Anda di halaman 1dari 13

PENERAPAN PENDEKATAN INKUIRI UNTUK MENINGKATKAN

KETERAMPILAN PROSES SISWA PADA POKOK BAHASAN LAJU


REAKSI KELAS XI IPA SMAN 1 SIAK SRI INDRAPURA

Fitri Eka Sari, Betty Holiwarni, Jimmi Copriady


Program Studi Pendidikan Kimia Jurusan PMIPA
FKIP Universitas Riau Pekanbaru

ABSTRAK
Pembelajaran kimia mencakup dua aspek yaitu kerja ilmiah dan
pemahaman konsep. Untuk memahami suatu konsep atau materi maka siswa
seharusnya melakukan kerja ilmiah. Kerja ilmiah mengajak siswa untuk
berinkuiri, sehingga siswa dapat meningkatkan keterampilan prosesnya. Penelitian
ini dilakukan untuk mengetahui peningkatan keterampilan proses siswa melalui
penerapan pendekatan inkuiri pada pokok bahasan laju reaksi. metode yang
digunakan adalah eksperimen dan diskusi kelompok. Subjek penelitiannya adalah
kelas XI IPA SMAN 1 Siak Sri Indrapura. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli
sampai bulan November 2008, Di mana waktu pengambilan data dilakukan pada
bulan Oktober 2008 semester I tahun ajaran 2008/2009. Teknik pengumpulan data
yang digunakan adalah dari lembar kerja siswa (LKS) dan dari observasi
langsung. Teknik analisis data yang digunakan adalah menghitung nilai
keterampilan proses dengan cara menghitung perbandingan jumlah skor
pencapaian dengan jumlah skpr maksimal dikali dengan 100. Hasil penelitian
diperoleh peningkatan nilai keterampilan proses siswa sebesar 11,02%, dengan
demikian disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran inkuiri dapat
meningkatkan keterampilan proses siswa pada pokok bahasan laju reaksi di
SMAN 1 Siak Sri Indrapura tahun ajawan 2008/2009.

