Anda di halaman 1dari 23

BAB II

ANATOMI LUAR DAN MORFOLOGI

Anatomi luar serangga meskipun pada dasarnya sama pada semua jenis

serangga, tetapi ada keragaman menurut jenisnya dan dalam satu jenis serangga menurut tahap perkembangannya.

MORFOLOGI DAN INTEGUMEN Serangga memiliki dinding tubuh yang disebut integumen. Integumen ini berperan sebagai kerangka luar (eksoskleleton).

Anatomi Luar Integumen Integumen terdiri dari tiga lapisan utama, yaitu : a. Lapisan dasar (basement membrane) dengan ketebalan kurang lebih m. b. Epidermis atau hipodermis yang mempunyai ketebalan satu sel. c. Lapisan kutikula yang tebalnya kurang lebih 1m. Kutikula terdiri dari sel-sel mati yang dibentuk oleh sel hidup di bawahnya yaitu epikutikula, dan terdiri dari prokutikula dan epikutikula. Prokutikula terdiri dari lapisan yang lebih tebal dibandingkan epikutikula.

Prokutikula terdiri dari lapisan endokutikula dan eksokutikula. Epikutikula merupakan lapisan tipis yang biasanya terdiri dari :

(a). Lapisan dalam disebut lapisan kutikulin (lipoprotein). (b). Lapisan luar disebut lapisan lilin yang sulit ditembus air.

Bagian yang mengeras dari kutikula terutama terdapat pada lapisan

eksokutikula, disebabkan oleh adanya sklerotin sebagai hasil dari proses pengerasan yang disebut dengan sklerotisasi.

Kutikula relatif permiabel, dan bila keadaannya tipis, maka dapat dilalui oleh air dan gas.

Pada kutikula sering dijumpai :


o o o

sulkus, yaitu lekukan pada kutikula bagian luar sutura, yaitu garis persatuan antara dua sklerit yang terpisah apodema atau apofisis, yaitu penonjolan bagian dalam kutikula

Secara garis besar bagian tubuh serangga terdiri dari kepala, thoraks, dan abdomen.

Morfologi Kepala

Kepala merupakan bagian depan dari tubuh serangga dan berfungsi untuk

pengumpulan makanan dan manipulasi, penerima rangsang dan otak (perpaduan syaraf). Struktur kerangka kepala yang mengalami sklerotisasi disebut sklerit. Sklerit-sklerit ini dipisahkan satu sama lain oleh sutura yang tampak sebagai alur

Kutikula pada kepala mengalami penonjolan ke arah dalam, membentuk

rangka kepala bagian dalam, yang disebut tentorium. Terdapat tiga tipe kepala berdasarkan posisi alat mulut, yaitu : 1. Prognatous (menghadap ke depan), contoh : Sithopillus oryzae (Coleoptera, Curculionidae) 2. Hypognatous (menghadap ke bawah), contoh : Valanga nigricornis (Orthoptera, Acrididae) 3. Ophistognatous (menghadap ke bawah dan belakang), contoh : Leptocorisa acuta (Hemiptera, Alydidae)

Pada kepala terdapat dua organ penerima rangsang yang tampak jelas yaitu mata tunggal dan antena.

Mata terdiri dari dua jenis : mata majemuk dan tunggal.

