Anda di halaman 1dari 21

BAB I PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Struma nodosa atau struma adenomatosa terutama di temukan di daerah pegunungan karena defisiensi iodium. Struma endemik ini dapat dicegah dengan substitusi iodium. Diluar daerah endemik, struma nodosa ditemukan secara insidental atau pada keluarga tertentu. Etiologinya umum nya multifaktorial. Biasanya tiroid sudah

membesar sejak usia muda dan berkembang menjadi multinodular pada saat dewasa. Struma multinodosa biasanya ditemukan pada wanita berusia lanjut, dan perubahan yang terdapat pada kelenjar berupa hiperplasia sampai bentuk involusi. Kebanyakan struma multinodosa dapat dihambat oleh tiroksin. Penderita struma nodosa biasanya tidak mengalami keluhan karena tidak ada hipotiroidisme atau hipertiroidisme. Nodul mungkin tunggal, tetapi kebanyakan berkembang menjadi multinoduler yang tidak berfungsi. Degenerasi jaringan menyebabkan kista atau adenoma. Karena pertumbuhannya yang sering berangsur-angsur, struma dapat menjadi besar tanpa gejala kecuali benjolan di leher. Sebagian penderita dengan struma nodosa dapat hidup dengan struma nya tanpa gangguan (De Jong. W, Sjamsuhidajat. R)

1.2 1.3

RUMUSAN MASALAH
1.2.1 Bagaimana etiologi, patogenesis, diagnosis dan penatalaksanaan struma?

TUJUAN
1.3.1 Mengetahui etiologi, patogenesis, diagnosis dan penatalaksanaan struma.

1.4

MANFAAT 1.4.1 1.4.2 Menambah wawasan mengenai penyakit bedah khususnya struma. Sebagai proses pembelajaran bagi dokter muda yang sedang mengikuti kepaniteraan klinik bagian ilmu penyakit bedah.

BAB II STATUS PENDERITA


A. IDENTITAS PENDERITA
Nama Umur Jenis kelamin Pekerjaan Agama Alamat : Ny. G : 36 tahun : Perempuan : Ibu rumah tangga : Islam : Wajak

Status perkawinan : Menikah Suku Tanggal MRS Tanggal periksa No. Reg : Jawa : Selasa, 24 Mei 2011 : Kamis, 26 Mei 2011 : 251796

B. ANAMNESA
1. Keluhan utama 2. Riwayat penyakit sekarang : Benjolan di leher :

Pasien datang ke Poliklinik bedah umum RSUD Kanjuruhan dengan keluhan benjolan di leher depan sebelah kanan dan kiri yang semakin membesar. Sejak 10 tahun yang lalu pasien mengeluh ada benjolan kecil di leher depan sebelah kanan yang semakin lama semakin membesar, kemudian muncul benjolan kecil lainnya yang juga semakin membesar. Benjolan tersebut tidak menimbulkan nyeri, tidak berpindah tempat, dan ikut bergerak saat pasien menelan. Pasien juga mengeluh dada sering berdebar-debar, sering berkeringat, mudah marah, dan sering menderita batuk pilek. Pasien tidak pernah mengeluh panas, BAB dan BAK normal, siklus menstruasi normal, nafsu makan tidak menurun, tidak pernah sesak, dan tidak ada gangguan menelan. Pasien mengatakan selama 1,5 bulan ini pasien berobat ke dokter

spesialis, namun pasien lupa nama obatnya. Selama pengobatan pasien tidak lagi merasakan keluhan dada sering berdebar-debar, dan tidak sering berkeringat lagi.

3. Riwayat penyakit dahulu - Pasien tidak pernah mengalami sakit yang sama sebelumnya - Riwayat Hipertensi (-), DM (-), Alergi (-)

4. Riwayat penyakit keluarga - Riwayat keluarga dengan penyakit serupa (-) - Hipertensi (-), DM (-), Alergi (-)

5. Riwayat pengobatan Sejak 1,5 bulan yang lalu pasien mengkonsumsi obat-obatan yang di berikan spesialis bedah untuk benjolan di lehernya.

