Anda di halaman 1dari 8

Terapi Kebanyakan epistaksis adalah epistaksis ringan yang dapat berhenti secara spontan atau setelah dilakukan pemijatan

hidung yang mudah dilakukan. Penderita harus duduk dengan tenang, dengan posisi sedikit menunduk ke depan untuk mencegah mengalirnya darah ke posterior menuju nasofaring. Jika pasien ingin berbaring, maka kepala harus dielevasi 30-45, lebih tinggi dari letak jantung, untuk mengurangi tekanan pembuluh darah perifer yang akan mengakibatkan makin banyaknya perdarahan yang terjadi. Kompres es yang diletakkan di bagian tengah wajah atau pipi juga dapat mengendalikan epistaksis. Terapi tambahan lain dapat berupa semprot hidung garam fisiologis, mencegah aktivitas berat, bersin dengan mulut terbuka, tidak boleh menggaruk atau mengorek hidung dan menghembuskan ingus dengan keras, serta menghentikan penggunaan obat seperti aspirin atau antikoagulan. (3,4)

Kauterisasi

Jika sumber pendarahan telah diindifikasi, kauterisasi kimiawi atau elektrik dapat dilakukan untuk menghentikan pendarahan. Larutan perak nitrat yang dioleskan ditempat perdarahan, minimal harus dipertahankan selama 30 detik. Perak nitrat yang berlebihan harus dibersihkan untuk mencegah terkenanya mukosa hidung yang sehat. Hati-hati jika melakukan kauterisasi pada kedua sisi septum, karena dapat terjadi perforasi septum. Jika terjadi perdarahan aktif, perak nitrat tidak mungkin digunakan sehingga pilihan selanjutnya harus diolesi dengan salep antibiotik sampai mukosa mengalami penyembuhan. Dengan menggunakan nasoendoskop, epistaksis posterior dapat diterapi dengan kauterisai kimiawi atau elektrokauter. Sehingga kecemasan dan morbiditas akibat tampon hidung dapat dikurangi. (1,3)

Tampon anterior

Jika tindakan diatas gagal, dan perdarahan masih terus terjadi dan tampaknya berasal dari bagian anterior, tetapi sumbernya tidak dapat diidentifikasi maka dilakukan pemasangan tampon anterior. Bahan untuk tampon dapat berupa kapas atau kasa yang telah diolesi salep antibiotika. Tampon dipasang ke dalam rongga hidung dengan visualisasi langsung dan sumber cahaya terang. Tampon dipasang hanya pada sisi hidung yang mengalami perdarahan untuk mencegah terjadinya ulserasi dan nekrosis septum, selain itu pasien tetap dapat bernafas melalui lubang hidung yang tidak ditampon. Antibiotik profilaksis terhadap flora hidung dan stafilokokus aurerus harus diberikan, karena terdapat risiko sinusitis akibat sumbatan ostium sinus dan 2

untuk mencegah sindrom syok toksik. Selain kapas dan kasa, saat ini di pasaran dapat diperoleh tampon hidung dari busa Merocel, Gel-foam, Oxycel atau Avitene (kolagen mikrofibrilar). Keuntungan tampon hidung ini adalah tidak perlu diangkat dari rongga hidung karena akan terserap dalam waktu 2-3 minggu. Karena tidak perlu dikeluarkan lagi, maka tidak akan menyebabkan perdarahan pada saat pengangkatan tampon, sehingga sangat berguna untuk pasien dengan gangguan darah,

trombositopenia dan teleangiektasi hemorargik herediter. Selain itu jenis tampon ini, fungsi menghentikan perdarahan tidak hanya disebabkan penekanan langsung pada mukosa yang berdarah juga membuat edema mukosa. (1,2,4)

