Anda di halaman 1dari 8

BAHAN I

penyusunan gigi pada galangan gigit GTL


Penyusunan gigi Penyusunan gigi dilakukan secara bertahap yaitu penyusunan gigi anterior atas, gigi anterior bawah, gigi posterior atas, gigi M1 bawah dan gigi posterior bawah lainnya. Dengan syarat utama : - Setiap gigi mempunyai 2 macam kecondongan/inklinasi 1. Inklinasi mesio-distal 2. Inklinasi anterio-posterior atau inklinasi labio/bukopalatal/lingual sesuai dengan kecondongan tanggul gigitan. Bila terlalu kelabial akan tampak penuh dan bila terlalu kepalatal akan tampak ompong. - Dilihat dari oklusal berada diatas lingir rahang. - Penyusunan gigi harus disesuaikan dengan keadaan lingir, pada pasien yang sudah lama ompong sering sudah terjadi rresopsi lingir. - Resopsi pada lingir atas berjalan keatas dan kepalatal yang menyebabkan bibir jatuh dan tampak masuk, maka penyusunan gigi tidak dilingir tapi lebih kelabial dan sebaliknya resopsi lingir bawah mengarah keanterior sehingga penyusunan gigi lebih kelingual. Berhubung dengan tujuan pembuatan geligi tiruan ialah untuk memperbaiki fungsi pengunyahan, fungsi bicara dan estetik maka perlu diperhatikan beberapa faktor dalam penyusunan gigi: a. Inklinasi atau posisi setiap gigi b. Hubungan setiap gigi dengan gigi tetangganya dan gigi antagonisnya. c. Hubungan kontak antar gigi atas dan bawah yaitu hubungan : #oklusi sentris #oklusi protusiv #sisi kerja #sisi yang mengimbangi d. Overbite dan overjet gigi atas dan bawah dalam hubungan rahang yang normal e. Estetik : # bentuk gigi hendaknya sesuai dengan bentuk lengkung rahang, bentuk kepala, bentuk muka, dan jenis kelamin. # Besar gigi sesuai dengan besar kecilnya lengkung rahang. # Susunan gigi tiruan hendaknya dibuat sewajar mungkin agar bila kelak geligi tiruan dipakai kelihatan wajar. # Profil pasien yang menyangkut ketepatan dimensi vertikal dan oklusi sentrik kita tentukan. Dimensi vertikal yang terlalu rendah atau terlalu tinggi akan merubah profil pasien. A. Penyusunan gigi anterior I. Penyusunan gigi anterior atas, pada permukaan labial setiap gigi yang akan disusun kita tarik porosnya. Tanggul gigitan malam dipotong bertahap supaya tidak kehilangan jejak selebar mesio-distal dan sedalam lebar antero-posterior gigi yang akan disusun ditempat tersebut. Gigi yang disusun harus memenuhi syarat inklinasi mesio-distal dan inklinasi anterio-posteriornya serta dilihat dari bidang oklusal, tepi insisal gigi

