Anda di halaman 1dari 12

PERLINDUNGAN BURUH MIGRAN INDONESIA DI LUAR NEGERI DARI TINDAKAN KEKERASAN MAJIKAN MENURUT PERSPEKTIF HUKUM HAK ASASI

MANUSIA Oleh : Sriagustina Hendrawati, SH., MH.

ABSTRAK Dalam berbagai pemberitaan dan pidato-pidato, mereka diberi julukan yang mulia yaitu pahlawan devisa. Akan tetapi perlindungan terhadap mereka tidak seperti perlindungan terhadap pahlawan, dalam banyak hal mereka mendapatkan berbagai penyiksaan, diskriminasi dan bahkan pelanggaran hak asasi manusia. Perlindungan terhadap mereka, masih sebatas tulisan di atas kertas dan pemanis janji para pejabat serta politisi. Berbagai peristiwa yang dialami para pekerja domestik migran itu, bermuara pada bagaimana mereka ditempatkan, diproyeksikan dalam struktur sosial dan budaya, sejak dari keluarga dan negara asal, sampai pada masyrakat di negara tujuan dan pasar global. Kondisi keselamatan dan kesehatan kerja yang buruk, serta konflik dan ketidakharmonisan, menyebabkan mereka lari dari rumah majikan atau pengerah tenaga kerja. Banyak diantara mereka mencari perlindungan ke kantor perwakilan pemerintah Indonesia. Metode penelitian yang dipergunakan dalam rencana penelitian adalah yuridis normative atau penelitian hukum doctrinal yaitu penelitian hukum yang mengutamakan pada sumber data sekunder. Ketiadaan hukum yang mengatur secara khusus (lex specialis) keberadaan pekerja domestik nampaknya menjadi sumber permasalahan utama. Pekerja domestik tidak dianggap sebagai pekerja, tetapi sebagai pembantu dalam kegiatan rumah tangga. Inilah yang mengakibatkan sukarnya memberi perlindungan ketika timbul permasalahan. Kata kunci : Hukum Pidana, Hak Asasi Manusia. A.PENDAHULUAN Manusia adalah makhluk sosial, makhluk yang berpikir, makhluk simbolik ( homo simbolicum), pada hakikatnya tidak mungkin lepas dari sistem hukum yang berlaku pada waktu tertentu. Karena itu perlindungan terhadap manusia merupakan bagian dari HAM yang berjalan tidak pernah absolut. Istilah HAM berarti hak tersebut ditentukan dalam hakikat kemanusiaan dan demi kemanusiaan. HAM yang merupakan hak dasar seluruh umat manusia sebagai anugerah Tuhan yang melekat pada diri manusia, bersifat kodrati, universal, abadi yang berhubungan dengan harkat martabat manusia,

dimiliki sama oleh setiap orang, tanpa memandang jenis kelamin, kewarganegaraan, agama, usia, bahasa, status sosial, pandangan politik, dan lain-lain. HAM merupakan padanan kata dari bahasa Inggris Human Rights, yaitu The freedoms, immunities, and benefit that, according to modern values, all human beings should be able to claim as a matter of right in the society in whichthey live. Atas dasar itu HAM wajib dihormati, dijunjung tinggi, dan dilindungi oleh negara, hukum, pemerintah, dan setiap orang. Nilai-nilai persamaan, kebebasan, dan keadilan yang terkandung dalam HAM dapat