Antena

Sepasang antena terdapat pada salah satu ruas kepala di atas mulut yang dapat digerak-gerakkan. Antena merupakan alat penting yang berfungsi sebagai alat perasa dan alat pencium. Ruas pertama antena yang disebut skapus melekat pada kepala. Ruas kedua disebut pedisel dan ruas-ruas berikutnya secara keseluruhan disebu t flagelum. Bentuk dan ukuran antena serangga sangat beragam. Berdasarkan bentuknya antena serangga dapat dibedakan menjadi 14 tipe yaitu : 1. Filiform : menyerupai tambang, tiap-tiap segmen yang membentuk antena ukurannya sama, misalnya antena pada Valanga sp. (Orthoptera). 2. Moniliform : seperti manik-manik, ruas-ruas antena berukuran sama dan berbentuk bulat, misalnya Rhysodidae. 3. Setaseous : seperti rambut kaku (Seta), makin ke ujung ruas-ruas antena maakin ramping, misalnya Isoptera. 4. Clavate : seperti moniliform tapi agak membesar kebagian ujungnya, misalnya Coccinellidae. 5. Capitate : seperti clavate tetapi perbesaran ruas-ruas terakhir tiba-tiba membesar, misalnya Nitidulidae. 6. Serate : tiap-tiap segmennya berbentuk seperti gigi, misalnya Elateridae. 7. Geniculate : segmen pertama berukuran panjang diikuti oleh satu segmen yang lebih kecil yang membentuk sudut dengan segmen pertama, misalnya Formicidae. 8. Pectinate : setiap segmen memanjang ke arah samping seperti sisir, misalnya Pyrochoroidae. 9. Bipectinate : setiap segmen memiliki satu pasang rambut. 10. Stylate : segmen terakhir runcing dan agak panjang, misalnya Asilidae. 11. Aristate : seakan-akan dari segmen antena keluar lagi antena, misalnya Muscidae. 12. Plumose : setiap segmen berambut lebat dan panjang, misalnya nyamuk jantan. 13. Lamellate : segmen paling ujung membesar dan menjadi lempengan, misalnya Scarabaidae.

14. Flabellate : semua segmen setelah pedicel bentuknya seperti lempengan, misalnya Rhipiceridae

Alat Mulut Secara umum alat-alat mulut serangga terdiri dari : 1. Labrum (bibir atas) 2. Sepasang mandibel (geraham pertama) 3. Sepasang maksila (geraham kedua) 4. Labium (bibir bawah)

5. Epifaring (lidah)

Bagianbagian mulut serangga dapat diklasifikasikan menjadi dua tipe umum, mandibulata (pengunyah) dan haustelata (penghisap).

Tipe alat mulut pengunyah, mandibel bergerak secara transversal yaitu

dari sisi ke sisi, dan serangga tersebut biasanya mampu menggigit dan mengunyah makanannya.

Tipe mulut penghisap memiliki bagian-bagian dengan bentuk seperti

probosis yang memanjang atau paruh dan melalui alat itu makanan cair dihisap. Mandibel pada bagian mulut penghisap mungkin memanjang dan berbentuk stilet atau tidak ada.

Beberapa tipe alat mulut serangga yaitu : a. Tipe alat mulut menggigit mengunyah terdiri dari : (1). Labrum, berfungsi untuk memasukkan makanan ke dalam rongga mulut. (2). Epifaring, berfungsi sebagai pengecap. (3). Mandibel, berfungsi untuk mengunyah, memotong, atau melunakkan makanan. (4). Maksila, merupakan alat bantu untuk mengambil makanan. Maxila memiliki empat cabang, yaitu kardo, palpus, laksinia, dan galea. (5). Hipofaring, serupa dengan lidah dan tumbuh dari dasar rongga mulut. (6). Labium, sebagai bibir bawah bersama bibir atas berfungsi untuk menutup atau membuka mulut. Labium terbagi menjadi tiga bagian, yaitu mentum, submentum, dan ligula. Ligula terdiri dari sepasang glosa dan sepasang paraglosa.

Contoh serangga dengan tipe alat mulut menggigit mengunyah yaitu ordo

Coleoptera, Orthoptera, Isoptera, dan Lepidoptera. b. Tipe alat mulut mengunyah dan menghisap

Tipe alat mulut ini diwakili oleh tipe alat mulut lebah madu Apis cerana

(Hymenoptera, Apidae) merupakan tipe kombinasi yang struktur labrum dan mandibelnya serupa dengan tipe alat mulut menggigit mengunyah, tapi maksila dan labiumnya memanjang dan menyatu.

