Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Laju reaksi dipengaruhi oleh konsentrasi pereaksi bukan konsentrasi hasil
reaksi. Seperti yang dikemukakan oleh Gulberg dan Wooge dalam hukum Aksi Massa
berikut Laju reaksi dalam suatu sistem pada suatu temperatur tertentu berbanding
lurus dengan konsentrasi dipangkatkan dengan koefisiennya dalam persamaan yang
bersangkutan. Misalnya pada reaksi:
mA + nB pC + qD

Secara teoritis hukum laju reaksi dirumuskan dengan persamaan berikut:

v = k [A]
m
[B]
n


Keterangan:
v = laju reaksi (m/dt)
k = konstanta atau tetapan konsentrasi laju reaksi [L/mol.dt]
[A] = konsentrasi zat A (mol/L)
[B] = konsentrasi zat B (mol/L)

Sukrosa yaitu gula biasa. Sukrosa terjadi pada semua tanaman yang
mengalami fotosintesis, yang fungsinya adalah sebagai sumber energi. Gula ini
diperoleh dari tanaman tebu yang menyusun sebanyak 14-20% dari cairannya.
Hidrolisis sukrosa menghasilkan D-Glukosa dan gula keto D-fruktosa dalam jumlah
yang sama. Sukrosa tak dapat bermutarotasi karena tak ada lagi gugus aldehida yang
bebas, sukrosa tak dapat mereduksi lagi mereduksi pereaksi-pereaksi Tollens, Fehling
dan Benedict, karena itu sukrosa dinamakan gula non pereduksi.
Sukrosa mempunyai putaran optik [] = +66
o
. Jika sukrosa dihidrolisis
terdapat campuran D-Glukosa dan D-Fruktosa dalam jumlah yang sama, dan rotasi
optiknya berubah tanda menjadi [] = -20
o
. Hal ini disebabkan oleh campuran
kesetimbangan anomer D-glikosa ( dan ) mempunyai rotasi +52
o
, tetapi anomer
fruktosa mempunyai rotasi negatif yang kuat yaitu [] = -92
o
. Karena hidrolisis
sukrosa menukar (=invert) tanda rotasi optik, enzim yang melakukan hidrolisisnya
adalah invertase, dan hasilnya berupa campuran sebanding glukosa dan fruktosa
dinamakan gula invert.
Enantiomer yang memutar cahaya terpolarisasi tekanan diberi tanda (+) atau d
(dextro), sedangkan yang memutar ke kiri diberi tanda (-) atau l (levo). Besarnya
sudut putar / sudut rotasi () tergantung pada jenis senyawa, suhu, cahaya terpolarisasi
dan banyaknya molekul pada jalan yang dilalui cahaya rotasi spesifik ialah putaran /
rotasio yang dihasilkan oleh 1 gram senyawa dalam mol larutan dalam 1 sel sepanjang
1 dm.



Dimana,
A = sudut rotasi yang diamati
e = panjang (dm)

Gula inversi adalah campuran D-glukosa dan D-fruktosa yang diperoleh
dengan hidrolisis asam dari sukrosa. Berdasarkan teori bahwa mayoritas gula adalah
fruktosa dan fruktosa membelokkan cahaya ke kiri. Gula yang terdiri dari Sukrosa
maupun Glukosa memutar cahaya ke kanan. Sukrosa memiliki rotasi+66,5 (positif)
produk yang dihasilkan glukosa[]= +52,7 dan fruktosa [] = -92
o
(negatif). Dengan
mengetahui pembelokan cahaya yang dihasilkan oleh larutan gula, dapat di analisa
jenis / komposisi gula yang ada dalam larutan tersebut.
Orde reaksi dari inverse gula merupakan orde ke satu. Pada reaksi ini laju
reaksi hanya tergantung pada satu kosentrasi saja yaitu [C
12
H
22
O
11
] sedangkan H
2
O
tidak berpengaruh dalam reaksi tersebut. Pada percobaan ini akan ditentukan orde
reaksi dari reaksi inversi gula menggunakan polarimeter.

