Anda di halaman 1dari 17

Culture shock.

Latar Belakang Program internasional yang dibuka oleh beberapa sekolah di dunia membuka kemungkinkan adanya siswa-siswa yang datang dari budaya yang berbeda untuk belajar bersama-sama di tempat yang mereka datangi. Di Indonesia sendiri, semakin banyak dibuka sekolah internasional yang memungkinkan diterimanya pelajar dari negara lain untuk belajar di Indonesia. Demikian juga, tak kalah banyak, masyarakat Indonesia yang memilih untuk mengirimkan anak-anak mereka untuk bersekolah di luar negri yang mengharuskan mereka menyesuaikan diri dengan budaya baru. Riset secara khusus mengenai bagaimana kemampuan penyesuaian diri mereka di negara atau budaya baru yang mereka datangi belum banyak dikuak oleh para peneliti Indonesia. Namun, secara umum, fenomena datangnya para pendatang di negara baru ini telah menggugah beberapa peneliti untuk melakukan riset mengenai penyesuaian diri para siswa internasional ini. Meskipun beberapa riset dikembangkan dari berbagai pendekatan yang berbeda, namun ternyata ditemukan adanya hasil yang konsisten yaitu bahwa ada persoalan-persoalan yang muncul dalam hal penyesuaian diri para siswa ini (Charles & Stewart,; Das, Chow & Rutherford; Searle & Ward, dalam Chapdelaine, 2004). Di antara beberapa persoalan penyesuaian diri yang dialami para siswa ini, salah satu persoalan yang dianggap sebagai issue mendasar yang khas dialami oleh siswa-siswi internasional adalah adanya fenomena culture shock. Fenomena culture shockdianggap menjadi persoalan mendasar bagi para siswa internasioanal karena seringkali fenomena inilah yang menjadi akar dari berbagai kesulitan penyesuaian diri yang dialami oleh siswa-siswi internasional. Hal ini terjadi dikarenakan kultur bisa menjadi kompas bagi arah perilaku, dan menuntun cara berpikir dan berperasaan individu. Ketika individu berada dalam kultur yang berbeda, ia bisa mengalami kesulitan bila kompas yang digunakannya tidak menunjukkan arah yang sama dengan kompas budaya setempat. Mengingat hal itu, maka pembicaraan mengenai penyesuaian diri siswa-siswi internasional tidak dapat dilepaskan dari akar persoalan mereka saat berada di lingkungna yang baru, yaitu pengalamanculture shock. Namun lepas dari konteks globalisasi pendidikan di atas, sebenarnya antar suku di Indonesia sendiri memungkinkan penduduk Indonesia untuk

diharuskan belajar budaya baru saat mereka keluar dari tempat tinggalnya, mengingat begitu berbedanya budaya satu dan budaya lainnya di Indonesia. Dalam hal ini, konteks bercampurnya siswa-siswi dari budaya yang berbeda yang terjadi di Indonesia bisa dikatakan bukanlah hal yang baru. Mengingat begitu beragamnya budaya di Indonesia, maka potensi untuk terjadinya culture shock di antara para penduduk yang tinggal di tempat baru di Indonesia juga akan semakin besar. Selain itu, riset Chapman (2005) juga menemukan bahwa pelajar yang belajar di negrinya sendiri, namun memiliki guru dari budaya yang berbeda, juga bisa mengalami culture shock sebagai akibat dari keterlibatan antara guru dan murid. Meskipun kemungkinan terjadinya culture shock semakin banyak di Indonesia, namun minat untuk membahas mengenaiculture shock ini belum banyak ditemui dalam berbagai literature di Indonesia. Mengingat hal tersebut, penulis memandang perlunya mengangkat topik culture shock ini dalam pembahasan ilmiah di Indonesia. Tulisan ini bermaksud untuk memberikan gambaran mengenai fenomena culture shock, faktor-faktor penyebab dan kemungkinan-kemungkinan untuk mengatasi terjadinya culture shockberdasarkan berbagai literature dan hasil riset. Diharapkan melalui tulisan ini pembaca akan mendapatkan wawasan yang cukup mengenai culture shock dan dapat memetik manfaat agar dapat menggunakan informasi ini untuk membantu diri sendiri ataupun orang lain agar terhindar dari culture shock, ataupun mampu mengatasi culture shock saat berada di budaya yang berbeda. Selain itu. tulisan ini juga merupakan usaha untuk menambahkan minimnya literature mengenai culture shock di Indonesia. Bila memungkinkan tulisan ini juga diharapkan dapat membuka wawasan bagi pembacanya atas peluang-peluang riset yang mungkin dilakukan mengenai fenomena culture shock di masa mendatang. Definisi Culture Shock Istilah culture shock awalnya terdokumentasi dalam jurnal medis sebagai penyakit yang parah (berpotensi hilangnya nyawa seseorang), yang diperoleh individu saat ia secara tiba-tiba dipindah ke luar negri (www.wzo.org.il/en/resources/view.asp?id=1445). Namun istilah culture shock dalam istilah sosial pertama kali dikenalkan oleh seorang sosiolog Kalervo Oberg di akhir tahun 1960. (dalam Irwin, 2007) mendefinisikan culture shock sebagai penyakit yang diderita oleh individu yang hidup di luar lingkungan kulturnya. Istilah ini mengandung pengertian adanya perasaan