Tampon posterior

Tampon posterior harus digunakan jika epistaksis posterior refrakter terhadap kauterisasi atau epistaksis terus berlanjut walaupun tampon anterior telah dipasang dengan baik. Tampon posterior standar adalah Bellocque tampon, yaitu gulungan kasa yang diikat bagian tengahnya dengan 2 buah benang yang panjang dan 1 buah benang pendek. Sebelum pemasangan tampon Bellocque, sebaiknya pasien diberi sedasi dan anestesi lokal yang adekuat. Masukkan kateter karet merah yang kecil melalui hidung, sampai tampon dapat menutupi seluruh koana. Benang harus terus dipertahankan sambil sedikit ditarik sampai tampon anterior selesai dipasang. Benang kemudian dieratkan pada gulungan kapas didepan lubang hidung. Benang yang pendek digunakan untuk menarik tampon keluar setelah 4-7hari. Tampon posterior juga dapat menggunakan kateter foley ukuran F12-16, yang dipasang di dasar hidung sampai ke nasofaring. Balon kemudian diisi dan kateter ditarik ke anterior sehingga balon menutupi koana, kemudian pasang tampon anterior. Keuntungan penggunaan tampon kateter adalah mudah untuk dimasukkan, sedikit traumatik bagi pasien, dan aliran udara hidung masih ada sebagian. Kerugian dari tampon kateter adalah kurang efektif dibandingkan tampon standar karena tekanan pada rongga hidung tidak merata dan beberapa balon kateter harus digembungkan dengan air dan yang lainnya harus dengan udara. Semua pasien yang dipasang tampon posterior harus dirawat. Pasien tua dan pasien dengan kelainan jantung paru kronik memerukan pengawasan yang ketat, karena dapat terjadi gangguan fungsi respirasi: hipoventilasi, hipoksemia, aritmia jantung dan kemungkinan henti jantung. Antibiotik berspektrum luas diperlukan untuk mengatasi infeksi telinga tengah dan sinus, juga kemungkinan pnemonia aspirasi dan septikemia. Oksigen harus diberikan melalui sungkup wajah untuk mengatasi penurunan pO2 dan peningkatan pCO2. pasien juga harus diberi terapi cairan intervena. (1,2)

Ligasi arteri Ligasi arteri dilakukan pada epistaksis berat dan berulang yang tidak dapat diatasi dengan pemasangan tampon. Ligasi yang dapat dilakukan: (1,2) a. Ligasi a. Maksilaris di fossa pterygomaxillary melalui pendekatan CaldwelLuc b. Ligasi a. Etmoidalis, dilakukan jika ada perdarahan yang tidak dapat dikontrol dari bagian atas hidung. Pendekatan melalui insisi kulit medial orbita

c. Ligas a. Koratis eksterna di daerah leher dilakukan jika ligasi a. Maksilaris tidak berhasil d. Embolisasi pembuluh darah dengan panduan radiografi dengan memaksukkan gel sponge atau lainnya, tetapi dengan resiko dapat terjadi emboli otak.

SARAN PRAKTIS PENATALAKSANAAN EPISTAKSIS 1. Pakailah apron atau baju kamar operasi sebelum melakukan pemeriksaan atau tindakan agar lebih tenang dalam bertindak, tidak khawatir terkena percikan darah dan menyelamatkan jas atau baju yang sedang dipakai(1,2) 2. Jika tidak tersedia peralatan pompa penghisap: Semprot rongga hidung dengan oxymetazoline beberapa kali semprotan, bisa sampai 5-10 semprot Tunggu 3 menit, dan perintahkan pada pasien untuk menghembuskan hidung denga keras agar bekuan darah dapat keluar Semprot kembali dengan oxymetazoline 4-5 semprot Jika masih terjadi pendarahan tahapan diatas dapat diulang kembali. Dilaporkan tidak terdapat komplikasi maupun batasan dosis pada oxymetazoline semprot hidung pada sekali pemakaian. Rinitis medikamentosa terjadi pada penggunaan jangka panjang(1,2) 3. Jika tersedia peralatan pompa penghisap, cara lain untuk membersihkan bekuan darah adalah dengan melakukan irigasi H2O2 pada rongga hidung, terutama jika terdapat titik perdarahan multipel pada mukosa. Pada saat irigasi dilakukan pada rongga hidung yang mengalami epistaksis, pompa penghisap harus siap bekerja karena akan timbul begitu banyak busa. (1,2) 4. Selalu berikan edukasi pada pasien: a. Cara memijat hidung jika terjadi epistaksis Pijat seluruh sebagian lunak hidung dengan jempol dan jari telunjuk Tekan dengan mantap ke arah wajah-dengan menekan bagian, hidung yang telah dipijat ke tulang wajah Pertahankan posisi ini selama 10 menit Duduk dengan tenang dan menjaga kepala lebih tinggi dari jantung; dapat dengan duduk atau berbaring dengan kepala yang 5