Glosa merupakan bagian dari labium yang berbentuk memanjang

sedangkan ujungnya menyerupai lidah yang berbulu disebut flabelum yang dapat bergerak menyusup dan menarik untuk mencapai cairan nektar yang ada di dalam bunga. c. Tipe alat mulut menjilat mengisap

Tipe alat mulut ini misalnya pada alat mulut lalat (Diptera). Pada bagian bawah kepala terdapat labium yang bentuknya berubah menjadi tabung yang bercelah.

Ruas pangkal tabung disebut rostrum dan ruas bawahnya disebut haustelum. Ujung dari labium ini berbentuk khusus yang berfungsi sebagai pengisap, disebut labellum

d. Tipe Alat Mulut Mengisap

Tipe alat mulut ini biasanya terdapat pada ngengat dan kupu-kupu dewasa (Lepidoptera) dan merupakan tipe yang khusus, yaitu labrum yang sangat kecil, dan maksila palpusnya berkembang tidak sempurna.

Labium mempunyai palpus labial yang berambut lebat dan memiliki tiga segmen. Bagian alat mulut ini yang dianggap penting dalam tipe alat mulut ini adalah probosis yang dibentuk oleh maksila dan galea menjadi suatu tabung yang sangat memanjang dan menggulung

e. Tipe Alat Mulut Menusuk Mengisap

Kepik, mempunyai alat mulut menusuk mengisap, misalnya Scotinophara (Heteroptera). Alat mulut yang paling menonjol adalah labium, yang berfungsi menjadi selongsong stilet

Ada empat stilet yang sangat runcing yang berfungsi sebagai alat penusuk dan mengisap cairan tanaman.

Keempat stilet berasal dari sepasang maksila dan mandibel ini merupakan suatu perubahan bentuk dari alat mulut serangga pengunyah.

TORAKS DAN ABDOMEN Bagian Toraks


Bagian dari tubuh serangga antara kepala dan abdomen adalah thoraks terdiri dari tiga segmen atau ruas yaitu protoraks, mesotoraks, dan metatoraks Ketiga bagian toraks tersebut memiliki sepasang tungkai, sedangkan mesothoraks dan metatoraks masing-masing memiliki sepasang sayap.

Pada setiap sisi mesotoraks dan metathoraks terdapat sebuah spirakel. Protoraks, mesotoraks dan metatoraks masing-masing bagian atasnya terdiri dari notum dan bagian bawahnya disebut sternum.

Notum untuk prothoraks disebut pronotum, dan notum untuk mesothoraks dan metathoraks masing-masing disebut mesonotum dan metanotum.

Pronotum terbagi lagi atas preskutum, skutum, skutelum dan postkutelum, mesonotum dan metanotum masing-masing terbagi atas epimeron dan episternum.

Sayap

Serangga dapat diklasifikasikan menjadi dua kelompok berdasarkan kepemilikan sayap, yaitu kelompok serangga bersayap (Pterygota) dan kelompok serangga tidak bersayap (Apterygota).

Sayap

merupakan

tonjolan

integumen

dari

bagian

mesopleuron

dan

metapleuron.

Sayap diperkuat oleh satu deretan rangka-rangka sayap yang bersklerotisasi, yang mengandung syaraf, trakea, dan hemolimf.

Permukaan atas dan bawah sayap terbuat dari bahan kitin tipis. Bagian tertentu dari sayap tampak seperti garis-garis tebal yang disebut pembuluh sayap. Bagian sayap yang dikelilingi oleh pembuluh sayap disebut sel.

