Anda di halaman 1dari 13

PERANCANGAN TERMOMETER SENTUH DENGAN TAMPILAN 7-SEGMENT Alat terdiri atas dua bagian besar, yaitu bagian analog

dan bagian digital.

Gambar 1. Blok diagram alat 1. Bagian analog Pendeteksi suhu menggunakan sensor suhu LM35, sensor ini sudah terkalibrasi dengan perubahan 10mV/C. Tegangan keluaran sensor dikuatkan untuk mendapatkan besaran tegangan yang diinginkan. Besaran tegangan keluaran peguat dirubah menjadi besaran frekuensi oleh pengubah tegangan ke frekuensi. Ketika masukan tegangan maksimum keluaran frekuensi akan mencapai 1 kHz. 2. Bagian digital Frekuensi keluaran dihitung melalui frekuensi counter yang menghitung sampai 999 Hz. Frekuaensi counter terdiri atas pembagi 1, pembagi 10 dan pembagi 100. Luapan dari pembagi 1 diumpan ke pembagi 10 dan luapan dari pembagi 10 diumpan ke pembagi 100. Basis waktu 1 detik digunakan untuk memberikan sinyal reset penghitungan frekuensi. Rancangan yang diinginkan adalah sebagai berikut: Deteksi maksimal suhu adalah 100C, pada saat ini tegangan sensor adalah 1 Volt. Keluaran penguat yang diinginkan pada saat suhu 100C adalah 5 Volt. Jika masukan penguat adalah 1 Volt dan keluaran penguat 5 Volt maka diperlukan

penguatan sebesar 5 kali. Penguatan ini diperoleh dengan penguatan tak membalik menggunakan Op-Amp LM358.

Jika Ri yang digunakan adalah 10 k maka Rf akan bernilai 40 k. Rf menggunakan potensio 50 k sehingga nilai penguatan dapat diatur untuk keperluan kalibrasi. Perubah tegangan ke frekuensi menggunakan LM 331 yang dapat mengkonversi nilai tegangan 5 Volt menjadi frekuensi 1 kHz. Perancangan rangkaian seperti aplikasi rangkaian yang ditunjukkan datasheet LM331.
VCC 3 2 2 R12 2k R11 LM35 50k C5 1u R16 100k R17 47 VCC 8 U12A 1 LM358 4 U3 IN VCC 8 R14 6k8 R/C 5 3 C6 0,01u Fout

R10 470 U1 VOUT 1

+ -

R13 100k

C4 0,1u LM331 REF 1 6 IOUT THRS

GND

VS+

VS

FRQOUT

R18 12k

R15 5k

Gambar 2. Skema bagian analog Pembagi frekuensi menggunakan CMOS CD4033 yang merupakan pembagi 10, digunakan 3 pembagi. Pembagi pertama akan mencacah setiap pulsa, pembagi kedu akan mencacah setiap sepuluh pulsa dan pembagi ketiga akan mencacah setiap 100 pulsa. Setiap 1 detik cacahan pulsa direset, proses ini dilakukan oleh pewaktu 555.
VCC 15 15 U14 3 VCC U13 CO RBI RBO U5 CO RBI RBO U4 CO RBI RBO 15 8 4

RST

VCC

RST

RST

RST

R40 100k 7 R41 22k 6 2 C7 10u

5 3 4

CLK

1 2 14 VCC

5 3 4

2
1 2 14

CLK

5 VCC 3 4

CLK

1 2 14

Fin

DSCHG

OUT

NE555 THR TRG CV 5 C8 10n

CLKINH LT CD4033B

CLKINH LT CD4033B

CLKINH LT CD4033B

A B C D E F G

A B C D E F G

10 12 13 9 11 6 7

10 12 13 9 11 6 7

R33 330 10 9 7 6 5 4 2 1 10 9 7 6 5 4 2 1

R26 330 10 9 7 6 5 4 2 1 8 3

10 12 13 9 11 6 7 R19 330 8 3 7-S1

8 3

7-S8

7-S5

Gambar 3. Skema bagian digital

A B C D E F G

KOMPONEN Sensor suhu LM35 Sensor suhu LM35 merupakan komponen elektronis yang terkemas dalam bentuk IC. LM35 menghasilkan keluaran tegangan sesuai dengan besaran fisik suhu yang mengenainya. Linieritas keluaran tegangan pada skala Celcius 10mV/C dengan akurasi /C pada suhu ruang, dengan rentang suhu yang dapat direspon antara -55 sampai 150C.

Gambar 4. Bentuk fisik dan simbol sensor LM35 Penggunaan LM35 tidak memerlukan komponen tambahan, dengan impedansi dinamik yang rendah (kurang dari 1) pada jalur keluaran akan memudahkan penggunaan perangkat penguat tegangan. Kemampuan kerja pada jangkah tegangan yang lebar (antara 4 sampai 30 Volt) memudahan penyesuaian perancangan dengan perangkat sesudahnya.