Kata kunci: Pendekatan Inkuiri, Keterampilan Proses

PENDAHULUAN
Sains merupakan bagian kehidupan manusia dari sejak manusia itu
mengenal diri dan alam sekitarnya. manusia dan lingkungan manusia hidup
merupakan sumber, objek, serta subjek sains (Budiono, 2005). Ilmu kimia
merupakan salah satu mata pelajaran dalam rumpun sains. Pembelajaran kimia
yang dikehendaki adalah pembelajaran yang diarahkan pada kegiatan-kegiatan
yang menantang dan mendorong siswa secara aktif untuk memahami konsep-
konsep kimia tanpa mengabaikan hakekat IPA itu sendiri yaitu sebagai produk
ilmiah dan sebagai proses ilmiah melalui keterampilan proses (Depdiknas, 2003).
Selanjutnya, di dalam kurikulum 2004 disebutkan bahwa Kompetensi
bahan kajian kimia mencakup dua aspek yaitu kerja ilmiah, pemahaman konsep
serta penerapannya. Kerja ilmiah diajarkan secara terintegrasi dalam pemahaman
konsep. Oleh karena itu untuk mencapai suatu pemahaman konsep, siswa harus
melakukan kerja ilmiah. Namun pada kenyataannya, kebanyakan guru hanya
mengajarkan pemahaman konsep saja. Hal ini yang menyebabkan pencapaian
tujuan pembelajaran kurang optimal (Depdiknas, 2003).
Keterampilan proses merupakan hasil belajar yang dicapai seseorang
dalam wujud kemampuan untuk melakukan kerja ilmiah atau penelitian seperti
merencanakan penelitian ilmiah, melaksanakan penelitian ilmiah,
mengkomunikasikan hasil penelitian ilmiah dan bersikap ilmiah (Usman.U,
1994).
Mengajar dengan keterampilan proses berarti memberi kesempatan kepada
siswa bekerja dengan ilmu pengetahuan, tidak sekedar menceritakan atau
mendengarkan cerita tentang ilmu pengetahuan. selain itu, keterampilan proses
membuat siswa belajar produk dan proses ilmu pengetahuan sekaligus.
Pelaksanaan keterampilan proses memerlukan suatu pendekatan yang dapat
mengarahkan siswa pada pembelajaran yang lebih bermakna. Belajar akan lebih
bermakna jika anak mengalaminya sendiri apa yang dipelajarinya, bukan hanya
sekedar mengetahuinya (Trianto, 2007).
Pendekatan inkuiri adalah suatu pembelajaran yang dirancang untuk
mengajarkan kepada siswa bagaimana cara meneliti permasalahan atau pertanyaan
fakta-fakta. Pembelajaran inkuiri memerlukan lingkungan kelas dimana siswa
merasa bebas untuk berkarya, berpendapat, membuat kesimpulan dan membuat
dugaan. Suasana seperti itu amat penting karena keberhasilan pembelajaran
bergantung pada kondisi pemikiran siswa.
Inkuiri menciptakan pengalaman konkrit dan pembelajaran aktif yang
mendorong dan memberikan ruang dan peluang kepada siswa untuk mengambil
inisiatif dalam mengembangkan keterampilan pemecahan masalah, pengambilan
keputusan, dan penelitian sehingga memungkinkan mereka menjadi pelajar
sepanjang hayat. Inkuiri melibatkan komunikasi yang berarti tersedia suatu ruang,
peluang, dan tenaga bagi siswa untuk mengajukan pertanyaan dan pandangan
yang logis, obyektif dan bermakna, serta untuk melaporkan hasil-hasil kerja
mereka (Roestiyah, 1990).
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis melakukan penelitian mengenai
pembelajaran dengan pendekatan inkuiri untuk meningkatkan nilai keterampilan
proses siswa melalui kerja ilmiah. Inkuiri Di dalam Kerja ilmiah bisa dilakukan
melalui suatu ekperimen atau percobaan baik di kelas maupun di laboratorium.
Berdasarkan informasi yang penulis dapatkan dari guru SMA Negeri 1 Siak Sri
Indrapura, bahwa sekolah memiliki laboratorium khusus untuk kimia dilengkapi
alat dan bahan yang bisa dikatakan lengkap. Selain itu, siswa di sekolah tersebut
juga pernah melakukan praktikum dan mempresentasikan hasil percobaannya di
depan kelas, namun guru belum pernah menilai keterampilan proses siswa. Hal ini
terjadi karena guru masih bingung dalam menentukan kriteria penilaian
keterampilan proses tersebut.
Berdasarkan uraian di atas penulis melakukan penelitian dengan judul
“Penerapan Pendekatan Inkuiri Untuk Meningkatkan Keterampilan Proses
Siswa Pada Pokok Bahasan Laju Reaksi Kelas XI IPA di SMAN 1 Siak Sri
Indrapura”.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan keterampilan proses
siswa melalui pendekatan inkuiri pada pokok bahasan Laju Reaksi kelas XI IPA
di SMAN 1 Siak Sri Indrapura. Kemudian untuk mengetahui berapa besar
peningkatan keterampilan proses siswa melalui pendekatan inkuiri pada pokok
bahasan laju reaksi kelas XI IPA di SMAN 1 Siak Sri Indrapura.

METODE
Penelitian ini telah dilaksanakan dari tanggal 02 Juli 2008 sampai 29
November 2008 di SMAN 1 Siak Sri Indrapura kelas XI IPA pada semester I
tahun ajaran 2008/2009. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas XI IPA 3 SMAN
1 Siak Sri Indrapura yang terdiri dari 31 siswa. Bentuk penelitian yang
dilaksanakan adalah penelitian Pre-Eksperimen jenis studi kasus sekali tes. Pada
penelitian jenis ini yang memperoleh perlakuan hanya satu kelompok, tidak ada
kelompok lain sebagai kelompok pembanding, tidak ada pretest, hanya postest
saja, selain itu kondisi subjek sebelum diadakan penelitian tidak diketahui
(Russefendi, 1994). Instrumen pembelajaran (Perangkat Pembelajaran) yang
digunakan pada penelitian ini adalah: Silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
(RPP), Lembar Kerja Siswa (LKS), Buku paket yang relevan, Alat dan bahan
percobaan. Selanjutnya, instrumen pengumpulan data yang digunakan dalam
penelitian ini adalah Lembar Penilaian keterampilan proses siswa mengenai sub
pokok bahasan faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi.
Rancangan Penelitian terdiri dari dari 2 tahap, yaitu:
1. Tahap Persiapan
a. Menetapkan satu kelas sebagai subjek penelitian. Kelas eksperimen yang
dipilih oleh guru bidang studi adalah kelas XI IPA 3 SMAN 1 Siak Sri
Indrapura. Pemilihan ini berdasarkan tingkat kemampuan siswa.
b. Perlakuan yang diberikan pada kelas ini adalah pendekatan inkuiri yang
berupa kegiatan praktikum (eksperimen)
c. Menetapkan pokok bahasan yaitu Laju Reaksi, dengan sub pokok bahasan
faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi sebagai materi yang akan
dinilai keterampilan prosesnya.
d. Mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Lembar Kerja Siswa (LKS), Lembar
Penilaian Keterampilan Proses.
e. Menyiapkan alat dan bahan percobaan.
f. Membentuk kelompok belajar dan terdiri dari 5-6 orang setiap kelompok.

