Anda di halaman 1dari 5

P U S A T

D A T A

www. mb.ipb.ac.id

D A N

A N A L I S A

PANDUAN MEMILIH

MANA

www. mb.ipb.ac.id

ANTARA

Beragam motivasi orang menempuh program magister manajemen, dari sekadar membeli kelulusannya, akselerasi kompetensi, akselerasi jenjang karier, sampai mencari networkjng. Apa kata dunia kerja?
IDUP lebih haik, lebih layak, lebih hermartabat, danbergengsi merupakan dambaan setiap orang. Salah satu kunci uituk me;aih dambaan tersehut adalah pehdidikan yang memadai, selain kerja keras, ketekunan, plus kadang keberuntungan. Karena itu, di tengah persaingan yang semakin ketat di berbagai lini, banyak orang menyadari pentingnya membekali diri dengan pendidikan. Tak cukup jenjang pendidikan strata satu (S-1). Banyak pula lulusan fresh graduate yang langsung melanjutkan studinya ke jenjang pascasarjana. Bahkan mereka yang sudah mengantongi gelar sarjana pun, kemudian bekerja selama beberapa tahun, masih harus bersusah payah untuk bersekolah lagi, menempuh jenjang pascasarjana (S-2). Di antara sekian programstudi jenjang S-2, manajemen termasuk yang banyak diminati. Jumlah peminatnya terus meningkat dari tahun ke tahun. Data Dirjen Pendidikan Tinggi mencatat pada 2005 lulusan magister manajemen mencapai 8.191 orang, lalu meningkat menjadi 9.251 lulusan vada 2006. Tahun berikutnya, 20b7, lulusan jenjang ini tercatat 10.384 orang Data tersebut menhjukkan bahwa program pascasarjana manajemen kian diminati. Padahal untuk menempuh jenjang 5-2 manajemen dihutuhkan biaya yang tidak sedikit, yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Bahkanbiaya kuliahmagister manajemen di sejumlah perguruan tinggi hisa dibilang fantastis. Rubiyanto, General Manager Woman Radio, Jakarta, misalnya, hams merogoh kocek sekitar Rp 24 juta ketika menempuh program MM di Universitas Persada Indonesia YAI, Jakarta, pada 2008. Jumlah itu belum seberapa jika dibandingkan dengan yang "dikorhankan" pengusaha Johannes Ongkowidjojo dari tahungannya saat menem-

Dl ANTARA SEKIAN PROGRAM STUD1 JENJANG S-2, MANAJEMEN TERMASUK YANG BANYAK DIMINATI. JUMLAH PEMINATNYA TEUUS MENINGKAT OAR1 TAHUN KE TAHUN.

www. mb.ipb.ac.id

puh pendidikan S-2 di Universitas Pelita Harapan, pada 2003. "Sekitar Rp 50 juta sampai Rp 100 juta," kata pemilik sebuah perusahaan keluarga di bidang corrugated boxesini. Seiring dengan kenaikan infiasi, biaya pendidikan, termasuk jenjang pascasarjana manajemen, terus merangkak, ratarata 15 persen per tahun. Sebagai gambaran, pada 2011, biaya untuk menempuh kuliah di MM Universitas Indonesia sampai lulusRp 81juta untuk kelas reguler, Rp 90 juta untuk kelas malam. Pada tahun yangsama, Prasetiya Mulya Business School, Jakarta, mematok biaya Rp 98 juta untuk program MM Eksekutif Manajemen Bisnis Prasetiya Mulya konsentrasi Manajemen Pemasaran atau Manajemen Keuangan. Sementara itu, PPM Manajernen

untuk mengejar gelar S-2, maka bersia~lah menviawkan dana sekltarfiP 96 juta;niukkelascksekutif muda danRu 106 iutauntuk maa kelas eksekutif. - ~ e b e r a ~ gister manajemen di perguruan tinggi lain mematok biaya yang relatif murah. Walaumahal, mengapa banyak orang herminat menempuh pendidikan magister manajemen? Apa motivasi mereka bersusah payahmengejargelarMMIMBA? Apakah gelar dan ilmu yang mereka timba di magister manajemen bisa mendongkrak karier? Apa saja tip untuk kuliah di magister manajemen? Ada beragam motivasi yang mungkin berbeda antara mahasiswa yang satu dan yang lain. Dalam pengamatan Ketua Asosiasi Perhimpunan Magister Manajemen Indonesia (APM-