cemas, hilangnya arah, perasaan tidak tahu apa yang harus dilakukan atau tidak tahu bagaimana harus melakukan sesuatu, yang dialami oleh individu tersebut ketika ia berada dalam suatu lingkungan yang secara kultur maupun sosial baru. Oberg (dalam Irwin, 2007) lebih lanjut menjelaskan hal itu dipicu oleh kecemasan individu karena ia kehilangan symbol-simbol yang selama ini dikenalnya dalam interaksi sosial, terutama terjadi saat individu tinggal dalam budaya baru dalam jangka waktu yang relative lama. Definisi Adler (1975) lebih menekankan bahwa culture shock adalah suatu rangkaian reaksi emosional sebagai akibat dari hilangnya penguatan (reinforcement) yang selama ini diperoleh dari kulturnya yang lama, diganti dengan stimulus dari kultur baru yang terasa tak memiliki arti, dan karena adanya kesalahpahaman pada pengalaman yang baru dan berbeda. Perasaan ini mungkin meliputi rasa tak berdaya, mudah tersinggung, perasaan takut bahwa orang lain akan berbuat curang padanya karena ketidaktahuannya, perasaan terluka dan perasaan diabaikan oleh orang lain. Guanipa (1998) menambahkan bahwa perasaan tidak nyaman akibat culture shock tidak hanya melulu reaksi emosioanl, tetapi juga meliputi reaksi fisik yang diderita individu ketika mereka berada di tempat yang berbeda dari tempat asalnya. Pengalaman ini juga bisa disebabkan bukan saja karena budaya, dan norma-norma masyarakat yang berbeda, tetapi juga karena iklim, makanan, teknologi yang berbeda dari negara asal dengan negara yang didatanginya. Berbagai keberbedaan tadi menimbulkan perasaan asing, kehilangan orientasi dan kebingungan. Milton (1998) mengamati bahwa pengalaman culture shock itu sendiri bisa sangat unik antara satu orang dengan yang lain, karena berbagai penyebab yang sifatnya bervariasi pula antara satu individu dengan individu lain, maupun antara satu dan budaya lain yang dimasuki individu tersebut. Pengalaman culture shock ini sebenarnya dianggap hal yang wajar yang banyak dialami oleh individu yang berada dalam lingkungan yang baru (Guanipa, 1998). Hanya saja, tingkat gangguan yang dialami oleh individu tersebut bisa berbeda dari satu orang ke orang yang lain, tergantung dari beberapa faktor yang ada dalam diri individu tersebut. Tahap terjadinya Culture Shock Furnham dan Bochner (1986) menggunakan istilah berbeda bagi individu yang tinggal di kultur baru berdasarkan lamanya ia tinggal. Turis adalah mereka yang tinggal di suatu kultur baru namun tidak terlalu lama

(kurang dari 6 bulan). Sedangkan mereka yang tinggal dalam waktu lama dikenal dengan istilah sojourner (sekitar 6-bulan s.d. 5 tahun) yang dibedakan dengan imigran yang tinggal selamanya di negara yang baru . Pada saat seseorang memasuki kultur yang baru, ada beberapa tahap yang biasanya dialami individu tersebut sehubungan dengan culture shock (Oberg dalam Irwin, 2007; Guanipa, 1998). Tahap-tahap ini dikenal dengan istilah U-Shape, Yaitu: 1. Tahap Honey moon/ Euphoria/ Fun Ini adalah saat pertama kali individu datang ke tempat yang baru, biasanya berlangsung sekitar beberapa hari sampai beberapa bulan. Pada masa ini individu masih terpesona dengan segala sesuatu yang baru. Periode ini ditandai dengan perasaan bersemangat, antusias, terhadap kultur baru dan orangorangnya. Pada masa ini perbedaan-perbedaan budaya masih dianggap sebagai sesuatu yang menarik dan menyenangkan. Hal ini bisa dikatakan sebagai masa pengalaman menjadi turis. Biasanya turis akan pulang sebelum masa honeymoon selesai, sehingga yang tersisa dalam kenangannya adalah berbagai hal menyenangkan yang ia temui di tempat barunya. Namun bila seseorang tinggal di tempat ini lebih lama, bisa jadi keadaan ini akan diikuti dengan menurunnya suasana hati ketika individu sudah mulai mengalami persoalanpersoalan yang muncul karena adanya keberbedaan budaya.

