Anda di halaman 1dari 12

Implementasi Improving Learning Dengan Teknik Inquiry Untuk Meningkatkan Keaktifan Siswa Dalam Pembelajaran Matematika (PenelitianTindakan Kelas

di SMP Islam Al-Barokah KertawanaKuningan)


Kartimi, Tia Deni Setianingsih Jurusan Pendidikan Matematika, Faklutas Tarbiyah, IAIN Syekh Nurjati Cirebon, Jalan Perjuangan By Pass Cirebon 451432, Indonesia, Telepon: +62 231 481264 Sikap anak didik yang pasif tersebut tidak hanya terjadi pada mata pelajaran tertentu saja tetapi pada hampir semua mata pelajaran termasuk matematika. Fakta yang terjadi guru dianggap sumber belajar yang paling benar. Proses pembelajaran yang terjadi memposisikan siswa sebagai pendengar ceramah guru. Akibatnya proses belajar mengajar cenderung membosankan dan menjadikan siswa malas belajar. Keberhasilan itu dapat dilihat dari tingkat pemahaman, penguasaan materi serta prestasi belajar siswa. Semakin tinggi pemahaman dan penguasaan materi serta prestasi belajar siswa maka semakin tinggi pula tingkat keberhasilan pembelajaran. Namun pada kenyataannya dapat dilihat bahwa prestasi belajar matematika yang dicapai siswa masih rendah. Solusi yang dapat digunakan adalah dengan menggunakan teknik inquiry, karena dengan inquiry siswa dilatih untuk selalu bertanya, bermula dari pertanyaan siswa menentukan strategi atau cara menjawab sehingga siswa menemukan hal yang menarik selama pembelajaran matematika. Salah satu pembelajaran yang ditawarkan berdasarkan kondisi diatas pembelajaran dengan improving learning dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan belajar.Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peningkatan keaktifan siswa melalui improving learning dengan teknik inquiry, untuk mengkaji peningkatan hasil belajar siswa melalui peran aktif siswa dalam proses pembelajaran dan untuk mengkaji hubungan implementasi improving learning dengan keaktifan siswa. Penelitian ini bertitik tolak dari pemikiran bahwa strategi pembelajaran sangat berperan dalam tujuan pembelajaran. Keberhasilan proses belajar mengajar pada pembelajaran matematika dapat diukur dari keberhasilan siswa yang mengikuti kegiatan tersebut. Salah satu faktor yang merasa siswa cenderung membosankan dan menjadikan siswa malas belajar adalah strategi pembelajaran yang didominasi oleh guru. Bertitik tolak pada pemikiran siswa yang masih harus dibarengi dengan strategi salah satunya dengan diterapkannya strategi improving learning yang tepat untuk memacu keaktifan siswa pada pembelajaran matematika. Metode yang digunakan yaitu PTK dengan teknik pengumpulan data: observasi dan angket. Sampel yang diambil dalam penelitian ini adalah kelas VII. Data yang diperoleh menggunakan triangulasi untuk menjamin pemantapan dan kebenaran data yang dikumpulkan dan dicatat dalam penelitian. Berdasarkan hasil penelitian terjadi peningkatan dalam setiap siklusnya. Siklus I 14,35%, siklus II 15,2%, siklus III 28,3%, siklus IV 30% dan pada siklus V 32,5%. Maka dapat disimpulkan dengan implementasi improving learning dapat diterapkan untuk meningkatkan keaktifan siawa pada pembelajaran. Kata Kunci :

teknik inquiry, keaktifan, ptk.

Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern, mampunyai peranan penting dalam berbagai disiplin dan memajukan daya fikir manusia. Perkembangan pesat di bidang teknologi informasi dan komunikasi dewasa ini dilandasi oleh perkembangan matematika di bidang teori bilangan, aljabar, analisis, teori peluang dan matematika distrit. Untuk menguasai dan menciptakan teknologi di masa depan diperlukan penguasaan matematika yang kuat sejak dini. Usaha-usaha untuk meningkatkan kualitas pendidikan matematika tersebut harus terus dilaksanakan, sebab secara tidak langsung pembelajaran matematika merubah cara berpikir dan sikap siswa. Memperbaiki kualitas pendidikan di Indonesia berarti juga memperbaiki
Implementasi Improving Learning..(Kartimi dan Tia Deni)

|1

kualitas pembelajaran matematika. Hakikat improving learning adalah pembelajaran dengan menggunakan pendekatan pada proses pembentukan suatu konsep dan memberikan kesempatan luas kepada siswa untuk berperan aktif dalam proses tersebut. Solusi yang dapat digunakan adalah dengan menggunakan teknik inquiry, karena dengan inquiry siswa dilatih untuk selalu bertanya, bermula dari pertanyaan siswa menentukan strategi atau cara menjawab. Akhirnya ditemukan jawaban dari pertanyaannya sendiri. Dalam menyelesaikan permasalahan siswa harus mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang berarti dan berhubungan serta mereka harus melaporkan hasil-hasil temuannya itu dengan yang ditemukan oleh siswa lain, kemudian mengambil keputusan dengan temuan-temuan tersebut. Untuk menerapkan pendekatan ini guru harus betul-betul berpikir dan berprilaku yang mamfasilitasi karena siswa dituntut untuk dapat membuat identifikasi apa yang akan dipelajari. Guru membantu siswa dalam membuat pertanyaan, menentukan strategi, mengumpulkan informasi dan mengolah informasi. Dengan improving learning siswa akhirnya banyak menemukan hal yang menarik yang kita temukan dalam pembelajaran matematika, sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar matematika. Adapun Pertanyaan Penelitian antara lain : Bagaimana implementasi improving learning dengan teknik inquiry dalam pembelajaran matematika ?, Sejauhmana aktivitas siswa sebelum dan sesudah pembelajaran improving learning dengan teknik inquiry?, Apakah pengimplementasian improving learning dengan teknik inquiry dapat meningkatkan keaaktifan siswa dalam pembelajaran ?. Sedangkan Tujuan Penelitian adalah : Untuk mengkaji peningkatan keaktifan siswa melalui improving learning dengan teknik inquiry, Untuk mengkaji peningkatan hasil belajar siswa melalui peran aktif siswa dalam proses pembelajaran, Untuk mengkaji hubungan implementasi improving learning dengan keaktifan siswa. MATERI DAN METODE Subyek Penelitian. Subyek penelitian ini adalah siswa SMP Islam Al-Barokah Kertawana-Kuningan tahun ajaran 2008/2009 dengan pertimbangan bahwa siswa pada sekolah ini memiliki kemampuan yang heterogen. Dalam penelitian ini dipilih satu kelas yaitu kelas VII B. yaitu untuk mengetahui peningkatan keaktifan siswa secara secara keseluruhan , karena menurut guru tetap siswa mempunyai kemampuan akademik yang heterogen dan secara keseluruhan berkemampuan sedang. Penelitian Tindakan Kelas. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yaitu penelitian yang dimaksud untuk memberikan informasi bagaimana tindakan yang tepat untuk meningkatkan keaktifan siswa. Sehingga penelitian ini difokuskan pada tindakan-tindakan sebagai usaha untuk meningkatkan keaktifan siswa dalam belajar matematika. Penelitian kelas merupakan kegiatan pemecahan masalah yang dimulai dari perencanaan (planning), pelaksanaan (action), pengumpulan data (observing), menganalisis data atau informasi untuk memutuskan sejauh mana kelebihan atau kelemahan tindakan tersebut ( reflecting). PTK bercirikan perbaikan terus menerus sehingga kepuasan peneliti menjadi tolak ukur 2|
EduMa, Vol. 2, No. 1, Juni 2010: 1 10

