Anda di halaman 1dari 22

PENDAHULUAN Bimbingan dan konseling dalam jalur pendidikan formal telah dipetakan seca ra tepat dalam kurikulum 1975,

meskipun ketika itu masih dinamakan layanan bimbi ngan dan penyuluhan pendidikan, dan layanan di bidang pembelajaran yang dibingka i dalam kurikulum. Konselor adalah sarjana pendidikan bidang bimbingan dan kons eling, sedangkan konseli adalah individu yang menerima pelayanan bimbingan dan k onseling. Meskipun sama-sama berada dalam jalur pendidikan formal, perbedaan re ntang usia peserta didik pada setiap jenjang memicu tampilnya kebutuhan pelayana n bimbingan dan konseling yang berbeda-beda pada tiap jenjang pendidikan. Batas ragam kebutuhan antara jenjang yang satu dengan jenjang lainnya tidak terbedaka n terlalu jauh. Dengan kata lain, batas perbedaan antar jenjang tersebut lebih merupakan suatu wilayah. Di lain pihak, perbedaan yang lebih signifikan juga tampak pada sisi birok ratik. Secara umum, perbedaan ciri khas ekspektasi kinerja konselor di jenjang sekolah menengah mendapat peran dan posisi atau tempat yang jelas. Peran konsel or, sebagai salah satu komponen student support services, adalah mensuport perke mbangan aspek-aspek pribadi, sosial, karir, dan akademik peserta didik, melalui pengembangan menu program bimbingan dan konseling pembantuan kepada peserta didi k dalam individual student planning, pemberian pelayananan responsive, dan penge mbangan system suport. Agar mendapatkan calon konselor yang sesuai dengan ekspe ktasi, Universitas Negeri Jakarta mengadakan Program Pengalaman Lapangan (PPL) k epada para calon guru,khususnya guru bimbingan dan konseling agar dapat melatih keterampilannya dalam lapangan kerja yang nyata. Program Pengalaman Lapangan cukup penting bagi calon guru, khususnya calon guru bimbingan konseling (konselor), dalam mengembangakan pengetahuan dan menga plikasikan ilmu yang telah diterima selama proses perkuliahan. Diharapkan setela h mahasiswa melaksanakan PPL ini, maka mahasiswa lulusan kependidikan dapat menj adi guru yang kompeten dan profesional. A. LAPORAN ASESMEN 1. Pendahuluan Asesmen merupakan salah satu bagian penting dalam seluruh kegiatan dalam b imbingan dan konseling, karena asesmen merupakan dasar dalam melakukan treatment pada konseli. Pelaksanaan asesmen ini juga dapat dijadikan dasar dalam perencan aan program bimbingan dan konseling agar program yang diberikan dalam layanan bi mbingan dan konseling di sekolah efektif dan sesuai dengan kebutuhan dan keadaan peserta didik. Tujuan dilaksanakannya asesmen adalah untuk mengumpulkan informasi yang asli atau otentik mengenai konseli sehingga diperoleh informasi menyeluruh tenta ng diri konseli secara utuh dan untuk memberikan penilaian yang objektif, dimana informasi yang didapatkan dari hasil asesmen dapat digunakan untuk memecahkan m asalah yang dihadapi konseli. Asesmen dilakukan juga bertujuan untuk membantu ko nselor dalam memahami latar belakang serta situasi yang ada pada masalah konseli , oleh karena itu dapat dirasakan bahwa asesmen sangat penting dalam layanan bim bingan dan konseling. Asesmen yang digunakan dalam kegiatan Program Pengalaman Lapangan (PPL) in i, praktikan menggunakan Inventori Tugas Perkembangan (ITP), Daftar Cek Masalah (DCM), sosiometri, asesmen lingkungan. ITP berfungsi untuk mengetahui pencapaian tugas perkembangan pada siswa, DCM berfungsi untuk mengetahui masalah-masalah y ang dialami oleh siswa, sedangkan sosiometri bertujuan untuk mengetahui pola int eraksi siswa dalam kelas, asesmen lingkungan bertujuan untuk mengetahui bagaiman a keadaan lingkungan sekolah. 2. Hasil asesmen a. Daftar Cek Masalah EMBED Excel.Chart.8 \s grafik dcm kelas 7e dan 7g Interpretasi Daftar Cek Masalah dari 8 kelas, diambil 2 kelas, yaitu kelas 7E dan 7G. Hasil yang ditunjukkan dari grafik diatas bidang kesehatan merupakan bidang mas alah yang terbesar perolehan persennya sebesar 12,7 % yang terdapat di 2 kelas,

persenan besar kedua berikutnya adalah 11,6 % pada bidang hubungan pribadi, kem udian 10,8% terdapat masalah bidang kehidupan sosial dan organisasi. Masalah terkecil yang terdapat di kedua kelas ,yaitu bidang penyesuaian terhadap sekolah yang perolehannya tidak mencapai 5 dalam grafik diatas. Itu menandakan bahwa siswa kelas 7 sudah dapat beradaptasi dengan baik di sekolah walaupun bar u masuk dan masih belum terlelu lama menjalani kegiatan belajar mengajar di seko lah. b. Inventori Tugas Perkembangan EMBED Excel.Chart.8 \s Grafik Perolehan ITP kelas 7E dan 7G Interpretasi Dari grafik di atas dapat dilihat bahwa siswa kelas 7E dan 7G sudah memili ki skor diatas rata-rata pada perkembangan bidang kematangan hubungan sebaya, la ndasan hidup religius, landasan perilaku etis, kematangan emosional, peran sebag ai pria atau wanita penerimaan diri dan pengembangannya, kesadaran intelektual. Sedangkan 3 bidang lainnya memiliki skor dibawah rata-rata yaitu bidang, kesadar an tanggungjawab, kemandirian perilaku ekonomis dan wawasan persiapan karir di m asa depan. Hasil tersebut didapatkan dengan menghitung rata-rata dari setiap bi dang dalam 2 kelas yaitu kela 7E dan 7G. Rata-rata setiap bidang dilihat dari p encapaian skor dari 3,5 keatas. Bidang tertinggi dalam kesehariannya di dapatka n dalam kematangan hubungan dengan sebaya , dengan kata lain, siswa pada dasarny a sudah bisa bersosialisasi dengan baik terutama dengan teman sebayanya. c. Sosiometri Gambar arah pilihan siswa kelas 7E Interpretasi Dari gambar pilihan siswa menggunakan sosiometri terdapat arah hubungan so sialisasi siswa kelas 7E sebagai berikut: Siswa yang terpopuler di kelas 7E yaitu Rani dengan nomor absen 28, siswa dipilih oleh 6 orang dari 36 siswa di kelasnya, dan mendapatkan skor 10 yang art inya siswa dipilih pada pilihan pertama untuk kategori teman yang disukai. Alas an siswa kelas 7E memilih Rani sebagai teman yang disukai karena rani anak yang baik, nyaman untuk diajak bercanda dan berbicara, seru dan asik, serta dapat mem buat teman di sekitar nyaman dengannya. Siswa yang terisolir di kelas 7E yaitu, Adinda Citra Savira dengan nomor a bsen 4, alasan mengapa teman-teman kelasnya tidak menyukai karena adinda suka me ngolok-olok temannya. Destiana fitri tidak dipilih sebagai teman yang disukai k arena, suka menyuruh teman, cerewet, sok tahu, siswa bernomor absen 10. Stefyan a dinda pun termasuk yang tidak disukai beberapa dari teman di kelasnya, siswa b ernomor absen 30 ini menurut temannya suka cari perhatian, berisik dan bersikap berlebihan. Siswa yang saling memilih di kelas 7E yaitu: - Adam suryo dan M.siddiq - Camelia kartika dan stefyana dinda - Christian windarto dan M.triyadi - Rani dan syavira eka handayani - Lastrico andreas dan stefyana dinda - Marissa amani dan novie nurtia - Mohammad rafliyansyah dan zaffario siddiq Kelas 7E tidak terdapat siswa yang klik antara satu dan lainnya, ini menunjukkan tidak ada kelompok (genk) yang menonjol diantara siswanya, dan masih dapat bers osialisasi satu dengan lainnya, walaupun masih terdapat siswa yang saling memili h sebanyak 7 pasang. Gambar arah pilihan siswa kelas 7G Interpretasi Dari gambar pilihan siswa menggunakan sosiometri terdapat arah hubungan so

sialisasi siswa kelas 7E sebagai berikut: Siswa yang terpopuler di kelas 7G yaitu Farah ulya abas. Alasan siswa kel as 7E memilih sebagai teman yang disukai siswa nyaman untuk diajak ngobrol dan berbicara hal serius, dapat menjaga rahasia apabila teman lainnya bercerita, pen gertian, setia kawan. Selain Farah ternyata adalagi dengan skor sama siswa yang disukai oleh teman di kelas 7G yaitu, Veti nur indah alasannya karena siswa nya man untuk diajak berbicara dan ketika berbicara, tidak hanya mendengarkan tetapi juga memberikan solusi. Siswa yang terisolir di kelas 7E yaitu, Velinda risdayanti dengan nomor ab sen 36, alasan mengapa teman-teman kelasnya tidak menyukai Velinda karena suka m emaksakan kehendak, egois, sombong dan suka membongkar rahasia kepada oranglain. Siswa yang saling memilih di kelas 7E yaitu: - Agung mishar dan Juvenus andraes - Juvenus andraes dan M.rizki alfarizi - Arika hauliyani dan Rini - Diaz abdul dan M.panji - Eko wahyudi dan M.panji - Retno arisma dan Syarifah hilmiyah - Ghina maimunah dan Khansa nabilah - Goldy jeremia dan Hansell syahputra - Hansell syahputra dan M.syahrul - Jauza putri dan Syarifah hilmiyah Siswa yang klik di kelas 7G yaitu Farah ulya, Fatimah, dan Linda widiantik a. Ketika siswa ini menunjukkan mereka berkelompok (genk) di dalam kelas, dan s aling nyaman satu dengan lainnya. d. Asesmen lingkungan MATRIKS ASESMEN LINGKUNGAN No.DataOutputStrategiNama kegiatan1sarana dan prasaranaSarana dan prasarana digu nakan dengan baikPengadaan/perbaikanPerawatan ruangan2Kondisi kelasSirkulasi uda ra telah sesuai dengan standart, terdapat kipas angin sebagai alat pendingin rua ngan, penerangan cukup. Dan kebersihan yang terpelihara. Juga terdapat LCD untuk melancarkan proses KBMMengadakan perbaikan terhadap alat -alat pendukung ruanganPerawatan ruangan kelas dan piket kelas3Kondisi kantinKur ang memadai dengan jumlah siswa, kurang lengkap dalam memberikan makan pada saat siang hariPenambahan orang yang menjaga kantinPenambahan bangku, renovasi sebag ian kantin4Kondisi kamar mandiKurang bersih dan ada beberapa kamar mandi yang ti dak berfungsi saluran Melakukan perbaikanRenovasi 3. Analisis hasil asesmen Analisa dari seluruh hasil asesmen, siswa kelas 7E dan kelas 7G mengalami permasalahan dalam bidang (pada DCM) kesehatan dimana siswa masih belum bisa ber adaptasi dengan lingkungan baru di SMP, masih suka mengantuk apabila proses Kegi atan Belajar Mengajar telah dilaksanakan pada siang hari untuk kelas 7, belum bi sa menyadari tanggungjawab sebagai siswa SMP bukan sebagai siswa SD, hal ini ter lihat pada ITP siswa yang masih dibawah rata-rata untuk kesadaran tanggungjawab. Masalah lainnya ditunjukkan pada hubungan pribadi siswa, kehidupan sosial dan organisasi hal ini terlihat dalam DCM dimana siswa belum mampu berkomunikasi den gan baik dengan teman sebayanya yang notabene masih baru dalam lingkungan sekola h menengah pertama, kurang mampunya siswa dalam berinteraksi dengan sebayanya di perkuat dari hasil sosiometri yang memperlihatkan siswa hanya dapat berinteraksi dengan siswa lain yang dianggapnya sebagai teman terdekat saja dengan saling me milih antara satu dan lainnya. Kedua kelas tersebut saling memilih dalam sosiometri menunjukkan bahwa sis wa masih belum bisa berinteraksi secara positif dengan teman sebayanya, khususny a teman sekelas. Rata-rata siswa akan memilih teman yang disukai yaitu teman seb angku, teman yang duduk berada di belakang dan samping. Kemudian memilih teman yang tidak disukai secara subjektif, hanya melihat dari posisi duduk dan kedekat an dengan guru. Akan tetapi, pada dasarnya siswa kelas 7 mampu berinteraksi den gan baik, hanya beberapa faktor seperti baru menginjak SMP, interaksi yang dimun