mendorong terciptanya kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu di setiap negara manapun, tidak terkecuali di negara Indonesia, hak atas pekerjaan merupakan hak asasi yang melekat pada diri seseorang yang wajib dijunjung tinggi dan dihormati, dan ini di atur secara jelas dan tegas dalam Undang-Undang Dasar 1945, sebagaimana tercermin dalam Pasal 27 ayat (2) yang menyatakan bahwa setiap Warga Negara Indonesia berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. Artinya secara tidak langsung, negar a dalam hal ini pemerintah berkewajiban menjamin setiap warga negara, untuk dapat bekerja sesuai minat dan kemampuannya. Akan tetapi fakta membawa kita pada sebuah kesimpulan, bahwa sampai hari ini di negara Indonesia lapangan pekerjaan sangat terbatas, karena pemerintah belum mampu menyediakan pekerjaan sebagaimana diamanatkan Pasal 27 ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945 tersebut, sehingga secara ekonomi masyarakat banyak yang memprihatinkan dan menyebabkan banyaknya mereka mencari pekerjaan ke luar negeri, dan memilih mengadu nasib disana menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI), atau yang dalam istilah kekinian lebih popular dengan istilah Buruh Migran Indonesia. Adapun bentuk pelanggaran HAM terhadap Pekerja Migran Indonesia dapat bermacam, macam bentuknya seperti tujuh tahun yang lalu, UNESCO mengeluarkan sebuah laporan yang menilai berbagai sikap negaranegara dalam kaitannya dengan peratifikasian Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang Penghapusan Diskriminasi terhadap Perempuan dan Konvensi PBB tentang HAM Anak di Asia Pasifik. Dan salah satu negara yang jadi objek studinya adalah Indonesia. Pada waktu itu, terlihat bila para pekerja migran Indonesia telah menjadi subjek bagi berbagai pelanggaran praktek yang buruk disemua tahapan proses keimigrasian seperti pada masa pra-pemberangkatan, masa bekerja di luar negeri dan ketika masa pemulangannya. Laporan UNESCO tersebut difokuskan pada peran pemerintah Indonesia dalam ketiga tahapan tersebut dan bagian berikut diambil darinya, sebagai berikut : 1. Pra Pemberangkatan Para calon dan orang yang berkeinginan untuk menjadi pekerja migran telah menjadi korban penipuan dan pengetahuan yang tidak memadai terkait proses migrasi secara keseluruhan termasuk penipuan atas berbagai dokumen perjalanannya. Khususnya, kaum perempuan secara terpaksa telah menjadi tahanan diberbagai pusat pelatihan atau asrama ketika mereka menunggu permohonan visanya. 2. Masa Kerja di Luar Negeri Hanya ada satu Memorandum of Understanding (MoU), yakni dengan Malaysia yang mencakup berbagai persoalan prosedural terkait perekrutan tetapi tidak menyangkut persoalan hak sama sekali. Malahan sebaliknya, ia melegitimasi berbagai pelanggaran HAM dengan (1) melarang para pekerja Indonesia untuk berorganisasi (2) mendorong mereka untuk menyerahkan paspornya kepada para majikannya; dan (3) melarang mereka menikah dengan warga negara lokal. 3. Masa Pemulangan Eksploitasi secara kelembagaan terhadap kepulangan para pekerja migran terjadi di terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, yang pada awalnya dimaksudkan sebagai layanan satu atap. Persoalan lain yang harus dihadapi para pekerja migran yang pulang adalah berbagai aturan perpajakan baru yang dikenakan oleh berbagai pemerintah daerah, yang dibentuk sebagai akibat dari

bergulirnya Otonomi Daerah (Otda), Pemerintah Daerah (Pemda) pada saat ini diberi kewenangan untuk memajak warganegara secara otonom, tanpa pertimbangan atas perlindungan hak-hak dasar warganegara ketentuan tentang layanan kualitas baik dari pemerintah pusat. 4. HAM Pekerja Migran Indonesia dan Berbagai Layanan Konvensi National Labour Organisation (ILO) pada tahun 1919 (yang kemudian menjadi badan khusus PBB pada tahun 1946). Cukup banyak konvensi ILO yang secara khusus relevan bagi migrasi ketenagakerjaan, dimulai dengan konvensi ILO no. 97 tahun 1949 dan teksnya untuk pertamakali diteerbitkan dalam bahasa Indonesia di sini, the 1975 UN Conventation on Bassic Human Rights of Migrant Workers. Dua teks ILO tersebut sangatlah vital karena mereka merupakan rujukan pokok bagi perancangan the International Convention on the Protection of the Rights of All Migrant Workers and Members of Their Families (ICMR). The ICMR mulai berlaku sejak 1 juli 2003. Dari 22 negara yang meratifikasinya, atau melakukan aksesi terhadapnya, hanya ada tiga negara Asia Fasifik: Filipina, Sri lanka dan Tajkistan. Yang terakhir memberikan dasar baru bagi penjelasan akan penerapan secara penuh akan hukum HAM pada para pekerja migran, mengartikan apa yang dimaksud sebagai pekerja migran dan mencakup semua proses migrasi. Untuk lebih memudahkan dalam pembahasan diatas, maka dapat diidentifikasikan ke dalam hal-hal berikut ini : bagaimanakah pengaturan buruh migran menurut konsep Hukum Hak Asasi Manusia?, Bagaimanakah bentuk perlindungan hukum terhadap Buruh Migran menurut konsep Hukum Hak Asasi Manusia?, Upaya-upaya Hukum apakah yang dilakukan Pemerintah dalam melindungi Buruh Migran?.

