan karena HIV memiliki keunikan yang menyebabkan dan mengelabui daya kerja antibodi. Subtipe HIV-1 bervariasi menyulitkan antibodi untuk melakukan netralisasi virus. Suatu fakta yang menarik adalah vaksin yang menginduksi respon kebal seluler terutama sel limfosit T spesifik HIV (bukan antibodi) ternyata mampu menghambat replikasi HIV pada hewan model (berdasarkan jurnal) dengan menggunakan vaksin DNA. Vaksin DNA adalah vaksin yang memasukkan gen yang memproduksi protein bagian dari pathogen ke dalam sel manusia. Gen ini biasanya ditransfer melalui plasmid. Setelah terintegrasi maka sel hospes akan memproduksi protein itu di dalam tubuhnya. Vaksin ini mempunyai kelebihan-kelebihan dibandingkan dengan vaksin yang ada saat ini. Protein yang dieskpresikan dalam hospes dalam bentuk naturalnya tidak mengalami denaturasi atau modifikasi. Respon immun akan ditujukan untuk antigen tepat seperti yang diekspresikan oleh pathogen. DNA vaksin mampu menginduksi respon humoral yang menghasilkan antibodi dan juga menginduksi sistem immun melalui sel sitotoksik yang mampu menghancurkan sel yang terinfeksi. Respon immun seperti ini biasanya hanya ditemui pada vaksin dari organisme yang dilemahkan. DNA vaksin juga menghasilkan sel memori yang dapat memberikan perlindungan lebih lama terhadap organisme target. DNA vaksin juga praktis karena dalam penanganannya atau penyimpanannya tidak memerlukan refrigerator. Vektor plasmid yang mentransfer gen ke gen hospes dapat digunakan untuk mengkode beberapa antigen yang berbeda. Metode yang lebih baik untuk mengaplikasikan vaksin adalah dengan melapisi bead emas yang bersifat mikroskopis dengan DNA. Partikel ini kemudian dimasukkan ke kulit dengan menggunakan alat yang disebut gene gun. Sistem ini akan membuat pengiriman vaksin ke populasi yang besar tanpa membutuhkan jumlah jarum suntikan yang banyak. Pendekatan penggunaan vaksin DNA yang cukup menjajikan untuk meningkatkan kekebalan seluler terhadap HIV adalah melalui metode imunisasi prime-boost, yaitu priming dengan DNA HIV dan digertak (boosting) menggunakan vaksin rekombinan virus Fowl pox. Pada penggunaan rekombinan virus Pox sebagai booster, kompetisi antara antigen vaksin HIV dan antigen vektor dalam menginduksi kekebalan akan minimal karena memori terhadap antigen vaksin lebih dominan daripada memori terhadap vektor. Dari beberapa studi yang protokol vaksinasi HIV, hewan coba yang divaksinasi DNA dan di booster dengan rFPV menunjukkan hasil uji tantang yang paling baik. Tes vaksin DNA pada hewan coba menunjukkan keberhasilan vaksin ini melindungi terhadap sejumlah pathogen seperti influenza, HIV, malaria dan herpes. Vaksin DNA mempunyai

potensi yang menjanjikan dalam tahun-tahun mendatang karena vaksin ini dapat melindungi terhadap antigen yang spesifik sehingga tidak berbahaya dibandingkan menggunakan organisme utuh. Karena beberapa hipotesa mengemukakan bahwa penggunaan organisme yang dilemahkan atau dimodifikasi karena berbagai kondisi yang tidak diketahui atau tidak terkontrol dapat menimbulkan munculnya modifikasi organisme tersebut sehingga menjadi lebih berbahaya. Kasus ini muncul pada organisme seperti virus polio atau munculnya bakteri TBC yang resisten terhadap obat. 2.3 METODOLOGI 2.3.1 Vaksinasi priming dan boosting Hewan coba yang digunakan adalah beruk (M. Nemestrina) jantan berumur 2-3 tahun. Hewan telah melalui proses seleksi dan karantina sehingga dapat dipastikan termasuk kategori hewan bebas patogen tertentu (spesific patogen free). Sampel yang digunakan adalah plasma beruk, kelompok hewan yang divaksinasi (A) dan kelompok hewan kontrol (B). Sebagai kontrol dalam uji elisa digunakan serum yang telah diketahui positif dan negatif terdapat HIV-1. Kelompok hewan A diberi vaksin DNA HIV-1 berupa plasmid DNA pHISyang di insersi gen-gen HIV-1. Subtipe B dan booster vaksin rekombinan virus fowlpox. Kelompok B diberi placebo berupa plasmid DNA pHIS tanpa gen HIV-1. Vaksin disuntikkan secara intramuscular. Kelompok A divaksin dengan vaksin DNA HIV-1 melalui metode priming DNA HIV-1 dan boosting dengan rFPV-HIV , sedangkan kelompok B kelompok kontrol dengan pemberian placebo. Tabel 1. Jadwal Vaksinasi Priming dan Boosting Kelompok A Kelompok B Minggu o DNA HIV-1 Plamid DNA Minggu 4 DNA HIV-1 Plasmid DNA Minggu 8 DNA HIV-1 Plasmid DNA Minggu 12 Minggu 16 Booster I Booster II rFPV FPV rFPV FPV

