Anda di halaman 1dari 20

TERAPI BERMAIN (PLAY THERAPY)

A.

Definisi Terapi Bermain

Bermain adalah suatu kegiatan yang dilakukan dengan atau tanpa mempergunakan alat yang menghasilkan atau memberikan informasi, memberi kesenangan maupun mengembangkan imajinasi anak. Terapi Bermain adalah pemanfaatan permainan sebagai media yang efektif oleh terapis, untuk membantu klien mencegah atau menyelesaikan kesulitan-kesulitan psikososial, mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal melalui eksplorasi atau ekspresi diri . B . Tujuan Terapi Bermain Tujuan terapi bermain adalah mengubah tingkah laku anak yang tidak sesuai menjadi tingkah laku yang diharapkan. Dengan terapi, anak mampu diubah perilakunya melalui cara yang menyenangkan. Kategori Bermain : 1. Bermain aktif Yaitu anak banyak menggunakan energi inisiatif dari anak sendiri. Contoh : bermain sepak bola. 2. Bermain pasif Energi yang dikeluarkan sedikit,anak tidak perlu melakukan aktivitas (hanya melihat) Contoh : memberikan support. Ciri-ciri Bermain : 1. Selalu bermain dengan sesuatu atau benda 2. Selalu ada timbal balik interaksi 3. Selalu dinamis 4. Ada aturan tertentu 5. Menuntut ruangan tertentu Klasifikasi bermain menurut isi : 1. Social affective play

Anak belajar memberi respon terhadap respon yang diberikan oleh lingkungan dalam bentuk permainan,misalnya orang tua berbicara memanjakan anak tertawa senang,dengan bermain anak diharapkan dapat bersosialisasi dengan lingkungan. 2. Sense of pleasure play Anak memproleh kesenangan dari satu obyek yang ada disekitarnya,dengan bermain dapat merangsang perabaan alat,misalnya bermain air atau pasir.

3. Skill play Memberikan kesempatan bagi anak untuk memperoleh ketrampilan tertentu dan anak akan melakukan secara berulang-ulang misalnya mengendarai sepeda. 4. Dramatika play role play Anak berfantasi menjalankan peran tertentu misalnya menjadi ayah atau ibu Menurut sosial : 1. Solitary play Jenis permainan dimana anak bermain sendiri walaupun ada beberapa orang lain yang bermain disekitarnya. Biasa dilakukan oleh anak balita Todler. 2. Paralel play Permainan sejenis dilakukan oleh suatu kelompok anak masing-masing mempunyai mainan yang sama tetapi yang satu dengan yang lainnya tidak ada interaksi dan tidak saling tergantung, biasanya dilakukan oleh anak preischool Contoh : bermain balok 3. Asosiatif play Permainan dimana anak bermain dalam keluarga dengan aktifitas yangsma tetapi belum terorganisasi dengan baik,belum ada pembagian tugas,anak bermain sesukanya. 4. Kooperatif play Anak bermain bersama dengan sejenisnya permainan yang terorganisasi dan terencana dan ada aturan tertentu. Bissanya dilakukanoleh anak usia sekolah Adolesen Tahap perkembangan bermain : 1. Tahap eksplorasi Merupkan tahapan menggali dengan melihat cara bermain

2. Tahap permainan Setelah tahu cara bermain,anak mulai masuk dalam tahap perminan. 3. Tahap bermain sungguhan Anak sudah ikut dalam perminan. 4. Tahap melamun Merupakan tahapan terakhir anak membayangkan permainan berikutnya. Karakteristik bermain sesuai tahap perkembangan : 1 BULAN VISUAL : Lihat dengan jarak dekat Gantungkan benda yang terang dan menyolok AUDITORI : Bicara dengan bayi, menyanyi,musik,radio,detik jam TAKTIL : Memeluk,menggendong,memberi kesenangan KINETIK : Mengayun,naik kereta dorong 2-3 BULAN VISUAL : Buat ruangan menjadi tenang,gambar,cermin ditembok Bawa bayi ke ruangan lain Letakkan bayi agar dapat memandang disekitar AUDITORI : Bicara dengan bayi,beri mainan bunyi,ikut sertakan dalam pertemuan keluarga. TAKTIL : Memandikan ,mengganti popok,menyisir rambut dengan lembut,gosok dengan lotion/bedak KINETIK : Jalan dengan kereta,gerakan berenang,bermain air 4-6 BULAN VISUAL : Bermain cermin,anak nonton TV Beri mainan dengan warna terang AUDITORI : Anak bicara,ulangi suara yang dibuat,panggil nama, Remas kertas didekat telinga,Pegang mainan bunyi. TAKTIL : Beri mainan lembut/kasar,mandi cemplung/cebur KINETIK : Bantu tengkurap,sokong waktu duduk