anterior atas berada diatas lingir rahang dan sesuai lengkung lingir rahang. Untuk memudahkan penyusunan gigi gambaran lengkung puncak lingir rahang kita pindahkan ke meja artikulator dan incisal edge gigi anterior atas menyentuh lengkung ini pada meja artikulator saat penyusunan gigi. 1. Gigi I-1 atas Tanggul gigitan malam dipotong secukup gigi I-1 atas,lalu gigi I-1 atas yang telah digambar porosnya digambar diletakkan ditempat ini dengan memperhatikan inklinasi mesio-distal. 2. Gigi I-2 atas Tanggul gigitan malam dipotong secukup gigi I-2 atas, lalu gigi I-2 atas yang telah digambar porosnya diletakkan ditempat ini dengan memperhatikan inklinasi mesiodistal, long axisnya membuat sudut 80 derajat dengan bidang oklusal dan tepi oklusalnya 1 mm diatas bidang oklusal. 3. Gigi C/ kaninus atas Tanggul gigitan malam dipotong secukup gigi C atas lalu gigi C yang telah digambar porosnya diletakkan ditempat ini dengan memperhatikan inklinasi mesio-distal : long axisnya hampir sama dengan gigi I-1 atas atau paling condong garis luar distal tegak lurus bidang oklusi atau meja artikulator dan inklinasi antero posterior : bagian servikal tampak lebih menonjol dan ujung cusp lebih kepalatal dan menyentuh bidang orientasi dilihat dari bidang oklusal. Kemudian gigi I-1, I-2 dan C atas lainnya disusun seperti syarat-syarat diatas. II. Penyusunan gigi anterior bawah pada permukaan labial gigi yang akan disusun kita tarik porosnya. Penyusunan gigi anterior bawah disesuaikan dengan gigi anterior atas yang telah disusun memenuhi estetik dan diutamakan untuk fungsi memotong atau menyobek makanan. Posisi gigi anterior atas dan bawah harus diberi jarak vertikal/ overbite dan jarak horizontal/overjet secukupnya menyesuaikan dengan tinggi bonjol/cusp gigi posterior. Saat gigi anterior berfungsi, gigi anterior bawah maju berkontak tepi lawan tepi dengan gigi anterior atas untuk mengimbanginya kecuali kasus lain. Jalan yang ditempuh gigi anterior bawah akan membentuk sudut dengan bidang horisontal yang disebut sudut insisal atau incisal guidance. 1. Gigi I-1 bawah Tanggul gigitan malam bawah dipotong secukup gigi I-1 bawah lalu gigi I-1 bawah yang telah digambar porosnya diletakkan ditempat ini dengan memperhatikan inklinasi mesio-distal long axisnya membuat sudut 85 derajat dengan bidang oklusal dan tepi insisal 1-2 mm diatas bidang oklusal, inklinasi antero-posterior. 2. Gigi I-2 bawah Tanggul gigitan malam bawah dipotong secukup gigi I-2 bawah lalu gigi I-2 bawah yang telah digambar porosnya diletakkan ditempat ini dengan memperhatikan inklinasi mesio distal, long axisnya membuat sudut 80 derajat dengan bidang oklusal inklinasi antero posterior,long axisnya tegak lurus bidang oklusal, bagian tepi insisal dan bagian servikal sama jaraknya, tepi insisal 1-2 mm diatas bidang oklusal, serta dilihat dari bidang oklusal tepi insisal terletak diatas lingir rahang. 3. Gigi C/kaninus bawah Tanggul gigitan malam bawah dipotong secukup gigi C / kaninus bawah lalu C bawah yang telah digambar porosnya diletakkan ditempatnya dengan memperhatikan inklinasi mesio-distal : long axisnya miring/ paling condong garis luar distalnya tegak lurus bidang oklusal, inklinasi antero-posterior. Gigi condong kelingual/bagian