B. PEMBAHASAN 1.Pengertian Hak Asasi manusia Secara etimologis, Hak Asasi Manusia (HAM) terbentuk dari tiga (3) suku kata, yaitu kata hak, kata asasi, dan kata manusia. Kata hak dan kata asasi berasal dari bahasa arab, sedangkan kata manusia dari bahasa Indonesia. Kata haqq adalah bentuk tunggal dari kata huquq. Kata haqq diambil dari akar kata haqqa, yahiqqu, haqqaan, yang artinya benar, nyata, pasti, tetap, dan wajib. Apabila dikatakan yahiqqu alaika an tafala kadza. Berdasarkan kata tersebut, haqq diartikan kewenangan atau kewajiban untuk melakukan sesuatu. Adapun kata asasi berasal dari akar kata assa, yaussu, asasaan, artinya membangun, mendirikan, dan meletakan. Kata asas adalah bentuk tunggal dari kata usus yang berarti asal, esensial, asas, pangkal, dasar dari segala sesuatu. Dengan demikian kata asasi diadopsi ke dalam bahasa Indonesia yang berarti dasar atau pokok. Hak Asasi Manusia adalah hak yang dimiliki manusia secara kodrati tanpa pengecualian dan keistimewaan bagi golongan, kelompok maupun tingkatan manusia tertentu. Hak-hak tersebut mencakup antara lain hak atas kehidupan, keamanan, kebebasan berpendapat dan merdeka dari segala bentuk penindasan yang wajib dijunjung tinggi tidak saja oleh setiap individu dari suatu Negara yang mengakui keberadaan dan menghargai HAM itu sendiri, namun terlebih lagi harus dijamin oleh Negara tanpa ada pengecualiannya. Jaminan yang diberikan oleh Negara meratifikasi suatu konvensi internasional tentang HAM atau mengeluarkan peraturan apapun yang menjamin hak asasi warganya, namun lebih merupakan tanggung jawab Negara dalam menjamin hak-hak yang paling asasi tersebut secara

kodrati dimiliki oleh tiap manusia bersamaan dengan kelahirannya di dunia sebagai individu yang merdeka. Istilah Hak Asasi Manusia itu sendiri berarti hak itu diketemukan dalam hakekat dan demi kemanusiaan. Karena itu setiap manusia memilikinya dan hak itu tidak dapat dicabut oleh siapa pun bahkan oleh dirinya sendiri. Dalam bahasa Indonesia, HAM diartikan sebagai hak-hak mendasar pada diri manusia. Istilah ini mempunyai perbedaan dalam penyebutannya, tetapi mempunyai makna yang sama. Dalam bahasa Arab disebut huququl insane, dan human rights (Inggris), droits de lhomme (Prancis), menschenrechte (Belanda/Jerman), derechos humanos (Spanyol), direitos humanos (Brasil), diritti umani (Italia) dan sebagainya. Pengertian Hak Asasi manusia menurut Undang-Undang No. 39 Tahun 1999 Pasal 1 (satu) Tentang Hak Asasi Manusia adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai mahluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugrah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi, dan dilindungi oleh negara hukum, Pemerintahan, dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia. 2. Hak Asasi Manusia, Hakekat, Konsep dan Implikasinya Perkembangan HAM di Indonesia, sebenarnya dalam UUD 1945 telah tersurat, namun belum secara transparan. Setelah dilakukan Amandemen I s/d IV Undang-undang Dasar Undang-Undang Dasar 1945, ketentuan tentang HAM tercantum pada Pasal 28 A s/d 28 J. sebenarnya pada UUDS 1950 yang pernah berlaku dari tahun 1949-1950, telah memuat pasal-pasal tentang HAM yang lebih banyak dan lengkap dibandingkan UUD 1945. Namun Konstituante yang terbentuk melalui pemilihan umum tahun 1955 dibubarkan berdasarkan Keppres Nomor 150 tahun 1959, tanggal 5 juli Kemudian berbagai pihak untuk melengkapi UUD 1945 yang berkaitan dengan HAM, melalui MPRS dalam sidang-sidangnya awal orde baru telah menyusun Piagam Hak-hak Asasi Manusia dan Hak-hak serta kewajiban Warga Negara, MPRS telah menyampaikan Nota MPRS kepada Presiden dari DPR tentang pelaksanaan hak-hak asasi. Karena berbagai kepentingan politik pada saat itu bersikap anti terhadap piagam HAM, dan beranggapan bahwa masalah HAM sudah diatur dalam berbagai peraturan perundang-undangan. Untuk menghapus kekecewaan kepada bangsa Indonesia terhadap piagam HAM, maka MPR pada sidang istimewanya tanggal 11 November 1998 mensyahkan Ketetapan MPR Nomor XVII/MPR/1998 yang menugaskan kepada Lembaga-lembaga Tinggi Negara dan seluruh Aparatur Pemerintah, untuk menghormati, menegakkan, dan menyebarluaskan pemahaman mengenai HAM kepada seluruh Konsep HAM yang sebelumnya cenderung bersifat theologies, filsafati, ideologis, atau moralistik, dengan kemajuan berbangsa dan bernegara dalam konsep modern akan cenderung ke sifat yuridis dan politik, karena instrument HAM dikembangkan sebagai bagian yang menyeluruh dan hukum internasional baik tertulis maupun tidak tertulis.

