Anda di halaman 1dari 33

Karsinoma Nasofaring

oleh

Roland Helmizar Reni Rozanti Basyar

Preseptor

dr. Yunir, Sp. THT-KL


Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Bagian THT Bedah Kepala Leher RSUP. Dr. M. Djamil

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang Karsinoma nasofaring (KNF) merupakan tumor ganas daerah kepala dan leher yang terbanyak ditemukan di Indonesia (60%) Diagnosis dini menentukan prognosis pasien, namun cukup sulit dilakukan. seringkali tumor ditemukan terlambat dan menyebabkan metastasis ke leher lebih sering ditemukan sebagai gejala pertama

2. 1. Anatomi Nasofaring terletak dibelakang rongga hidung, diatas Palatum Molle dan di bawah dasar tengkorak. Batas-batasnya : -Dinding depan dibentuk oleh Koane - Dinding belakang dibentuk oleh dinding melengkung setinggi Vertebra Sevikalis I dan II. - Dinding atas dibentuk oleh dasar tengkorak. - Dinding bawah dibentuk oleh permukaan atas palatum molle. - Dinding samping di bentuk oleh tulang maksila dan sfenoid. Dinding samping ini berhubungan dengan ruang telinga tengah melalui tuba Eustachius.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Tepat di belakang Ostium Tuba. Terdapat cekungan kecil disebut Resesus Faringeus atau lebih di kenal dengan fosa Rosenmuller; yang merupakan lokalisasi permulaan tumbuhnya tumor ganas nasofaring.

dipendarahi cabang-cabang karotis eksterna: arteri faringeal asendens & desendens, cabang faringeal arteri sfenopalatina Aliran balik darah vena melalui pembuluh darah balik faring menuju pleksus pterigoid dan vena jugularis interna. dipersarafi oleh saraf sensoris yang terdiri dari saraf glosofaringeus dan cabang maksila dari saraf trigeminus

2. 2. Epidemiologi Sebaran umur penderita antara 44-84 tahun, dan terbanyak pada umur 40-50 tahun Insidens tertinggi KNF didapatkan di Cina bagian selatan, terutama di propinsi Guangdong (penduduk ras Mongoloid) Angka kejadian KNF di Indonesia cukup tinggi, yakni 4,7 kasus baru pertahun per 100.000 penduduk Dijumpai lebih banyak pada pria daripada wanita dengan perbandingan 2-3 : 1

2. 3. Etiologi multifaktor. Kaitan antara virus Epstein-Barr dan konsumsi ikan asin dikatakan sebagai penyebab utama timbulnya penyakit ini. Virus tersebut dapat masuk ke dalam tubuh dan tetap tinggal di sana tanpa menyebabkan suatu kelainan dalam jangka waktu yang lama. Untuk mengaktifkan virus ini di butuhkan suatu mediator. Sebagai contoh, kebiasaan untuk mengkomsumsi ikan asin secara terus-menerus mulai dari masa kanak-kanak, merupakan mediator utama dapat mengaktifkan virus ini sehingga menimbulkan Karsinoma Nasofaring. (Zat Nitrosamin)

Keadaan

sosial ekonomi yang rendah. Lingkungan dan kebiasaan hidup Sering kontak dengan zat yang dianggap bersifat Karsinogen. Yaitu yang dapat menyebabkan kanker, antara lain Benzopyrene, Benzoathracene ( sejenis Hidrokarbon dalam arang batubara ), gas kimia, asap industri, asap kayu Radang Kronis di daerah nasofaring

Genetik

: HLA (human leucocyte antigen) HLA tipe A2, Bw46,B17/ Bw58,DR3,DR9 HLA A2 ---resiko tertinggi terkena KNF jika terpapar zat karsinogenik Di China Selatan : HLA Bw46 dan B17resiko 10 kali untuk menderita KNF Bw46 onset KNF lambat ( usia >30 thn) B17 onset KNF cepat

2. 4. Patogenesis predileksi : Fossa Rosenmulleri Daerah sekitar tuba, atau dinding lateral nasofaring Dinding posterior nasofaring Atap nasofaring Tumor primer mula-mula tumbuh berupa suatu dungkul kecil atau penebalan mukosa yang mempunyai warna dan konsistensi yang sama dengan jaringan sekitarnya. Mukosa yang menutupi tumor ini tetap mempunyai bentuk dan warna yang normal.

Golongan endofitik Tumor kelihatan tetap kecil, tumbuh dibawah mukosa, agak lebih tinggi sedikit dari jaringan sekitarnya dan cepat menyebabkan ulkus yang tidak nyeri. Golongan eksofitik Tumor tumbuh mendesak mukosa mengisi ruang nasofaring sehingga mudah mengadakan obstruksi

Penyebaran karsinoma nasofaring 1. Metastase ke jaringan sekitar, bisa ke-3 (tiga) arah : Ke atas : merusak basis kranii, Saraf kranial (VI, V, III, IV) Ke depan dan bawah : Kavum nasi ke sinus paranasalis, orbita, dan fossa kranii anterior, Orofaring. Ke samping : tumor akan masuk ke dalam rongga parafaring. Di dalam rongga ini terdapat N.IX, X, XI, XII dan ganglion servikalis kranial, sehingga tumor dapat menekan dan merusak nervus-nervus tersebut

2. Metastase melalui aliran limfatik pasien mengeluh terdapat benjolan pada leher Karsinoma nasofaring mengalami metastase limfogenik pada saat pertama kali diperiksa adalah 80-90% 3. Metastase melalui aliran darah menyebabkan terjadinya metastase jauh. Hal ini membuat prognosis buruk

Manifestasi Klinis
Gejala klinik KNF dibagi: 1. Gejala hidung 2. Gejala Telinga 3. Gejala tumor leher 4. Gejala mata 5. Gejala saraf

1. Gejala Hidung
Timbul dini Usia >40 th Pilek lama > 1 bulan Pilek, ingus kental, bau busuk, ada titik/garis darah Sering mimisan/keluar darah dari hidung.