2. Tahap Krisis yaitu: agresif/ regresi/Flight Pada tahap berikutnya, individu seringkali dihadapkan pada berbagai macam perbedaan budaya yang ternyata dapat memicu persoalan-persoalan yang belum pernah dihadapinya sebelumnya. Persoalan-persoalan yang nyata ini biasanya menimbulkan perasaan agresif, marah pada kultur barunya karena dianggapnya aneh, tidak masuk akal. Biasanya individu-individu akan berpaling kepada teman-teman senegaranya, yang dianggap lebih bisa diajak bicara dengan cara pandang yang sama karena memiliki kultur yang sama. Seringkali muncul pendewaan terhadap kultur asal, menganggap kultur asalnya adalah kultur yang paling baik, dan mengkritik kultur barunya sebagai kultur yang tidak masuk akal, tidak menyenangkan dan aneh. Kondisi mengkritik kultur baru ini bisa termanifestasi dalam kebencian terhadap kultur baru, menolak belajar bahasanya, terlibat dengan orang-orang di kultur baru tsb. Pada masa ini juga

muncul stereotip-stereotip tentang orang-orang dari kultur baru yang bisa menghalangi interaksi yang efektif dengan penduduk asli. Oberg (dalam Irwin 2007) menyebut masa ini sebagai masa krisis yang akan menentukan apakah individu akan tinggal atau meninggalkan tempat barunya. Pada masa ini pula bisa muncul keinginan regresi, keinginan-keinginan untuk pulang ke rumah, rindu dengan kondisi-kondisi yang ada di negri asalnya serta mendapatkan perlindungan dari orang-orang yang memiliki kultur yang sama.

3. Proses Adjustment Bila individu bertahan di dalam krisis, maka individu akan masuk pada tahap ketiga. Tahap ini terjadi apabila individu mulai bersedia untuk belajar kultur baru. Pada periode ini, individu mulai memahami berbagai perbedaan norma dan nilai-nilai antara kultur aslinya dan kultur baru yang saat ini dimasukinya. Ia mungkin mulai paham bagaimana cara menggunakan teknologi yang baru, telah mulai menemukan makanan yang lebih cocok dengan lidah dan perutnya, serta mengatasi iklim yang berbeda dll. Ia mulai menemukan arah untuk perilakunya, dan bisa memandang peristiwa-peristiwa di tempat barunya dengan rasa humor. Adler (1975) mengelaborasi konsep ini seperti dikembangkan dalam Furnham dan Bochner (1986), bahwa pertama-tama individu mengalami perasaan terisolasi dari kulturnya yang lama. Dan proses disintegrasi terjadi saat individu semakin sadar adanya berbagai perbedaan antara kultur lama dan kultur baru yang diikuti dengan penolakan terhadap kultur baru. Namun demikian, hal ini akan diikuti oleh integrasi dari kultur baru dan saat ia mulai menguasai bahasa setempat, ia semakin mampu menegosiasikan kebutuhannya sehingga tumbuh perasaan otonomi dalam dirinya. Dan akhirnya ia mencapai tahap kemandirian, dimana ia mampu menciptakan makna dari berbagai situasinya, dan perbedaan yang ada akhirnya bisa dinikmati dan diterima.

4. Fit/Integration. Periode berikutnya terjadi apabila individu mulai menyadari bahwa kultur barunya punya hal yang baik maupun hal yang buruk, dimana ia harus menyikapi dengan tepat. Pada masa ini akan terjadi proses integrasi dari halhal baru yang telah dipelajarinya dari kultur baru, dengan hal-hal lama yang

selama ini dia miliki, sehingga muncul perasaan memiliki. Ini memungkinkan munculnya definisi baru mengenai dirinya sendiri.

5. Re-entry shock Tahap terakhir ini dapat muncul pada saat individu kembali ke negri asalnya. Individu mungkin menemukan bahwa cara pandangnya terhadap banyak hal tidak lagi sama seperti dulu. Dan pada masa inipun membutuhkan kembali penyesuaian terhadap kulturnya yang lama sebagaimana ia dulu memasuki kultur yang baru. Dalam penelitian Gaw (2000) ditemukan bahwa individu yang kembali ke dalam negrinya dan mengalami re-entry culture shock yang tinggi akan menunjukkan adanya masalah dalam penyesuaian diri dan mengalami masalah rasa malu dibandingkan mereka yang mengalami re-entry culture shock yang rendah. Masing-masing tahap bukan berarti selalu dijalani secara urut ke jenjang berikutnya. Sangat mungkin bahwa individu yang telah memasuki jenjang berikutnya masih kembali mengalami jenjang sebelumnya ketika dihadapkan pada persoalan baru dalam penyesuaian dirinya. Gejala-Gejala Culture Shock Gejala munculnya culture shock bisa berbeda-beda antara satu orang dengan yang lain. Namun ada beberapa symptom yang biasanya ditunjukkan individu saat mengalami culture shock, yaitu antara lain (edweb.sdsu.edu/people/CGuanipa/cultshok.htm) : Perasaan sedih, kesepian, melankolis, merasa frustasi, kemarahan, kecemasan, disorientasi Menjadi lebih kuatir tentang kesehatan. Pada orang-orang yang datang dari negara yang lebih maju, biasanya menjadi lebih sensitive terhadap masalah kebersihan di tempat yang baru. Tidak bersedia makan atau minum dari makanan setempat, karena ketakutan akan berbagai penyakit dan sangat kuatir akan kehigienisan makanan dan penduduk setempat. Menderita rasa sakit di berbagai areal tubuh, muncul berbagai alergi, serta gangguan-gangguan kesehatan lainnya, seperti diare, maag, sakit kepala dll. Adanya perubahan temperamen, rasa depresi, merasa diri lemah dan rapuh, merasa tidak berdaya