berhasilnya (berhentinya) siklus-siklus tersebut. Setelah dilakukan refleksi yang mencakup analisis, sintesa dan penelitian terhadap hasil pengamatan serta hasil tindakan, bisanya muncul permasalahan yang perlu mendapat perhatian sehingga pada gilirannya perlu dilakukan perencanaan ulang. Penelitian ini dilakukan secara kolaboratif antara kepala sekolah, guru tetap dan peneliti. Kegiatan perencanaan awal dimulai dari melakukan setudi pendahulun. Pada kegiatan ini juga mendiskusikan cara melakukan tindakan pembelajaran dan bagaimana cara melakukan pengamatannya. HASIL Hasil Tindakan Pembelajaran Siklus I No Masalah Guru 1 Penerapan model pembelajar Improving learning dengan teknik inquiry Pengaturan waktu tidak sesuai dengan rencana pembelajaran. Sebagian waktu pembelajaran dihabiskan untuk menyelesaikan LKS dan diskusi kelompok. Temuan-temuan Siswa Siswa kesulitan dalam menjalankan strategi Improving learning. Siswa masi bingung mengerjakan LKS. Untuk menjelaskan kembali memerlukan waktu. Siswa belum kompak. Siswa pandai mendominasi proses diskusi. Suasana kelas cukup gaduh dalam diskusi. Ada 8 orang yang mengajukan pendapat. Ada 6 orang yang bias menjelaskan. Ada 6 orang yang mengajukan

Aktivitas pembelajaran

Kesulitan membimbing siswa dikelas. Tidak sempat membimbing siswa membuat kesimpulan Pengamatan kurang. Sulit membawa siswa. Soal dalam angket belum menujukkan aspek keaktifan siswa pada pembelajaran matematika dikelas.

Keaktifan siswa pada pembelajaran matematika

Implementasi Improving Learning..(Kartimi dan Tia Deni)

|3

pertanyaan Hasil Tindakan Pembelajaran Siklus II No Masalah Guru 1 Penerapan model pembelajar Improving learning dengan teknik inquiry Aktivitas pembelajaran Alokasi waktu sempit sehingga pembelajaran terkesan terburuburu. Kesulitan mengarahkan siswa dikelas. Tidak sempat membimbing siswa membuat kesimpulan Pengamatan terhadap siswa kurang. Sulit memotivasi siswa untuk aktif. Temuan-temuan Siswa Siswa terbiasa dengan strategi Improving learning. Beberapa siswa terlihat kompak. Ketergantungan guru sedikit berkurang

Keaktifan siswa pada pembelajaran matematika

Ada 9 orang yang mengajukan pendapat. Ada 7 orang yang bias menjelaskan Ada 8 orang yang mengajukan pertanyaan

Hasil Tindakan Pembelajaran Siklus III No Masalah Guru 1 Penerapan model pembelajar Improving learning dengan teknik inquiry Bahan ajar sedikit relevan dengan prosedur pembelajaran Improving learning. Alokasi yang direncanakan masih sedikit ngaret. Temuan-temuan Siswa Sebagian siswa sudah bias mengikuti pembelajaran Improving learning. Sebagian siswa masih belum terbiasa dengan pembelajaran Improving learning

4|

EduMa, Vol. 2, No. 1, Juni 2010: 1 10

yang ditetapkan. 2 Aktivitas pembelajaran Guru tidak terlalu mendominasi KBM. Kesulitan memantau siswa sedikit menurun. Siswa berdiskusi cukup baik. Siswa yang mengerti sudah mulai membantu temannya yang kurang paham. Ketergantungan siswa kepada guru sedikit berkurang. Suasana kelas sudah mulai sedikit kondisional. Keaktifan siswa dikelas meningkat.

Keaktifan siswa pada pembelajaran matematika

Kesulitan untuk menyusun tes dalam meningkatkan keaktifan siswa.