culkan belum terlalu sering, kegiatan ekstrakurikuler yang belum berjalan untuk kelas 7 yang menyebabkan interaksi hubungan sebaya kurang, akan tetapi dalam ITP siswa berada pada pada kematangan hubungan sebaya dan mendapatkan skor diatas r ata-rata. 4. Rekomendasi Rekomendasi berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan adalah diharap kan pada program bimbingan dan konseling dalam layanan bimbingan klasikal diberi kan materi tentang perbedaan antara SD dan SMP dalam aspek kognitif, psikomotor, dan afektif yang didalamnya berisikan perubahan apa saja yang terjadi pada sisw a ketika ia masuk di SMP sekarang, dan bagaimana mengatasi perubahan-perubahan y ang terjadi. Selanjutnya, siswa diberikan pengetahuan bagaimana cara bergaul po sitif dengan teman sebaya, bagaimana cara berkomunikasi yang baik dengan teman s ebaya, apabila terjadi konflik apa yang harus dilakukan, serta memberikan tips-t ip membangun untuk meyakinkan bahwa perbedaan dan perubahan itu terjadi secara w ajar dan tidak perlu ditakutkan ataupun dihindari. B. PERANCANGAN PROGRAM BK KOMPREHENSIF 1. Landasan filosofis dan Teoritis a. Perspektif filosofis dan teoritis Subyek yang dilayani guru bimbingan dan konseling adalah peserta didik. Ol eh karenanya landasan filosofis yang digunakan dalam bimbingan dan konseling ada lah pada dasarnya memahami hakekat manusia sehingga manusia tidak menyimpang dar i hakekatnya itu. Seorang konselor dalam berinteraksi dengan kliennya harus mamp u melihat dan memperlakukan kliennya sebagai sosok utuh manusia dengan berbagai dimensinya (Mohammad Rofiul, 2010). Layanan bimbingan dan konseling harus mampu mengembangkan berbagai potensi dan lingkungan belajar yang kondusif sehingga peserta didik memahami hakekat di rinya sehingga mencapai perkembangan yang optimal. Pada tahapan perkembangan te rtentu, peserta didik sebagai manusia, mengalami kesulitan-kesulitan untuk memah ami hakekat dirinya sehingga pada tahap tertentu, tidak sedikit peserta tidak me ncapai perkembangan yang optimal. Untuk itulah seolah ahli layanan bimbingan dan konseling (konselor) harus memiliki landasan filosofis yang memahami hakekat pe serta didik sebagai manusia secara utuh yang sedang tumbuh dan berkembang. Secara khusus, program bimbingan dan konseling sekolah yang komprehensif h arus memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 1. Ruang lingkup layanan Program bimbingan dan konseling sekolah yang komprehensif tidak saja berfo kus pada layanan bagi seluruh siswa tetapi juga pada seluruh aspek kehidupan sis wa sejak usia dini sampai usia remaja harus mengetahui, memahami dan dapat beker ja dalam tiga area kehidupan mereka, yaitu kehidupan: (1) akademik, (2) karir da n (3) pribadi-sosial. Titik berat program bimbingan dan konseling sekolah adalah kesuksesan bagi setiap siswa, artinya siswa tidak hanya dimotivasi, didorong da n siap untuk belajar pengetahuan sekolah, tetapi program bimbingan dan konseling sekolah membantu seluruh siswa agar sukses berprestasi di sekolah dan kehidupan nya lebih berkembang serta mampu memberikan kontribusi bagi kehidupan masyarakat sekitarnya. 2. Pengembangan potensi siswa Program bimbingan dan konseling yang komprehensif dirancang tidak hanya un tuk pencegahan permasalahan siswa, tetapi disusun sebagai pelayanan untuk menemu kan karakteristik dan kebutuhan siswa pada berbagai jenis dan tahapan perkembang an. Dengan kata lain program bimbingan dan konseling sekolah yang komprehensif h arus mampu membangun tujuan-tujuan, memprediksi hasil, menentukan dukungan siste m dan kebijakan yang tepat baik bagi siswa, konselor sekolah, guru, wali kelas, pengawas bimbingan dan konseling, orang tua atau masyarakat, sehingga mempertin ggi prestasi pembelajaran siswa (akademik, karir, dan pribadi-sosial). Secara k husus, program bimbingan dan konseling sekolah yang komprehensif harus memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 1) Program bimbingan dan konseling sekolah merupakan kesatuan komponen tujuan in stitusi sekolah; 2) Program bimbingan dan konseling sekolah memberikan kesempatan pelayanan kepad

a semua siswa; 3) Program bimbingan dan konseling ditunjang dengan keberadaan konselor yan g profesional. (keahlian, keterampilan, komitmen, pengembangan diri); 4) Memastikan bahwa program konseling sekolah merupakan rancangan yang dapa t dilaksanakan dalam sebuah gaya yang sistematik untuk semua siswa; 5) Program bimbingan dan konseling mampu menghasilkan pengetahuan, sikap dan kem ampuan-kemampuan siswa lainnya yang dapat didemonstrasikan sebagai sebuah hasil dari keikutsertaan mereka dalam sebuah program bimbingan dan konseling sekolah. 3. Kolaboratif Mengimplementasikan kolaborasi intern di tempat bekerja: a. memahami dasar, tujuan, organisasi dan peran pihak-pihak lain (guru, wal i kelas, pimpinan sekolah, komite sekolah) b. mengkomunikasikan dasar, tujuan, dan kegiatan pelayanan bimbingan dan ko nseling kepada pihak-pihak lain di tempat bekerja c. bekerja sama dengan pihak-pihak terkait di dalam tempat bekerja seperti guru, orang tua, tenaga administrasi) 4. Komprehensif Program bimbingan konseling adalah sebuah program yang terpadu dan berkel anjutan sesuai dengan perkembangan peserta didik dalam kaitannya dengan tingkat satuan pendidikan yang sedang ditempuh peserta didik yang meliputi bidang priba di,sosial,belajar dan karir. 5. Penggunaan data Data yang dimiliki oleh bimbingan konseling dapat digunakan oleh seluruh p emangku kepentingan sekolah dengan menjaga kerahasiaan dan berpegang teguh pada azas dan kode etik bimbingan konseling Visi SMP Negeri 232 Jakarta Menjadi Sekolah Idaman Dengan Berbagai Keunggulan. Misi SMP Negeri 232 Jakarta 1. Menyelengarakan pendidikan dan pengajaran dengan penuh. 2. Kesungguhan ketulusan dan dengan dedikasi yang tinggi. 3. Melaksanakan pembinaan dan bimbingan secara efektif dan berkesinambungan. 4. Menanamkan sikap disiplin, sportif, dan percaya diri. 5. Menumbuhkan semangat berkompetisi b. Standar kompetensi siswa Standar kompetensi kemandirian siswa yang sesuai dengan tugas perkembangan untuk siswa Sekolah Menengah Pertama kelas 7 adalah pada tahap pengenalan, adal ah sebagai berikut (sumber: rambu-rambu penyelenggaraan BK dalam jalur pendidika n formal), - Mempelajari cara-cara memperoleh hak dan memenuhi kewajiban dalam lingkungan k ehidupan sehari-hari - Mempelajari norma-norma pergaulan dengan teman - Mengenal cara-cara mengekspresikan perasaan secara wajar - Mengenal peran-peran sosial sebagai laki-laki atau perempuan - Mengenal kemampuan dan keinginan diri - Mengenal nilai-nilai perilaku hemat, ulet, sungguh-sungguh, dan kompetitif dal am kehidupan sehari-hari - Mengekspresikan ragam pekerjaan, pendidikan dan aktivitas dalam kaitan dengan kemampuan diri - Mengenal arti dan tujuan ibadah - Mempelajari cara-cara pengambilan keputusan dan pemecahan masalah - Mengenal alasan perlunya mentaati aturan/norma berperilaku 2. Infrastruktur program a. Pelaksana program Yang terlibat dalam kegiatan bimbingan adalah guru BK,Walikelas,Guru Matap elajaran, kepala Sekolah, Wakil kesiswaan serta ketua Program Studi. Alur Peny elesaian Masalah : 1. Jika siswa yang bermasalah bisa langsung berkonsultasi dengan guru BK 2. Laporan dari guru mata pelajaran, atau walikelas langsung pada guru BK

3. Guru BK menemukan dan menangani siswa yang bermasalah yang dapat dilihat dari data dokumentasi seperti : kehadiran, keterlambatan datang ke sekolah, prestasi hasil belajar,atau masalah masalah sosial lainnya. 4. Jika masalahnya komplek maka akan diadakan konfrensi kasus yang dihadiri oleh orang tua, kepala sekolah, walikelas dan guru BK dan orang-orang yang terlibat di dalamnya. 5. Jika masalah yang dihadapi siswa masih tidak bisa ditangani/terselesaikan mak a akan dilakukan alihtangan kasus atau referal sesuai dengan masalah yang dialam i siswa. b. Sarana dan prasarana Ruang bimbingan dan konseling merupakan salah satu sarana penting yang tur ut mempengaruhi keberhasilan pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah. Ruan g kerja bimbingan dan konseling disiapkan berfungsi untuk mendukung produktivita s kinerja konselor, maka diperlukan fasilitas berupa komputer; meja kerja konsel or; dan almari dan sebagainya. Ruangan administrasi/data perlu dilengkapi dengan fasilitas berupa lemari penyimpanan dokumen (buku pribadi, catatan-catatan kons eling, dan lain-lain) maupun berupa softcopy. Dalam hal ini harus menjamin keamanan dan kerahasiaan data yang disimpan. Selain ruangan, fasilitas lain yang diperlukan untuk penyelenggaraan bimbingan d an konseling antara lain adalah dokumen program bimbingan dan konseling (buku pr ogram tahunan, buku program semesteran, buku kasus dan buku harian); instrumen p engumpul dara dan kelengkapan administrasi seperti alat pengumpul data berupa te s maupun nontes; alat penyimpan data; kelengkapan penunjang teknis (data informa si, paket bimbingan); alat bantu bimbingan perlengkapan administrasi (seperti al at tulis menulis, blanko surat, kartu konsultasi, kartu kasus, blanko konferensi kasus, dan agenda surat, buku-buku panduan, buku informasi tentang studi lanjut an, laporan kegiatan pelayanan, data kehadiran konseli, buku realisasi kegiatan bimbingan dan konseling); bahan-bahan informasi pengembangan keterampilan pribad i, sosial, belajar maupun karir dan buku/bahan informasi pengembangan keterampil an hidup, perangkat elektronik, dan papan informasi bimbingan dan konseling c. Dana Anggaran yang digunakan dalam pelaksanaan bimbingan konseling disesuaikan dengan kebutuhan dalam setiap layanan sumber dana yang digunakan diperoleh dari dana komite sekolah. 3. Gambaran kondisi siswa Kondisi siswa di SMP Negeri 232 khususnya kelas 7. Siswa memiliki masalah dalam bidang kesehatan, dimana siswa belum bisa mengimbangi dan membedakan kegi atan di SMP dan di SD. Siswa masih belum bisa mengoptimalkan sosialisasi dengan sebayanya, akan tetapi siswa sudah dapat mengoptimalkan sosialisasi dengan guru dan kurikulum di sekolah. 4. Sistem layanan a. Layanan dasar (guidance curriculum) Layanan dasar bimbingan merupakan layanan bantuan bagi siswa melalui kegia tan-kegiatan kelas atau di luar kelas, yang disajikan secara sistematis, dalam r angka membantu siswa mengembangkan potensinya secara optimal. Layanan ini bertuj uan untuk membantu semua siswa agar memperoleh perkembangan yang normal, memilik i mental yang sehat, dan memperoleh keterampilan dasar hidupnya. 1) Bimbingan kelompok Pelayanan bimbingan kelompok yaitu layanan bimbingan yang memungkinkan seju mlah peserta didik secara bersama-sama melalui dinamika kelompok memperoleh berb agai bahan dari narasumber yang berguna untuk menunjang pemahaman dan kehidupann ya sehari-hari atau untuk perkembangan dirinya baik sebagai individu maupun seba gai pelajar. 2) Bimbingan klasikal Bimbingan klasikal merupakan program yang dirancang yang menuntut konselor untuk melakukan kontak langsung dengan para peserta didik di kelas secara terjad wal dan terencana.

