Anda di halaman 1dari 67

BAB I

PENDAHULUAN 2.1.1 Latar belakang Tujuan pembangunan kesehatan menuju Indonesia Sehat 2010 adalah meningkatkan keadilan, keutamaan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal. Status kesehatan masyarakat diusahakan ditingkatkan melalui pengurangan morbiditas, mortalitas dan kecacatan, terutama pada bayi, balita, wanita hamil, dan masa nifas (Rencana Pembangunan Kesehatan Menuju Indonesia Sehat 2010). Saat ini sistem pelayanan kesehatan di Indonesia berada pada kondisi yang belum baik. Penduduk Indonesia yang mempunyai daya pilih, sebagian menggunakan pelayanan kesehatan di Singapura, Malaysia, dan negara-negara lain. Situasi sektor kesehatan berada pada papan bawah Asia Tenggara. Data UNDP (2003) menunjukkan Human Development Indeks (HDI) Indonesia berada di urutan ke-112 di bawah Vietnam (109), dan jauh di bawah Malaysia (68).Upaya kesehatan tersebut di kelompokan menjadi dua yakni upaya kesehatan wajib dan upaya kesehatan pengembangan. Upaya kesehatan wajib harus diselenggarakan oleh setiap puskesmas yang ada di Indonesia (Trisnantoro, Laksono. 2006) Puskesmas merupakan Unit Pelaksana Teknis Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota yang bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di wilayah kerjanya. Sebagai penyelenggara pembangunan kesehatan, puskesmas bertanggung jawab menyelenggarakan upaya kesehatan per orangan dan upaya kesehatan masyarakat, yang ditinjau dari Sistem Kesehatan Nasional merupakan pelayanan kesehatan tingkat pertama (Depkes RI, 2009). Pada saat ini Puskesmas telah didirikan hampir di seluruh pelosok tanah air. Untuk menjangkau wilayah kerjanya puskesmas diperkuat dengan puskesmas pembantu, puskesmas keliling dan untuk daerah yang jauh dari sarana pelayanan rujukan, puskesmas dilengkapi dengan fasilitas rawat inap (Depkes RI, 2009).
Sekalipun telah banyak keberhasilan yang dicapai oleh puskesmas dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, namun dalam pelaksanaanya masih banyak terjadi masalah-masalah yang dapat menghambat puskesmas berfungsi

maksimal. Masalah-masalah tersebut dapat memengaruhi pemanfaatan puskesmas yang pada ujungnya berpengaruh pada status kesehatan masyarakat di wilayah kerjanya (Oleske, 2002). Untuk mengantisipasi hal itu, sebaiknya puskesmas mampu meningkatkan kualitas pelayanan profesi (quality of care) dan kualitas pelayanan manajemen (quality of service) karena mutu pelayanan yang baik akan memberikan kepuasan kepada pelanggan dan pelanggan akan memanfaatkan ulang dan merekomendasikan pelayanan kesehatan tersebut kepada orang lain (Muninjaya, 2004).

Di wilayah kerja puskesmas terdapat pula berbagai bentuk upaya kesehatan berbasis dan bersumber daya masyarakat, salah satunya adalah Posyandu. Kedudukan puskesmas dengan sarana pelayanan kesehatan berbasis dan bersumberdaya masyarakat ini adalah sebagai pembina. Posyandu (Pos Layanan Terpadu) adalah pusat kegiatan masyarakat dalam upaya pelayanan kesehatan dan keluarga berencana. Posyandu memadukan penyelenggaran KIA-KB, Gizi, P2M, dan Promosi kesehatan, sehingga kami merasa perlu diadakannya TPP mengenai puskesmas dan posyandu 2.1.2 Rumusan masalah kesehatan di puskesmas dan posyandu? 2.1.3 Tujuan Pelaksanaan A. Mengetahui bagaimana pengelolaan program pelaksanaan manajemen pelayanan kesehatan di puskesmas dan posyandu 2.1.4 2.1 Manfaat Menambah keterampilan dalam analisa program kesehatan kerja serta pengaplikasian yang akan di gunakan di puskesmas kelak nanti 2.2 Meningkatkan pengetahuan mahasiswa terhadap sikap dan praktek petugas pengelolaan program dalam manajemen pengelolaan upaya kesehatan kerja di Puskesmas.

2.17. 1 Bagaimana pengelolaan program pelaksanaan manajemen pelayanan

BAB II
LANDASAN TEORI

2.3 2.1.5

Puskesmas Definisi puskesmas Puskesmas adalah unit pelaksana teknis Dinas Kesehatan Kabupaten /

Kota yang bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di suatu wilayah kesehatan. (Departemen Kesehatan RI, 2004) Puskesmas sebagai sarana pelayanan kesehatan terdepan, maka puskesmas selain bertanggung jawab dalam menyelenggarakan pelayanan kesehatan masyarakat juga bertanggung jawab dalam menyelenggarakan pelayanan kedokteran. (Azwar, 1996). Puskesmas sebagai sarana pelayanan kesehatan masyarakat tingkat pertama di Indonesia, program kerja Puskesmas berpedoman pada empat azas pokok yaitu: azas pertanggungjawaban wilayah, azas peran serta masyarakat, azas keterpaduan, azas rujukan. (Azwar, 1996). Pada era desentralisasi, program puskesmas dibedakan menjadi program dasar dan program pengembangan. Program kesehatan dasar adalah program minimal yang harus dilaksanakan oleh tiap puskesmas, yang dikemas dalam basic sic, yaitu: (1) promosi kesehatan, (2) kesehatan lingkungan, (3) kesehatan ibu dan anak dan keluarga berencana, (4) perbaikan gizi, (5) pemberantasan penyakit menular, (6) pengobatan. Selain enam program kesehatan dasar tersebut di atas, tiap puskesmas diperkenankan untuk mengembangkan program lain sesuai dengan situasi, kondisi, masalah dan kemampuan puskesmas setempat. Program lain di luar enam program kesehatan dasar tersebut disebut sebagai program kesehatan pengembangan. Program pengembangan tersebut dapat berupa kesehatan sekolah, kesehatan gigi dan mulut, kesehatan jiwa, kesehatan mata, kesehatan lanjut usia, kesehatan olahraga, kesehatan kerja, laboratorium sederhana dan sebagainya. (Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial, 2001)

2.4

Menejemen pelayanan Manajemen kesehatan merupakan salah satu subsistem dalam Sistem

Kesehatan Nasaional. Subsistem manajemen kesehatan adalah tatanan yang menghimpun berbagai upaya administrasi kesehatan yang ditopang oleh pengelolaan data dan informasi pengembangan dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta pengaturan hukum kesehatan secara terpadu dan saling mendukung, guna menjamin tercapainya derajat kesehatan yang setinggitingginya. Tujuan subsistem manajemen kesehatan adalah terselenggaranya fungsi-fungsi administrasi kesehatan yang berhasil guna dan berdaya guna, didukung oleh sistem informasi IPTEK dan hukum kesehatan, untuk menjamin terselenggaranya pembangunan kesehatan yang meningkatkan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Subsistem manajemen kesehatan terdiri dari 4 (empat), unsur utama yakni administrasi kesehatan, informasi kesehatan, ilmu pengetahuan dan teknologi, serta hukum kesehatan. Dengan demikian administrasi kesehatan merupakan salah satu bagian dari manajemen kesehatan (Departemen Kesehatan, 2004) Manajemen Puskesmas didefinisikan sebagai rangkaian kegiatan yang bekerja secara sistematis untuk menghasilkan luaran Puskesmas yang efektif dan efisien. Rangkaian kegiatan sistematis yang dilaksanakan Puskesmas membentuk fungsi-fungsi manajemen. Ada 3 (tiga) fungsi manajemen Puskesmas yang dikenal yakni Perencanaan, Pelaksanaan dan Pengendalian, serta Pengawasan dan Pertangungjawaban. Semua fungsi manajemen tersebut harus dilaksanakan secara terkait dan berkesinambungan (Departemen Kesehatan, 2004). 2.5 Sejarah dan perkembangan Puskesmas di Indonesia Sejarah dan perkembangan Puskesmas di Indonesia dimulai dari didirikannya berbagai institusi dan sarana kesehatan seperti Balai Pengobatan, Balai Kesehatan Ibu dan Anak, serta diselenggarakannya berbagai upaya kesehatan seperti usaha hygiene dan sanitasi lingkungan yang masing-masing berjalan sendiri-sendiri. Pada pertemuan Bandung Plan (1951), dicetuskan pertama kali pemikiran untuk mengintegrasikan berbagai institusi dan upaya kesehatan tersebut di bawah satu pimpinan agar lebih efektif dan efisien.

Selanjutnya konsep pelayanan kesehatan yang terintegrasi lebih berkembang dengan pembentukan Team Work dan Team Approach dalam pelayanan kesehatan tahun 1956. Penggunaan istilah Puskesmas pertama kali dimuat pada Master Plan of Operation for Strengthening National Health Service in Indonesia tahun 1969 Dalam dokumen tersebut Puskesmas terdiri atas 3 (tiga) tipe Puskesmas (Tipe A, Tipe B, Tipe C). Kemudian dalam Rapat Kerja Kesehatan Nasional ke-3 tahun 1970 ditetapkan hanya ada satu tipe Puskesmas dengan 6 (enam) kegiatan pokok Puskesmas. Perkembangan selanjutnya lebih mengarah pada penambahan kegiatan pokok Puskesmas seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, kemampuan pemerintah, serta keinginan program di tingkat pusat, sehingga kegiatan pokok Puskesmas berkembang menjadi 18 (delapan belas) kegiatan pokok Puskesmas, bahkan Daerah Khusus Ibukota Jakarta mengembangkan menjadi 21 (dua puluh satu) program pokok Puskesmas (Departemen Kesehatan, 2004). 2.6 Model Manajemen Puskesmas Untuk dapat mewujudkan visi, misi, dan tujuan Puskesmas, diperlukan model manajemen yang cocok dan efektif untuk Puskesmas yang bersangkutan. Salah satu contoh model manajemen telah diperkenalkan pada Puskesmas, yaitu : 2.4.1 Model Manajemen P1 P2 P3 Manajemen Puskesmas terdiri dari P1 (Perencanaan), P2 (Penggerakan Pelaksanaan), dan P3 (Pengawasan, Pengendalian, dan Penilaian) A. P1 (Perencanaan) Puskesmas : Microplanning Puskesmas. Microplanning adalah penyusunan rencana 5 (lima) tahunan dengan tahapan tiap-tiap tahun di tingkat Puskesmas untuk mengembangkan dan membina Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) Keluarga Berencana- Kesehatan diwilayah kerjanya, berdasarkan masalah yang dihadapi dan kemampuan yang dimiliki dalam rangka meningkatkan fungsi Puskesmas. (Departemen Kesehatan, 1989). Tujuan microplanning adalah meningkatkan cakupan pelayanan program prioritas yang mempunyai daya ungkit terbesar terhadap penurunan angka kematian bayi,

anak balita dan fertilitas dalam wilayah kerjanya yang pada gilirannya dapat meningkatkan fungsi Puskesmas. Ruang Lingkup microplanning adalah kegiatan pokok Puskesmas, meliputi 18 kegiatan pokok. Namun demikian, mengingat dalam Pelita IV prioritas diberikan pada penurunan angka kematian bayi dan anak balita serta angka fertilitas, maka perencanaan yang dimaksud baru diarahkan pada 5 (lima) program terpadu KBKesehatan, yaitu program Kesehatan Ibu dan Anak, Keluarga Berencana, Gizi, Imunisasi, dan Penanggulangan Diare. Kelima program tersebut mempunyai daya ungkit terbesar terhadap upaya penurunan angka kematian bayi, anak balita, dan angka fertilitas. B. P2 (Penggarakan dan Pelaksanaan) Puskesmas Tujuan Penggerakan dan Pelaksanaan (P2) Puskesmas adalah

meningkatkan fungsi Puskesmas melalui peningkatan kemampuan tenaga Puskesmas untuk bekerja sama dalam Tim dan membina kerja sama lintas program dan lintas sektoral. Komponen Penggerakan Pelaksanaan (P2) Puskesmas dilakukan melalui Lokakarya Mini Puskesmas yang terdiri dari 4 (empat) komponen meliputi: (1) penggalangan kerjasama Tim yaitu lokakarya yang dilaksanakan setahun sekali di Puskesmas, dalam rangka meningkatkan kerja sama antar petugas Puskesmas untuk meningkatkan fungsi Puskesmas, melalui suatu proses dinamika kelompok yang diikuti dengan analisis beban kerja masingmasing tenaga yang dikaitkan dengan berbagai kelemahan penampilan kerja Puskesmas menurut hasil stratifikasi Puskesmas, (2) penggalangan Kerjasama Lintas Sektoral yaitu dalam rangka meningkatkan peran serta masyarakat dan dukungan sektor-sektor terkait melalui suatu pertemuan lintas sektoral setahun sekali. Sebagai hasil pertemuan adalah kesepakatan rencana kerja sama lintas sektoral dalam membina peran serta masyarakat dalam bidang kesehatan termasuk keterpaduan KB-Kesehatan, (3) rapat kerja Tribulanan Lintas Sektoral, sebagai tindak lanjut pertemuan penggalangan kerja sama lintas sektoral, dilakukan pertemuan lintas sektoral setiap 3 (tiga) bulan sekali untuk mengkaji hasil kegiatan kerja sama lintas sektoral selama 3 (tiga) bulan yang lalu dan memecahkan masalah yang dihadapi, kemudian disusun rencana kerja sama lintas

sektoral bulan selanjutnya, dan (4) Lokakarya Bulanan Puskesmas, yaitu pertemuan antar tenaga Puskesmas pada setiap akhir bulan untuk mengevaluasi pelaksanaan rencana kerja bulan yang lalu dan membuat rencana bulan yang akan datang. Adapun tujuan Lokakarya Bulanan Puskesmas adalah (a) disampaikan hasil rapat dari tingkat kabupaten, kecamatan dan lain sebagainya, (b) diketahuinya hasil dan evaluasi kegiatan Puskesmas bulan lalu, (c) diketahuinya hambatan dan masalah dalam pelaksanaan kegiatan bulan lalu, (d) dirumuskannya cara pemecahan masalah, (e) disusunnya rencana kerja harian petugas selama satu bulan yang akan datang, (f) diberikannya tambahan pengetahuan baru, (h) disusunnya POA Puskesmas, baik POA tahunan maupun bulanan, dan (i) diketahuinya masalah di Puskesmas berdasarkan hasil Stratifikasi Puskesmas (Departemen Kesehatan, 1988). C. P3(Pengawasan, Pengendalian, dan Penilaian): Stratifikasi Puskesmas Stratifikasi Puskesmas adalah upaya untuk melakukan penilaian prestasi kerja Puskesmas dengan mengelompokkan Puskesmas dalam 3 strata yaitu Strata Puskesmas dengan prestasi kerja baik (Strata I), Strata Puskesmas dengan prestasi kerja cukup (Strata II) dan Strata Puskesmas dengan prestasi kerja kurang (Strata III). Pengelompokkan ketiga strata tersebut digunakan dalam rangka pemantauan terhadap tingkat perkembangan fungsi Puskesmas, sehingga pembinaan dalam rangka peningkatan fungsi Puskesmas dapat dilaksanakan lebih terarah. Hal ini diharapkan agar dapat menimbulkan gairah kerja, rasa tanggung jawab dan kreatifitas kerja yang dinamis melalui pengembangan falsafah mawas diri. Adapun tujuan umum Stratifikasi Puskesmas adalah mendapatkan gambaran tentang tingkat perkembangan fungsi Puskesmas secara berkala dalam rangka pembinaan dan pengembangannya. Sedangkan tujuan khususnya adalah : (a) mendapatkan gambaran secara menyeluruh perkembangan Puskesmas dalam rangka mawas diri, (b) mendapatkan masukan untuk perencanaan Puskesmas di masa mendatang, dan (c) mendapatkan informasi tentang masalah dan hambatan pelaksanaan Puskesmas sebagai masukan untuk pembinaannya. Aspek yang dinilai dalam Stratifikasi Puskesmas meliputi hasil kegiatan pokok Puskesmas, proses manajemen, termasuk berbagai komponen penunjang baik fisik

