Anda di halaman 1dari 25

Bab I Pendahuluan

1.1. Latar Belakang Indonesia menduduki peringkat ke-3 dengan jumlah perokok terbesar di dunia setelah China dan India (WHO, 2008) dan tetap menduduki posisi peringkat ke-5 konsumen rokok terbesar setelah China, Amerika Serikat, Rusia dan Jepang tahun 2007.1 Pada tahun 2010, sekitar 190.260 orang Indonesia yang terdiri dari 100.680 pria dan 89.580 wanita meninggal karena sakit yang disebabkan merokok. Jumlah ini menyumbang total kematian di tahun yang sama sejumlah 1.539.288 jiwa. Data tersebut berasal dari riset Soewarta Kosen, Center For Community Empowerment Health Policy and Humanities, Institute Kesehatan dan Pengembangan Nasional, dan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, yang dipresentasikan di WCTOH (World Conference on Tobacco or Health) ke-15 pada 25 April 2012 di Singapura.2 Data terbaru menunjukan prevalensi merokok dewasa usia 15 tahun ke atas pada 2010 mencapai 35%; yang terdiri atas 65% pria dan 35% wanita. Dalam sepuluh tahun terakhir (2001-2010), dilaporkan bahwa usia perokok pemula yaitu 5-9 tahun meningkat 400% dari 0,4% (Susenas 2001) menjadi 1,7% (Riskesdas 2010). Prevalensi perokok usia remaja 13-15 tahun juga mengalami peningkatan dari 12,6% pada tahun 2006 menjadi 20,3% pada tahun 2009.3 Secara nasional, prevalensi perokok tahun 2010 sebesar 34,7%, tertinggi di Provinsi Kalimantan Tengah (43,2%) dan terendah di Sulawesi Tenggara sebesar 28,3%. Prevalensi perokok usia 10-14 tahun tahun 1995 sebesar 0,3% atau sekitar 71.000 orang, dan pada tahun 2010 meningkat tajam menjadi sekitar 426.000 orang. Artinya dalam kurun waktu 15 tahun, jumlah perokok pada kelompok umur ini meningkat enam kali lipat.3 Bahaya penyakit pernapasan, jantung, neoplasma/kanker dan gangguan perinatal sepertinya tidak membuat mereka takut untuk terus menerus mengonsumsi tembakau. 90% wanita yang terkena kanker memiliki suami yang merokok. Hal ini membuktikan bahwa pria yang merokok di rumah bisa membuat anak dan istrinya terkena penyakit karena paparan karbon monoksida dari asap rokok yang mempunyai daya lekat lebih besar terhadap sel darah merah.2
1

Diperkirakan lebih dari 40,3 juta anak tinggal bersama dengan perokok dan terpapar asap rokok di lingkungannya. Mereka inilah yang disebut perokok pasif. Kita ketahui bahwa anak yang yang terpapar asap rokok dapat mengalami peningkatan resiko terkena Bronkitis, Pneumonia, infeksi telinga tengah, Asma serta keterlambatan pertumbuhan paru-paru dan menyebabkan kesehatan yang buruk pada masa dewasa. 3 Angka kematian tersebut harusnya dapat dicegah, apalagi terdapat undang-undang kesehatan yang mengatur tentang tembakau, yaitu UU no 36 tahun 2009 pasal 113. Menurut Riset Kesehatan Dasar 2010 yang dilakukan oleh Unit Analisis Kebijakan dan Ekonomi Kesehatan Pusat Humaniora, sebanyak 34,7% perokok aktif adalah remaja berusia 15 tahun, 30,8% penduduk di pedesaan, dan 25,9% penduduk di perkotaan merokok setiap hari.2 Tembakau merupakan penyebab kematian yang dapat dicegah. Kematian prematur karena konsumsi tembakau biasanya terjadi rata-rata 15 tahun sebelum umur perokok mencapai usia manula.2 Data yang dirilis oleh WHO pada tahun 2008 menyebutkan bahwa tembakau dan produk turunannya merupakan faktor resiko terbesar yang menyebabkan 6 dari 8 penyakit yang menyebabkan kematian di dunia. Di Indonesia, penyakit tidak menular dengan rokok sebagai faktor resikonya telah menjadi penyebab kematian yang meningkat dari presentase 41% di tahun 1995 menjadi 60% pada tahun 2007. Sementara itu, beberapa studi menunjukan bahwa biaya ekonomi penyakit akibat rokok sangat tinggi, sekitar 4-6 kali lipat dibandingkan pemasukan pendapatan negara dari cukai tembakau. 3 Terkait dengan prevalensi rokok di Indonesia yang terus meningkat tersebut, Kementerian Kesehatan telah mengambil langkah dengan menyusun berbagai rencana program. Program tersebut adalah dengan menyusun UU 36/2009 tentang kesehatan pasal 113 sampai dengan pasal 115, Peraturan Bersama Menteri Dalam Negeri dengan Menteri Kesehatan, dan Surat edaran Menteri Dalam Negeri.1,3 Banyaknya jumlah perokok di Indonsia, seharusnya mendapatkan perhatian serius dan pengawasan ekstra dari pemerintah. Tapi hal ini sepertinya sulit diterapkan di Indonesia, sampai akhirnya rokok bebeas dihisap oleh siapa pun. Di kawasan Asia Pasific, Indonesia menjadi negara yang belum menendatangani FCTC (Framework Convention Tobacco Control) yang bertujuan uantuk melindungi generasi sekarang dan mendatang terhadap gangguan kesehatan, dampak sosial, lingkungan, dan ekonomi karena konsumsi tembakau dan paparan asap tembakau. Padahal, Indonesia ikut berperan dalam penyusunan konvensi FCTC ini.2

