Anda di halaman 1dari 13

1. I Sarah 7 tahun mengalami penurunan pendengaran dan keluar secret dan substansi dari telinga kanan. c.

Mekanisme penurunan pendengaran? (Arasy, Wira) Jawab: Otitis media sering diawali dengan infeksi pada saluran napas seperti radang tenggorokan atau pilek yang menyebar ke telinga tengah lewat saluran Eustachius. Saat bakteri melalui saluran Eustachius, mereka dapat menyebabkan infeksi di saluran tersebut sehingga terjadi pembengkakan di sekitar saluran, tersumbatnya saluran, dan datangnya sel-sel darah putih untuk melawan bakteri. Sel-sel darah putih akan membunuh bakteri dengan mengorbankan diri mereka sendiri. Sebagai hasilnya terbentuklah nanah dalam telinga tengah. Selain itu pembengkakan jaringan sekitar saluran Eustachius menyebabkan lendir yang dihasilkan sel-sel di telinga tengah terkumpul di belakang gendang telinga. Jika lendir dan nanah bertambah banyak, pendengaran dapat terganggu karena gendang telinga dan tulang-tulang kecil penghubung gendang telinga dengan organ pendengaran di telinga dalam tidak dapat bergerak bebas. Kehilangan pendengaran yang dialami umumnya sekitar 24 desibel (bisikan halus). Namun cairan yang lebih banyak dapat menyebabkan gangguan pendengaran hingga 45 desibel (kisaran pembicaraan normal).

4. Pemerikasaan fisik a. Bagaimana interpretasi dan mekanisme abnormal dari pemeriksaan fisik? Oropharynx : Normal Pharynx, tonsils : T1-T1, Hyperemic, detritus (+) (Mia, Arasy) Jawab:

Pharynx normal

Gambar : Pembesaran Tonsil Besar tonsil diperiksa sebagaiberikut: T0 = tonsil berada di dalam fossa tonsil atau telah diangkat T1 = bila besarnya 1/4 jarak arkus anterior dan uvula T2 = bila besarnya 2/4 jarak arkus anterior dan uvula T3 = bila besarnya 3/4 jarak arkus anterior dan uvula T4 = bila besarnya mencapai arkus anterior atau lebih

Tonsil Interpretasi

: T1-T1 : T1= bila besarnya 1/4 jarak arkus anterior dan uvula (normal)

Gambar : Detritus berbentuk folikel

Gambar : Tonsil hiperemis

Tonsil Interpretasi Mekanisme

: Detritus (+) : Tonsilitis :

Tonsil terdiri dari banyak jaringan limfoid yang disebut folikel. Setiap folikel memiliki kanal (saluran) yang ujungnya bermuara pada permukaan tonsil. Muara tersebut tampak oleh kita berupa lubang yang disebut kripta. Kripta melebar akibat terkikisnya epitel mukosa dan jaringan limfoid. Kripta akan diisi oleh detritus, detritus ini merupakan kumpulan leukosit, bakteri yang mati dan epitel yang terlepas yang tampak berupa bercak kekuningan.

Tonsil Interpretasi Mekanisme

: Hyperemic : Inflamasi (Tonsilitis) :

Penyebab terserang tonsillitis adalah streptokokus beta hemolitikus grup A. Bakteri lain yang juga dapat menyebabkan tonsilitis adalah Haemophilus influenza dan bakteri dari golongan pneumokokus dan stafilokokus. Virus juga kadang kadang ditemukan sebagai penyebab tonsilitis. Kuman menginfiltrasi lapisan Epitel kemudian bila Epitel ini terkikis maka jaringan limfoid bereaksi dimana terjadi pembendungan radang dengan infiltrasi leukosit polimorfo nuklear.

5. Pemeriksaan audiometric a. Bagaimana interpretasi dan mekanisme abnormal dari pemeriksaan audiometri? (Uty, Arasy) Right Ear : Frequency : Bone conduction : Air conduction : Jawab: Jenis dan derajat ketulian (indeks Fletcher) 250 5 45 500 10 50 1000 2000 5 45 10 45 4000 Hz 10 dB 50 dB

Ambang dengar (AD) = AD 500 Hz + AD 1000 Hz +2000 Hz+ AD 4000 Hz 4 Derajat ketulian dan nilai ambang pendengaran menurut ISO (International Standart Organization) Derajat ketulian Normal Tuli ringan Tuli sedang Tuli berat Tuli sangat berat Nilai ambang pendengaran -10 dB sampai 25 dB 26 dB sampai 40 dB 41 dB sampai 60 dB 61 dB sampai 90 dB lebih dari 90 dB

Interpretasi

: Tuli Konduksi Sedang Telinga kanan Ambang dengar (AD) = 50 + 45 + 45 + 50 4 = 47,5 dB (Air conduction)

Ambang dengar (AD) = 10 + 5 + 10 + 10 4 = 8,75 dB (Bone conduction)

AC >25, BC <25 atau normal, ada gap (Tuli konduksi)

Mekanisme

Infeksi yang berasal dari hidung atau tenggorokan yang menyebar ke telinga tengah melalui tuba eustachius. Tuba ini mengalami peradangan sehingga terjadi pembengkakan dan penumpukan sel radang di daerah ini sehingga menyebabkan terjadinya penyumbatan pada tuba. Hal ini membuat lender dari telinga tengah tidak dapat keluar dan terperangkap di belakang gendang telinga. Tulang-tulang pendengaran menjadi tidak dapat bergetar secara normal dan membrane timpani juga mengalami perforasi sehingga getaran tidak dapat tersalurkan secara normal. Dan akhirnya terjadi tuli konduksi sekitar 45 dB.