C. PEMERIKSAAN FISIK 1. Keadaan umum : Baik, kesadaran compos mentis (GCS E4V5M6) 2. Vital sign : Tensi : 130/80 mmHg Nadi RR : 80x/mnt : 18x/mnt

Suhu : 36,80

3. Kepala Bentuk mesocephal, rambut tidak mudah dicabut. 4. Mata Conjunctiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-). 5. Telinga Bentuk normotia, sekret (-), pendengaran berkurang (-).
3

6. Hidung Nafas cuping hidung (-), sekret (-), epistaksis (-). 7. Mulut dan tenggorokan Bibir pucat (-), bibir cianosis (-), gusi berdarah (-),tonsil membesar (-), pharing hiperemis (-). 8. Paru Suara nafas vesikuler, ronchi (-/-), wheezing (-/-). 9. Jantung Auskultasi : bunyi jantung I dan II regular, murmur (-), gallop (-).

Status Lokalis Regio Coli Inspeksi : Tampak benjolan (+) lebih dari satu, warna kulit sama dengan sekitarnya, permukaan rata (+), bergerak saat menelan (+). Auskultasi Palpasi : Bising tiroid (-). : Teraba pembesaran kelenjar tiroid multi nodul, konsistensi kenyal tidak berbenjol-benjol, batas tegas (+), nyeri tekan (-), suhu hangat (+). Perkusi :-

D. PEMERIKSAAN PENUNJANG 20 April 2011 Hemoglobin Hitung leukosit Trombosit Masa Perdarahan Masa Pembekuan GDS T3 T4 14,1 7.680 307.000 100 900 94 1,97 97,38

Kesimpulan dalam batas normal, euthyroid

27 April 2011 Hemoglobin Hitung leukosit Hitung jenis LED Trombosit Masa Perdarahan Masa Pembekuan GDS SGOT SGPT Ureum Kreatinin T3 T4 11,8 7.190 6/-/2/53/33/6 20 283.000 100 900 123 41 21 16 0,53 1,65 94,74

Kesimpulan dalam batas normal, euthyroid

25 Mei 2011 TSH 2,05 Kesimpulan dalam batas normal

E. RESUME
Ny.G 36 tahun datang ke Poliklinik bedah umum RSUD Kanjuruhan dengan keluhan benjolan di leher depan sebelah kanan dan kiri yang semakin membesar sejak 10 tahun yang lalu, tidak menimbulkan nyeri, tidak berpindah tempat, dan ikut bergerak saat pasien menelan. Dada sering berdebar-debar, sering berkeringat, mudah marah, sering batuk pilek. selama 1,5 bulan ini pasien berobat ke dokter spesialis dan pasien tidak lagi merasakan keluhan dada sering berdebardebar, dan tidak sering berkeringat lagi. Pada pemeriksaan lokalis regio coli didapatkan tampak benjolan lebih dari satu, warna kulit sama dengan sekitarnya, permukaan rata (+), bergerak saat menelan (+). Pada palpasi teraba pembesaran kelenjar tiroid multi nodul, konsistensi kenyal tidak berbenjol-benjol, batas tegas (+),suhu hangat. Pada pemeriksaan penunjang didapatkan kesimpulan euthyroid.

F. DIAGNOSA
Struma multinodular non toksik

G. DIFFERENTIAL DIAGNOSA
- Tiroiditis - Karsinoma tiroid H. PLANNING DIAGNOSA Pro FNAB

I. PENATALAKSANAAN
Pro Isthmolobektomi Ceftriaxon 2x1

BAB III TINJAUAN PUSTAKA


DEFINISI
Struma disebut juga goiter adalah suatu pembengkakan pada leher oleh karena pembesaran kelenjar tiroid akibat kelainan glandula tiroid dapat berupa gangguan fungsi atau perubahan susunan kelenjar dan morfologinya. Dampak struma terhadap tubuh terletak pada pembesaran kelenjar tiroid yang dapat mempengaruhi kedudukan organ-organ di sekitarnya. Di bagian posterior medial kelenjar tiroid terdapat trakea dan esophagus. Struma dapat mengarah ke dalam sehingga mendorong trakea, esophagus dan pita suara sehingga terjadi kesulitan bernapas dan disfagia. Hal tersebut akan berdampak terhadap gangguan pemenuhan oksigen, nutrisi serta cairan dan elektrolit. Bila pembesaran keluar maka akan memberi bentuk leher yang besar dapat asimetris atau tidak, jarang disertai kesulitan bernapas dan disfagia

(http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/20013/4/Chapter%20II.pdf). .

