Anda di halaman 1dari 9

PENGERTIAN NARKOTIKA Kata Narkotika atau Narcotics berasal darikata Narcois yang berarti narcose atau menidurkan yaitu

zat atau obat-obatan yang membiuskan. Dalam pengertian lain, Narkotika adalah zat atau obat yang dapat mengakibatkan ketidaksadaran atau pembiusan, karena zatzat tersebut bekerja mempengaruhi susunan saraf pusat.1 Penggolongan narkotika yaitu, opium dan bahan-bahan yang berasal dari opium atau pengganti-pengganti sintetis, tetapi kemudian ada yang hendak memasukkan juga tranquilazer, neroleptika, dan hipnotika ke dalam kelompok narkotika. Menurut peraturan kita di Indonesia, dalam narkotika termasuk juga kokain dan psikotomimetika (ganja).2 OPIOID Opioid Sumber alami Opium

Semi sintetis

Sintetis Meperidin/ Pethidin Methadon

Heroin

Morphine

Hidromorfon

Codein

Oksicodon Etorfin dan Diprenorfin

Thebain

1. Candu Salah satu jenis narkotika adalah candu atau opium. Dari candu ini dihasilkan morphine, heroin dan codein. Candu adalah getah tanaman Papaver somniferum. Dalam perdagangan gelap biasanya candu dipasarkan dalam bentuk: - Candu mentah (Raw Opium) - Candu masak (Processed Opium) - Basis morphine (Morphine base) - Garam morphine (Morphine salt) - Crude heroin (Heroin mentah) - Purple heroin (Heroin no. 3) - White heroin (Heroin no. 4)

Paling sedikit 25 alkoloid dapat diambil dari opium. Ada dua golongan umum, setiap golongan menghasilkan akibat yang sangat berbeda. Yang pertama dikenal dengan sebagai alkoloid phenanthrene, contohnya adalah morfin dan codein, digunakan sebagai analgesik dan pnenang batuk, yang kedua, alkoloid isoguinoline, contohnya papaverin (relaksan usus) dan noscapine (penenang batuk), tidak berpengaruh secara berarti atas sistem saraf pusat dan tidak diatur dibawah CSA. Tapi kebanyakan opium di impor kedalam unsur alkoloid, terutama morfin dan codein.1 2. Morphine Pada tahun 1806 seorang Jerman bernama Sertuner mengadakan suatu riset pada opium atau candu, dan ia menemukan morphine yang ternyata lebih addicting. Daya kerjanya 5 sampai 10 kali lebih kuat daripada opium.1 Morphine adalah zat utama yang berkhasiat narkotika yang terdapat pada candu mentah. Ia sebgai salah satu alkaloid yang terdapat pada candu mentah yang diperoleh dengan jalan mengolahnya secara kimiawi.1 Dalam dunia pengobatan, morphine digunakan untuk bahan obat penenang dan obat untuk menghilangkan rasa sakit atau nyeri. Dari Raw Opium dan Crude Opium (candu setengah jadi) itulah dapat dipisahkan bahan-bahan morphine antara lain aceton, acetic anthyride, cloform/bensol, dan Tartanc Acid.1 Jika seseorang baru pertama kali memakai dan tidak ada rasa nyeri, maka morfin sering mengakibatkan disforia karena rasa mual, mabuk, dan pikiran berkabut. Jika ada rasa nyeri, maka terjadi efori negatif karena rasa nyeri itu hilang. Semua ini merupakan gejala-gejala intoxikasi akut. Jika seseorang pernah memakai morfi, maka satu dosis dapat menimbulkan efori positif padanya (rasa senang luar biasa). Efek yang lain morfin dosis tunggal, bagaimana pun cara pemberiannya, ialah miosis pupil, pernapasan dan denyutan jantung menjadi pelan, suhu badan turun sedikit dan spasme sfingter-sfingter otot polos. Pada umumnya efek satu dosis tunggal morfin mencapai puncak kira-kira 20 menit sesudah suntikan intravena dan 1 jam sesudah suntikan subkutan serta berlangsung terus dengan efek makin kurang selama 4- 6 jam. Sesudahnya dapat timbul perasaan kecewa.2 Dosis minimal letal morfin buat manusia belum diketahui, walaupun pernah dilaporkan kematian dengan 60 mg, tapi orang yang ketagihan rata-rata memakai 600 sampai 1200 mg sehari. Gejala lepas obat pada adiksi morfin ialah rinorea, sering menguap, bulu roma berdiri dan kegelisahan, yang dimulai 12-16 jam dosis terakhir. Kemudian timbul rasa nyeri dan tarikan otot, sakit perut, muntah-muntah, diare, hipertensi, insomnia, anorexia, agitasi dan banyak sekali keringat.2 Sindrom ini bersama dengan perubahan perilaku yang beraneka ragam,mencapai puncak pada hari ke-2 atau ke-3 sesudah dosis morfin terakhir. Kemudian gejala-gejala cepat berkurang dalam minggu berikutnya, tetapi suatu keadaan yang stabil mungkin baru dicapai sesudah 6 bulan atau lebih lama. Untuk diagnosis perlu dicari bekas-bekasi suntikan, cacat yang kebiru-biruan pada vena. Miosis dan mengantuk menunjukkan bahwa penderita masih dibawah pengaruh

