Anda di halaman 1dari 33

Memahami Gerakan Peduli kepada Fakir Miskin dan Anak Yatim

AIK III (Kemuhammadiyahan)


Profesor Dr. Ishomuddin, M.Si

Islam perlu dirumuskan menjadi ilmu. Kalau pada periode utopia, umat Islam masih berfikir dalam kerangka mitis, sementara pada zaman ideologi mereka hanya terlibat pada persoalan ideologi dan kekuasaan, maka pada periode sekarang, kita perlu merumuskan konsep-konsep normatif Islam sebagai teori. Konsep-konsep normatif memang dapat diturunkan menjadi filsafat, kemudian menjadi ideologi. Tetapi dapat juga dari konsep normatif menjadi filsafat, dan lalu menjadi teori. Memang metodenya berbeda. Misalnya ada hadits Nabi yang mengatakan Engkau akan mendapatkan kemenangan dan rizqi berkat perjuangan kaum dhuafa (kaum lemah). Hadits ini merupakan wisdom kenabian. Melalui tafsiran ideologis, hadits tersebut dapat diartikan bahwa kaum dhuafa harus dibela. Pengertian mana kemudian menjadi keyakinan politik populisme.

Sebagai ideologi, pengertian di atas sudah final. Tetapi kita mengartikannya dengan cara yang lain, kita dapat merumuskannya demikian; bahwa kemenangan hanyalah suatu gejala dari kekuasaan atau politik, sedang rizqi adalah gejala ekonomi. Dengan tafsiran seperti itu, kita dapat merumuskannya lebih jauh bahwa kekuatan sejarah, bahwa agent of change dari perubahan politik dan ekonomi, adalah kaum dhuafa. Dengan kata lain, sejarah kemanuasiaan tidak ditentukan oleh kalangan atas yang kuat dan memiliki kekuasaan, melainkan oleh kaum dhuafa, kelas bawah. Dengan tesis ini, kita tidak akan dapat mengabaikan peranan penting kaum dhuafa dalam menentukan perubahan politik dan ekonomi, bahkan dalam perkembangan sejarah. Dari tesis itu kita dapat merumuskan teori misalnya mengenai revolusi atau mengenai perubahan sosial.

Konsep-konsep Islam perlu dipahami lebih mendalam. Setiap ayat al-Quran dapat dirumuskan menjadi ideologi, tetapi juga dapat dirumuskan menjadi teori-teori ilmu pengetahuan Islam. Contoh, terdapat ayat berbunyi Seandainya penduduk suatu negeri beriman dan bertaqwa kepada Allah, niscaya Allah akan membukakan pintu-pintu berkah dari langit dan bumi. Ayat ini adalah grand theory (teori besar) yang masih perlu diterjemahkan ke dalam teori middle range theory (teori tingkat menengah) yang operasional, yaitu bagaimana menterjemahkan konsekuensi-konsekuensi dari konsep keberimanan dan ketaqwaan dapat memungkinkan terbuka nya langit dan bumi untuk mencurahkan rizqi. Jika kita menafsirkan ayat itu secara mitis-utopis, ayat itu final.

Suatu hadits menyatakan bahwa kefakiran tu menyebabkan mendekatkan kepada kekufuran. Lagi-lagi ini merupakan tesis yang sangat penting, tetapi lagi-lagi hal itu hanya berhenti sampai di situ. Kita tidak pernah menjelaskan nya menjadi suatu teori sosial tentang mengapa kemiskinan mendekatkan orang kepada kekafiran. Kita tidak pernah melihat gejala-gejala empiris di dalam sejarah maupun di dalam masyarakat yang menyebabkan kemiskinan cenderung mengantarkan orang menjadi kafir, ingkar atau lali kepada Tuhan. Bentuk kemiskinan yang bagaimana yang menyebabkan kekafiran yang bagaimana, tidak pernah dijelaskan secara teoretis. Hampir semua ajaran kita ketahui, kita terima, dan kita hayati bukan sebagai konsep teoretis.

