Anda di halaman 1dari 6

POTENSI ZEOLIT DARI DAERAH KEMIRI, PURWOREJO UNTUK PENJERNIHAN MINYAK GORENG BEKAS Kristinah Haryani Jurusan Teknik

Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro Semarang Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji potensi zeolite alam dari daerah Kemiri Kabupaten Purworejo untuk menjernihkan minyak goreng bekas. Proses utama dalam penelitian ini adalah adsorpsi sehingga kadar asam lemak bebas dan koloid dalam minyak goreng bekas menurun dan kejernihan minyak goreng bekas akan meningkat. Percobaan dilaksanakan dengan memasukkan minyak goreng bekas dalam beaker glass dengan berat 200 gr, kemudiaan ditambahkan zeolit alam yang telah diaktivasi dengan berat 50 gram ke dalam beaker glass yang berisi mimyak bekas dan diaduk. Kondisi operasi divariasi pada berbagai suhu (600C, 700C, 800C, 900C dan 1000C), waktu operasi (10 menit, 20 menit, 30 menit, 40 menit, 50 menit dan 60 menit) dan diameter partikel zeolit (0,1125mm, 0,2mm, 0,3375mm, 0,5125mm, 0,725mm, 1,015mm, 1,59mm). Hasil penelitian menunjukkan bahwa minyak goreng bekas mengalami penurunan kadar asam lemak bebas, penurunan bilangan peroksida dan menjadi jernih. Kondisi yang relative baik diperoleh pada diameter zeolit 0,2 mm, suhu 900C dan waktu reaksi 30 menit Kata kunci : Zeolit alam, adsorpsi. PENDAHULUAN Minyak goreng merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia sebagai alat pengolah bahan bahan makanan. Fungsinya sebagai media penggoreng sangat vital dan kebutuhannya semakin meningkat. Minyak goreng nabati biasa diproduksi dari kelapa sawit, kelapa atau jagung. Pada umumnya minyak yang sudah digunakan untuk menggoreng tidak dibuang, tetapi digunakan berulang kali. Demikian pula yang terjadi pada industri pangan yang menggunakan minyak goreng dalam jumlah besar. Minyak digunakan berulang-ulang untuk menekan biaya produksi, namun penggunaan kembali minyak goreng bekas secara berulang-ulang akan menurunkan mutu bahan pangan yang digoreng akibat terjadinya kerusakan pada minyak yang digunakan, karena minyak menjadi berwarna kecoklatan, lebih kental, berbusa, berasap serta dihasilkan rasa dan bau yang tidak disukai pada bahan pangan yang digoreng. Penelitian ini bertujuan meningkatkan mutu minyak goreng bekas menggunakan zeolite alam sebagai adsorbent sehingga kadar asam lemak bebas dalam minyak goreng bekas akan menurun dan kejernihan akan meningkat. Metode ini diterapkan menimbang Indonesia memiliki sumber zeolit alam yang cukup melimpah dengan kemurnian lebih dari 84 % (Subagjo, 1998). Khususnya di desa Plipiran 18 Kecamatan Kemiri Kabupaten Purworejo. Harga zeolit alam tersebut masih murah (Rp. 170,00/ kg) dan dapat digunakan berulang ulang 10 12 kali. Melalui proses adsorpsi, minyak goreng bekas dapat digunakan kembali. Adsorbsi merupakan suatu peristiwa fisik pada permukaan suatu bahan yang tergantung dari spesifik affinity antara adsorben dan zat yang diadsorbsi (Ketaren, 1986). Adsorben yang sering digunakan adalah karbon aktif, zeolit dan lumpur aktif. Tujuan dari proses adsorbsi adalah menghilangkan rasa, warna dan bau yang tidak diinginkan serta material material organik baik yang beracun maupun tidak dari suatu senyawa. Adsorbsi dapat diklasifikasikan menjadi adsorbsi fisik dan kimia. Adsorbsi fisik terjadi karena adanya gaya Van der Walls dan bersifat reversibel. Adsorbent yang digunkan dalam adsorbsi fisik harus memiliki luas permukaan yang luas sebagai tempat terkumpulnya solute. Sedangkan adsorbsi secara kimia biasanya bersifat irreversibel. Minyak merupakan trigliserida yang tersusun atas tiga unit asam lemak, berwujud cair pada suhu kamar (25C) dan lebih banyak mengandung asam lemak tidak jenuh sehingga mudah mengalami oksidasi. Minyak yang berbentuk padat biasa