ANATOMI

Kelenjar tiroid/gondok terletak di bagian bawah leher, kelenjar ini memiliki dua bagian lobus yang dihubungkan oleh ismus yang masing-masing berbetuk lonjong berukuran panjang 2,5-5 cm, lebar 1,5 cm, tebal 1-1,5 cm dan berkisar 10-20 gram.

Kelenjar tiroid sangat penting untuk mengatur metabolisme dan bertanggung jawab atas normalnya kerja setiap sel tubuh. Kelenjar ini memproduksi hormon tiroksin (T4) dan triiodotironin (T3) dan menyalurkan hormon tersebut ke dalam aliran darah. Terdapat 4 atom yodium di setiap molekul T4 dan 3 atom yodium pada setiap molekul T3. Hormon tersebut dikendalikan oleh kadar hormon perangsang tiroid TSH (thyroid stimulating hormone) yang dihasilkan oleh lobus anterior kelenjar hipofisis. Yodium adalah bahan dasar pembentukan hormon T3 dan T4 yang diperoleh dari makanan dan minuman yang mengandung yodium.4 Gambar anatomi tiroid dapat dilihat di bawah ini.

FISIOLOGI
Hormon tiroid dibuat oleh kelenjar tiroid biosintesis hormon tiroid, dimulai dengan pengambilan unsur iodium dari plasma dan selesai dengan sekresinya di dalam darah. Koloid merupakan tempat penyimpan hormon. Faal kelenjar diatur oleh susunan saraf (hipofisis dan hipotalamus) dan kadar hormon dalam darah. Kelenjar tiroid terdiri atas dua lobus terletak di bawah kartilago tiroid pada bagian superior dan anterior trakea. Kelenjar tiroid mempunyai dua macam sel, yaitu sel folikular dan sel para folikular. Sel folikular adalah unit fungsional kelenjar tiroid. Sel folikular menghasilkan hormon tiroksin (T4) dan hormon triiodotironin (T3). Apabila tubuh memerlukan hormon tiroid, sel folikular mengubah globulin menjadi T3 dan T4. Sel para folikular menghasilkan hormone kalsitonin yang terkait dalam metabolisme kalsium. Keluar nya kalsitonin dipengaruhi oleh kadar kalsium dalam darah.

Kelenjar tiroid memerlukan iodin untuk menghasilkan hormon tiroid. Berikut hormon dari kelenjar tiroid dan fungsinya : a. Hormon tiroksin (T4) dan triiodotironin (T3) 1. Katabolisme protein, lemak, dan karbohidrat dalam semua sel.

(Katabolisme adalah proses ketika zat yang kompleks diubah menjadi sederhana). 2. Mengatur kecepatan metabolisme semua sel 3. Mengatur produksi panas tubuh 4. Antagonis terhadap insulin 5. Mempertahankan sekresi hormon pertumbuhan dan pematangan tulang 6. Mempertahankan mobilisasi kalsium

b. Hormon kalsitonin 1. Mengurangi kalsium dan fosfat serum 2. Mengurangi absorbsi kalsium dan fosfor oleh GI (http://www.scribd.com/doc/35957601/struma-gondok).

ETIOLOGI
Penyebab pasti pembesaran kelenjar tiroid pada struma nodosa tidak di ketahui, namun sebagian besar penderita menunjukkan gejala-gejala tiroiditis ringan.

Oleh karena itu diduga tiroiditis ini menyebabkan hipotiroidisme ringan, yang selanjutnya menyebabkan peningkatan sekresi TSH (thyroid stimulating hormone) dan pertumbuhan yang progresif dari bagian kelenjar yang tidak meradang. Keadaan inilah yang dapat menjelaskan mengapa kelenjar ini biasanya nodular, dengan beberapa bagian kelenjar tumbuh namun bagian yang lain rusak akibat tiroiditis.