MI),Arief Daryanto, saat ini memang ada dua persepsi di masyarakat terkait program magister manajemen. "Pertama, mereka yang memang ingin meraih gelar itu sebagai jenjang pendidikan berkelanjutan. Kedua, mereka yang hanya ingin membeli kelulusannya," ujar Arief, di kantor Tempo, beberapa waktulalu. Menurut Direktur Magister Bisnis Institut Pertanian Bogor (MB IPB) itu, cukup banyak orang, dengan kedua persepsi itu, tidak peduli kualitas sekolah atau lembaga pascasarjananya, tetapi hanya butuh ijazahnya. Itulah sebabnya, kata Arief, APMMI kini semakin selektif untuk menentukan sebuah perguruan tinggi dapat bergabung di asosiasi yang kini telah beranggotakan 30 perguruan tinggi itu. Untuk menjadi anggota, sa-

TIP MEMlLlH MAGISTER MANAJEMEN

buang-buang waktu. Sebaiknya juga minimal menyelesaikannyadalam waktudua tahundan tentunya GPA yang dicapai juga jangan tanggung-tanggung: Kalau perlu4,OO dariskala 4,130. Itu baru top. (Pengusaha) Johannes ~nkowidjojo JelasTujuannya, JelasTargetnya Anda mau menempuh pendidikan jenjang pascasarjana program apa pun, pada dasarnya free. Tapi, yang paling penting adalah Anda tahu sebenarnya maunya apa. Jangan sekadar ingin mendapatkan sertifikat, tapi tentukan mengapa kamu mau menempuhprogram itu, targetnya apa, goals-nya apa, dimasa depan impian Anda apa, juga sumberdananya darimana. Pendidikan itukanhanyabatuloncatan. Jadi, jangan sematangikutin tren sehingga waste everything your resource. ~ a d i apa pun yang Anda lakukan, you have to be responsible. Kalau sudah memerinci semua itu danvakin. do it! ~ a t i h ~ b r a c i~ mb ,ikolo~ Menempuh pendidikan, termasuk pascasarjana, itu bukan soal sertifikat atau gelarnya, tapi apakah kita mampu mengamalkan ilmunya kelak. Selain itu juga selalu terbuka memwelaiari . . ilmu lainnva. karena akan sangat bermanfaat untuk meningkatcai kualitas hiduo secara keseluruhan, entah sehaaai - hirokrat ataupu~entrepreneurselefla~pensiun. Didi Widayadi, Mantan Kepala BPKP
IXILY BERTHA K A R ~ K A

CariSekolah Berakreditasl Baik Kalau mau menempub jenjang MM, sebaiknya Anda harus tahu dulu secara spesifik lembaga yang akan Anda masuki. Juga lebih baik kalau spesifik sesuai dengan.bidang kerja kita serta akreditasinya baik. Akreditasi itusangat menentukan mutu. Menurut saya, kalau menemwuh S-2 hanva sekadar untuk mendauatkan sertifikat, i ktidak bijaksana. Masyarakat kita iaat ini masih cenderung silau sertifikat. iuea masih menghargai sertifikat daFipada kemampua~~ontohnya, Llusan luar negeri lebih dihargai padahal mungkin cuma kursus, walaupun pasti ada juga kursus yang benar. Tapi saya lebih percaya hahwa kalau sekolah di tempat yang akreditasinya baik, lulusannya juga terjamin kualitasnya. Rubiyanto, GeneralManager WomanRadio, Jakarta

Pilih UniversitasTerbaik

Kesunaeuhan dan totalitas dari diri sendiri itu sangat penting dalam menempuh pendidikan S-2. Selain itu, memilih universitas juga jangan yang tanggung-tanggung. Pilih yang terbaik sekalian, daripada