6-9 BULAN VISUAL : Mainan berwarna,bermain depan cermin,ciluk .ba. Beri kertas untuk dirobek-robek. AUDITORI : Panggil nama Mama Papa,dapat menyebutkan bagian tubuh, Beri tahu yang anda lakukan,ajarkan tepuk tangan dan beri perintah sederhana. TAKTIL : Meraba bahan bermacam-macam tekstur,ukuran,main air mengalir Berenang KINETIK : Letakkan mainan agak jauh lalu suruh untuk mengambilnya. 9-12 BULAN VISUAL : Perlihatkan gambar dalam buku. Ajak pergi ke berbagai tempat Bermain bola, Tunjukkan bangunan agak jauh. AUDITORI : Tunjukkan bagian tubuh dan sebutkan, Kenalkan dengan suara binatang TAKTIL : Beri makanan yang dapat dipegang Kenalkan dingin,panas dan hangat. KINETIK : Beri mainan Mainan yang dianjurkan untuk Bayi 6-12 bulan Blockies warna-warni jumlah,ukuran. Buku dengan gambar menarik Balon,cangkir dan sendok Boneka bayi Mainan yang dapat didorong dan ditarik TODLER ( 2-3 TAHUN ) Mulai berjalan,memanjat,lari Dapat memainkan sesuatu dengan tangannya Senang melempar,mendorong,mengambil sesuatu Perhatiannya singkat Mulai mengerti memiliki Ini milikku .

Karakteristik bermain Paralel Play Toddler selalu brtengkar saling memperebutkan mainan/sesuatu Senang musik/irama Mainan Untuk Toddler Mainan yang dapat ditarik dan didorong Alat masak Malam,lilin Boneka,Blockies,Telepon,gambar dalam buku,bola,dram yang dapat dipukul, krayon,kertas. PRE-SCHOOL Cross motor and fine motors Dapat melompat,bermain dan bersepeda. Sangat energik dan imaginative Mulai terbentuk perkembangan moral Mulai bermain dengan jenis kelamin dan bermain dgn kelompok Karakteristik bermain Assosiative play Dramatic play Skill play Laki-laki aktif bermain di luar Perempuan didalam rumah Mainan untuk Pre-school Peralatan rumah tangga Sepeda roda Tiga Papan tulis/kapur Lilin,boneka,kertas Drum,buku dengan kata simple,kapal terbang,mobil,truk USIA SEKOLAH

Bermain dengan kelompok dan sama dengan jenis kelamin Dapat belajar dengan aturan kelompok Belajar Independent,cooperative,bersaing,menerima orang lain. Karakteristik Cooperative Play Laki-laki : Mechanical Perrempuan : Mother Role Mainan untuk Usia Sekolah 6-8 TAHUN Kartu,boneka,robot,buku,alat olah raga,alat untuk melukis,mencatat,sepeda. 8-12 TAHUN Buku,mengumpulkan perangko,uang logam,pekerjaan tangan, kartu,olah raga bersama,sepeda,sepatu roda.

Faktor-faktor yang mempengaruhi permainan anak: a. Kesehatan

Anak-anak yang sehat mempunyai banyak energi untuk bermain dibandingkan dengan anak-anak yang kurang sehat, sehingga anak-anak yang sehat menghabiskan banyak waktu untuk bermain yang membutuhkan banyak energi.

b.