Bentuknya bisa dalam wujud deklarasi, konvensi, kovenan, resolusi maupun general comments. Instrument-instrumen tersebut akan membebankan kewajiban para negara-negara anggota PBB, sebagian mengikat secara yuridis dan sebagian lagi kewajiban secara moral walaupun para negara anggota belum melakukan ratifikasi secara formal. Tetapi konsep tersebut tidak secara universal, disesuaikan dengan kebudayaan negara Indonesia yang berdasarkan pada Pancasila dan UndangUndang Dasar 1945. Hal ini mutlak perlu, sebab akan berkaitan dengan falsafah, doktrin, dan wawasan bangsa Indonesia, baik secara individual maupun kolektif kehidupan masyarakat yang

berasaskan kekeluargaan dengan tidak mengenal secara fragmentasi moralitas sipil, moralitas komunal, maupun moralitas institusional yang saling menunjang secara proporsional. Manusia di sini dipandang sebagai pribadi, sebagai mahluk sosial dan dipandang sebagai warga negara. Jadi konsep HAM di Indonesia bukan saja terhadap hak-hak dasar manusia, tetapi ada kewajiban dasar manusiasebagai warga negara untuk mematuhi peraturan perundang-undangan, hukum tidak tertulis, menghormati HAM orang lain, moral, etika, patuh pada hukum internasional mengenai HAM yang telah diterima bangsa Indonesia, juga wajib membela terhadap negara. Sedangkan kewajiban bagi pemerintah untuk menghormati, melindungi, menegakkan, dan memajukan HAM yang telah diatur berdasarkan peraturan perundangan dan hukum internasional HAM yang diterima oleh masyarakat. 3. Implementasi dan Sinkronisasi Instrumen Hak Asasi Manusia Internasional dan Nasional Terdapat berbagai instrumen tentang hak asasi manusia baik tingkat dunia maupun nasional. Tingkat dunia antara lain Deklarasi Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-bangsa pada tahun 1948, perjanjian Internasional perihal Hak Asasi Manusia dan Bill of Right, Magna Charta dan lain-lain. Sedangkan Hak Asasi Nasional di Indonesia tercantum dalam pembukaan UUD 1945 dan dalam Pasal-pasalnya masih bersifat parsial dan tersebar serta tidak rinci dan mendetail. Namun demikian Pemerintah Republik Indonesia telah memiliki seperangkat hukum tentang seperangkat hukum tentang Hak Asasi Manusia, yaitu Ketetapan MPR No. 17/MPR 1998, UU No. 39 tahun 1999, Perpu No. 1 tahun 1999 dan UU No. 26 tahun 2000. Sinkronisasi ini dilakukan secara vertikal dan horisontal. Secara vertikal dilakukan terhadap nilai-nilai hak asasi manusia universal/dunia dengan nilai-nilai hak asasi lokal atau nasional. Di samping itu juga terhadap perundang-undangan nasional berdasarkan status yang lebih tinggi dan lebih rendah. Sedangkan sinkronisasi horisontal dilakukan terhadap perundang-undangan yang mempunyai derajat yang sama. Interpretasi yang digunakan secara gramatikal dan sistematis. Sinkronisasi dan interpretasi sebagaimana tersebut di atas dilakukan terhadap komponen substansi yaitu ketentuan-ketentuan atau nilai-nilai berupa hak. Selain hak, kewajiiban apa saja yang terdapat dalam peraturan HAM, serta bentuk perilaku apa saja yang dapat dikategorikan melanggar HAM, sinkronisasi dan interpretasi juga dilakukan terhadap komponen kultur yaitu gagasan-gagasan, harapan-harapan dari semua peraturan hak asasi manusia. Dalam melakukan sinkronisasi dan interpretasi tersebut diperlukan legitimasi fdan konsensus dari komponen bangsa untuk merumuskan, menjabarkan dan mengintegrasi. Dari upaya ini akan dihasilkan suatu harmonisasi antara nilai hak asasi manusia nasional dengan hak asasi manusia universal. Meskipun sudah diperoleh suatu harminisasi, namun kinerja dari peraturan hak asasi manusia tergantung pada faktor pembuat hukum/UU HAM, pemegang peran atau masyarakat serta penegak hukum atau birokrat pelaksananya. 4.Konsep Perlindungan Hak Asasi Manusia Terhadap Buruh Migran Upaya pemberian perlindungan bagi buruh migran ke luar negeri dapat dibedakan menjadi sebagai berikut : a. Perlindungan Buruh Migran di Dalam Negeri