Perasaan marah, mudah tersinggung, penyesalan, tidak bersedia untuk berinteraksi dengan orang lain Selalu membanding-bandingkan kultur asalnya, mengidolakan kultur asal secara berlebihan Kehilangan identitas, mempertanyakan kembali identitas diri yang selama ini diyakininya. Misalnya sebelumnya meyakini bahwa dirinya adalah orang yang cerdas, tiba-tiba kini merasa menjadi orang yang paling bodoh, aneh, tidak menarik dll. Mencoba terlalu keras untuk menyerap segala sesuatu yang ada di lingkungan barunya (karena rasa cemas ingin menguasai/memahami lingkungannya) yang justru bisa menimbulkan perasaan kewalahan. Tidak mampu memecahkan masalah sederhana Kehilangan kepercayaan diri. Secara singkat Irwin (2007) menyebutkan bahwa segala bentuk distress mental maupun fisik yang dialami di lokasi asing disebut sebagai gejala culture shock.

Efek Culture Shock Bagi para pelajar khususnya, berbagai gangguan yang dialami individu ini, menimbulkan persoalan-persoalan lainnya seperti ketidakmampuan menyelesaikan tugas-tugas sekolah dengan baik. Persoalan-persoalan emosional yang muncul kadang kala membuat siswa menjadi putus asa dan memutuskan untuk tidak melanjutkan studi dan memilih untuk kembali ke negara asalnya. Milton (1998) sebagai seorang tentara Amerika yang biasa di tempatkan di negara lain mengamati bahwa culture shock yang dialami tentaranya tidak hanya membuat kinerja tentara itu menjadi buruk, tetapi juga membuat kelompok tentara itu kehilangan niat baik dan pengaruhnya di negara baru tersebut. Lebih lanjut Milton meyakini bahwa individu yang gagal untuk beradaptasi dengan lingkungan yang baru juga akan mengalami kerugian pribadi. Tentara yang dikirimkan ke negara baru biasanya dipilih karena memiliki rasa harga diri dan ego yang sehat, sehingga bila di tempat baru tak mampu bekerja dengan baik maka biasanya ia akan mengalami tekanaan pada self-esteemnya.

Hopkins (1999) dan Roland (1988) menyatakan bahwa interaksi dengan kultur baru akan mendorong terjadinya self-directed analysis (analisa yang diarahkan kepada diri sendiri) yang memungkinkan individu untuk menemukan insight dari aspek psikisnya mengenai dirinya sendiri. Struktur baru ini akan semakin tampak melalui pengalaman emosional dan afektif saat berinteraksi dengan kultur yang baru. Dalam hal ini, pengalaman interaksi dengan kultur baru tampaknya tidak selamanya negatif. Namun sebaliknya, hal ini akan mendorong individu untuk mengenali dirinya lebih dalam dan menolong individu untuk mengenal dirinya dalam konteks yang lebih luas. Irwin (2007) juga menyatakan bahwa proses penemuan makna baru karena pengaruh kultur barunya memungkinkan individu kehilangan makna lama yang ia miliki dari kultur lamanya. Hal ini bisa saja membawa implikasi terjadinya krisis identitas dalam diri individu yang terpapar di suatu lingkungan baru. Faktor Penyebab Munculnya Culture Shock Lin (2007) menemukan dalam penelitiannya terhadap anggota Organisasi Komunitas Mahasiswa Cina di Amerika, bahwa fenomena culture shock bersifat kontekstual dan dialami dengan berbeda-beda dari generasi ke generasi berikutnya. Artinya, faktor yang mendorong bagaimana munculnya culture shock juga akan sangat spesifik tergantung pada di daerah mana individu tersebut berasal, di daerah mana individu berada, serta pada tahun atau masa seperti apa, akan sangat bervariasi. Fenomena mengapa culture shock dapat terjadi bisa dipandang dari beberapa pendekatan. Chapdelaine (2004) mencatat paling tidak terdapat empat pendekatan dalam menjelaskanfenomena culture shock. Pendekatan ini meliputi pendekatan: a) Pendekatan Kognitif Pendekatan ini mempostulasikan bahwa kemampuan untuk penyesuaian lintas budaya individu akan tergantung dari kemampuan individu tersebut untuk membuat atribusi yang tepat mengenail nilai-nilai kultur, kepercayaan, perilaku dan norma di lingkungan yang baru. Individu mengalami ketidakmampuan menyesuaikan diri karena mereka menggunakan standar kulturnya sendiri untuk menilai, menginterpretasikan dan berperilaku dalam lingkungan yang baru (Triandis dalam Chapdelaine, 2004). Hal inilah yang membuat penyesuaian dirinya menjadi tidak efektif karena perbedaan cara menginterpretasikan suatu kejadian bisa menimbulkan kesalahpahaman di sana sini. b) Pendekatan Perilaku

