Anda di halaman 1dari 9

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

1. Klasifikasi Tingkah Laku Anak 1.1 Klasifikasi Kategori Frankls Rating 1 Definitely negative: menolak perawatan, menangis sekuat - kuatnya, sangat takut. Rating 2 Negative : enggan menerima perawatan, uncooperative, menunjukkan perilaku negative tapi tidak terekspresikan. Misal: murung, cemberut. Rating 3 Positive : cooperative. Rating 4 Definitely positive : Tertarik dengan perawatan gigi, merasa nyaman dengan suasana dalam ruang praktek 1.2 Misbehaving Child Dental Patient Yang dimaksud misbehaving (perbuatan tidak sepantasnya) oleh anakanak mungkin relatif sama dengan klasifikasi lacking kooperatif/potensial kooperatif, yakni pada anak usia 2-6 tahun, uncontrolled behavior. Reaksi kemarahan bisa mulai saat di meja resepsionis atau bahkan sebelum masuk dental office. Dengan karakteristik: menangis dengan keras, mengibaskan badan, memukulkan tangan dan kaki. menerima perawatan, mau mematuhi dokter gigi,

1.3 Klasifikasi Kooperatif Anak 1. . Cooperative Reasonably relaxed and have minimal apprehension They have a good rappot with the dentist and are interested in the dental situation They present a reasonable level of co operation 2. Lacking co operative ability

Kontras dengan yang cooperative namun kurangnya kemampuan untuk co-operative karena adanya kesulitan untuk berkomunikasi ( anak yang usianya kurang dari 2 tahun) Karena kondisi mereka yang kesulitan dalam berkomunikasi sehingga harus digunakan metode pendekaatan yang spesial 3. Potensially co-operative behavior Terminology secara umum disebut sebagai behavior problem Anak ini berbeda dengan lackiong co operative ability, karena pada anak tipe ini mereka mampu berkomunikasi Anak pada tipe ini dapat dikarakteristikkan sebagai berikut : Uncontrolled behavior. Biasanya terjadi pada anak yang usianya 3-6 tahun. Reaksi ini merupakan bentuk dari rasa marah atau jengkel ketika mulai memasuki receptionist area ataupun bahkan ssebelum memasuki klinik dokter gigi. Dikarakteristikkan dengan tangisan yang keras, dll. Defiant behavior. Walaupun sikap penentang ini bisa terjadi pada semua umur namun jenis ini sering terjadi poada anak yang masih duduk di bangku SD. Biasanya dikarakteristikkan dengan kata aku tidak mau, aku tidak ingin. Anak tipe ini terjadi pada anak yang keras kepala ataaupun manja. Once won over they will be highly co operative. Timid behavior. Jika anak ini ditangani dengan cara yang kurang benar, maka mereka akan menjadi tidak terkontrol. Anak tipe ini selalu sembunyi di belakang orang tuanya. Mereka tidak menangis secara histeris dan biasanya menutup matanya dengan tangannya ketika menangis. Anak ini biasanya terjadi pada anak yang terbiasa mengalami over protective atau tinggal di lingkungan yang terisolasi dan sedikit kontak dengan orang asing. Tipe ini, membutuhkan kepercayaan diri and confidence in the dentist must be carefully. Tense-co-operative behavior. Tipe ini biasanya menerima

perawatan namun tegang secara berlebihan, dikarakteristikkan dengan cara mereka yang berbicara dengan gemetar, tangannya dan dahinya berkeringat. Anak ini meskipun menerima namun sebenarnya tidak menyukai out of proportion to their personal experience.

Whinning behavior. Anak pada tipe ini menerima perawatan namun biasanya mengeluh atau protes ketika mulai memasuki prosedur oerawatan. Dikarakteristikkan dengan menangis namun tidak keras dan berteriak tetapi konstan dan terkontrol. 2. Teknik Penanganan Perawatan Gigi dan Mulut anak 2.1 Tell Show Do Pada saat telling, lakukan penjelasan kepada anak apa yang akan dilakukan. Telling ini dilaksanakan sebelum melakukan, ketika melakukan, dan setelah melakukan. Suara harus lembut, akrab, percaya diri, dan terus menerus. Serta drg. Harus jujur kepada anak, jika prosedur akan sakit, harus dikatakan sakit. Pada saat showing, demo-kan apa yang akan terjadi dan tunjukkan alat apa yang akan digunakan. Ingat, drg. Bisa menggunakan indra apapun untuk mendemonstrasikan kepada anak-anak. Suara handpiece bisa di dengar, anastesi bisa di demo-kan dengan mencubit lengannya, tapi jangan menunjukkan syringe. Dokter gigi memberitahu pada anak apa yang akan dilakukan dengan kata-kata yang mudah dimengerti oleh anak, lalu dokter menunjukkan pada anak-anak bagaimana prosedurnya dan melakukan apa yang tadi sudah dikatakan. 2.2 Voice Membutuhkan rasa percaya diri, harus ada arti Saya yang berkuasa disini. Penting untuk mengatur preschool children Efektif dalam menghadapi sikap yang tidak tepat Sebagai teknik yang murni linguilistik, bergantung pada gaya suara, irama, dan aspek lain yang meningkatkan kualitas komunikasi.Tidak hanya kata, nonverbal juga. Asisten harus diam dan tidak ada pergerakan yang mengganggu konsentrasi anak tersebut. Ketika drg. Sedang tidak bersama mereka, dental asisten bisa menemaninya mengajaknya berkomunikasi, karena jika tidak anak akan merasa takut. Jenis control komunikasi untuk mengelola pasien anak:

1. Verbal Dengan berbicara. Dengan anak preschool topic yang dibahas biasanya baju, saudara kandung, peliharaan dan acara televise favorit. Dengan anak yang lebih tua yang dibahas biasanya sekolahnya, aktivitas bermainnya, olahraganya atau teman

bermainnya. Suaranya harus konstan, gentle dan repetitive. Nadanya empathy dan firmness. 2. Non verbal Dengan tindakan. Pergerakannya harus pelan, measured dan halus Selain itu terdapat trik control komunikasi, yakni second language: Mengganti kata-kata yang mudah diterima oleh anak-anak. Seperti anastesi diganti dengan menyemprotkan air tidur ke gigi, bur diganti pensil, caries diganti gigi bolong.

2.3 Hand Over Mouth Adalah cara yang akstrim untuk mengatasi anak yang manja yang tidak kooperatif. Teknik: Menahan anak yang melawan dengan pelan tetapi kuat pada kursi perawatan dengan cara meletakkan tangan atau handuk di atas mulutnya untuk menahan perlawanan. Kemudian dokter gigi berbicara perlahan tapi jelas ke dalam telinga anak dengan mengatakan bahwa tangan akan diangkat segera setelah ia berhenti mengangis. 2.4 Obat Obat Sedatif Jika metode hand over mouth tidak ampuh, maka digunakan metode sedasi. Sedasi ini berguna untuk menghilangkan kecemasan. Cara cara: 1. Oral Menggunakan diazepam obat yang paling sering digunakan. Cukup efektif pada orang dewasa yang takut menerima perawatan gigi. 2. Intramuskular Keuntungan : kerjanya lebih cepat dan pengaruhnya lebih dapat diduga. Kombinasi yang efektif adalah promethazine HCl (Phenergan) dan Pethidine. 3. Intravena

Keuntungan : Obat yang diinjeksikan mempunyai efek yang sangat cepat dan bahwa dosis dapat diberikan secara bertahap sampai pada tingkat yang diinginkan. Menggunakan campuran Pentobarbiturat, Pethidine, dan Hyoscine. Baru kemudian Diazepam menjadi pilihan untama untuk sedasi intravena. 4. Inhalasi Bertujuan untuk sedasi pasien. Namun pasien yang mengalami sedasi ini dapat berkomunikasi bebas dengan dokter gigi dan relaks, rasa takut telah dikurangi dan dihilangkan. Menggunakan Oksida nitrogen dengan konsentrasi 15 dan 35% untuk mencapai analgesia sedang. Tetapi sedasi yang efektif diperoleh dengan menggunakan entonox (50% oksida nitrogen + 50% oksigen) dilarutkan dengan udara bervolume sama. 2.5 Restraints Pengekangan/pengendalian pada anak Membatasi gerak anak (kepala, tangan,kaki,dan tubuh) Posisi anak adalah berbaring dengan dokter gigi memegang kendali penuh pada bagian kepala Untuk mengontrol pergerakan rahang digunakan mouth prop lebih efisien menggunakan molt mouth prop 2.6 Kombinasi N20 dan Obat Sedatif

2.7 General Anesthesi

3. Faktor Faktor yang Berpengaruh Terhadap Tingkah Laku Anak 3.1 Tingkah Laku Anak Sesuai Usia a. Umur 2 tahun Kemampuan komunikasi masih kurang. Terlalu muda untuk dirayu dengan kata-kata. Takut orang/ sesuatu yang tidak dikenal. Takut akan gerakan-gerakan yang mendadak. Takut dipisahkan dengan orang tua (selama perawatan). Takut dengan suara bising I keras.