Pemberlakuan KTR (Kawasan Tanpa Rokok) sebenarnya merupakan aplikasi dari pemenuhan hak konstitusional hak waga negara yang dijamin dalam UUD 1945. Di samping itu, pengaturan KTR di tempat kerja dan tempat umum dimaksud untuk mematuhi amanat konstitusi yang diwujudkan dalam UU Kesehatan No. 36 tahun 2009, guna melindungi warga masyarakat terutama anak dan perempuan dari bahaya paparan asap rokok orang lain.2 Keberhasilan pelaksanaan program pengembangan kawasan tanpa rokok di Puskesmas Cilamaya, Kabupaten Karawang periode Januari 2012 sampai dengan Desember 2012. Oleh karena itu, evaluasi program ini perlu dilakukan untuk menilai tingkat keberhasilan pelaksanaan program. 1.2. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka dapat dirumuskan masalahnya adalah : 1.2.1. Indonesia mendudukin peringkat ke-3 dengan jumlah perokok terbesar di dunia setelah China dan India menurut World Health Organization (WHO), 2008. 1.2.2. Prevalensi perokok tahun 2010 sebesar 34,7%. Prevalensi perokok usia 10-14 tahun tahun 1995 sebesar 0,3% atau sekitar 71.000 orang, dan pada tahun 2010 meningkat tajam menjadi sekitar 426.000 orang. 1.2.3. Di Indonesia, penyakit tidak menular dengan rokok sebagai faktor resikonya telah menjadi penyebab kematian yang meningkat dari presentase 41% di tahun 1995 menjadi 60% pada tahun 2007. 1.2.4. Rendahnya kesadaran masyarakat tentang bahaya merokok pun menjadi alasan sulitnya penetapan Kawasan Tanpa Rokok (KTR). 1.2.5. Belum diketahuinya keberhasilan pelaksanaan program Pembangunan Kawasan Tanpa Rokok di Puskesmas Kecamatan Cilamaya, Kabupaten Karawang periode Januari 2012 sampai dengan Desember 2012.

1.3. Tujuan Penelitian 1.3.1. Tujuan Umum Mengetahui keberhasilan pelaksanaan program Pembangunan Kawasan Tanpa Rokok di Puskesmas Kecamatan Cilamaya, Kabupaten Karawang periode Januari 2012 sampai dengan Desember 2012.

1.3.2. Tujuan Khusus Diketahui hasil keluaran dari penyiapan dan pengadaan infrastruktur Program Pembangunan Kawasan Tanpa Rokok di Puskesmas Kecamatan Cilamaya (fasilitas pelayanan kesehatan), Kabupaten Karawang periode Januari 2012 sampai dengan Desember 2012. Diketahui petugas kesehatan yang tidak merokok menegur perokok untuk mematuhi ketentuan kebijakan Kawasan Tanpa Rokok di Puskesmas Kecamatan Cilamaya, Kabupaten Karawang periode Januari 2012 sampai dengan Desember 2012. Diketahui perokok merokok di luar Kawasan Tanpa Rokok di wilayah kerja di Puskesmas Kecamatan Cilamaya, Kabupaten Karawang periode Januari 2012 sampai dengan Desember 2012. Diketahui adanya sanksi bagi yang melanggar kebijakan Kawasan Tanpa Rokok di Puskesmas Kecamatan Cilamaya, Kabupaten Karawang periode Januari sampai dengan Desember 2012.

1.4. Manfaat 1.4.1. Evaluator Menerapkan dan mengembangkan ilmu pengetahuan yang diperoleh selama kuliah Mempunyai pengalaman dan pengetahuan tentang evaluasi program pengembangan kawasan tanpa rokok di Puskesmas dalam lingkup wilayah kerjanya. Mengetahui sedikit banyak kendala yang dihadapi dalam menjalankan program Puskesmas khususnya pada program pengembangan kawasan tanpa rokok dan merangsang cara berpikir kritis dan ilmiah.

1.4.2. Perguruan Tinggi Mewujudkan Tridarma Perguruan Tinggi, yaitu pendidikan, pengabdian kepada masyarakat, dan penelitian. Sebagai masukan untuk bahan dalam melaksanakan penyuluhan dalam bidang kesehatan. Mewujudkan Perguruan Tinggi sebagai masyarakat ilmiah dalam peran serta dan fungsinya di bidang kesehatan. Mengenalkan fakultas kedokteran UKRIDA kepada masyarakat.