Menurut pendekatan ini, ketidakmampuan adaptasi terjadi karena individu tidak memahami sistim hadiah dan hukuman yang berlaku di kultur yang baru, dimana sistim hadiah dan hukuman ini bisa saja tergambar dalam perilaku verbal maupun nonverbal dalam kultur tersebut (Anderson dalam Chapdelaine, 2004). Dalam hal ini, bisa saja terjadi, hal yang di kultur asal dianggap sebagai hal yang dianggap baik, sehingga mendapatkan hadiah, mungkin di kultur baru dianggap buruk, sehingga mendapatkan hukuman. Misalnya saja: di Indonesia menanyakan Mau kemana? Dari mana? Sudah mandi atau belum? pada teman dianggap sebagai perhatian dan kepedulian. Bisa saja di negara yang lain dianggap terlalu mencampuri urusan orang dan membuat orang tersinggung. c) Pendekatan Fenomenologis Menurut pendekatan ini, culture shock merupakan pengalaman transisional dari kondisi kesadaran yang rendah akan diri dan kultur, ke kesadaran yang tinggi akan diri dan kultur (Adler, 1975; Bennett, dalam Chaldelaine, 2004). Menurut pendekatan ini, culture shock terjadi karena mereka tidak dapat lagi menggunakan referensi-referensi/nilai-nilai kulturnya untuk memvalidasi aspek penting kepribadiannya. Misalnya bila di kultur asalnya ia meyakini dirinya adalah anak baik-baik karena tidak pernah minum-minuman di bar, tidak melakukan seks bebas dengan lawan jenis,dll. Tetapi di lingkungan yang baru, ia tidak dapat menggunakan standar anak baik sebagaimana yang digunakan di kultur asalnya. Di tempat yang baru, kondisi ini justru membuatnya dicap sebagai anak ketinggalan jaman, kuno dan kolot. Dalam proses inilah seringkali individu mempertanyakan kembali keyakinan-keyakinan yang dulu pernah dimilikinya, bahkan mempertanyakan kembali konsep dirinya yang sebelumnya diyakini selama ini. Hal ini seringkali menimbulkan krisis tersendiri bagi individu tersebut. d) Pendekatan sosiopsikologis Pada pendekatan ini, meliputi d.1. Penyesuaian psikologis/afektif : ketidaksamaan kultur antara kultur asal dan kultur di tempat baru menimbulkan perasaan asing, perasaan kesepian, rasa keterhilangan di tempat yang baru bagi dirinya. d.2. Penyesuaian sosial: Dalam hal ini, culture shock terjadi karena individu tidak memiliki pemahaman budaya yang cukup untuk ia dapat berinteraksi dengan baik dengan warga lingkungan baru. Individu juga memiliki identitas kultur yang begitu besar sehingga menyulitkannya untuk beradaptasi dengan kultur yang baru.

Penelitian Chapdelaine (2004) yang dilakukan terhadap 150 siswa pria di universitas internasional Canada, menemukan bahwa hal yang mendasari munculnya culture shock adalah adanya kesulitan-kesulitan sosial antara individu tersebut dengan penduduk asli dari negara yang didatanginya. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa subjek penelitiannya melaporkan bahwa mereka memiliki lebih banyak kesulitan sosial di negara baru ini, dibandingkan saat mereka berada di negara asalnya. Lebih lanjut Chapdelaine juga menemukan bahwa culture shock yang dialami oleh individu berhubungan negatif dengan tingkat interaksi individu dengan penduduk asli. Semakin tinggi interaksi dengan penduduk asli maka semakin rendah culture shock yang dialami individu, sebaliknya, semakin rendah interaksi dengan penduduk asli, culture shock yang dialami semakin tinggi. Penelitian ini memberikan gambaran, bahwa tingkat interaksi dengan penduduk asli memiliki peranan dalam pengalaman culture shock pada individu. Hal ini mungkin terjadi karena culture shock sendiri muncul karena kurangnya pemahaman individu akan kultur baru yang dimasukinya. Kurangnya interaksi dengan penduduk asli menutup kemungkinan individu tersebut untuk mempelajari kultur baru yang dimasukinya, sehingga kesempatan untuk mengintegrasikan kultur baru dengan kultur lama yang dibawanya dari negara asal akan sulit untuk dilakukan. Lebih lanjut Chapdelaine (2004) mengembangkan penelitian ini dengan melihat hubungan beberapa variable lain dengan interaksi sosial dengan penduduk asli. Ternyata ditemukan bahwa perbedaan budaya antara kultur asalnya dengan kultur baru yang dimasukinya berhubungan positif dengan interaksi individu tersebut dengan penduduk asli yang didatanginya. Semakin besar perbedaan budaya, semakin rendah tingkat interaksi individu dengan penduduk asli negara tersebut. Hal ini mungkin disebabkan karena perbedaan budaya yang terlalu besar membuat individu kesulitan untuk melakukan interaksi dengan penduduk asli. Selain itu juga ditemukan bahwa semakin besar jumlah orang sebangsa yang ada di negara tersebut, semakin rendah tingkat interaksi individu dengan penduduk asli. Selanjutnya juga ditemukan bahwa bila siswa internasional tadi datang dengan membawa keluarga, maka semakin rendah pula interaksinya dengan penduduk asli. Kedua hal ini bisa dipahami karena adanya orang-orang senegaranya, maupun keluarganya, maka individu cenderung menjalin interaksi dengan orang-orang senegaranya maupun keluarganya. Hal ini semakin kuat terlihat pada mereka yang sibuk mengerjakan urusan studinya, sehingga pada

