Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH KIMIA ANALISIS INSTRUMEN KROMATOGRAFI GAS

Disusun oleh : DEDAH NURHAMIDAH AYU WIKHA VIDYA NUR AGUSTINA AYNITA KURNIAWAN S. G1F011008 G1F011020 G1F011048 G1F011066

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN JURUSAN FARMASI FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN PURWOKERTO 2013

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kromatografi gas adalah suatu proses pemisahan dimana suatu campuran menjadi komponen-komponenya oleh fase gas yang bergerak melewati suatu lapisan serapan (sorben) yang stasioner. Jadi teknik ini mirip dengan kromatografi cairan-cairan kecuali bahwa fase cair yang bergerak digantikan oleh fase gas yang bergerak. Kromatografi dibagi menjadi dua kategori utama: kromatografi gas-cairan (GLC) dan kromatografi gas-padat (GSC), yang menggunakan permukaan padat yang luas sebagai fase stasioner (Basset, 1994) Kromatografi gas (KG) merupakan metode yang dinamis untuk pemisahan dan deteksi senyawa-senyawa yang mudah menguap dalam suatu campuran. Kromatografi gas merupakan teknik instrumental yang dikenalkan pertama kali pada tahun 1950-an, dan saat ini merupakan alat utama yang digunakan oleh laboratorium untuk melakukan analisis. Kegunaan umum KG adalah untuk melakukan pemisahan yang dinamis dan identifikasi semua jenis senyawa organik yang mudah menguap dan juga untuk melakukan analisis kualitatif dan kuantitatif senyawa dalam campuran. KG dapat bersifat destruktif dan dapat bersifat non destruktif tergantung pada detektor yang digunakan (Gandjar, 2009)

Kromatografi gas merupakan metode pemisahan suatu campuran menjadi komponenkomponennya diantara fasa gerak dan fasa diam. Fasa gerak berupa gas yang stabil sedang fasa diam bisa zat padat atau zat cair yang sukar menguap. Cuplikan yang dapat dipisahkan dengan metode ini harus mudah menguap. Metode ini sangat cepat bekerjanya, dalam waktu beberapa detik dapat memisahkan secara sempurna, selain itu konsentrasi cuplikan sangat rendah dengan konsentrasi cuplikan sampai ng/l. Kromatografi gas dapat juga digunakan untuk analisis kualitatif dan kuantitatif senyawa organik. Cuplikan dalam bentuk uap dibawa oleh aliran gas ke dalam kolom pemisah. Hasil pemisahan dapat dianalisis dari kromatogram. Ditinjau dari segi penggunaan metode ini dalam metode ini dalam pemisahan suatu campuran yang efektif dan efisien, maka pada makalah ini akan dibahas lebih lanjut mengenai kromatografi gas.

1.2

Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan kromatografi gas? 2. Apa saja instrumen dan senyawa yang dianalisis dalam kromatografi gas? 3. Bagaimana fungsi instrumen dan prinsip kerja kromatografi gas? 4. Bagaimana aplikasi kromatografi gas di bidang farmasi?

1.3

Tujuan 1. Untuk mengetahui tentang kromatografi gas. 2. Untuk mengetahui tentang instrumen dan senyawa yang dianalisis dalam kromatografi gas. 3. Untuk mengetahui fungsi instrumen dan prinsip kerja kromatografi gas. 4. Untuk mengetahui aplikasi kromatografi gas di bidang farmasi.

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Pengertian Kromatografi gas Kromatografi gas (atau biasa dikenal juga dengan Gas Chromatography/GC) adalah salah satu bagian dari khromatografi yaitu salah satu teknik pemisahan komponen-komponen dalam campuran di antara fase diam (kolom) dan fase gerak (gas). Ruang lingkup aplikasi kromatografi gas adalah sampel sampel yang mudah menguap,mudah diuapkan dan tidak rusak karena panas (thermally-stable).Untuk sampel yang tidak memenuhi syarat tersebut masih memungkinkan untuk dianalisis dengan menggunakan metode kromatografi gas melalui perlakuan tertentu seperti derivatisasi dan penggunaan teknik tambahan (metode headspace,pyrolizer,dll). Saat ini GC merupakan salah satu instrumen utama dalam aplikasi laboratorium. Kromatografi gas merupakan metode pemisahan suatu campuran menjadi komponenkomponen berdasarkan interaksi tersebut yaitu fase gerak dan fase diam. Fase gerak berupa gas yang stabil sedangkan fase diam bisa zat padat (GSC = Gas Solid Chromatography), atau zat cair (GLC = Gas Liquid Chromatography) ( Pontoh et al., 2011)

