Anda di halaman 1dari 18

SklLL LA8 nLu8CLulA18l 8LCk 19

Anamnesis Neuropediatri,
Pengukuran Lingkar Kepala,
Pemeriksaan Refleks Primitif,
Reaksi Postural dan Fungsi Motorik
pada Bayi dan Anak


Disusun oleh:
dr. Masayu Rita Dewi, SpAK
dr. Syarif Darwin Ansori, SpAK
dr. R.M. ndra, SpA


Divisi Neuropediatri
Departemen lmu Kesehatan Anak
RS Moh Hoesin / FK UNSR
2013
Panya unLuk dlgunakan pada keglaLan
bela[ar menga[ar Mahaslswa lk unS8l
Bivisi NeuropeJiotri Beportemen llmu Keseboton Anok Balaman 1

SKILL LAB NEUROPEDIATRI BLOK 19


ANAMNESIS, PENGUKURAN LINGKAR KEPALA, REFLEKS PERKEMBANGAN,
REAKSI POSTURAL DAN FUNGSI MOTORIK PADA BAYI DAN ANAK


I. PENDAHULUAN

DEFINISI
1. Anamnesis : Wawancara yang dilakukan pemeriksa kepada pasien atau
orang lain yang mengetahui kondisi pasien dengan tujuan
untuk mengumpulkan informasi yang dapat digunakan
untuk menegakkan diagnosis dan memberikan tatalaksana
terhadap pasien.
2. Lingkar kepala : Adalah lingkar kepala anak yang paling besar, umumnya
diukur dengan patokan glabella dan protuberantia
occipitalis.
3. Refleks Perkembangan : Respons neuromuskuler yang diatur batang otak pada
bayi cukup bulan yang bersifat stereotipik dan otomatis
yang lazimnya akan menghilang selama tahun pertama
kehidupan.
4. Reaksi Postural : Respons motorik kompleks terhadap berbagai aferen
termasuk dari sendi, tendon, otot, kulit, organ dalam, mata
dan telinga (auditorik dan fungsi keseimbangan) yang
berupa perubahan postur batang tubuh, kepala dan
ekstremitas yang spesifik dan stereotipik apabila terjadi
perubahan posisi yang tertentu dan mendadak.
5. Fungsi motorik : Kemampuan membuat gerakan-gerakan bertujuan yang
dibutuhkan dalam menyelesaikan atau menguasai tugas
yang telah ditentukan.


MACAM TEHNIK
1. Anamnesis pada penyakit anak umumnya merupakan alloanamnesis dari orang tua atau
wali anak, atau orang lain yang mungkin lebih sering berhubungan dengan anak.
Alloanamnesis pada penyakit anak tidak terbatas pada satu orang.


Bivisi NeuropeJiotri Beportemen llmu Keseboton Anok Balaman 2

2. Pengukuran lingkar kepala.



3. Pemeriksaan refleks perkembangan, terdiri dari:
Refleks palmar grasp
Refleks plantar grasp
Refleks Galant
Refleks asymmetric tonic neck
Refleks Moro
Refleks Babinski

4. Pemeriksaan reaksi postural, terdiri dari:
Reaksi traksi
Reaksi suspensi horizontal (ventral)
Reaksi suspensi vertikal

5. Pemeriksaan fungsi motorik. Pemeriksaan fungsi motorik, terdiri dari:
Gerakan
Kekuatan
Tonus
Refleks fisiologis
Refleks patologis
Klonus

KOMPLIKASI
Pemeriksaan-pemeriksaan pada skill lab ini aman untuk dilakukan, beri perhatian khusus
pada:
1. Anak dengan fraktur tulang atau dislokasi sendi
2. Pada kasus radang otot, sendi atau tulang, pemeriksaan dapat mengeksaserbasi atau
meningkatkan nyeri.
3. Pada anak dengan keadaan kardio respiratorik tidak stabil, peningkatan tekanan
intrakranial yang berat atau kondisi sakit berat lain pemeriksaan harus dilakukan dengan
hati-hati. Meski demikian seluruh atau sebagian pemeriksaan tetap dapat dilakukan.