B. Rumusan Masalah
Berapa orde reaksi dari reaksi inversi gula menggunakan polarimeter ?

C. Tujuan
Menentukan orde reaksi dari reaksi inversi gula menggunakan polarimeter.


BAB II
KAJIAN TEORI

Istilah laju atau kecepatan sering dibicarakan dalam pelajaran fisika.
Pengertian laju dalam reaksi sebenarnya sama dengan laju pada kendaraan yang
bergerak. Reaksi kimia menyangkut perubahan dari suatu pereaksi (reaktan) menjadi
hasil reaksi (produk), yang dinyatakan dalam persamaan reaksi. Pereaksi (reaktan)
Hasil reaksi (produk). Persamaan laju reaksi pertama kali dikemukakan oleh Gulberg
dan Wooge dalam hukum Aksi Massa. Mereka menyebutkan laju reaksi pada suatu
sistem pada temperatur tertentu berbanding lurus dengan konsentrasi zat yang
bereaksi setelah tiap tiap konsentrasi dipangkatkan dengan koefisien dalam
persamaan yang bersangkutan.
Dengan cara fisis penentuan konsentrasi dilakukan secara langsung, yaitu
berdasar sifatsifat fisis campuran yang dipengaruhi oleh konsentrasi campuran,
misalnya daya hantar listrik, tekanan, adsorbsi cahaya, dan sebagainya. Penentuan
secara kimia dilakukan dengan menghentikan reakis secara tiba tiba (reaksi
dibekukan) setelah selang waktu tertentu, kemudian konsentrasinya dihitung dengan
analisis kimia. Laju reaksi akan menurun dengan bertambahnya waktu. Hal ini
menunjukkan adanya hubungan antara konsentrasi zat yang tersisa saat itu dengan
laju reaksi sehingga dapat dikatakan umumnya laju reaksi tergantung pada konsentrasi
awal dari zat zat pereaksi, pernyataan ini dikenal sebagai Hukum Laju Reaksi atau
Persamaan Laju Reaksi
m A + n B o C + p D
Dalam persamaan laju reaksi dapat dituliskan
v = k [A]m [B]n
dimana, v = laju reaksi (m/detik)
k = konstanta tetapan laju reaksi (L/mol.detik)
[A] = konsentrasi zat A (mol/L)
[B] = konsentrasi zat B (mol/L)
m = tingkat reaksi (orde reaksi) terhadap A
n = tingkat reaksi (orde reaksi) terhadap B
Tingkat reaksi total adalah jumlah total dari tingkat reaksi semua pereaksi.
Tingkat reaksi nol (0) berarti laju reaksi tersebut tidak terpengaruh oleh konsentrasi
pereaksi, tetapi hanya bergantung pada harga tetapan laju reaksi (k). Harga k
tergantung pada suhu, jika suhunya tetap harga k juga tetap. Untuk mengetahui
hubungan pereaksi dengan reaktan, digunakan orde reaksi yang diperoleh dari
perhitungan konsentrasi sehingga grafik yang diperoleh berbentuk grafik
perpangkatan. Harga k tergantung pada tingkat (orde) reaksi totalnya.
Orde reaksi nol,
Reaksi yang memiliki kecepatan reaksi tetap dan tidak dipengaruhi konsentrasi
reaktan. Kecepatan reaksi dipengaruhi / ditentukan oleh intensitas katalis.
Persamaannya orde 0:
v = k [x]0 = k
Orde reaksi satu,
Persamaannya :
v = k [x]1 = k [x]
Orde Reaksi dua,
Persamaannya :
v = k [x]2