Tungkai-Tungkai Thoraks

Tungkai serangga terdapat pada prototaks, mesatoraks dan metatoraks yang masing-masing disebut tungkai depan, tungkai tengah dan tungkai belakang. Tungkai serangga terdiri dari enam ruas yang terdiri dari : a. Koksa, yang merupakan bagian yang melekat langsung pada thoraks b. Trokanter, bagian kedua dari ruas tungkai berukuran lebih pendek dari pada koksa dan sebagian bersatu dengan ruas ketiga c. Femur, merupakan ruas yang terbesar d. Tibia, ukurannya lebih ramping tetapi hampir sama panjang dengan femur pada bagian ujung tibia biasanya terdapat duri-duri atau taji e. Tarsus, terdiri dari 1-5 ruas f. Pretarsus, ruas terakhir dari tungkai, terdiri dari sepasang kuku tarsus dan diantaranya terdapat struktur seperti bantalan yang disebut arolium

Beberapa tipe tungkai serangga tersusun sebagai berikut : 1. Saltatorial : Tungkai belakang belalalng yang digunakan untuk meloncat, dengan bentuk femur tungkai belakang lebih besar bila dibandingkan dengan femur tungkai depan dan tungkai tengah. Contoh : Valanga nigricornis (belalang)

2. Raptorial : Tungkai depan digunakan untuk menangkap dan memegang mangsa, sehingga ukurannya lebih besar bila dibandingkan dengan tungkai yang lainnya. Contoh : Stagmomantis carolina (belalang sembah) 3. Kursorial : Tungkai ini digunakan untuk berjalan cepat atau berlari. Contoh : Periplaneta australasiae (kecoa) 4. Fosorial : Tungkai depan berubah bentuk sebagai alat penggali tanah. Contoh : Gryllotalpa africana (orong-orong) 5. Natatorial : Tungkai jenis ini terdapat pada serangga air yang berfungsi untuk berenang. Contoh : Hydrophilus triangularis (kumbang air) 6. Korbikulum : Tungkai tipe ini berfungsi untuk mengumpulkan tepung sari. Contoh : Apis cerana (lebah madu)

BAB V

INDERA, PRODUKSI SUARA, CAHAYA DAN PERGERAKAN

A . Sistem Syaraf

Sistem susunan syaraf pusat serangga terdiri dari satu rangkaian ganglia yang dihubungkan oleh sepasang syaraf netral yang terdapat di sepanjang tubuhnya.

Ganglion merupakan suatu massa jaringan syaraf yang terdapat secara berpasangan pada setiap jaringan ruas.

Tiga pasang ganglion yang terdapat dibagian kepala disebut otak, yaitu : 1. protocerebrum yang terdapat pada segmen mata meliputi daerah inervasi, yaitu daerah yang memiliki pengaruh syaraf terhadap suatu alat mata majemuk dan ocelli, 2. deutecerebrum yang terdapat pada segmen antena meliputi daerah inervasi antena,

3. tritocerebrum yang terdapat pada segmen labrum yang meliputi daerah inervasi

labium dan stemodeum. Pada prinsipnya otak merupakan pusat perpaduan dari semua jaringan syaraf yang berasal dari semua bagian tubuh, dan sebagai pengatur segala prilaku akibat adanya rangsangan yang datang dari luar dan rangsangan dari dalam tubuh lewat pancaindra. Sel syaraf yang membentuk jaringan syaraf memiliki kemampuan meneruskan rangsangan yang berasal dari berbagai organ tubuh ke otak, serta menyampaikan pesan dari otak ke otot atau kelenjar tubuh.

B. Organ Perasa

Organ perasa terletak di dalam dinding tubuh, dan kebanyakan ukurannya mikroskopis. Serangga mempunyai organ-organ perasa yang peka terhadap stimuli kimiawi, mekanis, pendengaran dan penglihatan, dan juga stimuli seperti kelembaban relatif dan suhu.

Resepsi Kimiawi

Kemoreseptor yang berhubungan dengan indra perasa dan indra pembau adalah bagian-bagian yang penting dalam sistem sensorik yang menyangkut tingkah laku serangga. Makan, kawin, pemilihan habitat dan hubungan parasit dengan inangnya seringkali diarahkan oleh perasa-perasa kimiawi serangga.