Hasil Tindakan Pembelajaran Siklus IV No Masalah Guru 1 Penerapan model pembelajar Improving learning dengan teknik inquiry Bahan ajar sedikit relevan dengan prosedur pembelajaran Improving learning. Alokasi yang direncanakan masih sedikit ngaret. Temuan-temuan Siswa Sebagian siswa sudah bias mengikuti pembelajaran Improving learning. Sebagian siswa masi belum terbiasa dengan pembelajaran Improving learning yang ditetapkan. Siswa berdiskusi cukup baik. Siswa yang

Aktivitas pembelajaran

Guru tidak terlalu mendominasi KBM. Kesulitan

Implementasi Improving Learning..(Kartimi dan Tia Deni)

|5

memantau siswa sedikit menurun.

mengerti sudah mulai membantu temannya yang kurang paham. Ketergantungan siswa kepada guru berkurang. Suasana kelas sudah mulai sedikit kondisional. Keaktifan siswa dikelas meningkat.

Keaktifan siswa pada pembelajaran matematika

Kesulitan untuk menyusun tes dalam meningkatkan keaktifan siswa. Membutuhkan pemikiran baru dalam berdiskusi supaya siswa mempertahankan keaktifannya.

Hasil Tindakan Pembelajaran Siklus V No Masalah Guru 1 Penerapan model pembelajar Improving learning dengan teknik inquiry Aktivitas pembelajaran Bahan ajar relevan dengan prosedur. Alokasi waktu sesuai dengan yang direncanakan. Guru tidak terlalu mendominasi KBM. Kesulitan memantau siswa sedikit menurun. Temuan-temuan Siswa Siswa terbiasa mengikuti pembelajaran Improving learning. Siswa berdiskusi cukup baik. Siswa yang mengerti sudah mulai membantu temannya yang kurang paham. Ketergantungan siswa kepada guru berkurang. Suasana kelas sudah mulai kondisional. Keaktifan siswa dikelas

Keaktifan siswa pada pembelajaran matematika

Dapat mengetahui cara mengatasi keaktifan siswa agar bias bertahan

6|

EduMa, Vol. 2, No. 1, Juni 2010: 1 10

Banyak ide-ide yang muncul setelah pembelajaran Improving learning diterapkan Analisis Data Penelitian

meningkat.

Keaktifan siswa pada pembelajaran matematika siswa N o Kriteria I 1 2 3 4 5 Sangat baik Baik Cukup Kuranng Jelek 4,4 35,6 26,7 26,7 6,7 Presentase (%) Siklus II 15,6 28,9 26,7 20 8,9 III 33,3 28,9 24,4 11,1 2,2 IV 37,8 24,4 26,7 8,9 2,2 V 42,2 22,2 26,7 6,7 2,2

Kemampuan keaktifan siswa pada pembelajaran matematika No Katagori Pengamatan Siklus I Siswa dapat menjelaskan kesimpulan yang diperolehnya R e f r e s e n t a s i Rata-Rata Skor Siklus II Siklus III Siklus IV Siklus V

Siswa dapat memilih cara yang paling tepat dan menarik untuk menyampaikan penjelasan

Implementasi Improving Learning..(Kartimi dan Tia Deni)

|7

Siswa dapat mengajukan suatu permasalahan (pertanyaan) Siswa dapat mengajukan penyelesaian dari suatu permasalahan Merespon suatu pertanyaan atas persoalan dari audien dalam bentuk argument yang meyakinkan Memberikan saran atau pendapat lain untuk menjawab suatu permasalahan agar lebih mudah Mampu mengevaluasi ide-ide serta informasi matematika