6. Pertanyaan Oncak m. KDU? (Arasy, Soleh) Jawab:

Tingkat Kemampuan 2: mendiagnosis dan merujuk Lulusan dokter mampu membuat diagnosis klinik terhadap penyakit tersebut dan menentukan rujukan yang paling tepat bagi penanganan pasien selanjutnya. Lulusan dokter juga mampu menindaklanjuti sesudah kembali dari rujukan.

Tingkat Kemampuan 3: mendiagnosis, melakukan penatalaksanaan awal, dan merujuk

3A. Bukan gawat darurat Lulusan dokter mampu membuat diagnosis klinik dan memberikan terapi pendahuluan pada keadaan yang bukan gawat darurat. Lulusan dokter mampu menentukan rujukan yang paling tepat bagi penanganan pasien selanjutnya. Lulusan dokter juga mampu menindaklanjuti sesudah kembali dari rujukan.

LI 4. Tuli (Gangguan Pendengaran) (Arasy, Soleh) Pendengaran normal ialah dapat mendengar pembicaraan biasa dan tidak ada gangguan mendengar suara perlahan. Secara fisiologis telinga manusia dapat mendengar suara dengan interval 20-20000 Hz. Tuli adalah keadaan dimana tidak dapat mendengar sama sekali, suatu keadaan ekstrim dari pendengaran. Pendapat lain tuli adalah gangguan pendengaran yang sangat berat. Berdasarkan pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa tuli adalah keadaan dimana manusia tidak dapat mendengar dalam frekuensi 20-20000 Hz.

a. Tuli konduktif Gangguan pendengaran konduktif terjadi ketika hantaran suara melalui telinga luar dan/telinga tengah mengalami gangguan yang diantaranya disebabkan oleh : 1) Adanya serumen/kotoran telinga 2) Gendang telinga yang mengalami perforasi (bolong) akibat penggunaan cotton bud atau benda lainnya 3) Infeksi telinga tengah yang menimbulkan ada cairan 4) Diperkirakan 10 % dari kasus gangguan pendengaran yang terjadi merupakan gangguan pendengaran tipe Konduktif 5) Dimana biasanya dapat mengakibatkan penurunan pendengaran derajat ringan sampai dengan sedang 6) Gangguan pendengaran tipe konduktif seringkali dapat ditangani secara medis, bahkan banyak ditemukan pendengaran dapat kembali normal

Gejala-gejala gangguan pendengaran tipe konduktif Pada kasus gangguan pendengaran tipe konduktif, volume suara yang didengar berkurang. Gejala-gejala gangguan pendengaran tipe konduktif adalah sebagai berikut : 1) Suka menaikan volume (diatas volume rata-rata orag dengan pendengaran normal) pada saat menonton TV ataupun mendengarkan radio 2) Meminta lawan bicara untuk mengulang percakapan 3) Merasa mendengar lebih baik di salah satu telinga

4) Sulit mendengar percakapan melalui telepon Pada kasus gangguan pendengaran tipe konduktif, ketika volume suara dinaikkan pada tingkat yang dibutuhkan, biasanya suara (percakapan) akan langsung terdengar lebih jelas dan sekaligus dapat dipahami. Jadi jika seseorang yang mengalami gangguan pendengaran tipe konduktif sedang menonton TV kemudian ia menaikan volume TV tersebut maka pada umumnya orang tersebut dapat mendengar secara jelas. Tergantung dari penyebabnya, gejala gangguan pendengaran konduktif juga dapat terjadi seperti : 1) Merasakan sakit pada telinga 2) Keluar cairan dari telinga 3) Telinga merasa tersumbat

b. Tuli Sensori Neural Gangguan pendengaran yang timbul akibat adanya masalah pada telinga bagian dalam disebut sebagai gangguan pendengaran tipe sensori neural / tuli syaraf. Diperkirakan 90 % dari total kasus gangguan pendengaran yang terjadi merupakan kasus sensori neural. Kasus ini paling sering terjadi akibat rusaknya sel-sel rambut bagian dalam. Dimana jika sel-sel rambut bagian dalam sudah rusak, sejauh ini ia tidak dapat memperbaiki sendiri ataupun dengan penangan medis Penyebab yang sering ditemukan pada gangguan pendengaran tipe sensori neural : 1) Faktor genetic 2) Sering terpapar bising 3) Presbikusis (gangguan pendengaran yang terjadi karena menurunnya fungsi telinga bagian dalam seiring bertambahnya usia) Penyebab lainnya dapat berupa : 1) Konsumsi obat-obat yang berbahaya bagi telinga 2) Tumor yang terjadi pada syaraf pendengaran 3) Infeksi yang terjadi secara kongenital maupun dapatan seperti meningitis, mumps, dan sebagainya. 4) Penyakit ginjal

5) Penyakit saluran pernafasan

Dan Pada sebagian besar kasus, penyebabnya masih belum diketahui atau idiopatik. Gangguan pendengaran tipe sensorineural dapat menyebabkan kehilangan pendengaran dengan derajat ringan sampai dengan profound Lebih dari 95 % kasus gangguan pendengaran sensori neural dapat dibantu dengan menggunakan Alat Bantu Dengar dan Cochlear Implant.

