Anda di halaman 1dari 23

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN GASTROENTERITIS

1. PENGERTIAN Gastroenteritis adalah kondisi dimana terjadi frekuensi defekasi yang tidak biasa (lebih dari 3 kali sehari, juga perubahan dalam jumlah dan konsistensi (feses cair). (Brunner and Suddart, 2000). Gastroenteritis adalah frekuensi buang besar lebih dari 4x sehari pada bayi dan lebih dari 3x sehari pada anak dengan konsistensi feces cair/encer berwarna hijau/ dapat pula bercampur lender dan darah atau lender saja. (Ngastiyah, 2005) Diare adalah dimana terjadi frekuensi defekasi yang abnormal (lebih dari 3x per hari) serta perubahan dalam isi (lebih dari 200gr/hari) dan konsistensi feses cair. (Smeltzer,2001:1093). Diare adalah buang air besar (defekasi dengan tinja berbentuk cair atau setengah cair (setengah padat),kandungan air tinja lebih bnyak dari biasanya lebih dari 200 gram atau 200ml/24 jam.Definisi lain memakai criteria frekuensi,yaitu buang air encer lebih dari 3 kali per hari. Buang air besar tersebut dapat/tanpa disretai lender dan darah.(Sudoyo,2007:408). Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan jumlah tinja yang lebih banyak dari biasanya (normal 100 200 ml per jam tinja), dengan tinja berbentuk cairan atau setengah cair (setengah padat) dapat pula disertai frekuensi yang meningkat. (Arif Mansjoer, 2000 ). 2. ETIOLOGI 1. Faktor Infeksi a. Infeksi enteral : infeksi saluran cerna yang merupakan penyebab utama diare pada anak. - Infeksi bakteri patogen : salmonella, shigella, eschercia colli, vibris colerae - Infeksi bakteri non patogen : staphilococus albus, streptococus, proteus klebaella, pseudomonas. - Infeksi virus enterovirus (polio, cock sack, ECHO) adenovirus, arbovirus. - Infeksi parasit : cacing ascaris, trichiuris, strongloides. - Infeksi jamur : cahaida (monilla) b. Infeksi purenteral : infeksi di luar alat pencernaan makanan Contoh : otitis medis akut, tonsila faringitis, bronkitis, ensefalitis 2. Faktor Malabsorpsi - Malabsorbsi karbohidrat - Malabsorbsi lemak - Malabsorbsi protein 3. Faktor Makanan Misal : makanan basi, beracun, alergi terhadap makanan. 4. Faktor Psikologis Misal : rasa takut, cemas dan stres (Mansjoer, arif. 2000) 3. KLASIFIKASI Berdasarkan keadaan klinik, dehidrasi dapat dibagi 3 (Soeparman, 1997): a. Dehidrasi ringan Kehilangan cairan 2-5% dari berat badan Gambaran klinis: dehidrasi, turgor kurang, suara serak, penderita belum jatuh dalam keadaan preshock.

b. Dehidrasi sedang Kehilangan cairan 5-10% dari berat badan. Gambaran klinis: turgor jelek, serak, penderita jatuh, preshock, nadi cepat, nafas cepat dan dalam. c. Dehidrasi berat Kehilangan cairan lebih dari 10% dari berat badan Gambaran klinis: turgor jelek, serak, penderita jatuh preshock atau shock nadi cepat, nafas cepat dan dalam, kesadaran menurun, otot kaku, sianosis. Gejala dehidrasi (Sagung Seto, 2005) Gejala Hepatonik Rasa haus BB Menurut sekali Turgor kulit Menurun sekali Kulit, Selaput lendir Basah Gejala SSP Apatis Nadi Sangat lemah Tekanan darah Banyak kasus Sangat rendah 10-30%

Isotonik Menurun Menutup Kering Jelek Cepat dan lemah Rendah 70%

Hipertonik Menurun Tidak jelas Kering sekali Relatif masih baik Cepat dan keras Rendah 10-20%