Polarimeter
Polarimetri adalah suatu cara analisa yang didasarkan pada pengukuran sudut
putaran (optical rotation) cahaya terpolarisir oleh senyawa yang transparan dan optis
aktif apabila senyawa tersebut dilewati sinar monokromatis yang terpolarisir tersebut.
Senyawa optis aktif adalah senyawa yang dapat memutar bidang getar sinar
terpolarisir. Zat yang optis ditandai dengan adanya atom karbon asimetris atau atom C
kiral dalam senyawa organik, contoh : kuarsa ( SiO2 ), fruktosa. Cahaya
monokromatik pada dasarnya mempunyai bidang getar yang banyak sekali. Bila
dikhayalkan maka bidang getar tersebut akan tegak lurus pada bidang datar. Bidang
getar yang banyak sekali ini secara mekanik dapat dipisahkan menjadi dua bidang
getar yang saling tegak lurus. Yang dimaksud dengan cahaya terpolarisasi adalah
senyawa yang mempunyai satu arah getar dan arah getar tersebut tegak lurus terhadap
arah rambatnya. Prinsip dasar polarimetris ini adalah pengukuran daya putar optis
suatu zat yang menimbulkan terjadinya putaran bidang getar sinar terpolarisir.
Pemutaran bidang getar sinar terpolarisir oleh senyawa optis aktif ada 2 macam :
1. Dexro rotary (+), jika arah putarnya ke kanan atau sesuai putaran jarum jam.
2. Levo rotary (-), jika arah putarnya ke kiri atau berlawanan dengan putaran jarum
jam.

Inversi Gula
Karbohidrat merupakan senyawa karbon, hidrogen dan oksigen yang terdapat
dalam alam. Karbohidrat sangat beranekaragam sifatnya. Misalnya, sukrosa (gula
pasir) dan kapas, keduanya adalah karbohidrat. Salah satu perbedaan utama antara
pelbagai tipe karbohidrat ialah ukuran molekulnya. Gula merupakan zat optis aktif.
Bila cahaya terpolarisasi linier jatuh pada bahan optis aktif, maka cahaya yang keluar
bahan akan tetap terpolarisasi linier dengan arah bidang getar terputar terhadap arah
bidang getar semula. Sifat optis aktif zat dispesifikasikan dengan sudut putar
jenis.Sudut putar bidang polarisasi sebanding dengan sudut putar jenis dan
konsentrasi bila sudut putar jenis diketahui dan sudut putar bidang polarisasi dapat
diukur, maka konsentrasi (kadar) zat optis aktif dapat ditentukan (hal ini merupakan
prinsip yang digunakan untuk menentukan kadar zat optis. Gula inversi adalah
campuran D-glukosa dan D- fruktosa yang diperoleh dengan hidrolisis asam atau
enzimatik dari sukrosa. Enzim yang mengkatalis hidrolisis sukrosa disebut
invertase,bersifat spesifik untuk ikatan -Dfruktofuranosida dan terdapat dalam ragi
dan lebah (madu terutama terdiri dari gula inversi). Berdasarkan teori bahwa
mayoritas gula adalah fruktosa dan fruktosa membelokkan cahaya ke kiri. Gula yang
terdiri dari Sukrosa maupun Glukosa memutar cahaya ke kanan. Sukrosa memiliki
rotasi +66,5 (positif) produk yang dihasilkan glukosa[]= +52,7 dan fruktosa [] = -
92,4o mempunyai rotasi netto negatif. Dengan mengetahui pembelokan cahaya yang
dihasilkan oleh larutan gula, dapat di analisa jenis/komposisi gula yang ada dalam
larutan tersebut.
Sudut putar jenis jenis dapat dihitung :
[]

() (

)

Kinetika reaksi inversi gula merupakan reaksi orde satu terhadap sukrosa.
Dalam larutan gula yang netral (pH=5) reaksi hidrolisa gula mempunyai waktu paruh
10 minggu. Sedangkan didalam larutan asam, dengan adanya katalis ion H+, waktu
paruh tersebut lebih pendek. Hukum laju reaksi inversi gula tersebut dapat
diungkapkan sebagai berikut:
R = - d (gula) / dt = k (H+)(H2O)(gula)
Reaksi hidrolisis dari percobaan:
C
11
H
22
O
11
+ H
2
O C
6
H
12
O
6
+ C
6
H
12
O
6