2. Tahap Pelaksanaan Pembelajaran


a. Kegiatan Awal
1) Guru meminta siswa untuk duduk dalam kelompok yang telah
ditetapkan.
2) Guru bersama dengan siswa melakukan tanya jawab tentang materi
prasyarat
3) Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai serta cara
penilaian melalui lembar penilaian keterampilan proses.
b. Kegiatan inti
1) Guru memberikan LKS kepada masing- masing anggota kelompok
2) Guru meminta siswa membaca LKS yang telah diberikan
3) Guru meminta perwakilan kelompok untuk mengambil alat dan
bahan percobaan.
4) Guru membimbing siswa dalam melakukan praktikum
5) Siswa mengerjakan LKS yang telah diberikan
6) Siswa mempresentasikan hasil pengamatannya ke depan kelas dan
kelompok lain mananggapi atau mengajukan pertanyaan
7) Guru mengumpulkan lembar kerja siswa dan memberikan nilai
melalui lembar penilaian keterampilan proses.
8) Guru memberikan penghargaan kepada individu dan kelompok yang
aktif baik dalam praktikum maupun dalam diskusi.
c. Kegiatan akhir
1) Guru melibatkan siswa untuk menyimpulkan kembali intisari materi
yang telah dipelajari
2) Guru memberikan tugas rumah

Teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini


adalah dari Lembar Kerja Siswa (LKS) serta Lembar Observasi Langsung. Data
dikumpulkan dari Lembar Penilaian Keterampilan Proses Siswa yang terdiri dari
penilaian melalui Lembar Kerja Siswa, meliputi: keterampilan menerapkan
(menentukan hipotesis, menspesifikasi variabel dengan teliti), keterampilan
merencanakan (menetapkan instrumen yang sesuai dengan tujuan penelitian),
keterampilan menafsirkan (Membuat tabel data pengamatan, menganalisa data
hasil pengamatan, menyimpulkan hasil penyelidikan ilmiah). Sedangkan Lembar
Observasi Langsung digunakan untuk menilai keterampilan proses siswa dalam
berkomunikasi yang terdiri dari empat aspek, yaitu .mengkomunikasikan hasil
pengamatan dan kesimpulan hasil percobaan; mengajukan pertanyaan, menjawab
pertanyaan atau memberikan tanggapan.
Data penelitian keterampilan proses adalah skor yang diperoleh dari
lembar penilaian keterampilan proses siswa pada sub pokok bahasan faktor-faktor
yang mempengaruhi laju reaksi melalui pendekatan inkuiri.
Nilai keterampilan proses yang dicapai oleh peserta didik dapat dihitung
dengan cara:

Jumlah skor pencapaian



Keterampilan Proses = 
 X 100
Jumlah skor maksimal


Secara klasikal dinyatakan tuntas jika 100% dari siswa telah mencapai nilai ≥ 70.
Skor diperoleh dengan cara mengisi format penilaian keterampilan proses
berupa skala penilaian (rating scale) sesuai dengan kriteria penilaian keterampilan
proses, yaitu dalam bentuk skala numerik.
Skala numerik adalah skala penilaian yang menggunakan angka-angka
(skor-skor) untuk menunjukkan gradiasi-gradiasi disertai penjelasan singkat pada
masing-masing angka. Di dalam penelitian ini skala yang digunakan peneliti
adalah 1-4, dengan kriteriasebagai berikut:
1 = pernyataan benar
2 = pernyataan kurang benar dan bahasa kurang tepat
3 = pernyataan benar namun bahasa kurang tepat
4 = membuat dan jawaban benar, bahasa tepat