Perhitungan balance = input - output Jumlah cairan yang masuk (input), terdiri dari : 1. Air (makanan, minuman) 2. Cairan infus 3. Air metabolisme 4. Injeksi Jumlah cairan yang keluar (output), terdiri dari : 1. Urine 2. IWL 3. Feses 4. Muntah, perdarahan, cairan drain, NGT Catatan : IWL = 10 cc / kg BB/hari Air metabolisme = 5 cc/kg BB/hari 4. PATOFISIOLOGI Menurut Brunner dan Suddarth (2002) mekanisme yang menyebabkan diare adalah sebagai berikut: 1) Diare sekresi biasanya diare dengan volume banyak disebabkan oleh peningkatan produksi dan sekresi air serta elektrolit oleh mukosa usus ke dalam lumen usus. 2) Diare osmotik terjadi bila air terdorong ke dalam usus oleh tekanan osmotik dari partikel yang tidak dapat diabsorbsi, sehingga reabsorbsi air menjadi lambat. 3) Diare campuran disebabkan oleh peningkatan kerja peristaltik dari usus (biasanya karena penyakit usus inflamasi) dan kombinasi peningkatan skresi atau penurunan absorbsi dalam usus. Penyebab gastroenteritis akut adalah masuknya virus (Rotravirus, Adenovirus enteris, Virus Norwalk), Bakteri atau toksin (Compylobacter, Salmonella, Escherihia Coli, Yersinia dan lainnya), parasit (Biardia Lambia, Cryptosporidium). Beberapa mikroorganisme patogen ini menyebabkan

infeksi pada sel-sel, memproduksi enterotoksin atau Cytotoksin dimana merusak sel-sel, atau melekat pada dinding usus pada Gastroenteritis akut. Penularan Gastroenteritis bias melalui fekal-oral dari satu penderita ke yang lainnya. Beberapa kasus ditemui penyebaran patogen dikarenakan makanan dan minuman yang terkontaminasi. Gastroenteritis, yang terjadi merupakan proses dari Transfor aktif akibat rangsangan toksin bakteri terhadap elektrolit ke dalam usus halus. Sel dalam mukosa intestinal mengalami iritasi dan meningkatnya sekresi cairan elektrolit. Mikroorganisme yang masuk akan merusak sel mukosa intestinal sehingga menurunkan area permukaan intestinal dan terjadi gangguan absorpsi cairan elektrolit. Mekanisme dasar yang menyebabkan timbulnya diare adalah: 1. Gangguan osmotik Akibat terdapatnya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan osmotik meninggi, sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit ke dalam rongga usus yang berlebihan ini akan merangsang usus untuk mengeluarkannya sehingga timbul diare. 2. Gangguan sekresi Akibat rangsangan tertentu (misalnya toksin) pada dinding usus akan terjadi peningkatan sekresi air dan elektrolit ke dalam rongga usus dan selanjutnya diare timbul karena terdapat peningkatan isi rongga usus. 3. Gangguan motilitas usus Hiperperistaltik akan mengakibatkan berkurangnya kesempatan usus untuk menyerap makanan, sehingga timbul diare. Sebaliknya jika peristaltik menurun akan mengakibatkan bakteri tumbuh berlebihan yang selanjutnya akan menimbulkan diare.

5. PATHWAY Parasit bakteri/toksin virus

Masuk ke dalam sistem pencernaan melalui makanan Infeksi pada sel-sel usus/melekat pada dinding usus Transfor aktif Sel dalam mukosa interstinal mengalami iritasi Peningkatan sekresi cairan elektrolit Hiperperistaltik/motilitas usus Gangguan absorbs cairan dan elektrolit GASTROENTERITIS

Diare dg frekuensi > 3x/hari

Absorsi air, cairan, zat makin menurun Eksresi air, elektrolit, zat meningkat Keluar bersama feses dg keenceran yg meningkat MK : perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

Peningkatan asam lambung Mual, muntah

Distensi Abdomen MK : Nyeri akut

Iritasi pada usus Peradangan pada usus

dehidrasi

Turgor kulit menurun, mata cekung, haus MK : kekurangan volume cairan dan elektrolit