ditinggikan. Jangan berbaring terlentang atau meletakkan kepala diantara kedua kaki. (1,2) Kompres hidung dan pipi dengan pecahan es yang dimasukkan ke dalam plastik atau kain waslap.

b. Perawatan pasca epistaksis Segera istirahat dengan kepala dinaikkan 30-45 derajat, dengan menggunakan bantal yang ditumpuk tinggi Jagalah agar kepala lebih tinggi daripada jantung Jangan buang ingus dahulu. Jiak ingin bersin, bukalah mulut sehingga udara akan keluar melalui mulut tidak melalui hidung Jangan mengedan jika buang air besar Jangan mengangkat barang-barang yang berat Makanlah makanan yang lembut dan dingin. Jangan

minumminuman panas paling sedikit 24 jam c. Hal-hal harus dihindari untuk mencegah berulangnya epistaksis Jagalah agar hidung tetap lembab dengan cara mengoleskan sedikit jelly petroleum atau salep vaselin ke dalam rongga hidung dengan menggunakan lidi kapas 2 kali sehari Jagalah kuku anak tetap pendek agar hidung tidak luka jika dikorek-korek Orang tua atau orang dewasa agar berhenti merokok karena asapa dapat mengeringkan hidung dan membuat iritasi pada hidung Buka mulut jika bersin Hindari penggunaan aspirin, karena akan memudahkan terjadinya perdarahan dan juga membuat mimisan berlangsung lama

Jika anak menderita pilek alergi berikan obat antialergi untuk mencegah anak menggaruk hidung karena meras gatal. Garukangarukan pada hidung juga dapat memudahkan terjadinya mimisan

Revisi : Penatalaksanaan pada umumnya tergantung dari lokasi perdarahan. Apakah berasal dari anterior atau posterior. Bila perdarahan anterior yang teridentifikasi, maka menurut jurnal dari www.nejm.com itu menyebutkan tidak perlu di tanganani secara aktif, karena akan berhenti sendiri, namun menurut referensinya lebih baik menggunakan tampon padat yang berbahan dasar hydroxylated polyvinyl acetat yang akan mengembang bila terkena air. Bisa juga dengan tampon yang dilapisi oleh hydrocolloid. Pasien merasa lebih nyaman dengan pemasangan tampon padat ini, keuntungannya seperti itu. Kerugiannya adalah harga barang yang relative sulit dijangkau oleh pasien golongan menengah kebawah.3

DAFTAR PUSTAKA

Ballenger, John Jacob. Otorhinolaryngology sixteenth edition. Bc decker. Spain. 2003. Liston SL, Duval AJ. Embriologi, Anatomi dan Fisiologi Telinga. Dalam: Adams GL, Boies LR, Higler PA. BOEIS Buku Ajar Penyakit THT. Jakarta: EGC; 1997. Schlosser, RJ. Epistaksis. NEJM. Departement of otolaryngology-head and neck, medical university of south Carolina. Massachusetts medical society. England . 2009. Pg 784-789. Accesed : www.nejm.com Soetirto I, Hendarmin H, Bashiruddin J. Gangguan Pendengaran dan Kelainan Telinga. Dalam: Soeparti EA, Iskandar N, editor. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher Edisi Ke Lima. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2003.