1.4.3. Puskesmas Menjadi umpan balik positif bagi Puskesmas Kecamatan Cilamaya, dalam meningkatkan efisiensi dan efektivitas program pengembangan kawasan tanpa rokok sehingga Puskesmas dapat mengetahui besarnya permasalahan di wilayah kerja Puskesmas serta faktor resiko yang ditemukan sehingga dapat dilakukan tindakan pencegahan yang tepat. Membantu kemandirian Puskesmas Kecamatan Cilamaya dalam upaya lebih mengaktifkan program pengembangan kawasan tanpa rokok sehingga memenuhi target cakupan program. Memberikan masukan terhadap jalinan kerjasama dan membina peran serta masyarakat dalam melaksanakan program pengembangan kawasan tanpa rokok secara optimal, sehingga program ini dapat menjadi lebih baik di Puskesmas Kecamatan Cilamaya.

1.4.4. Masyarakat Menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat rokok dengan cara berhenti merokok dan perlakuan yang tepat pada masyarakat yang membutuhkan sebagai upaya menghentikan penyakit pada tahap awal.

1.5. Sasaran Semua pasien maupun pengunjung yang berada di Puskesmas Kecamatan Cilamaya, Kabupaten Karawang, sebagai salah satu tempat fasilitas kesehatan umum, yang ditetapkan Undang-Undang Republik Indonesia No.36 Tahun 2009 untuk menjalankan Program Kawasan Tanpa Rokok periode Januari 2012 sampai dengan Desember 2012.

Bab II Materi dan Metode


2.1. Materi Materi yang dievaluasi dalam program ini terdiri dari hal-hal yang menjadi dasar dalam Program Pembangunan Kawasan Tanpa Rokok di Puskesmas Kecamatan Cilamaya, Kabupaten Karawang periode Januari 2012 sampai dengan Desember 2012, yang berisi kegiatan : 1. Pembentukan komite atau kelompok kerja penyusunan kebijakan 2. Terbentuknya kebijakan kawasan tanpa rokok 3. Penyiapan infrastruktur 4. Sosialisasi penerapan kawasan tanpa rokok 5. Penerapan kawasan tanpa rokok 6. Pengawsan dan penegakan hukum

2.2. Metode Metode yang digunakan pada kegiatan evaluasi program ini adalah dengan melakukan pengumpulan data, analisis data, dan pengolahan data dengan menggunakan pendekatan sistem terhadap Program Pembangunan Kawasan Tanpa Rokok di Puskesmas Kecamatan Cilamaya, Kabupaten Karawang periode Januari 2012 sampai dengan Desember 2012 sehingga dapat digunakan untuk menjawab permasalahan pelaksanaan program yang terjadi, baik pada awal, pertengahan ataupun di akhir program.

Bab III Kerangka Teoritis


3.1. Pengertian Evaluasi Program Evaluasi adalah metode penilaian yang sistematis untuk mengumpulkan, menganalisis dan menggunakan informasi untuk menjawab pertanyaan tentang program-program dan kebijakan, terutama tentang efektivitas dan efisiensi. 4 3.2. Metode evaluasi dengan Pendekatan Sistem Evaluasi secara garis besar dibagi menjadi dua jenis yaitu evaluasi formatif dan evaluasi sumatif. Secara garis besar, evaluasi formatif ditujukan untuk mengetahui apakah pelaksanaan program sudah berlangsung sesuai dengan perencanaan yang dicanangkan pada awal program. Manakalah evaluasi sumatif secara garis besar bertujuan untuk mengetahui apakah semua target sudah sesuai dengan output yang telah dicapai pada akhir program. 4 3.3. Sistem

5 Lingkungan 1 Masukan 2 Proses 3 Keluaran 6 Dampak

4 Umpan Balik

Bagan 1 : Pendekatan Sistem

Pendekatan sistem (system approach) adalah penterapan dari jalan atau cara berpikir yang sistematis dan logis dalam membahas dan mencarikan jalan keluar dari suatu keadaan atau permasalahn yang dihadapi. 5 Pendekatan sistem adalah prinsip pokok atau cara kerja yang diterapkan pada waktu menyelenggarakan pekerjaan administrasi. Sistem terbentuk dari elemen yang saling berhubungan dan mempengaruhi. Elemen tersebut, yaitu : 4 1. Masukan (input). Ialah masukan kumpulan bagian atau elemen yang terdapat dalam sistem dan yang diperlukan untuk dapat berfungsinya sistem tersebut. 2. Proses (process). Ialah kumpulan bagian atau elemen yang terdapat dalam sistem dan yang berfungsi untuk mengubah masukan menjadi keluaran yang direncanakan. 3. Keluaran (output). Ialah bagian atau elemen yang dihasilkan dari berlangsungnya proses dalam sistem. 4. Umpan balik (feed back). Adalah kumpulan bagian atau elemen yang merupakan keluaran dari sistem dan sekaligus sebagai masukan bagi sistem tersebut. 5. Lingkungan (environment). Adalah dunia di luar dari sistem yang tidak dikelola oleh sistem tetapi dapat mempengaruhi sistem (memiliki pengaruh besar). 6. Dampak (impact). Adalah akibat yang dihasilkan oleh keluaran suatu sistem.