Syock hipovolemi Perfusi ginjal menurun

MK : Hipertermi

Nekrosis tubulus ginjal

Gagal Ginjal

6. MANIFESTASI KLINIS Manifestasi Klinis (Ngastiyah, 2005) a. Diare (BAB, lember, cair) 1) Faktor osmotik disebabkan oleh penyilangan air ke rongga usus dalam perbandingan isotonic, ketidakmampuan larutan mengabsorbsi menyebabkan tekanan osmotik menghasilkan pergeseran cairan dan Iodium ke rongga usus. 2) Penurunan absorbsi atau peningkatan sekresi sekunder ait dan elektrolit. Peningkatan ini disebabkan sekresi sekunder untuk inflamasi atau sekresi aktif sekunder untuk merangsang mukosa usus. 3) Perubahan mobiliti Hiperistaltik atau hipoperistaltik mempengaruhi absorpsi zat dalam usus. b. Mual, muntah dan panas (suhu > 370C) Terjadi karena peningkatan asam lambung dan karena adnaya peradangan maka tubuh juga akan berespon terhadap peradangan tersebut sehingga suhu tubuh meningkat. c. Nyeri perut dan kram abdomen Karena adanya kuman-kuman dalam usus, menyebabkan peningkatan peristaltik usus dan efek yang timbul adanya nyeri pada perut atau tegangan atau kram abdomen. d. Peristaltik meningkat (> 35x/menit) Akibat masuknya patogen menyebabkan peradangan pada usus dan usus berusaha mengeluarkan ioxin dan meningkatkan kontraksinya sehingga peristaltik meningkat. e. Penurunan berat badan Terjadi karena sering BAB encer, yang mana feses marah mengandung unsur-unsur penting untuk pertumbuhan dan perkembngan sehingga kebutuhan nutrisi kurang terpenuhi. f. Nafsu makan turun Terjadi karena peningkatan asam lambung untuk membunuh bakteri sehingga tumbuh mual dan rasa tidak enak. g. Turgor kulit menurun dan membran mukosa kering Karena banyak cairan yang hilang dan pemasukan yang tidak adekuat. h. Mata cowong Adanya ketidakseimbangan cairan tubuh dan peningkatan tekanan osmotik mengakibatkan beberapa jaringan kekurangan cairan dan oksigen. i. Gelisah dan rewel Ini terjadi karena kompleksitas dari tanda klinis yang dirasakan penderita sehingga tubuh tidak merasa nyaman sebab adanya ketidak homeostasis dalam tubuh. j. Kesadaran menurun Gejala klinis 10,11,12 terjadi karena penurunan cairan tubuh yang mengakibatkan kerja jantung ditingkatkan untuk memenuhi kebutuhan O2 dan nutrisi sistemik sehingga denyut jantung cepat, nadi cepat tapi lemah, disebabkan peningkatan denyut jantung dengan peningkatan kepekaan dan tekanan osmotik plasma darah. Efeknya ginjal berusaha ineretensi air dengan mencegah eksresi Na sehingga urine pekat dan Na meningkat dengan cairan sirkulasi yang buruk dampaknya otak kekurangan O2 dan nutrisi sehingga pusat kesadaran hipotalamus terganggu. 7. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK Menurut Brunner dan Suddarth (2002), pemeriksaan diagnostik yang harus dilakukan untuk mengetahui penyebab diare adalah: a. Hitung darah lengkap b. Sifat kimia

c. Urin analisis d. Pemeriksaan feses rutin serta pemeriksaan feses untuk organisme infeksius atau parasit e. Proktosigmoidoskopi dan enema berium. Uji laboratorium (Betz, Cecily L. Edisi 3, 2002) a. Hematoseses untuk memeriksa darah (lebih umum pada bakterial) b. Evaluasi feses terhadap volume, warna, konsistensi, adanya pus c. Hitung darah lengkap dengan deferensial d. Uji antigen imonoesei enzim untuk memastikan rota virus e. Kultur feses (jika anak dihospitalisasi, pus dalam feses atau diare yang berkepanjangan) untuk menemukan patogen f. Evaluasi feses terhadap telur cacing dan parasit g. Aspirasi duodenum (jika diduga G. Lamblia) h. Urinalisis dan kultur (berat jenis bertambah karena dihidrasi, organisme, shigella keluar melalui urine)

8. PENATALAKSANAAN Penatalaksanaan gastroenteritis menurut Sudoyo (2002) berupa rehidrasi, dan medikamentosa. 1. Rehidrasi Oral atau Intravena a. Cairan per oral: Cairan yang diberikan peroral berupa cairan yang berisikan NaCl, dan Na, HCO, Kal dan Glukosa b. Cairan Parentral. 1) Dehidrasi Ringan: 1 jam pertama 25 50 ml/kgBB/hari, kemudian 125 ml/kgBB/oral. 2) Dehidrasi sedang: 1 jam pertama 50 100 ml/kgBB/oral kemudian 125ml/kgBB/hari 3) Dehidrasi berat: 1jam pertama 20 ml/kgBB/jam atau 5 tetes/kgBB/menit, 16 jam berikutnya 105 ml/kgBB oralit per oral. c. Pemasangan NGT bila kehilangan cairan berat, gagal terapi dehidrasi oral dan gagal mencoba berulang kali saat akses intra vena . 2. Medikamentosa Obat yang perlu diberikan adalah obat anti sekresi, obat anti spasmolitik dan obat antibiotik 9. KOMPLIKASI a. Dehidrasi b. Syock hipovolemik c. Kejang d. Bakterimia e. Malnutrisi f. Hipoglikemia g. Gagal ginjal