Kromatografi gas dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu : 1. Kromatografi gas-cair (KGC) Pada KGC ini, fase diam yang digunakan adalah cairan yang diikatkan pada suatu pendukung sehingga solut akan terlarut dalam fase diam. Mekanisme sorpsi-ya adalah partisi. 2. Kromatografi gas-padat (KGP) Pada KGP ini, digunakan fase diam padatan ( kadang-kadang polimerik ). Mekanisme sorpsi-nya adalah adsorpsi. (Gandjar, 2011)

2.2

Prinsip Kerja Kromatografi Gas Prinsip kerja kromatografi gas adalah proses pemisahan senyawa-senyawa kimia

secara fisika. Dalam suatu kolom dengan menggunakan sistem dua fasa, dimana salah satu fasa bergerak mengalir atau merembes melalui fasa yang lain (fasa diam). Fasa yang mengalir berfungsi untuk mengangkut komponen yang diikutkan, sedangkan fasa diam berfungsi untuk

menghambat gerak laju komponen mengalir dimana besarnya hambatan laju komponen tergantung pada sifat afinitas komponen yang bersangkutan (Anonim, 2008). Kromatografi adalah cara pemisahan campuran yang didasarkan atas perbedaan distribusi dari campuran komponen tersebut diantara dua fase, yaitu fase diam (stationary) dan fase gerak (mobil). Fase diam dapat berupa zat padat atau zat cair, sedangkan fase bergerak dapat berupa zat cair atau gas. Dalam teknik kromatografi, sampel yang merupkan campuran dari berbagai macam komponen ditempatkan dalam situasi dinamis dalam sistem yang terdiri dari fase diam dan fase bergerak. Semua pemisahan pada kromatografi tergantung pada gerakan relatif dari masing-masing komponen yang tertahan lebih lemah oleh fase diam akan bergerak lebih cepat dari pada kompnen yang tertahan lebih kuat. Perbedaan gerakan (mobilitas) antara komponen yang satu dengan yang lainnya disebabkan oleh perbedaan dalam absorpsi, partisi, kelarutan atau penguapan diantara kedua fase. Jika perbedaan ini cukup besar, maka akan terjasi pemisahan secara sempurna. Oleh karena itu di dalam kromatografi pemilihan terhadap fase bergerak maupun fase diam perlu dilakukan sedemikian rupa sehingga semua komponen bisa bergerak dengan kecepatannya yangberbeda-beda agar dapat terjadi proses pemisahan (Yazid, 2005) Senyawa gas yang sedang dianalisis berinteraksi dengan dinding kolom yang dilapisi dengan berbagai tahapan fasa diam. Ini menyebabkan setiap kompleks elute diwaktu yang berbeda, yang dikenal sebagai ingatan waktu yang kompleks. Perbandingan dari ingatan kali yang memberikan kegunaan analisis kromatografi gasnya. Kromatografi gas yang pada prinsipnya sama dengan kromatografi kolom (serta yang lainnya untuk kromatografi, seperti HPLC, TLC), tetapi memiliki beberapa perbedaan penting. Pertama, proses memisahkan senyawa alam campuran dilakukan antara fasa cair diam dan fasa gas gerak, sedangkan pada kromatografi kolom yang seimbang adalah tahap yang solid dan bergerak adalah fasa cair. Kedua, melalui kolom yang lolos tahap gas terletak disebuah ovendimana temperatur gas yang dapat dikontrol, sedangkan kromatografi kolom (biasanya) tidak memiliki kontrol seperti suhu. Ketiga, konsentrasi majemuk dalam fasa gas adalah hanya salah satu fungsi dari tekanan uap dari gas (Nainggolan,2012)