servikal menonjol serta dilihat dari bidang oklusal ujung cusp terletak diatas lingir rahang, bagian kontak distal berhimpit dengan garis lingir posterior. Saat setiap penyusunan gigi bawah, selalu kita periksa artikulasi keanterior dan lateral dengan menggerakan bagian atas artikulator kearah posterior dan kelateral dimana dapat terlihat tepi tepi insisal saling menyentuh. B. Penyusunan gigi posterior Sebelum menyusun gigi posterior terlebih dahulu kita membuat goresan garis lingir bagian oklusal galangan malam yang sejajar garis lingir pada dasar model. Penyusunan gigi posterior berdasarkan : a. Menyusun diatas rahang sehingga terbentuk lengkung gigi b. Membentuk lengkung/kurva kompensasi c. Hubungan gigi-gigi dirahang : inklinasi, overbite, overjet. III. Penyusunan gigi posterior atas harus disusun sedemikian rupa sehingga terbentuk lengkung/ kurva dari sppe dan kurva dari wilson dan agar tetap berada dalam hubungan yang tepat dengan gigi lawannyatidak saja saat oklusi sentris tetapi juga saat pergerakan protusif dan pergerakan lateral dari rahang bawah selama fungsi pengunyahan. 1. Gigi P-1 atas Tanggul gigitan malam atas dipotong secukup gigi P-1 atas lalu gigi P-1 atas yang telah digambar porosnya diletakkan ditempat ini dengan memperhatikan inklinasi mesio-distal : long axisnya tegak lurus bidang oklusi, inklinasi antero-posterior. Cusp bukal pada bidang oklusi dan cusp palatal kira-kira 1mm diatas bidang oklusi serta dilihat dari bidang oklusi serta dilihat dari bidang oklusal groove developmental sentral terletak diatas lingir rahang. 2. Gigi P-2 atas Tanggul gigitan malam atas dipotong secukup gigi P-2 atas lalu gigi P-2 atas yang telah digambar porosnya diletakkan ditempat ini dengan memperhatikan inklinasi mesio-distal: porosnya tegak lurus bidang oklusal, inklinasi antero-posterior. Cusp bukal dan cusp palatal terletak pada bidang oklusal serta dilihat dari bidang oklusal development groove sentralnya terletak diatas lingir rahang. 3. Gigi M-1 atas Tanggul gigitan malam atas dipotong secukup gigi M-1 atas lalu gigi M-1 atas yang telah digambar porosnya diletakkan ditempat ini dengan memperhatikan inklinasi mesio-distal: porosnya condong kedistal, inklinasi antero-posterior, cusp-cuspnya terletak pada bidang oblique dari kurva antero-posterior yaitu cusp mesio-palatal terletak pada bidang oklusi, cusp mesio-bukal dan disto-palatal sama tinggi kira-kira 1mm diatas bidang oklusi dan cusp disto-bukal kira-kira 2 mm daiatas bidang oklusi serta dilihat dari bidang oklusal cusp-cuspnya terletak pada kurva lateral. 4. Gigi M-2 atas Sisa tanggul gigitan malam atas dipotong secukup gigi M-2 atas lalu gigi M-2 atas yang telah digambar porosnya diletakkan ditempat ini dengan memperhatikan inklinasi mesio-distal: porosnya condong kedistal, inklinasi antero-posterior, cuspcuspnya terletak pada bidang oblique dari kurva antero-posterior, serta dilihat dari bidang oklusal permukaan bukal gigi M-2 atas terletak pada kurva lateral. IV. Penyusunan gigi posterior bawah disusun sedemikan rupa sehingga terbentuk lengkung sphere dari Monson agar tetap berada dan berhubungan yang tepat

terhadap gigi geligi lawannya, tidak saja saat oklusi sentris tetapi juga saat semua gerakan dari rahang bawah selama pengunyahan. 1. Gigi M-1 bawah Tanggul gigitan malam atas dipotong secukup gigi M-1 bawah lalu gigi M-1 bawah diletakkan ditempat ini dengan memperhatikan inklinasi mesio-distal: cusp mesiobukal gigi M-1 atas berada digroove mesio-bukal gigi M-1 bawah. Inklinasi anteroposterior ; cusp bukal gigi M-1 (holding cusp) bawah berada difosa sentral gigi geraham atas dan terlihat adanya overbite dan overjet serta dilihat dari bidang oklusal cusp bukal gigi geraham bawah berada diatas lingir rahang. 2. Gigi P-2 bawah Tanggul gigitan malam atas dipotong secukup gigi P-2 bawah lalu gigi P-2 bawah yang telah digambar porosnya diletakkan ditempat ini dengan memperhatikan inklinasi mesio-distal: porosnya tegak lurus bidang oklusal, inklinasi anteroposteriornya ; cusp bukalnya berada pada di fosa sentral gigi P-1 dan P-2 atas terlihat adanya overjet dan overbite serta dilihat dari bidang oklusal: cusp bukalnya berada diatas lingir rahang. 3. Gigi M-2 bawah Sisa tanggul gigitan malam atas dipotong secukup gigi M-2 bawah lalu gigi M-2 bawah yang telah digambar porosnya diletakkan ditempat ini dengan memperhatikan inklinasi mesio-distal, inklinasi antero-posteriornya serta dilihat dari bidang oklusal: cusp bukalnya berada diatas lingir rahang. 4. Gigi P-1 bawah Sisa tanggul gigitan malam atas dipotong secukup gigi P-1 bawah lalu gigi P-1 bawah yang telah digambar porosnya diletakkan ditempat ini dengan memperhatikan inklinasi mesio-distal: porosnya tegak lurus bidang oklusal, inklinasi anteroposteriornya ; cusp bukalnya berada pada di fosa sentral gigi P-1 dan C atas serta dilihat dari bidang oklusal: cusp bukalnya berada diatas lingir rahang.