b. Layanan responsif Komponen layanan responsif dalam program bimbingan dan konseling sekolah, terdiri atas kegiatan-kegiatan untuk menemukan kebutuhan dan persoalan yang ten gah dihadapi siswa. Penyelesaian kebutuhan atau persoalan ini memerlukan konseli ng, konsultasi, pengalihan, fasilitasi maupun informasi dari teman sebaya. Kompo nen ini disediakan bagi seluruh siswa dan seringkali siswa diberi inisiasi melal ui self-referral. Bagaimanapun guru, orangtua/wali dan orang lain bisa juga memb antu siswa. Walaupun konselor sekolah memiliki keterampilan dan pelatihan khusus dalam merespon kebutuhan dan persoalan semacam ini, kerjasama dan dukungan dari seluruh pihak sekolah dan seluruh staf tetap diperlukan bagi suksesnya implemen tasi program layanan responsif. 1) Konseling individual Melalui konseling individual merupakan konseling yang diberikan secara indiv idual kepada peserta didik (konseli) untuk mengidentifikasi masalah, penyebab ma salah, penemuan alternatif pemecahan masalah, dan pengambilan keputusan secara l ebih tepat. 2) Konseling kelompok Konseling kelompok merupakan konseling yang diberikan secara kelompok dengan memanfaatkan dinamika kelompok yang terjadi di dalam kelompok. Masalah-masalah yang dibahas dalam konseling kelompok merupakan masalah yang muncul di dalam kel ompok itu, yang meliputi berbagai masalah dalam segenap bidang bimbngan. c. Layanan perencanaan individual Dalam perencanaan individual, konselor sekolah mengkoordinasikan kegiatan secara sistemik dan berkelanjutan serta dirancang untuk membantu siswa secara in dividual dalam menetapkan tujuan pribadi dan mengembangkan rencana mereka di mas a depan. Konselor sekolah mengkoordinasikan kegiatan bantuan bagi seluruh rencan a siswa, mengawasi dan menangani proses belajar siswa termasuk menemukan kompete nsi dalam area akademis, karir dan perkembangan pribadi-sosialnya. d. Dukungan sistem Dukungan sistem merupakan komponen pelayanan dan kegiatan manajemen, tata kerja, infrastruktur dan pengembangan kemampuan profesional konselor secara berk elanjutan, yang secara tidak langsung memberikan bantuan kepada konseli atau mem fasilitasi kelancaran perkembangan konseli. 5. Akuntabilitas Akuntabilitas pelayanan terwujud dalam kejelasan program, proses implement asi, dan hasil-hsil yang dicapai serta informasi yang dapat menjelaskan apa dan mengapa sesuatu proses dan hasil terjadi atau tidak terjadi. a. Evaluasi Prosedur evaluasi, yaitu meliputi serangkaian kegiatan yang berurut sebaga i berikut : a). Identifikasi tujuan yang akan dicapai Melakukan identifikasi terhadap tujuan yang ingin dicapai sangat penting karena memberikan arah pekerjaan yang akan dilaksanakan. Artinya selama melakukan eval uasi tetap mengacu pada tujuan yang telah ditetapkan. Langkah awal kegiatan eval uasi adalah menetapkan parameter atau batasan-batasan yang akan dievaluasi, dapa t dipusatkan pada program bimbingan dan konseling secara keseluruhan atau pada t ujuan khusus secara terpisah-pisah. Tujuan itu hendaknya jelas, singkat, operasi onal dan dapat diukur. b). Pengembangan rencana evaluasi Pengembangan rencana evaluasi merupakan langkah lanjutan setelah menetapkan tuj uan yang ingin dicapai. Komponen-komponen rencana evaluasi program bimbingan dan konseling yang perlu dikembangkan antara lain: 1) data atau informasi yang dibutuhkan; 2) alat pengumpulan data yang digunakan; 3) sumber data atau informasi yang dapat dihubungi; 4) personel pelaksanaan; 5) waktu pelaksanaan; 6) kriteria penilaian; dan 7) bagaimana pelaporan dan pada siapa laporan itu disampaikan.

c). Pelaksanaan Evaluasi Setelah rencana itu disusun dan disetujui, pelaksanaan evaluasi program bimbinga n dan konseling dan konseling dan konseling dan konseling dan konseling bergantu ng pada cara/metode yang digunakan. Prinsip pelaksanaan evaluasi perlu memperhat ikan faktor-faktor yang telah direncanakan sehingga terjadi berinteraksi antara faktor yang satu dengan lainnya dan dapat membantu pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. b. Supervisi Kegiatan supervisi bimbingan dan konseling meliputi pembinaan dan pemantau an pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah merupakan kegiatan dimana terj adi interaksi langsung antara pengawas dengan guru binaannya.

6. Perangkat program a. Kalender semesteran KALENDER SEMESTERAN PROGRAM BIMBINGAN DAN KONSELING KOMPREHENSIFSMPN 232 JAKARTA TAHUN PELAJARAN 2012-2013Komponen Sistem LayananJuliAgustusSeptemberOktoberNovem berdesember123412341234123412341234PERSIAPANLIBUR SEMESTERObservasi?? ???????????????*Konferensi Kasus?PERENCANAAN INDIVIDUAL ???????????DUKUNGAN SISTEM*KolaborasiGuru mata p b. Kegiatan bulanan BULAN DAN KOMPONEN PROGRAMLAYANAN DASARLAYANAN RESPONSIFLAYANAN PERENCANAAN INDI VIDUALLAYANAN DUKUNGAN SISTEMJuli - Konsultasi - Konsultasi dengan guru mata pelajaran - Konsultasi dengan wali kelas - konsultasi dengan guru BKAgustus- bimbingan klasikal ice breaking, perkenalan; perbedaan SD dan SMP- Konseling Individual - Konsultasi Mempelajari cara-cara memperoleh hak dan memenuhi kewajiban dalam lingkungan keh idupan sehari-hari - Konsultasi dengan wali kelasSeptember- bimbingan klasikal manajemen waktu; kom unikasi teman sebaya - Bimbingan kelompok- Konseling Individual Mempelajari norma-norma pergaulan dengan teman- Konsultasi dengan guru mata pela jaran - Konsultasi dengan wali kelasOktober- bimbingan klasikal dengan tema perbedaan perasaan dan emosi; asertif; perbedaan gender dan seks - bimbingan kelompok- Konseling Individual - Konsultasi - mengekspresikan emosi secara wajar - dapat mengerti makna asertif dalam kehidupan - mengetahuo perbedaan peran laki-laki dan perempuan- Konsultasi dengan guru mat a pelajaran - Konsultasi dengan wali kelasNovember- bimbingan klasikal dengan tema hubungan positif lawan jenis; motivasi berprestasi; percaya diri- Konseling Individual - Konsultasi - Konseling kelompokMengenal kemampuan dan keinginan diri- Konsultasi dengan gur u mata pelajaran - Konsultasi dengan wali kelas C. LAPORAN PELAKSANAAN LAYANAN BIMBINGAN KLASIKAL 1. Pendahuluan Pelayanan bimbingan klasikal merupakan salah satu dalam layanan dasar yang diberikan kepada peserta didik agar mereka dapat mengembangkan potensi dirinya secara optimal. Layanan bimbingan klasikal ini akan lebih efektif dan tepat sasa ran apabila diberikan sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Layanan bimbingan k lasikal ini juga harus memiliki perencanaan yang matang dan disusun secara siste

matis, dalam penyelenggaraannya pun harus menggunakan strategi yang menarik sehi ngga peserta didik antusias dalam mengikuti layanan bimbingan klasikal ini. 2. Pelaksanaan a. Hasil asesmen dan intrepetasinya Hasil asesmen, siswa kelas 7E dan kelas 7G mengalami permasalahan dalam bi dang (pada DCM) kesehatan dimana siswa masih belum bisa beradaptasi dengan lingk ungan baru di SMP, masih suka mengantuk apabila proses Kegiatan Belajar Mengajar telah dilaksanakan pada siang hari untuk kelas 7, belum bisa menyadari tanggung jawab sebagai siswa SMP bukan sebagai siswa SD, hal ini terlihat pada ITP siswa yang masih dibawah rata-rata untuk kesadaran tanggungjawab. Masalah lainnya ditunjukkan pada hubungan pribadi siswa, kehidupan sosial dan organisasi hal ini terlihat dalam DCM dimana siswa belum mampu berkomunikasi dengan baik dengan teman sebayanya yang notabene masih baru dalam lingkungan se kolah menengah pertama, kurang mampunya siswa dalam berinteraksi dengan sebayany a diperkuat dari hasil sosiometri yang memperlihatkan siswa hanya dapat berinter aksi dengan siswa lain yang dianggapnya sebagai teman terdekat saja dengan salin g memilih antara satu dan lainnya, dari kedua kelas tersebut saling memilih dala m sosiometri menunjukkan bahwa siswa masih belum bisa berinteraksi secara positi f dengan teman sebayanya, khususnya teman sekelas. Rata-rata siswa akan memilih teman yang disukai yaitu teman sebangku, tema n yang duduk berada di belakang dan samping. Kemudian memilih teman yang tidak disukai secara subjektif, hanya melihat dari posisi duduk dan kedekatan dengan g uru. Akan tetapi, pada dasarnya siswa kelas 7 mampu berinteraksi dengan baik, h anya beberapa faktor seperti baru menginjak SMP, interaksi yang dimunculkan belu m terlalu sering, kegiatan ekstrakurikuler yang belum berjalan untuk kelas 7 yan g menyebabkan interaksi hubungan sebaya kurang, akan tetapi dalam ITP siswa bera da pada pada kematangan hubungan sebaya dan mendapatkan skor diatas rata-rata. b. Peta aspek perkembangan dan kompetensi siswa dari 8 satlan Aspek Perkembangan dan Kompetensi Siswa Kelas VIINo.MateriPerkembangan dan Kompe tensi Siswa1Mengidentifikasi perbedaan-perbedaan sekolah SMP dan SD (kognitif,ps ikomotor,afektif) Siswa mampu menyebutkan berbagai perbedaan yang ada di SD dan SMP 2Manajemen waktuSiswa dapat menjelaskan tujuan kegiatan manajemen waktu3Cara ber komunikasi baik dengan teman sebaya Mempelajari norma-norma pergaulan dengan teman4Mengenal Perasaan dan emosi pada remaja Siswa dapat menyebutkan cara-cara mengekspresikan emosi5AsertifSiswa mengetahui pengertian asertif Siswa mengetahui manfaat bersikap asertif6Perbedaan Gender dan seks Mengenal peran-peran sosial sebagai laki-laki atau perempuan7Menjalin hubungan p ositif dengan lawan jenisSiswa dapat menyebutkan alasan berteman dengan lawan je nis Siswa dapat menyebutkan hal-hal apa yang merusak persahabatan lawan jenis8Motiva si berprestasi Siswa memahami makna motivasi berprestasi9Percaya diriMengenal kemampuan dan kei nginan diri d. Refleksi Refleksi praktikan dalam melaksanakan bimbingan klasikal selama kurang leb ih 1 semester di SMPN 232 Jakarta, khususnya kelas 7, praktikan sudah melakukan kegiatan seoptimal mungkin dalam pelaksanaan bimbingan klasikal dimulai dengan metode pembelajaran yang menarik dan membuat siswa ikut berpartisipasi dalam pro ses belajar mengajar. Pada awalnya, praktikan merasa gugup untuk mengajar siswa kelas 7, yang pada dasarnya baru memasuki fase perkembangan remaja awal, agak s ulit rasanya memilih metode seperti apa untuk dapat memasuki dunia siswa yang ce nderung masih anak-anak dan mencoba untuk dewasa. Akan tetapi, atas bantuan dar i guru pamong (Yuni Lestari, S.Pd) yang sebelum dan sesudah kegiatan bimbbingan klasikal selalu memberikan masukan untuk ke depannya yang lebih baik, serta peng etahuan akan wawasan pembelajaran bagi siswa SMP kelas 7 yang dipelajari oleh pr aktikan, praktikan semakin terasah dalam pemberian metode. Praktikan yakin bahwa dalam mengadakan bimbingan klasikal kepada siswa, t