6
Cara Penggunaan Polarimeter
Cara penggunaan berikut adalah cara pada Zeiss Polarimeter, tetapi secara
umum cara penggunaan polarimeter manapun adalah sama. Untuk memulai
penggunaan polarimeter pastikan tombol power pada posisi on dan biarkan selama 5-
10 menit agar lampu natriumnya siap digunakan. Selalu mulai dengan menentukan
keadaan nol (zero point) dengan mengisi tabung sampel dengan pelarut saja. Keadaan
nol ini perlu untuk mengkoreksi pembacaan atau pengamatan rotasi optik. Tabung
sampel harus dibersihkan sebelum digunakan agar larutan yang diisikan tidak
terkontaminasi zat lain. Pembacaan/pengamatan bergantung kepada tabung sampel
yang berisi larutan/pelarut dengan penuh. Perhatikan saat menutup tabung sampel,
harus dilakukan hati-hati agar di dalam tabung tidak terdapat gelembung udara. Bila
sebelum tabung diisi larutan didapat keadaan terang, maka setelah tabung diisi larutan
putarlah analisator sampai didapat keadaan terang kembali. Sebaliknya bila awalnya
keadaan gelap harus kembali kekeadaan gelap. Catat besarnya rotasi optik yang dapat
terbaca pada skala. Tetapi jangan hanya besar rotasi optiknya, arah rotasinya juga
harus dicatat searah jarum jam atau berlawanan arah jarum jam. Lakukan pembacaan
berkali-kali sampai diperoleh nilai yang dapat dirata-ratakan.
BAB III
PEMBAHASAN

Pada percobaan yang bertujuan untuk menentukan orde reaksi dari reaksi
inversi gula dengan menggunakan alat polarimeter ini, langkah pertama yaitu menimbang
sebanyak 2,5 gram gula pasir yaitu sukrosa, kemudian dimasukkan ke dalam labu ukur 25 ml.
Ditambahkan sedikit air ke dalam labu ukur berisi sukrosa kemudian dikocok hingga larut,
setelah itu ditambah lagi air hingga mencapai tanda batas. Dalam hal ini akan dihasilkan
sampel berupa 10% larutan sukrosa (gula pasir).
Selanjutnya terdiri dari beberapa tahap, antara lain adalah sebagai berikut :
a. Mempersiapkan apparatus polarimeter.
Dalam mempersiapkan apparatus polarimeter, yang pertama kali dilakukan
adalah mengeluarkan kuvet dari polarimeter kemudian dicuci dengan aquades sebersih
mungkin dan dikeringkan. Untuk memperkecil kemungkinan kesalahan terjadi dalam
pengamatan maka lebih baik tabung (kuvet) dibilas dengan pelarut yang akan dipakai
sebagai pelarut zat optis aktif yang akan dianalisis. Setelah bersih dan dikeringkan, kuvet
siap dipakai.

b. Menentukan titik nol
Dalam menentukan titik nol pelarut, dalam percobaan ini adalah air, yang
pertama kali dilakukan adalah mengisi kuvet dengan air dengan menggunakan pipet dan
diusahakan tidak ada gelembung udara dalam kuvet yang berisi air tersebut, agar hasil
pengamatan yang diperoleh lebih akurat. Kuvet yang berisi air dimasukkan kedalam
polarimeter, lalu mencari cahaya gelap terang yang ditunjukkan pada polarimeter. Setelah
ditemukan cahaya gelap terang, kemudian melihat skala yang ditunjukkan pada
polarimeter. Pada pengamatan ini diketahui putaran yang diamati adalah 0
o
.