2.3.2 Koleksi Sampel Dilakukan pengambilan darah dengan venesectio pada vena femoralis. Hewan terlebih dahulu diinjeksi dengan ketamin (10-20 mg/kg BB) secara intramuskular. Setelah hewan teranastesi, darah diambil dan dimasukkan ke tabung hampa udara dengan anti heparin. Selanjutnya darah disentrifugasi dengan kecepatan 400 x g (gravitasi). Proses sentrifugasi akan memisahkan plasma dari bagian darah lainnya sehingga terbentuk endapan dan supernatan. Supernatan merupakan plasma yang akan digunakan untuk uji. Sebelum diuji, plasma diinaktivasi dengan

pemanasan pada suhu 56oC selama tiga puluh menit. Jika sampel tidak langsung digunakan dapat disimpan pada suhu -70oC untuk selanjutnya digunakan dalam uji ELISA. Tabel 2. Jadwal Koleksi Sampel Pengambilan darah Minggu 0 Minggu 12 Kelompok A Kelompok B Pre-vaksinasi Pre-vaksinasi Boosting pertama dengan FPV tanpa gen HIV-1 rFPV yang mengekspresikan Minggu 14 Minggu 16 gen HIV-1 Dua minggu pasca boosting Dua minggu pasca FPV pertama Bossting kedua dengan FPV tanpa gen HIV-1

rFPV yang mengekspresikan Minggu 18 Minggu 20 gen HIV-1 Dua minggu pasca boosting Dua minggu pasca FPV kedua Empat minggu pasca Empat minggu pasca FPV

boosting kedua 2.3.3 Konfirmasi Hasil Koleksi Sampel dengan Teknik ELISA Uji ELISA yang dilakukan pada penelitian ini adalah ELISA tipe tidak langsung untuk mendeteksi ada tidaknya antibodi terhadap HIV-1 protein p24 yang merupakan protein komponen inti (capsid) HIV-1. Sebanyak 2g/ml protein p24 HIV-1 dalam larutan penyangga Borat digunakan untuk melapisi tiap sumur dari lempeng ELISA 96- well. Sebagai kontrol background digunakan protein yang berasal dari sel tidak terifeksi tempat ditumbuhkannya p24 HIV dengan konsentrasi sama. Setiap sumur pada lempeng dilapis dengan antigen p24 dan kontrol p24 sebanyak 50l. Selanjutnya dilakukan inkubasi 18 jam pada suhu 4 oC. Kemudian dilakukan pencucian dengan PBS-Tween 0.05% menggunakan ELISA microplate washer yang dilanjutkan dengan blocking selama dua jam pada suhu 37oC menggunakan larutan penghambat berupa susu tanpa lemak 5% dalam PBS-Tween 0.05% dan setelah itu dicuci kembali. Tujuan blocking adalah mencegah terjadinya ikatan antara lempeng dengan protein asing yang dapat mengganggu hasil uji. Sebanyak 50l (perbandingan 1:400 dalam larutan penghambat) plasma M.nemestrina, kontrol positif antibodi p24 HIV, kontrol negatif p24 HIV dimasukkan ke dalam setiap sumur tidak diberi penambahan sampel oleh karena optical density (OD) yang dihasilkan akan digunakan sebagai kontrol konjugat dalam analisis hasil. Setelah pencucian, dimasukkan ke dalam masing-masing sumur sebanyak 50l konjugat goat anti-monkey igG peroxidase dengan pengenceran 1:1000 dalam larutan penghambat. Inkubasi dalam suhu 37oC selama 60 menit dan diikuti dengan pencucian

menggunakan PBS-Tween 0,05%. Tahap akhir uji adalah penambahan substrat berupa TMB yang dilarutkan dalam Phospate Citrate Buffer sebanyak 50 l pada setiap sumur dalam kondisi gelap selama 20 menit. Penghentian reaksi dilakukan dengan penambahan larutan H 2SO4. Subtrat akan bereaksi dengan enzim peroksidase sehingga chromogen yang dikandung substrat tersebut teroksidasi menghasilkan warna yang akan dibaca dengan alat ELISA microplate readerpada panjang gelombang 450nm. Hasil pembacaan berupa nilai kecepatan optik (OD) sebagai data numerik yang mepresentasikan kadar antibitok dalam sampel. Rumus perhitungan nilai optical density:

OD konjugat control OD sampel

= (OD kontrol p24) pada sumur tanpa sampel = (OD sampel pada p24 OD sampel pada kontrol p24) OD konjugat control

2.4 HASIL 2.4.1 Kelompok A Nilai OD pravakksinasi sampai minggu ke 16 cenderung tidak berubah kecuali untuk hewan nomor 5716 pada minggu ke 14. Pada minggu ke 18 ( 2 minggu setelah booster dengan rFPV yang kedua, 5 dari 7 sampel menunjukkan kenaikan OD yang tajam bahkan melebihi nilai kontrol positif. Nilai OD kemudian turun kembali pada minggu ke 20. Tabel 3. Nilai OD Kelompok A

Walaupun respon hewan berbeda-beda meskipun diberikn perlakuan yang sama, tetapi dapat disimpulkan bahwa antibody p24 HIV terbentuk dan terdeteksi 2 minggu pasca booster yang kedua.

2.4.2 Kelompok B Kelompok hewan b merupakan kelompok hewan kontrol. Hewan dalam kelompok ini diberi plasmid DNA dan FPV yang keduanya tanpa ekspresi gen HIV. Secara umum hewan di kelompok B tidak menunjukkan nilai OD antara satu perlakuan ke perlakuan berikutnya. Kadar antibodi pravaksinasi hingga pasca injeksi FPV cenderung konstan. Tabel 4. Nilai OD Kelompok B

2.5 ANALISA HASIL Saat terpapar benda asing, tubuh hewan akan melakukan respon kekebalan humoral dengan mengasilkan. Dalam penelitian ini digunakan uji ELISA untuk melihat adanya repon pembentukan antibody yag diketahui melalui nilai optical density (OD). Protei p24 adalah protein capsid HIV yang disandi oleh gen gag HIV-1. Secara alami terdeteksinya protein p24 HIV merupakan indicator terjadinya infeksi HIV-1 (Levinson dan Jawetz, 2001). Terdeteksinya rotein p24 dalam penelitian ini menunjukkan bahwa gen gag HIV-1 pada vaksin DNA telah ditranskripsikan dan ditranslasikan kemudian membentuk protein p24 yang selanjutnya dipresentasikan pada sel inang. Paparan protein p24 menginduksi kekebalan humoral berupa pembentukan antibodi terhadap protein tersebut. Nilai OD pada minggu ke 12 (pra-boosting) mendekati nilai OD pravaksinasi (minggu ke 0), menunjukkan bahwa sampai titik waktu tersebut hewan coba yang diimunisasi primining tidak menginduksi respon kekebalan humoral. Pada minggu ke 12 dilakukan boosting dengan rFPF-HIV yang membawa gag pol HIV-1. Setelah boosting pertama tidak terlihat kenaikan OD kecuali pada 1 hewan (5716). Antibody p24 HIV-1 terdeteksi pada minggu 18 dua minggu pasca boosting ke 2.

Respon antar individu bervariasi walaupun mendapat perlakukan vaksinasi yang sama. Variasi individu mempengaruhi respon kebal yang terbentuk. Satu individu mungkin mampu merespon kuat terhadap p24 sementara individu lain tidak (Constantine et al, 1992) hewan nomer 5716 menunjukkan respon antibody p24 terdeteksi pasca booster pertama, terlihat pada kenaikan nilai OD pada minggu ke 14 dan meningkat pada minggu ke 18. Pada hewan 5421 nilai OD melonjak dua minggu setelah booster ke 2 mencapai 0,617 dan tetap bertahan tinggi pada nilai 0,603 pada minggu ke 20. Dua hewan pada kelompok A yaitu 5364 dan 5375 tidak menunjukkan pola pembentukkan antibody seperti pada hewan lain pada kelompok ini, nilai OD pada tiap waktu perlakuan tetap rendah seperti pada kelompok control. Kedua hewan ini menunjukkan respon kebal humoral yang kurang baik, hal ini diduga sebagai akibat dari keragaman tipe molekul MHC pada hewan coba. Kelompok hewan control tidak menunjukkan adanya respon spesifik antibody p24 HIV dari satu waktu kewaktu lainnya, terlihat dari nilai OD pra dan pasca vaksinasi berkisar pada nilai yang rendah dan cenderung constan. Hal ini membuktikan tanpa introduksi dari protein asing tidak akan terjadi pembentukkan antibody dalam tubuh. Antibody p24 yang terdeteksi pada seorang pasien bukan berarti antibody yang mampu menetralisasi virus (Levinson dan Jawetz, 2001). Hasil ELISA hanya dapat menyatakan kadar antibody yang muncul tanpa melihat kemampuan antibody melakukan fungsi kekebalan. Vaksin DNA HIV-1 dikembangkan dengan focus untuk menghasilkan respon kekebalan seluler yang diharapkan akan lebih efektif memberikan proteksi terhadap infeksi HIV. Tetapi dari hasil penelitian ini ternyata pada vaksinasi DNA HIV-1 metode prime/boost menggunakan hewan coba Macaca, respon kebal humoral juga terjadi dengan kadar antibody yang meningkat pasca booster ke 2. Plasmid DNA yang diinsersi DNA virus masuk kedalam tubuh dan melakukan transfeksi pada inang. Di dalam sel protein asing yang terbentuk akan dipecah menjadi peptidapeptida yang kemudian dipaparkan bersama MHC. Jika suatu protein asing muncul dari dalam sel inang maka protein tersebut akan masuk kejalur MHC kelas I. Jalur ini menginduksi respon kebal seluler berupa aktivasi CTL yang spesifik terhadap protein aktigen sebaliknya respon kebal humoral berupa pembentukkan antibody muncul jika protein asing yang eksogen masuk kedalam sel inang melalui endosis atau fagositosis kemudian masuk jalur MHC kelas II sel inang. Respon kebal yang muncul tergantung dari pemaparan antigen di dalam tubuh inang. Transfeksi DNA virus pada sel somatis akan mengaktifkan kekebalan dengan mediasi MHC kelas 1. Jika protein virus yang terbentuk keluar dari sel somatic dan ditangkap oleh antigen presenting cell (APC) maka akan dipaparkan bersama MHC kelas I maupun II. Demikian pula jika transfeksi langsung terjadi pada APC maka akan mengaktifkan jalur respon kebal yang melibatka jalur MHC kelas I dan II.