HASIL DAN PEMBAHASAN


Berdasarkan data penelitian penilaian keterampilan proses yang telah
dilakukan, maka pencapaian nilai keterampilan proses siswa setiap pertemuan
digambarkan pada tabel dan grafik berikut ini.
Tabel 1. Rata-rata Nilai Keterampilan Proses Siswa Berdasarkan Aspek Yang
Dinilai Dalam Setiap Pertemuan
Keterampilan Aspek Pertemuan
Proses yang I II III IV ∑ ∆%
Dinilai Nilai ∆% Nilai ∆% Nilai ∆% Nilai ∆%
Keterampilan K1 54,84 0 59,68 +4,84 73,39 +13,71 84,68 +11,29 +29,48
Menerapkan K2 50,81 0 60,48 +9,67 60,48 0 69,35 +8,87 +18,54
Keterampilan
Merencanakan K3 58,87 0 56,45 -2,42 78,23 +21,78 66,13 -12,1 +7,26

Keterampilan K4 73,39 0 79,03 +5,64 72,58 -6,45 76,61 +4,03 +3,22


Menafsirkan K5 68,55 0 70,97 +2,42 87,10 +16,13 88,71 +1,61 +20,16
K6 63,71 0 66,13 +2,42 74,19 +8,06 67,74 -6,45 +4,03
Keterampilan K7 70,16 0 74,19 +4,03 78,23 +4,04 79,03 +0,8 +8,87
Mengkomunik K8 62,90 0 60,48 -2,42 74,19 +13,71 74,19 0 10,75
asikan K9 61,29 0 50 -11,29 57,23 +7,23 57,26 +0,03 -4,03
Jumlah 564,52 0 577,41 +12,89 655,62 +78,21 663,71 +8,09 +99,18
Rata-rata Nilai 62,72 0 64,16 +1,43 72,85 +8,69 73,75 +0,899 +11,02
Keterampilan Proses
Keterangan
K1: Keterampilan menentukan hipotesis
K2: Keterampilan menspesifikasi variabel yang diteliti
K3: Keterampilan menetapkan instrumen yang sesuai dengan tujuan penelitian
K4: Keterampilan membuat tabel data pengamatan
K5: Keterampilan menganalisa data hasil pengamatan
K6: Keterampilan menyimpulkan hasil penyelidikan ilmiah
K7: Keterampilan mengkomunikasikan hasil pengamatan dan kesimpulan hasil
percobaan
K8: Mengajukan pertanyaan
K9: Menjawab pertanyaan atau memberikan tanggapan
∆% : Perubahan persentase pencapaian nilai keterampilan proses siswa
∑ ∆% : Jumlah perubahan persentase pencapaian nilai keterampilan proses siswa
(+) : Peningkatan
(-) : Penurunan