Sepanjang kita masih melihat Islam secara demikian, kita tidak pernah mampu menandingi konsep-konsep yang berakar pada kebudayaan lain. Misalnya tentang konsep kelas. Kita mengakui bahwa masyarakat digerakkan oleh kepentingan-kepentingan kelas. Karena itu umat Islam harus sadar bahwa kepentingan kelas merupakan faktor riil yang menggerakkan politik. Tetapi juga harus diingat, di dalam Islam hanya ada dua kelas yaitu kelas zalim (penindas) dan kelas mustadhafin (tertindas). Dengan demikian konsep kelas di dalam Islam berbeda dengan konsep kelas di dalam Marxisme. Tetapi apakah selama ini kita pernah menjelaskan konsep kelas menurut Islam ini secara jelas dan teoretis?

Tidak seperti di dalam Marxisme yang membagi kelas dengan ukuran pemilikan alat-alat produksi, Islam membagi kelas atas dasar ukuran keadilan. Yang disebut mustadhafin dalam Islam adalah orang-orang lemah dalam hubungannya dengan orangorang zhalim. Di dalam masyarakat feodal, kaum mustadhafin adalah golongan petani. Di dalam masyarakat kapitalis, kaum mustadhafin adalah para pemilik modal kecil, kaum buruh, jembel, dan sebagainya. Semua yang tertindas di dalam setiap struktur sosial, adalah mustadhafin. Ukuran kelas di dalam Islam dengan demikian bukanlah ekonomi, melainkan posisi dalam struktur. Maka jika kita menganjurkan perlunya kesadaran kelas, yang dimaksud adalah kepada siapa kita secara etik dan moral harus memihak.

Di dalam Marxisme, pemihakan itu dilakukan dengan mengajak kelar proletar untuk menghancurkan kelas borjuis. Dengan demikian, yang terjadi adalah penghancuran kelas. Diktator proletariat yang diwakili oleh fungsionaris partai, akhirnya seperti dikatakan Milovan Djilas, menjadi kelas baru yang sama buruknya dengan kelas lama, kelas borjuis. Memang ada pemerataan ekonomi tetapi manusia akhirnya hanya menjadi bagian dari cara produksi. Dalam sistem Marxis, manusia kehilangan kebebasannya. Massa rakyat tetap saja menjadi mustadhafin, karena mereka tertindas oleh sistem produksi, oleh struktur cara produksi, oleh kelas diktator proletariat. Perjuangan kelas ala Marxis tetap tidak dapat menghilangkan kelas zhalim dan tidak dapat membebaskan kaum mustadhafin.

Tujuan dakwah Muhammadiyah adalah meningkatkan kualitas hidup manusia. Segala amal usaha Muhammadiyah digerakkan untuk tujuan tersebut. Hal ini bukan tidak beralasan, tetapi sejak pendirian Muhammadiyah upaya-upaya KH Ahmad Dahlan yang dilandasi dengan dasar ayat al-Quran dan Hadits, mampu menggerakkan dinamika kehidupan masyarakat Islam di bidang pendidikan, ekonomi, dan sosial-budaya. Salah satu contoh, dengan memperaktekkan surat al-Maun, KH Ahmad Dahlan secara organisatoris menggerakkan usaha-usaha riil dalam bidang ekonomi untuk mengangkat dan mengentaskan kemiskinan umat Islam. Gerakan ini mendorong inspirasi bagi warga Muhammadiyah dalam upaya mewujudkan kepedulian terhadap mustadhafin melalui berbagai bidan dan cara.

