Anda di halaman 1dari 10

Suku batin v A. Lokasi Suku Batin V berasal kecamatan Tabir, kabupaten Merangin, Jambi.

Secara geografis daerah ini terletak antara 101 32 1-102 50 00 BT dan 1 28 23 - 1 52 00 BS. Kabupaten Merangin 2 memiliki luas wilayah7.679 km dengan ketinggian berkisar 46-1.206 m dari permukaan air laut . - Sebelah Timur : Kabupaten Sarolangun - Sebelah Barat - Sebelah Utara B. Asal-usul Masyarakat marga batin V (orang batin) adalah salah satu suku yang menetap di Jambi. Menurut cerita, orang batin berasal dari 60 tumbi (keluarga) yang pindah dari kota Rayo, sebuah dusun di sebelah ilir Rantau Limau Manis. Ada 2 versi penyebab pindahnya suku Batin: 1. Untuk menyelamatkan putri yang cantik jelita Poyang Depati yang merupakan pemimpin ke-60 keluarga itu mempunyai seorang putri yang cantik jelita. Namun, ia selalu menolak setiap ada lamaran yang datang kepada putrinya karena tak satu pun dari para pelamar tersebut yang berkenan di hatinya. Maka untuk menyelamatkan putrinya, Poyang Depati mengajak seluruh keluarga dan warganya untuk meninggalkan Dusun Koto Rayo 2. Terserang wabah penyakit kepindahan ke-60 keluarga tersebut dari Koto Rayo karena mereka terserang wabah penyakit dan sering mendapat serangan dari Batang Hari. Mereka menyusuri Sungai Tabir hingga akhirnya tiba di ujung Muara Semayo. Di tempat itulah mereka mengadakan perjanjian akan menyebar ke beberapa tempat untuk membuat dusun. Payong Deputi bersama 16 keluarga lainnya membuat dusun di ujung Muara Semayo yang diberi nama Tanjung Muara Semayo yang saat ini dikenal dengan Kelurahan Rantau Panjang. Sementara 41 keluarga lainnya membuat dusun di sepanjang Sungai Tabir, yaitu Dusun Seling, Dusun Kapuk, Dusun Pulau Aro, dan Dusun Muara jernih Kelima dusun tersebut kini masuk ke dalam wilayah Kecamatan Tabir, Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi : Kabupaten Kerinci : Kabupaten Bungo dan Kabupaten Tebo

- Sebelah Selatan : Kabupaten Rejang Lebong (Provinsi Bengkulu)

MATA PENCAHARIAN Mata pencaharian dominan penduduk di Kabupaten Merangin bergerak pada sektor primer (Pertanian, perikanan, peternakan, perkebunan, kehutanan, pertambangan dan penggalian) yaitu sebesar 93.466 jiwa (75.26%), kemudian sisa bergerak pada sektor tersier (perdagangan, komunikasi, keuangan serta jasa) sebesar 21.738 jiwa dan sektor sekunder (industri, listrik, air dan kontruksi) sebesar 8.977 jiwa (7.23%).