Adanya gangguan fungsional dalam pembentukan hormon tyroid merupakan faktor penyebab pembesaran kelenjar tyroid antara lain: 1. Def isiensi iodium Pada umumnya, penderita penyakit struma sering terdapat didaerah yang kondisi air minum dan tanahnya kurang mengandung iodium, misalnya daerah pegunungan. 2. Kelainan metabolik kongenital yang menghambat sintesa hormone tyroid. a. Penghambatan sintesa hormon oleh zat kimia (seperti substansi dalam kol, lobak, kacang kedelai). b. Penghambatan sintesa hormon oleh obat-obatan (misalnya: thiocarbamide, sulfonylurea dan litium). c. Hiperplasi dan involusi kelenjar tiroid. Pada umumnya ditemui pada masa pertumbuhan, pubertas, menstruasi, kehamilan, laktasi, menopause, infeksi dan stress lainnya. Dimana menimbulkan nodularitas kelenjar tiroid serta kelainan arseitektur yang dapat berkelanjutan dengan berkurangnya aliran darah didaerah tersebut.

Akhirnya, ada beberapa makanan yang mengandung substansi goitrogenik yakni makanan yang mengandung sejenis propiltiourasil yang mempunyai aktifitas anti tiroid sehingga juga menyebabkan pembesaran kelenjar tiroid akibat rangsangan TSH. Beberapa bahan goitrogenik ditemukan pada beberapa varietas lobak dan kubis.

PATOFISIOLOGI
Patogenesis struma adalah hipertrofi dan hiperplasia sel folikel tiroid akibat meningkatnya kadar TSH. Pada sebagian besar kasus, perubahan tersebut pada awalnya menyebabkan pembesaran difus simetrik kelenjar (struma nontoksik

difus). Folikel dilapisi oleh sel kolumnar yang berdesakan, yang mungkin bertumpuk-tumpuk dan membentuk tonjolan serupa dengan yang ditemukan pada penyakit Graves.

10

Jika kemudian iodium dalam makanan ditingkatkan, atau jika kebutuhan hormon tiroid berkurang, epitel folikel yang terstimulasi tersebut akan mengalami involusi membentuk kelenjar besar yang kaya koloid (struma koloid). Permukaan potongan dari tiroid pada kasus seperti ini biasanya tampak cokelat sedikit berkilap dan translusen. Secara mikroskopis, epitel folikel mungkin hiperplastik pada tahap awal penyakit atau menggepeng dan kuboidal pada masa involusi. Koloid banyak ditemukan pada tahap lanjut. Seiring dengan waktu, episode stimulasi dan involusi yang berulang menyebabkan pembesaran tiroid yang iregular dan mungkin berkaitan dengan kemampuan diferensial sel epitel tiroid normal untuk membelah diri sebagai respon respon terhadap TSH. Mungkin variasi potensi pertumbuhan sel ini dapat menyebabkan terbentuknya nodul terjadi pajanan TSH kadar tinggi yang siklis dan berkepanjangan. Pada struma multinodular, kelenjar memiliki banyak asimetrik dan membesar yang mungkin mencapai ukuran masif. Pada permukaan potongan, tampak nodul iregular yang mengandung koloid gelatinosa cokelat dalam jumlah bervariasi. Perubahan regresif cukup sering ditemukan terutama pada lesi lama dan berupa fibrosis, perdarahan, dan pembentukan kista. Gambaran mikroskopik adalah folikel kaya koloid yang dilapisi oleh epitel gepeng inaktif dan daerah hipertrofi dan hyperplasia epitel folikel, disertai oleh perubahan regresif seperti telah disebutkan. (http://www.scribd.com/doc/35957601/struma-gondok)