erutama siswa SMP, cara yang tepat adalah dapat memahami perkembangan dan usia m ereka, serta dapat mengikuti dunianya sebagaimana seharusnya, sehingga materi ya ng disampaikan akan terpenuhi sesuai tujuan yang telah disusun. Dalam memberika n layanan bimbingan klasikal ini, praktikan mendapatkan pengalaman yang tidak pe rnah didapatkan dari mata kuliah di perkuliahan, yaitu praktek nyata di sekolah. e. Kekuatan mahasiswa Dalam memberikan layanan bimbingan klasikal, praktikan mempunyai kekuatankekuatan atau kelebihan yang dapat ditingkatkan, yaitu praktikan memiliki suara yang lantang ketika memberikan layanan bimbingan klasikal, karena suara juga men jadi faktor penting dalam penyampaian materi agar siswa mengerti apa yang dijela skan oleh praktikan. Selain itu, praktikan juga mampu menggunakan strategi menga jar yang tidak membosankan sehingga siswa tetap antusias dalam mengikuti layanan bimbingan klasikal. Praktikan juga membuat powerpoint menggunakan prezi yang me narik sehingga siswa tidak bosan dalam membaca materi yang disampaikan melalui s lide tersebut. Praktikan juga sudah mengikutsertakan siswa dalam pembahasan mate ri sehingga para siswa ikut aktif menyampaikan ide-idenya dalam layanan bimbinga n klasikal. f. Kompetensi yang perlu ditingkatkan Selain memiliki kekuatan-kekuatan dalam menyelenggarakan layanan bimbingan klasikal, praktikan juga mempunyai kekurangan-kekurangan. Dalam menyampaikan ma teri bimbingan klasikal, praktikan merasa panik ketika materi yang disampaikan b elum selesai atau kegiatan diskusi belum selesai, namun waktu sudah habis, hal i ni membuat praktikan panik dan gugup. Praktikan juga masih belum dapat tegas den gan siswa yang sedang mengobrol dan bercanda, sehingga siswa yang bersangkutan t idak takut dan meneruskan kegiatannya tersebut. Kekurangan-kekurangan tersebut d iharapkan dapat diminimalisir oleh praktikan sehingga praktikan dapat menjadi le bih baik dalam memberikan layanan bimbingan klasikal dikemudian hari. D. LAPORAN PELAKSANAAN LAYANAN BIMBINGAN KELOMPOK 1. Pendahuluan Latar belakang dari pelaksanaan bimbingan kelompok ini, adalah untuk meres pon kebutuhan dan minat siswa. Atas dasar kebutuhan siswa tersebut untuk itu di laksanakan bimbingan kelompok. Siswa SMPN 232 Jakarta khususnya kelas 7, yang n otabenenya adalah siswa yang baru masuk sekolah tingkat pertama, dengan permulaa n masuk sekolah dengan diadakannya Masa Orientasi Sekolah (MOS), tujuan dari MOS ini sebenarnya adalah untuk memperkenalkan lingkungan dan situasi sekolah, peng embangan diri dengan memperkenalkan ekstrakurikuler yang terdapat di sekolah, da n pengembangan diri lainnya. Akan tetapi, pengenalan awal siswa baru ini menjad i lain cara penyampaiannya kepada siswa baru, banyaknya tindakan bullying yang d ilakukan oleh siswa senior kepada siswa baru, tindakan bullying ini berupa bully ing verbal maupun bullying fisik. Atas dasar inilah praktikan melaksanakan kegi atan bimbingan kelompok, dengan berbasis data laporan dari siswa baru yang meras a bahwa peneriamaan di lingkungan baru tidak seperti yang mereka bayangkan, yait u dengan cara terbuka dan membimbing ke arah positif. Topik bullying bimbingan kelompok dirasakan sesuai dengan kebutuhan siswa, maka diharapkan kegiatan bimbingan kelompok ini akan optimal dan sesuai dengan tujuan layanan ini, yaitu bertujuan untuk menunjang pemahaman dan kehidupannya s ehari-hari dan untuk perkembangan dirinya baik sebagai individu maupun sebagai p elajar. 2. Pelaksanaan a. Hasil asesmen dan interpretasinya Dari hasil daftar cek masalah siswa kelas 7 mengalami masalah dalam hubung an pribadi dan kehidupan sosial organisasi, hal ini diperkuat oleh pernyataan be berapa siswa kelas 7 yang merasakan bahwa siswa belum dapat bersosialisasi denga n baik, terutama dengan kakak kelas 8 dan 9. Hal ini disebabkan adanya persaing an yang kurang sehat seperti keadaan fisik, hubungan dengan lawan jenis serta kei sengan semata karena adanya media-media yang memicu tingkah laku mereka menjadi m

eniru salah satu figur dalam media tersebut. Siswa kelas 7 merasakan bahwa seba gai siswa yang baru masuk sekolah seharusnya mengenal keadaan lingkungannya deng an positif, mulai dari kakak kelasnya, guru serta lingkungannya. Akan tetapi, siswa kelas 7 merasakan tindakan yang semena-mena dilakukan oleh kakak kelas 8 d an 9 kepada mereka dengan mencaci maki, menatap dengan sinis, melabrak dan lainnya . Hal ini mendorong praktikan, untuk mengadakan bimbingan kelompok mengenai bul lying. b. Tema/ topik berdasarkan hasil asesmen Berdasarkan laporan dari siswa kelas 7, bahwa banyak terjadi bullying atau kekerasan yang dilakukan secara fisik dan verbal yang dilakukan oleh kelas 8 da n kelas 9, maka topik yang sesuai dengan kebutuhan siswa adalah mengenai bullyin g. c. Hasil kegiatan Kegiatan bimbingan bertemakan bullying ini dirasakan sangat bagus untuk me mberikan pengetahuan kepada anggota kelompok dan anggota dapat mengungkapkan pen dapat secara bergantian. Kegiatan bimbingan kelompok ini dilaksanakan 50 menit setiap kali pertemuan, kegiatan ini dilaksanakan tidak hanya 1 kali, kegiatan bi mbingan konseling dilakukan sebanyak 4 kali pada tanggal 11, 15, 16, 17 Oktober 2012 di ruang BK. Membahas tentang bullying diantaranya pengertian bullying, je nis-jenis bullying, dampak dan penyebab bullying. Jumlah anggota yang diikutser takan adalah sebanyak 6 orang, yaitu Rani, Wahyu gita tria, Anggun safitri, Savi ra eka handayani, Zafario sidik, M.rafliyansyah. Kegiatan bimbingan kelompok beranggotakan anggota yang sangat aktif dalam berdiskusi sehingga kegiatan bimbingan kelompok ini terasa hidup karena banyakny a masukan informasi yang diberikan oleh setiap anggotanya. Suasana selama kegia tan bimbingan kelompok tidak membosankan dan terlihat antusias dari seluruh angg ota kelompok. Anggota kelompok merasa banyak informasi yang didapatkan, sehingg a mereka mempunyai pandangan baru terhadap realita bullying dewasa ini. Kegiata n bimbingan kelompok juga menjadi lebih nyata ketika praktikan menampilkan beber apa tayangan video bullying di sekolah dan lingkungannya. Informasi yang mereka dapatkan diantaranya, pengertian dari bullying itu s endiri, yang awalnya mereka hanya mengetahui bahwa itu adalah perbuatan negatif tetapi tidak mengetahui sebutannya, bagaimana dampak negatif bagi korban dan pel aku bullying, serta anggota menyebutkan pengalaman-pengalaman bullying di sekita r mereka, bagaimana tindakan anggota apabila melihat tindakan bullying di sekita r mereka. Komitmen dan hasil yang dicapai dalam pelaksanaan bimbingan kelompok sebagai pelajar yang memiliki sosialisasi luas dalam pergaulan, mereka sadar bah wa sosialisasi yang baik atau bergaul positif itu caranya bukan menunjukkan kele mahan dari seseorang, tetapi selalu mendukung kelebihan yang terdapat pada setia p orang dan tidak iri, serta mensyukuri apa yang ada dalam diri masing-masing. d. Refleksi Bimbingan kelompok yang sudah terlaksana selama 4 kali pertemuan dengan te ma bullying ini, dalam prosesnya berjalan dengan efektif dikarenkaan adanya antu sias dari anggota kelompok, namun keterbatasan waktu dan ruang BK yang selalu ra mai dengan siswa membuat layanan bimbingan kelompok ini kurang optimal dan kondu sif. kekuatan mahasiswa dalam menyelenggarakan layanan bimbingan kelompok e. Kekuatan Dalam menyelenggarakan layanan bimbingan kelompok terdapat kekuatan-kekuat an praktikan, yaitu ketika anggota mulai tidak fokus praktikan melakukan cutting off, kemudian untuk membuat anggota aktif praktikan melakukan drawing out. Pra ktikan telah dapat memberikan tanggapan akan hal yang terjadi seputar bullying. f. Kompetensi yang perlu ditingkatkan oleh praktikan Praktikan juga memiliki kekurangan dalam melaksanakan layanan bimbingan ke lompok, yaitu terkadang praktikan kehilangan konsentrasi apabila anggota kelompo k sudah diam saja tanpa ada tanggapan, kemudian waktu yang minim ketika anggota ingin membahas lebih jauh mengenai tema yang tersebut.