Gambar 1. Peningkatan Rata-rata Nilai Keterampilan Proses Siswa Setiap


Pertemuan

Berdasarkan hasil analisis data penelitian di atas, terlihat bahwa tidak


semua aspek keterampilan proses dari pertemuan I sampai ke pertemuan IV terjadi
peningkatan. Penyebab penurunan rata-rata nilai keterampilan proses siswa akan
dibahas lebih lanjut pada pembahasan berikut ini.
Keterampilan proses memerlukan latihan atau penggunaan secara terus
menerus agar dapat dimiliki siswa. Perkembangannya berlangsung sedikit demi
sedikit dan memerlukan waktu lama ( Usman, 1994). Pada penelitian ini terlihat
ada beberapa aspek keterampilan proses yang mengalami peningkatan dari setiap
pertemuan, yaitu keterampilan menentukan hipotesis (K1), keterampilan
menspesifikasikan variabel yang teliti (K2), keterampilan menganalisa data hasil
pengamatan (K5), dan keterampilan mengkomunikasikan hasil pengamatan dan
kesimpulan hasil percobaan (K7). Pada keterampilan menentukan hipotesis, bisa
dikatakan bahwa siswa jadi terbiasa dalam menentukan dugaan sementara
(hipotesis) berdasarkan masalah atau ilustrasi yang telah diberikan.
Untuk keterampilan menspesifikasi variabel yang teliti (K2) siswa harus
mampu membedakan antara variabel manipulasi, variabel kontrol dan variabel
respon. Dari hasil penelitian, terlihat bahwa siswa sudah bisa dikatakan mampu
dalam mengendalikan variabel berdasarkan langkah kerja yang terdapat pada
LKS. Kemudian untuk keterampilan menganalisa data hasil pengamatan (K5),
siswa dituntut untuk menuliskan jawaban dari beberapa pertanyaan seputar
penyelidikan yang telah dilakukan. Keterampilan tersebut juga mengalami
peningkatan dari pertemuan I hingga pertemuan IV. Aspek lain yang mengalami
peningkatan dari pada setiap pertemuan adalah keterampilan mengkomunikasikan
hasil pengamatan dan kesimpulan hasil percobaan (K7). Berkomunikasi secara
lisan dengan baik dan manyampaikannya dengan kalimat yang benar dan
terstruktur tidaklah mudah, hal tersebut juga memerlukan latihan. Menurut holil
(2008), melalui latihan siswa seharusnya menjadi kompeten dalam
pengkomunikasian metode-metode eksperimen, mengikuti petunjuk,
mendeskripsikan pengamatan, mengikhtisarkan hasil-hasil dari kelompok lain,
dan menjelaskan kepada kelompok lain tentang penyelidikan-penyelidikan dan
penjelasan-penjelasan. Dari hasil penelitian, terlihat bahwa siswa sudah bisa
mempertanggungjawabkan hasil pengamatannya di depan kelas dan sudah mulai
terbiasa berbicara di depan umum.
Aspek keterampilan proses yang peningkatannya tidak terjadi di setiap
pertemuan terdapat pada aspek keterampilan menentapkan instrumen yang sesuai
dengan tujuan penelitian (K3), keterampilan membuat tabel data pengamatan
(K4), keterampilan menyimpulkan hasil penyelidikan ilmiah (K6), keterampilan
mengajukan pertanyaan (K8), dan keterampilan menjawab pertanyaaan atau
memberikan tanggapan (K9).
Untuk aspek keterampilan nomor 3, keterampilan nomor 4 dan
keterampilan nomor 6, penyebab utama penurunan rata-rata nilai adalah karena
keterbatasan waktu. Hal tersebut dilihat dari banyaknya siswa yang tidak mengisi
alat dan bahan percobaan, kesimpulan hasil percobaan, dan tabel pengamatannya.
Selain itu, ada beberapa siswa yang belum tuntas dalam menulis alat/bahan yang
digunakan, tabel data hasil pengamatan ataupun kesimpulan penyelidikan.
Penyebab lainnya karena ada juga beberapa siswa yang kurang benar dalam
menuliskan kesimpulan hasil penyelidikannya.
Untuk keterampilan berikutnya yaitu keterampilan mengajukan
pertanyaan(K8) dan keterampilan menjawab pertanyaan (K9), rata-rata nilai siswa
juga tidak mengalami peningkatan disetiap pertemuan, bahkan untuk keterampilan
nomor 9 perubahan persentase pencapaian rata-rata nilai siswa menurun. Hal ini
terjadi disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain tingkat pemahaman siswa
yang kurang dan juga beberapa siswa takut atau malu dalam bertanya apalagi
menjawab pertanyaan.
Berdasarkan hasil penelitian ini dapat penulis identifikasi faktor-faktor
yang menunjang dalam peningkatan keterampilan proses, yaitu:
1) Guru dan siswa yang dapat saling bekerjasama untuk melaksanakan
pembelajaran menggunakan pendekatan inkuiri untuk meningkatkan
keterampilan proses siswa. Pendekatan ini membalik kebiasaan sehari-hari, di
sini siswa yang aktif dan guru sebagai fasilisator, maka tanpa adanya kerjasama
dari kedua belah pihak pelaksanaan keterampilan proses tidak akan berjalan
dengan baik.
2) Laboratorium dan alat praktik mutlak diperlukan dalam meningkatkan
keterampilan proses siswa melalui suatu penyelidikan ilmiah atau praktikum.
3) Kemauan serta kreativitas pengajar dalam merencanakan pelajaran untuk
menilai keterampilan proses siswa. Pendekatan pemebelajaran ini memerlukan
perencanaan yang baik, memerlukan persiapan praktik, menentukan
keterampilan-keterampilan proses apa yang perlu dimiliki siswa.
4) Antusiasme siswa lebih menonjol jika pelajaran kimia menggunakan
pendekatan inkuiri dalam hal ini praktikum, sebab siswa tidak lagi
mendengarkan penjelasan guru secara panjang lebar kemudian latihan soal tapi
siswa mengalami sendiri dalam melakukan praktikum.
Di samping itu penulis mengidentifikasi faktor-faktor yang menghambat
pelaksanaan pendekatan inkuiri untuk meningkatkan keterampilan proses siswa,
yaitu siswa belum terbiasa melakukan keterampilan proses sehingga pelaksanaan
menjadi tidak teratur dengan baik, kelihatan tersendat-sendat/kaku dan makan
waktu. Selain itu, alat praktik yang ada kualitas dan kuantitasnya tidak dapat
menunjang secara optimal.