II. TUJUAN UMUM
Mencapai kompetensi dalam pemeriksaan fisik neurologis pada anak sesuai kurikulum
berbasis kompetensi.

Bivisi NeuropeJiotri Beportemen llmu Keseboton Anok Balaman S

III. LEARNING OBJECTIVE


etelah mengerjakan skill lab ini, mahasiswa mampu:
1. Melakukan anamnesis yang menyeluruh dan terarah sehingga dapat memperoleh
informasi dalam menegakkan diagnosis dan menyingkirkan diagnosis banding.
2. Melakukan pengukuran lingkar kepala dengan tepat.
3. Melakukan pemeriksaan refleks perkembangan.
4. Melakukan pemeriksaan reaksi postural.
5. Melakukan pemeriksaan fungsi motorik pada anak.


IV. RANCANGAN ACARA PEMBELAJARAN
Waktu ( menit ) Aktivitas belajar mengajar Keterangan
10 menit Pendahuluan Narasumber
30 menit Demonstrasi Narasumber
40 menit Demonstrasi oleh instruktur,
mahasiswa melakukan secara
bergantian dibimbing instruktur
nstruktur mahasiswa
70 menit Mahasiswa melakukan sendiri secara
bergantian
Mahasiswa

V. SARANA DAN ALAT YANG DIBUTUHKAN
1. Anamnesis, pemeriksaan refleks perkembangan dan reaksi postural tidak
memerlukan peralatan khusus.
2. Pengukuran lingkar kepala membutuhkan pita ukur.
3. Untuk skrining motorik dibutuhkan mainan-mainan untuk anak yang dapat meliputi:
balok, manik-manik, boneka, bunyi-bunyian (bel).


4. Pemeriksan fungsi motorik membutuhkan palu refleks.
Bivisi NeuropeJiotri Beportemen llmu Keseboton Anok Balaman 4

V. PROSEDUR
Anamnesis
No Langkah
1. Pemeriksa memperkenalkan diri kepada pasien dan orang tuanya.
2. Tanyakan tentang keluhan utama pada pasien, yaitu keluhan yang menyebabkan
pasien dibawa berobat.
3. Dari keluhan utama, diuraikan riwayat perjalanan penyakit yang terdiri dari:
ejak kapan timbulnya keluhan, apakah akut atau kronis, progresifitas, apakah
hilang timbul, apakah ada pola.
Lokasi keluhan pada tubuh, apakah ada perubahan atau penjalaran
Apakah ada gejala awal yang menyertai (misalnya aura pada epilepsi)
Apakah ada penyakit lain yang mungkin berhubungan.
4. Tanyakan tentang riwayat penyakit dan pengobatan sebelumnya, apakah sedang
mendapat pengobatan, apakah pernah dirawat atau mengalami prosedur medis
tertentu, hasil-hasil pemeriksaan sebelumnya dan rekam medis atau kartu berobat
sebelumnya.
5. Tanyakan mengenai riwayat keluarga, misalnya apakah ada penyakit yang
kemungkinan berhubungan.
6. Riwayat imunisasi, dapat dikonfirmasi dengan kartu imunisasi atau KM. Untuk
imunisasi BCG konfirmasi dengan adanya parut BCG atau tidak.
7. Riwayat kehamilan dan persalinan:
Apakah ada penyakit atau kondisi khusus pada ibu saat kehamilan.
Bagaimana kondisi persalinan, apakah saat lahir langsung menangis, skor
APGAR, apakah saat lahir pasien perlu mendapatkan perawatan dalam jangka
waktu lama, riwayat penyuntikan vitamin K, dan lain-lain.
8. Riwayat perkembangan, apakah pencapaian tahapan-tahapan perkembangan
terdahulu sesuai dengan usianya, bagaimana tahapan perkembangan sekarang.
krining perkembangan dapat menggunakan perangkat-perangkat seperti Denver
atau Kuesioner Pra krining Perkembangan (KPP).