c. Menentukan sudut putar jenis sampel
Pada penentuan sudut putar jenis sampel, pertama mengeluarkan kuvet yang
berisi air kemudian dikosongkan dan diisi lagi dengan larutan gula 10%. Kuvet yang telah
berisi larutan gula 10%, dimasukkan kedalam polarimeter kemudian diamati cahaya gelap
terangnya dan dilihat skalanya. Dari pengamatan ini diketahui putaran yang diamati.
Kemudian menghitung sudut putar jenis sampel (), yang diperoleh dari perbedaan skala
pengukuran titik nol air dan sudut putar larutan gula 10% :
7,9
o
0
o
= 7,9
o

Dengan menggunakan rumus :
[] =
) ( mol per gram kadar dm dalam tabung panjang
diamati yang putaran


=
1 , 0 13 , 1
9 , 7


= 69,91
Dari perhitungan tersebut diketahui bahwa sudut putar sukrosa sebesar 69,91
o
, sudut putar
yang kami peroleh berbeda dengan sudut putar sukrosa sesuai teori yaitu sebesar 66,5
o
.

d. Menentukan sudut putar sampel dari waktu ke waktu
Dalam menentukan sudut putar sampel dari waktu ke waktu, pertama adalah
mengosongkan kuvet kemudian mengisi dengan larutan yang dibuat dengan cara
mencampurkan 25 ml larutan gula 10% dengan 10 ml larutan HCl 2N. Penambahan HCl
adalah sebagai katalis yang dapat mempercepat reaksi terurainya sukrosa menjadi glukosa
dan fruktosa, dimana pada akhir reaksi akan terbentuk kembali. Kemudian kuvet yang
berisi campuran larutan gula dan HCl dimasukkan kedalam polarimeter dan melakukan
pengamatan sudut putar dari waktu ke waktu yaitu pada waktu : 5, 10, 15, 20, 25, 30, 35,
40, 45, 50, 55 dan 60 menit.
Selanjutnya disiapkan apparatus polarimeter. Kuvet dikeluarkan dari dalam
bak polarimeter untuk dilakukan pencucian hingga bersih serta dikeringkan. Untuk
menghindari kemungkinan terjadinya kesalahan, maka lebih baik kuvet dibilas dengan
pelarut yang akan dipakai sebagai pelarut zat optis aktif yang akan dianalisis.
Agar mendapat hasil yang akurat, kuvet diisi hingga tidak ada gelembung
udara di dalamnya. Kuvet diisi larutan sampai tanda batas bawah, alat polarimeter juga
diarahkan pada sumber cahaya yang terang agar pada alat polarimeter dapat terlihat batas
terang dan gelap. Selanjutnya adalah menentukan titik nol pelarut air yang pasti akan
didapatkan putaran optik sama dengan nol. Kemudian dilakukan pengukuran sudut
sampel yaitu larutan gula 10%, tetapi sebelumnya kuvet dibilas terlebih dahulu dengan
larutan gula 10% dan akan didapat skala. Nilai skala yang didapat dapat digunakan untuk
menghitung nilai o dengan menggunakan rumus berikut :
| |
( ) /
putaran yang diamati
panjang tabung dalamdm kadar gr mL
o =


Misalnya, diketahui panjang tabung 1,1 dm ; kadar 0,1 gr/ml; serta nilai skala larutan gula
yang didapat sebesar 6,6.
Sehingga dapat dihitung nilai o dari larutan gula 10% (0 menit) sebagai berikut:
| | 9 , 110
1 , 0 1 , 1
2 , 12
= =
x
o
Maka didapat [] sebesar 110,9
o
.
Selanjutnya yaitu dilakukan pengukuran sudut putar dari waktu ke waktu
dengan membuat campuran 25 ml larutan sukrosa dengan 10 ml larutan HCl 2N. Tujuan
dari hal ini ialah untuk mengetahui reaksi hidrolisis yang terjadi pada gula dengan
menggunakan suatu asam (HCl) sebagai katalis.
Setelah itu, putaran optik diukur menggunakan polarimeter dengan cara yang
sama dengan sebelumnya ketika mengukur putaran optik larutan blanko. Pengamatan
sudut putar dilakukan dari waktu ke waktu yaitu 5, 10, 15, 20, 25, 30, 35, 40, 45, 50, 55,
60 menit dan setelah 24 jam. Terjadinya reaksi hidrolisis sukrosa menjadi glukosa dan
fruktosa ditandai dengan semakin turun nilai putaran optik dari waktu ke waktu. Pada
sukrosa yang memiliki putaran optik +66
o