Takut sinar terang.

b. Umur 3 tahun Mulai bisa diajak berkomunikasi. Senang sekali berbicara dan berceritera. Takut terhadap orang yang tak dikenal.

c. Umur 4 tahun Biasanya sudah bisa diberi penjelasan. Responsive terhadap verbal direction. Suka berlebih-lebihan bila berceritera. Rasa takut terhadap orang asing sudah mulai berkurang. Takut terhadap sesuatu yang dapat melukai (sonde, jarum suntik).

d. Umur 5 tahun Sudah bisa bersosialisasi. Rasa takut sudah mulai berkurang bila dipisahkan dari orang tua. Bangga akan sesuatu yang dipunyai. Komentar tentang baju yg dipakai, efektif untuk membangun komunikasi. e. Umur 6-12 tahun Puncak rasa takut menurun. Sudah mulai dapat mengatasi rasa takutnya, karena sudah bisa menerima penjelasan tentang perawatan apa yang akan dilakukan oleh dokter gigi. Dapat mengatasi situasi yang tidak nyaman. Tidak mau digertak, dibohongi. Emosi mulai terkontrol.

3.2 Segitiga Perawatan Gigi Anak

Makna dari segitiga perawatan gigi pada anak, yakni terdapat keterikatan objek satu dengan lainnya untuk mendapatkan hasil yang optimal dari sebuah perawatan. Anak berada pada posisi puncak segitiga dimana anak menjadi fokus objek tatalaksana perawatan gigi. Sedangkan drg dan orang tua berada dalam bidang segitiga yang sejajar/alas dimana dibutuhkan kerjasama yang intens untuk mengelola fokus objek tatlaksana.

3.3 Maternal Anxiety Kecemasan/kegelisahan berlebihan pada orang tua (ibu) menyebabkan perilaku negative pada anak. Biasanya terjadi pada anak usia 4 tahun. Selain itu kebiasaan orang tua yang cukup ekstrim antara: Overprotective membuat anak menjad pemalu, sulit, bersifat patuh,dan takut Rejection (sikap anak menjadi kasar, merasa diabaikan, selalu curiga,sukar dikendalikan) Overanxiety bias anya disebabkan karena kejadian di masa lalu Overidentification Kenangan masa anak-anak dari orang tua dipaksakan pada anaknya agar anak tersebut harus seperti dirinya/sama seperti orang tuanya. Sikap anak menjadi keras kepala, menolak/melawan, tunduk, gelisah, penakut, atau berusaha menghindar Juga dapat menimbulkan kesulitan/menjadi factor yang berpengaruh terhadap tingkah laku anak dalam praktik drg.

3.4 Awareness of Dental Problem Ada tendency negative saat anak percaya bahwa giginya bermasalah

3.5 Medical Hystory Jika anak sebelumnya telah mengalami perawatan medis yang baik / menyenangakan, maka anak akan bersika kooperatif. Jika sebaliknya, anak cenderung bersikap tidak kooperatif.

BAB III KESIMPULAN

Berdasarkan uraian dari bab II dapat disimpulkan bahwa dalam melakukan perawatan gigi anak, dokter gigi harus mengetahui klasifikasi tingkah laku anak, antara lain: 1. Klasifikasi kategori Frankls. 2. misbehaving child dental patient. 3. Klasifikasi kooperatif anak. Dan juga perlu untuk diketahui bahwa ada banyak factor factor yang mempengaruhi tingkah laku anak, antara lain: 1. tingkah laku anak sesuai usia. 2. Segitiga perawatan gigi anak. 3. Maternal anxiety. 4. Awareness of dental problem. 5. Medical history. Dalam menangani tingkah laku anak dalam perawatan gigi dan mulut anak juga diperlukan metode metode khusus: 1. Tell Show Do 2. Voice 3. Hand Over Mouth 4. Obat Obat Sedatif 5. Restraints 6. Kombinasi N20 dan Obat Sedatif 7. General Anesthesi

DAFTAR PUSTAKA

1. Pinkham. Pediatric dentistry: Infancy trough adolescence. 2. Mc Donald. Dentistry for Child and Adolescent, 8thedition, The C.V. Mosby Company.2004 3. Wellbury RR, et al.Paediatric dentistry,3rd ed,oxford university press.2005 4. Kent G.G, et al. The Psychological of Dental Care. Butterworth-Heinemann. 1991. 5. Kartono, Kartini. Psikologi Anak (Psikologi perkembangan). Bandung: Mandar Maju. 1995. 6. Dariyo, Agoes. Psikologi perkembangan anak tiga tahun pertama. Bandung: Refika Aditama. 2007 7. staf pengajar FKUI. 1985. BUKU KULIAH 1 ILMU KESEHATAN ANAK. infomedika Jakarta.

10