Bivisi NeuropeJiotri Beportemen llmu Keseboton Anok Balaman S

Pemeriksaan Lingkar Kepala


No Langkah
1. Pemeriksa memperkenalkan diri kepada pasien dan orang tuanya
2. Pasien dapat duduk di pangkuan orang tuanya, di bangku atau tempat tidur, atau
berbaring.
3. dentifikasi protuberantia oksipitalis, yaitu bagian yang paling menonjol dari tulang
oksipital.
4. Dengan menggunakan pita ukur, lakukan pengukuran lingkaran kepala melewati
glabella dan protuberantia oksipitalis.


5. Catat hasil pengukuran
6. Bandingkan hasil pengukuran dengan standar lingkar kepala menurut jenis
kelamin dan usia.


Kurva lingkaran kepala Nellhaus untuk anak laki-laki
Bivisi NeuropeJiotri Beportemen llmu Keseboton Anok Balaman 6



Kurva lingkaran kepala Nellhaus untuk anak perempuan


Bivisi NeuropeJiotri Beportemen llmu Keseboton Anok Balaman 7


3 Pemeriksaan Refleks Perkembangan
No Langkah
1. Pemeriksa memperkenalkan diri kepada pasien dan orang tuanya
2. Pada semua pemeriksaan:
Lakukan pada sisi kanan dan sisi kiri
Perhatikan apakah respon positif atau negatif, bandingkan dengan usia pasien.
Perhatikan perbedaan intensitas pada kedua sisi
Nilai tonus otot saat melakukan pemeriksaan
Catat hasil pengukuran dengan jelas menggunakan istilah baku.
3. Refleks palmar grasp
Pasien berbaring terlentang.
Pemeriksa meletakkan jari pada telapak tangan pasien
Reaksi positif apabila terjadi fleksi jari-jari, membentuk genggaman
Refleks ini semestinya menghilang pada usia enam bulan.


Palmar grasp

4. Refleks plantar grasp
Pasien berbaring terlentang
Pemeriksa menekan jempolnya terhadap telapak kaki sedikit di bawah jari-jari
kaki.
Reaksi positif apabila terjadi fleksi jari-jari kaki
Refleks ini semestinya menghilang pada usia 15 bulan



Plantar grasp

Bivisi NeuropeJiotri Beportemen llmu Keseboton Anok Balaman 8

5. Refleks Galant
Pasien berbaring terlungkup
Gores kulit pasien dari punggung ke bawah, 2-3 cm di samping prosesus
spinosus
Reaksi positif apabila terjadi pembengkokan trunkus, di mana bagian yang
distimulasi melengkung ke dalam (konkav).
Refleks ini semestinya menghilang pada usia 4 bulan


6. Refleks asymmetric tonic neck
Pasien berbaring terlentang
Kepala pasien diputar ke samping dan ditahan selama sekitar 15 detik.
Reaksi positif apabila terjadi ekstensi ekstremitas pada sisi muka, sedangkan
terjadi fleksi ekstremitas pada sisi belakang kepala
Refleks ini menghilang pada usia 3 bulan

Asymmetric tonic neck reflex
7. Refleks Moro
Pasien berbaring terlentang
Tangan pemeriksa diletakkan pada punggung dan leher pasien dan pelan-
pelan penderita diangkat. Pastikan lengan penderita bebas.
Jatuhkan tangan pemeriksa secara mendadak sebagian.
Refleks positif apabila terjadi abduksi dan diikuti fleksi ekstremitas atas,
menghasilkan gerakan seperti memeluk.
Refleks ini menghilang usia enam bulan
Bivisi NeuropeJiotri Beportemen llmu Keseboton Anok Balaman 9



7 Refleks Babinski
Pasien berbaring terlentang
Gores sisi lateral telapak kaki dari tumit hingga metatarsal jari lima
Reaksi positif apabila terjadi dorsofleksi jari diikuti gerakan saling manjauh
(fanning) jari lainnya.