opioid. Dalam waktu 24 jam setelah pemakaiannya, opioid dalam urine dengan tes kimia atau kromatografis.2 Detoxifikasi dapat dilakukan dengan mengurangi dosis morfin secara perlahan atau dengan substitusi metadon, bila perlu dapat diberi neroleptika untuk meringankan gejala-gejala lepas obat.2 GANJA (CANNABIS) Nama lain untuk ganja yaitu Cannabis sativa atau Marijuana. Tanaman ini merupakan spesies tunggal. Bahan tanaman ini telah dipakai sebagai obat selama berabad-abad. Dalam tahun 1839 tanaman ini memasuki sejarah pengobatan barat. Tanaman ini sangaa efektif untuk mengobati sejumlah besar penyakit mental dan fisik yang ringan selama sisa abad ke19. Dengan diperkenalkannya obat sintetis baru dalam abad 20, perhatian terhadap tanaman ini berkurang.1 Perkembangan lebih lanjut digunakan dalam kimia cannabis. Diantara banyak cannabinoid yang dipersatukan menurut tanaman adalah cannabinol, cannabidiol, cannabiolidic acids, cannabigerol, cannabichromene, dan sejumlah isomers dari tetrahydrocannabinol, satu diantaranya dipercaya karena sifat pengaruh psikoaktifnya yang besar, yaitu -9-tetrahydrocannabinol (THC), satu dari 61 cannabinoids yang merupakan kimia unik yang hanya ditemukan pada cannabis. Zat THC ini adalah suatu zat sebagai elemen aktif yang oleh para ahli dianggap sebagai hallucinogen substance atau zat sebagai faktor penyebab terjadinya halusinasi atau khayalan pada seseorang yang menyalahgunakan ganja.1 Kadar zat THC tersebut tertinggi terdapat pada bunga ganja yang mulai mekar. Bentuk-bentuk ganja yang beredar dikenal dalam wujud: Seperti tembakau atau rumput-rumputan Getah ganja atau Hashis (zat yang terkandung dalam Hashis jauh lebih kuat dibandingkan ganja dalam bentuk tembakau. Buddha Stick atau Thai stick

Sebagaimana jenis narkotika lainnya penyalahgunaan ganja mempunyai efek terhadap fisik maupun psikis si pemakai yang antara lain: Pada fisik; denyut jantung makin cepat, suhu tubuh menurun, mata merah, nafsu makan bertambah, mulut kering, santai, tenang dan melayang-layang. Pada psikis atau mental; pikiran selalu rindu pada ganja, daya tahan mengahadapi problema jadi lemah, malas, apatis, tidak perduli, dan kehilangan semangat untuk belajar maupun bekerja, persepsi waktu dan pertimbangan intelektual maupun moral terganggu.1

Efek yang mungkin terjadi Euphoria Mengantuk Gangguan pernapasan Miosis Rasa mual Bicara tidak jelas Disorientasi Sikap mabuk (bukan karena alkohol) Kewaspadaan yang meningkat Kegelisahan Eughoria Peningkatan denyut nadi dan tekanan darah Insomnia

Akibat Overdosis Pernapasan yang lambat dan pendek Kulit lembab dan dingin Kejang Koma Kemungkinan kematian Midriasis Denyut lemah dan cepat Kegelisahan Peningkatan suhu tubuh 'Halusinasi Psikosis Kelelahan Paranoid