disebut dengan lemak. Minyak dapat bersumber dari tanaman, misalnya minyak zaitun, minyak jagung, minyak kelapa, dan minyak bunga matahari. Minyak dapat juga bersumber dari hewan, misalnya minyak ikan sardin, minyak ikan paus dan lain-lain (Ketaren,1986). Minyak sayur adalah jenis minyak yang digunakan dalam pengolahan bahan pangan, biasanya terbuat dari kelapa maupun kelapa sawit.Zat warna dalam minyak terdiri dari 2 golongan, yaitu zat warna alamiah dan warna akibat oksidasi dan degradasi komponen kimia yang terdapat dalam minyak. Zat warna alamiah terdiri dari dan karoten, xanthofil, klorofil dan anthosyanin. Zat warna ini menyebabkan minyak berwarna kuning, kuning kecoklatan, kehijau hijauan dan kemerah merahan. Sedangkan warna akibat oksidasi dan degradasi komponen kimia yang terdapat dalam minyak meliputi warna gelap, warna coklat dan warna kuning. Terdapatnya sejumlah air dalam minyak dapat mengakibatkan kerusakan minyak yang disebabkan proses hidrolisa mejadi asam lemak bebas dan mengakibatkan ketengikan. Persamaan reaksi hidrolisa menurut Schwitzer (1957) adalah sebagai berikut:
O H2 C O C R O HC O C R + 3HOH H2C OH

dengan rupa yang kurang menarik dan cita rasa yang tidak enak, serta kerusakan sebagian vitamin dan asam lemak esensial yang terdapat dalam minyak (Ketaren,1986). Kerusakan minyak karena pemanasan pada suhu tinggi disebabkan oleh proses oksidasi dan polimerisasi. Oksidasi minyak akan menghasilkan senyawa aldehida, keton, hidrokarbon, alkohol, lakton serta senyawa aromatis yang mempunyai bau tengik dan rasa getir. Sedangkan pembentukan senyawa polimer selama proses menggoreng terjadi karena reaksi polimerisasi adisi dari asam lemak tidak jenuh. Hal ini terbukti dengan terbentuknya bahan menyerupai gum yang mengendap di dasar tempat penggorengan. Bilangan Peroksida merupakan nilai terpenting untuk menentukan derajat kerusakan pada minyak atau lemak. Asam lemak tidak jenuh dapat mengikat oksigen pada ikatan rangkapnya sehingga membentuk peroksida. Peroksida ini dapat ditentukan dengan metode iodometri. ZEOLIT Zeolit merupakan mineral yang terdiri dari kristal alumino silikat terhidrasi yang mengandung kation alkali atau alkali tanah dalam kerangka tiga dimensinya. Ion ion logam tersebut dapat diganti oleh kation kain tanpa merusak struktur zeolit dan dapat menyerap air secara reversibel. Kerangka dasar struktur zeolit terdiri dari unit unit tetrahedral AlO4 dan SiO4 yang saling berhubungan melalui atom O dan di dalam struktur tersebut Si4+ dapat diganti dengan Al3+ sehingga rumus empiris zeolit menjadi : M2nO.Al2O3.xSiO2.yH2O M x n y = = = = kation alkali atau alkali tanah bilangan tertentu (2 s/d 10) valensi logam alkali bilangan tertentu (2 s/d 7)

O
HC OH + 3R C OH

O H2C O C R Trigliserida air H2C OH gliserol asam lemak

Selain proses hidrolisa minyak bisa mengalami proses oksidasi yang menyebabkan bau tengik pada minyak. Oksidasi dimulai dengan terbentuknya peroksida dan hiperoksida. Tingkat selanjutnya ialah terurainya asam-asam lemak disertai dengan konversi hidroperoksida menjadi aldehid, keton serta asam lemak bebas. Rancidity terbentuk oleh aldehida bukan oleh peroksida, jadi kenaikan peroksida value hanya indikator dan peringatan bahwa minyak sebentar lagi akan berbau tengik. Kerusakan minyak selama proses menggoreng akan mempengaruhi mutu dan nilai gizi bahan pangan yang digoreng. Minyak yang rusak akibat proses oksidasi dan polimerisasi akan menghasilkan bahan