Muhammadiyah Mengembangkan Sosialisme Berdasarkan Islam Sebagaimana misi Muhammadiyah sebagai organisasi sosial, pendidikan, dan dakwah, maka Muhammadiyah menjalankan misi kemanusiaannya (sosial) berpandangan sebagaimana pandangan Islam itu sendiri. Sosialisme dalam Islam berbeda dengan sosialisme dalam pandangan Marxis. Sosialisme dalam Islam tidak lain bertujuan untuk meningkatkan kepedulian umat Islam terhadap kaum yang lemah (mustadhafin). Konsep konsep tentang sosialisme Islam sangat berbeda dengan konsepkonsep sosialisme dalam kebudayaan lain. Konsep sosialisme Islam sekarang ini telah banyak dikembangkan oleh banyak para ahli dan intelektual islam sebagai respon dari perkembangan sosial dan struktur sosial yang berkembang.

SOSIALISME ISLAM

Salah satu masalah penting dalam Islam adalah penekannya terhadap masalah keadilan sosial, termasuk pembagian nilai-nilai material masyarakat. Fokus Islam kepada keadilan ini menjadi premis utama aliran yang disebut sosialisme Islam. Tentang sosialisme Islam ini, Mustafa Mahmud menulis: prinsip adanya peluang yang sama, jaminan atas keperluan-keperluan asasi individu dan mencapai keseimbangan antara kebebasan individu dengan keseimbangan dan dengan hak-hak masyarakat, prinsip harta pribadi dan harta umum, prinsip campur tangan Negara dalam ekonomi, prinsip merampas kekayaan golongan yang melakukan eksploitasi untuk kebajikan golongan miskin dan yang tertindas. Islam tidak dibenarkan membuat kelas manusia dan mengharamkan penumpukan kekayaan di atas tangan sekelompok yang terbatas saja.

Ada beberapa ciri sosialisme menurut Syed Hussein Alatas, antara lain:
1. Sosialisme sangat menitik beratkan pada keperluan-keperluan hidup manusia dan alat-alat produksinya. Alat-alat produksi ini serta usaha-usaha menyelenggarakannya, bagi bidang-bidang yang penting untuk kehidupan, perlu dikuasai dan dimiliki oleh Negara atau pun serikat-serikat kerjasama, tidak oleh para pemodal perseorangan. Pemilikan dan penguasaan oleh Negara atau sarekat-sarekat kerjasama ini dapat mengelakkan pemerasan kaum pekerja dan pembeli. Negara harus bertindak cerdas merancang dan mengadakan hukum-hukum supaya mengeluarkan dan mengedarkan barang-barang itu dengan adil dan saksama. 2. Sosialisme berpendapat bahwa keadaan sekeliling menentukan sifat perseorangan dan timbulnya masalah-masalah masyarakat. Jika manusia hidup dalam serba kurang maka ia tidak akan mengalami kemajuan.

3. Sosialisme berpendapat bahwa masyarakat dipengaruhi oleh golongan-golongan berkepentingan tertentu (class). Golongan yang berkuasa memaksa kehendaknya atas rakyat. Golongan yang berkuasa membuat undang-undang dan menghidupkan sistem kepercayaan yang mempertahankan kepentingan sendiri lebih daripada kepentingan umum. 4. Sosialisme bertujuan untuk menghapuskan ketidakadilan yang timbul dari sistem kapitalis yang sifatnya berlawanan dengan sosialisme. Dalam sosialisme, perusahaan-perusahaan dapat diselenggarakan oleh Negara dan yang banyak diperlukan umum akan dikendalikan oleh Negara atau serikat-serikat kerjasama. 5. Sosialisme berpendapat bahwa setiap anggota masyarakat yang sehat dan cukup umur harus bekerja; tidak patut ada golongan yang tidak bekerja yang dibiayai oleh Negara ataupun anggota masyarakat lainnya.