2.3

Jenis Sampel yang Dianalisis Kromatografi gas adalah teknik kromatografi yang bisa digunakan untuk memisahkan

senyawa organik yang mudah menguap. Senyawa yang bisa ditentukan dengan kromatografi gas sangat banyak, namun ada batasanya. Senyawa- senyawa tersebut harus mudah menguap dan stabil pada temperature pengujian, utamanya pada 50-3000 C. Jika senyawa tidak mudah menguap atau tidak stabil pada temperature pengujian maka senyawa tersebut bsa diderivatisasi agar dapat dianalisis dengan kromatografi gas ( Mardoni, 2002) Artinya sampel tidak terurai. Dan juga harus dihindari adanya reaksi antara isi kolom dan sampel. Tidak semua sampel dapat langsung dianalisis dengan kromatografi gas, misalnya senyawa organik yang mempunyai atom C diatas 60, melainkan harus dipecah secara pirolisis, dan baru hasil pirolisis dianalisis (Novriliza, 2008)

Kromatografi gas merupakan teknik pemisahan sampel yang teruapkan, yang dibawa oleh fasa gerak yaitu aliran gas inert melewati kolom yang terisi partikel-partikel halus (kromatografi gas-padat) atau dindingnya dilapisi oleh cairan dengan keteruapan rendah (kromatografi gas-cair). Fasa bergerak yang digunakan pada GC umumnya gas yang stabil seperti helium, nitrogen. Kromatografi gas padat digunakan untuk analisis sampel cairan, gas dan padatan. Untuk sampel cair dan padat harus dapat diuapkan dengan panas tanpa terjadinya dekomposisi (Novriliza,2008). Dengan demikian sampel yang dapat dianalisis dengan menggunakan kromatografi gas berupa gas atau cairan atau padatan yang dapat diubah menjadi gas. Sampel yang berupa cairan atau padatan harus dengan mudah diuapkan dengan panas. Bahkan dengan logamlogam pun dapat dianalisis dengan metode ini, yaitu dengan menjadikan bentuk gas, dengan cara dipanaskan pada temperatur tinggi. Hal ini diperlukan perlakuan yang khusus, karena umumnya alat di desain dengan temperatur paling tinggi 450C. Untuk sampel yang memerlukan temperatur penguapan tinggi, dilakukan secara pirolisis (Novriliza, 2008)

2.4

Instrumentasi Kromatografi Gas

Komponen Utama : 1. Kontrol dan penyedia gas pembawa ( fase gerak ) Fase gerak pada kromatografi gas disebut dengan gas pembawa karena tujuan awalnya adalah untuk membawa solut ke kolom. Syarat gas pembawa adalah tidak reaktif, murni / kering, dan dapat disimpan dalam tangki tekanan tinggi ( biasanya merah untuk hidrogen dan abu-abu untuk nitrogen (Gandjar, 2011). Gas pembawa (carrier gas) pada kromatografi gas sangatlah penting. Gas yang dapat digunakan pada dasarnya haruslah inert, kering, dan bebas oksigen. Kondisi seperti ini dibutuhkan karena gas pembawa ini dapat saja bereaksi dan dapat mempengaruhi gas yang akan dipelajari atau diidentifikasi (Farid et al., 2012). Gas pembawa biasanya mengandung gas helium, nitrogen, hidrogen atau campuran argon dan metana. Gas pembawa bekerja paling efisien pada kecepatan alir tertentu. Gas nitrogen akan efisien jika digunakan dengan kecepatan alir 10ml/menit, sementara helium akan efisien pada kecepatan alir 40 ml/menit (Gandjar, 2011).