SOSIAL BUDAYA

Orang Batin suka hidup berpindah-pindah dan berjiwa gotong royong. Sifat gotong royong yang sangat menonjol juga terlihat di antara dua kampung yang berbeda, di mana hubungan antara kepala kampung yang satu dengan lainnya sangatlah baik. Kebudayaan orang Batin merupakan perpaduan unsur-unsur kebudayaan Minangkabau dan Melayu Jambi. Misalnya, dalam hal berbahasa dan sistem kekerabatan. Bahasa batin termasuk bagian dari bahasa Melayu Jambi, tetapi dialek bahasa Batin banyak dipengaruhi oleh bahasa Minangkabau. Sistem kekerabatan orang Batin adalah matrilineal (garis keturunan ditarik dari pihak ibu). Dalam kehidupan sehari-hari, orang Batin lebih dekat dengan kerabat pihak ibu daripada kerabat pihak ayah. Tetapi laki-laki tetap berperan sebagai kepala keluarga dalam rumah tangganya. Sebuah dusun dihuni oleh sejumlah keluarga luas yang disebut piak. Setiap piak dikepalai oleh seorang ninik mamak. Pemimpin dusun yang bergelar rio diangkat berdasarkan hasil musyawarah dari seluruh ninik mamak. Dalam menjalankan kepemimpinannya, rio didampingi oleh para ninik mamak. Dengan demikian segala keputusan rio haruslah diambil dengan persetujuan para ninik mamak dari piak yang ada di dusun tersebut. Menurut adat istiadat masyarakat Marga Batin V, setiap orang tua berkewajiban membuatkan rumah untuk anak perempuannya. Jika sebuah keluarga memiliki enam anak perempuan, maka orang tua berkewajiban membuat rumah sebanyak enam. Namun, rumah tersebut baru akan diserahkan setelah anak perempuan tersebut menikah (Djafar dan Madjid, 1986: 49). Oleh karena itu, langkah pertama yang harus mereka lakukan ketika akan mendirikan rumah adalah tahap persiapan. Tahap ini biasanya dilakukan sejak lahirnya seorang putri dalam sebuah keluarga, terutama dalam hal penyediaan bahan-bahan bangunan. Filosofi rumah lamo berbentuk bangsal, empat persegi panjang dengan ukuran panjang 12 m dan lebar 9 m. Bentuk empat persegi panjang tersebut dimaksudkan untuk mempermudah penyusunan ruangan yang disesuaikan dengan fungsinya, dan dipengaruhi pula oleh hukum Islam. Menurut kepercayaan masyarakat Marga Batin V, mendirikan rumah di hulu sungai tidak diperbolehkan karena si penghuni rumah akan ditimpa berbagai macam penyakit. Posisi letak rumah juga harus selalu diperhatikan karena posisi letak bangunan rumah yang salah dapat menimbulkan malapateka bagi si penghuni rumah. Apabila bangunan rumah menghadap ke lereng bukit, si penghuni rumah akan ditimpa kematian. Posisi bangunan rumah yang baik menurut mereka adalah ruang Balik Melintang selalu berada di sebelah barat agar si penghuni rumah lebih mudah mengetahui arah kiblat dan tidak menghadap ke dapur ketika akan shalat. Menurut mereka, dalam melaksanakan shalat tidak diperbolehkan menghadap ke dapur. Makrokosmos dan mikrokosmos Orang batin juga mengenal istilah makrokosmos dan mikrokosmos. Makrokosmos adalah alam semesta sedangkan mikrokosmos adalah manusia. Dalam petuah adat batin dikatakan ke air babungo pasir, ke darat babungo kayu. ((Ke laut berbunga karang, ke sungai berbunga pasir, ke darat berbunga kayu). Tapi, biarpun laut berbunga karang dan darat berbunga kayu mereka tidak boleh semena-mena dalam memanfaatkannya, ada aturannya dan itu di sebut alur dan patut,. Mereka harus menjaga dan memeliharanya karena manusia dan alam semesta memiliki hubungan yang saling terikat satu sama lain.

Ciri-ciri arsitektur Bubungan (atap)


Bentuk bubungan rumah ini memanjang, di mana kedua ujung bubungan sebelah atas sedikit melengkung ke atas sehingga tampak berbentuk perahu. Oleh masyarakat setempat, bentuk bubungan itu dinamakan lipat kajang atau potong jerambat

Pintu
pintu utama atau yang dikenal dengan istilah pintu tegak ukurannya lebih pendek dari tinggi kebanyakan orang dewasa, yaitu dengan lebar 1 meter dan tinggi 1,5 meter. Oleh karena itu, seseorang yang akan masuk ke dalam rumah harus menundukkan kepala terlebih dahulu. Sikap menundukkan kepala ini menunjukkan suatu penghormatan kepada si pemilik rumah

Ragam hias Bangunan kajang lako dipenuhi ukiran ragam hias. Ada 2 macam motif ragam hias yang terdapat di rumah kajang lako, yaitu: 1.motif flora
Motif flora yang sering digunakan pada bangunan rumah ini ada 3 macam, yaitu motif Bungo Tanjung, motif Tampuk Manggis, dan motif Bungo Jeruk. Hingga saat ini, ketiga motif tersebut telah banyak mengalami proses stilisasi sehingga hasil ukiran tidak lagi menyerupai bentuk aslinya. Ukiran motif Bungo Tanjung biasanya ditempatkan di bagian depan masinding, sedangkan motif Tampuk Manggis diletakkan di atas pintu. Adapun motif Bungo Jeruk pada umumnya ditempatkan di atas pintu dan diukirkan pada bagian luar rasuk (belandar).