3. Penutup Layanan bimbingan kelompok hendaknya dilakukan sesuai dengan kebutuhan sis wa, agar ketika layanan tersebut diselenggarakan, anggota menjadi antusias dan l ebih aktif dalam pelaksanannya, dan juga bimbingan kelompok dilakukan dengan met ode yang tidak membosankan seperti di kelas, sehingga anggota merasakan perbedaa nnya ketikan bimbingan klasikal dan pada saat bimbingan kelompok berlangsung. K arena hal itulah, konselor seharusnya dapat memahami kondisi peserta didik di se kolah. E. LAPORAN KONSELING INDIVIDUAL DAN KONFERENSI KASUS KASUS 1 1. Pendahuluan Bimbingan dan Konseling adalah pelayanan bantuan untuk peserta didik, baik secara perorangan maupun kelompok, agar mampu mandiri dan berkembang secara opt imal, dalam bidang pengembangan kehidupan pribadi, kehidupan sosial, kemampuan b elajar, dan perencanaan karir, melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendu kung, berdasarkan norma-norma yang berlaku, kita pun harus menggunakan asas keki nian dalam membantu siswa untuk mengentaskan masalahnya. Dalam hal ini, asas kekinian harus digunakan pada masalah yang terjadi pad a KNI yang membutuhkan layanan konseling individual dalam mengentaskan masalahny a. Karena apabila tidak ditindaklanjuti pada layanan konseling individual, dikh awatirkan permasalahan yang dialami oleh KNI akan semakin membesar dan menimbulk an masalah-masalah baru dalam hidupnya. Sebagai konselor berkewajiban untuk memb antu KNI mengentaskan masalahnya melalui layanan konseling individual. 2. Tujuan evaluasi KNI berjenis kelamin perempuan kelas VII G di SMP Negeri 232 Jakarta, adal ah salah satu siswa yang mempunyai masalah dalam kehidupan pribadinya. Konseli mempunyai sebuah keluarga kecil terdiri dari ibu,nenek, konseli dan seorang adik laki-lakinya yang sekarang bersekolah di sekolah dasar, konseli sangat dekat de ngan ibunya sebelum kepergian ayahnya. Ayah konseli sudah meninggal dunia sekita r akhir tahun lalu dikarenakan sakit. Semenjak kepergian ayahnya konseli tinggal berempat, berselang beberapa bu lan ibunya mempunyai seorang kekasih yang sebelumnya sudah pernah dikenalkan pad a ayah konseli sebagai teman kerja ibu konseli, semenjak itu konseli merasa kese pian karena ibunya jarang memperhatikan konseli yang ditunjukkan dengan pulang s elalu larut, selalu jalan-jalan dengan pasangan barunya, dan apabila pulang kons eli sudah tidur, ketika konseli bangun ibunya telah berangkat bekerja kembali, s ebagai anak yang baru menginjak remaja, konseli membutuhkan perhatian lebih dari seorang ibu. Komunikasi yang kurang terjalin antara ibu dan anak dirasakan ole h konseli, hanya melalui telepon atau BBM (blackberry messenger). Oleh karena i tu, praktikan melakukan konseling agar konseli dapat memperbaiki komunikasi deng an ibunya. 3. Prosedur asesmen 1. Daftar Cek Masalah Daftar cek masalah disebarkan tanggal 1 Agustus 2012, kemudian diolah pada tangg al 2 Agustus 2012 2. Otobiografi Otobiografi didapatkan dari konseli pada tanggal 24 September 2012 3. Studi dokumentasi Studi dokumentasi berupa buku pribadi siswa didapatkan dari siswa 4. Wawancara Wawancara dilakukan pada tanggal 23 Agustus 2012 di ruang BK 4. Hasil asesmen 1. Daftar Cek Masalah Dari hasil daftar cek masalah konseli KNI mempunyai masalah terbesar di bi dang kehidupan sosial dan organisasi, siswa mudah tersinggung, bingung apabila d i hadapan orang banyak, sering mudah marah, tidak sabar dan karena emosional kon seli sehingga konseli sering ditegur karena tidak sopan. Bidang masalah selanju tnya adalah kehidupan keluarga yang mendapatkan presentase 20%, siswa merasa dir

umah tidak nyaman dan kurang teratur, karena siswa selalu bertengkar dengan adik konseli, kurang tolong menolong dalam keluarga sehingga konseli merasa kurang s enang apabila dirumah. Konseli pun sering merasa lapar, mengantuk dan kurang ti dur. Di sekolah dalam penyesuaian kurikulum, konseli merasa khawatir apabila me ndapatkan giliran, untuk masa depan dan cita-cita konseli konseli ingin melanjut kan sekolah akan tetapi konseli juga ingin bekerja, siswa menginginkan untuk men dapatkan beasiswa karena hanya ibu yang membiayai segala kebutuhan konseli. 2. Otobiografi Khansa Nabilah Imtinan, putri dari pasangan bapak Polem Wan (alm) dan ibu Ratih Istiawati. Konseli mempunyai hobi berenang ini mempunyai teman dekat ber nama Nidya, Ridha, Ghina, Viani, Sita dan Kemala. Hal yang disenangi konseli ad alah bermain HP, berenang, jalan-jalan bersama keluarga dan teman-teman, dan kon seli sangat senang teman yang dapat dipercaya dan dimengerti. Konseli yang lahir pada tanggal 7 Agustus 2000 di Jakarta ini mempunyai ha l yang tidak disukai yaitu bermain dengan teman yang menyebalkan, tidak dapat me njaga rahasia, dan takut kepada anak autis karena pernah dicium oleh anak autis, serta 1 hal lagu yang sangat mengganggu konseli, karena papa dari konseli sudah meninggal dan harus cari penggantinya menurut ibu konseli, sehingga membuat kon seli takut posisi ayah kandung konseli akan tergantikan oleh oranglain. 3. Studi dokumentasi KNI berjenis kelamin perempuan yang lahir pada tanggal 7 agustus 2000 di J akarta, ini adalah anak 1 dari 2 bersaudara, yang bertempat tinggal di JL.pulo a sem timur raya kavling 3, pulo gadung, Jakarta Timur. Jarak dari rumah siswa ke sekolah kurang lebih 6-10 km, dan terbiasa menggunakan kendaraan umum. Putri d ari Polem wan (alm) dan Ratih istiawati yang bekerja sebagai guru senam yoga ini berasal dari SD cipinang 1 pagi yang mempunya tinggi badan 156 cm dan berat bad an 42 kg. Konseli dengan hobi berenang, bermain basket, keyboard dan gitar ini a dalah siswa yang sangat berbakat, ini terbukti dengan keinginannya untuk masuk d alam Organisasi Intra Sekolah (OSIS), yang akan diadakan pada bulan oktober. 4. Wawancara Siswa merasa khawatir semenjak kematian ayah konseli, perhatian mama konse li tidak seperti sebelumnya, terutama saat mamanya sudah mendapatkan pendamping baru, untuk menggantikan ayah konseli. Konseli tidak menyukai orang tersebut ya ng notabenenya adalah teman mama konseli, karena orang tersebut suka sok deket men ghubungi konseli melalui BBM atau telpon. Semenjak mama konseli menjalin hubung an dengan orang tersebut, konseli jarang bertemu, karena mamanya selalu pulang m alam hari dan berkomunikasi hanya lewat BBM atau telpon saja. Ketika mama konseli datang di malam hari, konseli sudah tidur dan ketika b angun mamanya sudah berangkat bekerja kembali. Konseli sudah mulai berpikir apa bila lelaki tersebut nantinya akan menjadi ayahnya pasti akan membantu biaya dan keringanan mamanya dalam menjalani pekerjaan, namun konseli masih membtuhkan wa ktu untuk memahami perasaan dan rasa kesepian yang terjadi pada dirinya, karena sejauh hubungan mamanya dan lelaki tersebut keluarga menyetujuinya. 5. Informasi latar belakang KNI adalah anak 1 dari 2 bersaudara, pasangan bapak Polem wan (alm) dan Ra tih istiawati yang lahir di Jakarta tanggal 7 Agustus 2000, beragama islam dan t inggal dengan kedua orangtua serta neneknya. Saat ini KNI tinggal Jl. Pulo asem timur raya kavling 3, pulo gadung. Adik kandung konseli bernama M.Rafi Ilham b erjenis kelamin laki-laki, sekarang sebagai pelajar di Sekolah Dasar. Siswa ter biasa dengan waktu jam belajar di pagi hari. Siswa sudah kehilangan ayahanda te rcinta sekitar 1 tahun yang lalu. Kebutuhan KNI semuanya dibiayai oleh ibunda s endiri tanpa bantuan dari siapapun. 6. Kesimpulan/ diagnosa, prognosa dan rekomendasi a. Diagnosa Konseli merasa komunikasi yang diciptakan dengan ibunya kurang baik dan tidak se perti biasanya A: perlakuan ibunya yang kurang memperhatikan konseli, semenjak kematian ayah ko nseli dan mendapatkan kekasih baru dengan sering keluar rumah (calon suami) B: tingkah laku : menjadi cuek dan lebih menyalahkan kekasih ibunya (calon suami

) emosi : marah, kesal, sepi. Dalam seminggu bisa 5-6 hari. C: -konseli semakin jauh dari ibunya, karena tidak berkomunikasi -orangtua menyalahkan konseli, karena konseli bersikap cuek pada ibunya b. Prognosa Tujuan konseling adalah konseli dapat berkomunikasi dengan baik kepada ibu konse li. Apabila masalah konseli tidak ditangani, dikhawatirkan konseli akan membata si diri dan semakin tidak peduli dengan ibu konseli. c. Rekomendasi Pendekatan yang akan digunakan dalam masalah konseli yaitu Behavior, dengan tekn ik yang akan digunakan adalah shaping, tahapannnya sebagai berikut : a) Tahap I, Melakukan asesmen. b) Tahap II, Menetapkan tujuan. c) Tahap III, Implementasi teknik. d) Tahap IV, Evaluasi dan pengakhiran. 7. Hasil konseling Konseling yang dilakukan selama 35 menit ini, dimana konselor menjelaskan k epada konseli mengenai kegiatan-kegiatan apa saja yang akan dilakukan selama beb erapa waktu untuk memperbaiki komunikasi dengan ibu konseli. Berikut adalah tah apan-tahapan serta hasil yang dicapai dalam tahapannya: * Tahap 1, tahap ini didapatkan sebelum konseling berlangsung, melalui wawancara dan analisis ABC diketahui apa penyebab masalah dan masalah konseli sesungguhny a, serta mengidentifikasi apa akibat dari masalah yang dialami oleh konseli apab ila itu tidak ditangani. * Tahap 2, mulai dari tahapan ini dilakukan pada saat konseling berlangsung, set elah mengetahui masalah konseli, praktikan dan konseli menyusun tujuan konseling bersama agar masalah konseli terselesaikan. Tujuannya yaitu konseli dapat berk omunikasi dengan baik kepada ibu konseli, melalui teknik shapping (perubahan tin gkah laku), dimana konseli akan mencoba beberapa tahapan dari mulai yang mudah s ampai yang sulit untuk berkomunikasi langsung dengan ibunya, serta menetapkan re inforcement (penguatan) dan punishment (hukuman) apabila konseli melanggar kesep akatan yang telah dibuat. Konselor membuat format shapping yang akan diisikan oleh konseli. tahapan i ni berhasil dilakukan dengan reinforcement berupa tas HP yang akan diberikan pad a setiap tahapannya apabila tahap tersebut terlaksana, dan hukuman berupa penamb ahan 1 frekwensi yang akan diberikan pada konseli apabila pada setiap tahapan ti dak terlaksana. * Tahap 3, implementasi teknik dari shapping, dimana konseli akan mengisi format yang telah disediakan oleh konselor berisi beberapa tahapan dari mulai yang mud ah sampai yang sulit untuk berkomunikasi langsung dengan ibunya, konseli mengisi tahapan yang telah disediakan menurut kemampuan konseli dari yang termudah samp ai yang tersulit, serta mengisikan waktu dan frekwensi yang akan dicapai sampai tahapan tersebut terlaksana. Kemudian konselor dan konseli menyepakati kegiatan . Tahap ini berhasil dilakukan. * Tahap 4, evaluasi dan pengakhiran. Konseli yang sudah diberikan tahapan shapp ing berupa format shapping, yang selama beberapa waktu telah ditetapkan mengenai frekwensi kegiatan shapping, setelah itu format yang telah diberikan dibawa kem bali pada saat konseling selanjutnya dan mengevaluasi apa saja yang telah dilaku kan dan apa yang tidak dilakukan, lalu, implementasi reinforcement dan punishmen t apa yang telah dibuat. Setelah itu konseli akan mengetahui apa yang bisa konse li dapatkan dari kegiatan shapping, dan tujuan konseling tercapai. Kegiatan yang berhasil dicapai adalah sebanyak 8 tahapan dari 8 tahapan denga 25 Spetember 2012. Pen n waktu yang diberikan dimulai dari tanggal 18 September guatan untuk setiap tahapan pun telah berhasil dilakukan.