Vaksinasi dengan DNA HIV-1 dan booster menggunakan rFPV-HIV mampu menginduksi respon kebal humoral dan seluler dengan terdeteksinya respon antibody serta peningkatan jumlah limfosit setelah vaksin. Namun belum dapat dipastikan vaksin akan mampu memproteksi hewan.

BAB III PENUTUP

3.1 KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian, imunisasi pada macaca nemestrina dengan vaksin DNA HIV-1 menginduksi respon kebal humoral. Sedangkan DNA HIV-1 dan booster menggunakan rFPV HIV mampu menginduksi respon kebal humoral dan respon kebal seluler dengan mendeteksi adanya respon antibody serta peningkatan jumlah limfosit setelah vaksinasi. Dengan teknik ELISA dideteksi adanya antibody terhadap protein p24 HIV-1 pada minggu ke 18, dua minggu setelah boosting rFPV HIV 1 yang kedua. Sehingga dapat dikembangkan metode vaksin DNA sebagai upaya preventif infeksi HIV dimasa datang. 3.2 SARAN Dalam penelitian ini, penulis hanya mendeteksi keberadaan antibody terhadap protein p24, dan belum sampai tahapan apakah antibody tersebut mampu melakukan fungsi sebagai pertahanan tubuh. Sehingga perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk mengetahui kemampuan antibody untuk menetralisasi virus.

DAFTAR PUSTAKA

Dewi, Fitriya Nur Annisa. Deteksi Antibodi Human Immunodeficiency Virus Type-1 (HIV-1) Pada Macaca Nemestrina Yang Diimunisasi Dengan Vaksin DNA HIV-1 Menggunakan Teknik Enzyme-Linked Immunosorbent Assay (ELISA). Skripsi. Fakultas Kedokteran Hewan ITB, 2006 Finch RG, Moss P, Jeffries DJ, and Anderson J. Infectious Diseases, Tropical Medicine And Sexually Trasmited Diseases. Dalam Kumar and Clark Clinical Medicine. Spain:Elsevier 2005: page 56-7 Levinson W, Jawet E. Medical Microbiologi 2 Immunologi. 7th ed. Singgapore, 2008

Makalah Biologi Molekuler

Aplikasi Rekayasa Genetika di Bidang Kesehatan Pengembangan Vaksin DNA untuk HIV Tipe I

Disusun oleh : Yohana Maria Karo Ricko Ardya P. Izzatul Maidah Septian Vidya Pangastuti Arief Yara Pratama Rizky Putri Karina

PROGRAM KEDOKTERAN HEWAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2013

Makalah Biologi Molekuler

Aplikasi Rekayasa Genetika di Bidang Kesehatan Pengembangan Vaksin DNA untuk HIV Tipe I

Disusun oleh : Yohana Maria Karo Ricko Ardya P. Izzatul Maidah Septian Vidya Pangastuti Arief Yara Pratama Rizky Putri Karina 115130101111033 115130101111041 11513010711018 115130107111019

PROGRAM KEDOKTERAN HEWAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2013