2.motif fauna
Penggunaan motif fauna pada bangunan rumah ini tidak terlalu menonjol. Hanya ada satu jenis motif fauna yang sering digunakan yaitu motif ikan bersisik besar. Itu pun sudah distilir ke dalam bentuk dedaunan yang dilengkapi dengan bentuk sisik ikan. Makna dari penggunaan motif ikan tersebut untuk menggambarkan bahwa penduduk setempat bermata pencaharian sebagai nelayan atau penangkap ikan di sungai.

Arsitek atau tukang yang membangun Rumah adat kajang lako dibangun secara gotong royong oleh masyarakat batin. Mereka semua memiliki keahlian membangun rumah adat kajang lako yang telah telah diwariskan oleh nenek moyang mereka turun-temurun .

Detail-detail arsitektur Bubungan (atap)

Bubungan atau atap Rumah Kejang Lako disebut juga Gajah Mabuk karena konon si pembuat rumah ini sering mabuk. Bentuk bubungan rumah ini memanjang, di mana kedua ujung bubungan sebelah atas sedikit melengkung ke atas sehingga tampak berbentuk perahu. Oleh masyarakat setempat, bentuk bubungan itu dinamakan lipat kajang atau potong jerambat (Djafar dan Madjid, 1986: 27). Seperti halnya bangunan rumah panggung pada umumnya, atap ini dipasang di atas kerangka atap yang telah dibuat terlebih dahulu. Bahan yang digunakan untuk membuat atap adalah ijuk atau daun enau. Agar kedudukan atap tidak mudah ditembus dan tetap kuat, maka ijuk atau daun enau dilipat dua dan kemudian disisipkan pada reng.

Mengapa seperti perahu?Karena salah satu mata pecaharian dari Orang Batin adalah nelayan dan letak rumah dipinggir laut,sehingga terinspirasi bentuk perahu dalam pembuatan atap rumahnya.Ujung bubungan sampai ke kasau bentuk dipasang sekeping papan yang memanjang dan menjulur keatas melebihi tiang bubungan, ujung papan depan dan belakang bersilangan dan diberi ukiran. Dari jauh terlihat seperti tanduk kambing. Atap
Atap yang digunakan terbuat dari daun mengkuang/ijuk yang dianyam dan kemudian dilipat dua. Bila diperh atikan dari samping maka atapnya kelihatan berbentuk segi tiga. Maksud

atap rumah tersebut dibuat demikian,antara lain : Untuk mempermudah air turun apabila hujan. Supaya udara gampang keluar masuk. Dibaian dalamnya dapat dipergunakan sebagai tempat menyimpan.

Tebar layar

Tebar layar pada bangunan ini sama dengan timpak laja yang terdapat pada rumat adat orang Bugis di Sulawesi Selatan, yaitu penutup bubungan rumah yang berbentuk segita. Tebar layar yang terletak pada ujung sebelah kiri dan kanan bagian bubungan rumah ini berfungsi untuk menahan tempias air hujan. Bahan yang digunakan untuk membuat tebar layar adalah papan yang disusun memanjang dari pengerang kasau sampai ke tiang bubung.

Lantai
Sesuai dengan fungsinya, lantai Rumah Kejang Lako dibagi menjadi dua, yaitu lantai

utama dan lantai biasa. Kedua lantai tersebut dibuat secara bertingkat, yaitu lantai utama

dibuat lebih tinggi yakni sekitar 30 cm dari lantai biasa. Lantai utama dibuat lebih tinggi karena lantai ini berada di ruang balik melintang yang merupakan ruang utama pada Rumah Kejang Lako. Menurut adat setempat, ruang balik melintang ini hanya boleh ditempati oleh para pemuka adat. Sedangkan lantai biasa berada di ruang balik menalam, ruang tamu biasa, gaho, dan pelamban, yang semuanya merupakan ruang bagi orang biasa. Hanya saja lantai pada ruang gaho dan pelamban dibuat agak jarang yaitu dengan jarak sekitar 1,5 cm. Hal ini dimaksudkan agar air dapat mengalir ke bawah dengan mudah.