Zat-zat dapat menembus sampai sel-sek sensorik dan merangsang mereka secara langsung.

Banyak serangga dapat mendeteksi bau-bau khusus pada konsentrasi yang sangat rendah sampai beberapa mil dari sumber mereka.

Organ indra kimiawi tanggap terhadap kontak dengan bahan-bahan kimiawi, yang digunakan sebagai isyarat kimiawi dalam lingkungan bagi serangga dari banyak aspek, misalnya untuk : - mendapatkan makanan, - mediasi fungsi kasta di dalam kolom serangga sosial, - menemukan pasangan, - identifikasi rangsangan berbahaya yang membahayakan hidup, - pemilihan tempat peletakan telur, - pemilihan habitat. Secara umum pengindraan kimiawi dapat di bagi dalam tiga hal : 1. pengindraan kimiawi jarak jauh, disebut alpaksi (alpaction), 2. pengindraan dengan kontak, disebut gustasi (gustation), 3. pengindraan "UMUM"

Pada alfaksi, organ indra tanggap terhadap molekul atau bahan kimia dalam bentuk gas pada konsentrasi yang relatip rendah, organ itu sangat peka dan mempunyai kespesifikan yang tinggi terhadap bahan kimia tertentu.

Gustasi terjadi karena kontak langsung dengan melekul atau lainnya dalam bentuk larutan, biasanya dengan kontraksi yang relatip tinggi di bandingkan dengan alpaksi umumnya, indra ini kurang peka dari pada indra alpaksi dan biasanya berhubungan dengan kegiatan makanan.

Pengindraan kimiawi UMUM melibatkan organ-organ indra yang kurang peka, kecuali terhadap konsentrasi yang tinggi bahan kimia yang merangsang.

Organ-organ pengindraan kimiawi UMUM kurang dapat memisahkan jenis bahan perangsang di banding organ indra alpaksi dan gustasi.

Organ indra kimiawi berdasarkan struktur ultranya yaitu 1. berlubang tunggal (uniporous), dengan satu lubang dan 2. berlubang ganda (multiporous), berlubang lebih dari satu.

Resepsi Mekanik

Organ-organ perasa serangga peka terhadap reaksi stimuli mekanik seperti sentuhan, tekanan, atau getaran dan memberikan informasi kepada serangga tentang arah, gerakan-gerakan umum, makan, terbang, menjauhi musuh, reproduksi dan aktivitasaktivitas lainnya.

Organ-organ perasa ini ada tiga kelompok yaitu, 1. sensila rambut, 2. sensila kampaniform, 3. organ-organ skolopoforus.

Resepsi suara (pendengaran)

Kemampuan untuk mendeteksi suara terbentuk pada banyak serangga, dan suara memainkan banyak peranan dalam tipe kelakuan.

Serangga mendeteksi suara- suara yang ada di udara dengan dua tipe organ sensorik, yaitu : 1. sensila rambut, dan

2. organ-organ timpanum. Getaran-getaran didalam subtrat dideteksi oleh organ-organ subgenu. Kisaran frekuensi dimana organ-organ ini peka bervariasi pada serangga-serangga yang berbeda.

Seta sensorik hanya dapat mendeteksi suara diudara pada frekunsi yang relatif rendah.

Organ timpanum peka terhadap getaran dengan frekuensi ultrasonik. Resepsi Cahaya (Photoreception) Resepsi cahaya diberi batasan bahwa organisme (serangga) mampu menanggapi cahaya di daerah opeletrum elektromagnetik yang terlihat dan ultraviolet dekat (near ultraviolet).

Untuk menanggapi cahaya, maka perlu ada pigmen yang mampu mengabsorspsi cahaya dengan gelombang tertentu dan alat yang membangkitkan mupulus darap sebagai hasil dan absorpsi cahaya itu.