Jadi zeolit terdiri dari 3 komponen yaitu : kation yang dipertukarkan, kerangka aluminosilikat dan fase air. Ikatan ion Al Si O membentuk struktur kristal sedangkan logam alkali merupakan sumber kation yang mudah dipertukarkan (Sutarti M, 1994). Karena dalam struktur zeolit muatan ion Al3+ lebih kecil daripada Si4+ maka ion Al3+ cenderung bersifat negatif dan mengikat kation alkali atau alkali tanah untuk dinetralkan muatannya. Kation alkali atau alkali tanah dalam zeolit inilah yang selanjutnya

POTENSI ZEOLIT DARI DAERAH KEMIRI, PURWOREJO UNTUK...... (Kristinah Haryani)

19

dimanfaatkan dalam proses ion exchange. (Sutarti, 1994) Bila kristal zeolit dipanaskan pada suhu 250 400C maka air di dalam kristal zeolit akan keluar sehingga zeolit dapat berfungsi sebagai penyerap gas atau cairan. Sehingga zeolit diharapkan mampu mampu menyerap asam lemak bebas maupun koloid yang ada dalam minyak goreng bekas. Selektifitas adsorbsi zeolit terhadap ukuran molekul tertentu dapat disesuaikan dengan jalan : penukaran kation, dekationisasi, dealuminasi secara hidrothermal dan pengubahan perbandingan kadar Si / Al. Sifat sebagai penukar ion dari zeolit tergantung dari sifat kation, suhu dan jenis anion. Penukaran kation dapat menyebabkan perubahan beberapa sifat zeolit seperti stabilitas terhadap panas, sifat adsorbsi dan aktifitas katalis. Zeolit yang diperoleh dari proses penyiapan telah dapat digunakan untuk berbagai keperluan. Akan tetapi daya serap, daya tukar ion maupun daya katalis dari zeolit tersebut belum maksimal. Untuk memperoleh zeolit dengan kemampuan yang tinggi diperlukan beberapa perlakuan, antara lain preparasi,aktivasi dan modifikasi. Tahap preparasi ini bertujuan memperoleh ukuran produk yang sesuai dengan tujuan penggunaan. Preparasi terdiri dari tahap peremukan (crushing) sampai penggerusan (grinding). Proses aktivasi zeolit dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu secara fisis dan kimiawi.Aktivasi secara fisis berupa pemanasan zeolit dengan tujuan untuk menguapkan air yang terperangkap dalam pori pori kristal zeolit sehingga luas permukaan pori pori bertambah. Pemanasan dilakukan dalam oven biasa pada suhu 250 400C (untuk skala laboratorium) atau menggunakan tungku putar dengan pemanasan secara penghampaan selama 3 jam atau penghampaan selama 5 6 jam (skala besar). Sedangkan aktivasi secara kimia dilakukan dengan larutan asam H2SO4 atau basa NaOH dengan tujuan untuk membersihkan permukaan pori, membuang senyawa pengotor dan mengatur kembali letak atom yang dapat dipertukarkan. Pereaksi kimia ditambahkan pada zeolit yang telah disusun dalam tangki dan diaduk dalam jangka waktu tertentu. Zeolit kemudian dicuci dengan air sampai netral dan selanjutnya dikeringkan

METODE PENELITIAN Bahan Dan Alat Bahan yang digunakan yaitu minyak goreng bekas yang diperoleh dari industri rumah tangga (catering) BAGONG, zeolit alam dari Purworejo, etanol 96%, NaOH, Indikator PP, asam asetat glasial, chloroform (CHCl3), Na2S2O3 dan KI. Alat yang digunakan untuk aktivasi zeolit yaitu cawan porselin dan oven sedangkan untuk mereaksikan minyak dengan zeolit yang telah diaktivasi terdiri dari labu leher tiga, pengaduk, thermometer, dan pendingin balik. Adapun alat yang digunakan untuk menganalisa sampel yaitu spectronic 20, viscosimeter ocstworld, picnometer, kertas lakmus, gelas ukur, erlenmeyer , beaker gelas, buret, statif dan klem Gambar Rangkaian Alat