Untuk setiap pemisahan dengan kromatografi gas terdapat kecepatan optimum gas pembawa yang utamanya tergantung pada diameter kolom. Kecepatan alir gas kira-kira 50-70 ml/menit untuk kolom dengan diameter dalam 6 mm, 25-30 ml/menit untuk kolom dengan diameter dalam 3 mm, dan 0,2-2ml/menit untuk kolom kapiler. Pada dasarnya, kecepatan alir gas pembawa berbanding lurus dengan penampang kolom. Dengan demikian penggunaaan kolom dengan diameter yang kecil akan menghemat gas pembawa seara signifikan (Gandjar, 2011). 2. Ruang suntik sampel (inlet) Fungsi dari ruang suntik ini adalah untuk mengantarkan sampel ke dalam aliran gas pembawa. Sampel yang akan dikromatografi dimasukkan ke dalam ruang suntik melalui gerbang suntik yang biasanya berupa lubang yang ditutupi dengan septum atau pemisah karet. Ruang suntik dipanaskan dengan suhu yang biasanya lebih tinggi 10-15 C lebih tinggi daripada suhu kolom maksimum. Jadi, seluruh sampel akan menguap segera setelah sampel disuntikkan (Gandjar, 2011). 3. Kolom pada Kromatografi Gas Kolom merupakan tempat terjadinya pemisahan karena di dalamnya terdapat fase diam. Oleh karena itu, kolom merupakan komponen penting dalam kromatografi gas. Ada 2 jenis kolom pada KG yaitu : Kolom Kemas ( packing column )

Kolom kemas terdiri atas fase cair yang tersebar pada permukaan penyangga yang inert yang terdapat dalam tabung yang relatif besar (diameter dalam 1-3 mm). Fase diam hanya dilapiskan saja pada penyangga atau terikat secara kovalwn paa penyangga yang menghasilkan fase terikat. Jenis kolom ini terbuat dari gelas atau logam yang tahan karat atau dari tembaga dan alumunium. Panjang kolom jenis ini adalah 1-5 meter dengan diameter dalam 1-4 mm. Efisiensi kolom akan meningkat dengan semakin bertambah halusnya partikel fase diam. Semakin kecil diameter partikel fase diam, maka efisiensinya akan menigkat. Ukuran partikel fase diam biasanya berkisar antara 60-80 mesh ( 250-170 m) (Gandjar, 2011).

Kolom Kapiler ( capilarry column )

Kolom kapiler juga disebut sebagai open tubular columns karena rongga bagian dalam kolom yang menyerupai pipa. Fase diam melekat mengelilingi dinding dalam kolom. Ada empat macam lapisan pada kolom kapiler ini, yaitu : WCOT ( Wall Coated Open Tube), SCOT (Support Coated Open Tube), PLOT (Porous layer Open Tube) dan FSOT (Fused Silica Open Tube). Kolom kapiler sangat banyak dipakai atau lebih disukai oleh para ilmuwan. Salah satu sebabnya antara lain kemampuan kolom kapiler memberikan harga jumlah pelat teori yang sangat besar (> 300.000 pelat) . Fase diam yang diapkai pada kolom kapiler dapat bersifat non polar, polar, atau semi polar. Banyak macam bahan kimia yang digunakan sebagai fase diam antara lain : squalen, DEGS ( Dietilglikol Suksinat ), OV-17 (phenil methyl silicone oil). Semakin tipis lapisan penyalut sebagai fase diam, maka makin tinggi suhu operasionalnya. Untuk lapisan salut < 1 m, suhu operasionalnya dapat mencapai 460 C, sementara itu suhu minimalnya dapat mencapai -60 C (Gandjar, 2011).

2. Detektor pada kromatografi gas Detektor merupakan perangkat yang diletakkan pada ujung kolom tempat keluar fase gerak (gas pembawa) yang membawa komponen hasil pemisahan. Detektor pada kromatografi adalah suatu sensor elektronik yang berfungsi mengubah sinyal gas pembawa dan komponen-komponen di dalamnya menjadi sinyal elektronik. Sinyal elektronik detektor akan sangat berguna untuk analisis kualitatif maupun

kuantitatif terhadap komponen-komponen yang terpisah di antara fase diam dan fase gerak (Gandjar, 2011). Pada garis besarnya detektor pada kromatografi gas termasuk detektor differensial, dalam arti respon yang keluar dari detektor memberikan relasi yang linier dengan kadar atau laju aliran massa komponen yang teresolusi. Kromatogram yang merupakan hasil pemisahan fisik komponen-komponen oleh kromatografi gas disajikan oleh detektor sebagai deretan luas puncak terhadap waktu (Gandjar, 2011). Jenis-jenis detektor yang sering digunakan dalam kromatografi gas adalah sebagai berikut : a. Detektor hantar panas (Thermal Conductivity Detector = TCD)