2. Gejala Telinga
Terjadi jika KNF meluas ke sekitar tuba sumbatan Penurunan pendengaran tipe hantaran Rasa penuh di telinga Berdegung/ tinitus

3. Gejala Tumor Leher


Penyebaran terdekat secara limfogenik Unilateral/Bilateral Letak : Ujung pros. Mastoid, belakang angulus mandibula, di dalam M. Sternokleidomastoideus Massa tumor keras, tidak sakit, tidak mudah bergerak Jika tumor pada bagian atas leher, curigai primernya merupakan KNF

3. Gejala Mata dan Saraf


Parese n. II : Penurunan ketajaman penglihatan Parese n. III : Kesulitan membuka mata Parese n. III,IV,VI : diplopia

Histopatologi
1.

2.
3.

Karsinoma sel skuamosa berkeratin Karsinoma sel skuamosa tidak berkeratin Karsinoma tidak berdiferensiasi

Stadium
Berdasarkan kesepkatan antara UICC pada tahun 2002 adalah:
T

= tumor, menggambarkan tumor primer dan perluasannya


Tx,To,T1, T2,T2a,T2b, T3, dan T4

= Nodul, menggambarkan keadaan kelenjar limfe regional


Nx,N0, N1, N2, N3, N3a, N3b

Metastase,
M0,

menggambarkan metastase jauh

M1, Mx

Berdasarkan TNM tersebut , stadium penyakit dapat di tentukan : Stadium 0 : Tis No Mo Stadium I : T1 N0 M0 Stadium IIA : T2a N0 M0 II B : T1 N1 M0/T2b N0,1 Mo Stadium III : T1 N2 M0/ T2a,T2b N2 M0/ T3 N1,2 M0 Stadium IVA :T4 N0N1N2 M0 Stadium IVB : AnyT N3 M0 Stadium IVC : AnyT AnyN M1

Diagnosis
Anamnesis dan pemeriksaan fisik Biopsi jaringan nasofaring Pemeriksaan radiologi Pemeriksaan serologi Deteksi metastasis

Diagnosis Banding
Hiperplasia adenoid Angiofibroma juvenils Tumor sinus spenoidalis Neurofibroma Tumor kelenjar parotis

Penatalaksanaan
Radioterapi Kemoterapi Diseksi leher

Prognosis
>60 th (buruk) Deteksi dini, stadium awal (angka kematian <<)

Karsinoma nasofaring merupakan tumor ganas daerah kepala dan leher yang terbanyak ditemukan di Indonesia dan selalu berada dalam kedudukan 5 besar dari tumor ganas tubuh manusia. Karsinoma nasofaring dapat disebabkan oleh infeksi virus Epstein-Barr, genetik dan faktor penyebab lainnya (faktor ras, umur, jenis kelamin, makanan (ikan asin), faktor sosial ekonomi dan polusi terbatas pada rumah tangga).

Berdasarkan bentuk dan cara tumbuhnya karsinoma nasofaring dibagi menjadi 2 golongan, yaitu: golongan endofitik dan golongan eksofitik. Penyebaran atau perluasan karsinoma nasofaring adalah melalui 3 cara, yaitu : metastasis ke jaringan sekitar (ke atas, ke depan dan bawah, serta ke samping), metastasis melalui aliran limfatik dan metastasis melalui aliran darah.

Gejala klinik karsinoma nasofaring dibagi menjadi 5 kelompok, yaitu : gejala hidung, gejala telinga, gejala tumor leher, gejala mata dan gejala kranial atau gejala syaraf. Diagnosa karsinoma nasofaring ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.

Karsinoma nasofaring dapat didiagnosis banding dengan hyperplasi adenoid, angiofibroma juvenilis, tumor sinus sphenoidalis, neurofibroma, tumor kelenjar parotis, chordoma atau meningioma basis kranii. Klasifikasi berdasarkan histopatologi dari WHO dan penentuan stadium menurut UICC. Penatalaksanaan dilakukan berdasarkan stadium. Penatalaksanaan dapat dilakukan dengan cara radioterapi, kemoterapi atau diseksi leher radikal. Prognosis tergantung dari jenis kelamin, umur, bentuk histopatologi, stadium tumor, lamanya keluhan, keadaan atau kondisi kelenjar leher, infiltrasi ruang parafaring, mungkin pula nutrisi dan genetik.

Karsinoma nasofaring banyak ditemukan di Indonesia. Diagnosis dini perlu diperhatikan pada pasien dewasa yang sering mimisan, hidung tersumbat, keluhan kurang dengar, salit kepala dan penglihatan dobel. Sebagai gejala lanjut ialah pembesaran kelenjar limfe leher dan kelumpuhan saraf otak. Pada stadium dini pengobatan yang diberikan ialah penyinaran, dan hasilnya baik. Oleh karena itu diharapkan kesadaran masyarakat untuk segera berobat. Jika terdapat gejala yang mencurigakan segeralah memeriksaan diri ke dokter. Diharapkan dengan meningkatnya penemuan kasus dini, penanggulangan terhadap penyakit ini dapat diperbaiki, sehingga angka kematian dapat ditekan.