Perlindungan bagi buruh migran selama pengerahan, sebelum dan selama pemberangkatan tenaga kerja, harus menjadi hal yang masuk dalam sebuah sistem perlindungan sosial dan hukum, baik dalam bentuk sebuah kebijakan atau pun berbentuk tehnik dan cara pengerahan. Undang-Undang No. 39 Tahun 2004 Tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri (UUPPTKILN) sebenarnya telah mengatur tentang perlindungan buruh migran Indonesia, yaitu terdapat dalam Pasal 77 ayat (1), bahwa Setiap calon TKI/TKW mempunyai hak untuk memperoleh perlindungan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Dan dalam ayat (2) di atur bahwa perlindungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan mulai dari pra penempatan, masa penempatan, sampai dengan purna penempatan. Walau demikian, pasal pengaturan perlindungan ini sangat tidak jelas, dan masih jauh dari harapan untuk dapat mencapai perlindungan TKI yang optimal. Perlindungan yang bersifat sosial bagi TKI selama prapemberangkatan, lebih ditekankan pada hal-hal yang bersifat teknis, yang menurut Supang Chantavanich, bahwa perlindungan sosial khusus untuk tenaga kerja perempuan, namun juga bisa bisa ditarik pada persoalan TKI secara umum, yang mana sistem perlindungan sosial tersebut bisa dilakukan seperti hal-hal berikut : 1) Pembekalan masalah kesehatan reproduksi dan pelayanan mental termasuk pelayanan kontrasepsi dan program intervensi HVS/AIDS. 2) Program orientasi untuk keluarga tenaga kerja Indonesia seperti : pengelolaan remitansi, reorganisasi tanggung jawab rumah tangga dan pekerjaan rumah, pondasi yang kuat dalam kehidupan perkawinan, komunikasi dengan TKI. 3) Kampanye kesadaran publik dengan memperhatikan titik kerentanan, jenis-jenis pekerjaan yang direkomendasikan yang Indonesia ingin dorongkan kepada perempuan sebagai lapangan kerja di Negara tujuan, dan ditujukan untuk mengetengahkan permasalahan buruh migran tidak berdokumen di tingkat akar rumput. 4) Penggunaan komunikasi elektronik untuk berbagi informasi bagi para calon TKI dan juga berkomunikasi dengan keluarga di kampong halaman bagi TKI yang sedang bekerja di luar negeri. 5) Layanan rekrutmen untuk TKI yang ingin bermigrasi kembali. Perlindungan secara hukum dan sosial sebagaimana ulasan di atas, merupakan upaya untuk meningkatkan optimalisasi perlindungan TKI, yang selama ini seakan terabaikan,oleh karena instrument nasional dan sistem yang dikeluarkan Pemerintah dirasakan kurang mampu memberikan

rasa aman dan nyaman bagi TKI, sehingga rentan dengan segala bentuk diskriminasi dan intimidasi baik secara hukum dan sosial. Kerentanan secara hukum dan sosial sebagaimana di maksud adalah terjadinya secara mudah kekerasan, baik fisik maupun psikis, pelecehan seksual, pemukulan, pengurungan, tidur berdesakan atau tidak diberikan tempat untuk tidur selama di penampungan, pelecehan seksual, pemerkosaan, dan lain-lain. Semua kerentanan sosial dan hukum tersebut, dialami para pekerja Indonesia yang mau bekerja di luar negeri selama masih di dalam negeri, baik di dalam masa penampungan, maupun di saat masa pelatihan kerja, terutama bag Tenaga Kerja Indonesia Perempuan (Buruh Migran Perempuan Indonesia). b. Perlindungan Buruh Migran di Negara Tujuan Masalah yang sangat penting berkenaan dengan perlindungan TKI setelah sampai di negara tujuan, adalah bagaimana TKI mendapatkan penempatan kerja yang sesuai dengan bakat dan keinginan mereka. Maka dari itu untuk mendapatkan penempatan kerja tersebut, maka sebelum