jika terhidrolisis

akan terdapat campuran D-
Glukosa dan D-Fruktosa dalam jumlah yang sama, dan rotasi optiknya berubah tanda
menjadi [o ] = -20
o
. Hal ini disebabkan oleh campuran kesetimbangan anomer D-glukosa
(o dan | ) mempunyai rotasi +52
o
, tetapi anomer fruktosa mempunyai rotasi negatif yang
kuat yaitu [o ] = -92
o
, karena hidrolisis sukrosa menukar (=invert) tanda rotasi optik.
Reaksi inversi gula :
C
12
H
22
O
11
+ H
2
O C
6
H
12
O
6
+ C
6
H
12
O
6

Reaksi ini disebut juga orde reaksi satu pseudo.
Orde reaksi dari inversi gula merupakan orde ke satu. Pada reaksi ini laju
reaksi hanya tergantung pada satu kosentrasi saja yaitu [C
12
H
22
O
11
] sedangkan H
2
O tidak
berpengaruh dalam reaksi tersebut.

Jika hasil dari percobaan sesuai dengan teori menghasilkan data sebagai berikut:
Waktu (menit) skala
0 +12,2 110,90
5 +10,7 97,87
10 +9,5 86,37
15 +8,4 76,22
20 +7,4 67,27
25 +6,5 59,36
30 +5,8 52,39
35 +5,1 46,23
40 +4,5 40,80
45 +3,9 36,01
50 +4,0 31,77
55 +3,1 28,04
60 +2,7 24,74
setelah 24 jam + 1,1 10

t a (a-x) (a-x)
2
ln(a-x) 1/(a-x)
0 110,9
5 110,9 97,87 9578,5369 4,5836
0,010217636
10 110,9 86,37 7459,7769 4,4586
0,011578094
15 110,9 76,22 5809,4884 4,3336
0,013119916
20 110,9 67,27 4525,2529 4,2087
0,014865468
25 110,9 59,36 3523,6096 4,0836
0,016846361
30 110,9 52,39 2744,7121 3,9587
0,019087612
35 110,9 46,23 2137,2129 3,8336
0,021630976
40 110,9 40,8 1664,64 3,70868
0,024509804
45 110,9 36,01 1296,7201 3,5838
0,027770064
50 110,9 31,77 1009,3329 3,4585
0,031476235
55 110,9 28,04 786,2416 3,3336
0,035663338
60 110,9 24,74 612,0676 3,2084
0,040420372

Data tersebut dapat digunakan untuk mencari nilai k dengan integral metode grafik
maupun non grafik sebagai berikut.


1. METODE INTEGRAL GRAFIK
Orde 1 : Hubungan antara ln(a-x) terhadap waktu.











Orde 2: Hubungan antara 1/(a-x) terhadap waktu.













Dari kedua grafik diatas, diketahui bahwa yang paling memenuhi syarat ialah
grafik pada orde 1 ditinjau dari nilai gradien(m) menunjukkan nilai k serta nilai R
2
adalah
y = -0,025x + 4,708
R = 1
0
1
2
3
4
5
0 20 40 60 80
l
n

(
a
-
x
)

waktu (t)
Grafik Orde 1
y = 0.0005x + 0.0048
R = 0.9653
0
0.005
0.01
0.015
0.02
0.025
0.03
0.035
0.04
0.045
0 10 20 30 40 50 60 70
1
/
(
a
-
x
)

Waktu (t)
Grafik Orde 2
sama dengan 1. Sehingga dalam hal ini diketahui dari grafik didapatkan harga k sebesar
0,025 dan orde reaksinya adalah satu. Sehingga persamaan laju inversi gula ini adalah:
ln (a-x) = 1 0,025t dan v = 0,025 [x]

Dengan menggunakan formula differensial untuk

Maka didapat rumus tetapan laju k bagi inversi gula, yaitu:

Dimana, k = tetapan konsentrasi laju reaksi
a = konsentrasi mula-mula
(a-x) = konsentrasi setiap reaksi
t = waktu
Sehingga dapat dihitung konstanta atau tetapan konsentrasi laju reaksi gula tiap 5 menit.