8. Refleksi Konseling yang dilakukan selama 35 menit ini, menggunakan teknik shapping yang terdiri dari 8 tahapan kegiatan, proses tahapan kegiatan yang dilakukan sem enjak tanggal 18 September 2012 ini, sudah berhasil terlaksana sampai dengan 25 September 2012, atau selama 1 minggu. Dalam prosesnya konselor sudah dapat meng awasi tahapan kegiatan yang harus dilakukan konseli, sehingga konseli mampu meng erjakannya tanpa adanya paksaan dan mengingatkan terus menerus, konseli mengerti bahwa ini adalah masalah yang ingin ia selesaikan, banyaknya waktu yang dibutuh kan dalam kegiatan shapping ini membuat konselor awalnya mengalami kesulitan men gambil akhir dari proses konseling ini sampai berapa lama, akan tetapi dalam jan gka 1 minggu konseli dapat melakukan konseling yang telah ditetapkan. KASUS 2 1. Pendahuluan Bimbingan dan Konseling adalah pelayanan bantuan untuk peserta didik, baik secara perorangan maupun kelompok, agar mampu mandiri dan berkembang secara opt imal, dalam bidang pengembangan kehidupan pribadi, kehidupan sosial, kemampuan b elajar, dan perencanaan karir, melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendu kung, berdasarkan norma-norma yang berlaku, kita pun harus menggunakan asas keki nian dalam membantu siswa untuk mengentaskan masalahnya. Dalam hal ini, asas kekinian harus digunakan pada masalah yang terjadi pad a MA yang membutuhkan layanan konseling individual dalam mengentaskan masalahnya . Karena apabila tidak ditindaklanjuti pada layanan konseling individual, dikhaw atirkan permasalahan yang dialami oleh MA akan semakin membesar dan menimbulkan masalah-masalah baru dalam hidupnya. Sebagai konselor berkewajiban untuk membant u MA mengentaskan masalahnya melalui layanan konseling individual. 2. Tujuan evaluasi Konseli bernama MA, dari hasil Daftar Cek Masalah konseli selalu merasa pu sing, jantung berdebar, kurangnya waktu tidur. Studi dokumentasi siswa mempunya i penyakit yang sudah di diagnosa dokter yaitu sinus semenjak kelas 3 SD. Keluh an-keluhan yang dialami siswa membuat siswa di kelas tidak fokus, terlihat pasif , kurang bersemangat menurut pengakuan guru-guru yang sudah di wawancarai, sehin gga berdampak berkelanjutan konseli menjadi jarang masuk sekolah, jarang mengiku ti ulangan harian, nilai-nilai menurun dan beberapa nilai kosong. Informasi dari wali kelas dan guru-guru yang mengawali data siswa, karena siswa jarang masuk, sebagai informasi awal dalam menindaklanjuti kasus ini. Oleh karena itu, praktik an melakukan konseling agar siswa tidak memicu masalah-masalah lainnya dan siswa menjadi kehilangan kesempatan-kesempatan baik dalam kehidupannya. 3. Prosedur asesmen 1) Daftar Cek Masalah (DCM) Daftar cek masalah dilaksanakan pada tanggal 1 agustus 2012 di kelas VII E dan V II G SMPN 232 Jakarta 2) Wawancara No.Waktu kegiatanNarasumber14 oktober 2012MA2. 29 oktober 2012Wali kelas (Dian Hidajawati)3.9 oktober 2012Guru BK (Yuni Lestari)4. 16 oktober 2012 17 oktober 2012 30 oktober 2012 Guru Mata pelajaran - Ciptantini (PLKJ) - Zafinar (IPA) - Milzaida (B.Indonesia) - Enrico (Olahraga)5.3 oktober 2012 Teman MA - Ketua kelas - Teman sebangku - Teman kelas

3) Studi dokumentasi a) Raport Raport didapatkan dari wali kelas pada tanggal 3 november 2012. b) Buku pribadi siswa Buku pribadi siswa di dapatkan dari siswa, dan dikembalikan pada tanggal 18 okto ber 2012 4) Observasi Observasi dilakukan pada tanggal 9 dan 10 oktober bertempat di ruang kelas VII E pada saat mata pelajaran Kesenian dan Bimbingan Konseling 5) Home visit Home visit dilakukan pada 25 september 2012 ke rumah konseli di Jl. Pisangan Bar u Timur RT 05/015 no.10 4. Hasil asesmen 1. Daftar Cek Masalah Dari daftar cek masalah bidang masalah terbesar yang siswa alami adalah pa da bidang kesehatan mendapatkan persentase sebesar 20%. Siswa merasa kurang tid ur, jantung yang selalu berdebar, dan selalu merasakan pusing, sehingga siswa ku rang jam istirahat dalam kesehariannya. Setiap individu pasti mempunyai batasan dalam mengelola dirinya dan kecema san pada dirinya, MA adalah salah satu siswa yang mempunyai tingkat kecemasan ti nggi, ini terlihat dari seringnya siswa khawatir apabila mendapatkan giliran unt uk maju ke depan ataupun ditunjuk oleh guru, sukar menyesuaikan lingkungan belaj ar terutama di rumah. Kecemasan siswa lainnya dalam hubungan pribadi dengan teman sebayanya, si swa ingin terlihat lebih menarik dimata teman-temannya, suka menyesali diri send iri, dan menginginkan mempunyai kawan akrab sesama jenis, karena siswa tidak nya man apabila mempunyai teman dekat lawan jenis. Pada dasarnya siswa mempunyai bakat yang belum diasah, karena siswa memili h poin terkadang hobinya mengganggu jam belajar, dan ingin lebih menggali bakat dan kemampuan yang ia miliki, karena hal ini berpengaruh terhadap penentuan dan cita-cita siswa, siswa belum terbayang setelah tamat sekolah akan melanjutkan ke mana dan menjadi apa, karena kurangnya pengetahuan siswa akan masa depan, sehing ga siswa menyimpulkan bahwa apa yang dilakukannya sekarang tidak akan berpengaru h terhadap masa depannya kelak. 2. Wawancara Dari hasil wawancara yang dilakukan pada teman-teman MA, MA adalah salah s atu siswa di kelas 7E SMPN 232 Jakarta Timur, dalam kesehariannya siswa selalu d atang tepat waktu sebelum bel berbunyi, saat kegiatan belajar mengajar berlangsu ng siswa selalu diam memperhatikan, terkadang siswa menggambar-gambar robot, mem ainkan pulpen saat jam pelajaran sudah membuatnya bosan, akan tetapi dengan begi tu siswa terkadang dalam mengerjakan tugas tidak mengerjakan terutama dalam pela jaran matematika dan bahasa inggris. Jam istirahat berlangsung, biasanya siswa makan di kantin atau berkumpul m embaur dengan teman-teman lainnya di depan kelas. Siswa termasuk orang yang tid ak pernah menceritakan masalahnya kepada teman-temannya, ketika bergabung dengan teman-teman lainnya siswa lebih ingin bermain dengan teman-temannya, saat jam p ulang berbunyi siswa tidak pernah melakukan aktivitas lain di sekolah, langsung pulang ke rumah biasanya siswa sehari-hari. Sedangkan menurut hasil wawancara dari beberapa guru, diantaranya wali kel as, guru BK dan 4 guru mata pelajaran. M.A dalam sosialisasi dengan teman-teman sekelasnya tidak ada masalah, saat kegiatan belajar mengajar berlangsung konsel i kurang antusias dalam menanggapi pelajaran, terkadang memperhatikan akan tetap i pandangan kosong, dan cepat jenuh seperti menggambar dan lainnya, saat diberik an waktu untuk bertanya atau diberikan pertanyaan konseli tetap pasif, diam. PL KJ adalah salah satu pelajaran yang sama sekali belum pernah dihadiri oleh konse li, karena tidak masuk, untuk hasil ulangan yang didapatkan beberapa nilai ulang an kosong karena tidak mengikutinya, sehingga nilai UTS yang didapatkan pun tida k memuaskan dan di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Dalam mata pelajara n olahraga dan bahasa Indonesia saat mata pelajaran berlangsung, siswa terlihat aktif, dan cenderung tidak diam saja, tidak seperti mata pelajaran lainnya.

3. Observasi Saat mata pelajaran BK, observasi dilakukan untuk menilai kecenderungan perilaku MA ketika jam pelajaran berlangsung, MA fokus untuk memperhatikan guru yang sedang menjelaskan dan memberikan materi pelajaran, akan tetapi siswa tidak antusias dalam menanyakan berkaitan dengan materi yang dijelaskan, saat ada kel ompok pun siswa cenderung diam saja tidak melakukan aktivitas apapun dan tidak m elakukan tugas yang diberikan. Apabila ditanyakan oleh guru berkaitan dengan ma teri menjawab dengan ragu-ragu karena kurang fokus dalam mengikuti pembelajaran. Mata pelajaran kesenian adalah salah satu mata pelajaran penunjang kreatif itas siswa. MA, saat mata pelajaran kesenian berlangsung memang sedang tidak ad a gurunya, akan tetapi kelas sudah diberikan tugas menggambar, akan tetapi MA ti dak mengerjakan tugas yang diberikan dan hanya besenda gurau dengan teman-temann ya, dan tidak bertanya kepada teman apa tugas yang diberikan, terlihat lesu keti ka diberikan tugas dan harus mengerjakannya, tidak antusias terhadap pelajaran y ang sedang berlangsung 4. Studi dokumentasi a) Hasil raport MA siswa yang bernomor induk 10295 dengan nomor absen 17 di kelas 7e SMP N egeri 232 Jakarta Timur, dari hasil raport pra semester ganjil yang dibagikan ta nggal 3 Nopember 2012 ini, mendapatkan hasil diatas Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) sebanyak 4 mata pelajaran yaitu Pendidikan agama dengan nilai UTS 70, Baha sa Indonesia dengan nilai 70, Bahasa Inggris memperoleh nilai 85, dan Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan (Penjaskes) dengan nilai 79. MA memperoleh nilai di bawah KKM sebanyak 8 mata pelajaran dikarenakan da ri beberapa kali ulangan harian siswa hanya mengikuti beberapa kali ulangan, tid ak mengikuti UTS dan tidak pernah mengikuti ulangan harian mata pelajaran yaitu PLKJ. Mata pelajaran yang dimaksud adalah pendidikan kewarganegaraan, matematik a, IPA, IPS, Seni Budaya, TIK, PLKJ, dan Jasa Perniagaan. Beberapa nilai yang k osong dan belum masuk pada raport pra semester ganjil ini depengaruhi oleh ketid akhadiran siswa selama satu semester 14 hari sakit, dan 8 hari alfa terhitung bu lan Juli sampai Oktober. Kegiatan pengembangan diri belum ada, karena belum adanya pendaftaran ekst rakurikuler yang diinginkan untuk kelas satu semester ganjil, pendaftaran akan d iadakan pada semester genap. Siswa mempunyai akhlak dan kepribadian yang baik s elama satu semester ini. b) Buku pribadi Siswa yang lahir di Jakarta, 9 Agustus 1999 dengan jenis kelamin laki-laki bernama Mika Aguleo, adalah siswa yang mempunyai hobi bermain bola dan menggamb ar, siswa sekarang tinggal bersama kedua orangtuanya di JL.Pisangan Baru Timur n o. 10, jarak dari rumah ke sekolah kurang lebih 1-5 kilometer biasa diantar ata u dijemput saat ke sekolah dan pulang ke rumah oleh mama siswa. Anak ke 4 dari 7 bersaudara adalah anak dari pasangan Husein Azhary yang b ekerja sebagai karyawan swasta dan Wismiastiti Hermarini sebagai ibu rumah tangg a, siswa dengan IQ rata-rata (90-109) ini berkulit sawo matang dengan berat bada n 32 kg, dan tinggi 155 cm, tidak memiliki cacat tubuh seperti kelainan mata, te linga dan lainnya, tetapi siswa memiliki penyakit sinus yang sedang di deritanya . Setelah lulus sekolah siswa mempunyai keinginan bekerja, siswa menginginkan m engambil jurusan teknik untuk meneruskan studinya kelak, dukungan dari orangtua merupakan hal yang utama dalam karir siswa. 5. Home visit ( kunjungan rumah) Kegiatan home visit dilakukan untuk dukungan data yang dikumpulkan untuk me mberikan informasi mengenai kegiatan siswa dan kebiasaan siswa di rumah. Tujuan home visit yang dilaksanakan ini adalah untuk mengetahui alasan siswa tidak had ir ke sekolah, serta memberikan semangat kepada siswa, dan bertemu langsung deng an orangtua siswa agar orangtua siswa dapat mendukung kegiatan positif yang dila kukan demi kemajuan siswa dalam akademik maupun non akademik di sekolah. Hasil yang didapatkan saat kegiatan home visit, siswa membuka tempat les ba hasa inggris di rumahnya untuk pelajar Sekolah Dasar dan beberapa mata pelajaran seperti matematika dan IPA dengan memanggil guru dari luar. Kegiatan berlangsu ng di rumah siswa yang cukup besar untuk menampung siswa yang privat. Pada saat