sisa waktu yang dimilikinya di luar kesibukannya untuk sekolah, individu lebih memilih untuk menghabiskan waktu dengan orang-orang yang dianggapnya dekat dan memahaminya (dalam hal ini keluarganya maupun orang-orang yang sebangsa dengan dirinya). Sementara itu, penelitian Lin (2007) menemukan bahwa interaksi dengan rekan sesama bangsa tidak terlalu banyak membantu untuk mengatasiculture shock apabila tidak dibarengi dengan program-program orientasi untuk memberikan dukungan sosial untuk terjadinya penyesuaian intercultural. Dalam penelitian Chapdelaine (2004) ini ternyata tidak ditemukan hubungan langsung antara besarya perbedaan budaya dengan culture shock yang dialami individu. Penelitian ini juga tidak menemukan hubungan antara besarnya paparan terhadap budaya yang berbeda di masa lalu dengan culture shock yang dialami oleh individu. Kedua hal ini mungkin mengindikasikan bahwa yang menjadi hal penting untuk menghindari culture shock adalah kemampuan individu untuk menyesuaikan diri, dan belajar dari budaya-budaya baru yang pernah dimasukinya. Meskipun budaya begitu berbeda, ataupun minimnya paparan terhadap budaya yang berbeda sebelumnya, tapi dengan kemauan untuk belajar, maka memungkinkan individu tadi untuk menyikapi dengan baik keberbedaan yang ada dan membantu individu untuk mengatasiculture shock. Saran Untuk Mengatasi Cultures-Shock Secara khusus penelitian Wang (2007) menemukan adanya efektifitas program-program pelatihan interkultural, memberikan manfaat yang sangat besar untuk membantu individu mengatasiculture shock. Dalam penelitian tersebut ditemukan bahwa pelajar yang mengikuti pelatihan ini dengan aktif dan sungguh-sungguh, mereka dapat menyesuaikan diri dengan kultur baru secara baik dan lebih cepat dibandingkan teman-temannya yang lain. Hal yang senada dengan itu juga ditemukan dalam penelitian Kaye dan Taylor (1997) terhadap para ekspatriat yang bekerja di Cina. Diperoleh fakta bahwa sensitifitas inter-kultural berbanding terbalik dengan pengalaman culture shock. Artinya semakin tinggi sensitifitas inter-kultural, semakin rendah tingkat culture shock yang dialami individu. Lebih lanjut ditemukan bahwa pelatihan yang diberikan sebelum ataupun sesudah tiba di Cina berhubungan erat dengan tingginya tingkat sensitifitas inter-cultural yang berarti menurunkan tingkat culture shock para ekspatriat yang bekerja di Cina.

Sedangkan penelitian Lin (2007) menemukan bahwa keterlibatan individu dalam berbagai organisasi akan sangat membantu individu untuk mengatasi culture shock dengan memberikan dukungan sosial dan memampukan individu untuk melakukan penyesuaian budaya. Beberapa literatur yang lain menyarankan hal-hal berikut ini untuk mengatasi culture shock dengan baik, yaitu antara lain:

1. Sebelum individu berangkat ke negara baru yang akan dimasukinya, ada baiknya apabila ia sudah terlebih dahulu membaca tentang negara tersebut dan budaya yang ada di negri tersebut. Hal ini akan membantu individu ini untuk lebih familier dengan negara yang akan dimasukinya, dan lebih siap untuk berhadapan dengan berbagai perbedaan yang akan dihadapinya (www.ips.uiuc.edu/sao/students/curr-cultureshock.html). 2. Mengelola pengharapan (manage expectations). Harapan yang dimiliki seseorang akan mempengaruhi bagaimana orang tersebut menginterpretasikan dan menilai suatu kejadian. Menjaga agar harapan sedapat mungkin realistis dan sesuai dengan kenyataan serta kemampuan diri akan menjaga agar stress selalu dalam kondisi rendah. Berharap terlalu tinggi terhadap penduduk setempat untuk melakukan sesuatu sesuai dengan keinginan individu itu sendiri hanya akan membuat individu tersebut merasa frustrasi. (www.wzo.org.il/en/reseources/view.asp?id=1445). 3. Memiliki tujuan yang jelas akan kedatangan ke negri tersebut. Dengan terus mengingat dan memegang teguh tujuan awal datang ke negara tersebut, individu akan menjadi lebih siap untuk berjuang demi mencapai tujuannya. Hal ini juga akan menolong individu untuk terus memiliki fokus untuk melakukan hal terbaik dan terpenting selama di negri yang baru. Menjaga prioritas akan menolongnya mengatasi culture shock(www.ips.uiuc.edu/sao/students/curr-cultureshock.html). 4. Dalam penelitian Chapdelaine (2004) ditemukan bahwa tingginya kesempatan untuk berinteraksi dengan penduduk asli berhubungan dengan rendahnya culture shock. Interaksi akan lebih sulit untuk dilakukan apabila seseorang tidak memahami bahasa pengantarnya dengan baik. Oleh karena itu, penguasaan bahasa yang baik menjadi syarat penting untuk mengatasiculture shock. Jadi disarankan bagi individu untuk menguasai bahasa pengantar di negara tersebut untuk menghindarkan individu dari kondisi culture shock.