BAHAN II
3.4.Penyusunan elemen gigi pada rahang atas Penyusunan elemen gigi pada kasus yang penulis angkat adalah sebagai berikut : Incisive Satu Rahang Atas - Sumbu gigi miring 5 (lima derajat) terhadap garis mideline - Titik kontak sebelah mesial tepat pada garis midianline. - Incisal edge tepat pada bidang oklusal. - Permukaan labial sesuai dengan lengkung biterim namun sedikit depresi pada segitiga servikalnya. Incisive Dua Rahang Atas - Sumbu gigi membentuk sudut yang lebih miring dari gigi incisive Satu - Titik kontak mesial berkontak dengan titik kontak distal incisive Satu - Incisal edge berada tepat 1 mm diatas bidang oklusal - Permukaan labial sesuai dengan lengkung biterime namun agak depresi pada sepertiga servikalnya sedikit lebih dalam dari gigi incisive satu Caninus Rahang Atas

- Sumbu gigi hampir sejajar dengan garis midline - Tiitik kontak mesial berkontak dengan titik kontak distal incisive dua. - Puncak cusp menyentuh atau tepat pada bidang oklusal. - Permukaan labial disesuaikan dengan lengkung bitrime. Premolar Satu Rahang atas. - Sumbu gigi tegak lurus dengan bidang okluasal. - Titik kontak mesial berkontak dengan titik kontak distal gigi caninus. - Puncak cusp buccal tepat berada pada menyentuh bidang oklusal. - Puncak cusp palatal terangkat 1mm diatas bidang oklusal. - Permukaan buccal sesuai dengan lengkung biterime. - Mesiobuccal cusp gigi premolar atas kiri berada di embrasure antara premolar dan molar satu bawah kiri.

Premolar Dua Rahang Atas - Sumbu gigi tegak lurus dengan dengan bidang oklusal. - Titik kontak mesial berkontak dengan titik kontak distal gigi premolar Satu. - Puncak cusp buccal dan palatal menyentuh bidang oklusal. - Permukaan buccal sesuai dengan lengkung biterime. Molar Satu Rahang Atas - Sumbu gigi pada bagian cervical sedikit miring kearah mesial. - Titik kontak mesial berkontak dengan titik kontak distal molar satu - Mesiopalatal cusp berada tepat pada atau menyentuh bidang oklusal. - Mesiobuccal cusp dan distopalatal cusp terangkat 1mm dari bidang oklusal - Distobuccal cusp terangkat 1mm diatas bidang oklusal sedikit lebih tinggi dari distopalatal cusp. - Permukaan buccal menyimpang 60 dari garis biterime kearah garis medianline. Molar Dua Rahang Atas. - Sumbu gigi pada bagian cervical lebih miring dari gigi molar Satu - Titik kontak mesial berkontak dengan titik kontak distal molar Satu - Mesiopalatal cusp berkedudukan kurang lebih sama dengan kedudukan distobuccal gigi molar satu. - Permukaan buccal segaris dengan permukaan buccal dari molar satu. 3.5 Penyususunan elemen gigi pada rahang bawah Penyusunan elemen gigi pada kasus yang di angkat penulis adalah sebagi berikut: Incisive Satu Rahang Bawah - Sumbu gigi tegak lurus terhadap bidang oklusal. - Permukaan labial sedikit depresi pada bagian cervical. - Dapat di tempatkan di atas atau sedikit kelabial dari puncak ridge. - Titik kontak mesial tepat pada garis midian line. - Titik kontak distal berkontak dengan titik kontak mesial gigi incisive dua bawah. - Pada pergerakan protusi, incisal edge gigi incisive satu rahang atas berkontak dengan incisal edge gigi incisive satu rahang bawah. Incisive dua rahang bawah - Sumbu gigi sedikit miring ke mesial. - Titik kontak mesial berkontak dengan titik kontak distal gigi incisive satu rahang bawah. - Pada pergerakan protusi, incisal edge gigi dua rahang bawah berkontak dengan incisal edge gigi incisive satu rahang atas. Caninus Rahang Bawah

