Anda di halaman 1dari 33

1

Pertumbuhan dan Perkembangan Organ Pada Bunga


Pertumbuhan bunga biasanya dapat dibedakan dari pertumbuhan vegetatif, bahkan pada tahap awal reproduksi sudah terlihat, dengan ukuran lebih besar. Transisi dari vegetatif untuk perkembangan alat reproduksi ditandai oleh peningkatan frekuensi pembelahan sel dalam pusat zona meristem pucuk apikal. Perkembangan alat reproduksi, peningkatan ukuran meristem yang sebagian besar merupakan Hasil tingkat divisi peningkatan sel-sel pusat.

Karakteristik pertumbuhan dan perkembangan Arabidopsis fase vegetatif


Selama fasa pertumbuhan vegetatif, Jaringan vegetative apikal Arabidopsis menghasilkan fitomer yang memiliki ruas sangat pendek, yang dihasilkan di dasar lekukan (rosette) daun. Pucuk samping pada suatu daun cauline (daun interfloresense) berkembang menjadi meristem infloresens kedua, dan aktivitasnya mengulangi pola perkembangan meristem inflorensens utama,

GAMBAR 24.1 (A) Pucuk apikal meristem di Arabidopsis thaliana. (B) Foto Arabidopsis sebuah tanaman. (Photo courtesy of Richard Amasino.)

Sebagai organ awal perkembangan reproduksi, jaringan meristem vegetative berubah menjadi suatu jaringan meristem intermediate utama infloresense yang menghasilkan jaringan meristem tumbuhan pada sisinya

GAMBAR 24.2 bagian longitudinal melalui vegetatif (A) dan reproduksi (B) pucuk apikal wilayah Arabidopsis. (Photos courtesy of V. Grbic 'dan M. Nelson, dan dirakit dan diberi label oleh E. Himelblau.)

Ada 4 Jenis Organ Bunga


Meristem tumbuhan menghasilkan 4 jenis organ tumbuhan: kelopak, petala, stamen, dan karpel. Keempatnya membentuk organ yang bermula dari cincin terkonsentrasi, yang disebut whorls (lingkaran), mengelilingi sisi jaringan meristem (gambar 24.3). Inisiasi intermost organ, karpel, mengkonsumsi semua sel meristematik pada kubah apikal, dan hanya organ tumbuhan primordial yang menunjukkan perkembangan kuncup bunga.

Tiga jenis Gen yang mengatur perkembangan bunga


Mutasi yang telah mengidentifikasi 3 kelas gen yang mengatur perkembangan bunga; gen sifat organ bunga, gen cadastral, dan gen sifat meristem. Gen sifat organ bunga floral secara langsung mengontrol sifat bunga. Protein mengkode gen tersebut melalui faktor transkripsi yang mengendalikan sifat gen lain yang hasilnya terlibat pada pembentukan dan/ atau fungsi organ bunga. Gen cadastral berperan sebagai regulator spasial dari gen sifat organ bunga melalui pembentukan batasan terhadap sifat mereka (cadastre bermakna peta atau gambaran yg menunjukkan sifat batasan bunga.) Gen sifat meristem berperan penting dalam mengawali induksi gen sifat organ. Gen ini merupakan regulator positif sifat organ bunga.

Tiga tipe gen homeotic pengendali sifat organ bunga yaitu tipe A, B dan C.

Mutasi pada organ bunga secara dramatis mengubah struktur bunga. (A) tipe Liar, (B) Mutan apetala2-2 yang tidak memiliki sepal dan petal (C) mutan pistillata2 yang tidak memiliki petal dan benang sari, (D) Mutan agamous1 tidak memiliki benang sari dan karpel.

Tipe A : dikendalikan oleh AP1 dan AP2 Tipe B : dikendalikan oleh AP3 dan PI (pistilata) Tipe C : dikendalikan AG (Agamous)

Model ABC untuk terbentuknya identitas organ bunga didasarkan pada interaksi dari tiga jenis kegiatan gen homeotik bunga: A, B dan C. Pada whorl pertama, ekspresi tipe A (AP2) saja menghasilkan pembentukan sepal. Pada whorl kedua, ekspresi dari tipe A (AP2) dan B (AP3//PI) menghasilkan petal. Pada whorl ketiga, ekspresi B (AP3/PI) dan C (AG) menyebabkan terbentuknya benang sari. Pada whorl keempat, aktivitas C (AG) saja yang membentuk karpel. Selain itu kegiatan A (AP2) merepresi aktivitas C (AG) di whorl 1 dan 2, sedangkan C merepresi A pada whorl 3 dan 4.