Detektor ini didasarkan bahwa panas dihantarkan dari benda yang suhunya tinggi ke benda lain di sekelilingnya yang suhunya lebih rendah, sehingga detektor merespon terhadap efek pendinginan analit yang melewati filamen. Kecepatan penghantaran panas ini tergantung susunan gas yang mengelilinginya. Jadi setiap gas mempunyai daya hantar panas yang kecepatannya merupakan fungsi dari laju pergerakan molekul gas yang pada suhu tertentu merupakan fungsi dari molekul gas. Gas yang mempunyai berat molekul rendah mempunyai daya hantar lebih tinggi (Gandjar, 2011). Keuntungan dari detektor ini adalah komponen yang dideteksi tidak rusak, sehingga memungkinkan komponen dikumpulkan untuk analisis lebih lanjut. Detektor hantar panas, termasuk detektor konsentrasi, yakni semua yang melewatinya diukur jumlahnya dan tidak tergantung pada laju aliran fase gerak (Gandjar, 2011). Detektor

ini digunakan untuk menentukan air dalam beberapa penetapan kadar BP, misalnya air dala m senyawa peptida menotrofin, gonado relin, dan salkatonin (Watson, 2010).

b. Detektor ionisasi nyala (Flame Ionization Detector = FID)

Pada dasarnya senyawa organik apabila dibakar akan terurai menjadi ion bermuatan positif, biasanya terdiri atas satu karbon (C+).ion ini akan mningktakan daya hantar di sekitar nyala, tempat yang telah dipasang elektroda, dan peningkatan daya hantar ini dapat diukur dengan mudah dan direkam. Detektor ini mengukur jumlah atom FID pada dasranya bersifat umum untuk hampir semua senyawa organik (senyawa berfluoro tinggi dan karbon disulfida tidak terdeteksi). Di samping itu, respon FID sanga peka, dan linier ditinjau dari segi ukuran cuplikan serta teliti (Gandjar, 2011). Detektor ini mendeteksi senyawa-senyawa yang mengandung karbon/hidrogen (Watson, 2010).

c. Detektor tangkap elektron (Electron Capture Detector = ECD)

Dasar kerja detektor ini adalah penangkapan elektron oleh senyawa yang mempunyai afinitas terhadap elektron bebas, yaitu senyawa yang mempunyai unsurunsur elektronegatif. Detektor ini dilengkapi dengan sumber radio aktif yaitu tritium (3H) atau
63

Ni yang ditempatkan di antara dua elektroda. Apabila suatu fase gerak

masuk ke dalam detektor maka sinar akan mengionisasi fase gerak, dan menghasilkan elektron bebas yang akan bergerak ke anoda. Dengan demikian, elektron akan terkumpul pada anoda dan menhasilkan arus garis dasar yang steady dan memberikan garis dasar pada kromatogram (Gandjar, 2011). Detektor ini terutama digunakan untuk analisis obat dalam cairan tubuh serta banyak penerapan dalam pemantauan lingkungan, misalnya klorofluorokarbon dalam atmosfer (Watson, 2010).

d. Detektor nitrogen-fosfor (Nitrogen Phosphorous Detector = NPD)

