Anda di halaman 1dari 14

Unsur instrinsik& ekstrinsik Cerita Rakyat

Materi Kelas X

Unsur instrinsik cerita rakyat : Tema ( tema adalah cuplikan kehidupan yang melatarbelakangi terjadinya suatu cerita baik cerita rakyat, legenda, mite, fabel atau cerpen/cerber (cerita bersambung) Amanat (amanat adalah pesan moral yang ingin dapat ditarik oleh pembaca setelah usai membaca suatu cerita rakyat. Amanat dapat berupa pesan sosial, keagamaan, atau kemanusiaan. Tokoh (tokoh adalah orang-orang yang berperan dalam cerita) Penokohan (penokohan adalah watak yang dimiliki oleh tokoh-tokoh yang berperan. Penokohan dapat bersifat stabil (tidak berubah) namun dapat juga berubah tergantung situasi, lokasi, atau kejadian yang menimpa sang tokoh) Alur (alur adalah jalan cerita rakyat). Cerita rakyat biasanya menggunakan alur maju karena belum ada perkembangan kreativitas dalam bercerita. Latar (latar atau setting terbagi menjadi tiga yakni latar

Latar suasana Raksasa sangat menginginkan timun emas, maka dengan cepatnya, ia mengejar timun emas walau ke arah hutan berduri dan di tengah malam yang sunyi.

Latar waktu Matahari masih bersemu jingga, ayam jantan masih satu-satu berkokok, dan kabut tebal masih menyelimuti bukit, namun Ande-Ande Lumut telah bersiap melawan Yuyu Kang-kang.

Latar tempat Mengapa engkau datang ke sini Cindelaras? Apakah engkau tak tahu bahwa siapa yang telah datang ke istanaku maka tak dapat keluar hiduphidup? tanya Raja dengan geram ke arah Cindelaras.

Unsur ekstrinsik
Unsur ekstrinsik adalah unsur luar cerita yang turut mempengaruhi jalannya cerita dan dapat memberikan hal positif yang dapat ditarik oleh pembaca (yang disebut sebagai nilai-nilai) Unsur ekstrinsik terbagi menjadi beberapa nilai yakni : Nilai moral (nilai yang berkaitan dengan hakikat kemanusiaan) Nilai budaya (nilai yang berkaitan dengan halhal yang bersifat turun temurun dalam suatu masyarakat) Nilai sosial (nilai yang berkaitan dengan hubungan antara manusia satu dengan manusia lainnya) Nilai politik ( nilai yang berkaitan dengan pengambilan suatu keputusan atau bersifat

Ande-Ande Lumut Disebuah kerajaan, hiduplah sepasang Raja dan Ratu. Kehidupan bahagia mereka tidak berjalan mulus karena munculnya seorang penyihir. Raja dan Ratu dikutuk dan dipisah. Akhirnya, Raja hidup di pedesaan dan berubah nama menjadi Ande-Ande Lumut. Demi mencari Ratunya, Raja tersebut membuat sayembara, barang siapa yang dapat menyebrangi sungai yang mengelilingi desanya tanpa bantuan Yuyu Kang-kang berhak menjadi isterinya. Sampailah kabar tersebut kepada keluarga Klenting. Ibu Klenting memiliki empat klenting, Klenting Merah, Hijau, Jingga, dan Kuning. Seluruh klenting sangat culas dan licik kecuali Klenting Kuning. Ia sering diperbudak oleh kakak-kakanya karena dia adalah anak bawang. Dengan sabar ia tidak melawan ketika kakak-kakanya mencoret-coret wajahnya. Akhirnya setelah mereka mendengar sayembara tersebut, seluruh Klenting berduyun-duyun menyambangi kediaman Ande-Ande Lumut. Klenting Kuning yang dilarang ikut tetap berjuang dengan mengikuti kakak-kakanya dari belakang. Ketika sampai di tepi sungai, ia bingung bagaimana menyebrangi sungai tersebut. Ia melihat kakak-kakanya diseberangi Yuyu Kangkang. Namun, Klenting Kuning tidak mau disebrangi Yuyu karena geli mencium bau badan Yuyu. Maka dengan cerdiknya, ia mengambil seutas pelepah nira dan menjadikannya sampan kecil. Sampailah ia di seberang tanpa bantuan Yuyu. Sesampainya di rumah Ande-Ande Lumut, para Klenting berbohong dengan mengatakan bahwa mereka menyebrang menggunakan perahu, namun karena bau badan Yuyu tidak hilang maka Ande-Ande tahu mereka membohonginya. Ande-Ande Lumut tahu bahwa Klenting memiliki saudara bungsu, maka ia menunggunya. Setelah Klenting Kuning sampai, maka Ande-Ande Lumut langsung melamarnya dan menjadikan isteri karena Klenting Kuning sama sekali tidak terkena Yuyu Kangkang. Kutukan itupun hilang, Ande-Ande Lumut berubah menjadi Raja kembali dan Klenting Kuning berubah menjadi Ratu. Mereka kembali ke kerajaannya dan hidup bahagia.