KESIMPULAN
Dari hasil penelitian yang telah dilaksanakan, maka diperoleh kesimpulan
bahwa penerapan pendekatan inkuiri dapat meningkatkan keterampilan proses
siswa pada pokok bahasan laju reaksi kelas XI IPA di SMA Negeri 1 Siak Sri
Indrapura. Secara keseluruhan, peningkatan rata-rata nilai 9 keterampilan proses
siswa dari pertemuan pertama hingga pertemuan keempat yaitu sebesar 11,02%.

SARAN
Penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan pendekatan inkuiri dapat
meningkatkan keterampilan proses siswa. Selanjutnya, bagi guru atau peneliti
yang ingin melatih keterampilan proses siswa dengan melakukan praktikum, maka
guru atau peneliti harus lebih mengawasi siswa dalam melakukan percobaan dan
akan lebih baik lagi jika guru atau peneliti tidak hanya menilai kerja ilmiah saja
tetapi juga dapat menilai sikap ilmiah siswa seperti bekerjasama dalam
menyelesaikan masalah, teliti, cermat, akurat, dan sebagainya. Untuk sekolah,
sebaiknya dapat melengkapi alat-alat praktik yang masih kurang sehingga
pelaksanaan praktikum bisa berjalan dengan lancar.
UCAPAN TERIMA KASIH
Terima kasih penulis ucapkan Kepala Sekolah SMAN 1 Siak Sri Indrapura
yang telah memberikan izin pelaksanaan penelitian di sekolah tersebut. kemudian
terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan dan masukan
kepada penulis.

DAFTAR PUSTAKA

Amnah, R., 2004, Pemupukan Kemahiran Proses Sains Di Kalangan Pelajar


Tingkatan Dua Di Sekolah Bestari, Fakulti Pendidikan Universiti
Kebangsaan Malaysia, Bangi-Malaysia.

Budiono., 2002, Kurkulum dan Hasil Belajar, Depdiknas, Jakarta.

Departemen Pendidikan Nasional., 2003, Kurikulum 2004 SMA Standar


Kompetensi Mata Pelajaran Kimia, Direktorat Pendidikan Menengah
Umum, Jakarta.

Departemen Pendidikan Nasional, 2003, Kurikulum 2004 SMA Pedoman Khusus


Pengembangan Silabus Dan Penilaian Mata Pelajaran Kimia, Direktorat
Pendidikan Menengah Umum, Jakarta.

Dimyati, Dan Mudjiono., 1999, Belajar Dan Pembelajaran, Rineka Cipta,


Jakarta.

Djamarah, S, B., Dan Zain, A., 1995, Strategi Belajar Mengajar, Rineka Cipta,
Jakarta.

Fransiscamudji., 2008, Rating Scale (Skala Penilaian).


http://fransiscamudji.winamadiun.com (3 Maret 2008)

Gulo, W., 2008, Strategi Belajar Mengajar, Grasindo, Jakarta.

Holil, A., 2008, Hubungan Inkuiri Dan Keterampilan Proses.


http://anwarholil.blogspot.com (19 April 2008)

Ibrahim, M., 2006, Strategi Asesmen Dan Pengembangannya.


muslimin-ibrahim@yahoo.com (9 November 2006)

Joyce, Bruce – Weil., 1980, Models Of teaching, New Jersey, Prantice Hall Inc.

Roestiyah, N, K., 1990, Strategi Belajar Mengajar, Rineka Cipta, Jakarta.

Russefendi, E, T., 1994, Dasar-Dasar Penelitian Pendidikan Dan Bidang Non-


Eksakta Lainnya, IKIP Semarang.

Trianto., 2007, Pendekatan Terpadu dalam Teori dan Praktek, Prestasi


Pustaka Publisher, Jakarta.

Usman, Uzer., 1994, Menjadi Guru Profesional, Remaja Rosdakarya, Bandung.