3.4. Tolok Ukur Tolok ukur terdiri dari variabel masukan, proses, keluaran, lingkungan, umpan balik, dan dampak. Digunakan sebagai pembanding atau target yang harus dicapai dalam Program Pembangunan Kawasan Tanpa Rokok.

Bab IV Penyajian Data


4.1. Sumber Data 4.1.1. Data primer : Wawancara dengan petugas Puskesmas dan petugas Dinas Kesehatan bagian PromKes. 4.1.2. Data sekunder : Data kepenudukan Kecamatan Cilamaya Wetan dan laporan bulanan program pengembangan kawasan tanpa rokok Puskesmas Kecamatan Cilamaya periode Januari 2012 sampai dengan Desember 2012.

4.2. Jenis Data 4.2.1. Data Umum A. Data Geografis 1) Lokasi Puskesmas Gedung Puskesmas Kecamatan Cilamaya Wetan terletak di Jalan Pasar Cilamaya no.1, Kecamatan Cilamaya Wetan, Kabupaten Karawang. Batas wilayah Cilamaya Wetan : o Utara : Laut jawa o Selatan : Kecamatan Banyusari o Barat : Kecamatan Cilamaya Kulon o Timur : Kabupaten Subang 2) Luas wilayah kerja Luas wilayah kerja Puskesmas Cilamaya Wetan adalah 6.158 Ha yang terdiri dari tujuh desa yaitu : Desa Cikarang : 5 dusun, 10 RW dan 20 RT Desa Cikalong : 4 dusun, 12 RW dan 24 RT Desa Tegalsari : 3 dusun, 7 RW dan 14 RT Desa Tegalwaru : 5 dusun, 11 RW dan 22 RT Desa Mekarmaya : 6 dusun, 12 RW dan 24 RT Desa Cilamaya : 6 dusun, 12 RW dan 32 RT Desa Muara : 4 dusun, 9 RW dan 18 RT
9

B. Data Demografi Secara keseluruhan jumlah penduduk di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Cilamaya Wetan periode Januari 2012 sampai dengan Desember 2012 adalah 49.076 jiwa, dengan distribusi : 1) Jumlah penduduk laki-laki : 25.864 jiwa 2) Jumlah penduduk perempuan : 23.222 jiwa 3) Jumlah balita : 3.552 jiwa dari jumlah penduduk Jumlah desa yang termasuk di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Cilamaya Wetan adalah sebanyak 7 desa. Terdapat 16.677 kepala keluarga (KK). Klasifikasi kepala keluarga berdasarkan tingkat pendidikan di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Cilamaya Wetan paling banyak adalah tingkat pendidikan rendah (tidak tamat/tamat SD, tidak tamat/tamat SMP, tidak tamat SMA) yaitu 12.624 jiwa (75,70%) dan untuk tamat universitas terdapat 1.049 jiwa (1,29%). Klasifikasi penduduk berdasarkan mata pencaharian di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Cilamaya Wetan paling banyak bekerja sebagai petani yaitu sebesar 29.446 jiwa (60%) dan paling sedikit bekerja sebagai pengusaha yaitu sebesar 491 jiwa (1%). Data umum selengkapnya terdapat pada lampiran C. FasilitasKesehatan Jenis fasilitas kesehatan yang berada di wilayah kerja Kecamatan Cilamaya antara lain : 1 Puskesmas, 41 posyandu, 1 pustu, 9 klinik, 10 balai pengobatan swasta, 18 bidan praktek, dan 4 dokter praktek swasta.

4.2.2. Data Khusus 4.2.2.1. Masukan a) Tenaga Dokter Petugas Promkes b) Dana Bantuan Operasional Kesehatan : cukup c) Sarana : 1 orang : 1 orang

10

Penyampaian pesan Kawasan Tanpa Rokok kepada pasien/pengunjung dan konseling. Laptop Proyektor Pembesar suara Kertas leftlet Poster Plang Kawasan Tanpa Rokok Kursi Meja Ruangan

d) Metode 1) Membentuk kelompok kerja penyusun kebijakan kawasan tanpa rokok di fasilitas pelayanan kesehatan. 2) Membuat kebijakan kawasan tanpa rokok. 3) Menyiapkan infrastruktur seperti surat keputusan dari pimpinan tentang penanggung jawab dan pengawas kawasan tanpa rokok di fasilitas pelayanan kesehatan, materi sosialisasi penerapan kawasan tanpa rokok, pembuatan dan pemasangan tanda larang merokok, pelatihan bagi pengawas kawasan tanpa rokok, pelatihan kelompok sebaya bagi karyawan. 4) Pengawasan, pencatatan, dan pelaporan pelanggaran peraturan kawasan tanpa rokok.