Gejala-gejala tuli sensorineural Pada kasus gangguan pendengaran tipe sensori neural, volume suara yang didengar juga berkurang dan hal tersebut menyebabkan bunyi maupun suara percakapan tidak dapat ditangkap dengan jelas. Orang yang mengalami ganggian pendengaran tipe sensori neural kadang-kadang suka mengatakan bahwasanya mereka dapat mendengar orang berbicara tapi tidak dapat memahami seluruh kata-kata yang didengar . Kurang nyaman mendengar suara music Gejala-gejalanya : 1) Suka menaikan volume (diatas volume rata-rata orag dengan pendengaran normal) pada saat menonton TV ataupun mendengarkan radio 2) Meminta lawan bicara untuk mengulang percakapan 3) Menganggap orang lain berbicara tidak jelas atau bergumam 4) Tidak jelas mendengar suara percakapan 5) Sulit mendengar ditempat bising

c. Tuli Campuran Gelombang suara dapat menemui hambatan disepanjang jalur pendengaran. Ketika gangguan pendengaran yang terjadi disebabkan adanya masalah pada telinga bagian luar/tengah dan telinga bagian dalam sekaligus maka disebut gangguan pendengaran tipe campur. Misalnya gangguan pendengaran tipe campur dapat terjadi pada seseorang yang selsel rambut bagian dalamnya mengalami kerusakan karena bertambahnya usia dan pada saat bersamaan orang tersebut juga mengalami infeksi pada telinga tengah akibat dari infeksi saluran pernafasan bagian atas.

TAMBAHAN BAE Sekret berair dr telinga ekret bersifat purulen ( kental, putih) atau mukoid ( seperti air dan encer) tergantung stadium peradangan. Sekret yang mukus dihasilkan oleh aktivitas kelenjar sekretorik telinga tengah dan mastoid. Pada OMSK tipe jinak, cairan yang keluar mukopus yang tidak berbau busuk yang sering kali sebagai reaksi iritasi mukosa telinga tengah oleh perforasi membran timpani dan infeksi. Keluarnya sekret biasanya hilang timbul. Meningkatnya jumlah sekret dapat disebabkan infeksi saluran nafas atas atau kontaminasi dari liang telinga luar setelah mandi atau berenang. Pada OMSK stadium inaktif tidak dijumpai adannya sekret telinga. Sekret yang sangat bau, berwarna kuning abu-abu kotor memberi kesan kolesteatoma dan produk degenerasinya. Dapat terlihat keping-keping kecil, berwarna putih, mengkilap. Pada OMSK tipe ganas unsur mukoid dan sekret telinga tengah berkurang atau hilang karena rusaknya lapisan mukosa secara luas. FISIOLOGI PENDENGARAN Getaran suara ditangkap oleh daun telinga yang dialirkan keliang telinga dan mengenai membran timpani, sehingga membran timpani bergetar. Getaran ini diteruskan ke tulang-tulang pendengaran yang berhubungan satu sama lain. Selanjutnya stapes menggerakkan tingkap lonjong (foramen ovale) yang juga menggerakkan perilimf dalam skala vestibuli. Getaran diteruskan melalui membran Reissener yang mendorong endolimf dan membran basal kearah bawah, perilimf dala m skala timpani akan bergerak sehingga tingkap (forame rotundum) terdorong ke arah luar. Skala media yang menjadi cembung mendesak endolimf dan mendorong membran basal, sehingga menjadi cembung kebawah dan menggerakkan perilimf pada skala timpani. Pada waktu istirahat ujung sel rambut berkelok-kelok, dan dengan berubahnya membran basal ujung sel rambut menjadi lurus. Rangsangan fisik tadi diubah oleh adanya perbedaan ion Kalium dan ion Natrium menjadi aliran listrik yang diteruskan ke cabang-cabang n.VII, yang kemudian meneruskan rangsangan itu ke pusat sensorik pendengaran diotak ( area 39-40) melalui saraf

pusat yang ada dilobus temporalis. Bentuk perforasi membran timpani adalah : 1. Perforasi sentral Lokasi pada pars tensa, bisa antero-inferior, postero-inferior dan postero-superior, kadang-kadang sub total. 2. Perforasi marginal Terdapat pada pinggir membran timpani dengan adanya erosi dari anulus fibrosus. Perforasi marginal yang sangat besar digambarkan sebagai perforasi total. Perforasi pada pinggir postero-superior berhubungan dengan kolesteatom 3. Perforasi atik Terjadi pada pars flasida, berhubungan dengan primary acquired cholesteatoma.