KLASIFIKASI
Berdasarkan Fisiologisnya Berdasakan fisiologisnya struma dapat diklasifikasikan sebagai berikut : a. Eutiroidisme Eutiroidisme adalah suatu keadaan hipertrofi pada kelenjar tiroid yang disebabkan stimulasi kelenjar tiroid yang berada di bawah normal sedangkan kelenjar hipofisis menghasilkan TSH dalam jumlah yang meningkat. Goiter atau struma semacam ini biasanya tidak menimbulkan gejala kecuali pembesaran pada leher yang jika terjadi secara berlebihan dapat mengakibatkan kompresi trakea.
11

b. Hipotiroidisme Hipotiroidisme adalah kelainan struktural atau fungsional kelenjar tiroid sehingga sintesis dari hormon tiroid menjadi berkurang. Kegagalan dari kelenjar untuk mempertahankan kadar plasma yang cukup dari hormon. Beberapa pasien hipotiroidisme mempunyai kelenjar yang mengalami atrofi atau tidak mempunyai kelenjar tiroid akibat pembedahan/ablasi radioisotop atau akibat destruksi oleh antibodi autoimun yang beredar dalam sirkulasi. Gejala hipotiroidisme adalah penambahan berat badan, sensitif terhadap udara dingin, dementia, sulit berkonsentrasi, gerakan lamban, konstipasi, kulit kasar, rambut rontok, mensturasi berlebihan, pendengaran terganggu dan penurunan kemampuan bicara. Gambar penderita hipotiroidisme dapat terlihat di bawah ini.

c. Hipertiroidisme Dikenal juga sebagai tirotoksikosis atau Graves yang dapat didefenisikan sebagai respon jaringan-jaringan tubuh terhadap pengaruh metabolik hormon tiroid yang berlebihan. Keadaan ini dapat timbul spontan atau adanya sejenis antibodi dalam darah yang merangsang kelenjar tiroid, sehingga tidak hanya produksi hormon yang berlebihan tetapi ukuran kelenjar tiroid menjadi besar. Gejala hipertiroidisme berupa berat badan menurun, nafsu makan meningkat, keringat berlebihan, kelelahan, leboh suka udara dingin, sesak napas. Selain itu juga terdapat gejala jantung berdebardebar, tremor pada tungkai bagian atas, mata melotot (eksoftalamus), diare, haid tidak

12

teratur, rambut rontok, dan atrofi otot. Gambar penderita hipertiroidisme dapat terlihat di bawah ini.

Berdasarkan Klinisnya Secara klinis pemeriksaan klinis struma toksik dapat dibedakan menjadi sebagai berikut : a. Struma Toksik Struma toksik dapat dibedakan atas dua yaitu struma diffusa toksik dan struma nodusa toksik. Istilah diffusa dan nodusa lebih mengarah kepada perubahan bentuk anatomi dimana struma diffusa toksik akan menyebar luas ke jaringan lain. Jika tidak diberikan tindakan medis sementara nodusa akan memperlihatkan benjolan yang secara klinik teraba satu atau lebih benjolan (struma multinoduler toksik). Struma diffusa toksik (tiroktosikosis) merupakan hipermetabolisme karena jaringan tubuh dipengaruhi oleh hormon tiroid yang berlebihan dalam darah. Penyebab tersering adalah penyakit Grave (gondok eksoftalmik/exophtalmic goiter), bentuk tiroktosikosis yang paling banyak ditemukan diantara hipertiroidisme lainnya. Perjalanan penyakitnya tidak disadari oleh pasien meskipun telah diiidap selama berbulan-bulan. Antibodi yang berbentuk reseptor TSH beredar dalam sirkulasi darah, mengaktifkan reseptor tersebut dan menyebabkan kelenjar tiroid hiperaktif. Meningkatnya kadar hormon tiroid cenderung menyebabkan peningkatan