Berbagai informasi lingkungan sampai pada serangga dalam bentuk rangsangan cahaya, misalnya bentuk benda, gerakan, jarak, warna, kecerahan (brightness).

Organ penglihatan utama serangga biasanya ada dua tipe yaitu, mata tunggal dan mata majemuk.

Reseptor-reseptor cahaya yang paling kompleks pada serangga adalah mata majemuk yang memiliki banyak omatidia.

Omatidia berfungsi untuk mengatur frekuensi cahaya yang masuk ke mata. Serangga memiliki kemampuan menyatukan cahaya yang tidak sama gelombangnya sehingga dapat memandang bentuk, walaupun serangga sedang dalam penerbangan yang cepat dan karena itu serangga sangat peka terhadap gerakan.

Serangga menggunakan tanda atau isyarat penglihatan dalam menentukan tempat dan mengenal induknya.

Organ Perasa Suhu (Thermoreception)


Organ-organ perasa lainnya yang berkembang baik adalah perasa suhu. Organ-organ perasa tersebar di seluruh tubuh tetapi umumnya terdapat di antena dan tungkai.

Berdasarkan perilakunya, telah dipastikan bahwa serangga peka terhadap perubahan suhu.

Pada beberapa serangga seluruh tubuhnya peka terhadap panas, sedang pada serangga lainnya hanya lokasi tertentu di tubuh yang peka.

Organ penginderaan panas serangga banyak terdapat di antena, palpus maksila dan tarsi.

Organ indra berdinding tebal yang terdapat di ruas-ruas antena diperkirakan terlihat dalam pendeteksian suhu itu pada serangga-serangga penghisap darah seperti nyamuk, kutu busuk, dan kutu.

Pendeteksian panas (warmth) penting juga dalam penemuan inang. Organ Perasa Kelembaban (Hygroreception)

Beberapa serangga juga memiliki perasa kelembaban yang berkembang baik. Collembola, seperti serangga kecil lainnya yang hidup di dalam tanah sangat peka tehadap lengas, baik di udara maupun di substratnya. Indra yang peka terhadap lengas telah di ketahui hanya pada beberapa serangga, dan itu di temukan pada antena dari palpus maksila. Pada kutu badan pediculus humanus, "alat rumbai'' yang terdiri dari beberapa rambut pendek pada antena di ketahui sebagai indra untuk kelembaban. Pada nyamuk aedes aegypti, indra tipe basikomik (Basicomic densilla) tanggap di bagian antena dan palpus maksilla terhadap uap api.

C. Produksi Suara, Cahaya, dan Pergerakan Produksi cahaya


Produksi cahaya oleh organisme disebut bioluminesens (bioluminescence). Fenomena itu telah diketahui pada tumbuhan, organisme renik dan binatang. Serangga yang memproduksi cahaya dengan mekanisme khusus, terdapat dalam kelompok Collembola, Homoptera, Coleoptera dan Diptera.

Bioluminesens bioluminesens.

pada

serangga-serangga

lain

disebabkan

oleh

adanya

bakteri

Pada Collembola, misalnya Acharutes muscorum, bila terangsang bioluminesens terjadi di seluruh tubuhnya.

Pada Fulgora lanternaria, luminesens pada kepala hanya terjadi apabila jantan dan betina berada bersama, sehingga jelas ada hubungannya dengan perilaku kawin.

Beberapa famili yang memproduksi cahaya adalah Lampyridae (kunang-kunang), Elateridae, Drilidae dan Phengodidae; yang terbanyak dipelajari adalah Lampyridae.

Pada serangga ini organ yang memproduksi cahaya terdapat di abdomen dan mungkin terdapat pada jantan maupun betina, atau hanya pada betina, dan pada larva.