4.2.2.2. Proses A. Perencanaan 1) Pembentukan komite atau kelompok kerja penyusunan kebijakan kawasan tanpa rokok Kepala Puskesmas melakukan pengkajian ulang ada tidaknya kebijakan kawasan tanpa rokok dan bagaimana sikap dan perilaku sasaran terhadap kajian tersbut. Kepala Puskesmas Kecamatan Cilamaya menetapkan penanggung jawab program ini dan membahas cara sosialisasi yang efektif bagi sasaran. Kepala Puskesmas Kecamatan Cilamaya membentuk suatu
11

kelompok kerja untuk diberi penjelasan mengenai manfaat dan maksud tujuan kawasan tanpa rokok, serta menyusun kebijakan Program

Pembangunan Kawasan Tanpa Rokok di tempat fasilitas kesehatan, Puskesmas Cilamaya. 2) Membuat kebijakan kawasan tanpa rokok Kelompok kerja membuat kebijakan yang jelas tujuan dan cara melaksanakannya. 3) Penyiapan infrastruktur Membuat surat keputusan dari pimpinan tentang penanggung jawab dan pengawas kawasan tanpa rokok di Puskesmas Cilamaya. Instrumen pengawasan. Materi sosialisasi penerapan kawasan tanpa rokok. Pembuatan dan penempatan tanda larangan merokok di Puskesmas Cilamaya. Mekanisme dan saluran penyampaian pesan di Puskesmas Cilamaya. Pelatihan bagi pengawas kawasan tanpa rokok. Pelatihan kelompok sebaya bagi karyawan tentang cara berhenti merokok. 4) Sosialisasi penerapan kawasan tanpa rokok Sosialisasi penerapan kawasan tanpa rokok di lingkungan internal dan sosialisasi tugas dan penanggung jawab dalam pelaksanaan program ini. 5) Penerapan kawasan tanpa rokok Penyampaian pesan kawasan tanpa rokok kepada pasien atau pengunjung melalui poster, tanda larangan merokok, pengumuman, pengeras suara dan lain sebagainya. Penyediaan tempat bertanya. Pelaksanaan pengawasan kawasan tanpa rokok. 6) Pengawasan dan penegakan hukum Pengawas kawasan tanpa rokok di Puskesmas Cilamaya mencatat pelanggaran dan menerapkan sanksi sesuai peraturan daerah setempat. Melaporkan hasil pengawasan kepada otoritas pengawasan daerah yang ditunjuk oleh pemerintah daerah setempat, baik diminta atau tidak.

12

B. Pengorganisasian Tidak didapatkan data atau bagan tertulis.

C. Pelaksanaan 1) Pembentukan komite atau kelompok kerja penyusunan kebijakan Kawasan Tanpa Rokok Tidak didapatkan data tertulis mengenai kelompok kerja atau kemite penyusun kebijakan Kawasan Tanpa Rokok. Namun telah ditunjuk petugas yang bertanggung jawab untuk dilaksanakannya program ini. 2) Membuat kebijakan Kawasan Tanpa Rokok Tidak didapatkan data mengenai kebijakan Kawan Tanpa Rokok di Puskesmas Kecamatan Cilamaya. 3) Penyiapan infrastruktur Segala infrastruktur Progam Pembangunan Kawasan Tanpa Rokok tidak semua di dapatkan datanya. Puskesmas Cilamaya telah membuat dan menempatkan tanda larangan merokok di Puskesmas berupa tulisan yang tergantung di depan ruang pendaftaran, melakukan kegiatan konseling secara pribadi dan penyuluhan kelompok guna menyampaikan pesan bahaya merokok, dan petugas promkes sebagai yang dipercayai untuk melaksanakan program ini telah mengikuti beberapa kali penyuluhan tentang Kawasan Tanpa Merokok (salah satunya di Yogja). Hal-hal atau bentuk kegiatan lain yang termasuk dalam salah satu infrastruktur tidak diperoleh data lengkapnya. 4) Sosialisasi penerapan kawasan tanpa rokok Tidak didapatkan data telah dilaksanakannya sosialisasi penerapan Kawasan Tanpa Rokok. 5) Penerapan kawasan tanpa rokok Penyampaian pesan Kawasan Tanpa Rokok kepada pasien atau pengunjung sudah dilakukan melalui tanda larangan merokok yang terpasang di depan loket pendaftaran, terpasang pula poster tanda bahaya merokok, terpasang neo box tentang Kawasan Tanpa Rokok. Puskesmas Cilamaya juga sudah menyiapkan ruangan konseling guna tempat untuk bertanya dan berkeinginan untuk berhenti merokok. Kegiatan konseling dilaksanakan pada hari Senin

13

sampai dengan Jumat. Kegiatan penyuluhan kelompok akan bahaya merokok dilakukan dua kali dalam satu minggu.