Bivisi NeuropeJiotri Beportemen llmu Keseboton Anok Balaman 1u


4 Pemeriksaan Reaksi Postural
No Langkah
1. Pemeriksa memperkenalkan diri kepada pasien dan orang tuanya
2. Pada semua pemeriksaan:
Perhatikan apakah respon positif atau negatif, bandingkan dengan usia pasien.
Perhatikan simetri pada kedua sisi
Nilai tonus otot saat melakukan pemeriksaan
Catat hasil pemeriksaan dengan jelas menggunakan istilah yang baku.

3. Refleks traksi
Pasien berbaring terlentang
Jari telunjuk pemeriksa diletakkan pada kedua tangan pasien
Tarik pasien hingga terangkat membentuk sudut 45 derajat terhadap tempat
tidur.
Pada bayi normal, kepala akan terangkat hampir paralel dengan badan yang
terangkat, dan semua anggota gerak dalam keadaan fleksi. Pada bayi
abnormal, kepala akan jatuh ke belakang dan tidak ada tahanan terhadap
tarikan pada anggota gerak.
Reaksi traksi muncul sedikit pada bayi baru lahir cukup bulan dan seharusnya
sudah penuh pada usia 3-5 bulan. Reaksi ini tidak muncul pada bayi baru lahir
dengan usia gestasi di bawah 33 minggu.





Refleks traksi normal pada bayi usia 6 bulan


Bivisi NeuropeJiotri Beportemen llmu Keseboton Anok Balaman 11



Reaksi traksi pada bayi baru lahir normal
usia hari Nampak hanya sedikit tarikan

Bayi dengan hipotonia berat, tidak ada respon
terhadap reaksi traksi

4. Suspensi horizontal (ventral)
Pasien berbaring terlungkup
Angkat pasien dengan meletakkan kedua tangan pemeriksa pada dada pasien
tanpa menahan kepala dan ekstremitas bawah pasien
Pada bayi normal, pasien akan mengangkat kepala bergantian dengan fleksi
ekstremitas dan dapat menahan gaya berat. Pada bayi abnormal, kepala,
badan dan anggota gerak akan menggantung.




Bayi normal usia tiga bulan
pada suspensi horizontal
Bayi dengan hipotonia,
nampak kepala jatuh dan
ekstremitas menggantung
Anak dengan palsi serebral
tipe spastik Nampak fleksi
lengan dengan tungkai
ekstensi
5. Suspensi vertikal
Pemeriksa mengangkat pasien dalam posisi vertikal dengan meletakkan kedua
tangan pada aksila pasien. Wajah pasien berhadapan dengan pemeriksa
Pada bayi normal, kepala tetap berada di garis tengah dan fleksi pada semua
anggota gerak menahan gaya berat

Bivisi NeuropeJiotri Beportemen llmu Keseboton Anok Balaman 12





Bayi baru lahir normal telah
memiliki upaya intermitten
untuk mempertahankan kepala
di midline dan fleksi tungkai
melawat gaya berat
Bayi dengan hipotonia. Pada
suspensi vertikal kepala akan
jatuh ke depan, tungkai akan
menggantung dan bayi dapat
selip dari tangan pemeriksa
karena kelemahan otot-otot
bahu
Bayi dengan palsi serebral tipe
spastik pada suspensi vertikal.
Nampak ekstremitas atas fleksi
secara kaku dan tangan
mengepal. Kedua ekstremitas
atas bersilangan seperti
gunting (scissoring)


Bivisi NeuropeJiotri Beportemen llmu Keseboton Anok Balaman 1S

Pemeriksaan Fungsi Motorik


No Langkah
1. Pemeriksa memperkenalkan diri kepada pasien dan orang tuanya
2. Pemeriksaan fungsi motorik meliputi: gerakan, kekuatan, tonus, refleks fisiologis,
refleks patologis dan klonus.
3. Pada semua pemeriksaan, catatlah hasil pemeriksaan dengan jelas menggunakan
istilah yang baku.
4. Pemeriksaan fungsi motorik konvensional dapat dilakukan pada anak yang kooperatif,
biasanya pada usia di atas enam tahun, meski dapat dilakukan dengan baik pada anak
berusia lebih muda.
5. Skrining awal terhadap kemampuan motorik
krining awal terhadap kemampuan motorik kasar dapat dilakukan dengan
observasi: bagaimana pasien memanipulasi mainan, botol dot dan benda-benda
lain di sekitarnya. Dapat terlihat apakah ada preferensi tangan, kelemahan atau
asimetri anggota gerak.
Lakukan pemeriksaan dengan muka ramah dan senyum terhadap pasien
Pemeriksaan selanjutnya dapat diinkorporasikan dalam bentuk permainan. Pasien
diminta melompat, awalnya dengan kedua kaki, kemudian dengan satu kami.
Diminta berjalan maju dan mundur. Untuk memeriksa ekstremitas atas pasien
dapat diminta berjabat tangan atau mencubit pemeriksa.