pembentukan antibodi sedangkan turunnya konsentrasi hormon tersebut sebagai

13

hasilpengobatan penyakit ini cenderung untuk menurunkan antibodi tetapi bukan mencegah pembentukyna. Apabila gejala gejala hipertiroidisme bertambah berat dan mengancam jiwa penderita maka akan terjadi krisis tirotoksik. Gejala klinik adanya rasa khawatir yang berat, mual, muntah, kulit dingin, pucat, sulit berbicara dan menelan, koma dan dapat meninggal. b. Struma Non Toksik Struma non toksik sama halnya dengan struma toksik yang dibagi menjadi struma diffusa non toksik dan struma nodusa non toksik. Struma non toksik disebabkan oleh kekurangan yodium yang kronik. Struma ini disebut sebagai simple goiter, struma endemik, atau goiter koloid yang sering ditemukan di daerah yang air minumya kurang sekali mengandung yodium dan goitrogen yang menghambat sintesa hormon oleh zat kimia. Apabila dalam pemeriksaan kelenjar tiroid teraba suatu nodul, maka pembesaran ini disebut struma nodusa. Struma nodusa tanpa disertai tanda-tanda hipertiroidisme dan hipotiroidisme disebut struma nodusa non toksik. Biasanya tiroid sudah mulai membesar pada usia muda dan berkembang menjadi multinodular pada saat dewasa. Kebanyakan penderita tidak mengalami keluhan karena tidak ada hipotiroidisme atau hipertiroidisme, penderita datang berobat karena keluhan kosmetik atau ketakutan akan keganasan. Namun sebagian pasien mengeluh adanya gejala mekanis yaitu penekanan pada esofagus (disfagia) atau trakea (sesak napas), biasanya tidak disertai rasa nyeri kecuali bila timbul perdarahan di dalam nodul. Struma non toksik disebut juga dengan gondok endemik, berat ringannya endemisitas dinilai dari prevalensi dan ekskresi yodium urin. Dalam keadaan seimbang maka yodium yang masuk ke dalam tubuh hampir sama dengan yang diekskresi lewat urin. Kriteria daerah endemis gondok yang dipakai Depkes RI adalah endemis ringan prevalensi gondok di atas 10 %-< 20 %, endemik sedang 20 % - 29 % dan endemik berat di atas 30 %. (http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/20013/4/Chapter%20II.pdf)

14

GAMBARAN KLINIS
Jika struma cukup besar, akan menekan area trakea yang dapat mengakibatkan gangguan pada respirasi dan juga esofhagus tertekan sehingga terjadi gangguan menelan. Peningkatan simptomatis seperti jantung menjadi berdebar-debar, gelisah, berkeringat, tidak tahan cuaca dingin, diare, gemetar, dan kelelahan. (http://www.scribd.com/doc/35957601/struma-gondok)

PEMERIKSAAN FISIK
Inspeksi Inspeksi dilakukan oleh pemeriksa yang berada di depan penderita yang berada pada posisi duduk dengan kepala sedikit fleksi atau leher sedikit terbuka. Jika terdapat pembengkakan atau nodul, perlu diperhatikan beberapa komponen yaitu lokasi, ukuran, jumlah nodul, bentuk (diffus atau noduler kecil), gerakan pada saat pasien diminta untuk menelan dan pulpasi pada permukaan pembengkakan. Palpasi Pemeriksaan dengan metode palpasi dimana pasien diminta untuk duduk, leher dalam posisi fleksi. Pemeriksa berdiri di belakang pasien dan meraba tiroid dengan menggunakan ibu jari kedua tangan pada tengkuk penderita. (http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/20013/4/Chapter%20II.pdf).

DIAGNOSA
Anamnesis - Sejak kapan benjolan timbul - Rasa nyeri spontan atau tidak spontan, berpindah atau tetap - Cara membesar nya : cepat atau lambat - Pada awalnya berupa satu benjolan yang membesar menjadi beberapa benjolan atau hanya pembesaran leher saja - Riwayat keluarga - Riwayat penyinaran daerah pada waktu kecil / muda - Perubahan suara
15

- Gangguan menelan ,sesak nafas - Penurunan berat badan - Keluhan tirotoksikosis

Pemeriksaan fisik - Umum - Lokal o Nodul tunggal atau majemuk,atau difus o Nyeri tekan o Konsistensi o Permukaan o Perlekatan pada jaringan sekitarnya o Pendesakan atau pendorongan trakea o Pembesaran kelenjar getah bening regional o Pembertons sign

Penilaian risiko keganasan: Anamnesis dan pemeriksaan fisik yang mengarahkan diagnostik penyakit tiroid jinak ,tetapi tak sepenuhnya menyingkirkan kemungkinan kanker tiroid: - Riwayat keluarga dengan struma nodosa atau difusi jinak - Riwayat keluarga dengan tiroiditis hashimoto atau penyakit tiroid autoimun - Gejala hipo atau hipertiroidisme - Nyeri berhubungan dengan nodul - Nodul lunak, mudah digerakan - Multinodul tanpa nodul yang dominan,dan konsistensi sama.