Tidak semua spesies Lampyridae luminesens. Yang luminesis kedipan cahaya itu ada hubungannya dengan kegiatan perkawinan, yaitu menarik pasangannya (lain seks). Pola kedipan cahaya itu pun spesifik spesies.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi cahaya itu melibatkan reaksi zat luciferin

dan enzim luciferase dibantu oleh zat ATP atau adenosin-trifosfat.

Produksi Suara

Produksi suara umumnya berkorelasi dengan organ pendengaran yang berkembang biak dan kerapkali berperan penting dalam berbagai pola perilaku. Jadi suara adalah sarana untuk berkomunikasi. Produksi suara dapat diklasifikasikan menurut mekanismenya, yaitu: 1. suara adalah produksi sampingan dari kegiatan tertentu serangga, 2. suara adalah hasil dari pengenaan (impact) bagian tubuh pada substrat, 3. suara adalah hasil dari mekanisme khusus.

Pada kategori pertama tidak ada struktur khusus yang teradaptasi untuk produksi suara itu. Suara macam ini misalnya adalah hasil sampingan dari terbang, dari kepakan sayap-sayap, mungkin juga oleh vibrasi sklerit-sklerit toraks, atau sentuhan karas (striking) antar sayap. Dalam kategori ini termasuk juga suara-suara yang terjadi sewaktu melakukan gerakan-gerakan kopulasi, makan, membersihkan tubuh dan lain sebagainya.

Serangga-serangga tertentu diketahui memproduksi suara dengan cara mengetukngetukan bagian tubuhnya pada substrat.

Kumbang Anobium dan Xestobium (Anobiidae) mengetuk-ngetuk dinding liang gereknya (di dalam kayu) dengan kepalanya dan memproduksi suara yang khas.

Mekanisme khusus untuk produksi suara adalah mekanisme gesek (frictional mechanism), mekanisme getarani atau vibrasi (vibrating mechanisme) dan mekanisme yang melibatkan gerakan udara.

Meskipun secara struktural mekanisme itu beragam, tetapi suara dengan mekanisme gesekan disebut stridulasi.

Mekanisme gesek berada di area sayap, tungkai dan sayap, dan lain sebagainya, dapat saling bergesek.

Satu permukaan mempunyai kikie (file) terdiri dari sebaris ridge yang teratur, dan permukaan lain mempunyai penggaruk (scraperi) yang terdiri dari banyak tonjolan halus berkepala (knoblike projection).

Apabila kikir kedua penggaruk saling digesekkan maka menimbulkan suara. Kualitas suara tergantung dari laju gesekan, tatanan dari kikir dan penggaruk, dan sifat resonansi dari kutikula sekelilingnya.

Produksi suara orong-orong atau anjing tanah (Gryllotalpa spp., Gryllotalpidae, Orthoptera) menarik bagi pendengarannya karena intensitasnya.

Serangga ini membuat liang di dalam tanah yang diduga berfungsi sebagai kamar resonansi suara.

Pada mekanisme getaran ada membran getar atau timbal (tymbal). Mekanisme ini terdapat pada ordo Hemiptera dan Lepidoptera. Yang telah diketahui paling banyak mengenai mekanisme itu adalah mekanisme yang terdapat pada tonggeret (Cicada, Cicadidae, Homoptera). Pada serangga ini ada sepasang timbal pada permukaan dorso-lateral abdomen.

Pada Lepidoptera, pada spesies Arctiidae tertentu dan spesies lainnya, timbal terdapat di kedua sisi metatoraks.

Mekanisme timbal juga terdapat pada beberapa spesies kepik famili Pentatomidae. Ngengat Sphingidae (Lepidoptera), Acherontia atropos, spesies asli Eropa ini memproduksi suara dengan cara menghirup dan menghembuskan udara melalui probosisnya yang dilakukan oleh otot-otot faring.

Gerakan

Kemampuan mengubah posisi di dalam lingkungan sangat penting untuk bertahan hidup, khususnya pada serangga yang tidak menetap di tempat (non-sessile).