(Guanipa, 1998; www.wzo.org.il/en/reseources/view.asp?id=1445). 5. Bersedia untuk belajar kultur yang baru. Individu perlu menyadari bahwa kultur bukan sesuatu yang dibawa sejak lahir, tetapi sesuatu yang dipelajari (Guanipa, 1998). Hal yang dibawa sejak lahir adalah kemampuan individu untuk belajar kultur, apapun kultur itu. Oleh karena itu, kesediaan untuk belajar kultur yang baru akan membantu untuk mengatasi kesalahpahaman dan menolong teratasinya persoalanpersoalan sosial di tempat yang baru. Hal yang sama yang perlu dipahami adalah bahwa nilai-nilai yang selama ini telah dipelajari dari kulturnya yang lama bukanlah sesuatu yang bersifat mutlak dan paling benar. Nilai dan keyakinan itu menjadi benar bagi individu karena proses sosialisasi yang dilakukan oleh orangtua individu padanya, melalui pemberian hadiah dan hukuman sehingga individu meyakini kebenarnanya. Dengan demikian kesediaan untuk membuka diri, belajar dan menghargai kultur yang baru akan membuka jalan bagi individu untuk mengatasi culture shock yang dialaminya. 6. Mencoba menemukan kesamaan-kesamaan nilai-nilai antara kulturnya dengan kultur yang baru. Dengan menemukan kesamaan-kesamaan ini, individu akan menjadi lebih merasa dekat dengan negara baru yang didatanginya. Hal ini menimbulkan perasaan memiliki dan familier, sehingga mengurangi perasaan terasing yang dialami akibat culture shock (Guanipa, 1998). 7. Saat kemarahan dan frustasi-frustasi muncul terhadap kultur yang baru dan kecenderungan mengkritik kultur yang baru sangat kuat muncul, sebaiknya individu berhenti sejenak untuk berpikir dan menganalisa persoalan dengan lebih objektif (Guanipa, 1998), tidak melakukan generalisasi. Sangat penting juga menjaga pemikiran untuk tidak dengan gegabah melakukan stereotyping, bisa jadi kesalahan yang dilakukan oleh orang-orang di tempat yang baru bukan masalah kultur, tetapi memang masalah watak dari individu tersebut. Dengan kata lain, individu harus menghindari mencampuradukkan masalah personal sebagai masalah kultur. Hal ini berarti, orang dengan watak yang mengganggu tsb. bisa saja ditemukan di kultur manapun, termasuk di kultur asalnya sendiri, sehingga tidak perlu menyalahkan negara baru sebagai pihak yang bertanggungjawab atas ketidaknyamanan yang dialaminya. 8. Memelihara dukungan sosial dan emosional.

Ketika berada di lingkungan yang baru, seseorang membutuhkan orang-orang yang bersedia memberikan dukungan sosial. Dukungan sosial meliputi dukungan emosional, dukungan penghargaan, dukungan instrumental (material), maupun dukungan informasi. Individu harus berusaha agar di tempat yang baru ini, ia memiliki orang-orang yang dapat memberikan dukungan-dukungan sosial yang diperlukan. Dukungan ini bisa diperoleh melalui orang-orang yang berasal dari satu negara (misalnya ada perkumpulan pelajar Indonesia di Amerika dll.), atau bisa diperoleh dari orang-orang dari lembaga pelayanan (misalnya di gereja biasanya ada divisi pelayanan mahasiswa/mahasiswa asing). Dengan mengikuti organisasi-organisasi tertentu individu bisa membuka network dan persahabatan dengan orang-orang ini yang bisa memberikan dukungan sosial yang diperlukan (www.wzo.org.il/en/reseources/view.asp?id=1445). 9. Membangun zona stabilitas. Yang dimaksud dengan zona stabilitas adalah segala sesuatu yang bisa membuat individu merasa nyaman dan relax. Hal ini bisa segala sesuatu yang berhubungan dengan hobi,atau hal-hal yang menyenangkan lainnya. Hal ini berarti bahwa selama di negara baru, individu tidak boleh melupakan untuk melakukan hal-hal yang menyenangkan yang bisa membuat individu merasa nyaman dan relax (www.wzo.org.il/en/reseources/view.asp?id=1445). 10.Beberapa orang menyarankan untuk memiliki jurnal harian. Dalam kondisi belum memiliki seorangpun yang bisa diajak bicara, mencurahkan kegelisahan pada jurnal harian akan membantu proses katarsis individu. Seringkali menuliskan hal-hal yang menggelisahkan dalam jurnal juga menolong individu untuk melihat persoalan-persoalan yang sesungguhnya yang mungkin tak akan tampak bila hanya tersimpan di dalam pikiran saja (www.juliaferguson.com/shock.html)