Gambar 5. Susunan kaki LM35

Gambar 6. Blok diagram internal LM35

Pada saat digunakan, resistansi pengindera suhu internal akan berubah dengan kepekaan 8,8mV/C sehingga arus yang melewatinya akan berubah. Karena nilai arus yang melewati dioda sumber berubah, maka secara otomatis keluaran emitor dari pasangan differensial yang dibentuk oleh Q1 dan Q2 tidak stabil dan memaksa bias pembagi tegangan untuk R 1 dan nR1 menyesuaikan terhadap tegangan referensi keluaran Op-Amp A1. Karena msing-masing kolektor Q1 dan Q2 dihubung ke saluran masukan inverting dan non-inverting Op-Amp A1, maka keluaran Op-Amp A1 akan selalu mengeluarkan tegangan sebesar 1,38 VPTAT dan dapat digunakan sebagai tegangan referensi meskipun tegangan VCC yang digunakan berbeda. Perubahan arus dan tegangan keluaran dioda sumber akan dibaca oleh OpAmp A2 melalui kaki non-invertingnya dan dikuatkan kembali agar dapat digunakan untuk mengendalikan transistor keluaran. Penguatan Op-Amp A2 ditentukan berdasarkan resistansi pembagi tegangan 0,125 R2 dan R2 yang merupakan resistansi emitor transistor keluaran. Berdasarkan hal-hal tersebut diatas, sensor akan mengeluarkan hasil konversi suhu ke tegangan (V out) dengan ketelitian 10mV/C. Op-Amp LM358 Op-mp LM358 merupakan seri penguat operasional yang simple karena hanya memilki kaki-kaki yang merupakan syarat mimimal pengguaan op-amp, berbeda dengan op-amp lain yang memiliki kaki-kaki offset. Tentu saja kelebihan ini akan membawa kekurangan untuk aplikasi yang lain yang memerlukan kaki offset. Namun untuk penggunaan penguat sensor suhu aplikasi offset tidak terlalu dibutuhkan. LM358 memiliki dua op-amp didalamnya dengan total delapan kaki, dua kaki sebagai jalur tegangan yaitu kaki 8 dan kaki 4, yang dapat digunakan dalam polaritas (+ dan - ) atau (+ dan ground). Op-amp 1 menempati kaki 1, 2 dan 3. Sedangkan op-amp 2 menempati kaki 14, 13 dan 12. Kaki bertanda (+) merupakan masukan tak membalik dan kaki bertanda (-) untuk masukan membalik. Kaki yang berada pada ujung segitiga merupakan keluaran op-amp. Konfigurasi kaki-kaki op-amp sebagai berikut:

Gambar 7. Konfigurasi kaki LM358 Simbol eklektronik untuk op-amp LM358 adalah sebagai berikut:

Gambar 8. Simbol elektronis LM358 Op-amp dapat dikonfigurasikan dalam mode membalik dan tak membalik. Mode membalik akan menghasilkan keluaran yang berbeda fasa 180 terhadap fasa masukan. Sedangkan mode tak membalik tidak merubah fasa masukan. Mode mambalik diperlihatkan gambar 9.

Gambar 9. Op-amp membalik

Pada mode tak membalik, seperti pada gambar 10.

Gambar 10. Op-amp tak membalik

Pengubah tegangan ke frekuensi LM 331 LM 331 adalah chip IC 8 pin yang mengkonversi tegangan ke frekuensi atau sebaliknya. Pada perancangan ini IC LC 331 difungsikan untuk mengubah tegangan menjadi frekuensi. Konfigurasi kaki LM331 adalah:

Gambar 11. Konfigurasi kaki LM 331

Gambar 12. Rangkaian Pengubah Tegangan ke Frekuensi LM331

NE 555 IC NE555 yang mempunyai 8 pin (kaki) ini merupakan salah satu komponen elektronika yang cukup terkenal, sederhana, dan serba guna dengan ukurannya yang kurang dari 1/2 cm3 (sentimeter kubik). Pada dasarnya aplikasi utama IC

NE555 ini digunakan sebagai Timer (Pewaktu) dengan operasi rangkaian monostable dan Pulse Generator (Pembangkit Pulsa) dengan operasi rangkaian astable. Selain itu, dapat juga digunakan sebagai Time Delay Generator dan Sequential Timing.

Gambar 12. Konfigurasi pin IC NE 555 Astabil multivibrator adalah rangkaian yang menghasilkan bentuk gelombang periodik yang spesifik, misalnya gelombang kotak, segitiga, gigi gergaji, atau sinusoidal. Astabil multivibrator berfungsi sebagai pemicu/trigger transistor bekerja sesuai dengan besarnya duty cycle yang diinginkan. NE555 dapat digunakan untuk berbagai fungsi seperti monostabil operasi, astabil multivibrator, pembagi frekuensi, pulse width modulation, dan linier ramp. Dalam tugas akhir ini, NE555 digunakan sebagai astabil multivibrator. NE555 memiliki kemampuan supply tegangan sebesar 5-15 volt. Pembangkit sinyal pulsa menggunakan rangkaian IC 555 yang memiliki spesifikasi sebagai berikut: - Pin 1 (ground) : Merupakan titik 0 V komponen yang dihubungkan dengan ground rangkaian atau ground supply. Pin ini ditunjukkan oleh titik (notch) yang terdapat pada badan komponen. - Pin 2 (trigger) : Merupakan salah satu input komparator bagian bawah yang akan dibandingkan dengan input lain pada komparator tersebut yang telah direferensikan nilainya sebesar 1/3 tegangan supply (Vs). Jika input trigger