J. PENGKAJIAN PADA PASIEN GE 1. Identitas Di dalam identitas hal-hal yang perlu di kaji antara lain nama pasien, alamat pasien, umur pasien biasnya kejadian ini mencakup semua usia (lebih sering terjadi pada usia 6-11 bulan), tanggal masuk ruma sakit penting untuk di kaji untuk melihat perkembangan dari pengobatan, penanggung jawab pasien agar pengobatan dapat di lakukan dengan persetujuan dari pihak pasien dan petugas kesehatan. 2. Riwayat kesehatan a) Keluhan utama BAB cair > 4x , gelisah, rewel, anoreksia, dan suhu tubuh meningkat. b) Riwayat kesehatan sekarang Mula-mula pasien cengeng, suhu badan meningkat, nafsu makan menurun, kemudian timbul diare. Tinja cair dengan atau tanpa darah/lendir, warna makin lama berubah menjadi kehijauan. Gejala muntah bisa timbul sebelum atau sesudah diare. c) Riwayat penyakit dahulu Anak pernah menderita penyakit campak atau tidak. d) Riwayat kesehatan keluarga 3. Data focus pengkajian Pengkajian data dasar pasien gastroenteritis menurut Doengoes (2000) yaitu: a. Aktivitas / Istirahat Gejala: Kelemahan, kelelahan, malaise, pembatasan aktivitas sehubungan dengan efek proses penyakit. b. Integritas Ego Gejala: Ansietas, ketakutan, emosi kesal, perasaan tidak berdaya/ tidak ada harapan, faktor stress akut/ kronis misalnya: hubungan keluarga, pengobatan yang mahal, faktor budaya, peningkatan prevelensi pada populasi, menolak, perhatian menyempit, depresi. c. Eliminasi Gejala: Episode diare yang tidak dapat disekresikan, hilang timbul, sering tidak terkontrol, flatus lembut dan semi cair : bau busuk dan berlemak (steneatorea), melena, konstipasi hilang timbul. d. Nutrisi/ Cairan Gejala: anorexia, mual, muntah, penurunan berat badan, tidak toleran terhadap diare/ sensitif misalnya produk susu/ makanan berlemak, kelemahan, tonus otot dan turgor kulit buruk, membran mukosa kering. e. Hygiene Gejala: ketidakmampuan mempertahankan perawatan diri, bau badan. f. Nyeri/ Kenyamanan Gejala: nyeri tekan abdomen dengan nyeri kram pada kuadran kanan bawah: nyeri abdomen tengah, nyeri tekan menjalar ke bagian periumbilikal, titik nyeri berpindah, nyeri tekan arthritis, nyeri mata, fotopobia, iritasi, distensi abdomen. g. Keamanan Gejala : riwayat lupus eritematosus, anemia hemolitik, peningkatan suhu 39,640C (eksaserbasi akut) 4. Pemeriksaan penunjang Pemeriksaan tinja makroskopis dan mikroskopis: a) PH dan kadar gula dalam tinja dengan kertas lakmus dan tablet dinistet bila diduga terdapat intoleransi gula
b) Pemeriksaan gangguan keseimbangan asam basa dalam darah

c) Pemeriksaan kadar ureum dan kreatinin untuk mengetahui faal ginjal d) Pemeriksaan elektrolit terutama kadar natrium, kalium, kalsium dan fosfor dalam serum (terutama pada penderita diare yang disertai kejang)

K. KEMUNGKINAN DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNCUL 1. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan output yang berlebihan melalui diare dan muntah. 2. Nyeri akut berhubungan dengan distensi abdomen 3. Hipertemia berhubungan dengan dehidrasi. 4. Resiko perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan gangguan absorpi nutrien. 5. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan abnormalitas metabolik atau ketidak seimbangan asam basa. 6. Resiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan iritasi,frekwensi BAB yang berlebihan. 7. Cemas berhubungan dengan hospitalisasi, perpisahan dengan orang tua, dan prosedur yang menakutkan.