maupun non fisik dan keadaan lingkungan wilayah kerja Puskesmas yang dapat berpengaruh terhadap penampilan kerja Puskesmas. Dengan Stratifikasi Puskesmas ada 3 (tiga) area yang perlu dibina yaitu : (a) Puskesmas sebagai wadah pemberi pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Pembinaan ini diarahkan terhadap fasilitas fisik, pelaksanaan manajemen, dan kemampuan pegawai, (b) pelaksanaan program-program sektor kesehatan maupun program lintas sektoral yang secara langsung maupun tidak langsung menjadi tanggung jawab Puskesmas dalam pelaksanaannya maupun sarana penunjangnya dan (c) peran serta masyarakat dalam rangka meningkatkan kemampuan untuk hidup sehat dan produktif (Departemen Kesehatan, 1990). 2.7 2.5.1 Perencanaan Tingkat Puskesmas Pengertian Perencanaan Tingkat Puskesmas Perencanaan tingkat Puskesmas akan memberikan pandangan menyeluruh terhadap semua tugas, fungsi dan peranan yang akan dijalankan. Perencanaan puskesmas dapat didefinisikan sebagai: a. b. c. d. e. Perencanaan Puskesmas adalah penyusunan kegiatan Puskesmas yang akan dilakukan di masa yang akan datang untuk mencapai tujuan Puskesmas; Perencanaan Puskesmas didasarkan pada analisis dan pemahaman system Puskesmas secara komprehensif (menyeluruh); Perencanaan Puskesmas akan menjadi efektif jika perumusan masalah dilakukan berdasarkan fakta-fakta dan data; Perencanaan Puskesmas merupakan proses pemilihan alternatif tindakan yang terbaik untuk mencapai tujuan Puskesmas; Perencanaan Puskesmas adalah proses pengambilan keputusan atas sejumlah alternatif (pilihan) tujuan dan cara yang akan dilaksanakan di masa yang akan datang guna mencapai tujuan yang dikehendaki serta pemantauan dan penilaian atas hasil pelaksanaan, yang dilakukan secara sistematis dan berkesimbungan; f. Perencanaan Puskesmas secara implisit mengemban misi Puskesmas untuk mencapai visi Puskesmas. (Sulaeman, 2009)

2.5.2

Aspek-Aspek Perencanaan Tingkat Puskesmas Dalam perencanaan Puskesmas terdapat 3 (tiga) aspek pokok yang harus

diperhatikan. Ketiga aspek tersebut adalah hasil dari pekerjaan perencanaan (outcome of planning) Puskesmas, perangkat organisasi Puskesmas yang dipergunakan untuk melakukan pekerjaan perencanaan (mechanic of planning) Puskesmas, serta proses atau langkah-langkah melakukan pekerjaan perencanaan (process of planning) Puskesmas. Uraian dari masing-masing aspek ini secara sederhana adalah sebagai berikut: A. Hasil dari pekerjaan perencanaan Puskesmas Hasil dari pekerjaan perencanaan (outcome of planning) disebut sebagai rencana (plan), yang dapat berbeda antara satu pekerjaan perencanaan dengan pekerjaan perencanaan lainnya. Hasil pekerjaan perencanaan yang dilakukan oleh Puskesmas adalah rencana Puskesmas. B. Perangkat perencanaan Puskesmas Perangkat perencanaan (mechanic planning) adalah satuan organisasi yang ditugaskan dan atau yang bertanggung jawab menyelenggarakan pekerjaan perencanaan. Pada suatu organisasi yang kecil dan sederhana seperti Puskesmas, tidak ada perangkat khusus yang membidangi perencanaan. Perencanaan Puskesmas dilakukan oleh para penanggung jawab program Puskesmas dengan mengikutsertakan seluruh pegawai dibawah koordinasi kepala Tata Usaha dengan bimbingan dan pengarahan kepala Puskesmas. C. Proses perencanaan Proses perencanaan (process of planning) adalah langkah-langkah yang harus dilaksanakan pada pekerjaan perencanaan. Berbeda dengan hasil dan perangkat, proses perencanaan ini pada dasarnya adalah sama untuk berbagai pekerjaan perencanaan. Untuk dapat menghasilkan suatu rencana yang baik, sebaiknya langkah-langkah yang ditempuh adalah sama. Dari ketiga aspek perencanaan tersebut, yang terpenting bukanlah hasil atau perangkat perencanaan, melainkan proses perencanaan. Untuk keberhasilan pekerjaan perencanaan, sangat dianjurkan untuk memahami proses perencanaan.

Proses perencanaan Puskesmas harus mengikutsertakan seluruh pegawai Puskesmas secara partisipatif, sebaiknya dengan menggunakan metode MBO (management by objectives) atau Manajemen Berdasarkan Tujuan. (Sulaeman, 2009) 2.5.3 Ciri-Ciri Perencanaan Tingkat Puskesmas Perencanaan yang baik, mempunyai beberapa ciri yang harus diperhatikan. Ciri-ciri yang dimaksud secara sederhana diuraikan sebagai berikut: a. b. c. d. e. f. Perencanaan Puskesmas bagian dari manajemen Puskesmas Perencanaan Puskesmas dilaksanakan secara terus menerus dan berkesinambungan Perencanaan Puskesmas berorientasi pada masa depan Perencanaan mampu menyelesaikan masalah Perencanaan Puskesmas mempunyai tujuan Perencanaan Puskesmas bersifat mampu kelola. (Sulaeman, 2009) Tipe-Tipe Perencanaan Dan Rencana Tingkat Puskesmas Ada 2 (dua) tipe utama rencana Puskesmas, yaitu Rencana Strategik Puskesmas, dan Rencana Operasional Puskesmas. 2.6 a. Rencana Strategik Puskesmas Pengertian Rencana Strategik Puskesmas Rencana Strategik Puskesmas adalah dokumen rencana jangka menengah atau jangka panjang Puskesmas yang menggambarkan arah yang harus dituju serta langkah yang harus dilaksanakan. Rencana Strategik Puskesmas memusatkan perhatian untuk melakukan pekerjaan yang benar dan efektif dan bertujuan agar Puskesmas berfungsi dengan baik serta tanggap dan antisipatif terhadap lingkungan Puskesmas. Rencana Strategik Puskesmas bersifat jangka menengah atau jangka panjang sehingga menjadi payung bagi Rencana Operasional (RO) Puskesmas tahunan dalam periode tersebut. (Sulaeman, 2009)

2.5.4

b. yaitu: 1.

Manfaat atau Keuntungan Rencana Strategik Puskesmas Adapun manfaat atau keuntungan dari Rencana Strategik Puskesmas, Memberi arah kumulatif jangka panjang yang akan dituju, sehingga secara keseluruhan RO tahunan Puskesmas dalam kurun waktu 5 (lima) tahun menuju suatu tujuan Puskesmas yang lebih jelas. Hal ini akan membuat RO tahunan Puskesmas lebih bersifat proaktif (antisipatif) dan bukannya reaktif;

2.

Menjamin terjadinya suatu perubahan (change) ke arah yang lebih baik. Sebaliknya tanpa Rencana Strategik Puskesmas kita senantiasa menghadapi masalah-masalah yang sama dari waktu ke waktu, seolaholah kita berjalan di tempat dalam penyelenggaraan upaya kesehatan Puskesmas;

3. 4. 5. 6. 7. 8.

Membuat organisasi Puskesmas lebih efektif; Mengidentifikasi keunggulan kompetitif organisasi Puskesmas dalam lingkungan yang semakin berisiko dan kompetitif; Pembuatan Rencana Strategik Puskesmas akan mempertinggi kemampuan Puskesmas untuk mencegah munculnya masalah di masa yang akan datang; Keikutsertaan pegawai Puskesmas dalam pembuatan Rencana Strategik akan lebih memotivasi mereka dalam tahap pelaksanaan; Aktivitas Puskesmas yang tumpang tindih akan dikurangi; Keengganan untuk berubah dari pegawai Puskesmas lama dan senior dapat dikurangi. (Sulaeman, 2009)

2.7

Tahapan - Tahapan Penyusunan Rencana Strategik Puskesmas Tahapan-tahapan penyusunan Rencana Strategik menurut para teoritisi

Manajemen Strategik masih bervariasi dan belum terdapat kesepakatan umum. Penulis berpendapat bahwa tahapan-tahapan dalam proses penyusunan Rencana Strategik Puskesmas adalah sebagai berikut: Perumusan Visi Puskesmas Perumusan Misi Puskesmas Perumusan Tujuan Puskesmas Perumusan Strategi Puskesmas Perumusan Kebijakan Puskesmas

2.8 A.

Penetapan Program dan Kegiatan Puskesmas. (Sulaeman, 2009) Rencana Operasional Puskesmas Pengertian Rencana Operasional Puskesmas Yang dimaksud dengan Rencana Operasional (RO) Puskesmas adalah

suatu dokumen rincian rencana pelaksanaan program Puskesmas yang disusun berdasarkan kegiatan-kegiatan dengan memperhitungkan hal-hal yang telah ditetapkan dalam Rencana Strategik Puskesmas serta semua potensi dan sumber daya yang tersedia (Departemen Kesehatan, 2002). RO Puskesmas mempunyai 2 (dua) tipe yaitu rencana sekali pakai (single use plan) dan rencana tetap (standing plan). Rencana sekali pakai dikembangkan untuk mencapai tujuan tertentu dan tidak digunakan kembali bila tujuan telah tercapai seperti rencana Pekan Imunisasi Nasional (PIN), rencana Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS). Sedangkan rencana tetap (standing plan) merupakan pendekatan standar untuk penanganan situasi-situasi yang dapat diperkirakan dan terjadi berulang-ulang. RO Puskesmas merupakan penjabaran secara terinci tentang kegiatan-kegiatan yang akan dilaksanakan untuk mencapai tujuan Pukesmas. Dengan demikian RO Puskesmas harus disusun secara seksama mengikuti kaidah yang sudah ditentukan. (Sulaeman, 2009) Pada hakekatnya RO Puskesmas mengandung rincian dari kegiatankegiatan operasional, sehingga dokumen RO Puskesmas merupakan hasil akhir dari seluruh proses perencanaan. Oleh sebab itu RO Puskesmas tidak dapat disusun untuk suatu jangka waktu yang panjang. Lazimnya RO Puskesmas dibuat untuk kurun waktu satu bulan atau paling lama satu tahun. (Sulaeman, 2009) Penyusunan RO Puskesmas sudah merupakan kegiatan rutin, untuk itu sebaiknya Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota membuat formulir-formulir isian perencanaan yang seragam tentang RO Puskesmas, sehingga memudahkan Puskesmas, yakni dengan mengisi kolom-kolom yang tersedia, dan memudahkan untuk direkapitulasi oleh Dinas Kesehatan Kabupetan/Kota. (Sulaeman, 2009)

Pendekatan umum untuk mempersiapkan RO Puskesmas suatu program Puskesmas meliputi : 1. 2. 3. Alasan utama disusunnya RO Puskesmas (Mengapa kegiatan dan program Puskesmas dilaksanakan = Why); Identifikasi dan perumusan yang jelas dari semua kegiatan dan program Puskesmas yang akan dilaksanakan (apa ? = What ?); Menetapkan pendekatan-pendekatan yang akan digunakan dan bagaimana cara melaksanakan setiap kegiatan dan program Puskesmas (bagaimana ? = How ?); 4. Membuat daftar berbagai macam sumber daya yang akan dipergunakan, termasuk besaran jumlahnya, lokasinya dimana (where will be done ?) dan lain-lain, untuk melaksanakan setiap kegiatan Puskesmas ( input sumber daya); 5. 6. 7. Mendefinisikan tanggung jawab fungsional pada setiap kegiatan dan program bagi setiap pegawai Puskesmas (siapa mengerjakan apa ? Who does what?); Memperkirakan waktu yang dipergunakan untuk setiap kegiatan Puskesmas (When will be done ?); Mengadakan hubungan timbal balik (hubungan waktu dan fungsi) antara kegiatan yang berbeda-beda serta membuat jadwal kegiatan dan program (kapan ? = When?). Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan basic questions for planning dan umumnya ditulis dengan akronim 5 W + 1 H atau Terry menyebutnya sebagai Five Ws and How questions. (Sulaeman, 2009) B. Ruang Lingkup RO Puskesmas Ruang lingkup atau substansi RO Puskesmas meliputi: 1. Tujuan Puskesmas, meliputi tujuan umum dan khusus; 2. Penentuan sasaran dan target Puskesmas; 3. Uraian terinci dari masing-masing kegiatan Puskesmas yang akan dilakukan; 4. Pembiayaan meliputi jumlah dan sumber dana yang diperlukan untuk masing-masing kegiatan Puskesmas; 5. Sarana dan fasilitas yang diperlukan;

6. Waktu yang dibutuhkan untuk setiap kegiatan Puskesmas; 7. Lokasi pelaksanaan kegiatan Puskesmas; 8. Pengorganisasian sumber daya manusia; 9. Hambatan yang mungkin saja terjadi selama kegitan Puskesmas dilaksanakan; 10. Rencana penilaian dari suatu keberhasilan RO Puskesmas bila kelak sudah dilaksanakan. (Sulaeman, 2009) C. Langkah Penyusunan RO Puskesmas Penyusunan RO Puskesmas sebagai suatu proses mempunyai beberapa langkah, sebagai berikut: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 2.9 Analisis situasi Puskesmas; Mengidentifikasi masalah dan prioritasnya; Menetapkan tujuan dan sasaran RO Puskesmas; Merencanakan ketenagaan untuk RO Puskesmas; Mengkaji hambatan dan kelemahan RO Puskesmas; Memantau dan menilai RO Puskesmas; Menyusun jadwal/waktu; Menyusun rencana pelaksanaan kegiatan Puskesmas. (Sulaeman, 2009) Kebijakan Perencanaan Tingkat Puskesmas Perencanaan tingkat Puskesmas adalah proses penyusunan rencana tahunan Puskesmas untuk mengatasi masalah kesehatan di wilayah kerja Puskesmas. Rencana tahunan Puskesmas dibedakan atas 2 (dua) macam. Pertama, rencana tahunan upaya kesehatan wajib. Kedua, rencana tahunan upaya kesehatan pengembangan. (Sulaeman, 2009) A. Perencanaan Upaya Kesehatan Wajib Jenis upaya kesehatan wajib adalah sama untuk setiap Puskesmas yakni program Basic six. Langkah-langkah perencanaan yang harus dilakukan Puskesmas adalah sebagai berikut:

a.

Menyusun Usulan Kegiatan Langkah pertama yang dilakukan oleh Puskesmas adalah menyusun usulan

kegiatan dengan memperhatikan berbagai kebijakan yang berlaku, baik nasional maupun daerah, sesuai dengan masalah sebagai hasil dari kajian data dan informasi yang tersedia di Puskesmas yaitu sistem informasi manajemen Puskesmas (SIMPUS). Rencana ini disusun melalui pertemuan tahunan Puskesmas yang dilaksanakan sesuai dengan siklus perencanaan kabupaten/kota dengan mengikut sertakan Badan Penyantun Puskesmas (BPP) serta dikoordinasikan dengan camat. b. Mengajukan Usulan Kegiatan Langkah kedua yang dilakukan Puskesmas adalah mengajukan usulan kegiatan ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota untuk persetujuan pembiayaannya. Usulan kegiatan meliputi usulan kebutuhan rutin, sarana dan prasarana serta operasional Puskesmas beserta pembiayaannya. c. Menyusun Rencana Pelaksanaan Kegiatan Langkah ketiga yang dilakukan oleh Puskesmas adalah menyusun rencana pelaksnaan kegiatan yang telah disetujui oleh Dinas kesehatan kabupaten/ kota (Rencana Kerja Kegiatan/Plan of Action) dalam bentuk matriks (Gantt chart) yang dilengkapi dengan pemetaan wilayah (mapping). (Sulaeman, 2009)

B.