Withdrawl Mata berair Hidung pilek Menguap Hilangnya nafsu makan Gemetaran Keadaan panas dan berkeringat Kejang Nausea Gelisah Insomnia Kemungkinan kematian Depresi Disorientasi

Pengaruh Psikologis Pengaruh yang paling mengejutkan tajamnya dari cannabis ini adalah perubahan dalam pengenalan, pemikiran, sensasi dan fungsi-fungsi psikomotornya. Pengaruh psikologi ini lebih dapat diramalkan lagi dan tergantung dosisnya, dengan ukuran yang lebih besar daripada kebanyakan pengaruh fisiologis. Meskipun para pemakai melaoprkan adanya perasaan yang subjektif mengenai keakraban antar pribadi,, kepekaan, dan ketajaman pancaindera yang diperkuat, namun pada kenyataannya, seperti yang telah diukur dalam laboratorium dan yang telah dialami di dunia nyata, pada umumnya tidak ada pengaruh maupun pelemahan dari penampilan, sensasi maupun tingkah laku. Kebanyakan, tingkat pelemahan itu bergantung pada dosisnya. Apabila dosis yang banyak dari marjuana dalam sesuatu bentuk dosis digabungkan dengan pengujian pada waktu memuncaknya keracunan (keadaan mabuk), maka ada kemungkinan untuk secara sangat meyakinkan menunjukkan perubahan-perubahan yang dramatis itu. Pengaruh Fisiologi Seperti halnya dengan pengaruh psikologis, maka pengaruh fisiologis yang diamati itu juga tergantung pada dosis dan faktor lainnya. Pada dosis yang menengah sampai tinggi, banyak sistem fisiologi yang berubah. Pengaruh Kardiovaskular Pengaruh kardiovaskular adalah pengaruh yang paling mudah diukur. Kecepatan denyut jantung meningkat, yang sebanding dengan dosis THC, merupakan salah satu akibat yang lebih dapat dipercaya dari pemakaian marijuana. Selama tahap awal keracunan (mabuk) cannabis, kecepatan denyut jantung dapat meningkat sampai 160 kali denyutan per menit atau lebih, bersama-sama dengan menurunnya tekanan darah tetap (orthostatis, kemampuan

berkontraksi dari otot jantung mungkin tidak terpengaruh., meskipun tuntutan oksigen dari otot jantung yang dibarengi dengan pengiriman oksigen dari otot jantung yang menurun, menimbulkan masalah pada orang yang menderita penyakit koroner.1 Pengaruh Pernapasan dan Paru-paru Seperti tembakau, marijuana biasanya dihisap. Ketika tembakau dihisap, hampir 70% atau bahkan lebih dari serluruh bahan di dalam asap itu akan tertahan di dalam paru-paru. Karena orang yang menghirup marijuana itu lebih dalam daripada menghirup tembakau maka presentase yang tertahan lebih banyak lagi. Asap adalah campuran dari partikel-partikel yang melayang-layang di dalam gas, yang sebagian besar berupa karbon monoksida. Gabungan dari partikel-partikel padat ini kemudian membentuk ampas yang disebut ter (cairan pekat yang hitam). Dengan berat yang sama, cannabis dapat menghasilkan ter lebih banyak daripada tembakau. Makrofag alveolus yang mempunyai peranan untuk membersihkan paruparu dari sisa-sisa kotoran nampaknya setelah terkena asap cannabis itu kegiatannya untuk menjinakkan bakteri menjadi lemah. Perubahan yang tercatat dalam berbagai studi laboratorium da perubahan di dalam pengujian cannabis kerap kali memang menderita berbagai penyakit, seperti laryngitis, pharyngitis, bronchitis, keadaan-keadaan seperti penyakit asma, batuk serak, tenggorokan kering, dan sejenisnya, setelah pemakaian yang sering mereka lakukan.1 Pengaruh Neurologis Cannabis dapat mengahsilkan pengaruh neurologis, yang dapat mengubah fungsi otak; perubahan persepsi, kognisi dan suasana hati, perubahan memori, diorientasi waktu, perubahan dalam tingkah laku dan pengaruh-pengaruh lainnya yang diramalkan sebagai bagian dari keracunan akut itu kemungkinan merupakan akibat dari aktivitas sistem sarafnya. Keracunan cannabis yang akut mencakup tidak hanya yang menyenangkan berupa keadaan santai, euforia, dan perubahan panca indera tetapi juga melemahkan penilaian terhadap jarak dan waktu, memori untuk kejadian terbaru, kemampuan untuk mempelajari informasi baru dan koordinasi fisiknya. Dengan dosis yang agak tinggi, keracunan yang akut itu mencakup gemetar, mengerasnya otot dalam waktu yang singkat, atau kejang. Ternyata dosis yang rendah tidak menghasilkan perubahan pada refleks ototnya, tetapi dosis yang timggi memang dapat menyebabkan timbulnya hipereksitabilitas berupa sentakan lutut yang disertai dengan kejang-kejang. Bahkan pada dosis yang lebih tinggi, suatu sindrom otak akut mungkin pula terjadi. Menurut beberapa studi perubahan-perubahan ini berhubungan kadar THC yang dikonsumsi.1 Cannabis dan Psikopatologi Reaksi kecemasan yang akut dapat terjadi selama keracunan marijuana. Reaksi ini biasanya dimulai dengan pengaruh cannabis yang berlebihan dari biasanya, dapat berkisar dari kegelisahan dan kecemasan yang lunak sampai menjadi panik dengan delusi paranoid, psikosis toxic akut yang disertai hilangnya kontak dengan segala yang nyata, delusi, halusinasi dan tingkah laku yang senantiasa gelisah serta tidak wajar.1