D. Pengawasan Petugas kesehatan menegur perokok yang merokok di kawasan tanpa rokok dan memberikan sanksi. Sanski berupa membayar denda. Untuk data pencatatan dan pelaporan pelanggar tidak didapatkan data.

4.2.2.3. Keluaran A. Pembentukan komite atau kelompok kerja penyusunan kebijakan Kawasan Tanpa Rokok Tidak didapatkan data tertulis mengenai kelompok kerja atau kemite penyusun kebijakan Kawasan Tanpa Rokok.

B. Membuat kebijakan Kawasan Tanpa Rokok Tidak didapatkan data mengenai kebijakan Kawan Tanpa Rokok di Puskesmas Kecamatan Cilamaya.

C. Penyiapan infrastruktur Puskesmas Cilamaya telah membuat dan menempatkan tanda larangan merokok di Puskesmas berupa tulisan yang tergantung di depan ruang pendaftaran, melakukan kegiatan konseling secara pribadi dan penyuluhan kelompok guna menyampaikan pesan bahaya merokok, dan petugas promkes sebagai yang dipercayai untuk melaksanakan program ini telah mengikuti beberapa kali penyuluhan tentang Kawasan Tanpa Merokok (salah satunya di Yogja).

D. Sosialisasi penerapan kawasan tanpa rokok Tidak didapatkan data telah dilaksanakannya sosialisasi penerapan Kawasan Tanpa Rokok.

E. Penerapan kawasan tanpa rokok Penyampaian pesan Kawasan Tanpa Rokok kepada pasien atau pengunjung sudah dilakukan melalui tanda larangan merokok yang
14

terpasang di depan loket pendaftaran, terpasang pula poster tanda bahaya merokok, terpasang neo box tentang Kawasan Tanpa Rokok. Puskesmas Cilamaya juga sudah menyiapkan ruangan konseling guna tempat untuk bertanya dan berkeinginan untuk berhenti merokok. Kegiatan konseling dilaksanakan pada hari Senin sampai dengan Jumat. Kegiatan penyuluhan kelompok akan bahaya merokok dilakukan dua kali dalam satu minggu.

a. Cakupan konseling penduduk yang ada di Puskesmas Kecamatan Cilamaya Kabupaten Karawang periode Januari 2012 sampai dengan Desember 2012 Kunjungan Pasien Konseling Januari 2012 Februari 2012 Maret 2012 April 2012 Mei 2012 Juni 2012 Juli 2012 Agustus 2012 September 2012 Oktober 2012 November 2012 Desember 2012 Total
Sampai engan Desember 2012.

6 5 7 5 6 5 5 4 6 5 4 5 63

Tabel 1. Kunjungan Pasien Konseling Berhenti Merokok periode Januari 2012

15

b. Cakupan penyuluhan kelompok penduduk yang ada di

Puskesmas

Kecamatan

Cilamaya Kabupaten

Karawang

periode Januari 2012 Sampai dengan Desember 2012. Penyuluhan Kelompok penduduk Januari 2012 Februari 2012 Maret 2012 April 2012 Mei 2012 Juni 2012 Juli 2012 Agustus 2012 September 2012 Oktober 2012 November 2012 Desember 2012 Total
Desember 2012.

4 3 5 5 4 4 5 4 6

5 4

52

Tabel 2. Penyuluhan Kelompok Penduduk periode Januari 2012 sampai dengan

F. Pengawasan dan Penegakan hukum Petugas kesehatan menegur perokok yang merokok di kawasan tanpa rokok dan memberikan sanksi. Sanski berupa membayar denda. Untuk data pencatatan dan pelaporan pelanggar tidak didapatkan data. 4.2.2.4. Lingkungan A. Fisik Lokasi ke Puskesmas dan tempat penyuluhan : mudah dijangkau Transportasi : sarana transportasi terjangkau Fasilitas kesehatan lain : ada dan dapat dijalin kerjasama yang baik B. Non-fisik Pendidikan : mayoritas berpendidikan rendah
16

Sosial ekonomi : mayoritas mempunyai sosio ekonomi rendah Agama : mayoritas beragama Islam

4.2.2.5. Umpan Balik A. Rapat kerja yang membahas laporan kegiatan setiap bulannya untuk mengevaluasi program yang telah dijalankan (Ada). B. Rapat kerja yang membahas laporan kegiatan setiap tiga bulannya di Kecamatan untuk mengevaluasi program yang telah dijalankan (Ada).

4.2.2.6. Dampak A. Langsung 1. Menurunkan jumlah warga yang merokok : belum dapat dinilai 2. Respon baik dari pengawasan Kawasan Tanpa Rokok : belum dapat dinilai B. Tidak langsung Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat : belum dapat dinilai

17

Bab V Pembahasan
Masalah Menurut Variabel Keluaran : No. 1. Variabel Penyiapan infrastruktur Tolok Ukur Lingkungan pelayanan Pencapaian fasilitas Masalah (+)

fasilitas Lingkungan

kesehatan pelayanan kesehatan masih adanya asap rokok kesehatan merokok perokok yang sudah untuk (+)

tanpa asap rokok 2. Penerapan kawasan tanpa rokok

Petugas kesehatan yang Petugas tidak merokok menegur tidak perokok untuk mematuhi menegur ketentuan KTR mematuhi merokok,

ketentuan namun tetap

masih saja ada perokok yang merokok 3.