Perencanaan Upaya Kesehatan Pengembangan Jenis upaya kesehatan pengembangan dipilih dari daftar upaya kesehatan

Puskesmas yang telah ada atau upaya inovasi yang dikembangkan sendiri. Langkah-langkah perencanaan upaya kesehatan pengembangan yang dilakukan oleh Puskesmas mencakup hal-hal sebagai berikut : a. Identifikasi Upaya Kesehatan Pengembangan Langkah pertama yang dilakukan adalah mengidentifikasi upaya kesehatan pengembangan yang akan diselenggarakan oleh Puskesmas. Identifikasi ini dilakukan berdasarkan ada tidaknya masalah kesehatan yang terkait dengan upaya

kesehatan pengembangan tersebut. Apabila Puskesmas memiliki kemampuan, identifikasi masalah dilakukan bersama masyarakat melalui pengumpulan data secara langsung di lapangan (Survei Mawas Diri). Tetapi apabila kemampuan pengumpulan data bersama masyarakat tersebut tidak dimiliki oleh Puskesmas, identifikasi dilakukan melalui kesepakatan kelompok (Delbecq Technique) oleh petugas Puskesmas dengan mengikutsertakan BPP. Disamping itu identifikasi upaya kesehatan pengembangan dapat pula memilih upaya yang bersifat inovatif yang tidak tercantum dalam daftar upaya kesehatan Puskesmas yang telah ada, melainkan dikembangkan sendiri sesuai dengan masalah dan kebutuhan masyarakat serta kemampuan Puskesmas. b. Menyusun Usulan Kegiatan Langkah kedua yang dilakukan oleh Puskesmas adalah menyusun usulan kegiatan yang berisikan rincian kegiatan, tujuan, sasaran, besaran kegiatan (volume), waktu, lokasi serta perkiraan kebutuhan biaya untuk setiap kegiatan rencana yang telah disusun tersebut diajukan dalam bentuk matriks ( Gantt chart) penyusunan rencana pada tahap awal pengembangan program dilakukan melalui pertemuan yang dilaksanakan secara khusus bersama dengan BPP dan Dinas kesehatan kabupaten/kota dalam bentuk musyawarah mufakat. c. Mengajukan Usulan Kegiatan Langkah ketiga yang dilakukan oleh Puskesmas adalah mengajukan usulan kegiatan ke Dinas kesehatan kabupaten/kota untuk pembiayaannya. Usulan kegiatan tersebut dapat pula diajukan ke BPP atau pihak penyandang dana. d. Menyusun Rencana Pelaksanaan Kegiatan Langkah keempat yang dilakukan oleh Puskesmas adalah menyusun rencana pelaksanaan kegiatan yang telah disetujui oleh Dinas kesehatan kabupaten/kota atau penyandang dana lain (Rencana Kerja Kegiatan/Plan of Action) dalam bentuk matriks (Gantt chart) yang dilengkapi dengan pemetaan wilayah (mapping) (Departemen Kesehatan, 2004).

2.10

Pelaksanaan Perencanaan Tingkat Puskesmas Pelaksanaan perencanaan tingkat Puskesmas yang terdiri atas upaya

kesehatan wajib dan upaya kesehatan pengembangan dilaksankan melalui langkah-langkah sebagai berikut : Menyusun Usulan Kegiatan Tahunan untuk Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) tingkat Kecamatan Rencana ini disusun melalui pertemuan perencanaan tahunan Puskesmas yang dilakukan sesuai dengan siklus perencanaan kabupaten/kota, dengan tanpa mengikutsertakan BPP (Pada beberapa Puskesmas, BPP masih belum terbentuk dan masih kontroversial keberadaannya. Apakah akan membantu dan memfasilitasi program Puskesmas atau sebaliknya), serta dikoordinasikan dengan camat Rencana tahunan ini diusulkan pada Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) tingkat Kecamatan yang disusun dalam bentuk matrik (Gantt chart) yang berisi rincian: (a) Prioritas pembangunan daerah, sesuai isu strategis yang dihadapi, (b) Fokus yang akan ditangani, terkait dengan prioritas pembangunan, (c) Program dan kegiatan, terkait dengan fokusnya, (d) Sasaran kegiatan, rencana output dan outcome, (e) Lokasi kegiatan, rencana tempat pelaksanaan kegitan, (f) Pagu anggaran indikatif, baik bersumber dari APBD kabupaten/kota, APBD provinsi maupun APBN, dan (g) Satuan Kerja Pembangunan Daerah (SKPD) pelaksana program dan kegiatan. Usulan kegiatan tahunan pada Musrenbang lebih berorientasi pada pembangunan fisik dan kurang berorientasi pada pembangunan sumber daya manusia, serta usulan kegiatan bersifat umum seluruh aspek pembangunan. Menyusun Usulan Kegiatan Tahunan untuk Dinas kesehatan Kabupaten/ Kota Setiap tahun Puskesmas diminta untuk menyusun rencana kegiatan tahunan Puskesmas. Rencana ini disusun melalui pertemuan perencanaan tahunan Puskesmas yang dilaksanakan pada bulan Januari. Penyusunan rencana dilakukan secara partisipatif dengan menghimpun usulan dari para penanggung jawab program. Sebaiknya dilaksanakan dengan pendekatan MBO. Mengusulkan Rencana Pelaksanaan Kegiatan (Plan of Action) Bulanan Usulan rencana pelaksanaan kegiatan diajukan ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dalam bentuk matriks (Gantt chart) dengan menu kegiatan dan besaran anggaran telah disusun oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Anggaran

saat ini hanya bersumber dari Program Kompensasi Pengurangan Subsidi Bahan Bakar Minyak Bidang Kesehatan (PKPS-BBM Bidkes) sekarang menjadi program Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas). Menyusun Rencana Sekali Pakai encana sekali pakai yaitu suatu rencana yang digunakan hanya sekali. Rencana ini dibuat untuk melaksanakan kegiatan tertentu dan setelah dilaksanakan, rencana tersebut tidak dipakai lagi. Seperti rencana Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS), rencana pendidikan dan pelatihan kader Posyandu/Desa Siaga, rencana pendidikan dan pelatihan dokter kecil, rencana Pekan Imunisasi Nasional (PIN) dan lain-lain. (Sulaeman, 2009) 2.11 Kebijakan Penggerakan Dan Pelaksanaan/P2 (Aktuasi) Tingkat Puskesmas Dalam kerangka manajemen Puskesmas yang terdiri atas P1 (Perencanaan), P2 (Penggerakan dan Pelaksanaan) dan P3 (Pengawasan, Pengendalian, dan Penilaian), maka Lokakarya Mini Puskesmas merupakan P2 (Penggerakan dan Pelaksanaan) atau Aktuasi tingkat Puskesmas yang terdiri atas Lokakarya Mini Bulanan dan Lokarya Mini Tribulanan. (Departemen Kesehatan, 2004). A. Lokakarya Mini Bulanan a. Pengertian: Lokakarya Mini Bulanan yaitu pertemuan yang diselenggarakan setiap bulan di Puskesmas yang dihadiri oleh seluruh staf di Puskesmas Puskesmas Pembantu, dan bidan di desa, serta dipimpin oleh kepala Puskesmas. b. Tahap Pelaksanaan: Lokarya Mini Bulanan Pertama 1. Masukan: Penggalangan tim dalam bentuk dinamika kelompok tentang peran tanggung jawab staf dan kewenangan Puskesmas; Informasi tentang kebijakan, program, dan konsep baru; Informasi tentang tatacara penyusunan POA (Plan of Action) Puskesmas.

2. Proses: Inventarisasi kegiatan Puskesmas termasuk kegiatan lapangan/daerah binaan; Analisis beban kerja tiap petugas; Pembagian tugas baru termasuk pembagian tanggung jawab daerah binaan; Penyusunan POA Puskesmas tahunan. POA Puskesmas tahunan; Kesepakan bersama (untuk hal-hal yang dipandang perlu). 3. Keluaran:

Lokakarya Mini Bulanan Rutin 1. Masukan: Laporan hasil kegiatan bulan lalu; Informasi tentang hasil rapat dinas kabupaten/kota; Informasi tentang hasil rapat tingkat kecamatan; Informasi tentang kebijakan, program, dan konsep baru. Analisis hambatan dan masalah, antara lain dengan

2. Proses: mempergunakan PWS (Pemantauan Wilayah Setempat); Analisis sebab masalah, khusus untuk mutu dikaitkan dengan kepatuhan terhadap standar pelayanan; Merumuskan alternatif pemecahan masalah. 3. Keluaran : Rencana kerja bulan yang baru. B. a. Lokakarya Mini Tribulanan Pengertian: Lokakarya Mini Tribulanan yaitu pertemuan yang diselenggarakan setiap 3 (tiga) bulan sekali di Puskesmas yang dihadiri oleh instansi lintas sektoral tingkat kecamatan, Badan Penyantun Puskesmas (BPP), staf Puskesmas dan jaringannya, serta dipimpin oleh camat.

b. Tahap Pelaksanaan Lokakarya Mini Tribulanan Pertama 1. Masukan: - Penggalangan tim yang dilakukan melalui dinamika kelompok; - Informasi tentang program lintas sektoral; - Informasi tentang program kesehatan; - Informasi tentang kebijakan, program, dan konsep baru. 2. Proses: - Inventarisasi peran bantu masing-masing sektor; - Analisis masalah peran bantu dari masing-masing sektor; - Pembagian peran masing-masing sektor. 3. Keluaran: Kesepakan tertulis sektor terkait dalam mendukung program kesehatan termasuk program pemberdayaan masyarakat. Lokakarya Mini Tribulanan Rutin 1. Masukan: - Laporan kegiatan pelaksanaan program kesehatan dan dukungan sektor terkait; - Inventarisasi masalah/hambatan dari masing-masing sektor dalam pelaksanaan program kesehatan; - Pemberian informasi baru. 2. Proses: - Analisis hambatan dan masalah pelaksanaan program kesehatan; - Analisis hambatan dan masalah dukungan dari masing-masing sektor; - Merumuskan cara penyelesaian masalah. 3. Keluaran: - Rencana kerja tribulan yang baru; - Kesepakatan bersama (untuk hal-hal yang dipandang perlu). 2.12 Pelaksanaan Penggerakan Dan Pelaksanaan/P2 (Aktuasi) Tingkat Puskesmas Aktuasi tingkat Puskesmas dilakukan melalui :

1.

Rapat/dinamisasi staf, diselenggarakan seminggu sekali yang dihadiri oleh seluruh staf Puskesmas dan jaringannya, yang bertujuan untuk : (a) menginformasikan hasil rapat dinas tingkat kabupaten/kota dan tingkat kecamatan serta informasi tentang kebijakan, program dan konsep-konsep baru, (b) melakukan evaluasi mingguan terhadap pelaksanaan program puskesmas, (c) penggalangan kerjasama tim dan kesepakatan bersama, dan (d) pemberdayaan pegawai puskesmas untuk meningkatkan kinerja profesional, kompetensi/kemampuan pegawai, sikap dan motivasi kerja serta kecerdasan emosi.

2.

Lokakarya Mini Bulanan, diselenggarakan setiap akhir bulan, yang dihadiri oleh seluruh staf Puskesmas dan jaringannya, yang bertujuan untuk : (a) menginformasikan hasil rapat dinas tingkat kabupaten/kota dan tingkat kecamatan serta informasi tentang kebijakan, program dan konsep-konsep baru, (b) evaluasi bulanan terhadap pelaksanaan program puskesmas serta analisis hambatan dan masalah dengan mempergunakan pws, (c) penyusunan poa bulanan secara partisipatif dengan menghimpun usulan kegiatan dan program dari para penanggung jawab program puskesmas, (d) penggalangan tim melalui penegasan peran dan tanggung jawab staf, dan (e) pemberdayaan pegawai emosi. Puskesmas untuk meningkatkan kinerja profesional, kompetensi/kemampuan pegawai, sikap dan motivasi kerja serta kecerdasan

3.

Lokakarya Mini Tribulanan, diselenggarakan setiap 3 (tiga) bulan sekali yang dihadiri oleh instansi lintas sektor tingkat kecamatan, Tim Penggerak PKK kecamatan dan desa, kepala desa, staf Puskesmas dan jaringannya, serta dipimpin oleh camat. Dengan tujuan : (a) informasi tentang program lintas sektor, program kesehatan, serta informasi tentang kebijakan, program dan konsep-konsep baru, (b) menginventarisasi peran bantu masing-masing sector serta masalah dan hambatan dari masing-masing sektor, dan (c) penggalangan tim lintas sektor tingkat kecamatan.

4.

Rapat koordinasi (Rakor) tingkat kecamatan, diselengarakan setiap bulan yang dihadiri oleh unsur Muspika kecamatan, lintas sektor tingkat kecamatan, tim penggerak PKK kecamatan dan desa dan kepala desa, dengan agenda

acara sesuai dengan agenda pemerintahan kecamatan. Peran Puskesmas adalah menyampaikan hasil Lokakarya Mini Bulanan. 5. Rapat koordinasi (Rakor) Posyandu-Desa Siaga tingkat desa, diselenggarakan setiap bulan pada 2 (dua) hari sebelum pelaksanaan Posyandu, yang dihadiri oleh kepala desa dan pamong desa, unsur Badan Perwakilan Desa (BPD), unsur Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa (LPMD), pengurus PKK desa, pengurus Posyandu dan Forum Kesehatan Desa-Desa Siaga, kader Posyandu/Desa Siaga dari setiap RT, tokoh masyarakat, Bidan desa, perawat kesehatan desa, pembina kesehatan desa, PLKB, dan unsur lintas sector tingkat kecamatan. Adapun tujuannya adalah : (a) evaluasi pelaksanaan posyandu dan program desa siaga bulan lalu serta merencanakan posyandu dan desa siaga bulan yang akan datang, (b) pemutakhiran data sasaran posyandu dan program desa siaga, (c) pengisian kartu panggilan sasaran posyandu untuk kemudian dibagikan ke setiap dusun/rw, (d) pembahasan masalah dan hambatan posyandu dan program desa siaga, serta (e) pendalamam materi posyandu dan program desa Siaga. Konsultasi para penaggung jawab program dengan pimpinan Puskesmas Konsultasi ini diselenggarakan bila diperlukan, dengan cara mengundang para penanggung jawab program Puskesmas atau mereka menghadap/ melapor kepada pimpinan Puskesmas. (Departemen Kesehatan, 1998) 2.13 Penilaian Kinerja Puskesmas Penilaian Kinerja Puskesmas adalah suatu upaya untuk melakukan penilaian hasil kerja/prestasi Puskesmas. Pelaksanaan penilaian dimulai dari tingkat Puskesmas sebagai instrumen mawas diri karena setiap Puskesmas melakukan penilaian kinerjanya sendiri, kemudian dinas kesehatan kabupaten/ kota melakukan verifikasi hasilnya. Berdasarkan hasil verifikasi, dinas kesehatan kabupaten/kota bersama Puskesmas dapat menetapkan Puskesmas ke dalam kelompok (I, II, III) sesuai dengan pencapaian kinerjanya. Kelompok I yakni kelompok Puskesmas dengan tingkat kinerja baik, Kelompok II yakni kelompok Puskesmas dengan tingkat kinerja cukup, dan Kelompok III yakni kelompok