PEMBAHASAN Keaktifan siswa pada pembelajaran matematika Kemampuan siswa menyatakan solusi masalah pada pembelajaran matematika. Penerapan pembelajaran Improving Learning pada pembelajaran matematika pada dasarnya berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Berdasarkan analisis kualitatif data keaktifan siswa pada pembelajaran matematika, dapat dilihat bahwa setelah mengiuti pembelajaran Improving Learning pada siklus tindakan I, sebagaian kecil siswa kemampuannya berada pada kriteria sangat baik (4,35%) hampir setengahnya kemampuan keaktifan siswa pada pembelajaran matematika siswa berada dalam kriteria baik (32,6%), cukup (32,6%) dan kurang (21,7%) dan sebagian kecil siswa lainnya berada dalam kriteria jelek (6,52%). Sedangkan pada siklus tindakan II presentasi siswa pada kriteria sangat baik (15,2%), baik (26,9%), cukup (28,3%), kurang (17,4%)dan jelek (8,70%). Hal ini menunukan bahwa siswa yang aktif pada pembelajaran matematika kriteria cukup mengalami peningkatan. Siswa yang berada dalam kriteria sangat cukup kurangmengalami penurunan namun demikian 8|
EduMa, Vol. 2, No. 1, Juni 2010: 1 10

pada siklus tindakan II ini sebagian kecil siswa berada pada kriteri jelek presentasenya justru meningkat. Pada siklus tindakan III siswa yang berada pada kriterian sangat baik (28,3%), baik (24,0%), cukup (28,3%), kurang (10,9%)dan jelek (2,17%). Hal ini menunjukan bahwa keaktifan siswa pada pembelajaran matematika sangat baik presentasenya meningkat lagi. Sedangkan siswa kriteria baik, kurang dan jelek menurun presentase siswa kriteria cukup tidak mengalami perubahan. Pada siklus tindakan IV siswa yang berada pada kriterian sangat baik (33%), baik (23,0%), cukup (26,6%), kurang (8,3%)dan jelek (2,16%). Hal ini menunjukan bahwa keaktifan siswa pada pembelajaran matematika sangat baik presentasenya meningkat lagi. Sedangkan siswa kriteria baik, kurang dan jelek menurun presentase siswa kriteria cukup tidak mengalami perubahan. Pada siklus tindakan V siswa yang berada pada kriterian sangat baik (50%), baik (22,0%), cukup (25,6%), kurang (7,3%)dan jelek (2,10%). Hal ini menunjukan bahwa keaktifan siswa pada pembelajaran matematika sangat baik presentasenya meningkat lagi. Sedangkan siswa kriteria baik, kurang dan jelek menurun presentase siswa kriteria cukup tidak mengalami perubahan. Kemampuan siswa dalam menggunakan representasi menyeluruh untuk menyatakan solusinya. Seperti yang dapat dilihat dari tabel, sebagaian siswa dapat memberi contoh dengan benar. Untuk skor 4 (11 orang), contoh yang diberikan siswa sesuai dengan konsep yang diajarkan. Hal ini juga berarti siswa tersebut dapat mempresentasikan secara tertulis melalui contoh yang dibuatnya untuk menyatakan konsep yang diketahuinya. Hampir setengahnya mendapat skor 2 (15 orang) dan skor 3 (16 orang). Pada siklus II seluruh siswa dapat menjawab dengan benar soal tersebut. Hal ini mengindikasikan bahwa siswa mampu mempresentasikan konsep dengan baik sebagian siswa mendapat skor 3 (15 orang) dan skor 4 (15 orang) sebagian kecil lainnya mendapat skor 2 (14 orang) karena jawaban sedikir menggambarkan kemampuan menggunakan representasi dan solusinya. Pada siklus III hampir dari setengah siswa mendapat skor 4 (21 orang). Hal ini mengindikasikan bahwa siswa mampu merepresentasikann secara menyeluruh. Cukup banyak siswa mendapat skor 2 (19 orang) karena beberapa jawaban atau langkah-langkah pengerjaan siswa tidak ada. Pada siklus IV hampir seluruh siswa mendapat skor 4 (22 orang). Hal ini mengindikasikan bahwa siswa mengalami peningkatan dalam merepresentasikan secara menyeluruh. Cukup banyak siswa mendapat skor 3 (11 orang). Karena dalam menyatakan konsep kurang tepat. Pada siklus V hampir seluruhnya dari siswa mendapat skor 4 (24 orang). Hal ini mengindikasikan bahwa siswa mampu merepresentasikan secara menyeluruh. Sebagaian besar siswa mendapat skor 3 (15 orang) karena jawabannya sedikit kurang tepat. Kemampuan siswa memberikan argumentasi terhadap penyelesaianmasalah matematika. Pada siklus I, banyak siswa yang salah menjawab soal ini (18 orang). Pada siklus II, siswa banyak yang melakukan kesalahan dalam soal ini (8 orang), bahkan ada yang tidak menjawab sama sekali (4 orang). Pada tes ini sebagaian siswa sedikit menggambarkan
Implementasi Improving Learning..(Kartimi dan Tia Deni)