1 3

Keterangan gambar :

1. Statif 2. Klem

3. Pengaduk

2 5 6

4. Thermometer 5. Labu leher tiga 6. Waterbath 7. Pemanas

7
Respon/ Pengamatan

Respon yang diamati adalah bilangan asam, bilangan peroksida, pH, densitas, viscositas, tingkat kejernihan (adsorbansi) dan kadar air minyak goreng bekas sebelum dan sesudah penjernihan. Prosedur Percobaan Aktivasi Proses ini bertujuan untuk meningkatkan sifat-sifat khusus zeolit dengan cara menguapkan air yang terperangkap dalam pori kristal zeolit. Aktivasi dilakukan dengan pemanasan pada suhu 250C selama 2 jam.

20

TEKNIS Vol. 3 No.1 April 2008 : 18 - 23

Analisa Bahan-baku Analisa hasil percobaan meliputi parameter, yaitu bilangan asam yang diukur dengan metode titrasi asam basa, bilangan peroksida dengan metode iodometri, density, viscosity, pH, tingkat absorbansi, % transmitansi, kadar air dengan metode oven terbuka. Pelaksanaan Percobaan Percobaan dilaksanakan dengan memasukkan minyak goreng bekas dalam beaker glass dengan berat 200 gr . kemudiaan ditambahkan zeolit alam yang telah diaktivasi dengan berat 50 gram ke dalam beaker glass yang berisi mimyak bekas seperti pada gambar rangkaian alat utama. Kemudian dengan memvariasikan kondisi operasi (variabel berubah) yang meliputi suhu (60 oC ; 70 oC ; 80 oC ; 90 oC ; 100 oC), waktu Reaksi (10 menit ; 20 menit ; 30 menit ; 40 menit ; 50 menit ; 60 menit) dan diameter partikel zeolit (1,59 mm ; 1,015 mm ; 0,725 mm ; 0,5125 mm ; 0,3375 mm ; 0,2 mm ; 0,1125 mm) Analisa hasil Analisa hasil percobaan meliputi parameter, yaitu bilangan asam yang diukur dengan metode titrasi asam basa, bilangan peroksida dengan metode iodometri, density, viscosity, pH, tingkat absorbansi, % transmitansi, kadar air dengan metode oven terbuka. HASIL DAN PEMBAHASAN Pengaruh Diameter Zeolit Terhadap Penjernih Minyak Goreng Bekas Proses absorpsi dipengaruhi oleh diameter absorben. Semakin kecil diameter absorben maka luas permukaannya semakin besar sehingga memperluas bidang kontak yang menyebabkan proses absorpsi semakin baik. Pada penelitian ini diameter zeolit yang memberikan hasil optimum adalah ukuran 0,2 mm.
Tabel 1. Hasil Penjernihan Minyak Goreng Bekas pada Variasi Diameter Zeolit (waktu operasi 30 menit, suhu 90 oC)
Diameter Minyak bekas 1,59 1,015 0,725 0,5125 0,3375 0,2 0,1125 Bil asam 3,93 3 3,36 3,14 2,81 2,13 1,91 1,87 Bil Densitas Viscositas Absorbansi Kadar Peroksida Air 33,18 28,86 26,94 26,94 23,09 21,16 21,16 21,16 0,93 0,92 0,91 0,91 0,9 0,9 0,87 0,88 0,35 0,32 0,31 0,31 0,29 0,28 0,28 0,28 1,56 1,22 1,16 1,12 0,67 0,73 0,32 0,37 0,05 0,04 0,04 0,04 0,03 0,02 0,01 0,01 pH 5 5 5 5 5 5 5 5