2.13.1. Pengertian

Puskesmas dengan tingkat kinerja kurang. Penilaian kinerja Puskesmas ditetapkan angka-angka ambang, yakni: (1) cakupan pelayanan, dibagi 3 (tiga) kelompok, yaitu kelompok I: tingkat pencapaian hasil 91 %, kelompok II: tingkat pencapaian hasil 81 90 %, kelompok III: tingkat pencapaian hasil 80 %, (2) manajemen dan mutu pelayanan kesehatan dibagi 3 (tiga) kelompok, yaitu kelompok I: nilai rata-rata 8,5, kelompok II: nilai rata-rata 5,5, - 8,4, kelompok III: nilai rata-rata < 5,5. (Departemen Kesehatan, 1990) 2.13.2. Tujuan dan Manfaat Penilaian Kinerja Puskesmas A. Tujuan Penilaian Kinerja Puskesmas Tujuan penilaian kinerja Puskesmas meliputi tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan Umum Tercapainya tingkat kinerja Puskesmas yang berkualitas secara optimal dalam mendukung pencapaian tujuan pembangunan kesehatan kabupaten/kota Tujuan Khusus Mendapatkan gambaran tingkat pencapaian hasil cakupan dan mutu kegiatan serta manajemen Puskesmas pada akhir tahun kegiatan; Mengetahui tingkat kinerja Puskesmas pada akhir tahun berdasarkan urutan peringkat kategori kelompok Puskesmas; Mendapatkan informasi analisis kinerja Puskesmas dan bahan masukan dalam penyusunan rencana kegiatan Puskesmas dan dinas kesehatan kabupaten/kota untuk tahun mendatang. 2.13.3. Manfaat Penilaian Kinerja Puskesmas Manfaat penilaian kinerja Puskesmas adalah: Puskesmas mengetahui tingkat pencapaian (prestasi) kunjungan dibandingkan dengan target yang harus dicapainya; Puskesmas dapat melakukan identifikasi dan analisis masalah, mencari penyebab dan latar belakang serta hambatan masalah kesehatan di wilayah kerjanya berdasarkan adanya kesenjangan pencapaian kinerja Puskesmas (output dan outcome);

Puskesmas dan dinas kesehatan kabupaten/kota dapat menetapkan tingkat urgensi suatu kegiatan untuk dilaksanakan segera pada tahun yang akan datang berdasarkan prioritasnya;

Dinas kesehatan kabupaten/kota dapat menetapkan dan mendukung kebutuhan sumber daya Puskesmas dan urgensi pembinaan Puskesmas. (Departemen Kesehatan, 1990)

2.13.4. Pelaksanaan Penilaian Kinerja Puskesmas Pelaksanaan penilaian kinerja Puskesmas meliputi serangkaian kegiatan yang dimulai sejak awal tahun anggaran pada saat penyusunan rencana pelaksanaan kegiatan Puskesmas. Selanjutnya dilakukan pengumpulan data yang dipantau dan dibahas melalui forum Lokakarya Mini baik bulanan dengan lintas program di dalam Puskesmas maupun Lokakarya Mini tribulanan yang melibatkan lintas sektor di kecamatan. Penilaian kinerja Puskesmas meliputi Puskesmas dan jaringannya yaitu Puskesmas, Puskesmas Pembantu, bidan di desa serta UKBM dan upaya pemberdayaan masyarakat lainnya. A. Penetapan target Puskesmas Target Puskesmas yaitu tolok ukur dalam bentuk angka nominal atau persentase yang akan dicapai Puskesmas pada akhir tahun. Penetapan besar target setiap kegiatan yang akan dicapai masing-masing Puskesmas bersifat spesifik dan berlaku untuk Puskesmas yang bersangkutan berdasarkan pembahasan bersama antara dinas kesehatan kabupaten/kota dengan Puskesmas pada saat penyusunan rencana kegiatan Puskesmas. Target nasional perlu dijabarkan ke dalam target provinsi, kabupaten/kota dan Puskesmas secara tepat. Penetapan target Puskesmas dengan mempertimbangkan: a. b. c. d. e. Besarnya masalah yang dihadapi oleh masing-masing Puskesmas; Besarnya masalah yang dihadapi kabupaten/kota; Keberhasilan tahun lalu dalam menangani masalah; Kendala-kendala maupun masalah dalam penangannya; Ketersediaan sumber daya termasuk kemampuan sumber daya manusia tahun yang akan datang;

f.

Lingkungan fisik (faktor kesulitan geografis, iklim, transportasi, dan ainlain) dan non fisik (sosial budaya, tingkat pendapatan ekonomi masyarakat, pendidikan masyarakat, dan lain-lain);

g.

Target sasaran Puskesmas yang sebenarnya, Puskesmas tidak dibebani untuk menjangkau masyarakat di daerah yang bukan target sasarannya, kelompok masyarakat yang tidak mungkin dijangkau karena kendala geografi, transportasi, dan lain-lain.

h.

Pengumpulan data hasil kegiatan Sebaiknya Puskesmas membuat buku bantu penilaian kinerja Puskesmas yang diisi setiap bulan dengan format yang sama dengan format penilaian kinerja Puskesmas, dipresentasikan dan dievaluasi setiap bulan pada Lokakarya Mini Bulanan dan rapat koordinasi tingkat Kecamatan. Kemudian direkapitulasi pada akhir tahun. Adapun cara pengumpulam data, antara lain melalui: data SP3, pemeriksaan/pengecekan catatan/notulen, pengumpulan data melalui survei sederhana seperti survei mawas diri (SMD) Hasil kegiatan yang diperhitungkan adalah periode waktu tertentu yang disesuaikan/disinkronkan dengan waktu perencanaan. Biasanya periode waktu penilaian adalah bulan Januari sampai bulan Desember tahun yang lalu; Hasil kegiatan Puskesmas meliputi Puskesmas dan jaringannya

yaitu Puskesmas, Puskesmas Pembantu, Puskesmas keliling, dan bidan di desa serta hasil pembinaan dan pemberdayaan masyarakat; Sumber data diperoleh dari SP3-SIMPUS dan catatan hasil kegiatan program inovatif maupun hasil pengumpulan data lainnya; Pengumpulan data dilakukan oleh penanggungjawab masing-

masing program/kegiatan Puskesmas dibantu oleh staf yang lain dengan tetap memegang prinsip kerjasama tim; Untuk kepentingan verifikasi oleh tingkat kabupaten/kota digunakan laporan hasil perhitungan Puskesmas untuk kinerja Puskesmas, laporan SP3, laporan lain yang berkaitan dan supervisi langsung ke Puskesmas.

i.

Pengolahan data Pengolahan data merupakan proses kegiatan merubah data menjadi informasi yang dapat digunakan sebagai dasar untuk mengambil kesimpulan dan keputusan; Kegiatan pengolahan data meliputi: (1) kegiatan untuk meneliti

kelengkapan dan kebenaran data yang di kumpulkan ( cleaning and editing), (2) kegiatan perhitungan khususnya untuk mendapatkan nilai keadaan dan pencapaian hasil kegiatan puskesmas (calculating), dan (3) kegiatan memasukan data dalam suatu tabulasi yang akan menjadi suatu informasi yang berguna dalam pengambilan keputusan (tabulating). Cakupan hasil (output) dan hasil mutu dari kegiatan yang telah untuk dilaksanakan Puskesmas, dihitung dengan ditetapkan ditetapkan; yaitu : Komponen hasil pelaksanaan pelayanan kesehatan pelayanan kesehatan Puskesmas: Komponen manajemen dan mutu pelayanan Puskesmas Untuk menghitung pencapain kinerja Puskesmas, ada 2 kelompok

membandingkan hasil yang telah dicapai terhadap target standar yang telah

penilaian beserta kegiatan utama dan variabel-variabel yang perlu diolah,

j.

Penyajian, analisis hasil, dan langkah pemecahan Pelaksanaan penilaian

Dilaksanakan oleh Puskesmas dalam rangkan mawas diri mengukur keberhasilan kinerjanya; Kepala Puskesmas membentuk tim kecil Puskesmas untuk melakukan kompilasi hasil pencapaian (output dan outcome); Masingmasing penanggungjawab kegiatan melakukan pengumpulan data pencapaian, dengan memperhitungkan cakupan hasil (output) kegiatan dan mutu bila hal tersebut memungkinkan; kegiatan Hasil yang telah analisis dicapai, masing-masing identifikasi penanggungjawab melakukan masalah,

kendala/hambatan, mencari penyebab dan latar belakangnya, mengenali faktor-

faktor pendukung dan penghambat; Bersama-sama tim kecil Puskesmas menyusun rencana pemecahannya dengan mempertimbangkan kecenderungan tumbulnya masalah (ancaman) ataupun kecenderungan untuk perbaikan (peluang) dengan metode analisis sederhana maupun analisis kecenderungan dengan menggunakan data yang ada; Hasil perhitungan, analisis data dan usulan rencana pemecahannnya dilaporkan ke dinas kesehatan kabupaten/kota. Disamping model penilaian kinerja Puskesmas, juga terdapat pengawasan dan pertanggung jawaban yaitu proses memperoleh kepastian atas kesesuaian penyelenggaraan dan pencapaian tujuan Puskesmas terhadap rencana dan peraturan perundangundangan serta berbagai kewajiban yang berlaku. Untuk terselenggarannya pengawasan dan pertanggung jawaban dilakukan Pengawasan Pengawasan dibedakan atas 2 (dua) macam yakni pengawasan internal dan eksternal. Pengawasan internal dilakukan secara melekat oleh atasan langsung. Pengawasan eksternal dilakukan oleh masyartakat, dinas kesehatan kabupaten/ kota serta berbagai institusi pemerintah terkait. Pengawasan mencakup aspek administrasi, keuangan dan teknis pelayanan. Apabila pada pengawasan ditemukan adanya penyimpangan, baik terhadap neraca, standar pelayanan, peraturan perundang-undangan maupun berbagai kewajiban yang berlaku, perlu dilakukan pembinaan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Pertanggungjawaban

Pada setiap akhir tahun anggaran, Kepala Puskesmas harus membuat laporan pertanggung jawaban tahunan yang mencakup pelaksanaan kegiatan, serta perolehan dan penggunaan berbagai sumber daya termasuk keuangan. Laporan tersebut disampaikan kepada dinas kesehatan kabupaten/kota serta pihak-pihak terkait lannya, termasuk masyarakat melalui BPP. Apabila terjadi penggantian Kepala Puskesmas, maka Kepala Puskesmas yang lama diwajibkan membuat laporan pertanggung jawaban masa jabatannya (Depertemen Kesehatan, 2004).

2.14

Posyandu Posyandu adalah salah satu bentuk upaya kesehatan berbasis masyarakat

yang sudah menjadi milik masyarakat serta menyatu dalam kehidupan dan budaya masyarakat. Meskipun dalam satu dasa warsa terakhir ini terjadi perubahan tatanan kepemerintahan di Indonesia, tetapi Posyandu masih tetap ada di tengahtengah masyarakat kita. Keberadaan Posyandu sangat diperlukan dalam mendekatkan upaya promotif dan preventif kepada masyarakat, utamanya terkait dengan upaya peningkatan status gizi masyarakat serta upaya kesehatan ibu dan anak. Peran dan dukungan Pemerintah kepada Posyandu melalui Puskesmas sangat penting untuk memfasilitasi pelaksanaan berbagai kegiatan kesehatan di Posyandu. Untuk maksud tersebut Kementerian Kesehatan menyusun dan menerbitkan Buku Pedoman Umum Pengelolaaan Posyandu ini. Buku ini diharapkan menjadi acuan para petugas kesehatan dalam memfasilitasi kegiatan Posyandu untuk mendukung percepatan penurunan Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi di Indonesia. 2.15 Sejarah Lahirnya Posyandu

Untuk mempercepat terwujudnya masyarakat sehat, yang merupakan bagian dari kesejahteraan umum seperti yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945, Departemen Kesehatan pada tahun 1975 menetapkan kebijakan Pembangunan Kesehatan Masyarakat Desa (PKMD). Adapun yang dimaksud dengan PKMD ialah strategi pembangunan kesehatan yang menerapkan prinsip gotong royong dan swadaya masyarakat, dengan tujuan agar masyarakat dapat menolong dirinya sendiri, melalui pengenalan dan penyelesaian masalah kesehatan yang dilakukan bersama petugas kesehatan secara lintas program dan lintas sektor terkait. Diperkenalkannya PKMD pada tahun 1975 mendahului kesepakatan internasional tentang konsep yang sama, yang dikenal dengan nama Primary Health Care (PHC), seperti yang tercantum dalam Deklarasi Alma Atta pada tahun 1978. Pada tahap awal, kegiatan PKMD yang pertama kali diperkenalkan di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, diselenggarakan dalam pelbagai bentuk. Kegiatan PKMD untuk perbaikan gizi, dilaksanakan melalui Karang Balita, sedangkan untuk penanggulangan diare, dilaksanakan melalui Pos Penanggulangan Diare,

untuk pengobatan masyarakat di perdesaan melalui Pos Kesehatan, serta untuk imunisasi dan keluarga berencana, melalui Pos Imunisasi dan Pos KB Desa. Perkembangan berbagai upaya kesehatan dengan prinsip dari, oleh dan untuk masyarakat yang seperti ini, di samping menguntungkan masyarakat, karena memberikan kemudahan bagi masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan. ternyata juga menimbulkan berbagai masalah, antara lain pelayanan kesehatan menjadi terkotak-kotak, menyulitkan koordinasi, serta memerlukan lebih banyak sumber daya. Untuk mengatasinya, pada tahun 1984 dikeluarkanlah Instruksi Bersama antara Menteri Kesehatan, Kepala BKKBN dan Menteri Dalam Negeri, yang mengintegrasikan berbagai kegiatan yang ada di masyarakat ke dalam satu wadah yang disebut dengan nama Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu). Kegiatan yang dilakukan, diarahkan untuk lebih mempercepat penurunan angka kematian ibu dan bayi, yang sesuai dengan konsep GOBI 3F (Growth Monitoring, Oral Rehydration, Breast Feeding, Imunization, Female Education, Family, dan Food Suplementation), untuk Indonesia diterjemahkan ke dalam 5 kegiatan Posyandu, yaitu KIA, KB, Imunisasi, Gizi dan penanggulangan diare. Pencanangan Posyandu yang merupakan bentuk baru ini, dilakukan secara massal untuk pertama kali oleh Kepala Negara Republik Indonesia pada tahun 1986 di Yogyakarta, bertepatan dengan peringatan Hari Kesehatan Nasional. Sejak saat itu Posyandu tumbuh dengan pesat. Pada tahun 1990, terjadi perkembangan yang sangat luar biasa, yakni dengan keluarnya Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 9 Tahun 1990 tentang Peningkatan Pembinaan Mutu Posyandu. Melalui instruksi ini, seluruh kepala daerah ditugaskan untuk meningkatkan pengelolaan mutu Posyandu. Pengelolaan Posyandu dilakukan oleh satu Kelompok Kerja Operasional (Pokjanal) Posyandu yang merupakan tanggung jawab bersama antara masyarakat dengan Pemerintah Daerah (Pemda). 2.16 1. 2. Landasan Hukum Undang-Undang Dasar Tahun 1945 pasal 28H ayat 1 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak

3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13.

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistim Pendidikan Nasional Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang SistimPerencanaan Pembangunan Nasional Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pusat dan Pemerintahan Daerah Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 tentang Desa Peraturan Pemerintah Nomor 73 Tahun 2005 tentang Kelurahan Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2005 tentang Pedoman Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Antara Pemerintah, Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota Peraturan Presiden RI Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2010-2014 Peraturan Menteri Dalam Negeri RI Nomor 54 Tahun 2007 tentang Pedoman Pembentukan Kelompok Kerja Operasional Pembinaan Pos Pelayanan Terpadu

14. 15. 16. 17. 18. 19.

Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 1464 Tahun 2010 tentang Izin Praktik Bidan Peraturan Menteri Dalam Negeri RI Nomor 19 Tahun 2011 tentang Pedoman Pengintegrasian Layanan Sosial Dasar di Pos Pelayanan Terpadu Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1457 Tahun 2003 tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan di Kabupaten/Kota Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 128 Tahun 2004 tentang Kebijakan Dasar Pusat Kesehatan Masyarakat Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 131 Tahun 2004 tentang Sistim Kesehatan Nasional Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1529 Tahun 2010 tentang Pedoman Umum Pengembangan Desa dan Kelurahan Siaga Aktif

20.