home visit siswa tidak hanya tinggal dengan kedua orangtua dan saudara-saudara kandungnya, tetapi siswa tinggal dengan kakeknya. Siswa pada saat berkunjung sedang sakit, setelah beberapa hari tidak hadir di sekolah, dan tidak memberikan kabar berupa telepon, surat maupun SMS kepada w ali kelas maupun guru di sekolah. Siswa mengalami bengkak di tangan sehingga me mbuat badannya panas dan meriang, praktikan dan wali kelas memberikan informasi apabila tidak hadir bisa memberitahukan kepada pihak sekolah. Kegiatan siswa selama tidak masuk sekolah adalah menonton televisi, diam di rumah tanpa melakukan kegiatan lain. Menurut ibu siswa, biasanya siswa belajar selama 1 jam di malam hari, apabila mempunyai waktu luang siswa selalu bermain ke warnet sebelah rumah dan bermain futsal di lapangan kompleks dekat rumahnya. Orangtua siswa sudah mengetahui kegiatan siswa sehari-hari sehingga dirasa aman untuk kegiatan sehari-hari siswa. 5. Informasi latar belakang Siswa bernama MA berjenis kelamin laki-laki yang sekarang berada di kelas 7E SMPN 232 Jakarta. MA sekarang tinggal Jl. Pisangan Baru Timur RT 05/015 no.1 0, bersama dengan kedua orangtua kandungnya yaitu ayah Husein azhary dan Ibu Wis miastiti hermarini. Saat ini MA segala kebutuhannya dibiayai oleh ayahnya yang bekerja sebagai karyawan swasta di salah satu pabrik minyak di Indonesia, dan Ib u sebagai ibu rumah tangga yang mengatur anaknya sebanyak 7 orang, MA sendiri ad alah anak ke 4. MA berasal dari SDN 05 pisangan baru, sekarang berusia 13 tahun dan lahir di Jakarta pada tanggal 9 Agustus 1999. 6. Kesimpulan/ diagnosa, prognosa dan rekomendasi a. Diagnosa Konseli tidak masuk sekolah (absen) selama 1 semester/ 5 bulan sudah 30 hari A : terdiagnosa mempunyai penyakit sinus, kurang semangat dalam belajar B : tingkah laku : tidak masuk sekolah dalam 3 bulan sudah 22 kali Frekwensi : seminggu bisa 3-4 hari tidak masuk C : - Nilai konseli menurun - Tidak naik kelas - Tertinggal materi pelajaran b. Prognosa Tujuan konseling adalah membantu konseli untuk dapat merubah tingkah laku sering tidak masuk menjadi masuk. Apabila masalah konseli tidak segera dituntas kan akan berdampak negatif dan akan menimbulkan konsekwensi berupa nilai konseli menurun, tidak naik kelas, tertinggal materi pelajaran c. Rekomendasi Pendekatan yang akan digunakan dalam masalah konseli yaitu pendekatan Beha vior, dengan teknik yang akan digunakan adalah contingency contracting, tahapann nya sebagai berikut : a) Tahap I, Melakukan asesmen. b) Tahap II, Menetapkan tujuan. c) Tahap III, Implementasi teknik. d) Tahap IV, Evaluasi dan pengakhiran. 7. Hasil konseling Konseling yang dilakukan selama 35 menit ini, dimana konselor menjelaskan k epada konseli mengenai apa saja yang akan dilakukan selama 3 minggu untuk memper baiki kehadiran konseli dan tidak absen. Berikut adalah tahapan-tahapan serta h asil yang dicapai dalam tahapannya. * Tahap 1, tahap ini didapatkan sebelum konseling berlangsung, melalui wawancara dan analisis ABC diketahui apa penyebab masalah dan masalah konseli sesungguhny a, serta mengidentifikasi apa akibat dari masalah yang dialami oleh konseli apab ila itu tidak ditangani. Tahapan ini berhasil dilakukan, yaitu menganilisis pen yebab tingkah laku dengan data-data yang diperoleh melaluui hasil DCM, wawancara , observasi, dan studi dokumentasi kemudian dilakukan analilis ABC. * Tahap 2, mulai dari tahapan ini dilakukan pada saat konseling berlangsung, set elah mengetahui masalah konseli, praktikan dan konseli menyusun tujuan konseling bersama agar masalah konseli terselesaikan. Tujuannya yaitu selama 3 minggu un tuk memperbaiki kehadiran konseli dan tidak absen, melalui teknik pembuatan kont

rak (contingency contracting), dimana konseli akan melakukan kontrak yang sudah disetujui dengan memberikan penguatan apabila kontrak yang disetujui oleh konsel i dapat tercapai yaitu, Masuk sekolah setiap hari (senin- jumat) selama 3 minggu berturut-turut. Konselor membuat format contingency contracting yang kemudian diisi oleh k onseli. Tahapan ini berhasil dilakukan dengan penguatan berupa pemberian sketch book (buku sketsa) karena konseli mempunyai hobi menggambar, apabila kontrak yan g telah disetujui oleh kedua belah pihak, yaitu konseli dan konselor terpenuhi. Apabila tidak terpenuhi, tidak ada hukuman maupun kontrak berikutnya. Kontrak ini berlaku sejak 29 Oktober 2012 sampai 13 November 2012. * Tahap 3, implementasi teknik dari contingency contracting, dimana konseli akan mengisi format yang telah disediakan oleh konselor berisi kontrak perjanjian be rkelanjutan selama 3 minggu berturut-turut untuk masuk sekolah dan tidak absen, dengan kesepakatan pernyataan dianggap berhasil apabila Saya masuk dalam 3 minggu dari senin-jumat. Dan tidak izin tanpa alasan apapun termasuk sakit. Kecuali sa kit berat dan sudah mendapatkan diagnosa dari dokter . Konseli mengisi bagian yang telah disediakan. Kemudian konselor dan konseli menyepakati kontrak. Tahap in i berhasil dilakukan. * Tahap 4, evaluasi dan pengakhiran. Konseli yang sudah diberikan format contin gency contracting, yang selama beberapa waktu telah ditetapkan mengenai frekwens i kontrak, setelah itu diadakan pertemuan kembali terkait pelaksanaan dan pengua tan yang akan diberikan. Konseli akan mengetahui apa yang bisa konseli dapatkan dari kontrak, dan tujuan konseling tercapai. Kontrak yang telah ditetapkan tidak berhasil, dari 21 hari (3 minggu) yang tercantum dalam kontrak dan sudah disetujui oleh konseli dan konselor sebagai d asar perubahan tingkah laku, dan adanya penguatan agar konseli termotivasi masuk sekolah ini, hanya 8 hari aktif masuk dan 13 hari lainnya siswa tidak masuk sek olah dengan alasan sakit, tetapi tidak memberikan surat dokter sesuai kesepakata n melainkan melalui via telpon dan sms kepada wali kelas, beberapa hari ijin dan 1 hari alfa. 8. Refleksi Konseling yang dilakukan selama 35 menit ini, menggunakan teknik contingen cy contracting. Kesepakatan atau kontrak yang telah dibuat dengan penguatan seb elumnya sudah disepakati oleh konseli dan konselor, hanya saja pada kenyataannya sebuah kesepakatan sulit untuk dijalani, terutama apabila dari dalam diri konse li sendiri tidak ingin benar-benar mengubahnya, dan hanya menganggap kontrak ini sebagai bahan evaluasi dan laporan kedepannya kepada wali kelas, orangtua dan p ihak-pihak terkait. 3 minggu dengan kesepakatan akan masuk sekolah berturut-tur ut, dan usaha ini akan berhasil apabila dalam 3 minggu (21 hari) berturut-turut masuk sekolah, dan apabila izin sakit memberikan surat keterangan dari dokter ba hwa konseli mengidap penyakit/ sedang sakit berat, ternyata tidak berhasil. 8 h ari aktif dari 21 hari yang ditentukan, dan 13 hari lainnya konseli meminta izin kepada wali kelas melalui telpon, sms, yang tidak sesuai dengan perjanjian, beb erapa hari alfa dan 1 hari ijin. Dalam prosesnya konselor sudah dapat mengawasi kehadiran konseli dalam men jalankan kesepakatan. Faktor stakeholder yang kurang mendukung dan tidak menget ahui arti penting perubahan tingkah laku konseli, dan hanya sekedar perjanjian b iasa saja, membuat perubahan yang dilakukan oleh konselor tidak membuahkan hasil yang positif, serta kurangnya lebih banyak motivasi yang diberikan dari konselo r maupun stakeholder dalam menangani kasus konseli. F. LAPORAN KONSELING KELOMPOK 1. Pendahuluan Konseling kelompok merupakan salah satu program layanan Bimbingan Konselin g, konseling kelompok termasuk ke dalam layanan responsif dalam Bimbingan Konse ling. Tujuan pelayanan responsif adalah membantu konseli agar dapat memenuhi ke butuhannya dan memecahkan masalah yang dialaminya atau membantu konseli yang men galami hambatan, kegagalan dalam mencapai tugas-tugas perkembangannya. Tujuan pe