|9

kemampuan memberikan argum,entasi dari suatu penyelesaian masalah matematika. Siswa memberikan jawaban, tidak memberikan alasan atau alasana yang diberikannya salah. Pada siklus III, siswa umumnya menjawab soal dengan benar (11 orang) sedangkan siswa yang menjawab salah (3 orang). Hampir setengahnya siswa mandapat skor 2 (17 orang) karena jawaban siswa kurang lengkap. Sebagian kecil siswa dapat memberikan jawaban dengan lengkap dan mendapat skor 4 (11 orang). Pada siklus IV, siswa umumnya dapat menjawab soal dengan benar (15 orang), sedangkan yang mendapat skor 3 (12 orang) karena jawaban siswa kurang lengkap. Pada siklus V, siswa mengalami peningkatan dalam menjawab soal dengan benar (24 orang). Hampir setengahnya siswa mendapat skor 3 (15 orang) karena jawaban siswa kurang lengkap. Sebagaian kecil siswa dapat memberikan jawaban dengan lengkap dan mendapat skor 4. Cukup banyak siswa yang mendapat skor 3 dan 4 mengindikasikan bahwa pada akhir pembelajaran ini, kemampuan siswa dalam memberikan argument dari suatu penyelesaian masalah sudah semakin baik. Untuk melihat perkembangan kemampuan keaktifan siswa pada pembelajaran matematika dalam memberikan argument dari suatu penyelesaian masalah matematika pada siklus I, siklus II, siklus III, siklus IV dan siklus V dikonvirmasikan kedalam diagram 4.4. Kemampuan keaktifan siswa pada pembelajaran matematika Untuk mengetahui perkembangan kemampuan keaktifan siswa pada pembelajaran matematika yang memuat aspek-aspek kemampuan keaktifan siswa pada pembelajaran matematika pada saat diskusi maupun representasi. Kategori pengamatan yang mengalami peningkatan adalah siswa dapat merespon suatu pertanyaan atas persoalan dari audien dalam bentuk argument yang meyakinkan, siswa mampu mengevaluasi ide-ide serta informasi pada pembelajaran matematika, siswa dapat memberikan saran atau pendapat lain untuk menjawab suatu permasalahan agar lebih mudah, siswa dapat mengajukan penyelesaian dari suatu permasalahan cenderung tidak mengalami perubahan, siswa dapat memilih cara yang paling tepat dan menarik untuk menyampaikan penjelasan, serta siswa dapat mengajukan suatu permasalahan (pertanyaan) pada pembelajaran matematika. Rata-rata sekor beberapa kategori pengamatan mengalami perubahan pada tiap tindakan pembelajaran keaktifan siswa pada pembelajaran I yang pada umumnya termasuk kategori cukup dan sedang, pada akhir tindakan pembelajaran V meningkat menjadi kriteria baik. Hal ini mengindikasikan dengan pembelajaran Improving Learning aktivitas refresentasi siswa semangkin baik dalam usaha meningkatkan keaktifan siswa pada pembelajaran matematika. Perkembangan keaktifan siswa pada saat diskusi untuk keseluruhan kategori yang mengalami peningkatan, meskipun sempat menurun pada siklus tindakan II dan IV. Hal ini mengindikasikan menyampaikan pendapat tentang masalah yang dibahas, berpartisipasi aktitif dalam menanggapi pendapat yang lain, mengajukan pertanyaan ketika ada yang kurang dipahami, serta mendengarkan dengan serius ketika temannya mengajukan pendapat mengalami peningkatan. Hal ini dapat disebabkan 10 |
EduMa, Vol. 2, No. 1, Juni 2010: 1 10