Keputusan Menteri Dalam Negeri RI Nomor 140.05/292 Tahun 2011 tentang Pedoman Pembentukan Kelompok Kerja Operasional Desa dan Kelurahan Siaga Aktif Tingkat Pusat

2.17 2.17. 2

Konsep Dasar Posyandu Pengertian Posyandu merupakan salah satu bentuk Upaya Kesehatan Bersumber Daya

Masyarakat (UKBM) yang dikelola dan diselenggarakan dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan, guna memberdayakan masyarakat dan memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam memperoleh pelayanan kesehatan dasar untuk mempercepat penurunan angka kematian ibu dan bayi. Pengintegrasian layanan sosial dasar di Posyandu adalah suatu upaya mensinergikan berbagai layanan yang dibutuhkan masyarakat meliputi perbaikan kesehatan dan gizi, pendidikan an perkembangan anak, peningkatan ekonomi keluarga, ketahanan pangan keluarga dan kesejahteraan sosial. UKBM adalah wahana pemberdayaan masyarakat, yang dibentuk tas dasar kebutuhan masyarakat, dikelola oleh, dari, untuk dan bersama masyarakat, dengan bimbingan dari petugas Puskesmas, lintas sektor dan lembaga terkait lainnya. Pemberdayaan masyarakat adalah segala upaya fasilitasi yang bersifat non instruktif, guna meningkatkan pengetahuan dan kemampuan masyarakat, agar mampu mengidentifikasi masalah yang dihadapi, potensi yang dimiliki, merencanakan dan melakukan pemecahannya dengan memanfaatkan potensi setempat. Pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan adalah proses pemberian informasi kepada individu, keluarga atau kelompok klien) secara terus menerus dan berkesinambungan mengikuti perkembangan klien, serta proses membantu klien, agar klien tersebut berubah dari tidak tahu menjadi tahu atau sadar (aspek pengetahuan atau knowledge), dari tahu menjadi mau (aspek sikap atau attitude), dan dari mau menjadi mampu melaksanakan perilaku yang diperkenalkan (aspek tindakan atau practice). Pelayanan kesehatan dasar di Posyandu adalah pelayanan kesehatan yang mencakup sekurang-kurangnya 5 (lima) kegiatan,yakni Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), Keluarga Berencana (KB), imunisasi, gizi, dan penanggulangan diare.

2.17. 3 A.

Tujuan Tujuan Umum Menunjang percepatan penurunan Angka Kematian Ibu (AKI), Angka

Kematian Bayi (AKB) dan Angka Kematian Anak Balita (AKABA) di Indonesia melalui upaya pemberdayaan masyarakat. B. a. b. c. Tujuan Khusus Meningkatnya peran masyarakat dalam penyelenggaraan upaya kesehatan dasar, terutama yang berkaitan dengan penurunan AKI, AKB dan AKABA. Meningkatnya peran lintas sektor dalam penyelenggaraan Posyandu, terutama berkaitan dengan penurunan AKI, AKB dan AKABA. Meningkatnya cakupan dan jangkauan pelayanan kesehatan dasar, terutama yang berkaitan dengan penurunan AKI, AKB dan AKABA. 2.17. 4 1. Bayi 2. Anak balita 3. Ibu hamil, ibu nifas dan ibu menyusui 4. Pasangan Usia Subur (PUS) 2.17. 5 Fungsi keterampilan dari petugas kepada masyarakat dan antar sesama masyarakat dalam rangka mempercepat 2. penurunan AKI, AKB dan AKABA. 3. Sebagai wadah untuk mendekatkan pelayanan kesehatan dasar, terutama berkaitan dengan penurunan AKI, AKB dan AKABA. 2.17. 6 B. Manfaat Bagi Masyarakat Sasaran Sasaran Posyandu adalah seluruh masyarakat, utamanya:

1. Sebagai wadah pemberdayaan masyarakat dalam alih informasi dan

1.

Memperoleh kemudahan untuk mendapatkan informasi dan

pelayanan kesehatan dasar, terutama berkaitan dengan penurunan AKI, AKB dan AKABA. 2. Memperoleh layanan secara profesional dalam pemecahan masalah kesehatan terutama terkait kesehatan ibu dan anak. 3. Efisiensi dalam mendapatkan pelayanan kesehatan dasar terpadu dan pelayanan sosial dasar sektor lain terkait. C. Bagi Kader, pengurus Posyandu dan tokoh masyarakat 1. Mendapatkan informasi terlebih dahulu tentang upaya kesehatan yang terkait dengan penurunan AKI, AKB dan AKABA 2. Dapat mewujudkan aktualisasi dirinya dalam membantu masyarakat menyelesaikan masalah kesehatan terkait dengan penurunan AKI, AKB dan AKABA D. Bagi Puskesmas 1. Optimalisasi fungsi Puskesmas sebagai pusat penggerak pembangunan berwawasan kesehatan, pusat pemberdayaan masyarakat, pusat pelayanan kesehatan perorangan primer dan pusat pelayanan kesehatan masyarakat primer. 2. Dapat lebih spesifik membantu masyarakat dalam pemecahan masalah kesehatan sesuai kondisi setempat. 3. Mendekatkan akses pelayanan kesehatan dasar pada masyarakat. 2.18 Kedudukan Posyandu Terhadap Kelompok Kerja (Pokja) Posyandu Pokja Posyandu adalah kelompok kerja yang tugas dan fungsinya mempunyai keterkaitan dalam pembinaan, penyelenggaran/pengelolaan Posyandu yang berkedudukan di desa/kelurahan. Kedudukan Posyandu terhadap Pokja adalah sebagai satuan organisasi yang mendapat binaan aspek administratif, keuangan, dan program dari Pokja. 2.19 Kedudukan Posyandu Terhadap Berbagai UKBM

UKBM adalah bentuk umum wadah pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan, yang salah satu di antaranya adalah Posyandu. Kedudukan Posyandu terhadap UKBM dan berbagai lembaga kemasyarakatan /LSM desa/kelurahan yang bergerak di bidang kesehatan adalah sebagai mitra. 2.20 Kedudukan Posyandu Terhadap Forum Peduli Kesehatan Kecamatan Forum Peduli Kesehatan Kecamatan adalah wadah pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan yang dibentuk dari, oleh dan untuk masyarakat di kecamatan yang berfungsi menaungi dan mengkoordinasikan setiap UKBM. Kedudukan Posyandu terhadap Forum Peduli Kesehatan Kecamatan adalah sebagai satuan organisasi yang mendapat arahan dan dukungan sumberdaya dari Forum Peduli Kesehatan Kecamatan. 2.21 Kedudukan Posyandu Terhadap Puskesmas Puskesmas adalah unit pelaksana teknis Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota yang bertanggung jawab melaksanakan pembangunan kesehatan di kecamatan. Kedudukan Posyandu terhadap Puskesmas adalah sebagai wadah pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan yang secara teknis medis dibina oleh Puskesmas. 2.22 Pengorganisasian Struktur organisasi Posyandu ditetapkan oleh musyawarah masyarakat pada saat pembentukan Posyandu. Struktur organisasi tersebut bersifat fleksibel, sehingga dapat dikembangkan sesuai dengan kebutuhan, kondisi, permasalahan dan kemampuan sumberdaya. Struktur organisasi minimal terdiri dari ketua, sekretaris, dan bendahara serta kader Posyandu yang merangkap sebagai anggota. Kemudian dari beberapa Posyandu yang ada di suatu wilayah (desa/kelurahan atau dengan sebutan lain), selayaknya dikelola oleh suatu Unit/Kelompok Pengelola Posyandu yang keanggotaannya dipilih dari kalangan masyarakat setempat. Unit Pengelola Posyandu tersebut dipimpin oleh seorang ketua, yang dipilih dari para anggotanya. Bentuk organisasi Unit Pengelola Posyandu, tugas dan tanggung jawab masing-masing unsur Pengelola Posyandu, disepakati dalam

2.22.1 Struktur Organisasi

Unit/Kelompok Pengelola Posyandu bersama masyarakat setempat. Contoh alternatif Bagan Kepengurusan Pengorganisasi Posyandu di desa/kelurahan atau sebutan lainnya sebagai berikut:

2.22.2 Pengelola Posyandu Pengelola Posyandu adalah unsur masyarakat, lembaga kemasyarakatan, organisasi kemasyarakatan, lembaga swadaya masyarakat, lembaga mitra pemerintah, dan dunia usaha yang dipilih, bersedia, mampu, dan memiliki waktu dan kepedulian terhadap pelayanan sosial dasar masyarakat di Posyandu. Pengelola Posyandu dipilih dari dan oleh masyarakat pada saat musyawarah pembentukan Posyandu. Kriteria pengelola Posyandu antara lain sebagai berikut: Diutamakan berasal dari para dermawan dan tokoh masyarakat setempat.b. Memiliki semangat pengabdian, berinisiatif tinggi dan mampu memotivasi masyarakat. c. Bersedia bekerja secara sukarela bersama masyarakat. 2.22.3 Kader Posyandu Kader Posyandu yang selanjutnya disebut kader adalah anggota masyarakat yang bersedia, mampu dan memiliki waktu untuk menyelenggarakan kegiatan Posyandu secara sukarela.

1.

Pembentukan Posyandu dibentuk oleh masyarakat desa/kelurahan dengan tujuan untuk

mendekatkan pelayanan kesehatan dasar, terutama KIA, KB, imunisasi, gizi, dan penanggulangan diare kepada masyarakat setempat. Pendirian Posyandu ditetapkan dengan keputusan Kepala Desa/Lurah. Pembentukan Posyandu bersifat fleksibel, dikembangkan sesuai dengan kebutuhan, permasalahan dan kemampuan sumber daya. Langkah-langkah pembentukan Posyandu dapat dilakukan dengan tahapan sebagai berikut: 1. Pendekatan Internal Tujuan pendekatan internal adalah mempersiapkan para petugas/aparat, sehingga bersedia dan memiliki kemampuan mengelola serta membina Posyandu. Dalam upaya untuk meningkatkan layanan secara profesional, Pimpinan Puskesmas harus memberikan motivasi dan keterampilan para petugas Puskesmas sehingga mampu bekerja bersama untuk kepentingan masyarakat. Untuk ini, perlu dilakukan berbagai orientasi dan pelatihan dengan melibatkan seluruh petugas Puskesmas. 2. Pendekatan Eksternal Tujuan pendekatan eksternal adalah mempersiapkan masyarakat, khususnya tokoh masyarakat, sehingga bersedia mendukung penyelenggaraan Posyandu. Untuk ini perlu dilakukan berbagai pendekatan dengan tokoh masyarakat yang bertempat tinggal di daerah setempat. Jika di daerah tersebut telah terbentuk Forum Peduli Kesehatan Kecamatan, pendekatan eksternal ini juga dilakukan bersama dan atau mengikutsertakan Forum Peduli Kesehatan Kecamatan. Dukungan yang diharapkan dapat berupa moril, finansial dan material, seperti kesepakatan dan persetujuan masyarakat, bantuan dana, tempat penyelenggaraan serta peralatan Posyandu. 3. Survei Mawas Diri (SMD) Tujuan SMD adalah menimbulkan rasa memiliki masyarakat ( sense of belonging) melalui penemuan sendiri masalah yang dihadapi serta potensi yang dimiliki. SMD dilakukan oleh masyarakat sendiri dengan bimbingan etugas Puskesmas, aparat pemerintahan desa/kelurahan, dan Forum Peduli Kesehatan Kecamatan

(jika sudah terbentuk). Untuk itu sebelumnya perlu dilakukan pemilihan dan pelatihan anggota masyarakat yang dinilai mampu melakukan SMD seperti guru, anggota Pramuka, kelompok dasawisma, PKK, anggota karang taruna, murid sekolah atau kalangan berpendidikan lainnya yang ada di desa/kelurahan. Pelatihan yang diselenggarakan mencakup penetapan responden, metode wawancara sederhana, penyusunan dan pengisian daftar pertanyaan serta pengolahan hasil pengumpulan data. Pengumpulan data dengan cara wawancara dilakukan terhadap sekurang-kurangnya 30 (tiga puluh) kepala keluarga yang terpilih secara acak dan bertempat tinggal di lokasi yang akan dibentuk Posyandu. Hasil dari SMD adalah data tentang masalah kesehatan serta potensi masyarakat yang ada di desa/kelurahan. 4. Musyawarah Masyarakat Desa (MMD) Inisiatif penyelenggaraan MMD adalah para tokoh masyarakat yang mendukung pembentukan Posyandu atau Forum Peduli Kesehatan Kecamatan (jika telah terbentuk). Peserta MMD adalah anggota masyarakat setempat. Materi pembahasan adalah hasil SMD serta data kesehatan lainnya yang mendukung. Hasil yang diharapkan dari MMD adalah ditetapkannya daftar urutan masalah dan upaya kesehatan yang akan dilakukan, yang disesuaikan dengan konsep Posyandu yakni KIA, KB, imunisasi, gizi, dan penanggulangan diare. Jika masyarakat menetapkan masalah dan upaya kesehatan lain di luar konsep Posyandu, masalah dan upaya kesehatan tersebut tetap dimasukkan dalam daftar urutan. Pembentukan dan Pemantauan Kegiatan Posyandu Pembentukan dan pemantauan kegiatan Posyandu dilakukan dengan kegiatan sebagai berikut: a. Pemilihan Pengurus dan Kader Posyandu Pemilihan pengurus dan kader Posyandu dilakukan melalui pertemuan khusus dengan mengundang para tokoh dan anggota masyarakat terpilih. Undangan dipersiapkan oleh Puskesmas dan ditandatangani oleh Kepala Desa/Lurah. Pemilihan dilakukan secara musyawarah mufakat sesuai dengan tata cara dan kriteria yang berlaku. b. Orientasi Pengurus dan Pelatihan Kader Posyandu Sebelum melaksanakan tugasnya, kepada pengurus dan kader terpilih perlu diberikan orientasi dan pelatihan. Orientasi ditujukan kepada pengurus Posyandu dan pelatihan ditujukan kepada kader osyandu yang keduanya dilaksanakan oleh Puskesmas sesuai dengan

pedoman orientasi dan pelatihan yang berlaku. Pada waktu menyelenggarakan orientasi pengurus, sekaligus disusun rencana kerja (Plan of Action) Posyandu yang akan dibentuk, lengkap dengan waktu dan tempat penyelenggaraan, para pelaksana dan pembagian tugas serta sarana dan prasarana yang diperlukan. c. Pembentukan dan Peresmian Posyandu Pengurus dan kader yang telah mengikuti orientasi dan pelatihan, selanjutnya mengorganisasikan diri ke dalam wadah Posyandu. Kegiatan utama Posyandu ada 5 (lima) yakni KIA, KB, imunisasi, gizi, dan penanggulangan diare. Jika kegiatan tersebut ditambah sesuai dengan kesepakatan masyarakat misalnya kesehatan lingkungan, pencegahan penyakit menular, Bina Keluarga Balita (BKB) dan Pembinaan Anak Usia Dini (PAUD), Posyandu tersebut disebut dengan nama Posyandu Terintegrasi. Peresmian Posyandu dilaksanakan dalam suatu acara khusus yang dihadiri oleh pimpinan daerah, tokoh serta anggota masyarakat setempat. d. Penyelenggaraan dan Pemantauan Kegiatan Posyandu Setelah Posyandu resmi dibentuk, dilanjutkan dengan pelaksanaan kegiatan Posyandu secara rutin, berpedoman pada panduan yang berlaku. Secara berkala kegiatan Posyandu dipantau oleh Puskesmas, yang hasilnya dipakai sebagai masukan untuk perencanaan dan pengembangan Posyandu selanjutnya secara lintas sektoral. 2.23 Kegiatan posyandu Kegiatan Posyandu terdiri dari kegiatan utama dan kegiatan pengembangan/pilihan. Secara rinci kegiatan Posyandu adalah sebagai berikut: 2.23.1 Kegiatan Utama A. Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) a) Ibu Hamil Pelayanan yang diselenggarakan untuk ibu hamil mencakup: 1) Penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan, pengukuran tekanan darah, pemantauan nilai status gizi (pengukuran lingkar lengan atas), pemberian tablet besi, pemberian imunisasi Tetanus Toksoid, pemeriksaan tinggi fundus uteri, temu wicara (konseling) termasuk Perencanaan Persalinan dan Pencegahan