pemberangkatan, PJTKI wajib memiliki dokumen perjanjian kerja sama penempatan, surat permintaan TKI (job order/demand letter) atas nama PJTKI yang bersangkutan, perjanjian kerja dan perjanjian penempatan TKi, dan persyaratan lain yang diisyaratkan oleh negara tujuan. Ada beberapa kewajiban lain yang harus dilakukan oleh PJTKI berkenaan dengann kelengkapan TKI menuju proses pemberangkatan ke luar negeri yaitu : PJTKI wajib melegalisir perjanjian kerjasama penempatan pada Perwakilan RI di negara setempat dan didaftarkan pada Direktorat Jenderal. Perjanjian kerjasama penempatan pada sekurang-kurangnya memuat hak dan kewajiban dan tanggung jawab PJTKI dan pengguna atau Mitra Usaha dalam rangka penempatan serta perlindungan Tenaga Kerja Indonesia. Perlindungan hukum yang berhubungan dengan pelaksanaan perjanjian kerja di luar negeri atau hubungan kerja yang diadakan pekerja Indonesia di luar negeri mempunyai aspek hukum perdata internasional (HPI). Sehingga menyimpan permasalahan tentang pilihan hukum mana dan pengakuan hukum mana yang berkompeten mengadili jika terjadi sengketa. Dalam penentuan hukum yang demikian itu ada asas yang berlaku yaitu lex loci executionis atau asas lex loci solutionis yaitu bahwa terhadap hukum suatu perjanjian kerja yang berlaku adalah hukum dari negara dimana perjanjian kerja dilaksanakan. Dalam konteks TKI ke luar negeri ini asas yang berlaku adalah asas lex loci delicti commisi. Jadi, hukum perburuhan dan hukum Indonesia tidak dapat memberikan perlindungan bagi TKI sehubungan dengan perjanjian kerja yang pelaksanaannya di luar negeri. Untuk menutup kelemahan ini upaya yang dapat dilakukan oleh Pemerintah Indonesia adalah melakukan pendekatan melalui saluran diplomatik dan mengadakan perjanjian bilateral atau multilateral dengan negara-negara penerima pekerja migrant yang dianjurkan oleh ILO. c. Perlindungan Buruh Migran Pada Purna Penempatan

Ada beberapa ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengatur masalah perlindungan TKI setelah purna penempatan yang mengatur masalah perlindungan TKI setelah purna penempatan yang diatur oleh Kepmenakertrans Nomor 104 A/MEN/2002. Pada Pasal 61 Kepmentrakertrans tersebut sebagaimana diulas di atas, mewajibkan PJTKI untuk mengurus kepulangan TKI yang bermasalah tersebut, atau karena berakhirnya perjanjian kerja, cuti dan keberangkatan kembali ke

negara tujuan setelah berakhirnya perjanjian kerja atau cuti. Dan juga dalam Undang-Undang No. 39 tahun 2009 tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Luar Negeri (UUPPTKILN) Pasal 77 Ayat (2) disebutkan : Perlindungan sebagaimana dimaksud ayat (1) dilaksanakan mulai dari pra penempatan, masa penempatan, sampai dengan purna penempatan. Artinya ada keharusan bahwa PJTKI bekerja sama dengan Mitra Usaha dan Perwakilan Luar Negeri mengurus kepulangan TKI sampai di bandara Indonesia, dalam hal perjanjian kerja telah berakhir dan tidak memperpanjang perjanjian kerja tersebut, dan untuk TKI yang bermasalah, sakit atau meninggal dunia, selama masa perjanjian kerja sehingga tidak dapat menyelesaikan perjanjian kerja tersebut. Proses selanjutnya PJTKI harus memberitahukan jadwal kepulangan TKI kepada perwakilan RI di negara setempat dan Direktorat Jenderal selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari sebelum tanggal kepulangan. Dalam mengurus kepulangan TKI, PJTKI bertanggung jawab mengurus kepulangan TKI, dan mengurus atau menanggung kekurangan biaya perawatan TKI yang sakit atau meninggal dunia. d. Perlindungan terhadap Buruh Migran Khusus Perempuan Peningkatan upaya perlindungan sebagaimana tersebut, dapat dilakukan dengan upaya-upaya sebagai berikut :
1

a. Pengembangan pemahaman tentang situasi buruh migran perempuan melalui analisa kebijakan, perbandingan kebijakan, studi kasus, studi mendalam, survey, dan kompilasi data serta sistem diseminasi; b. Advokasi, penguatan perlindungan hukum dan kebijakan buruh migran perempuan, yang antara lain mencakup pembuatan standar, pembuatan Memorandum of Understanding (MoU) dengan negara-negara penerima buruh migran, pengembangan perangkat perlindungan hukum nasional dan daerah, penegakan hukum, pengembangan sistem rekrutmen yang aman dan adil, dan sebagainya; c. Peningkatan kesadaran publik tentang perlindungan dan kesadaran tentang mekanisme rekruitmen yang aman, pengembangan program sertifikasi pelatihan, pengawasan, pengiriman buruh migran dan sebagainya; d. Pendekatan dan pengembangan organisasi untuk buruh migran perempuan;

e. Pengembangan kapasitas dan kerja sama teknis; f. Pemberian informasi dan pelayanan secara langsung sebelum dan sesudah buruh migran perempuan berangkat, serta program reintegrasi bagi buruh migran perempuan dan keluarganya. Instrumen hukum Internasional yang dapat dijadikan acuan untuk meningkatkan upaya perlindungan terhadap tenaga kerja perempuan, diantaranya : 1) Semua standar HAM Internasional yang diberlakukan untuk buruh migran perempuan, kecuali ditentukan lain;

Ibid.

