Anda di halaman 1dari 6

BAB I PENDAHULUAN 1.1 1.2 Latar Belakang Rumusan Masalah a. Apakah yang penyebab inersia uteri? b.

Siapa saja yang beresiko mengalami inersia uteri? c. Kapan ibu mengalami inersia uteri? d. Mengapa Insersia uteri dapat terjadi? e. Bagaimana penanganan Inersia uteri? 1.3 Tujuan a. Mengetahui pengertian dari inersia uteri sebagai penyulit dan komplikasi persalinan b. Mengetahui etiologi dari inersia uteri sebagai penyulit dan komplikai persalinan c. Mengetahui diagnosa dari inersia uteri sebagai penyulit dan komplikasi persalinan d. Mengetahui komplikasi lain yang disebabkan oleh inersia uteri sebagai penyulit dan komplikasi persalinan e. Mengetahui penanganan dari inersia uteri sebagai penyulit dan komplikasi persalinan.

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Pengertian Distosia kelainan tenaga / his adalah his tidak normal dalam kekuatan / sifatnya menyebabkan rintangan pada jalan lahir, dan tidak dapat diatasi sehingga menyebabkan persalinan macet (Prof. Dr. Sarwono Prawirohardjo, 1992).

Menurut Prof. dr. Ida Bagus Gde Manuaba (1998) dalam persalinan diperlukan his normal yang mempunyai sifat : 1. Kontraksi otot rahim mulai dari salah satu tanduk rahim. 2. Fundal dominan, menjalar ke seluruh otot rahim 3. Kekuatannya seperti memeras isi rahim 4. Otot rahim yang telah berkontraksi tidak kembali ke panjang semula sehingga terjadi retraksi dan pembentukan segmen bawah rahim. Jenis-jenis kelainan his menurut Prof. dr. Sarwono Prawirohardjo (1992) : 1. His Hipotonik (hypotonic uterine contraction) His hipotonik disebut juga inersia uteri yaitu his yang tidak normal, fundus berkontraksi lebih kuat dan lebih dahulu dari pada bagian lain. Kelainan terletak pada kontraksinya yang singkat dan jarang. Selama ketuban utuh umumnya tidak berbahaya bagi ibu dan janin. Hisnya bersifat lemah, pendek, dan jarang dari his normal. Inersia uteri dibagi menjadi 2, yaitu : a. Inersia uteri primer Bila sejak awal kekuatannya sudah lemah dan persalinan berlangsung lama dan terjadi pada kala I fase laten. b. Inersia uteri sekunder Timbul setelah berlangsung his kuat untuk waktu yang lama dan terjadi pada kala I fase aktif. His pernah cukup kuat tetapi kemudian melemah. Dapat ditegakkan dengan melakukan evaluasi pada pembukaan. Pada bagian terendah terdapat kaput, dan mungkin ketuban telah pecah. Dewasa ini persalinan tidak dibiarkan berlangsung sedemikian lama sehingga dapat menimbulkan kelelahan otot uterus, maka inersia uteri sekunder ini jarang ditemukan. Kecuali pada wanita yang tidak diberi pengawasan baik waktu persalinan.

2.2

Etiologi

Menurut Prof. dr. Sarwono Prawirohardjo (1992) penyebab inersia uteri yaitu : 1. Kelainan his terutama ditemukan pada primigravida, khususnya primigravida tua. 2. Inersia uteri sering dijumpai pada multigravida. 3. Faktor herediter 4. Faktor emosi dan ketakutan 5. Salah pimpinan persalinan 6. Bagian terbawah janin tidak berhubungan rapat dengan segmen bawah uterus, seperti pada kelainan letak janin atau pada disproporsi sefalopelvik 7. Kelainan uterus, seperti uterus bikornis unikolis 8. Salah pemberian obat-obatan, oksitosin dan obat penenang 9. Peregangan rahim yang berlebihan pada kehamilan ganda atau hidramnion 10. Kehamilan postmatur 2.3Diagnosa Menurut Prof. dr. Sarwono Prawirohardjo (1992) diagnosis inersia uteri paling sulit dalam masa laten sehingga diperlukan pengalaman. Kontraksi uterus yang disertai rasa nyeri, tidak cukup untuk membuat diagnosis bawah persalinan sudah mulai. Untuk sampai pada kesimpulan ini diperlukan kenyataan bahwa sebagai akibat kontraksi itu terjadi perubahan pada serviks, yaitu pendataran atau pembukaan. Kesalahan yang sering terjadi pada inersia uteri adalah mengobati pasien padahal persalinan belum dimulai (False Labour). 2.4 Komplikasi Yang Mungkin Terjadi

Inersia uteri dapat menyebabkan persalinan akan berlangsung lama dengan akibat terhadap ibu dan janin yaitu infeksi, kehabisan tenaga dan dehidrasi. (Buku Obstetri Fisiologi, UNPAD, 1983).