Komplikasi (P4K) serta KB pasca pesalinan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan dibantu oleh kader. Apabila ditemukan kelainan, segera dirujuk ke Puskesmas. 2) Untuk lebih meningkatkan kesehatan ibu hamil, perlu diselenggarakan Kelas Ibu Hamil pada setiap hari buka Posyandu atau pada hari lain sesuai dengan kesepakatan. Kegiatan Kelas Ibu Hamil antara lain sebagai berikut: a) Penyuluhan: tanda bahaya pada ibu hamil, persiapan persalinan, persiapan menyusui, KB dan gizi b) Perawatan payudara dan pemberian ASI c) Peragaan pola makan ibu hamil d) Peragaan perawatan bayi baru lahir e) Senam ibu hamil b) Ibu Nifas dan Menyusui

Pelayanan yang diselenggarakan untuk ibu nifas dan menyusui mencakup: 1) Penyuluhan/konseling kesehatan, KB pasca persalinan, Inisiasi Menyusui Dini (IMD) dan ASI eksklusif dan gizi. 2) Pemberian 2 kapsul vitamin A warna merah 200.000 SI (1 kapsul segera setelah melahirkan dan 1 kapsul lagi 24 jam setelah pemberian kapsul pertama). 3) Perawatan payudara. 4) Dilakukan pemeriksaan kesehatan umum, pemeriksaan payudara, pemeriksaan tinggi fundus uteri (rahim) dan pemeriksaan lochia oleh petugas kesehatan. Apabila ditemukan kelainan, segera dirujuk ke Puskesmas. c) Bayi dan Anak balita

Pelayanan Posyandu untuk bayi dan anak balita harus dilaksanakan secara menyenangkan dan memacu reativitas tumbuh kembangnya. Jika ruang pelayanan memadai, pada waktu menunggu giliran pelayanan, anak balita sebaiknya tidak digendong melainkan dilepas bermain sesama balita dengan pengawasan orangtua di bawah bimbingan kader. Untuk itu perlu disediakan sarana permainan yang sesuai dengan umur balita. Adapun jenis pelayanan yang diselenggarakan Posyandu untuk balita mencakup:

1) Penimbangan berat badan 2) Penentuan status pertumbuhan 3) Penyuluhan dan konseling 4) Jika ada tenaga kesehatan Puskesmas dilakukan pemeriksaan kesehatan, imunisasi dan deteksi dini tumbuh kembang. Apabila ditemukan kelainan, segera dirujuk ke Puskesmas. B. Keluarga Berencana (KB) Pelayanan KB di Posyandu yang dapat diberikan oleh kader adalah pemberian kondom dan pemberian pil ulangan. Jika ada tenaga kesehatan Puskesmas dapat dilakukan pelayanan suntikan KB dan konseling KB. Apabila tersedia ruangan dan peralatan yang menunjang serta tenaga yang terlatih dapat dilakukan pemasangan IUD dan implant. C. Imunisasi Pelayanan imunisasi di Posyandu hanya dilaksanakan oleh petugas Puskesmas. Jenis imunisasi yang diberikan disesuaikan dengan program terhadap bayi dan ibu hamil. D. Gizi Pelayanan gizi di Posyandu dilakukan oleh kader. Jenis pelayanan yang diberikan meliputi penimbangan berat badan, deteksi dini gangguan pertumbuhan, penyuluhan dan konseling gizi, pemberian makanan tambahan (PMT) lokal, suplementasi vitamin A dan tablet Fe. Apabila ditemukan ibu hamil Kurang Energi Kronis (KEK), balita yang berat badannya tidak naik 2 kali berturut-turut atau berada di bawah garis merah (BGM), kader wajib segera melakukan rujukan ke Puskesmas atau Poskesdes. E. Pencegahan dan Penanggulangan Diare Pencegahan diare di Posyandu dilakukan dengan penyuluhan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Penanggulangan diare di Posyandu dilakukan melalui pemberian oralit. Apabila diperlukan penanganan lebih lanjut akan diberikan obat Zinc oleh petugas kesehatan.

2.13.2 Kegiatan Pengembangan/Tambahan Dalam keadaan tertentu masyarakat dapat menambah kegiatan Posyandu dengan kegiatan baru, di samping 5 (lima) kegiatan utama yang telah ditetapkan. Kegiatan baru tersebut misalnya perbaikan kesehatan lingkungan, pengendalian penyakit menular, dan berbagai program pembangunan masyarakat desa lainnya. Posyandu yang seperti ini disebut dengan nama Posyandu Terintegrasi. Penambahan kegiatan baru sebaiknya dilakukan apabila 5 kegiatan utama telah dilaksanakan dengan baik dalam arti cakupannya di atas 50%, serta tersedia sumber daya yang mendukung. Penetapan kegiatan baru harus mendapat dukungan dari seluruh masyarakat yang tercermin dari hasil Survey Mawas Diri (SMD) dan disepakati bersama melalui forum Musyawarah Masyarakat Desa (MMD). Pada saat ini telah dikenal beberapa kegiatan tambahan Posyandu yang telah diselenggarakan antara lain: 1. 2. 3. Bina Keluarga Balita (BKB). Kelas Ibu Hamil dan Balita. Penemuan dini dan pengamatan penyakit potensial Kejadian Luar Biasa (KLB), misalnya: Infeksi Saluran Pernafasan Atas ISPA), Demam Berdarah Dengue (DBD), gizi buruk, Polio, Campak, Difteri, Pertusis, Tetanus Neonatorum. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. Pos Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Usaha Kesehatan Gigi Masyarakat Desa (UKGMD). Penyediaan air bersih dan penyehatan lingkungan pemukiman (PAB PLP). Program diversifikasi pertanian tanaman pangan dan pemanfaatan pekarangan, melalui Taman Obat Keluarga (TOGA). Kegiatan ekonomi produktif, seperti: Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga(UP2K), usaha simpan pinjam. Tabungan Ibu Bersalin (Tabulin), Tabungan Masyarakat (Tabumas). Kesehatan lanjut usia melalui Bina Keluarga Lansia (BKL). Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR).

12.

Pemberdayaan fakir miskin, komunitas adat terpencil dan penyandang masalah kesejahteraan sosial.

2.24 Penyelenggaraan posyandu 2.24.1 Waktu Penyelenggaraan Posyandu buka satu kali dalam sebulan. Hari dan waktu yang dipilih, sesuai dengan hasil kesepakatan. Apabila diperlukan, hari buka Posyandu dapat lebih dari satu kali dalam sebulan. 2.24.2 Tempat Penyelenggaraan Tempat penyelenggaraan kegiatan Posyandu sebaiknya berada pada lokasi yang mudah dijangkau oleh masyarakat. Tempat penyelenggaraan tersebut dapat di salah satu rumah warga, halaman rumah, balai desa/kelurahan, balai RW/RT/dusun, salah satu kios di pasar, salah satu ruangan perkantoran, atau tempat khusus yang dibangun secara swadaya oleh masyarakat. 2.24.3 Penyelenggaraan Kegiatan Kegiatan rutin Posyandu diselenggarakan dan digerakkan oleh Kader Posyandu dengan bimbingan teknis dari Puskesmas dan sektor terkait. Pada saat penyelenggaraan Posyandu minimal jumlah kader adalah 5 (lima) orang. Jumlah ini sesuai dengan jumlah langkah yang dilaksanakan oleh Posyandu, yakni yang mengacu pada sistim 5 langkah. Kegiatan yang dilaksanakan pada setiap langkah serta para penanggungjawab pelaksanaannya secara sederhana dapat diuraikan sebagai berikut

Sumber : Anonim. 2006. Pedoman Umum Pengelolaan Posyandu, Jakarta.

2.24.4 Tugas dan Tanggungjawab Para Pelaksana Terselenggaranya pelayanan Posyandu melibatkan banyak pihak. Adapun tugas dan tanggungjawab masing-masing pihak dalam menyelenggarakan Posyandu adalah sebagai berikut. A. Kader Sebelum hari buka Posyandu, antara lain: a. Menyebarluaskan hari buka Posyandu melalui pertemuan warga setempat. b. Mempersiapkan tempat pelaksanaan Posyandu. c. Mempersiapkan sarana Posyandu. d. Melakukan pembagian tugas antar kader. e. Berkoordinasi dengan petugas kesehatan dan petugas lainnya. f. Mempersiapkan bahan PMT penyuluhan. Pada hari buka Posyandu, antara lain: a. Melaksanakan pendaftaran pengunjung Posyandu.

b. Melaksanakan penimbangan balita dan ibu hamil yang berkunjung ke Posyandu. c. Mencatat hasil penimbangan di buku KIA atau KMS dan mengisi buku register Posyandu. d. Pengukuran LILA pada ibu hamil dan WUS. e. Melaksanakan kegiatan penyuluhan dan konseling kesehatan dan gizi sesuai dengan hasil penimbangan serta memberikan PMT. f. Membantu petugas kesehatan memberikan pelayanan kesehatan dan KB sesuai kewenangannya. g. Setelah pelayanan Posyandu selesai, kader bersama petugas kesehatan melengkapi pencatatan dan membahas hasil kegiatan serta tindak lanjut. Di luar hari buka Posyandu, antara lain: a. Mengadakan pemutakhiran data sasaran Posyandu: ibu hamil, ibu nifas dan ibu menyusui serta bayi dan anak balita. b. Membuat diagram batang (balok) SKDN tentang jumlah Semua balita yang bertempat tinggal di wilayah kerja Posyandu, jumlah balita yang mempunyai Kartu Menuju Sehat (KMS) atau Buku KIA, jumlah balita yang Datang pada hari buka Posyandu dan jumlah balita yang timbangan berat badannya naik. c. Melakukan tindak lanjut terhadap 1. Sasaran yang tidak datang. 2. Sasaran yang memerlukan penyuluhan lanjutan. Memberitahukan kepada kelompok sasaran agar berkunjung ke Posyandu saat hari buka e. Melakukan kunjungan tatap muka ke tokoh masyarakat, dan menghadiri pertemuan rutin kelompok masyarakat atau organisasi keagamaan. B. Petugas Puskesmas Kehadiran tenaga kesehatan Puskesmas yang diwajibkan di Posyandu satu kali dalam sebulan. Dengan perkataan lain kehadiran tenaga kesehatan Puskesmas tidak pada setiap hari buka Posyandu (untuk Posyandu yang buka lebih dari 1 kali

dalam sebulan). Peran petugas Puskesmas pada hari buka Posyandu antara lain sebagai berikut: a. Membimbing kader dalam penyelenggaraan Posyandu. b. Menyelenggarakan pelayanan kesehatan dan Keluarga Berencana di langkah 5 (lima). Sesuai dengan kehadiran wajib petugas Puskesmas, pelayanan kesehatan dan KB oleh petugas Puskesmas hanya diselenggarakan satu kali sebulan. Dengan perkataan lain jika hari buka Posyandu lebih dari satu kali dalam sebulan, pelayanan tersebut diselenggarakan kewenangannya. c. Menyelenggarakan penyuluhan dan konseling kesehatan, KB dan gizi kepada pengunjung Posyandu dan masyarakat luas. d. Menganalisa hasil kegiatan Posyandu, melaporkan hasilnya kepada Puskesmas serta menyusun rencana kerja dan melaksanakan upaya perbaikan sesuai dengan kebutuhan Posyandu. e. Melakukan deteksi dini tanda bahaya umum terhadap Ibu Hamil, bayi dan anak balita serta melakukan rujukan ke Puskesmas apabila dibutuhkan. C. Stakeholder (Unsur Pembina dan Penggerak Terkait) a) Camat, selaku penanggung jawab Kelompok Kerja Operasional Pokjanal) Posyandu kecamatan: 1) Mengkoordinasikan hasil kegiatan dan tindak lanjut kegiatan Posyandu. 2) Memberikan dukungan dalam upaya meningkatkan kinerja Posyandu. 3) Melakukan pembinaan untuk terselenggaranya kegiatan Posyandu secara teratur. b) 1) Lurah/Kepala Desa atau sebutan lain, selaku penanggung jawab Memberikan dukungan kebijakan, sarana dan dana untuk hanya oleh kader Posyandu sesuai dengan

Pokja Posyandu desa/kelurahan: penyelenggaraan Posyandu.

2) Mengkoordinasikan penggerakan masyarakat untuk dapat hadir pada hari buka Posyandu 3) Mengkoordinasikan peran kader Posyandu, pengurus Posyandu dan tokoh masyarakat untuk berperan aktif dalam penyelenggaraan Posyandu. 4) Menindaklanjuti hasil kegiatan Posyandu bersama Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM), Lembaga Kemasyarakatan atau sebutan lainnya. 5) Melakukan pembinaan untuk terselenggaranya kegiatan Posyandu secara teratur. c) Instansi/Lembaga Terkait:

1) Badan / Kantor / Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa (BPMPD) berperan dalam fungsi koordinasi penyelenggaraan pembinaan, penggerakan peran serta masyarakat, pengembangan jaringan kemitraan, pengembangan metode pendampingan masyarakat, teknis advokasi, fasilitasi, pemantauan dan sebagainya. 2) Dinas Kesehatan, berperan dalam membantu pemenuhan pelayanan sarana dan prasarana kesehatan (pengadaan alat timbangan, distribusi Buku KIA atau KMS, obat-obatan dan vitamin) serta dukungan bimbingan tenaga teknis kesehatan. 3) SKPD KB di Provinsi dan Kabupaten/Kota, berperan dalam penyuluhan, penggerakan peran serta masyarakat melalui BKB dan BKL. 4) BAPPEDA, berperan dalam koordinasi perencanaan umum, dukungan program dan anggaran serta evaluasi. 5) Kantor Kementerian Agama, Dinas Pendidikan, Dinas Pertanian, Dinas Perindustrian dan UKM, Dinas Perdagangan dan sebagainya, berperan dalam mendukung teknis operasional Posyandu sesuai dengan peran dan fungsinya masing-masing, misalnya: a) Kantor Kementerian Agama, berperan dalam penyuluhan melalui jalur agama, persiapan imunisasi bagi calon pengantin, penyuluhan di pondok-pondok pesantren dan lembaga pendidikan keagamaan, mobilisasi dana-dana keagamaan, dsb. b) Dinas Pertanian, berperan dalam

hal pendayagunaan tenaga penyuluh lapangan, koordinasi program P4K, dsb. c) Dinas Perindustrian dan UKM, Dinas Perdagangan, berperan dalam hal penyuluhan gizi, khususnya penggunaan garam beryodium, dsb. d) Dinas Pendidikan, berperan dalam penggerakan peran serta masyarakat sekolah dan pendidikan luar sekolah, misalkan melalui jalur program Upaya Kesehatan Sekolah (UKS), PAUD, dsb. e) Dinas Sosial, berperan dalam hal penyuluhan dan pendayagunaan Karang Taruna, Taman Anak Sejahtera (TAS), penyaluran berbagai bantuan sosial, dsb. f) Lembaga Profesi, misalkan Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Ikatan Bidan Indonesia (IBI), Persatuan Ahli Gizi (PERSAGI), Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini Indonesia (HIMPAUDI) dan tenaga layanan sosial terkait yang dapat berperan dalam pelayanan kesehatan dan sosial. Selain dinas/institusi/lembaga tersebut diatas, kemungkinan masih terdapat beberapa unsur dinas/instansi/lembaga yang dapat melakukan peran dan fungsinya dalam Posyandu namun untuk daerah-daerah tertentu mungkin tidak terdapat unsur dinas / instansi / lembaga sebagaimana tersebut diatas, karena struktur organisasi pada jajaran Pemerintah Daerah Provinsi, Kabupaten /Kota saat ini cukup bervariasi. Apabila dinas /instansi/lembaga sebagaimana tersebut di atas tidak terdapat di daerah, maka perlu dipertimbangkan fungsi yang sesuai dalam organisasi Pokjanal Posyandu setempat. d) Kelompok Kerja (Pokja) Posyandu 1) Mengelola berbagai data dan informasi yang berkaitan dengan kegiatan Posyandu. 2) Menyusun rencana kegiatan tahunan dan mengupayakan adanya sumber-sumber pendanaan untuk mendukung kegiatan pembinaan Posyandu. 3) Melakukan analisis masalah pelaksanaan program berdasarkan alternatif pemecahan masalah sesuai dengan potensi dan kebutuhan desa/kelurahan 4) Melakukan bimbingan dan pembinaan, fasilitasi, pamantauan dan evaluasi terhadap pengelolaan kegiatan dan kinerja kader Posyandu secara berkesinambungan.