2) Standar ketenagakerjaan fundamental; deklarasi ILO tentang prinsip-prinsip mendasar dan hak-hak bekerja; 3) Standar-standar yang secara khusus mengatur tentang buruh migran : a) Konvensi PBB tentang hak buruh migrant dan anggota keluarganya; b) Konvensi ILO No. 95 Tahun 1949 tentang Perlindungan Upah; c) Konvensi ILO No. 97 Tahun 1949 tentang Migrasi untuk bekerja, yang antara lain mengatur tentang standar rekrutmen dan kondisi kerja buruh migran; d) Konvensi ILO No. 118 Tahun 1962 tentang persamaan perlakuan; e) Konvensi ILO No. 143 Tahun 1975 tentang buruh migran, yang antara lain mengatur persoalan-persoalan buruh migran tidak berdokumen, sanksi terhadap pelaku perdagangan menusia, negara seharusnya menghormati hak asasi buruh migran. f) Konvensi ILO No. 157 tahun 1982 tentang pemeliharaan hak-hak jaminan sosial (baik bagi negara pengirim maupun negara penerima buruh migran), g) Konvensi ILO No. 181 Tahun 1997 tentang agen pekerjaan swasta.

e. Perlindungan Buruh Migran yang Tidak Berdokumen Pendekatan penegakan hukum terhadap pengaturan migrasi di negara-negara tujuan menempatkan buruh migran tak berdokumen pada posisi tidak menguntungkan bertentangan dengan tingginya kebutuhan terhadap buruh migran, karena mereka harus menanggung konsekuensi dijadikan sasaran perlakuan sinis, dianggap sebagai pelaku kriminal dan dilabeli ilegal. Banyak juga WNI yang masuk ke Malaysia secara gelap, sembunyi-sembunyi, dan tanpa dokumen melalui jalur tikus yang jumlahnya lebih dari 86 jalur di sepanjang perbatasan Kalimantan Barat dan Serawak. Hal ini biasa dilakukan karena dulunya mereka berasal dari satu keturunan/suku yang menjadi terpisah dengan adanya batas negara Indonesia dan Malaysia. f. Perspektif Pemerintah tentang Perlindungan Buruh Migran

Upaya meningkatkan perlindungan terhadap TKI ada beberapa hal yang selama ini telah dilakukan oleh pemerintah, beberapa diantaranya adalah : 1) Perlindungan dengan Pendekatan Secara politis Pendekatan politis dilakukan secara konkret pemerintah mengupayakan perlindungan TKI di luar negeri dengan melakukan dan membuat perjanjian kerjasama antar pemerintah atau G to G (Government to Government) dari negara penerima maupun negara pengirim TKI, kerjasama G to NGO (Government to Non Government Organization), kerjasama dengan organisasi keagamaan, dan kerjasama G to privat atau privat to privat. 2) Pembentukan Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNPPTKI)

Sebuah lembaga Pemerintah Non Departemen yang bertanggung jawab kepada Presiden yang berkedudukan di Ibu Kota negara yaitu Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNPPTKI). Tercantum dalam Pasal 95 Undang-Undang No. 39 tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri. Selanjutnya di Pasal 96 memuat Kerjasama G to G (Government to Government) dari negara penerima TKI, diupayakan dengan bentuk Memorandum of Understanding (MoU), arrangement atau perjanjian bilateral. 3) Persepsi Korban tentang Perlindungan Buruh Migran Pemerintah Indonesia harus lebih agresif dan lebih fokus untuk melakukan perbaikan sistem perlindungan yang benar-benar menjamin terciptanya keamanan dan kenyamanan bagi TKI yang selama ini selalu menjadi korban pelanggaran HAM. Sehingga pemerintah harus berani dan aktif untuk melakukan terobosan dengan mencari model baru tentang konsep perlindungan yang lebih tepat. C. PENUTUP Indonesia dari tahun ke tahun dihadapkan dengan persoalan besar yang sampai saat ini belum ditemukan solusi yang tepat untuk mengatasinya, yaitu adanya ketidakseimbnagan antara angkatan kerja dan kesempatan kerja, sehingga pengangguran terus terjadi dari tahun ke tahun. Dan Indonesia sampai saat ini belum dianggap mampu memberikan kehidupan dan pekerjaan yang layak kepada setiap warga negaranya, sehingga banyak diantara mereka yang mencari pekerjaan di negara lain dengan menjadi TKI di luar negeri yang dianggap lebih mampu merubah keadaan ekonomi dan kehidupannya kepada kehidupan yang lebih baik. Namun sering kali kondisi TKI lebih banyak menyiratkan sebuah cerita penderitaannya dari pada hidup layak sebagaimana apa yang diimpikan. Maka dari itu tidak ada pilihan lain bagi