L. NURSING CARE PLANNING No Diagnosa Tujuan . Keperawat an 1. Kekuranga Setelah dilakukan n volume intervensi cairan keperawatan berhubunga diharapkan pasien n dengan mampu output yang mempertahankan berlebihan volume cairan melalui adekuat. diare dan muntah

Kriteria Hasil Tanda-tanda vital DBN (ND : 60-100 x/i RR : 25-30 x/i (umur 1-3 tahun) S :36,5-37,5 oC) Membran mukosa lembab. Turgor kulit membaik. Keseimbangan masukan dan haluaran dengan urin normal dalam konsentrasi/jumla h (0,5-1cc/kg BB/jam).\ CRT < 2 detik. Mata tidak cekung.

Intervensi

Rasional

Mandiri : 1. Kaji tanda vital (TD, nadi, suhu).

2. Awasi masukan haluaran, karakter, dan jumlah feses ; perkirakan kehilangan yang tak terlihat misalnya berkeringat. Ukur berat jenis urine ; observasi

1. Hipotensi (termasuk postural), takikardial, demam dapat menunjukan respon terhadap dan/ atau efek kehilangan cairan. 2. Memberikan informasi tentang keseimbangan cairan. Fungsi ginjal dan control penyakit usus juga merupakan pedoman untuk penggantian

oliguria. 3. Anjurkan klien untuk banyak minum

cairan.

3. Untuk mengganti cairan tubuh yang hilang.

Observasi : 4. Observasi kulit kering berlebihan dan membran mukosa, penurunan turgor kulit, pengisian kapiler lambat. Kolaborasi : 5. Berikan cairan parenteral sesuai indikasi. 4. Menunjukan kehilangan cairan berlebih atau dehidrasi.

5. Mempertahanka n istirahat usus akan memerlukan penggantian

10

cairan untuk memperbaiki kehilangan. Catatan : cairan mengandung natrium dapat dibatasi pada adanya enteritis regional.

6. Berikan obat antiemetic misalnya trimetobenza mida (tigan) ; hidroksin (pistaril) ; proklorperasi n (kompazine). 7. Berikan cairan Elektrolit misalnya tambahan

6. Digunakan untuk mengontrol mual/muntah pada heksaserbasi akut.

7. Elektrolit hilang dalam jumlah besar, khususnya pada usus yang

11

kalium (LCIIP : K-lyte, slow-K).

gundul, area ulkus, dan diare dapat juga menimbulkan asedosis metabolit karena kehilangan bikarbonat (HCO3). (vitamin K mephyton)

8. Kaji hasil tes fungsi elektrolit/ginj al.

8. Perpindahan cairan / elektrolit, penurunan fungsi ginjal dapat meluas mempengaruhi penyembuhan pasien/prognosi s dan memerlukan intervensi tambahan.

12

9. Tambahkan kalium, oral atau iv sesuai indikasi.

9. Dapat diperlukan untuk mencegah disritmia jantung.\

10. Lakukan penyuluhan kepada klien dan keluarga klien tentang penyakit

10. Untuk menambah pengetahuan pasien dan keluarga tentang penyakit gastroenteritis agar dapat mempercepat proses pengobatan.

Hipertemia berhubunga n dengan dehidrasi.

Setelah dilakukan intervensi keperawatan diharapkan suhu

Membran mukosa Mandiri : 1. Kaji suhu lembab. pasien (derajat Turgor kulit baik, kulit dan pola) ; tidak kemerahan.

1. Suhu 38,9-41,1 C menunjukan proses penyakit

13

tubuh pasien kembali normal

TTV DBN ND ; 60-100x/i S;36,5-37,5 oC RR ;16-24x/i (sesuai usia anak)

perhatikan mengigil/diapo rosis.

impesius akut. Pola demam dapat membantu dalam dianogsis. 2. Selain untuk mengganti cairan tubuh yang hilang, juga berguna untuk menurunkan suhu tubuh klien. 3. Kompres air hangat berguna untuk menrunkan suhu tubuh klien.

2. Anjurkan klien untuk banyak minum (sesuai derajat dehidrasi)

3. Anjurkan keluarga untuk memberi kompres air hangat pada klien.

4. Anjurkan klien untuk menggunakan pakaian yang tipis atau membuka

4. Mencegah kenaikan suhu tubuh klien.

14

pakaian klien dengan tetap menjaga privacy klien. 5. Kaji suhu lingkungan dan modifikasi sesuai kebutuhan, misalnya sediakan selimut penghangat atau pendingin. 5. Dapat membantu dalam menstabilkan atau mempertahankan suhu tubuh klien.