layanan ini dapat juga dikemukakan sebagai upaya untuk mengintervensi masalah-ma salah atau kepedulian pribadi konseli yang muncul segera dan dirasakan saat itu. Hal tersebut berkenaan dengan masalah sosial-pribadi, karier dan atau masalah p engembangan pendidikan. Konseling kelompok bertujuan menyelesaikan masalah pada individu, dengan m emaparkan masalahnya pada kelompok, dan mendapatkan pendapat-pendapat tentang ma salah dari setiap anggotanya. Sehingga konseli dapat secara mandiri memilih alt ernatif pemecahan masalah. Dalam konseling kelompok konseli dapat mengembangkan berkomunikasi dengan baik, satu sama lain sehingga mereka dapat saling memberik an bantuan dalam menyelesaikan tugas-tugas perkembangan yang khas pada fase perk embangan mereka. Persahabatan dalam sebuah kelompok yang sudah terjalin lama, tentunya memb uat satu sama lain antar anggotanya semakin erat, mengetahui kebaikan dan keburu kan masing-masing anggotanya, akan tetapi, persahabatan akan memburuk apabila se lama prosesnya setiap anggota tidak memahami satu sama lain, tidak terbuka satu sama lain, tidak menghargai perbedaan yang ada, egois dan saling memendam apa ya ng tidak disukai dari sikap ataupun sifat dari sahabatnya. Konseling kelompok, dirasakan baik dalam menangani permasalahan bidang pribadi-sosial yang terdapat dalam sebuah kelompok yang bersahabat. Dengan adanya konseling kelompok, konsel i (tiap anggota) dapat mengemukakan apa yang mereka inginkan, apa yang tidak dis ukai, bagaimana konseli dapat berkomunikasi secara terbuka, rahasia dan asli, ba gaimana keputusan terbaik dalam kelompok dan untuk kelompok itu sendiri. 2. Deskripsi kasus Siswi kelas 7G dan 7H di SMP Negeri 232 Jakarta Timur bernama KN, GM, RS, KM, ZR,VN adalah sekelompok sahabat yang berbeda kelas, konseli sudah saling men genal dari mulai awal masuk SMP, tepatnya pada saat masa orientasi sekolah. Mer eka saling mendukung satu sama lain. Akan tetapi, sebuah pertemanan tidak akan s emulus yang dibayangkannya, semakin hari semakin terlihat bagaimana bentuk komun ikasi, sikap dan sifat yang diperlihatkan dari masing-masing anggota. Sampai su atu waktu mereka dekat dengan salah seorang kaka kelas SF , dan mereka mengungka pkan ketidaksukaannya kepada teman dari SF bernama FB, pendapat pada FB ternyata diterima dengan salah paham, dan membuat FB melabrak mereka, ternyata setelah beb erapa lama sebenarnya FB hanya tidak menyukai KM. Hal ini mengawali dan memberikan kesan negatif dari konseli lainnya, sehin gga mereka saling membicarakan satu sama lainnya, karena sikap yang semena-mena, sifat yang tidak disukai karena centil, cari perhatian, suka pamer, cengeng, su ka merahasiakan sesuatu dan lainnya, hal tersebut diungkapkan secara satu persat u mendatangi praktikan. Oleh karena itu, praktikan ingin menyelesaikan unfinish ed bussiness yang terjadi dalam kelompok, agar kelompok dapat terbuka, menerima dirinya dan oranglain dan tidak ada kesalahpahaman di waktu mendatang. 3. Tujuan konseling Tujuan konseling adalah membantu agar konseli dapat berbicara dan melakuka n sesuatu yang diinginkan dirinya kepada sahabat dalam kelompok, untuk dapat meb uka diri dan melakukan perubahan baru. 4. Hasil konseling Konseling yang dilakukan 50-60 menit, dimana konselor menjelaskan kegiatan apa saja yang akan dilakukan, untuk menyelesaikan masalah konseli yaitu dengan teknik making the rounds, bagaimana cara-cara dan tahapannya selama konseling. Berikut adalah langkah-langkah dalam teknik making the rounds : * Tahap 1 .Praktikan menggunakan metode fenomenologi untuk meningkatkan kesadara n konseli, menciptakan hubungan dialogis mendorong keberfungsian konseli secara sehat dan menstimulasi konseli untuk mengembangkan dukungan pribadi dan lingkung annya berupa saling memahami dan menghargai perbedaan dalam kelompok. Tahapan i ni berhasil dilakukan dengan menstimulasi konseli bahwa konseling yang dilakukan didasarkan pada kepercayaan, saling menghargai dan bukan untuk merusak perteman an konseli. * Tahap 2. Proses konseling pada strategi yang lebih spesifik. Konseli mengksp lorasi berbagai introyeksi, unfinished bussiness. Konselor membawa konseli pada perasaan-perasaan yang dirasakan konseli, dan konseli mengungkapkan apa saja ya ng ingin dibicarakan pada konseli lainnya dalam kelompok, dengan berkeliling sat

u persatu kepada anggota lainnya, dalam hal ini anggota lainnya tidak boleh berk omentar apapun dan tidak melakukan kode atau isyarat nonverbal pada konseli yang sedang melakukan making the rounds. Tahapan ini berhasil dilakukan, konselor m emberikan arahan kepada konseli dengan dialog apa yang kalian rasakan dan ingin k alian ungkapkan kepada teman kalian, dan apa yang kalian tidak suka dengan teman kalian silahkan mengungkapkannya , dengan syarat anggota yang lainnya tidak membe rikan komentar apapun ketika anggota yang sedang melakukan making the rounds mel akukannya. * Tahap 3. Aktivitas yang dilakukan konseli dengan megeksplorasi masalahnya sec ara mendalam dan melakukan perubahan yang cukup signifikan. Konseli melakukan m aking the rounds setelah mengungkapkan apa yang dirasakan dan ingin dikatakan, k emudian konseli mengungkapkan keinginan anggota lain seperti apa di kemudian har i. Tahapan ini berhasil dilakukan, setelah melakukan making the rounds mengungk apkan hal yang menjadi unfinished bussiness kemudian konseli diakhir kalimat men gungkapkan apa yang diinginkan di kemudian hari. * Tahap 4. Konseli telah mampu menerima ketidakpastian, kecemasan dan ketakutan serta menerima kehidupannya sendiri. Konseli sudah dapat mengungkapkan apa yan g dirasakan, setelah mengungkapkan konseli sudah pada tahap bahwa setiap orang b erbeda, dan ia harus mampu menerima kekurangan dari temannya, dan bertanggungjaw ab atas kehidupannya sendiri tanpa memusingkan perbedaan yang terjadi. * Tahap 5. Konseli siap untuk memulai kehidupan secara mandiri tanpa supervisi konselor. Konseli menemukan insight pada pikirannya dan mulai untuk memahami li ngkungan sekitarnya, dengan perbedaan yang ada pada kelompok. Tahapan 4 dan 5 be rhasil dilakukan dengan memahami bahwa teman-temannya memiliki kelebihan dan kek urangan yang berbeda-beda. 5. Refleksi Konseling kelompok yang dilakukan selama 50-60 menit pada setiap pertemuan nya. Pertemuan konseling dilakukan sebanyak 4 kali yaitu pada tanggal 6, 8, 22, 28 november 2012 bertempat di Ruang BK. Dalam pelaksanaannya konselor telah me laksanakan dengan sebaik mungkin. Jadwal yang tidak sesuai dengan rencana awal dikarenakan kesibukan salah satu anggota yang tidak memungkinkan untuk dilakukan nya konseling sesuai jadwal awal. Kesulitan konseli dalam mengatur jalannya kon seling ketika menerapkan teknik making the rounds karena konseli yang sedang di koreksi selalu ingin klarifikasi ketika konseli lainnya mengungkapkan ketidaksuk aannya, akan tetapi dapat ditangani dengan mengembalikan kepada tujuan dan syara t apa saja yang sudah disepakati. Konselor dapat membuat fokus dengan baik keti ka konseling kelompok berlangsung, menggunakan cutting off apabila anggota sudah tidak berada dalam fokus atau tidak sesuai dengan tujuan. G. LAPORAN EVALUASI PROGRAM 1. Deskripsi data pencapaian tujuan layanan Kelas VII E dan VII G SMPN 232 Jakarta 1) Pencapaian siswa terhadap kompetensi / tujuan layanan pada program bimbingan awal semester (sebelum diberikan program) Berdasarkan instrumen evaluasi hasil yang diberikan kepada 65 siswa kelas VII s ebelum diberikan program bimbingan klasikal, dapat diketahui bahwa capaian siswa yaitu sebagai berikut: Satuan layananRerata pencapaian terhadap tujuan layanan (sebelum program) %Perbedaan di SD dan SMP 44,76Manajemen waktu36Komunikasi teman sebaya40,41Perbe daan perasaan dan emosi36,30Asertif38,35Perbedaan gender dan seks27, 18Motivasi berprestasi35,89 Percaya diri32,92 2) Pencapaian siswa terhadap kompetensi / tujuan layanan pada program bimbingan akhir semester (sesudah diberikan program) Berdasarkan instrumen evaluasi hasil yang diberikan kepada 65 siswa kelas VII E dan G SMPN 232 sesudah diberikan program bimbingan klasikal, dapat diketahui ba hwa capaian siswa yaitu sebagai berikut: Satuan layananRerata pencapaian terhadap tujuan layanan (sesudah program)

%Perbedaan di SD dan SMP 82,92Manajemen waktu77,23Komunikasi teman sebaya75,89Pe rbedaan perasaan dan emosi82,46Asertif74,46Perbedaan gender dan seks79,38Motivas i berprestasi80 Percaya diri84,15 2. Analisis data perbedaan pencapaian siswa terhadap kompetensi/ tujuan layanan program bimbingan awal semester dan akhir semester 3. Berdasarkan hasil tabulasi data pada kelas VII E dan VII G dapat diketahui ba hwa sebelum program bimbingan klasikal dilaksanakan siswa hanya memiliki pengeta huan tentang topik-topik bimbingan klasikal sebesar 36,27% dan setelah program d ilaksanakan pengetahuan siswa mengalami peningkatan sebesar 42,86% yaitu menjadi 79,13%. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada tabel berikut: Satuan LayananCapaian awal (sebelum program) %Capaian akhir (setelah program) %Peningkatan %Perbedaan di SD dan SMP 44,7682,9238,16Manajemen waktu3677,2341,23Komunikasi te man sebaya40,4175,8935,48Perbedaan perasaan dan emosi36,3082,4646,16Asertif38,35 74,4636,11Perbedaan gender dan seks27,1879,3852,2Motivasi berprestasi35,898044,1 1 Percaya diri32,9284,1551,23 4. Keputusan Keputusan diambil berdasarkan perbandingan antara peningkatan capaian dan kriteria keberhasilan. Kelas VII SMP Negeri 232 Jakarta, pencapaian siswa dari k elas VII E dan VII G terhadap tujuan layanan program bimbingan mengalami peningk atan melebihi kriteria dan standar keberhasilan program yang telah ditetapkan. J adi dapat dikatakan bahwa program bimbingan klasikal yang dilaksanakan mengalami keberhasilan. Program tersebut memberikan pengaruh positif bagi perkembangan si swa. 5. Rekomendasi Berdasarkan evaluasi hasil program bimbingan, dapat diketahui bahwa progra m yang dijalankan berdampak positif dalam meningkatkan pemahaman siswa mengenai topik-topik yang dibahas dalam bimbingan klasikal. Siswa mengalami peningkatan d alam memahami perbedaan di SD dan SMP, manajemen waktu, komunikasi teman sebaya, perbedaan perasaan dan emosi, asertif, perbedaan gender dan seks, motivasi berp restasi, percaya diri. Oleh karena itu, disarankan agar program ini tetap dilanj utkan dengan adanya pembaharuan dan perbaikan positif guna memperoleh program bi mbingan yang lebih baik lagi. H. LAPORAN KEGIATAN NON BK Kegiatan non BK yang dilakukan diantaranya adalah piket harian, yang dilak ukan pada hari Senin dan menggantikan jam mata pelajaran yang kosong dikarenakan guru mata pelajaran yang tidak dapat hadir. Berikut adalah rincian kegiatan pi ket harian yang dilakukan: Daftar Kegiatan Piket Harian 13.00- Membunyikan bel PukulKegiataan12.30 - Menuliskan siswa yang terlambat hadir ke sekolah13.00 14.00Merekap daftar sisw a yang terlambat alam agenda harian dan daftar kehadiran siswa14.00 15.00Menanya kan ketidakhadiran setiap siswa pada semua kelas15.00 15.30Merekap ketidakhadira n siswa pada agenda harian dan daftar kehadiran siswa15.30 16.30Menjaga meja pik et bersama guru yang piket pada hari tersebut.

PAGE

\* MERGEFORMAT 72