Nilai-nilai yang terdapat dalam cerita tersebut : Nilai moral :


(Dengan sabar ia tidak melawan ketika kakak-kakanya mencoret-coret wajahnya.) 1. Tidak melawan kepada kakak atau orang yang lebih tua. (Seluruh klenting sangat culas dan licik kecuali Klenting Kuning.) 2. Memiliki sifat atau karakter yang berbeda di tengah lingkungan yang jahat (buruk). (berbohong dengan mengatakan bahwa mereka menyebrang menggunakan perahu,) 3. Melakukan perbuatan dusta adalah kelakuan yang hina dan berdosa. Nilai budaya : (Disebuah kerajaan, hiduplah sepasang Raja dan Ratu) 1.Kerajaan selalu dipimpin olah Raja dan Ratu. (Raja tersebut membuat sayembara,) 2. Pada masyarakat dahulu, sayembara dilakukan untuk mencari jodoh. Nilai sosial : (Demi mencari Ratunya,.) 1. Mencari anggota keluarga dengan cara apapun.

Grafik dan Tabel


Grafik Ekspor Indonesia (dalam ton) Grafik dan tabel digunakan untuk membuat ringkasan dari data-data yang kompleks.10 Nikel Grafik dibentuk agar data yang ada dapat dibaca lebih efektif. Contoh grafik : Emas

Dari contoh grafik di atas, dapat dideskripsikan data : Pada tiga tahun terakhir dapat dicatat bahwa ekspor Indonesia pada tahun 2009 adalah Nikel dengan junlah 9 ton, emas 8 ton, dan tembaga 7 ton. Pada tahun 2010, terdapat 7 ton nikel, 6 ton emas, dan 5 ton tembaga yang diekspor. Pada tahun 2011, terdapat 5 ton nikel, 4 ton emas, dan 4 ton tembaga yang diekspor. Dari keseluruhan data maka dapat disimpulkan bahwa, jumlah tambang yang diekspor oleh Indonesia mengalami penurunan.

Ketika diminta untuk membaca grafik/tabel, maka pembaca harus memilih pilihan yang paling tepat (sesuai) dengan data yang terpampang dalam grafik/tabel. Pendeskripsian tabel memiliki prinsip yang sama bahkan, pembaca harus dapat menyimpulkan grafik/tabel secara keseluruhan.
Pendeskripsian data sesuai angka/nama yang terdapat dalam tabel. Penyimpulan tabel sesuai data atau pendeskripsian data yang ada.

Pembacaan grafik/tabel secara keseluruhan.

Latihan deskripsi grafik/tabel (kerjakan di buku/kertas latihan).

Perolehan Medali Emas OSN Tahun 2012


20 18 16 14 12 10 8 6 4 2 0

Matematika & Sains Kebumian & Geografi Bahasa Indonesia dan PKN

Materi kelas X

Ungkapan
Ungkapan adalah kelompok kata atau gabungan kata (frasa) yang menyatakan makna khusus. Makna satuan dari unsur-unsurnya sering kali menjadi kabur atau menjadi tidak koheren dengan makna yang dihasilkan dari bentukan baru. Contoh ungkapan : patah hati, luar kepala, buah baju, dsb. Patah hati : keadaan sedih ketika perasaan seseorang tidak berbalas. (patah : putus; hati : limfa manusia) Patah selera : hilang nafsu/tidak ingin lagi. (patah : putus; selera : keinginan) Luar kepala : sangat hapal/ingat

Contoh ungkapan : Hilang akal : gila/ keadaan pikiran yang kacau (buntu) Panjang tangan : pencuri; keinginan untuk selalu mencuri Buah tangan : oleh-oleh (cenderamata) Buah bibir : bahan pembicaraan (gossip) Buah baju : Kancing Buah hati : Anak kesayangan Panjang akal : selalu ada ide Patah lidah : tidak dapat mengucapkan apa-apa lagi Patah pucuk : tidak selesai Muka dua : orang yang munafik Darah biru : keturunan bangsawan Panjang lidah : provokator Muka tembok : orang yang tidak tahu malu Polisi tidur : gundukan yang ada di jalanan Tanggal tua : akhir bulan Darah ayam : penakut

Peribahasa
Peribahasa adalah kelompok kata atau kalimat yang tetap susunannya, biasanya mengiaskan maksud tertentu. Peribahasa berisi ungkapan atau kalimat yang ringkas berisi perbandingan, perumpamaan, nasihat, prinsip hidup atau aturan tingkah laku. Contoh peribahasa : Bagai pinang dibelah dua : Dua orang manusia yang memiliki karakter wajah atau sikap yang boleh dikatakan hampir mirip atau sama. Air hujan dari genting jatuhnya ke pelimbahan (penampungan) jua : Sifat atau karakter orang tua akan ada di anaknya. Buah tak jauh dari pohonnya : Karakter atau sikap anak tak jauh dari karakter atau sifat ayah ibunya.

Bagai mendirikan benang basah: melakukan hal yang sia-sia Air berriak tanda tak dalam : orang yang banyak cakap (omong) biasanya tidak pintar. Bagai menggantang asap : orang yang merokok menyimpan banyak penyakit di tubuhnya. Air susu dibalas air tuba : kebaikan dibalas kejahatan Bagai mencincang air: melakukan hal yang sia-sia. Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya : lain tempat lain kebudayaannya Di mana tanah dipijak, di situ langit dijunjung : kebudayaan yang ada di tempat kita tinggal harus kita hargai. Bagai kacang lupa kulitnya : orang yang tidak tahu diri. Kecil anak, besar onak : masih kecil anak-anak menyenangkan, sudah besar menyusahkan Karena nila setitik, rusak susu sebelanga : karena satu perbuatan buruk, rusak seluruh kebaikan yang ada. Bagai telur di ujung tanduk : keadaan yang sangat genting Tuhan itu dekat tak tercapai, jauh tak berantara : Hubungan dengan Tuhan dekat hanya sejauh doa.