!
I

www. mb.ipb.ac.id

lah satu svarat adalahnereuruan tinggimhimal a k r e d c a s r ~ . Meninekatkan ieniane karier tampaktya men'jadi motivasi yang dominan. Setidaknya dalam pengamatan dan pengalaman sejumlah orang. Menurut Kepala Program Magister Manajemen Universitas Indonesia, Prof Rhenald Kasali, PhD, pada era 1980-an mahasiswa yang mengambil ekstensi program magister manajemen, khususnya di UI, cenderung beorientasi pada karier. Waktu itu kebanvakan mahasiswa berasal beriatar belakang ilmu eksakta. "Mereka menvadari bahwa tidak akan bisa n$k kariernya kecuali mereka belajar manajemen," kata Rhenald. Adapun motivasi mahasiswa MM UI sekarang, menurut Renald, beragam dan spesifik, walaupun maiih banyak juga yang bermotivasi memperbaiki jenjang karier. Motivasi akselerasi karier juga terlihat pada mereka yang menimba ilmu di Prasetiya Mulya Busines? School, Jakarta, sebagaimana yang dikemukakan Elliot Simangunsong, Director of Graduate Programs Prasetiya Mulya Business School. Ia melihat ada perbedaan antara mahasiswa yang baru lulus strata satu dan mereka yang sudah bekerja. "Mereka yang fresh graduate umumnva nunva motivasi melakukan <kselerisi kompetensi, sehingea masuk ke Prasetiva Mulya,'-ujarnya. Elliot m;ngatakan hahwa sebagian besar dari mereka berlatar kelakang disiplinilmu teknik,karena itumereka mengambil j h s a n marketing atau keuangan untuk menutupi kekurangan di hidang manajerial. Sementara itu, mereka yang sudah bekerja lalu menempuh MM di Prasetiya Mulya, menurut Elliot Simaneunsone. "Motivasinya lebih k 6 a d a aFselerasi karier!' Ia memberi eambaran bahwa di antara merega merasa karier di perusahaan tempatnya bekerja tidak berkembang. "Ke-

tika kuliah di sini biasanya mereka sambil mencari networking. Kami selalu mengadakan career day setiap tahun.bi sanalah mereka mendapatkan networking dan kemudian pindah kerja untuk meningkatkan jenjang karier," ujarnya. Motivasi lain adalah adanya desakan kebutuhan terkait dengan pekerjaan: meningkatkan skill dan pengetahuan. Satu satu contoh adalah yang dialami oleh Rubiyanto, General Manager Woman Radio, Jakarta. Ia menemnuh uendidikan Dascasarjana manajemen karena tuntutan mendesak terkait denean bidang pekerjaan barunyal yakni manajemen radio. Sebelumnya, selama bertahun-tahun, Rubiyanto hergelut dengan duniapertelevisian diMNC Group. "Pada 2005 ada kebutuhan di group MNC untuk membangun stasiunradio dan saya yang menggawanginya. Dalam waktu relatif singkat, semua harus berjalan berharengan, dari mencari sumber daya manusia sampai membuat sekian banyak strategi marketing," ujar pria yang pernah malang-melintang dalam beragam jabatan di lingkup MNC. Ia merasa buta dengan seluk-beluk marketing dunia radio. Karena itulah lalu terpikir olehnya untuk menekuni ilmu marketing. Pada 2008, alumni Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, IISIP Jakarta, itu kuliah pascasarjana di UPIYAI konsentrasi marketing. Alasan serupa, yakni meningkatkan skill dan ilmu pengetahuan, juga diakui Johannes Ongkowidjojo. Suami pemilik franchise Tumble Toots, Novita Tandry, ini merasa gelar sarjana strata satu belum &up untuk berkompetisi di dunia kerja, terutama dunia bisnis. Ia pun memutuskan untuk melanjutkan kuliah magister manajemen di Universitas Pelita Harapan, Karawaci, Tangerang. "Gelar MM akan berpengaruh
A
L

lebih positif, utamanya untuk memperbaiki sudut pandang kita dalam menganalisii atau memutuskan sesuatu di pekerjaan," kata Johannes. Bagaimanapun gelar magister manajemen akan memiliki nilai tambah tersendiri, dan menimhulkan kebanggaan. Ini diakui oleh psikolog Ratih Ibrahim. "Untuk bisa ikut dalam kompetisi di masa kini,tak cukup hanya kej a keras dan keberuntungan, tapi juga pendidikan yang memadai," ujar penyandang gelar MM Prasetiya Mulya Business School itu. Gelar MM, kata Ratih, juga sebagai hukti bahwa seseorang layak dikategorikan "naik" ke kelas tertentu di masyarakat. "Pendidikan maeister manajemen itu bentuk 6ahwa secara legal, you are proven, dipercaya dan credible on such area," ujar Ratih, menegaskan. Pada dasarnya, ujar dia, kepandaian dan keahlian sese-