Pengawasan dan Perokok merokok di luar Tidak ada yang merokok di

(-)

Penegakan hukum

KTR

KTR (-)

4.

Adanya sanksi bagi yang Sanksi dikenakan bagi yang melanggar KTR melanggar KTR.

Masalah Menurut Variabel Proses : No. 1. Variabel Sosialisasi penerapan Tolok ukur Terlaksananya Pencapaian Masalah (+)

sosialisasi Tidak didapatkan data

kebijakan KTR baik secara (tatap tidak media muka) langsung cetak,

kawasan tanpa langsung rokok maupun (melalui elektronik) 2.

Adanya pengaturan tugas dan Adanya tanggung jawab dalam tugas dan

pengaturan tanggung dalam

(-)

pelaksanaan KTR di fasilitas jawab

18

pelayanan kesehatan

pelaksanaan fasilitas

KTR

di

pelayanan

kesehatan (tidak terdapat data tertulis). 3. Penerapan Terpasanganya pengumuman Terpasanganya (-)

kawasan tanpa kebijakan KTR melalui poster, pengumuman kebijakan rokok tanda mading, larangan surat merokok, KTR melalui poster,

edaran, tanda larangan merokok, mading, surat pengeras suara edaran,

pengeras suara

4.

Terpasanganya tanda KTR di Terpasanganya sekitar fasilitas

tanda

(-)

pelayanan KTR di sekitar fasilitas pelayanan kesehatan penyuluhan Terlaksananya KTR, (-)

kesehatan 5. Terlaksananya

KTR, bahaya merokok, etika penyuluhan

merokok dan tidak merokok di bahaya merokok, etika fasilitas pelayanan kesehatan. merokok merokok dan di tidak fasilitas

pelayanan kesehatan.

Masalah Menurut Variabel Masukan : No. 1. Variabel Material Tolok Ukur Pencapaian Masalah (+)

Adanya kebijakan tertulis Tidak didapatkan data tentang KTR

2.

Tenaga

Adanya ditugaskan

tenaga

yang Adanya untuk ditugaskan

tenaga

yang untuk

(-)

memantau KTR 3. Material

memantau KTR media promosi larangan (-)

Adanya media promosi Adanya tentang merokok/KTR larangan tentang

merokok/KTR

19

Bab VI Perumusan Masalah


6.1. Masalah menurut Keluaran : Dari pengamatan sehari-hari pada Program Pembangunan Kawasan Tanpa Rokok di Puskesmas Kecamatan Cilamaya periode Januari sampai denganDesember 2012, didapatkan beberapa masalah sebagai berikut : 1. Lingkungan sekitar tempat umum pelayanan kesehatan, Puskesmas Kecamatan Cilamaya masih didapatkan adanya asap rokok. 2. Masih adanya perokok yang tetap merokok meskipun sudah mendapat teguran. Sikap acuh tak acuh dari perokok masih tinggi dan kurangnya kesadaran untuk berhenti merokok.

6.2. Masalah menurut Unsur Lain : 6.2.1. Masukan Jumlah petugas kesehatan yang termasuk ke dalam program ini terlalu sedikit yaitu hanya satu orang dokter sebagai penanggung jawab dan satu orang promkes sebagai pelaksana program ini. Jumlah petugas kesehatan di Puskesmas tidaklah terlalu sedikit, sehingga pembentukan kelompok pelaksana dalam program ini tidak seharusnya menjadi masalah. Tidak didapatkan data mengenai ada-tidaknya kebijakan kawasan tanpa rokok, hal ini menjadikan sulit untuk menentukan program ini dapat dijalankan atau tidak, karena menjadi tidak adanya pedoman bagi Puskesmas untuk melaksanakan program ini.

6.2.2. Proses Tidak adanya data tertulis mengenai struktur organisasi dari program ini, hal ini dikarenakan tenaga dari program ini sangat sedikit dan tidak adanya data tertulis mengenai kebijakan kawasan tanpa rokok. Sosialisasi penerapan kawasan tanpa rokok juga tidak didapatkan datanya, apakah pernah dilaksanakan sebelumnya baik melalui tatap muka ataupun secara umum (publik). Hal ini dikarenakan tidak adanya kebijakan dari program ini sehingga tidak ada yang mengatur jalannya program ini.

20

Bab VII Prioritas Masalah


7.1. Masalah menurut Keluaran 1. Lingkungan sekitar tempat umum pelayanan kesehatan, Puskesmas Kecamatan Cilamaya masih didapatkan adanya asap rokok. 2. Masih adanya perokok yang tetap merokok meskipun sudah mendapat teguran.