- Ujung cusp berada tepat pada bidang oklusal. - Sumbu gigi lebih miring kemesial di bandingkan dengan gigi incisive dua rahang bawah. - Ujung cusp berada diantara gigi incisive dua rahang atas dan gigi caninus rahang atas. - Titik kontak mesial berkontak dengan titik kontak distal incisive dua rahang bawah. - Permukaan labial di bagian cervical lebih prominent (menonjol) dibandingkan pada daerah cervical. Premolar Satu Rahang Bawah. - Buccal cusp terletak diantara buccal cusp gigi premolar satu rahang atas dan caninus rahang atas dan ujung cuspnya berkontak dengan marginal ridge gigi premolar satu rahang atas dan caninus rahang atas. Premolar Dua Rahang Bawah - Buccal cusp gigi ini terletak di antara gigi premolar dua rahang atas dengan gigi premolar satu rahang atas dengan margianal ridge terletak diantara palatal cusp gigi premolar dua rahang atas dan premolar satu rahang atas. - Lingual cusp gigi ini terletak diantara palatal cusp gigi premolar dua rahang atas dan premolar satu rahang atas. Molar Satu Rahang Bawah - Mesiobuccal cusp gigi molar satu rahang atas berada di mesiobuccal groove gigi molar satu rahang bawah. - Mesiopalatal cusp gigi molar satu rahang atas berada di central fossa gigi molar satu rahang bawah. Molar Dua Rahang Bawah - Mesiobuccal cusp gigi ini berada tepat di antara gigi molar satu dan gigi molar dua rahang atas. - Mesiopalatal cusp gigi ini terletak di central fossa gigi molar dua rahang atas.

BAHAN III
1. Membuat Bentuk Landasan Landasan dibuat dengan shelac base plate yang telah dilunakan dan ditekan pada model. Kemudian malam ditekan sedemikian rupa lalu dipotong sesuai keadaan anatomi model. Potongan tersebut tepat pada perbatasan mukosa bergerak dan tidak bergerak. 2. Membuat Tanggul Malam Cara membuat tanggul ada 2, yaitu : a. Dengan wax rims former Potongan malam dicairkan lalu dituangkan pada wax rims former dan dikeluarkan ketika malam sudah mengeras. b. Dengan lembaran malam yang digulung Pertama kita lunakan selembar malam di atas lampu spiritus pada sebelah sisi, kemudian sisi ini kita gulung (dalam gulungan ada malam cair, untuk penyatu). Lembaran malam dipanasi lagi, lalu digulung lagi sampai membentuk sebuah silinder. Harus diperhatikan bahwa setiap digulung malam tersebut harus melekat satu dengan yang lainnya. Gulungan malam yang berbentuk silinder dibentuk bentuk tapal kuda dengan tebal 10-12 mm. 3. Membuat Tanggul Gigitan

a.

b. c. d. e.