berubah dari high ke low dan besarnya kurang dari 1/3 Vs maka komparator bagian bawah ini akan mengaktifkan flip-flop sehingga akan dihasilkan output IC 555 dalam kondisi high. Pin trigger ini mempunyai impedansi yang sangat besar, yaitu > 2M. - Pin 3 (output) : Output IC 555 dinyatakan pada pin ini. - Pin 4 (reset) : digunakan untuk membuat output IC 555 dalam kondisi low (reset) untuk semua kondisi input. Reset akan terjadi saat pin ini diberikan tegangan sebesar 0,7V. - Pin 5 (control) : Merupakan salah satu input komparator bagian atas dimana input lain dari komparator adalah pin Threshold pada IC 555. Pin ini digunakan untuk mengatur tegangan ambang (threshold) yang telah diatur secara default sebesar 2/3 tegangan supply (Vs). Biasanya pin ini jarang digunakan dan saat tidak digunakan pin ini dihubungkan pada titik ground rangkaian melalui sebuah kapasitor 0,01uF yang berguna untuk mengurangi gangguan noise (desah). - Pin 6 (threshold) : Saat tegangan input pin ini berubah dari low ke high dan besarnya lebih dari 2/3 tegangan supply (Vs) maka komparator bagian atas akan mereset flip-flop sehingga akan dihasilkan output IC 555 dalam kondisi low. - Pin 7 (discharge) : Merupakan jalur pembuangan arus yang berasal dari kaki kolektor transistor NPN yang terdapat pada IC 555. Pin ini biasanya dihubungkan pada sebuah kapasitor yang juga berfungsi untuk mengatur pewaktuan (timing) IC 555. - Pin 8 (VCC) : Sebagai input sumber tegangan DC yang digunakan untuk mengaktifkan IC 555. Sumber tegangan yang dapat digunakan sebesar 5V 15V

Gambar 13. Astabil Multivibrator NE 555 Driver 7-segment CD4033 Untuk menggerakkan 7-segment, kita membutuhkan sebuah driver. Banyak driver yang dapat kita gunakan. Pada perancangan ini, kita menggunakan driver 7segment CD 4033B. Konvigurasi pinnya dapat dilihat pada gambar 14.

Gambar 14. Konvigurasi pin CD 4033B.


VCC 15 15 U14 3 VCC U13 CO RBI RBO U5 CO RBI RBO U4 CO RBI RBO 15 8 4

VCC

RST

RST

RST

RST

5 3 4

CLK

1 2 14 VCC

5 3 4

CLK

1 2 14 VCC

5 3 4

CLK

1 2 14

Fin

DSCHG

OUT

NE555 THR TRG CV 5 C8 10n

CLKINH LT CD4033B

CLKINH LT CD4033B

CLKINH LT CD4033B

A B C D E F G

A B C D E F G

R33 330 10 9 7 6 5 4 2 1 10 9 7 6 5 4 2 1

R26 330 10 9 7 6 5 4 2 1 8 3

10 12 13 9 11 6 7 R19 330 8 3 7-S1

10 12 13 9 11 6 7

8 3

7-S8

7-S5

10 12 13 9 11 6 7

Gambar 15. Contoh Penerapan Dalam Rangkaian

A B C D E F G

Komponen yang dibutuhkan Tabel komponen bagian analog Komponen Sensor suhu LM35 Resistor 470 LM358 Resistor 2 k Resistor variabel 50 k LM331 Resistor 100k Resistor 47 Resistor 6,8 k Resistor 12 k Resistor variabel 5 k Kapasitor 0,1F Kapasitor 1 Kapasitor 0,01 Kabel jamper Jumlah 1 1 2 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1

Tabel komponen bagian digital Komponen IC CD4033 Resistor 330 7-segmen NE555 Resistor 100 k Resistor 22 k Kapasitor 10nF Kapasitor 10F Dioda 4148 Kabel jamper Jumlah 3 21 3 1 1 1 1 1 1 1

Lay out dan tata letak komponen: Layout PCB dibagi menjadi 2 kelompok yaitu rangkaian analog dan rangkaian digital. Pada gambar 16 terlihat ada 2 gambar. Yaitu gambar sebelah kiri adalah layout PCB dan sebelah kanan tata letak komponen sebagai panduan untuk memasang komponen,

Gambar 16. Rangkaian Analog Layout pcb rangkaian digital.

Gambar 17 Tata letak komponen rangkaian digital

Gambar 18. Tata Letak Komponen