21

Bab VIII Penyelesaian Masalah


8.1. Masalah 1 Pada lingkungan di tempat fasilitas kesehatan masih didapatkan adanya asap rokok. Penyebab Masih terdapatnya perokok yang merokok di dalam lingkungan fasilitas kesehatan. Penyelesaian Tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan semakin menegaskan kepada perokok bahwa lingkungannya merupakan area tanpa rokok dengan cara menegur dan memberikan sanksi. Tenaga kesehatan dapat melakukan pendekatan kepada perokok supaya para perokok mau ikut serta dalam program konseling berhenti merokok. Mempromosikan dengan lebih efektif yaitu edukasi setiap perokok, baik pasien maupun bukan pasien. 8.2. Masalah 2 Masih banyaknya perokok yang melanggar ketentuan KTR. Penyebab Sikap acuh tak acuh perokok terhadap ketentuan KTR. Sanksi yang dinilai ringan sehingga tidak membuat jera. Penyelesaian Memberikan edukasi tentang bahaya merokok dan kerugian dari merokok. Memberikan sanksi yang lebih berat sehingga para perokok menjadi jera.

22

Bab IX Kesimpulan
Dari hasil Evaluasi Program Pembinaan Kawaswan Tanpa Rokok yang dilakukan dengan cara pendekatan sistem di Puskesmas Kecamatan Cilamaya periode Januari-Desember 2012, belum berjalan dengan baik melihat ditemukan berbagai masalah berikut : Pada lingkungan di tempat fasilitas kesehatan masih didapatkan adanya asap rokok. Masih banyaknya perokok yang melanggar ketentuan KTR.

Masalah di atas disebabkan karena : Masih terdapatnya perokok yang merokok di dalam lingkungan fasilitas kesehatan. Tingginya sikap acuh tak acuh perokok terhadap ketentuan KTR. Sanksi yang dinilai ringan sehingga tidak membuat jera.

Pembinaan Kawasan Tanpa Rokok bertujuan untuk mempersempit area bagi perokok sehingga generasi sekarang maupun yang akan datang dapat terlindung dari bahaya rokok. Dan hal tersebut merupakan tanggung jawab seluruh komponen bangsa, baik individu, masyarakat maupun pemerintah. Komitmen bersama sangat dibutuhkan dalam keberhasilan penerapan Kawasan Tanpa Rokok terutama di Puskesmas Kecamatan Cilamaya Wetan Kabupaten Karawang ini sendiri.

23

Bab X Inovasi
Pembinaan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) akan terlaksana dengan sukses dengan kerjasama dari semua pihak yang terlibat di tempat, antara lain : 1. Di tempat pelayanan kesehatan, saya menginovasikan penggantian rokok dengan permen. Dengan cara memilih kader yang tidak merokok untuk menegur baik pasien maupun petugas atau klien yang terlihat merokok dan menggantikan rokoknya dengan permen. Kader yang dipilih sebaiknya merupakan petugas kesehatan yang memiliki peran yang besar sehingga disegani dan warga takut untuk merokok lagi di lingkungan kesehatan. 2. Memberikan edukasi yang efektif yang mudah diterima oleh masyarakat mengenai bahaya kerugian merokok. 3. Menetapkan sanksi yang lebih berat kepada perokok yang masih merokok di kawasan tanpa rokok sehingga mereka jera. 4. Puskesmas berkoordinasi dengan Kecamatan Cilamaya untuk berkomitmen dalam program kawasan tanpa rokok. Ini bermaksud untuk meminta bantuan Kecamatan untuk melarang pemasangan pamflet ataupun iklan-iklan rokok di sekitar wilayah Cilamaya. 5. Penambahan jumlah anggota dalam organisasi program pembinaan Kawasan Tanpa Rokok supaya memudahkan pencatatan dan pelaporan untuk setiap aktivitas dijalankan. Tersedianya buku laporan setiap penyuluhan kelompok dijalankan dan pertemuan dengan pemimpin setiap tempat yang terpilih untuk pembinaan KTR.

24

DAFTAR PUSTAKA
1. Sulistyowati L.S.Pedoman Pengembangan Kawasan Tanpa Rokok.Katalog Dalam Terbitan.Jakarta: Kementerian Kesehatan RI, 2010. Edisi I. Cetakan kedua. 2. Pengendalian Tembakau Perjuangan Tanpa Henti. Kawasan Tanpa Rokok Perjuangan Tanpa Henti dalam Interaksi. Edisi 2. Jakarta. 2012.h.7 3. Indonesia (Bukan) Surga Rokok. Kawasan Tanpa Rokok Perjuangan Tanpa Henti dalam Interaksi. Edisi 2. Jakarta. 2012.h.17 4. Susanto D.H. pedoman Evaluasi Program. Jakarta: UKRIDA. 2011.h.4-5. 5. Azwar A. Sistem pelayanan kesehatan. Pengantar Administrasi Kesehatan. Jakarta: P.T Medika Pers.1980.h.12

25