Pintu / jendela

Pada bangunan Rumah Kejang Lako tidak dikenal istilah jendela, yang ada hanya istilah pintu, walaupun pada hakikatnya di dalamnya terdapat pintu yang berfungsi sebagai ventilasi. Masyarakat Marga Batin V dalam membuat pintu harus berdasarkan pada ketentuan-ketentuan adat yang berlaku. Misalnya, pintu utama atau yang dikenal dengan istilah pintu tegak ukurannya lebih pendek dari tinggi kebanyakan orang dewasa, yaitu dengan lebar 1 meter dan tinggi 1,5 meter. Oleh karena itu, seseorang yang akan masuk ke dalam rumah harus menundukkan kepala terlebih dahulu. Sikap menundukkan kepala ini menunjukkan suatu penghormatan kepada si pemilik rumah (Djafar dan Madjid, 1986: 27). Pintu tegak ini terbuat dari papan dan diletakkan di sebelah kiri bangunan rumah induk. Cara pemasangannya cukup unik karena tidak perlu menggunakan paku, melainkan menggunakan jepitan. Selain pintu tegak, Rumah Kejang Lako juga memiliki dua pintu yang lain, yaitu pintu masinding dan pintu balik melintang. Kedua pintu tersebut memiliki fungsi yang sama yaitu berfungsi sebagai tempat untuk melihat ke bawah dan sebagai ventilasi. Perbedaannya terletak hanya pada jumlah dan pengistilahannya untuk membedakan status sosial si penghuni rumah. Pintu masinding hanya digunakan pada rumah-rumah orang biasa dan jumlahnya sebanyak tiga buah, sedangkan pintu balik melintang digunakan pada rumah para pemuka adat, alim ulama, ninik mamak, maupun cerdik pandai, dan jumlahnya hanya satu buah.

Dinding

Dinding adalah salah satu bagian Rumah Kejang Lako yang berfungsi menutupi seluruh sisi bagian tengah rumah dan berfungsi sebagai pelindung dari cuaca dingin di waktu malam. Dinding pada rumah adat ini berbeda-beda pada setiap sisinya. Dinding yang berada di sisi ujung kanan dan kiri bangunan induk bersambungan dengan tebar layar, sedangkan dinding pada sisi belakang menutupi seluruh bagian tengah rumah, yaitu dari lantai sampai ke pengarang kasau. Sementara dinding di sisi depan hanya dibuat setinggi satu meter. Dinding

Tangga

Tangga pada Rumah Kejang Lako dibagi menjadi dua macam berdasarkan fungsinya, yaitu tangga utama dan tangga penteh. Tangga utama terletak di sebelah kanan pelamban dan

merupakan jalan utama untuk naik atau masuk ke dalam rumah, sedangkan tangga penteh berfungsi sebagai jalan untuk naik ke penteh. Tangga penteh hanya digunakan pada waktuwaktu tertentu, yaitu pada saat akan menyimpan barang-barang di penteh. Jadi tangga ini hanya dipasang pada saat akan digunakan, setelah itu disimpan di tempat lain. Bahan yang digunakan untuk membuat tangga utama adalah kayu, sedangkan tangga penteh terbuat dari bambu. Meskipun kedua jenis tangga tersebut menggunakan bahan yang berbeda, namun cara pembuatannya sama, yaitu pada setiap ujung anak tangga dibuatkan putting (bagian pangkal kayu yang telah diruncing untuk dibenamkan atau dipasang) pada bagian induk tangga yang dipahat selebar putting anak tangga. Setelah dipasang ke dalam lubang pahatan pada induk tangga, anak-anak tangga tersebut kemudian dipasak dengan kayu agar tidak mudah lepas.