6. Sosialisme berpendapat bahwa seluruh bagian masyarakat lainnya seperti unsur kebudayaan masyarakat, agama, sistem pendidikan dan sebagainya harus sedemikian rupa sehingga tidak menjadi penghalang bahkan menggalakkan pertumbuhan ekonomi, ilmu sains, keadilan, kesehatan, dan kepuasan hidup pada umumnya. Dalam mempertimbangkan sesuatu masalah, sosialisme memihak pada yang terbanyak dan yang kurang terpelihara atas dasar-dasar keadilan. 7. Sosialisme menggunakan ilmu pengetahuan seluas-luasnya.

Menurut Syed Hussein Alatas, ciri-ciri tersebut di atas adalah selaras dengan tuntutan Islam dan poin-poin tersebut juga dekat dengan konsep aliran sosialisme demokratik. Golongan sosialis Islam menggunakan atau merujuk pada al-Quran dan Hadits dan juga pendapat-pendapat para ulama dan apa yang pernah dilakukan oleh para khalifah awal Islam. Di antara ayat al-Quran yang paling sering disitir antara lain adalah:

Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota Maka adalah untuk Allah, untuk rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang Kaya saja di antara kamu. apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.(al-Hasyr:7).

Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian (Adz-Dzariyat :19)

Di dalam hadits dinyatakan : Tentukan mereka yang mempunyai kelebihan untuk memberikannya kepada yang tidak punya dan kamu berurusan dengan tiga perkara yaitu, air, api, dan rumput.

Contoh Sosialisme Zaman Khalifah


Tindakan-tindakan khalifah Umar bin Khattab (591-655) menjadi salah satu contoh penting. Umar pernah menolak membagikan harta rampasan perang kepada orang per-orang dan sebaliknya ia menjadikannya untuk masyarakat. Ia juga pernah mengembalikan harta dari hasil monopoli kepada Negara, menetapkan harga barang dan mengambil tanah-tanah strategis milik perseorangan untuk diletakkan di bawah kuasa rakyat.

Khalifah Ali bin Abi Thalib (600-661) pernah melakukan cara hidup asketik, karena ia membagikan hartanya kepada golongan miskin dan karena simpatinya kepada golongan itu. Dalam sepucuk surat Ali kepada Gubernur Mesir Malik al-Astar berbunyi: Sedangkan rakyat biasa, yang miskin, merekalah yang menjadi tiang dasar Islamdan sebab terbesar kemiskinan rakyat ialah keinginan golongan pemerintah dan pegawai-pegawainya mengumpulkan harta dan milik dengan jalan apa saja.Ali juga pernah menganjurkan supaya nilai maksimal pemilikan harta perseorangan tidak melebihi 4000 dirham.

Antara pandangan-pandangan ulama yang dijadikan landasan atau alasan sosialis Islam, termasuk pendapatpendapat Imam Abu Hanifah (660-730), pelopor madzab Hanafi dalam fiqh Islam. Abu Hanifah terkenal dengan pembelaannya terhadap hak-hak fakir miskin. Ia juga mempertahankan kekuasaan Negara mengendalikan kekayaantanah terutmauntuk kepentingan umum. Banyak juga ulama sufi yang membuat anjuran-anjuran seperti itu: malah ada juga yang hampir menghukumi bahwa kelebihan harta kekayaan itu adalah haram.

Selain yang di atas, aliran sosialis Islam paling sering merujuk kepada institusi zakat dan mengharamkan riba (penindasan, faedah, bunga) dalam Islam dipakai untuk kaidah sosialisme. Nabi Muhammad (SAW) pernah diberi sebutan sebagai sosialis pertama, Siapapun bapak sosialisme di Barat, bagi kita umat Islam bapak sosialisme kita adalah junjungan kita Nabi Muhammad. Beliau adalah ahli ekonomi sosialis pertama di dunia.
Tetapi banyak yang menyebut bahwa pelopor sosialis Islam adalah Abu Dzar al-Ghifari, seorang sahabat nabi dan ulama terhormat yang pernah diusir keluar dari Madinah karena ide-ide kirinya. Abu Dzar menghukumi salah, bagi seorang muslim itu memiliki harta melebihi dari keperluan dasar dirinya dan keluarganya.