2.5

Penanganan Prf. Dr. Sarwono Prawirohardjo penanganan atau

Menurut

penatalaksanaan inersia uteri adalah : 1. Pengukuran tekanan darah tiap 4 jam, dan lebih sering apabila ada gejala preeklampsia 2. Denyut jantung janin dicatat setiap setengah jam dalam kala I dan lebih sering dalam kala II 3. Periksa keadaan serviks, presentasi dan posisi janin, turunnya bagian terbawah janin dan keadaan janin. 4. Bila kepala sudah masuk PAP, anjurkan pasien untuk jalan-jalan. 5. Buat rencana untuk menentukan sikap dan tindakan yang akan dikerjakan misalnya pada letak kepala : a. Berikan oksitosin drips 5-10 satuan dalam 500 cc dextrose 5%, dimulai dengan 12 tetes permenit, dinaikkan 10-15 menit sampai 40-50 tetes permenit. Tujuan pemberian oksitosin adalah supaya serviks dapat membuka. b. Pemberian okstisosin tidak usah terus menerus. Bila tidak memperkuat his setelah pemberian oksitosin beberapa lama hentikan dulu dan anjurkan ibu untuk istirahat. Kemudian dicoba lagi untuk beberapa jam, kalau masih tidak ada kemajuan, lebih baik dilakukan seksio sesarea. c. Bila inersia uteri diserati disproporsi sefalopelvis (CPD) maka sebaiknya dilakukan seksio sesaria. d. Bila semula his kuat tetapi kemudian terjadi inersia uteri sekunder, ibu lemah, dan partus telah berlangsung lebih dari 24 jam pada primi dan 18 jam pada multi tidak ada gunanya memberikan oksitosin drips. Sebaiknya partus segera diselesaikan sesuai dengan hasil pemeriksaan dan indikasi obstetrik lainnya (Ekstrasi vakum, forcep dan seksio sesaria).

BAB III PENUTUP 3.1Kesimpulan Inersia Uteri adalah kelainan his dengan kekuatan yang lemah atau tidak adekuat untuk melakukan pembukaan serviks atau mendorong anak keluar. Inersia Uteri sering di jumpai pada penderita dengan keadaan umum kurang baik seperti anemia, uterus yang terlalu terenggang misalnya karena hidramion atau kehamilan kembar, serta pada penderita yang keadaan emosinya kurang baik. Inersia uteri terbagi menjadi dua yaitu inersia primer dan sekunder. Untuk mendiagnosis apakah ibu mengalami inersia uteri atau tidak harus dilakukan penilaian yang seksama karena rasa nyeri yang timbul akibat kontraksi tidak cukup untuk dijadikan sebagai dasar untuk menentukan apakah ibu mengalami inersia uteri. Ibu yang mengalami inersia uteri dapat menimbulkan partus lama, sehingga dapat terjadi infeksi pada ibu dan janin. Ibu yang mengalami inersia uteri dengan disporposi sefalopelvik tidak perlu diberikan oksitosin tetapi harus dilakukan seksio sesarea. Sedangkan pada ibu yang mengalami inersia uteri dan tidak disertai dengan disporposi sefalopelvik dapat diberikan oksitosin drips sebanyak 5-10 satuan yang dicampur dengan dextrose 500ml. Apabila dengan pemberian oksitosin tidak mengalami kemajuan selama 24 jam maka sebaiknya dilakukan sesksio sesarea. 3.2 Saran Guna memberikan keberhasilan dalam memberikan asuhan kebidanan persalinan dan bayi baru lahir, penulis mengharapkan kepada mahasiswi jurusan kebidanan untuk lebih memahami penyebab terjadinya inersia uteri sehingga dapat memberikan asuhan yang tepat agar ibu dan janin dapat tertolong dengan selamat. 5