Pada prinsipnya NPD mirip dengan FID, hanya saja fenomena mekanisme nyala plasma belum jelas. NPD sangat selektif terhadap nitrogen dan fosfor karena adanya elemen aktif di atas aliran kapiler yang terbakar oleh plasma (1600 C). Elemen aktif merupakan logam kalium atau rubidium atau cesium yang dilapisan pada silinder kecil alumunium. Kegunaan elemen aktif garam metal alkali adalah sebagai sumber ion di dalam plasma yang bertugas menekan ionisasi hidrokarbon di dalam plasma, akan tetapi sebaiknya menaikkan ionisasi sampel yang mengandung N atau P (Gandjar, 2011). Detektor ini digunakan untuk mendeteksi senyawa yang mengandung fosfor dalam kadar pg, senyawa yang mengandung nitrogen dalam kadar ng yang rendah (Watson, 2010). e. Detektor fotometri nyala Detektor fotometri nyala menggunakan prinsp bahwa ketika senyawa yang mengandung sulfur atau fosfor dibakar dalam nyala hidrogen-oksigen, maka akan terbentuk spesies-spesies yang tereksitasi yang akan runtuh (decay) dan menghasilkan suatau emisi kemiluminesen yang spesifik yang dapat diukur pada panjang gelombang tertentu (Gandjar, 2011).

f. Detektor konduktivitas elektrolitik Detektor konduktivitas elektrolitik merupakan detektor yang spesifik untuk mendeteksi senyawa yang mengandung atom sulfur, nitrogen, dan halogen. Detektor ini tersusun atas tungku yang mampu meberikan suhu paling kecil 100 C (Gandjar, 2011). g. Detektor foto-ionisasi Ketika suatu senyawa menyerap energi foton dari suatu lampu UV, maka senyawa tersebut aka terionisasi. Hal inilah yang menjadi dasar detektor ini. Senyawa yang terionisasi ini selanjutnya akan dikumulkan dan banyaknya arus yang dihasilkan dimonitor. Keuntungan detektor ini adalah bahwa pelarut-pelarut umum yang sering digunakan sperti metanol, kloroform, metilen klorida, karbon tetraklorida, dan asetonitril tidak memberikan atau sedikit memberikan tanggapan, jika digunakan lampu UV yang mempunyai potensial ionisasi 12 eV (Gandjar, 2011). h. Detektor spektrofotometer massa Spektrofotometer massa jika digunakan sebagai detektor maka akan mampu memberikan informasi data struktur kimia senyawa yang tidak diketahui (Gandjar, 2011). 3. Komputer Kromatografi gas modern mengginakan komputer yang dilengkapi dengan perangkat lunak utnuk digitalisasi signal detektor san memiliki beberapa fungsi, antara lain : 1. Memfasilitasi serring parameter-parameter instrumen seperti aliran fase gas, suhu oven dan pemrograman suhu, serta penyuntikan sampel secara otomatis 2. Menampilkan kromatogram dan informasi-informasi lain dengan menggunakan grafik berwarna 3. Merekam data kalibrasi, retensi, serta perhitungan-perhitungan dengan statistik 4. Menyimpan data parameter analisis untuk analisis senyawa tertentu (Gandjar, 2011)

2.5

Penyiapan sampel dan penyuntikan Sampel yang ideal dalam kromatografi gas adalah sampel yang hanya mengandung

senyawa yang akan dipisahkan dalam kolom, dan dalam banyak hal juga pelarut yang mudah menguap yang melarutkan sampel tersebut. Konsentrasi sample biasnaya berkisar antara 110%. Komponen yang tidak mudah menguap atau tingkat menguapnya rendah tidak boleh ada dalam sampel karena komponenen tersebut akan tingaal di ruang suntik yang kemudian akan mengurangi kinerja kolom. Pelarut sampel yang paling umum digunakan adalah : hidrokarbon bertitik rendah, etil eter, alkohol dan keton. Pelarut yang dipilih harus mempunyai sifat yang berbeda secara nyata dengan sampel yang dianalisis. Penyuntikan kromatografi gas dilakukan dengan alat suntik kedap gas atau dalam kasus tertentu dilakukan penyuntikan langsung dalam kolom ( on column injection ) tanpa melalui lubang penyuntikan. Teknik ini digunakan untuk senyawa-senyawa yang mudah menguap (Gandjar, 2011) 2.6 Cara kerja Instrumen Fase gerak yang berupa gas pembawa diletakkan pada tangki, gas pembawa bekerja paling efisien pada kecepatan alir tertentu. Apabila kecepatan alir rendah maka perlu ditambah gas tambahan yang biasanya berupa helium. Sampel yang akan dikromatografi diletakkan pada ruang suntik ( inlet ) yang dipanaskan agar sampel berubah menjadi gas dan mengalir ke dalam kolom. Bila sampel berupa cairan dapat dimasukkan dengan syringe, bila berupa gas melalui katup. Sampel masuk ke dalam injektor mengalir dengan gas pembawa masuk ke dalam kolom. Pada kolom campuran zat penyusun mengalami pemisahan proses partisi pada fase cair. Proses pemisahan dapat dilakukan pada suhu tetap yang biasa disebut dengan pemisahan isotermal dan dapat dilakukan dengan menggunakan suhu yang berubah secara terkendali yang disebut dengan pemisahan suhu terprogram (Gandjar, 2011). Setelah terjadi proses pemisahan di kolom, sampel akan menuju detektor dan detektor yang mengirimkan signal ke recorder. Kelebihan dan Kekurangan Kromatografi Gas Kelebihan 1. Waktu analisis yang singkat dan ketajaman pemisahan yang tingga 2. Dapat menggunakan kolom lebih panjang untuk menghasilkan efisiensi pemisahan yang