Meletakan tanggul malam di atas bentuk landasan dengan patokan : Membuat titik A (titik di bawah tanggul malam yang merupakan titik pertemuan garis tengah tanggul dengan tengah-tengah tanggul anterior) berhimpit dengan titik B (titik pertemuan puncak lingir anterior dengan garis tengah model rahang kerja). Garis puncak lingir model kerja pada tanggul malam sehingga garis puncak lingir rahang letaknya pada tanggul malam rahang atas : Panjang tanggul malam sampai bagian distal gigi molar pertama. Lalu kontur bukal tanggul gigitan diselesaikan dengan menggunakan pisau gips. Lunakan tanggul gigitan bidang orientasi di atas sebuah glass slab/kape yang telah diminyaki pada sebuah sisinya (yang berhadapan dengan bidang orientasi) dan hangat. Agar diperoleh bidang oklusal/orientasi yang datar dengan tinggi tanggul: depan 12 mm dan belakang 10-11 mm.

4. Uji Coba Tanggul Gigitan Rahang Atas dan Bawah Pasien diminta duduk dengan enak dan posisi tegak, lalu tanggul gigitan malam rahang atas dimasukkan ke dalam mulut pasien dan dilakukan uji coba tanggul gigitan rahang atas dengan pedoman: a. Adaptasi landasan Landasan harus diam di tempat, tidak boleh mudah lupas ataupun bergerak karena akan mengganggu pekerjaan tahap selanjutnya. Pinggiran landasan gigi tiruan harus merapat dengan jaringan pendukung. Pinggiran landasan tepat, tidak terlalu panjang atau terlalu pendek. b. Dukungan bibir dan pipi Setelah tanggul gigitan dipasang di dalam mulut Pasien harus tampak normal seakan akan seperti bergigi. Penilaiannya pada sulkus naso-labialis dan philtrum pasien tampak tidak terlalu dalam atau hilang alurnya. Bibir dan pipi pasien tidak boleh tampak cembung atau cekung. Mengukur 1/3 panjang muka dan dimensi vertikal dengan Boley gauge atau jangka sorong. Mengukur kesejajaran bidang orientasi dengan Fox bite gauge. c. Panjang tanggul gigitan Sebagai pedoman untuk tanggul gigitan atas adalah low lip line yaitu pada saat pasien istirahat, garis insisal/bidang oklusal/bidang orientasi tanggul gigitan atas setinggi garis bawah bibir atas dilihat dari muka dan dilihat dari lateral, sejajar garis ala nasi-tragus (seolah-olah tidak terlihat tanggul gigitan). Sedangkan pada saat tersenyum garis insisal/bidang orientasi tanggul gigitan ini terlihat kira-kira 2 cm di bawah sudut bibir. Panjang tanggul gigitan atas dan bawah berdasarkan pedoman : glabela-subnasion = subnasiongnathion = pupil-sudut bibir. d. Bidang orientasi Kita cari bidang orientasi dengan mensejajarkan : - bagian anterior dengan garis pupil dengan - bagian porterior garis Camper yang berjalan dari ala nasi ke tragus/porion.

Kemudian kita lakukan uji coba tanggul gigitan rahang bawah dengan pedoman : Adaptasi landasan - Caranya sama dengan rahang atas, landasan harus diam di tempat, tidak boleh mudah lepas/bergerak. - Pada rahang bawah tidak dapat sebaik rahang atas karena luas landasan yang lebih sempit dan gangguan gerakan lidah. Tanggul gigitan, yang hasus diperhatikan ialah : - Bidang orientasi tanggul gigitan rahang bwah harus merapat (tidak boleh ada celah) dengan bidang orientasi tanggul gigitan rahang atas. - Permukaan labial/bukal tanggul gigitan harus sebidang dengan yang atas. Bila kelebihan harus dikurangi dan sebaliknya bila kekurangan harus ditambah. Posisi rahang atas dan bawah dalam gigitan sentrik sementara yang disebut juga dengan tentatif. - Tarik garis median pada tanggul gigitan sesuai dengan garis median pasien.