karena waktu yang tersedia tidak memungkinkan pada pembelajaran matematika yang sempit, sehingga waktu untuk diskusi kurang memadai. Dengan demikian, siswa kurang mengoptimalkan kemampuannya dalam menyampaikan pendapat, menanggapi pendapat dan mengajukan pertanyaan pada saat diskusi terutama diskusi kelas. KESIMPULAN Proses pembelajaran matematika pada pokok bahasan perbandingan dengan menerapkan model Improving learning dengan teknik inquiry cukup berpengaruh dalam meningkatkan keaktifan siswa pada pembelajaran matematika kelas VII SMP Islam Al-Barokah Kertawana Kuningan. Hal ini terlihat dari peningkatan prosentse peningkatan siswa yang memiliki keaktifan matematika pada pembelajaran matematika dengan kriteria sangat baik untuk setiap siklusnya yaitu siklus I 14,35%, siklus II meningkat menjadi 15,2%, siklus III meningkat lagi menjadi 28,3%, siklus IV 30% dan siklus V menjadi 32,5%. Sebaliknya presentase siswa yang memiliki keakktifan matematika pada kriteria jelek mengalami penurunan yaitu siklus I 6,52%, siklus II sempat meningkat 8,7%, siklus III menurun 3,17% siklus IV 2,17% dan siklus V menurun tajam 1,28%. Aktifitas pembelajaran Improving learning yang mnekankan siswa untuk membuat kesimpulan, menyusun pertanyaan, menjelaskan kembali dalam memperediksi dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam menyatakan solusi masalah serta siswa memberikan argumen masalah matematika. Model pembelajaran Improving learning juga dapat meningkatkan keaktifan siswa pada pembelajaran matematika. berdasarkan hasil observasi berdasarkan hasil setiap tindakan beberapa kategori pengamatan keaktifan siswa terhadap pembelajaran matematika pada saat representasi dalam diskusi mengalami peningkatan. Pada siklus tindakan pembelajaran I rata-rata kriteria siswa adalah kurang, siklus II rata-rata kriteria kemampuan siswa kurang dan cukup, pada siklus III rata-rata kriteria kemampuan siswa cukup, pada siklus IV kriteria kemampuan siswa adalah sangat cukup, dan pada siklus V rata-rata kriteria kemampuan siswa adalah meningkat menjadi kriteria baik. Kriteria pengamatan keaktifan siswa sempat menurun pada siklus tindakan II karena alokasi waktu pembelajaran yang sebentar. DAFTAR PUSTAKA Ahmadi, Abu dan Joko Tri Prasetyo. 2005. Strategi Belajar Mengajar. Bandung: Pustaka Setia. Aisyah, Nyimas, dkk. 2007. Pengembangan Pembelajaran Matematika SD. Depdiknas. Angkowo dan Kosasih. 2007. Optimalisasi Media Pembelajaran . Jakarta: Grasindo. Arikunto, Suharsimi. 2005. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara. Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik . Jakarta: Rineka Cipta.
Implementasi Improving Learning..(Kartimi dan Tia Deni)

| 11

Erman.

2003. Evaluasi Pembelajaran Matematika untuk Guru dan Mahasiswa Calon Guru Matematika. Bandung: UPI. Fadli, Moh. 2008. Penerapan Metode Guide Discovey dalam Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Siswa Pokok Bahasan Segi Empat (PTK di kelas VII Semester II MTsN Arjawinangun Kabupaten Cirebon (Skripsi). Cirebon: Tidak diterbitkan.

12 |

EduMa, Vol. 2, No. 1, Juni 2010: 1 10