tinggi 3. Gas mempunyai viskositas yang rendah 4. Kesetimbangan partisi antara gas dan cairan berlangsung cepat sehingga analisis relatif cepat dan sensitifitasnya tinggi 5. Pemakaian fase cair memungkinkan kita memilih dari sejumlah fase diam yang sangat beragam yang akan memisahkan hampir segala macam campuran. Kekurangan 1. Teknik Kromatografi gas terbatas untuk zat yang mudah menguap 2. Kromatografi gas tidak mudah dipakai untuk memisahkan campuran dalam jumlah besar. 3. Pemisahan pada tingkat mg mudah dilakukan, pemisahan pada tingkat gram mungkin dilakukan, tetapi pemisahan dalam tingkat pon atau ton sukar dilakukan kecuali jika ada metode lain. 4. Fase gas dibandingkan sebagian besar fase cair tidak bersifat reaktif terhadap fase diam dan zat terlarut. ( Najiullah, 2009)

Aplikasi 1. Penerapan Kromatografi Gas dalam Bidang Farmasi Senyawa Kolom Suhu Kolom Sulfadiazin OV-17,5 %, 1.82 m x 4 mm i.d Tiabendazol OV-101 3%, 230 1.83 m x 3 mm i.d Etanol Porapak Q 50%: 1.8 m x 3 mm i.d Teofilin OV-225 5 %, 1.21 m x 4 mm i.d Haloperidol OV-17 3%; 285 250 Penta fluoro benzoil klorida + Na-karbonat NP-FID Hayati ECD Hayati 150 FID Hayati Pentafluorobenzoil ECD klorida Nabati 285 Diazometan ECD Hayati Derivatisasi Detektor Sampel

2 m x 4 mm i.d Morfin OV- 17 3%; 1.5 m x 2 mm i.d Furosemid JXR 3%; 1.8 245 m x 2 mm i.d Tetraheksil amonium hidroksida+ metil iodida Tolazolin Carbowax 20 M + KOH 2% 197 FID Sediaan ECD Hayati 245 PFPA ECD Hayati

(Gandjar, 2011) 2. Penerapan Kromatografi Gas dalam Bidang Lingkungan Polusi Udara Kromatografi gas merupakan alat yang penting karena daya pemisahan yang digabungkan dengan daya sensitivitas dan pemilihan detector GLC menjadi alat yang ideal untuk menentukan banyak senyawa yang terdapat dalam udara yang kotor, KGCdipakai untuk menetukan Alkil-Alkil Timbal, Hidrokarbon, aldehid, keton SO , H S, dan beberapa oksida dari nitrogen dll 3. Penerapan Kromatografi Gas dalam Industri Makanan Minyak atsiri Digunakan untuk pengujian kulaitas terhadap minyak permen, jeruk sitrat, dll Bahan makanan Digunakan dengan TLC dan kolom-kolom, untuk mempelajari pemalsuan atau pencampuran, kontaminasi dan pembungkusan dengan plastic pada bahan makanan, juga dapat dipakai untuk menguji jus, aspirin, kopi dll.