5) Menggerakkan dan mengembangkan partisipasi, gotong royong, dan swadaya masyarakat dalam mengembangkan Posyandu. 6) Mengembangkan kegiatan lain sesuai dengan kebutuhan. 7) Melaporkan hasil pelaksanaan kegiatan Posyandu kepada Kepala Desa/Lurah dan Ketua Pokjanal Posyandu Kecamatan. e) Tim Penggerak PKK: 1) Berperan aktif dalam penyelenggaraan Posyandu. 2) Penggerakkan peran serta masyarakat dalam kegiatan Posyandu. 3) Penyuluhan, baik di Posyandu maupun di luar Posyandu. 4) Melengkapi data sesuai dengan Sistim Informasi Posyandu (SIP) atau Sistim Informasi Manajemen (SIM). f) Tokoh Masyarakat/Forum Peduli Kesehatan Kecamatan (apabila telah terbentuk): 1) Menggali sumber daya untuk kelangsungan penyelenggaraan Posyandu. 2) Menaungi dan membina kegiatan Posyandu. 3) Menggerakkan masyarakat untuk dapat hadir dan berperan aktif dalam kegiatan Posyandu. g) Organisasi Kemasyarakatan/LSM: 1) Bersama petugas Puskesmas berperan aktif dalam kegiatan Posyandu, antara lain: pelayanan kesehatan masyarakat, penyuluhan, penggerakan kader sesuai dengan minat dan misi organisasi. 2) Memberikan dukungan sarana dan dana untuk pelaksanaan kegiatan Posyandu. h) Swasta/Dunia Usaha: 1) Memberikan dukungan sarana dan dana untuk pelaksanaan kegiatan Posyandu. 2) Berperan aktif sebagai sukarelawan dalam pelaksanaan kegiatan Posyandu.

2.24.5 Pembiayaan A. Sumber Biaya Pembiayaan Posyandu berasal dari berbagai sumber, antara lain: a) Masyarakat: 1) Iuran pengguna/pengunjung Posyandu. 2) Iuran masyarakat umum dalam bentuk dana sehat. 3) Sumbangan/donatur dari perorangan atau kelompok masyarakat. 4) Sumber dana sosial lainnya, misal dana sosial keagamaan, zakat, infaq, sodaqoh (ZIS), kolekte, punia paramitha, dan sebagainya Apabila Forum Peduli Kesehatan Kecamatan telah terbentuk, upaya pengumpulan dana dari masyarakat ini seyogyanya dikoordinir oleh Forum Peduli Kesehatan Kecamatan. b) Swasta/Dunia Usaha Peran aktif swasta/dunia usaha juga diharapkan dapat menunjang pembiayaan Posyandu. Misalnya dengan menjadikan Posyandu sebagai anak angkat perusahaan. Bantuan yang diberikan dapat berupa dana, sarana, prasarana, atau tenaga, yakni sebagai sukarelawan Posyandu. c) Hasil Usaha

Pengurus dan kader Posyandu dapat melakukan usaha yang hasilnya disumbangkan untuk biaya pengelolaan Posyandu. Contoh kegiatan usaha yang dilakukan antara lain: 1) Kelompok Usaha Bersama (KUB) 2) Hasil karya kader Posyandu, misalnya kerajinan, Taman Obat Keluarga (TOGA) d) Pemerintah Bantuan dari pemerintah terutama diharapkan pada tahap awal pembentukan, yakni berupa dana stimulan atau bantuan lainnya dalam bentuk sarana dan prasarana Posyandu yang bersumber dari dana APBN,

APBD Provinsi, APBD Kabupaten/Kota, APBDes dan sumber lain yang sah dan tidak mengikat. 2.24.6 Pemanfaatan dan Pengelolaan Dana A. Pemanfaatan Dana Dana yang diperoleh Posyandu, digunakan untuk membiayai kegiatan Posyandu, antara lain dalam bentuk: 1) Biaya operasional Posyandu. 2) Biaya penyediaan PMT. 3) Pengganti biaya perjalanan kader. 4) Modal usaha KUB. 5) Bantuan biaya rujukan bagi yang membutuhkan B. Pengelolaan Dana Pengelolaan dana dilakukan oleh pengurus Posyandu Dana harus disimpan ditempat yang aman dan jika mungkin mendatangkan hasil. Untuk keperluan biaya rutin disediakan kas kecil yang dipegang oleh kader yang ditunjuk. Setiap pemasukan dan pengeluaran harus dicatat dan dikelola secara bertanggungjawab. 2.24.7 Pencatatan dan Pelaporan A. Pencatatan Pencatatan dilakukan oleh kader segera setelah kegiatan dilaksanakan. Pencatatan dilakukan dengan menggunakan format baku sesuai dengan program kesehatan, Sistim Informasi Posyandu (SIP) atau Sistim Informasi Manajemen (SIM) yakni: a. Buku register kelahiran dan kematian bayi, ibu hamil, ibu melahirkan, dan ibu nifas. b. Buku register Wanita Usia Subur (WUS) dan Pasangan Usia Subur (PUS). c. Buku register bayi dan balita yang mencatat jumlah seluruh bayi dan balita di wilayah Posyandu. d. Buku catatan kegiatan pertemuan yang diselenggarakan oleh Posyandu.

e. Buku catatan kegiatan usaha apabila Posyandu menyelenggarakan kegiatan usaha. f. Buku pengelolaan keuangan. g. Dan lain-lain sesuai kegiatan yang dilaksanakan dan kebutuhan Posyandu yang bersangkutan. B. Pelaporan Pada dasarnya kader Posyandu tidak wajib melaporkan kegiatannya

kepada Puskesmas ataupun kepada sektor terkait lainnya. Bila Puskesmas atau sektor terkait membutuhkan data tertulis yang terkait dengan pelbagai kegiatan Posyandu, Puskesmas atau sektor terkait tersebut harus mengambilnya langsung ke Posyandu. Untuk itu setiap Puskesmas harus menunjuk petugas yang bertanggungjawab untuk pengambilan data hasil kegiatan Posyandu 2.25 Pembinaan dan pengawasan posyandu Pembinaan dan pengawasan Posyandu dilakukan secara berjenjang dari Pusat, provinsi, kabupaten/kota, kecamatan dan desa/kelurahan. Bentuk Pembinaan dan Pengawasan Bentuk pembinaan dan pengawasan dilakukan melalui: 1. Menteri Dalam Negeri melakukan pembinaan dan pengawasan di tingkat Provinsi terhadap pelaksanaan layanan kesehatan dasar dan layanan sosial dasar lainnya di Posyandu 2. Gubernur melakukan pembinaan dan pengawasan di tingkat kabupaten/kota terhadap pelaksanaan layanan kesehatan dasar dan layanan sosial dasar lainnya di Posyandu 3. Bupati/Walikota melakukan pembinaan dan pengawasan di tingkat kecamatan terhadap pelaksanaan layanan kesehatan dasar dan layanan sosial dasar lainnya di Posyandu 4. Dalam melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap pelaksanaan layanan kesehatan dasar dan layanan kesehatan sosial dasar lainnya di Posyandu desa/kelurahan, Bupati/Walikota dapat melimpahkan kepada Camat 5. Kepala Desa melakukan pembinaan terhadap pelaksanaan layanan kesehatan dasar dan layanan sosial dasar lainnya di Posyandu

6. Pembinaan dan pengawasan sebagaimana tersebut diatas dilakukan melalui Sosialisasi, Rapat koordinasi, Konsultasi, Workshop; Lomba, dan Penghargaan, Orientasi dan Pelatihan. 2.26 Pengorganisasian Pembinaan Posyandu Posyandu merupakan salah satu bentuk upaya kesehatan bersumber daya masyarakat, yang dikelola dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat, dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan, guna memberdayakan masyarakat dan memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam memperoleh pelayanan kesehatan dasar untuk mempercepat penurunan angka kematian ibu dan bayi. Bantuan pemerintah, dapat berupa fasilitasi, bimbingan teknis, pemenuhan sarana/prasarana dasar, seperti: bantuan vaksin, obat-obatan, dacin, sarung timbangan, dan sebagainya. Dengan pengertian seperti ini, maka fungsi pembinaan dari pemerintah terhadap Posyandu pada hakekatnya tetap ada. Oleh karena itu, fungsi pembinaan dari pemerintah tersebut perlu dikoordinasikan dan diorganisasikan. Adapun kelembagaan yang mengkoordinasikan fungsi pembinaan dari pemerintah itu, diorganisasikan melalui wadah Kelompok Kerja Operasional Posyandu (Pokjanal Posyandu). Di desa/kelurahan dikoordinasikan melalui Pokja Posyandu. Fungsi pembinaan tersebut meliputi 3 (tiga) aspek manajemen, yaitu aspek program, aspek kelembagaan dan aspek personil atau sumber daya manusia pengelola Posyandu. Unsur-unsur yang duduk dalam pengorganisasian Pokjanal Posyandu/Pokja Posyandu tidak terbatas pada komponen instansi pemerintah saja, tetapi juga dapat melibatkan unsur-unsur lain seperti Lembaga Profesi, Perguruan Tinggi, LSM, Swasta/Dunia Usaha dan sebagainya. Tujuan pengorganisasian Pokjanal/Pokja Posyandu adalah untuk mengkoordinasikan berbagai upaya pembinaan yang berkaitan dengan peningkatan fungsi dan kinerja posyandu, yang secara operasional dilaksanakan oleh unit atau kelompok pengelola Posyandu di desa, melalui mekanisme pembinaan secara berjenjang oleh Pokjanal Posyandu di daerah.

2.26.1 Dasar Pemikiran Pengorganisasian

2.26.2 Kedudukan Pokjanal Posyandu Hubungan dan mekanisme kerja dalam fungsi koordinasi pembinaan dilakukan secara berjenjang antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Secara organisasi, Pokjanal Posyandu Pusat bertanggung jawab kepada Menteri Dalam Negeri melalui Direktur Jenderal Pemberdayaan Masyarakat dan Desa selaku Penanggung Jawab Harian Pokjanal Posyandu Pusat. Sedangkan di daerah, kedudukan rganisasi Pokjanal Posyandu secara fungsional bertanggung jawab kepada Gubernur di propinsi, kepada Bupati/Walikota di kabupaten/kota, dan kepada Camat di Kecamatan. Sedangkan Pokja Posyandu di desa/kelurahan bertangung jawab kepada Kepala Desa/Kepala Kelurahan. 2.26.3 Pembentukan Pokjanal Posyandu Pokjanal Posyandu Pusat dibentuk dan ditetapkan dengan Keputusan Menteri Dalam Negeri. Sedangkan di daerah Pokjanal Posyandu dibentuk dan ditetapkan dengan Surat Keputusan Gubernur untuk Pokjanal Posyandu Propinsi, Bupati/Walikota untuk Pokjanal Posyandu Kabupaten/Kota, Camat untuk Pokjanal Posyandu Kecamatan, dan Pokja Posyandu di Desa/Kelurahan tetapkan melalui Keputusan Kepala Desa/Lurah. 2.26.4 Prinsip-prinsip Pengorganisasian Pokjanal Posyandu Pembentukan organisasi Pokjanal/Pokja Posyandu diserahkan sepenuhnya kepada pemerintah daerah masing-masing, namun diharapkan tetap menganut prinsip-prinsip sebagai berikut: a. Musyawarah mufakat; b. Struktur organisasi ramping, sederhana, dan kaya fungsi c. Kesetaraan d. Keanggotaannya fungsional berdasarkan kompetensi masing-masing unsur, sehingga ada kejelasan fungsi dan peran masing-masing dalam pengorganisasian Pokjanal/Pokja Posyandu e. Mengutamakan prinsip koordinasi dan konsultasi f. Memanfaatkan sumberdaya yang ada di masyarakat.

2.26.5 Tugas Pokok dan Fungsi Pokjanal Posyandu Secara garis besar Pokjanal/Pokja Posyandu mempunyai tugas pokok dan fungsi sebagai berikut : 1) Menyiapkan data dan informasi tentang keadaan maupun perkembangan kegiatan yang berkaitan dengan kualitas program, kelembagaan dan SDM/pengelola program; 2) Menyampaikan berbagai data, informasi dan masalah kepada instansi/lembaga terkait untuk penyelesaian tindak lanjut 3) Menganalisis masalah dan kebutuhan intervensi program berdasarkan pilihan alternatif pemecahan masalah sesuai dengan potensi dan kebutuhan lokal 4) Menyusun rencana kegiatan tahunan dan mengupayakan adanya sumbersumber pendanaan untuk mendukung kegiatan pembinaan dan perasional Posyandu, serta kesekretariatan Pokjanal/Pokja Posyandu 5) Mengupayakan sumber-sumber pendanaan dalam mendukung operasional Posyandu 6) Melakukan bimbingan, pembinaan, fasilitasi, advokasi, pemantauan dan evaluasi pengelolaan program/kegiatan Posyandu secara rutin dan terjadwal; 7) Memfasilitasi penggerakan dan pengembangan partisipasi, gotong royong, dan swadaya masyaraka dalam mengembangkan Posyandu 8) Mengembangkan kegiatan lain sesuai dengan kebutuhan; 9) Melaporkan hasil pelaksanaan kegiatan kepada Kepala Desa / Camat / Bupati / Walikota / Gubernur /Menteri sesuai dengan kedudukan Pokjanal dari tingkat desa/kelurahan sampai tingkat pusat. 2.26.6 Mekanisme Hubungan Kerja Berdasarkan pada uraian tugas pokok dan fungsi Pokjanal Posyandu, serta peran dari masing-masing unsur dalam Pokjanal Posyandu, yang secara kelembagaan menerapkan prinsip dan ciri pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan Posyandu sebagaimana tersebut diatas, maka mekanisme hubungan kerja Pokjanal Posyandu, adalah sebagai berikut : a. Mekanisme hubungan kerja secara vertikal Pada dasarnya secara hierarki organisasi tidak ada

hubungan kerja langsung antara Pokjanal Posyandu Pusat dan daerah, karena tidak ada kewajiban pertanggungjawaban kegiatan distribusi informasi (bukan pelaporan); b. Mekanisme hubungan kerja secara horizontal Mekanisme hubungan kerja antar atau sesama Pokjanal Posyandu bersifat koordinasi dan kemitraan yang didasarkan pada kepentingan inter dan antar daerah dalam penanganan maupun kelangsungan pembinaan program mekanisme hubungan kerja dengan organisasi/kelembagaan lain sejenis Tidak dapat dihindari keberadaan berbagai organisasi/kelembagaan yang membina sesuatu program yang sejenis, seperti Badan Perbaikan Gizi Daerah (BPGD), Tim Upaya Peningkatan Gizi Keluarga (UPGK), Pokja BKB, Forum PAUD, Tim Pangan dan Gizi, Badan Ketahanan Pangan, dsb, mempunyai hubungan kerja dengan Pokjanal Posyandu secara koordinatif dan konsultatif. 2.26.7 Pembiayaan Pokjanal Posyandu Adapun sumber-sumber pembiayaan tersebut dapat berasal dari APBN, APBD Propinsi dan APBD Kab/Kota, dan sumber-sumber dana lainnya yang sah dan tidak mengikat. Dana tersebut digunakan untuk: a. Biaya operasional kesekretariatan/sekretariat tetap b. Biaya operasional pembinaan, supervisi, bimbingan teknis; c. Biaya operasional penyelenggaraan Posyandu, seperti pengadaan KMS, Dacin, obat-obatan, vaksin, dsb; d. Dukungan biaya operasional kader, dsb. 2.26.8 Tingkat Perkembangan Posyandu Perkembangan masing-masing Posyandu tidak sama. Dengan demikian, pembinaan yang dilakukan untuk masing-masing Posyandu juga berbeda. Untuk mengetahui tingkat perkembangan Posyandu, telah dikembangkan metode dan alat telaahan perkembangan Posyandu, yang dikenal dengan nama Telaah Kemandirian Posyandu. Tujuan telaahan adalah untuk mengetahui tingkat Pokjanal Posyandu di Pusat dan Daerah di dasarkan pada azas konsultasi dan