Tentang soal hak milik tanah, konsep Abu Dzar mirip dengan konsep tanah untuk mereka yang mengerjakannya. Beliau menolak sistem untuk membagikan ekonomi semasa pemerintahan khalifah Usman (656) yang dituduhnya terlalu menguntungkan satu golongan kecil. Abu Dzar juga berdebat dengan (khalifah) Muawiyah (680) : Muawiyah berkata, Harta kekayaan itu kepunyaan Tuhan, dan Abu Dzar menjawab, Kamu berkata demikian untuk membawa arti bahwa oleh karena akulah wakil Tuhan maka harta kekayaan adalah milikku. Katakanlah, harta kekayaan itu kepunyaan rakyat.

Di dalam sejarah Islam seterusnya dipenuhi oleh persoalan-persoalan demikian. Para sarjana terus mengupas dan membicarakannya. Di zaman modern, pelopor sosialisme Islam ialah Jamaluddin al-Afghany (1838-1897), seorang ahli filsafat, penulis, wartawan dan aktivis politik. Ia juga dianggap pelopor nasionalisme Muslim modern dan pelopor gerakan modernis-reformis dalam Islam di awal abad ke 20. Di zamannya formulasi dan penerjemahan ide-ide sosialisme telah semakin jelas di Eropa. Tulisan-tulisan Afghany dan pendukung sosialisme Islam setelahnya, menggambarkan kesinambungan di antara mereka. Antara lain adalah sosialisme demokratik, sosialisme Marxian dan Sosialisme Islam. Yang jelas sosialisme jenis pertama dan ketiga mempunyai persamaan, meski jenis Marxian mempengaruhi (dan menghantui) keduanya.

Sayyid Jaml-al-dn al-Afghn (Persian: ; actually Sayyid Muammad ibn afdar Husayn Asadbd - ()born 1838[1] - died March 9, 1897) was a political activist and Islamic nationalist active in Qajarid Persia, Afghanistan, Egypt, and the Ottoman Empire during the 19th century. One of the founders of Islamic modernism,[2] and an advocate of pan-Islamic unity,[3] he has been described as "less interested in theology than he was in organizing a Muslim response to Western pressure

Afghany diikuti oleh banyak penulis, ulama, ahli fikir dan aktivis
politik lainnya. Di antara mereka yang terkemuka adalah ;

Mustafa al-Sibai (1910-1964), ketua perkumpulan Ikhwanul


Muslimin (persaudaraan Islam) di Syiria. Di antara karyanya yang terkenal adalah al-Wahda al-Kubra (Gabungan Teragung, diterbitkan pada tahun 1961) dan al-Istirakiyya al-Islam (Sosialisme Islam, terbitan 1960).

Mahmud Shaltut (1892-1963), seorang sarjana di Azhar yang


pernah disingkirkan tetapi kembali lagi dan pada tahun 1958 menjadi rektor (Shaykh al-Azhar) universitas tersebut. Ia terkenal dengan fatwa-fatwanya yang mendukung dasar-dasar sosialis Presiden Nasser, seperti yang ditulisnya dalam Al-Istirakiyyah wal-Islam (Sosialisme dan Islam) pada tahun 1961. Tulisan ini juga merupakan suatu kritik atas ide-ide sosialisme al-Sibai yang agak lebih moderat itu.

Haji Omar Said Tjokroaminoto, pemimpin Sarekat Islam di


Indonesia, pada satu Kongres Islam di Garut tahun 1924 Jawa Barat, pidatonya dibukukan dengan judul Islam dan Sosialisme.

Tiga masalah utama tentang sosialisme Islam.