Jadi fungsi gerakan adalah untuk menghindari bahaya, mencari makan, menemukan pasangan, memencar, dan menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan.

Serangga adalah satu-satunya invertebrata yang mampu terbang.

Gerakan di permukaan tanah

Berjalan dan berlari


Berjalan dan berlari dilaksanakan oleh keenam tungkai toraks. Jika tugkai-tungkai itu tidak dimodifikasi untuk fungsi lain, mereka melayani dua tugas yaitu mengangkat dan mendukung tubuh di atas permukaan tanah dan memberikan kekuatan yang diperlukan untuk menggerakan serangga. Ada serangga yang meskipun mempunyai tungkai lengkap tetapi tidak bergerak, dan hanya bergerak kalau perlu atau ada gangguan, misalnya pada berbagai spesies kutu tanaman yang tergolong dalam ordo Homoptera (misalnya jenis-jenis Pseudocccidae). Serangga lain ada juga yang tungkainya tereduksi dan tidak bergerak sama sekali, misalnya kutu perisai (Diaspididae, Homoptera). Serangga yang dalam hidupnya menetap pada tempatnya disebut sedentary atau sessile. Pengamatan dengan mata gaya berjalan serangga sangat sulit karena gerakannya yang cepat dan hal ini dapat di atasi dengan menggunakan teknologi sinematografi. Deskripsi klasik gerakan maju serangga adalah sistem peyangga tripod bergantian, yaitu tungkai pertama dan ketiga pada satu sisi dan tungkai tengah pada sisi lain bergerak ke depan, sedang tiga tungkai lainnya tetap di tempatnya ( stasioner) dan memberikan penyangga tripod. Pada tahap berikutnya ketiga tungkai yang stasioner bergerak ke depan dan tiga tungkai yang dulunya bergerak menjadi stasioner. Demikian seterusnya rangkaian tiga tungkai itu bergerak maju bergantian. Jika L1, L2, L3 adalah tungkai toraks kiri dan R1, R2, R3 tungkai toraks kanan, maka rumus gerakan tungkai waktu berjalan adalah sebagai berikut: L1, L3, R2 bergerak, L2, R1, R3 stasioner, diikuti L1, L3, R2 stasioner, L2, R1, R3 bergerak, dan seterusnya. Tidak semua serangga berjalan dengan ke-enam tungkainya; belalang sembah (Mantidae, Mantodea) misalnya, apabila berjalan lambat hanya menggunakan tungkai

tengah dan belakang. Koordinasi gerakan tungkai ada di ganglion toraks, karena dekapitasi yaitu pembuangan otak dan ganglion subesofaga tidak mengganggu kemampuan serangga berjalan. Untuk bergerak, antara tungkai serangga dan substrat harus ada sejumlah pergeseran (friction) untuk mendapatkan tenaga pendorongan. Meskipun kuku-kuku tarsus cukup untuk maksud itu pada permukaan yang kasar atau kotor, ada situasi yang kuku-kuku itu tidak mampu, misalnya permukaan kaca yang posisinya condong atau kaca jendela. Namun banyak serangga yang dengan mudahnya misalnya lalat rumah. Kemampuan itu karena adanya berbagai struktur likat, yaitu pulvilus dan bantalan tarsus (tarsal pads) atau bantalan pada ujung tibia. Struktur itu biasanya diliputi oleh rambut-rambut halus yang ujungnya melebar. Ujung-ujung rambut itu terlumuri sekresi dan kelenjar-kelenjar yang berada di pangkal rambut. Kekuatan molekuler antara ujung rambut yang melebar, cairan kelenjar dan permukaan gelas menyebabkan terjadinya adhesi. Karena rambut-rambut halus itu yang bertanggung jawab terhadap kemampuan melengket, rambut itu disebut rambut tenent (tenent hairs) (tenere (latin) = memegang).