perkembangan Posyandu yang secara umum dibedakan atas 4 tingkat sebagai berikut: 1. Posyandu Pratama Posyandu Pratama adalah Posyandu yang belum mantap, yang ditandai oleh kegiatan bulanan Posyandu belum terlaksana secara rutin serta jumlah kader sangat terbatas yakni kurang dari 5 (lima) orang. Penyebab tidak terlaksananya kegiatan rutin bulanan Posyandu, di samping karena jumlah kader yang terbatas, dapat pula karena belum siapnya masyarakat. Intervensi yang dapat dilakukan untuk perbaikan peringkat adalah memotivasi masyarakat serta menambah jumlah kader. 2. Posyandu Madya Posyandu Madya adalah Posyandu yang sudah dapat melaksanakan kegiatan lebih dari 8 kali per tahun, dengan rata-rata jumlah kader sebanyak lima orang atau lebih, tetapi cakupan kelima kegiatan utamanya masih rendah, yaitu kurang dari 50%. Intervensi yang dapat dilakukan untuk perbaikan peringkat adalah meningkatkan cakupan dengan mengikutsertakan tokoh masyarakat sebagai motivator serta lebih menggiatkan kader dalam mengelola kegiatan Posyandu. Contoh intervensi yang dapat dilakukan antara lain: a. Pelatihan tokoh masyarakat, menggunakan Modul Posyandu dengan metode simulasi. b. Menerapkan SMD dan MMD di Posyandu, dengan tujuan untuk merumuskan masalah dan menetapkan cara penyelesaiannya, dalam rangka meningkatkan cakupan Posyandu. 3. Posyandu Purnama Posyandu Purnama adalah Posyandu yang sudah dapat melaksanakan kegiatan lebih dari 8 kali per tahun, dengan rata-rata jumlah kader sebanyak lima orang atau lebih, cakupan kelima kegiatan utamanya lebih dari 50%, mampu menyelenggarakan program tambahan, serta telah memperoleh sumber pembiayaan dari dana sehat yang dikelola oleh masyarakat yang pesertanya masih

terbatas yakni kurang dari 50% KK di wilayah kerja Posyandu. Intervensi yang dapat dilakukan untuk perbaikan peringkat antara lain: a. Sosialisasi program dana sehat yang bertujuan untuk memantapkan pemahaman masyarakat tentang dana sehat. b. Pelatihan dana sehat, agar di desa tersebut dapat tumbuh dana sehat yang kuat, dengan cakupan anggota lebih dari 50% KK. Peserta pelatihan adalah para tokoh masyarakat, terutama pengurus dana sehat desa/kelurahan, serta untuk kepentingan Posyandu mengikutsertakan pula pengurus Posyandu. 4. Posyandu Mandiri Posyandu Mandiri adalah Posyandu yang sudah dapat melaksanakan kegiatan lebih dari 8 kali per tahun, dengan rata-rata jumlah kader sebanyak lima orang atau lebih, cakupan kelima kegiatan utamanya lebih dari 50%, mampu menyelenggarakan program tambahan, serta telah memperoleh sumber pembiayaan dari dana sehat yang dikelola oleh masyarakat yang pesertanya lebih dari 50% KK yang bertempat tinggal di wilayah kerja Posyandu. Intervensi yang dilakukan bersifat pembinaan termasuk pembinaan program dana sehat, sehingga terjamin kesinambungannya. Selain itu dapat dilakukan intervensi memperbanyak macam program tambahan sesuai dengan masalah dan kemampuan masingmasing. 2.26.9 Indikator Tingkat Perkembangan Posyandu Untuk mengetahui tingkat perkembangan Posyandu, ditetapkan seperangkat indikator yang digunakan sebagai penyaring atau penentu tingkat perkembangan Posyandu. Secara sederhana indikator untuk tiap peringkat Posyandu dapat diuraikan sebagai berikut Tingkat Perkembangan Posyandu

Sumber. Pedoman Umum Pengelolaan Posyandu, Jakarta. Jenis indikator yang digunakan untuk setiap program disesuaikan dengan prioritas program tersebut.

BAB III METODE PELAKSANAAN 3.1 3.2 Tempat Pelaksanaan Puskesmas dan Posyandu Palembang Waktu Pelaksanaan Hari/Tanggal : Bulan Mei 2013 3.3 Subjek Tugas Madiri Wawancara dengan Palembang 3.4 Langkah Kerja 1. Membuat proposal dan wawancara 2. Melakukan konsultasi kepada pembimbing Tugas Pengenalan Profesi 3. Melakukan informed consent kepada kepala dan petugas puskesmas 4. Melakukan wawancara dengan kepala dan petugas puskesmas 5. Membuat laporan Tugas Pengenalan Profesi 3.5 Pelaksanaan Wawancara dengan petugas puskesmas dan posyandu Palembang. Palembang, Mei 2013 Diketahui dan Disetujui Pembimbing kepala dan petugas puskesmas dan posyandu

dr. Putri Zalika

BAB IV PENUTUP Proposal ini disusun sebagai usaha melakukan kegiatan Tugas Pengenalan Profesi (TPP) pada blok kedokteran komunitas dan kesehatan masyarakat, supaya mahasiswa dapat mengamati pengelolaan program pelaksanaan manajemen pelayanan kesehatan di puskesmas dan posyandu Demikianlah proposal kami, semoga proposal ini menjadi bahan pertimbangan dan perhatian dr. Putri Zalika selaku pembimbing kelompok 5 dalam mendukung kegiatan ini.

DAFTAR PUSTAKA
Kurniadi, Deddy. 2011. Buku pedoman pelaksanaan Kesehatan Dan Keselamatan Kerja Di Laboratorium Praktikum Dan Penelitian . Bandung : Institut Teknologi Bandung Anonym. 2008. BUKU Pedoman Pelaksanaan Kesehatan Dan Keselamatan Kerja Untuk Praktek Dan Praktikum . Surabaya : FKG Universitas Airlangga Maurits, L. S., 1999, Manajemen Penerapan Hiperkes di Perusahaan dan Rumah Sakit, Naskah Seminar Penerapan K3 dalam Meningkatkan Pelayanan Kesehatan Kerja dan Menyongsong Akreditasi Rumah Sakit. Poernomo, B., 1999, Pengembangan Aspek Hukum dalam Penyelenggaraan Kesehatan Kerja, Naskah Seminar Penerapan K3 dalam Meningkatkan Pelayanan Kesehatan Kerja dan Menyongsong Akreditasi Rumah Sakit. Rohery, B., 1985, Sistem Manajemen Lingkungan ISO 14000, PT Pustaka Binaman Pressindo, Jakarta. Soegiarto, ___, Diktat Kuliah Keselamatan Kerja dan Higiene Perusahaan, ___. Sumamur, 1981, Keselamatan Kerja dan Pencegahan Kecelakaan, PT Toko Gunung Agung, Jakarta. Agus, Tulus. 1989. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Asad. 1995. Psikologi Industri, Edisi Kedua. Yogyakarta: Liberty. Silalahi, Bennet. 1995. Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Jakarta: Bina Rupa Aksara. Dessler, Gary. 2007. Manajemen Personalia. Jakarta: Erlangga.

Hakim, Abdul. 2003. Pengantar Hukum Ketenagakerjaan Indonesia, Bandung : PT. Citra Aditya Bakti. Husni, Lalu. 2005. Hukum Ketenagakerjaan, Edisi Revisi. Jakarta: PT. Raja Grafindo. Malthis, Robert L. dan John H. Jackson. 2002. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: Salemba Empat. Neni, Luce. 2005. Pengaruh Gaji, Pendidikan dan Jaminan Sosial terhadap Produktivitas Kerja (Studi pada Karyawan Bank BPD Jawa Tengah Cabang Semarang). Skripsi Ilmu Manajemen Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi STIKUBANK. Hadiguna, Rika Ampuh. 2009. Manajemen Pabrik: Pendekatan Sistem untuk Efisiensi dan Efektifitas. Jakarta: Bumi Aksara. Schuler, Randall S. dan Susan E. Jackson. 1999. Manajemen Sumber Daya Manusia: Menghadapi Abad Ke-21. Jakarta: Erlangga. Sumamur. 1981. Keselamatan Kerja dan Pencegahan Kecelakaan. Jakarta: PT. Toko Gunung Agung. Rivai, Veithzal. 2004. Manajemen Sumber Daya Manusia untuk Perusahaan. Jakarta: Rajagrafindo Persada. Yukl.1998. Kepemimpinan dalam Organisasi, Edisi Keempat. Jakarta: Erlangga. Asyraf Darwis. 2009. Peran Serikat Pekerja. Tesis Magister Manajemen Universitas Diponegoro Semarang. Dessler, Gary. 2007. Manajemen Personalia. Jakarta: Erlangga. Jati Kusuma, Ibrahim dan Darmastuti, Ismi. 2010. Pelaksanaan program Keselamatan dan Kesehatan Kerja Karyawan PT. Bitratex Industries Manajemen & Organisasi Vol. 7 No. 1 2010 Semarang. Jurnal Studi Grafindo. Tulus Agus. 1989. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Veithzal Rivai. 2004. Manajemen Sumber Daya Manusia untuk Perusahaan. Jakarta: Rajagrafindo Persada.

Lalu Husni. 2005. Hukum Ketenagakerjaan, Edisi Revisi. Jakarta: PT. Raja

Buchori (2007). Manajemen Kesehatan Kerja dan Alat Pelindung Diri. USU Repository.Available from; http://www.library.usu.ac.id. Di akses pada 29 April 2013 Buku Pedoman Pelaksanaan Kesehatan, Keselamatan Kerja dan Perlindungan Lingkungan.Available from; http://www.binarasano.co.id. Di akses pada 29 April 2013 Himpunan Peraturan Perundangan Kesehatan Kerja (2004). Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI. Irga (2008). Kesehatan Kerja. Available from; http://www.irwanashari.blogspot.com. Di akses pada 29 April 2013

Leimena, S.L, dkk (1991). Upaya Kesehatan Kerja Sektor Informal di Indonesia . Departemen Kesehatan RI. Modul Pelatihan Hiperkes dan Keselamatan Kerja (2002). Alat Pelindung Diri. Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI. Sumakmur, PK (1988). Higiene Perusahaan dan Keselamatan Kerja. CV. Haji Masagung, Jakarta. Tresnaningsih, Erna (2008). Kesehatan dan Keselamatan Kerja. Setjen Depkes RI. Available from; http://www.depkes.go.id. Di akses pada 29 April 2013 Wijono, Joko (2007). Manajemen Program dan kepemimpinan kesehatan. CV. Duta Prima Airlangga. Yulini, Emma (2002). Introduction to Office Hygiene (Kesehatan dan Keselamatan Kerja). Available from; http://www.phitagoras.co.id. Di akses pada 29 April 2013 Agus, Tulus. 1989. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Hakim, Abdul. 2003. Pengantar Hukum Ketenagakerjaan Indonesia, Bandung : PT. Citra Aditya Bakti. Husni, Lalu. 2005. Hukum Ketenagakerjaan, Edisi Revisi. Jakarta: PT. Raja Grafindo. Neni, Luce. 2005. Pengaruh Gaji, Pendidikan dan Jaminan Sosial terhadap Produktivitas Kerja (Studi pada Karyawan Bank BPD Jawa Tengah

Cabang Semarang). Skripsi Ilmu Manajemen Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi STIKUBANK. Mangkunegara, Prabu. 2001. Manajemen Sumber Daya Manusia Perusahaan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Mangkuprawira, Sjafri dan Aida V. Hubeis. 2007. Manajemen Mutu Sumber Daya Manusia. Bogor: PT. Ghalia Indonesia. Schuler, Randall S. dan Susan E. Jackson. 1999. Manajemen Sumber Daya Manusia: Menghadapi Abad Ke-21. Jakarta: Erlangga. Sumamur. 1981. Keselamatan Kerja dan Pencegahan Kecelakaan. Jakarta: PT. Toko Gunung Agung. Rivai, Veithzal. 2004. Manajemen Sumber Daya Manusia untuk Perusahaan. Jakarta: Rajagrafindo Persada. Yukl.1998. Kepemimpinan dalam Organisasi, Edisi Keempat. Jakarta: Erlangga.

LAMPIRAN
PANDUAN WAWANCARA DENGAN KEPALA PUSKESMAS DAN STAF DI PUSKESMAS PALEMBANG
NO 1 2 3 4 5 6 JENIS VARIABEL YA TIDAK

6. MANAJEMEN OPERASIONAL PUSKESMAS


Membuat data pencapaian/cakupan kegiatan pokok tahun lalu Menyusun RUK melalui analisa dan perumusan masalah berdasarkan prioritas Menyusun RPK acara secara terinci dan lengkap Melaksanakan Mini Lokakarya bulanan Melaksanakan Mini lokakarya tribulan (lintas sektor) Membuat dan mengirimkan laporan bulanan ke Kabupaten/Kota tepat waktu Membuat data 10 penyakit terbanyak setiap bulan

7. MANAJEMEN ALAT DAN OBAT


1 2 3 4 5

Membuat kartu inventaris dan menempatkan di masing-masing Melaksanakan up dating daftar investaris alat Mencatat penerimaan dan pengeluaran obat/bahan di gudang obat secara rutin Mencatet kartu stock untuk setiap jenis obat/bahan di gudang obat secara rutin Menerapkan FIFO dan FEFO 8. MANAJEMEN KEUANGAN
Membuat catatan bulanan uang masuk keluar dalam buku kas Kepala puskesmas melakukan pemeriksaan keuangan secara berkala

1 2 1 2 3

9. MANAJEMEN KETENAGAAN Membuat daftar catatan kepegawaian petugas


Membuat uraian tugas dan tanggung jawab setiap petugas

Membuat rencana kerja bulanan bagi setiap petugas sesuai dengan tugas wewenang dan tanggung jawab

Membuat penilaian DP3 tepat waktu


NO JENIS VARIABEL YA TIDAK

Manajemen Pelaksanaan Posyandu 1 Meja I (Pendaftaran) 4Balita 5Ibu hamil 6Ibu menysui
2 3 4

Meja II (Penimbangan) Meja III (Pengisian KMS) Meja IV (Penyuluhan) 4Penyuluhan untuk balita 5Penyuluhan untuk ibu hamil 6Penuluhan untuk ibu menysui Meja V (Pelayanan Kesehatan dan KB) Pemberian Imunisasi Pemberian vitamin A Pembagian pil atau kondom Pengobatan ringan KOnsultasi KB-Kes Kriteria strata Posyandu Posyandu Pratama Kegiatan belum rutin Kader terbatas Posyandu Madya Kegiatan lebih teratur 8 kali per tahun Program utamanya (KB, KIA, Gizi dan imunisasi) masih rendah, yaitu kurang dari 50% Jumlah kader 5 orang Posyandu Purnama Kegiatan sudah teratur lebih dari 8 kali per tahun Cakupan program/kegiatannya baik program utamanya (KB, KIA, Gizi dan Imunisasi) lebih dari 50% Jumlah kader 5 orang atau lebih Mempunyai program tambahan

Posyandu Mandiri 4

Kegiatan secara teratur penimbangan bisa 12 kali atau lebih Cakupan program/kegiatan baik. Memiliki Dana Sehat dan JPKM yang mantap