pemerintah dan pihak terkait, agar melakukan upaya perbaikan dan reformasi sistem perlindungan TKI yang terpadu dan komprehensif, mulai dari reformasi dibidang kebijakan, kerjasama dengan negara penerima, lebih-lebih pemberitahuan dibidang hukum, agar TKI tidak menjadi objek yang selalu dapat penindasan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab akibat lemahnya sistem dan perundang-undangan yang parsial dan diskriminatif. D. SARAN Hal-hal yang harus diatur dan dimuat secara normatif dalam pembaharuan undang-undang perlindungan buruh migran : 1. Perlindungan buruh migrant harus menjadi landasan utama dan konstruksi berpikirnya harus memuat landasan filosofis, bahwa perlindungan adalah hak setiap orang yang harus dihormti dan dipatuhi oleh siapa pun dan dimanapun. 2. Buruh migran harus mendapat jaminan perlindungan hukum dan perlindungan sosial, baik oleh pemerintah Indonesia dan pemerintah negara penerima, serta pengguna tenaga kerja Indonesia.

3. Bentuk-bentuk perlindungan hukum dan perlindungan sosial harus tertuang dengan jelas dan konkret dalam perjanjian bilateral dengan negara tujuan bekerja, dan menyatakan syaratsyarat kerja meliputi hak dan kewajiban para pihak, dan secara tegas mengatur tentang gaji, jam kerja, waktu libur minimal 1 hari dalam seminggu, jam kerja maksimal 8 jam kerja, lebih dari yang tersebut harus dihitung sebagai lembur, syarat-syarat kesehatan, waktu istirahat dan cuti, hak atas informasi dan komunikasi dengan anggota keluarga, lembaga swadaya masyarakat, lembaga bantuan hukum, asuransi, kesepakatan perpanjangan kontrak kerja, dan penyelesaian masalah TKI di luar negeri. 4. Perlindungan TKI harus jelas-jelas terjamin di negara tujuan dengan adanya perjanjian bahwa negara tujuan bersedia dan menjamin perlindungan TKI dengan dimuat dalam perjanjian bilateral. Perlindungan secara teknis harus diupayakan menyentuh nilai-nilai kebebasan universal;

penghargaan HAM termasuk bebas dalam membentuk Serikat Buruh Tenaga Kerja Indonesia di luar negeri dari semua tingkatan paling bawah sampai pusat. DAFTAR PUSTAKA Pranoto Iskandar dan Yudi Junadi, Standar Internasional Migrasi Ketenagakerjaan Berbasis HAM, IMR Press, Cianjur, 2011 _________, Memahami Hukum Di Indonesia, IMR Press, Cianjur, 2011 Henny Nuraeny, Tindak Pidana Perdagangan Orang Kebijakan Hukum Pidana dan Pencegahannya, Sinar Grafika, Jakarta 2011 Dwidja Priyatno, Kebijakan Legislasi Tentang Sistem Pertanggungjawaban Pidana Korporasi di Indonesia, CV. Utomo, Bandung, 2004. Muladi, Demokrasi, Hak Azasi Manusia dan Reformasi Hukum Di Indonesia, The Habibie Center, Jakarta, 2002. Munir Fuady, Hak Asasi Manusia, Politik dan Sistem Peradilan Pidana, Badan Penerbit Universitas Diponegoro Semarang, Semarang, 1995 Immanuel Kant, Groundwork of The Methaphysic of Morals, New Jersey Prestic Hall, 1999 Iswandiman, Zaenal Abidin, dan Oki Seto, TKI Penyumbang Devisa Mencerdaskan Bangsa, Buku Pedoman dan Panduan Untuk TKI, Kasih Abadi, 2005. Jack Donnelly, Universal Human Rights in Theory and Practice, Ithaca, Cornel University Press, 2003. Untuk kritikannya lihat Hilary Charles Worth, What are Womens International Human Rights?, dalam Rebecca Cook (ed.), Womens Rights in International Law, Philadelphia: University of Pennsylvania Press, 1994

L.M. Gandhi Lapian & Hetty A. Geru, Trafficking Perempuan dan Anak Penaggulangan Komprehensif Studi Kasus : Sulawesi Utara, Kerja sama Yayasan Obor, Convention Watch, Pusat Kajian Perempuan Universitas Indonesia, dan NZAID, Jakarta, 2006 Majda El Muhtaj, Hak Asasi Manusia Dalam Konstitusi Indonesia, Dari UUD 1945 sampai dengan Amandemen UUD 1945 Tahun 2002, Kencana Prenada Media Group, Jakarta, 2007 RIWAYAT PENULIS Sriagustina Hendrawati, S.H., M.H. Advokat di Kantor Hukum Cianjur Lawyer Club, Cianjur, LBH KAI Jabar, Selaras Law Firm, Jakarta, Wicaksono Karim, Jakarta, Surabaya dan Batam.