Pertama, aliran ini menolak falsafah komunisme-marxisme. Memang terdapat penulis-penulis yang dipengaruhi oleh ide-ide dialektika dan materialism Hegel, Fouerbach dan Marx, mislanya penulis-penulis sosial radikal (sering disebut juga dengan Marxis Islam) seperti Sadiq

al-Azm (1936) dari Syria dan Ali

Shariati (1933-1977) dari Iran. Teori intizar Shariatidan


interpretasinya tentang konflik pertama manusia di antara dua anak Adam (Habil dan Qabil)seperti interpretasi dialektika Hegel dan pertentangan kelas Marx. Pernah juga dikatakan bahwa

Muhammad Iqbal (1875-1938), ahli filsafat dan penyair Islam


yang terkemuka di zamannya, pernah menganjurkan formula: Islam=komunis+tuhan. Namun aliran utama sosialisme Islam jelas menolak dan mengasingkan diri dari teori materialism-dialektik sejarah anjuran Karl Marx, terutama yang berkaitan dengan kaidah revolusi dan penafikan Marx terhadap peranan metafisik.

Sibai mengatakan :

sosialisme kiri yang ekstrem itu, saya katakan, ia tidak punya akar dalam jiwa manusia; ia tidak berasaskan agama atau keadaan alami manusia atau keyakinan iman. Ia tidak boleh dilaksanakan melainkan melalui kekerasan dan dalam suasana ketakutansosialisme seperti itu jauh tersisih dari Islam dan tiada persamaan langsung dengannya. Sayap paling kiri dalam partai Islam-sosialis Masjumi di Indonesia pun sering menekankan bahwa sosialisme agama yang diperjuangkannya itu asing dari, dan tiada hubungan dengan, sosialisme Marxian.
Ali Shariati (Persian: ( ) November 23, 1933 1977) was a highly influential Iranian revolutionary[1] and sociologist, who focused on the sociology of religion. He is held as one of the most influential Iranian intellectuals of the 20th century[2] and has been called the 'ideologue of the Iranian Revolution' [3]

Kedua, sosialisme Islamseperti juga sosialisme demokratistidak menolak sepenuhnya prinsip hak milik pribadi. Sosialisme Islam mengiktiraf ketidak samaan pendapatan; baginya keadilan dalam pembagian nilai materiil bukan berarti ganjaran yang sama tanpa mengira jenis sumbangan individu kepada masyarakat. Tesis utama sosialisme Islam ialah: apabila pemilikan harta pribadi membawa kepada ketidakadilan dan penderitaan orang banyak maka ia mesti dibatasi melalui kaidah pengawalan dan pemiliknegaraan. Seluas mana kontrol dan batas atas hak milik pribadi ini menjadi bahan perbedaan pendapat dikalangan ilmuwan sosialisme Islam.

Labib al-Said menganjurkan supaya dihakmiliknegarakan industri


dasar saja, itu pun jika benar-benar perlu, jika tidak, kebebasan yang maksimal dalam mengumpulkan harta pribadi harus digalakkan. Mustafa al-Sibai, Mahmud Shalabi, Mahmud Shaltut dan Haji Omar Said Tjokroaminoto, al-Bahiy al-Khuli, lebih radikal. dan yang paling radikal ialah golongan yang lebih mirip kepada prinsip Marxis yang menganjurkan Negara melakukan monopoli pemikiran harta dan alat-alat pengeluaran.

Ketiga, ada di antara penulis tentang sistem ekonomi sosialistik anjuran Islam yang tidak menggunakan istilah sosialisme secara langsung. Banyak yang menggunakan alasan bahwa Islam adalah satu sistem tersendiri yang bukan sosialisme ataupun kapitalisme dan perbuatan menggandengkan perkataan sosialisme dengan Islam merupakan satu penghinaan terhadap Islam. Meski bagaimanapun, banyak di antara mereka ini jelas condong kepada kaedah sosialisme terutama apabila mereka membuat perbandingan di antara Islam di satu pihak dengan sosialisme dan kapitalisme di lain pihak.Termasuk di sini adalah Sayyid Qutb (1906-1966), seorang pemimpin Ikhwan di Mesir dan pengarang buku terkenal Al-Adalah al-Ijtimaiyya fi al-Islam (keadilan Sosial Dalam Islam).