Penutup Seiring dengan issue globalisasi baik di bidang pendidikan maupun di bidang tenaga kerja, yang mengharuskan individu untuk berinteraksi dengan budaya yang berbeda, issue mengenai culture shock tampaknya perlu dipandang dengan lebih serius daripada sebelumnya. Kalau tidak, dikawatirkan gangguan yang dialami karenaculture shock bisa menjadi ancaman bagi kesehatan jiwa banyak masyarakat di dunia yang semakin sering melakukan aktifitas lintas budaya.

Usaha untuk mengatasi culture shock, akhirnya tidak hanya harus dilakukan individu secara perseorangan, tetapi juga perlu ditangani secara professional dan serius oleh instansi atau lembaga yang terlibat dalam pertukaran antar budaya. Misalnya saja di sekolah internasional, yang memiliki siswa-siswa dari budaya yang berbeda tampaknya perlu menyediakan tenaga konselor dan program yang terarah untuk membantu penyesuaian diri siswasiswi yang berasal dari budaya yang berbeda. Perhatian juga diperlukan bagi perusahaan yang memiliki para ekspatriat ataupun mengirimkan karyawannya untuk ditugaskan di tempat yang berbeda dari kultur asalnya, dengan pemberian pelatihan, pemahaman dan training yang sesuai, demi tercapainya produktifitas kerja karyawannya karena terbebas dari culture shock. Pada akhirnya, usaha dari berbagai pihak diharapkan dapat membuahkan hasil yang lebih memuaskan.

DAFTAR PUSTAKA Adler, P. 1975. The Transitional Experience: An Alternative View of Culture Shock. Journal of Humanistic Psychology 15, 13-23. Brown, L. & Holloway, I. . The Initial Stage of The International Sojourn: Excitement or Culture Shock? ______________ Culture Shock.edweb.sdsu.edu/people/CGuanipa/cultshok.htm

(retrieved Maret 2006) ______________ Expcerpts from Managing Culture Shock.www.juliaferguson.com/shock.html (retrieved Maret 2006) ______________ What Happen When We Cross Culture. (www.wzo.org.il/en/reseources/view.asp?id=1445). (retrieved Maret 2006). ______________ Dealing with Culture Shock.www.ips.uiuc.edu/sao/students/currcultureshock.html(retrieved Maret 2006). Chapdelaine, R.F. 2004. Social Skills Difficulty: Model of Culture Shock for International Graduate Students. Journal of College Student Development

March-April 2004.www.findarticles.com/p/articles/mi_qa3752/is_200403/ai_n9351704/pri nt (retrieved Maret 2006) Chapman, A. 2005. Culture Shock and the International Sutdent Offshore. Journal of Research in International Education, 4, 23-42. Furnham, A. & Bochner, S. 1986. Culture Shock: Psychological Reactions to Unfamiliar Environments. New York: Methuen. Gaw, K.F. 2000. Reverse Culture Shock in Students Returning from

Overseas. International Journal of Intercultural Relations, 24, 83-104. Guanipa, C. 1998. Culture Shock and The Problem of Adjustment to New Cultural Environment. www. worldwide. edu/planning_guide/culture_reentry_shock.html (retrieved April, 2006) Hopkins, J.R. 1999. Studying Abroad as A Form of Experiential Education. Liberal Education, 85, 36-41. Irwin, R. 2007. Culture Shock: Negotiating Feeling in the Field.Anthropology Matters Journal, 9, 1-14. Kaye, M. & Taylor, W.G.K. 1997. Expatriate Culture Shock in China: A Study in the Beijing Hotel Industry. Journal of Managerial Psychology, 12, 495-510. Lin , C. 2000. Culture Shock, Social Support, and Intercultural Competence: An Investigation of a Chinese Student Organization on a U.S. Campus. Paper presented at the annual meeting of the International Communication Association, Sheraton New York, New York City, NY, Online diambil darihttp://www.allacademic.com/meta/p15158_index.html. Milton, T.J. 1998. Understanding Culture Shock. FAO Journal, 2, 11-14. Roland, A, (1988). In Search of Self in India and Japan: A Cross-Cultural Psychology. New York: Princeton University Press.

Wang, J. 2000. Evaluation of CSB/SJUs China Program. Paper presented at the annual meeting of the International Communication Association, Sheraton New York, New York City, NY, Online diunduh dari :http://www.allacademic.com/meta/p15162_index.html