6. Pemeriksaan fungsi motorik yang lebih konvensional seperti di bawah dapat
dilakukan pada anak yang lebih besar.
Kekuatan otot diperiksa dan diberi nilai sesuai standar, contohnya standar Medical
Research Council:
5: Kekuatan normal (dapat melawan tahanan kuat)
4: Tidak dapat mempertahankan posisi melawan tahanan sedang
3: Tidak dapat mempertahankan posisi melawan tahanan ringan
2: Tidak ada pergerakan melawan gravitasi
1: Kontraksi trace
0: Tidak ada kontraksi

7. Pemeriksaan gerakan dan kekuatan motorik ekstremitas atas
Posisikan pasien sebagai berikut: lengan aduksi, lengan atas fleksi pada siku,
pergelangan tangan menyilang di atas prosesus xiphoideus.
Bivisi NeuropeJiotri Beportemen llmu Keseboton Anok Balaman 14


Dari posisi tersebut minta pasien: melakukan rotasi internal lengan, mengaduksi
lengan, fleksi sendi siku, ekstensi sendi siku, pronasi lengan atas, supinasi lengan
atas, dan mengekstensikan jari-jari (membuat jari-jari saling menjauh) sembari
pemeriksa memberi tahanan bergradasi dalam hal kekuatan.
Lakukan penilaian terhadap gerakan dan kekuatan sesuai standar di atas.
8. Pemeriksaan gerakan dan kekuatan motorik ekstremitas bawah, posisi I
Posisikan pasien sebagai berikut: pasien terlentang, fleksi panggul dan lutut 90
derajat. Tangan pemeriksa menopang pasien di bawah lutut.


Dari posisi tersebut minta pasien: melakukan fleksi tungkai atas, melakukan aduksi
sendi panggul, abduksi sendi panggul, ekstensi sendi lutut dan fleksi sendi lutut
sembari pemeriksa memberi tahanan bergradasi dalam hal kekuatan.
Lakukan penilaian terhadap gerakan dan kekuatan sesuai standar di atas.

9. Pemeriksaan gerakan dan kekuatan motorik ekstremitas bawah, posisi II
Posisikan pasien sebagai berikut: pasien terlentang dengan sendi panggul dan
lutut ekstensi seperti biasa.
Bivisi NeuropeJiotri Beportemen llmu Keseboton Anok Balaman 1S


Dari posisi tersebut minta pasien: melakukan dorsofleksi kaki, plantarfleksi kaki,
inversi kaki dan eversi kaki sembari pemeriksa memberikan tahanan bergradasi
dalam hal kekuatan.
Lakukan penilaian terhadap gerakan dan kekuatan sesuai standar di atas.

10. Pemeriksaan Tonus Otot
Untuk memeriksa tonus otot, lakukan palpasi dan pergerakan pasif ekstremitas.
Apabila ditemukan tahanan lebih tinggi dari normal pada pergerakan pasif, berarti
terdapat hipertonia. ebaliknya apabila ditemukan tahanan lebih rendah dari
normal, berarti terdapat hipotonia.