10

11

Interpretasi penotif dari mutasi homeotic bunga berdasarkan model ABC. A (tipe liar), B (Kekurangan fungsi C) disebabkan ekspansi fungsi A keseluruh meristem bunga, C (Kekurangan fungsi A) disebabkan penyebaran fungsi C keseluruh meristem. D (kekurangan fungsi B) disebabkan sifat yang tampak hanya dari fungsi A dan fungsi C.

12

Apikal Tunas dan Perubahan Fase


Jaringan mudah dihasilkan pertama kali dan terletak didasar tunas

Gambar : Skema yg menggambarkan model kombinasi pada perkembangan tunas jagung.

13

14

Pengaruh usia tanaman terhadap jumlah panjang hari, siklus induktif diperlukan untuk pembungaan pada tanaman LD Lolium tumelentum. Sebuah siklus induktif LD terdiri dari 8 jam sinar matahari diikuti 16 jam cahaya berintensitas rendah

15

Ada 3 parameter Perubahan Pada Bunga

16

17

Pengaruh Lintang pada Pembungaan

GAMBAR 24,16 (A) Pengaruh lintang terhadap panjang hari pada waktu yang berbeda pada suatu tahun. Panjang hari diukur pada tanggal 20 setiap bulannya. (B) Global bujur peta yang menunjukkan

18

Respon Fotoperiodik Tanaman

Respon fotoperiodik pada tanaman hari panjang dan hari pendek. Durasi kritis bervariasi antar spesies. Dalam contoh ini, SDP maupun LDP akan berbunga pada fotoperiode antara 12 dan 14 jam lamanya.

19

Regulasi Pembungaan Fotoperiodik

20

Pengaruh Periode Gelap pada Pembungaan

Pengaturan pembungan photoperiodic . (A) Pengaruh terhadap SDP dan LDPs. (B) (B) Pengaruh durasi periode gelap pada pembungaan. Fotoperioda memberi perlakuan yang berbeda pada tanaman hari panjang dan tanaman hari pendek yang jelas menunjukkan bahwa variabel kritisnya adalah panjang periode gelap.

21

Pengaruh Night Break pada Pembungaan

Waktu pemberian night break menentukan respon pembungan. Jika diberikan selama periode gelap yang panjang, night break akan menimbulkan pembungaan pada LDPs dan menghambat pembungaan pada SDP. Dalam kedua kasus tersebut, efek pembungaan yang paling besar terjadi jika night break diberikan mendekati pertengahan periode gelap selama 16 jam.

22

Fase Osilasi Sensitifitas Cahaya

Pembungaan yang beritme dalam merespon night. Dalam percobaan ini SDP kedelai menerima siklus periode terang selama 8 jam di ikuti oleh periode gelap 64 jam. Night break selama 4 jam diberikan pada berbagai waktu

23

Pengaruh Fitokrom pada Pembungaan

Fhytochrome mengendalikan pembungaan melalui cahaya merah dan cahaya merah jauh. Kilatan cahaya merah pada periode gelap menginduksi pembungaan pada LDP dan pengaruh sebaliknya pada kilatan cahaya merah jauh

24

Aksi spektra untuk kontrol berbunga oleh night break berimplikasi fitokrom. Berbunga di SDP adalah dihambat oleh perlakuan cahaya pendek (Night break) diberikan dalam periode dinyatakan induktif. Dalam SDP Xanthium strumarium, Night Break cahaya merah 620-640 nm adalah paling efektif. Pembalikan efek cahaya merah maksimal pada 725 nm. Pada tanaman SDP Pharbitis nihil, yang tanpa klorofil dan interferensi dengan cahaya penyerapan, Night break 660 nm yang paling efektif. Ini 660 nm maksimum bertepatan dengan maksimum penyerapan dari fitokrom.

25

Efek cahaya merah jauh di induksi bunga di Arabidopsis. 4 jam cahaya merah jauh diberikan pada tanaman selama 72 jam secara terus menerus periode siang. Titik data dalam grafik yang diperoleh di pusat selama 6 jam. Data menunjukkan ritme sirkadian sensitiv terhadap promosi cahaya merah jauh berbunga (garis merah). Ini mendukung model di mana berbunga di LDPs dipromosikan ketika perawatan ringan (dalam hal ini cahaya merah jauh) bertepatan dengan puncak sensitivitas cahaya

26

Pengaruh Vernalisasi pada Pembungaan

Durasi pemaparan pada suhu rendah menigkatkan stabilitas efek pernalisasi

27

28

29

30

31

32

SEKIAN DAN TERIMAKASIH WASSALAM

33