Dari Tabel 1 terlihat tingkat kejernihan minyak semakin besar dengan semakin kecilnya diameter zeolit hal ini ditunjukkan dengan semakin menurunnya adsorbansi. Hal ini juga diikuti dengan semakin kecilnya nilai densitas dan viskositas. Selain itu juga kualitas minyak semakin baik dimana bilangan asam dan peroksidanya semakin turun. Parameter yang penting untuk mengetahui kualitas minyak adalah dari bilangan asam maupun bilangan peroksidanya. Bilangan asam menunjukan banyaknya asam lemak bebas yang terkandung dari minyak yang merupakan hasil dari hidrolisa minyak sedangkan bilangan peroksida merupakan nilai terpenting untuk menentukan derajat kerusakan pada minyak. Asam lemak tidak jenuh dapat mengikat oksigen pada ikatan rangkapnya sehingga membentuk peroksida (Ketaren,1986). Adanya peroksida menunjukkan telah terjadinya proses oksidasi pada minyak tersebut. Dari tabel 1 terlihat nilai bilangan asam dan bilangan peroksida yang semakin menurun dengan semakin kecilnya diameter. Hal ini disebabkan semakin kecil ukuran partikel maka luas permukaan kontaknya semakin besar sehingga semakin banyak asam lemak bebas dan asam lemak tidak jenuh yang terserap. Dari tabel 1 terlihat bahwa semakin kecil diameter zeolit maka densitas, viskositas dan absorbansi cenderung menurun. Hal ini disebabkan dengan semakin kecilnya ukuran partikel zeolit maka daya serap adsorbent semakin meningkat (baik) karena luas bidang kontaknya semakin besar. Karena banyak partikel partikel pengotor (koloid) mampu terikat oleh absorbent, warna minyak semakin jernih sehingga nilai absorbansinya semakin kecil. Banyaknya partikel- partikel koloid yang terserap oleh adsorbent juga menyebabkan densitas semakin turun dan nilai viskositas juga cenderung menurun. Hal ini sesuai dengan teori bahwa nilai densitas berbanding lurus dengan viscositas. Pengaruh Suhu Operasi Terhadap Penjernihan Minyak Goreng Bekas Suhu sangat berpengaruh terhadap proses adsorpsi. Semakin tinggi suhu menyebabkan proses penjerapan semakin baik. Namun pemanasan yang berlebih menyebabkan kualitas minyak semakin turun. Pada penelitian ini suhu operasi yang memberikan hasil optimum adalah pada suhu operasi 90oC.

POTENSI ZEOLIT DARI DAERAH KEMIRI, PURWOREJO UNTUK...... (Kristinah Haryani)

21

Tabel 2. Hasil Penjernihan Minyak Goreng Bekas pada Variasi Suhu Operasi (waktu operasi 30 menit, diameter 0,2 mm)
Suhu Minyak bekas 60 70 80 90 100 Bil asam 3,93 1,98 1,91 2,47 2,81 2,92 Bil Densitas Viscositas Absorbansi Kadar pH Peroksida Air 33,18 19,24 19,24 23,09 23,09 25,01 0,93 0,9 0,89 0,88 0,87 0,88 0,35 0,3 0,3 0,29 0,28 0,29 1,56 0,63 0,46 0,37 0,32 0,36 0,05 0,03 0,02 0,02 0,01 0,01 5 5 5 5 5 5

Tabel 3. Hasil Penjernihan Minyak Goreng Bekas pada Variasi Waktu Operasi (suhu 90oC, diameter 0,2 mm)
Waktu operasi Minyak bekas 10 20 30 40 50 60 Bil Bil Densitas Viscositas asam Peroksida 3,93 1,99 1,97 1,91 2,24 2,36 2,69 33,18 25,01 23,09 23,09 21,16 21,16 21,16 0,93 0,9 0,9 0,87 0,87 0,88 0,88 0,35 0,31 0,29 0,28 0,28 0,29 0,29 Absorbansi Kadar Air 0,05 0,03 0,02 0,01 0,02 0,03 0,03 pH