4.

Penerapan Kromatografi Gas dalam Bidang Pertanian Pestisida

KGC dengan detector yang sensitive dapat menentukan atau pengontrolan sisa-sisa pestisida yang diantaranya senyawa yang mengandung halogen, belerang, nitrogen, dan fosfor 5. Penerapan Kromatografi Gas dalam Perminyakan Kromatografi gas dapat digunakan untuk memisahkan dan mengidentifikasi hasilhasildari gas-gas hidrokarbon yang ringan. (Najiullah, 2009)

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan

Kromatografi adalah suatu istilah umum yang digunakan untuk bermacam-macam teknik pemisahan yang didasarkan atas partisi sampel diantara suatu fasa gerak yang bisa berupa gas ( kromatografi gas ) ataupun cair ( kromatografi cair ) dan fasa diam yang juga bisa berupa cairan ataupun suatu padatan. Hal ini dikarenakan adanya perbedaan polaritas dari fasa diam dan gerak. Ada dua jenis kromatografi gas, yatiu kromatografi gas padat (KGP), dan kromatografi gas cair (KGC). Kromatografi gas terdiri dari beberapa alat diantaranya : Fase Mobil (Gas Pembawa) Sistem Injeksi Sampel Kolom Detektor Pencatat (Recorder)

3.2.

Saran Demikian makalah ini di susun, tentunya banyak kekurangan baik dalam segi isi atau

penyampaiannya. Oleh karena itu, penulis mengharap kritik dan saran demi kesempurnaan makalah penulis. Semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca. Penulis juga berharap kromatografi gas yang telah disajikan dalam bab pembahasan dapat dijadikan referensi ataupun tambahan wawasan bagi pembaca sehingga dapat membedakannya dan dapat menerapkannya secara tepat.

Daftar Pustaka

Anonim, 2008, Belajar Analisis, http://chem_is_try.org/?sect=belajar&ext=analisis 05_04, diakses pada 27 Mei 2013

Basset, J, 1994, Buku Ajar Vogel Kimia Analisis Kauntitatif Anorganik, EGC, Jakarta.

Farid R, M, Dr. Ir. Totok Soehartanto, DEA, dan Suprapto, M.Si, Ph.D, 2012, Pemroduksi Gas Brown dengan Metode Elektrolisis Berskala Laboratorium, Jurnal Teknik POMITS, Vol 1 No. 1 : 1-4.

Gandjar, I. G., dan Abdul Rohman, 2011, Kimia Farmasi Analisis, Pustaka Pelajar, Yogyakarta. Mardoni, Yetty Tjandrawati, 2002, Perbandingan Metode Kromatografi Gas Dan Berat Jenis Pada Penetapan Kadar Etanol Dalam Minuman Anggur, Fakultas Farmasi, USD

Najiullah, 2009, Kromatografi Gas, http://ariffadholi.blogspot.com/2009/10/oleh-najiullah 2007- kromatografi-gas-i.html, diakses pada tanggal 2 Juni 2013 Nainggolan, Helnida, 2012, Kromatografi Gas, http://helnidanainggolan.blogspot.com/2012/12/v-behaviorurldefaultvmlo.html diakses pada 27 Mei 2013

Novriliza, 2008, Karya Ilmiah : Penentuan Komposisi Hidrokarbon Pada Lng Yang Terdapat Dalam Berth Ii Dan Berth Iii Dengan Menggunakan Kromatografi Gas, Usu Repository, Sumatra

Pontoh, Julius, dan Nancy T.N Buyung, 2011, Analisa Asam Lemak dalam Minyak Kelapa Murni (VCO) dengan Dua Peralatan Kromatografi Gas, Jurnal Ilmiah Sains Vol. 11 No.2 Yazid, E., 2005, Kimia Fisika Untuk Paramedis, Penerbit Andi, Yogyakarta

Watson, David G, 2010, Analisis Farmasi, Buku Kedokteran EGC, Jakarta