ANTIDEPRESAN Golongan Benzodiazepin Penggunaan Benzodiazepin sebagai hipnotik dan ansiolitik terus berkurang sejak tahun 1980. Hal ini terjadi karena pasien dapat mengalami ketergantungan fisik dan/atau farmakologis serta toleransi terhadap efeknya. Akibatnya, suatu sindrom putus obat dapat terjadi ketika berhenti menggunakan benzodiazepin. Benzodiazepin juga digunakan sebagai antikonvulsan, pelemas otot, pramedikasi di bidang anastesi, pada penanganan segera perilaku agresif, dan pada penatalaksanaan ketergantungan alkohol. Benzodiazepin yang memiliki kerja lama cenderung menyebabkan hangover-like effect jika digunakan sebagai hipnotik. Sebaliknya, benzodiazepin yang memiliki masa kerja relatif singkat lebih cenderung meningkatkan efek putus zat.3

Kerja lama
Bromazepam Diazepam Chlordiazepoxide Alprazolam Clobazam Clorazepate Flunitrazepam (Rohypnol) Nitrazepam (Nipam)

Kerja singkat
Temazepam Oxazepam Lorazepam Loprazolam

Benzodiazepin bekerja dengan cara berikatan dengan reseptor benzodiazepin yang terhubung dengan reseptor asam -aminobutirat tipe A (GABAA) dalam suatu kompleks yang melibatkan reseptor GABAA dan benzodiazepin serta suatu kanal klorida (pengikatan GABA pada respeptor GABAA pascasinaptik meyebabkan terbukanya kanal klorida terkait yang selanjutnya memungkinkan aliran ion klorida ke dalam neuron sehingga terjadi hiperpolarisasi neuron tersebut).3

Efek samping benzodiazepin adalah kerusakan psikomotor; kemampuan melakukan tugas-tugas kompleks yang melibatkan fungsi motorik dan psikologis, seperti mengendarai dan mengoperasikan mesin, mungkin terganggu.3 Juka benzodiazepin dikonsumsi secara teratur selama 4 minggu atau lebih, ketergantungan dapat terjadi. Manifestasinya sendiri terutama berupa timbulnya sindrom putus-benzodiazepin berupa: Gejala-gejala anxietas - Palpitasi - Tremor - Panik - Pusing - Mual - Berkeringat - Gejala somatik lainnya - Mood yang terdepresi Mood rendah Kejadian-kejadian abnormal - Depersonalisasi - Derealisasi - Hipersensitivitas terhadap berbagai sensasi dlam segala bentuk - Gangguan persepsi ruang - Rasa aneh di mulut Gejala mirip influenza Gejala psikiatri/neurologis - Epilepsi - Status kebingungan - Episode psikosis Insomnia Penurunan nafsu makan dan berat badan