Anamnesis dan pemeriksaan fisik yang meningkatkan kecurigaan kearah keganasan tiroid - Umur < 20 tahun atau > 70 tahun - Gender laki- laki

16

- Nodul disertai disfagi ,serak atau obstruksi jlan napas - Pertumbuhan nodul cepat (beberapa minggu bulan) - Riwayat radiasi daerah leher waktu usia anak anak atau dewasa ( juga meningkatkan insiden penyakit nodul tiroid jinak ) - Riwayat keluarga kanker tiroid meduler - Nodul yang tunggal ,berbatas tegas ,keras,irregular dan sulit digerakan - Paralysis pita suara - Temuan limpadenofati servikal - Metastasis jauh (paru-paru)

DIAGNOSA BANDING
Struma nodosa yang terjadi pada peningkatan kebutuhan terhadap tiroksin saat masa pertumbuhan, pubertas laktasi, menstruasi, kehamilan menopause, infeksi, stress lain. Tiroiditis akut Tiroiditis subakut Tiroiditis kronis,limpositik (hashimoto), fibrous-invasif ( riedel ) Simple goiter Struma endemic Kista tiroid, kista degenerasi Adenoma Karsinoma tiroid primer, metastatik Limfoma

(http://drlizakedokteran.blogspot.com/2007/12/struma-nodosa-non-toksikpembesaran-kel.html).

17

PEMERIKSAAN PENUNJANG
a) Pemeriksaan sidik tiroid Hasil pemeriksaan dengan radioisotop adalah teraan ukuran, bentuk lokasi, dan yang utama ialah fungsi bagian-bagian tiroid. Pada pemeriksaan ini pasien diberi NaCl peroral dan setelah 24 jam secara fotografik ditentukan konsentrasi yodium radioaktif yang ditangkap oleh tiroid. Dari hasil sidik tiroid dapat dibedakan 3 bentuk, yaitu: - Nodul dingin bila penangkapan yodium nihil atau kurang dibandingkan sekitarnya. Hal ini menunjukkan fungsi yang rendah. - Nodul panas bila penangkapan yodium lebih banyak dari pada sekitarnya. Keadaan ini memperlihatkan aktivitas yang berlebih. - Nodul hangat bila penangkapan yodium sama dengan sekitarnya. Ini berarti fungsi nodul sama dengan bagian tiroid yang lain. Pemeriksaan ini tidak dapat membedakan apakah nodul itu ganas atau jinak. b) Pemeriksaan ultrasonografi( USG) Dengan pemeriksaan USG dapat dibedakan antara yang padat, cair, dan beberapa bentuk kelainan, tetapi belum dapat membedakan dengan pasti apakah suatu nodul ganas atau jinak. Kelainan-kelainan yang dapat di diagnosis denganUSG ialah: - Kista: kurang lebih bulat, seluruhnya hipoekoik sonolusen, dindingnya tipis. - Adenoma/nodul padat: iso atau hiperekoik, kadang-kadang disertai halo yaitu suatu lingkaran hipoekoik di sekelilingnya. - Kemungkinan karsinoma: nodul padat, biasanya tanpa halo. - Tiroiditis: hipoekoik, difus, meliputi seluruh kelenjar. Pemeriksaan ini dibandingkan pemeriksaan sidik tiroid lebih menguntungkan karena dapat dilakukan kapan saja tanpa perlu persiapan, lebih aman, dapat dilakukan pada orang hamil atau anak-anak, dan lebih dapat membedakan antara yang jinak dan ganas.