Tiang atau pelejang


Kekokohan sebuah bangunan rumah sangat ditentukan oleh tiang yang digunakan karena tiang sebagai tongkat dan kerangka bagian tengah rumah berfungsi untuk menahan beban bagian-bagian rumah yang lain. Untuk itu, masyarakat Marga Batin V dalam mendirikan rumah Kejang Lako senantiasa menggunakan kayu yang keras seperti bulian, petaling, dan kulim. Kayu-kayu yang akan dibuat tiang dibentuk persegi delapan dengan panjang 4,25 meter. Jumlah tiang yang dibutuhkan untuk membuat bangunan ini rata-rata 30 buah yang terdiri dari 24 tiang utama dan 6 tiang pelamban. Oleh karena tiang pelamban ini hanya merupakan tiang tambahan di luar bangunan induk, maka tiang ini sengaja dibuat agak lebih pendek dan kecil agar tidak dianggap sebagai sebuah pemborosan (http://wartawarga.gunadarma.ac.id).

Berdasarkan fungsinya, tiang pada bangunan Rumah Kejang Lako dibagi menjadi tujuh macam, yaitu tiang tuo, tiang tengah, tiang tepi, tiang balik melintang, tiang balik menahan, tiang gaho, dan tiang pelamban (Djafar dan Madjid, 1986: 29-30). Pembuatan tiang harus dimulai dari tiang tuo karena ia merupakan tiang paling utama dalam bangunan ini. Kecuali tiang tuo yang berjumlah 1 batang dan tiang pelamban yang berjumlah 5 batang, tiang-tiang yang lain masing-masing berjumlah 4 batang. Sebelum tiang-tiang tersebut didirikan terlebih dahulu dipasang pelejang, yaitu balok pipih yang berfungsi untuk merangkai tiang-tiang tersebut. Setiap pelejang dipasang 4 buah tiang, yaitu masing-masing tiang tepi depan, tiang tengah (tiang tuo), tiang balik menalam, dan tiang tepi belakang.

Sendi

Seperti halnya rumah panggung pada umumnya, bangunan Rumah Kejang Lako tidak menggunakan fondasi. Maka sebagai penggantinya digunakan sendi yang berfungsi sebagai penyangga tiang. Sendi biasanya terbuat dari batu kali atau kayu yang diratakan permukaannya dan ukurannya harus lebih besar daripada tiang, yaitu bergaris tengah sekitar 35 cm. Untuk memperkuat kedudukan sendi dan meratakan tinggi tiang, sendi ditanam ke dalam tanah dengan kedalaman sekitar tiga perempat tinggi sendi.

Bahan material Batu kali sebagai sendi Kayu yang keras seperti bulian, petaling, dan kulim, melintang untuk dinding tiang dan tangga utama Bambu untuk tangga penteh Daun mengkuang untuk atap Ijuk untuk atap

Jenis-jenis bangunan
Berdasarkan fungsinya, ruang yang terdapat pada Rumah Kejang Lako terbagi menjadi menjadi 8 (delapan) ruang, yaitu: a. Ruang Pelamban Ruang pelamban terletak di depan sebelah kiri bangunan rumah induk. Ruang ini memiliki beberapa fungsi yaitu tempat mencuci piring, menjemur pakaian, menyimpan peralatan mata pencaharian, memelihara tanaman, tempat sandaran tangga utama, dan tempat menunggu tamu sebelum dipersilakan masuk ke dalam rumah. Di ruang ini juga terkadang disediakan air untuk mencuci kaki sebelum masuk ke dalam rumah. b. Ruang Gaho Ruang gaho terletak di ujung sebelah kiri bangunan induk dengan ukuran panjang 9 meter dan lebar 2 meter. Ruang ini berfungsi sebagai tempat penyimpanan tabung air yang terbuat dari bambu bulat dan barang-barang keperluan sehari-hari seperti bakul dan alat-alat penangkapan ikan. Ruang ini juga berfungsi sebagai tempat memasak (dapur). c. Ruang Masinding Ruang masinding adalah ruang di bagian depan yang berfungsi sebagai tempat pertemuan seperti musyawarah dan upacara adat. Ruang seluas 8 x 3 meter ini khusus ditempati oleh orang biasa dari kaum laki-laki. Kaum wanita tidak diperbolehkan duduk di ruang ini untuk menerima tamu. Demikian pula para tamu harus bersikap sopan ketika berada di ruang ini. Para tamu harus duduk bersila dan menggunakan kata-kata yang sopan. Jika ada tamu yang melanggar tata kesopanan pada saat upacara adat berlangsung, maka dia akan dikenakan sanksi adat berupa denda satu ekor kambing dan 40 gantang beras. d. Ruang Tengah