www. mb.ipb.ac.id

Beberapa perusa haan lel bih mementingkan pengalaman kerja dan kinerja ketimbang sekadar gelar MM. Indopacific Edelman, misalnya, sebuah perusahaan konsultan public relation yang berdiri pada 1993. "Kami lebih menyukai yang sudah memiliki pengalaman kerja, lalu dilengkapi dengan gelar MM. Karena diperusahaankami pada dasarnya performance lebih penting untuk menghadapi sekian banyak klien," ujar Agnes Diah, Manager HRD Indopacific Edelman. Masalah mendasar di dunia kerja, kata Agnes, bukan sekatlar eelar MM t e t a ~baeaimana i karyawan bisa rnenerapkan knowledoe vane ditimba di oerguruan tinigi i<u adalah seskatu ha1 yang perlu dibuktikan. Dalam menerapkan teori, menurut dia, lulusan MM dari universitas luar negeri-selain kecakapan bahasa Inggris yang bagusmereka cenderung lebih aplikatif karena rata-rata mereka menjalani jenjang pendidikannya orangmenjadi tanda bahwa yang sambil bekerja. Cuma, kata Agbersangkutan masuk dalam ko- nes, "Pemahaman pada segmenmunitas tertentu. Gelar MM, tasi pasar di Indonesia juga matentu saja, secara langsung telah sihkurang!' Sementara itu, "Lulusan MM menunjukkan bahwa penyandangnya masuk ke lingkungan di Indonesia, terutama yang yanglebih elite. berpengalaman kerja, memi"Dilingkunganyanglebihelite liki kelebihan dalam hal pemaitu berarti Anda sudah winning haman segmentasi pasar. Tapi the competition dibandingkan kemampuan bahasa Inggrisnya dengan orang lain," kata pendi- tidak sebaiklulusanluarnegeri," ri dan direktur lembaga layanan ujar dia. psikologi Personal Growthini. Pendapat serupa dituturkan Bagus Kuncoro, Human Resources & Corporate Affairs Director Fonterra Brands IndoneLulusan M M di Mata Dunia Kerja vant? menPeningkatan jenjang karier, sia (FBI). . ..~erusahaan dan juga pendapatan, menjadi geluarkan produk nut;isi.~enumotivasimereka yangmenempuh rut Bacrus. sekitar 17 Dersen karpendidikan magister manaje- yawan-di '&I penyaidang gelar men. Bahkan beberapa dari me- MM. Namun ketika perusahaanreka berharap dengan menyan- nya membutuhkan ieorang kandang gelar MM, karier di t e - didat untuk menduduki posisi patnya bekerja bisa melesat. Be- tertentu, pertimbangan utamantulkah hara~anitusesuai d e n ~ a n ya tetaplahprestasi kerja. karyawanyangmekenyataan? ~agaimana apresiasi - "~e&unya dunia keria terhadap karyawan miliki kinerja yang sangat baik dan konsisten selama beberapa penyanda&ggelar MM?

"UNTUK BlSA IKUT DALAM KOMPETlSl Dl MASA KINI, TAK CUKUP HANYA KERJA KERAS DAN KEBERUNTUNGAN. TAP1 JUGA PENOlDlKAN YANG MEMADAI."
RATlH IBRAHIM. PSIKOLOG '

tahun memiliki peluang promosi karier yang jauh sangat terbuka," kataBagus. Performa itu juga yang diutamakan di kepolisian dan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP). "Pada dasarnya, di kepolisian ataupun di BPKP, faktor performa kerja lebih diutamakan. Tapi bahwa seseorang punya pendidikan yang sangat baik pun menjadi pertimbangan," kata Didi Widayadi, mantan Kepala BPKP, yang menyandang gelar MM jurusan bisnis manajemen dari Institut Bisnis Manajemen Jayakarta, tahun 1990-an. Mantan Kepala Polda Sumatera Selatan dan Polda Jawa Tengah itu juga mengakui gelar MM yang disandangnya tak serta merta membuat kariernya melesat. Walau demikian, menurut dia, gelar MM menjadi penting untuk bisa menjadi pengajar di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian. Bagaimanapun, jika gelar MM tidak serta merta memperbaiki jenjang karier dan gaji, sejumlah lulusan MM merasakan , bahwa ilmu yang diperoleh sangat membantu pengembangan kualitas diri. Cara berpikir analitis danpenerapan teorimanajemen itu yang akan berkontribusi terhadap performa, yang berarti secara tidak langsung memperbaiki jenjang karier. Rubiyanto dan Johannes Ongkowidjojo, misalnya, meyakini hal itu. "Dari segi kemampuan analitis juga bertirnbah baik dan terstruktur, terutamadalammenyelesaikanpersoalan dalampekerjaan," kata Ruby. "Walaupun tidak ber~enearuh sienifikan dalam karier, pastilahYpe&sahaan tempat kita bekerja memiliki kepercayaan lebih pada mereka vana - - mau bersekolah laPi dan menambah ilmu dengan benar. Bagi saya, secara pribadi juga bermanfaat karena saya juga mengajar," kata Rubiyanto, yang kini mengajar di beberapa universitas di Jakarta dan sedang menempuh program doktor. >>LILY BERTHAKARTIKA
A