18

c) Biopsi aspirasi jarum halus Biopsi ini dilakukan khusus pada keadaan yang mencurigakan suatu keganasan. Biopsi aspirasi jarum halus tidak nyeri, hampir tidak menyebabkan bahaya penyebaran sel-sel ganas. Kerugian pemeriksaan dengan cara ini adalah dapat memberikan hasil negative palsu karena lokasi biopsi kurang tepat, teknik biopsy kurang benar, pembuatan preparat yang kurang baik atau positif palsu karena salah interpretasi oleh ahli sitologi. d) Termografi Termografi adalah metode pemeriksaan berdasarkan pengukuran suhu kulit pada suatu tempat dengan memakai Dynamic Telethennagraphy. Pemeriksaan ini dilakukan khusus pada keadaan yang mencurigakan suatu keganasan. Hasilnya disebut panas apabila perbedaan panas dengan sekitarnya > 0,9C dan dingin apabila < 0,9C. Pada penelitian Alves dkk. didapatkan bahwa pada yang ganas semua hasilnya panas. Pemeriksaan ini paling sensitif dan spesifik bila dibanding dengan pemeriksaan lain. e) Petanda tumor Pada pemeriksaan ini yang diukur adalah peninggian tiroglobulin (Tg) serum. Kadar Tg serum normal antara 1,5-30 ng/ml, pada kelainan jinak rata-rata 323 ng/ml, dan pada keganasan rata-rata 424 ng/ml. Khususnya pada penegakan diagnosis keganasan menurut Gobien, ketepatan diagnosis gabungan biopsi, USG, dan sidik tiroid adalah 98%.

PENATALAKSANAAN
a. Strumektomi Strumektomi dilakukan pada struma yang besar dan menyebabkan keluhan mekanis. Strumektomi juga diindikasikan terhadap kista tiroid yang tidak mengecil setelah dilakukan biopsi aspirasi jarum halus. Nodul panas dengan diameter > 2,5 mm dilakukan operasi karena dikhawatirkan mudah timbul hipertiroidisme.

19

b. L-tiroksin selama 4-5 bulan Preparat ini diberikan apabila terdapat nodul hangat, lalu dilakukan pemeriksaan sidik tiroid ulang. Apabila nodul mengecil maka terapi diteruskan namun apabila tidak mengecil atau bahkan membesar, dilakukan biopsi aspirasi atau operasi. c. Biopsi aspirasi jarum halus Cara ini dilakukan pada kista tiroid hingga nodul kurang dari 10mm

KOMPLIKASI
Obstruksi jalan nafas Infeksi luka Hipokalsemia Ke tidak seimbangan hormon tiroid

(http://www.scribd.com/doc/35957601/struma-gondok).

PROGNOSIS
Tergantung jenis nodul dan tipe histologisnya. (http://drlizakedokteran.blogspot.com/2007/12/struma-nodosa-non-toksikpembesaran-kel.html).

20

BAB IV KESIMPULAN
Ny.G 36 tahun datang ke Poliklinik bedah umum RSUD Kanjuruhan dengan keluhan benjolan di leher sebelah kanan dan kiri yang semakin membesar sejak 10 tahun yang lalu, tidak menimbulkan nyeri, tidak berpindah tempat, dan ikut bergerak saat pasien menelan. Dada sering berdebar-debar, sering berkeringat, mudah marah, sering batuk pilek. selama 1,5 bulan ini pasien berobat ke dokter spesialis dan pasien tidak lagi merasakan keluhan dada sering berdebar-debar, dan tidak sering berkeringat lagi. Pada pemeriksaan lokalis regio coli didapatkan tampak benjolan lebih dari satu, warna kulit sama dengan sekitarnya, permukaan rata (+), bergerak saat menelan (+). Pada palpasi teraba pembesaran kelenjar tiroid multi nodul, konsistensi kenyal tidak berbenjol-benjol, batas tegas (+),suhu hangat. Pada pemeriksaan penunjang didapatkan kesimpulan euthyroid. Berdasarkan anamnesa dan pemeriksaan fisik didapatkan diagnosa Struma multinodular non toksik, diusulkan pemeriksaan penunjang FNAB.

21