11. Refleks Tendon Dalam
Refleks fisiologis paling mudah ditentukan dengan pemeriksaan refleks tendon
dalam.
Refleks biceps, dilakukan dengan memukulkan palu refleks pada tendon otot
biceps brachii pada posisi lengan atas menggantung bebas. Akan terjadi kontraksi
otot biceps dan fleksi lengan bawah.
Refleks triceps, dilakukan dengan memukulkan palu refleks pada tendon otot
triceps brachii pada posisi lengan atas menggantung bebas. Akan terjadi kontraksi
otot triceps dan ekstensi lengan bawah.
Refleks patella, dilakukan dengan memukulkan palu refleks pada ligamentum
patella yang terletak sedikit di bawah patella, pada posisi tungkai bawah bebas.
Akan terjadi kontraksi otot quadiceps femoris dan ekstensi patella
Refleks achiles, dilakukan dengan memukulkan palu refleks pada tendon achilles
saat telapak kaki pada posisi dorsofleksi. Akan terjadi kontraksi otot gastrocnemius
dan soleus menyebabkan plantar fleksi kaki.

12. Refleks Patologis
Refleks Hoffmann
entil kuku atau phalanx terminal pada jari tengah atau jari manis. Positif apabila
Bivisi NeuropeJiotri Beportemen llmu Keseboton Anok Balaman 16

terjadi fleksi phalanx terminal jempol.


Pemeriksaan refleks Hoffmann

Refleks Babinski
Pasien berbaring terlentang
Gores sisi lateral telapak kaki dari tumit hingga metatarsal jari lima
Reaksi positif apabila terjadi dorsofleksi jari diikuti gerakan saling manjauh
(fanning) jari lainnya,
Tanda Gordon, dicetuskan dengan memencet otot betis. Positif apabila terjadi
reaksi seperti pada refleks Babinski.
Tanda Oppenheim, dicetuskan dengan menggores bagian medial tibia ke bawah.
Positif apabila terjadi reaksi seperti pada refleks Babinski.
Tanda Schaeffer, dicetuskan dengan memencet tendon Achilles. Positif apabila
terjadi reaksi seperti pada refleks Babinski.
Tanda Gonda, dicetuskan dengan memfleksikan jari kaki V dan kemudian
mendadak dilepas. Positif apabila terjadi reaksi seperti pada refleks Babinski.



Bivisi NeuropeJiotri Beportemen llmu Keseboton Anok Balaman 17

13. Klonus
Klonus adalah kontraksi-relaksasi otot yang ritmik, cepat dan involunter. Klonus
merupakan tanda kelainan neurologis, terutama lesi upper motor neuron
Klonus pergelangan kaki dapat diperiksa dengan melakukan dorsofleksi cepat pada
pergelangan kaki. Akan terjadi klonus otot-otot betis.
Klonus patella dapat diperiksa dengan mendorong patella ke arah kaki dengan
cepat.


VII. PELAKSANAAN
Lama waktu pelaksanaan : 150 menit
Jadual pelaksanaan : esuai jadual yang telah ditentukan
Tempat pelaksanaan : Kampus Fakultas Kedokteran Universitas riwijaya

IX. REFERENSI
1. oetomenggolo T. Pemeriksaan Neurologis pada Anak dan Bayi. Dalam: oetomenggolo T,
smael (penyunting). Neurologi Anak. Edisi ke-2. Balai Penerbit DA Jakarta 2000: hal 1-35
2. waiman KF. Neurologic Examination of the Older Child. Dalam:waiman KF, Ashwal , Ferriero
DM, chor NF (penyunting). waiman's Pediatric Neurology: Principles and Practices, 5th edition.
Elsevier aunders 2012: halaman e15-32
3. waiman KF, Brown LW. Neurologic Examination after the Newborn Period Until 2 Years of Age.
Dalam:waiman KF, Ashwal , Ferriero DM, chor NF (penyunting). waiman's Pediatric
Neurology: Principles and Practices, 5th edition. Elsevier aunders 2012: halaman e33-42.
4. Fenichel GM. Clinical Pediatric Neurology: A igns and ymptoms Approach, 6th edition.
aunders-Elsevier, Philadelphia 2009.
5. Anderson K. Mosby's Medical Dictionary, 9th edition. Elsevier 2012
6. Zaferiou D. Primitive Reflexes and Postural Reactions in the Neurodevelopmental Examinations.
Pediatr Neurol 2004; 31: 1 -8.