Banyak penulis yang lain menggunakan istilah sosialisme Islam secara terbuka: seperti

Mustafa al-Sibai mengatakan: Tujuan sosialsime Islam harus


digalakkan terus.

M.A. Mannan:
Islam.

Sistem ekonomi Islam disebut juga sosialisme

Khalifa Abd al-Hakim,: Negara Islam ialah suatu republik


sosialis.

Beberapa Alasan Mengapa Sosialisme Islam?


Beberapa alasan penggunaan istilah itu adalah sekedar kaidah tipologi ilmu, dan bahwa penghayatan kaidah sosialisme, dalam Islam tidak bertentangan dengan doktrin tauhid (ke-Esaan Tuhan). Golongan sosialis Islam selalu akan beralasan bahwa pihak yang menolak aliran sosialisme Islam itu adalah mereka juga mempunyai kepentingan pribadi atau pun yang terkungkung oleh simantik penggunaan bahasa dan simbol-simbol yang sempit dan menjauhkan Islam dari dinamisme perkembangan Islam dan ilmu. siapa yang anti-sosialisme (Islam), Kata Syed Hussein Alatas, sebetulnya antialiran yang telah banyak mendatangkan kebaikan. Sosialisme Islam telah dinyatakan menjadi asas ideologi beberapa Negara muslim berikutnya, seperti yang digambarkan oleh pengisytirahaan-pengisytirahan Presiden Gamal Abdul Nasser (1970) di Mesir (yang didukung oleh fathaltut), oleh teori Fil-Nazariyyat alThalitsah (Jalan Ketiga) Presiden Muammar al-Qadhafi di Libya dan oleh Piagam Nasional Republik Demokratik Algeria 1976

Pada permulaan dekade 1970-anterutama setelah kekalahan Mesir dalam peperangan dengan Israil pada tahun 1967ideologi sosialisme Islam telah mulai kehilangan daya tariknya. Munculnya satu aliran baru, yang kadangkala disebut aliran revivalisfundamnetalis, telah membantu juga mengurangi pengaruh aliran itu. Aliran revivalis-fundamentalis ini menolak sarana-sarana sosialisme Islam. Pada umumnya juga, aliran ini, seperti yang digambarkan dalam tulisan-tulisan Abul Ala al-Maududi, lebih mirip ke pemikiran ekonomi kanan yaitu kearah pasar bebas dan sistem kepemilikan pribadi. Sosialisme telah menjadi suatu kata jijik dalam tradisi Islam mulai tahun-tahun 1970-an, dengan jijiknya aliran modernis-reformis yang menjadi bagian darinya. Hal ini ditambah pula kegagalan sistem ekonomi sosialisme umum di seluruh dunia di awal-awal tahun 1990an, seperti yang dilukiskan oleh keruntuhan sistem Soviet dan Eropa Timur dan kemiripan kearah ekonomi pasar bebas di kalangan Negara-negara sosialis lainnya seperti China dan Vietnam.

Apakah nasib aliran sosialisme Islam di masa depan tidak dapat diramalkan. Satu kemungkinanseperti yang digambarkan oleh Fazlur Rahmanialah munculnya aliran baru neo-sosialisme Islam yang nanti akan mempertemukan unsur-unsur terbaik aliran lama dengan reaksi kontemporer itu ke dalam satu sintesis baru yang lebih dinamis dalam memperjuangkan keadilan sosial dan pembagian saksama nilai-nilai masyarakat. A liran ini, meski bagaimanapun, belum lagi muncul sebagai satu kategori ide yang jelas. Yang lebih pasti ialah bahwa persoalan tentang kaidah pembagian dan tentang kerseimbangan antara hak milik pribadi dengan pemilikan umum akan terus menjadi sumber perdebatan dalam tradisi Islam.