FLUNITRAZEPAM (ROHYPNOL) Rohipnol adalah obat golongan short-acting benzodiazepines yang memiliki sifat umum yang mirip dengan Valium, yang mana sangat sedatif dan menekan sistem saraf pusat. Obat ini digunakan pada terapi jangka pendek Insomnia sebagai pramedikasi dalam prosedur pembedahan dan menyebabkan efek anestesi. Bentuk Rohipnol adalah tablet kecil berwarna putih yang tidak ada rasa dan tidak beraroma saat larut di dalam air. Rohipnol biasanya digunakan secara oral, dikombinasikan atau dicampur dengan alhokol. Rohipnol bisa digunakan dengan cara ditelan seperti pil, dilarutkan dalam minuman, dan dihirup atau inhalasi.4 Seperti golongan benzodiazepine lainnya, Rohipnol memiliki efek sedasi, relaksasi otot, dan mencegah konvulsi. Terbagi dalam efek jangka pendek dan efek jangka panjang. Efek jangka pendek dari Rohipnol adalah mengantuk, relaksasi, dan perasaan mabuk selama 2-8 jam, efek lain bisa terjadi hilang kesadaran dengan kehilangan ingatan, pusing, disorientasi, mual, serta kesulitan dalam gerak motorik dan bicara. Efek jangka panjang Rohipnol adalah menyebabkan ketergantungan fisik dan psikologi, serta akan muncul gejala putus obat jika pemakaian dihentikan. Rohipnol mengganggu fungsi kognitif dan psikomotor mempengaruhi reaksi terhadap waktu dan menyetir. Penggunaan obat dikombinasikan dengan alkohol menjadi perhatian khusus karena kedua zat akan saling mempotensikan efek toksik masing-masing. Efek sedatif pada Rohipnol 7-10 kali lebih kuat dibandingkan Valium. Efek tersebut muncul 15-20 menit setelah pemberian dan berakhir sekitar 4-6 jam. Beberapa efek yang tertinggal bisa terlihat 12 jam atau lebih setelah pemberian.4 Rohipnol menyebabkan anmesia parsial, tidak bisa mengingat peristiwa tertentu yang mereka alami dibawah pengaruh obat. Rohipnol telah dikenal secara luas untuk digunakan sebagai date-rape drug, dan sering disalahgunakan dengan alasan lain. Biasanya disalahgunakan oleh pelajar SMA, mahasiswa, anak jalanan, dan pemakai heroin dan kokain supaya meningkatkan kadar heroin serta memodulasi efek kokain tersebut.4 NITRAZEPAM (NIPAM) Nitrazepam juga termasuk golongan Benzodiazepine. Nitrazepam bekerja pada reseptor di otak (reseptor GABA) yang menyebabkan pelepasan senyawa kimia GABA (gamma amino butyric acid). GABA adalah suatu senyawa kimia penghambat utama di otak yang menyebabkan rasa kantuk dan mengontrol kecemasan.5 Nitrazepam bekerja dengan meningkatkan aktivitas GABA, sehingga mengurangi fungsi otak pada area tertentu. Dimana menimbulkan rasa kantuk, menghilangka rasa cemas,

dan membuat otot relaksasi. Nitrazepam biasanya digunakan untuk mengobati insomnia. Nitrazepam mengurangi waktu terjaga sebelum tidur dan terbangun di malam hari, juga meningkatkan panjangnnya waktu tidur. Seperti Nitrazepam ada dalam tubuh beberapa jam, rasa kantuk bisa tetap terjadi sehari kemudian.5

DAPUS 1. Wresniwiro M, Sumarna H, Wira P, S Sunandar, Permana D. Masalah Narkotika Psikotropika dan Obat-obat Berbahaya. Jakarta: Yayasan Mitra BINTIBMAS, 1999; 403-68. 2. Maramis WF, Maramis AA. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Edisi ke-2. Surabaya: Airlangga University Press, 2009; 374-8. 3. Puri BK, Laking PJ, Treasaden IH. Buku Ajar Psikiatri (Textbook of Psychiatry). Alih bahasa: Roan WM, Hartanto H. Muttaqin H, Dany F, penyunting. Edisi ke-2. Jakarta: EGC, 2011; 37-8 4. Drugfree.org. Rohypnol. Diunduh dari: http://www.drugfree.org/drug-guide/rohypnol. Diakses November 2011. 5. Medicastore. Hipnotik & Sedativa. Diunduh dari: www.medicastore.com. Diakses November 2011.