Sesuai dengan posisinya yang berada di tengah-tengah rumah induk dan bersebelahan dengan ruang masinding, maka ruang ini disebut ruang tengah. Luas ruang ini sama dengan luas ruang masinding. Namun, antara ruang tengah dan ruang masinding tidak dipisahkan oleh dinding tetapi hanya dipasang sebatang balok panjang dari kayu jati dengan ukuran setiap sisinya sekitar 15 cm. Balok panjang ini disebut dengan Bendul Jati. Menurut adat setempat, Bendul Jati tersebut berfungsi sebagai pembatas untuk memisahkan tempat duduk kaum laki-laki dan kaum perempuan pada pelaksanaan setiap kegiatan. Seperti disebutkan sebelumnya bahwa ruang masinding khusus untuk kaum laki-laki, maka ruang tengah ini khusus untuk kaum perempuan. Pada dasarnya, ketentuan adat tentang pembagian ruang tersebut sangat terkait dengan ajaranajaran agama Islam yang merupakan agama yang dianut oleh kebanyakan penduduk setempat. Ketentuan adat tersebut dimaksudkan untuk mencegah terjadinya pelanggaran norma-norma susila adat dan agama. Oleh karena itu, jika ada peserta dalam suatu kegiatan, baik peserta yang duduk ruang masinding maupun di ruang tengah melangkahi Bendul Jati tersebut maka dia akan mendapat sanksi adat berupa denda seekor kambing dan satu gantang beras.

Denah Ruang Rumah Kejang Lako

Keterangan: 1 = tangga 2 = pelamban 3 = ruang gaho 4 = ruang dapur 5 = ruang masinding 6 = bendul jati 7 = raung tengah

8 = ruang balik melintang 9 = ruang tidur anak gadis 10 = ruang tidur orang tua 11 = kamar makan e. Ruang Balik Melintang Ruang balik melintang merupakan ruang utama pada Rumah Kejang Lako yang terletak di ujung sebelah kanan bangunan rumah induk dengan menghadap ke ruang tengah dan ruang masinding. Ruang ini khusus ditempati oleh pemuka-pemuka adat, alim ulama, ninik mamak dan cerdik pandai pada acara musyawarah dan upacara adat. Oleh karena itu, lantai ruang ini dibuat lebih tinggi dari lantai ruang lainnya. Ruang ini tidak diberi dinding pembatas karena untuk memudahkan kelancaran jalannya kegiatan musyawarah dan upacara adat. Namun pada hari-hari biasa, ruang yang berukuran 9 x 2 meter ini dapat digunakan sebagai ruang tamu, tempat tidur bagi anak-anak gadis, dan tempat tidur pengantin baru. f. Ruang Balik Menalam Ruang balik menalam adalah ruang yang terdapat di bagian dalam bangunan rumah. Berdasarkan fungsinya, ruang ini disekat-sekat menjadi tiga buah ruang atau kamar, yaitu ruang makan, kamar tidur orang tua, dan kamar tidur anak gadis. Ruang makan dengan luas 2 x 3 meter ini terletak di ujung sebelah kiri berdampingan dengan ruang gaho atau dapur dan pintunya berada di depan menghadap ke ruang masinding. Biasanya, antara ruang makan dan ruang dapur ini tidak diberi dinding. Ruang tempat tidur anak gadis terletak di ujung sebelah kanan berdampingan dengan ruang balik melitang. Ruang yang seluas 3 x 3 meter ini diberi dinding pembatas di antara ruang masinding. Pintu kamar ini berada di depan, dan di atas pintu biasanya diberi ukiran yang bermotif Tampuk Manggis dan Bungo Jeruk. Menurut adat setempat, ruang ini tidak boleh dimasuki oleh orang lain kecuali orangtua. Sedangkan ruang tempat tidur orangtua berada di antara ruang makan dan ruang tempat tidur anak gadis. Ukurannya sama dengan luas kamar tempat tidur anak gadis. Pintunya juga berada di depan dan di atas pintu diberi ukiran bermotif Tampuk Manggis.