Observasi : 6. Obervasi 6. Untuk mencegah keadaan umum terjadinya klien/kesadara peningkatan suhu n, suhu klien, tubuh melebihi dan tanda38oC, karna tanda peningkatan suhu terjadinya tubuh yang komplikasi terlalu tinggi kejang dapat

15

menyebabkan lepasan muatan listrik yang berlebihan sehingga berakibat kejang. 7. Observasi TD, RR, dan Nadi klien 7. Mencegah terjadinya fluktuasi tekanan darah, nadi cepat atau nadi lemah.

Kolaborasi : 8. Berikan obat antipiretik

8.

Digunakan untuk mengurangi demam dengan aksi centralnya pada hipotalamus

9. Pasangkan alat blanketrol pada pasien

9. Untuk mengatur suhu tubuh klien agar tetap stabil dengan menggunakan mesin blanketrol.

16

Penkes : 10. Lakukan penyuluhan tentang cara mengatasi suhu tubuh pada klien secara mandiri oleh keluarga 3. Nyeri akut berhubunga n dengan distensi abdomen Setelah diberikan asuhan keperawatan diharapkan nyeri pasien berkurang/terkont rol Mandiri : Klien rileks Klien melaporkan hilang 1. Dorong pasien untuk atau terkontrol. melaporkan Pasien tampak nyeri. rileks/mampu istirahat dengan tepat. Pasien tidak gelisah. 2. Kaji nyeri dengan PQRST

10. Untuk mempercepat proses kesembuhan klien

1. Mencoba untuk mentoleransi nyeri, dari pada meminta analgesic. 2. Untuk mengetahui penyebab nyeri, kualitas, berat ringanya nyeri, faktor memperburuk dan meringankan serta waktu atau

17

durasi terjadinya nyeri. 3. Kaji laporan keram abdomen atau nyeri, catat lokasi, lamanya, intensitas (skala 0-10). Selidiki dan laporkan perubahan karakteristik nyeri. 3. Nyeri kulit hilang timbul pada penyakit crohn. Nyeri sebelum defekasi sering terjadi pada KU dengan tiba-tiba, dimana dapat berat dan terus menerus. Perubahan pada karakteristik nyeri dapat menunjukan penyebaran penyakit/terjadin ya komplikasi, misalya pistula kandung kemih, perporasi, toksik megakolon.

18

4. Catat petunjuk non verbal misalnya gelisah, menolak untuk bergerak, berhati-hati dengan abdomen, menarik diri dan depresi. Selidiki perbedaan penunjuk verbal dan non verbal.

4. Bahasa tubuh/petunjuk non verbal dapat secara psikologis dan visiologis dan dapat digunakan pada hubungan petunjuk verbal untuk mengidentifikasi luas dari beratnya masalah

5. Kaji ulang factor-faktor yang meningkatkan atau menghilangkan nyeri.

5. Dapat menunjukan dengan tepat pencetus factorfactor pemberat (seperti kejadian stress, tidak toleran terhadap makanan) atau

19

mengidentifikasi terjadinya komplikasi. 6. Izinkan pasien untuk memulai posisi yang nyaman misalnya lutut fleksi. 6. Menurunkan tegangan abdomen dan meningkatkan rasa control.

7. Ajarkan pasien /dorong untuk menggunakan visualisasi/bim bingan imajinasi, relaksasi napas dalam. 8. Lakukan tekhnik distraksi nyeri/pengaliha n nyeri

7. Meningkatkan relaksasi dan nafas sehat.

8. Tidak memfocuskan pada nyeri dapat mengurangi rasa nyeri dan meningkatkan

20

keyamanan.

Observasi : 9. Observasi TTV klien

9. Nyeri hebat yang dirasakan klien dapat meningkatkan TTV klien terutama nadi.

Kolaborasi : 10. Berikan obat analgetik sesuai indikasi.

10. Nyeri bervariasi dari ringan sampai berat dan perlu penanganan untuk memudahkan istirahat ade kuat dan penyembuhan

21

22

DAFTAR PUSTAKA Marylin, Dongoes E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. Ed. 8. Jakarta : EGC.

23