1,56 0,56 0,38 0,32 0,33 0,37 0,34

5 5 5 5 5 5 5

Pada variasi suhu diperoleh hasil seperti pada Tabel.2 dimana terlihat semakin tinggi suhu kejernihan minyak semakin baik, namun kualitasnya semakin menurun yang ditandai dengan naiknya bilangan asam dan peroksida. Dari tabel 2 terlihat bahwa semakin tinggi suhu bilangan asam dan bilangan peroksida cenderung meningkat. Hal ini disebabkan karena semakin tinggi suhu maka rekasi yang terjadi baik hidolisa minyak maupun oksidasi asam lemak tidak jenuh berjalan semakin baik sehingga jumlah asam lemak bebas dan peroksida yang dihasilkan semakin banyak. Dari tabel 2 diatas terlihat bahwa semakin tinggi temperatur maka densitas,viskositas dan absorbansi cenderung menurun, Hal ini disebabkan karena semakin tinggi temperatur maka daya serap absorbent semakin baik, sehingga semakin banyak partikel - partikel koloid yang mampu terikat oleh adsorbent. Semakin banyaknya partikel-partikel koloid yang terserap menyebabkan minyak semakin jernih sehingga nilai absorbansinya. Selain itu juga menyebabkan berat persatuan volum dan hambatannya dalam mengalir semakin kecil sehingga nilai densitas dan viskositasnya juga semakin kecil. Pengaruh Waktu Operasi Terhadap Penjernihan Minyak Goreng Bekas Waktu operasi yang semakin lama menyebabkan proses adsorpsi semakin baik hingga dicapai waktu yang optimum. Pada penelitian ini waktu operasi yang memberikan hasil optimum adalah pada waktu operasi 30 menit.

Waktu operasi yang semakin lama menyebabkan proses adsorpsi semakin baik, baik secara kualitas maupun kuantitas hingga dicapai waktu optimum. Setelah dicapai waktu optimum terjadi penurunan baik secara kualitas maupun kuantitas, seperti yang terlihat pada Tabel 3. Tabel 3 menunjukkan bahwa, sebelum waktu operasi optimum dicapai bilangan asam dan peroksida semakin menurun. Hal ini disebabkan proses adsorpsi berjalan semakin baik sehingga jumlah asam lemak bebas maupun peroksida semakin berkurang. Namun setelah dicapai waktu optimum bilangan asam dan peroksida meningkat, dikarenakan waktu yang terlalu lama menyebabkan reaksi yang terjadi semakin banyak sehingga jumlah asam lemak bebas dan peroksida juga semakin banyak. Dari tabel 3 diatas terlihat bahwa semakin lama waktu operasi maka densitas, viskositas dan absorbansi cenderung menurun hinga dicapai waktu optimum. Namun pada waktu operasi yang terlalu lama menyebabkan densitasnya, viskositas dan absorbansinya naik yang disebabkan adanya partikel zeolit yang terlarut sehingga sulit terpisahkan dari minyak pada saat disaring sehingga pada akhirnya menambah berat minyak dan menyebabkan bertambahnya hambatan minyak untuk mengalir dan menyebabkan kekeruhan minyak bertambah, sehingga densitas,viskositasnya dan absorbansinya besar.

22

TEKNIS Vol. 3 No.1 April 2008 : 18 - 23

KESIMPULAN Dari hasil percobaan pemurnian minyak goreng bekas dapat ditarik kesimpulan, yaitu : 1. Minyak goreng bekas dapat ditingkatkan mutunya melalui proses adsorbsi menggunakan zeolit alam. Suhu operasi, waktu operasi dan ukuran partikel zeolit merupakan variabel yang berpengaruh dalam proses penjernihan minyak goreng bekas. 2. Untuk mendapatkan minyak goreng yang jernih, sebaiknya penjernihan minyak goreng dilakukan pada suhu operasi 90 oC, waktu operasi 30 menit dan ukuran partikel zeolit 0,2 mm.

DAFTAR PUSTAKA Ketaren, S., 1986, Minyak dan Lemak Pangan, UI-Press, Indonesia McCabe, Warren L.,1985, Unit Operation of Chemical Engineering, McGraw-Hill Book Inc Subagjo, 1998, Zeolit, Laboratorium Konversi Termokimia, Institut Teknologi Bandung, Indonesia SNI, 1998, Cara Uji Minyak dan Lemak, Badan Standardisasi Nasional, Indonesia Sutarti, M, Rachmawati, M, 1994, Zeolit Tinjauan Literatur , Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Jakarta

POTENSI ZEOLIT DARI DAERAH KEMIRI, PURWOREJO UNTUK...... (Kristinah Haryani)

23