2. METODE INTEGRAL NON GRAFIK
Orde 1. Untuk mencari harga k dapat digunakan rumus :
( )
( )
ln
ln
a
kt
a x
a
a x
k
t
=

=


t = 5 menit
025 , 0
5
1331 , 1
5
87 , 97
9 , 110
ln
1
1
= =
=
k
k

t = 10 menit
025 , 0
5
2840 , 1
5
37 , 86
9 , 110
ln
1
1
= =
=
k
k

t = 15 menit
025 , 0
5
45499 , 1
5
22 , 76
9 , 110
ln
1
1
= =
=
k
k

t = 20 menit t =25 menit t =30 menit
( )
dx
k a x
dt
=
( )
ln
a
a x
k
t

=
025 , 0
5
6487 , 1
5
22 , 76
9 , 110
ln
1
1
= =
=
k
k

025 , 0
5
8682 , 1
5
36 , 59
9 , 110
ln
1
1
= =
=
k
k

025 , 0
5
1170 , 2
5
39 , 52
9 , 110
ln
1
1
= =
=
k
k

t =35 menit
025 , 0
5
3988 , 2
5
23 , 46
9 , 110
ln
1
1
= =
=
k
k

t =40 menit
025 , 0
5
7182 , 2
5
8 , 40
9 , 110
ln
1
1
= =
=
k
k

t =45 menit
025 , 0
5
0802 , 3
5
01 , 36
9 , 110
ln
1
1
= =
=
k
k

t =50 menit
025 , 0
5
49 , 3
5
77 , 31
9 , 110
ln
1
1
= =
=
k
k

t =55 menit
025 , 0
5
955 , 3
5
04 , 28
9 , 110
ln
1
1
= =
=
k
k

t =60 menit
025 , 0
5
4816 , 4
5
74 , 24
9 , 110
ln
1
1
= =
=
k
k


Dari perhitungan menggunakan rumus orde 1 tersebut dihasilkan nilai k yang sama atau
konstan. Hal ini membuktikan bahwa orde reaksi inversi gula adalah berorde 1.
















BAB IV
KESIMPULAN

Kesimpulan yang dapat diperoleh dari percobaan ini adalah :
1. Pada percobaan ini terjadi hidrolisis gula menjadi glukosa dan fruktosa ditandai dengan
sudut putar dari waktu ke waktu menurun secara berturut turut.
2. Pada percobaan ini orde reaksi yang terjadi adalah orde reaksi satu (pseudo) karena laju
reaksi hanya tergantung pada satu kosentrasi saja yaitu [C
12
H
22
O
11
] sedangkan H
2
O
tidak berpengaruh dalam reaksi tersebut.
































DAFTAR PUSTAKA

Lailatul. 2011. PAPER LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIKA III INVERSI GULA.
http://www.scribd.com/doc/73241057/Paper-Inversi-Gula-2003 (27 Oktober
2012)
Sonny. 2011. LAJU INVERSI GULA. http://www.scribd.com/doc/69515637/Laporan-KF-
03 (27 Oktober 2012)
Reski Wahyudi, Udin.2011. Polarimeter. http://www.wahyudi.blogspot.com (27
Oktober 2012)
Tim. 2012. PANDUAN PRAKTIKUM KIMIA FISIKA III. Surabaya : Unesa Press
Yanuarin. 2011. MAKALAH KF REV. http://www.scribd.com/doc/87036221/Makalah-
KF-Rev#download (27 Oktober 2012)