Intelegensi

Anak-anak yang cerdas lebih aktif dibandingkan dengan anak-anak yang kurang cerdas. Anak-anak yang cerdas lebih menyenangi permainan-permainan yang bersifat intelektual atau permainan yang banyak merangsang daya berpikir mereka, misalnya permainan drama, menonton film, atau membaca bacaan yang bersifat intelektual.

c.

Jenis Kelamin

Anak perempuan lebih sedikit melakukan permainan yang menghabiskan banyak energi, misalnya memanjat, berlari-lari atau kegiatan fisik yang lain. Perbedaan ini bukan berarti bahwa anak perempuan kurang sehat dibanding anak laki-laki, melainkan pandangan masyarakat bahwa anak perempuan sebaiknya menjadi anak yang lembut dan bertingkah laku halus.

d.

Lingkungan

Anak yang dibesarkan di lingkungan yang kurang menyediakan waktu, peralatan bermain dan ruang bermain bagi anak akan menimbulkan aktivitas bermain anak berkurang.

e.

Status Sosial Ekonomi

Anak yang dibesarkan di keluarga yang status sosial ekonominya tinggi, lebih banyak tersedia alat-alat permainan yang lengkap dibandingkan dengan anak yang dibesarkan di keluarga yang status sosial ekonominya rendah.

Pengaruh bermain bagi perkembangan anak : Bermain dapat mempengaruhi perkembangan fisik anak Bermain dapat mempengaruhi pengetahuan anak Bermain dapat mempengaruhi nilai moral anak Bermain dapat mempengaruhi kreativitas anak Bermain dapat mengembangkan tingkah laku sosial anak Bermain dapat digunakan sebagai terapi

C.

Penggunaan Terapi Bermain Sebagai Teknik Psikoterapi

1.

Nilai Terapi dari permainan

Saat anak mengeluarkan perasaannya melalu permainan, maka mereka membawa perasaan tersebut kedalam tingkatt kesadaran, sehingga akhirnya mereka akan terbuka menerima dan belajar mengendalikan atau menolaknya. Bentuk-bentuk permainan untuk mengekspresikan diri dapat berupa : Mainan kehidupan nyata

Boneka yang terdiri atas keluarga, boneka rumah-rumahan, binatang peliharaan atau tokoh kartun dapat menjadi media untuk mengekspresikan perasaan secara langsung. Mainan pelepas agresivitas-bermain peran

Klien dapat mengkomunikasikan emosi yang terpendam melalui mainan atau materi seperti karung tinju, boneka tentara, boneka dinosaurus, dan hewan buas, pistol dan pisau mainan, boneka orang dan balok kayu Mainan pelepas emosi dan ekspresi kreativitas

Klien dapat mengekspresikan emosi atau kreativitasnya melalui mainan atau materi seperti balok kayu, lilin, pasir dan air

2.

Kepada siapa terapi bermain diberikan

Terapi bermain dapat dipakai sebagai asesmen maupun sebagai terapi. Terapi bermain dapat diberikan kepada anak yang : Mempunyai pengalaman diperlakukan dengan kejam dan diabaikan Gangguan emosi dan skizofren Takut dan cemas Mengalami masalah penyesuaian sosial Kesulitan bicara Anak penyandang autism

3.

Proses terapi bermain

Menggambarkan lima tahap dimana dimana anak yang mengalami gangguan emosi berkembang menuju ekspresi diri dan kesadaran diri dalam proses terapi permainan :

a) Emosi negatif terekspresikan secara menyebar ditempat klien bermain. Misalnya, ekspresi dari reaksi terhadap kekerasan tersebar pada ruang bermain, alat permainan,atau pada terapis b) Anak mengekspresikan emosi yang bertentangan, misalnya antara kecemasan dengan kekasaran c) Anak lebih fokus dalam mengekspresikan emosi negatif, misalnya pada orang tua, diri sendiri atau orang lain dalam hidupnya d) Emosi dan sikap yang bertentangan negatif dengan positif, kembali terjadi dengan fokus pada orang tua, diri sendiri atau orang lain e) Anak mengekspresikan pemahaman atas emosi negatif ataupun positif yang ada pada dirinya dengan jelas, terbedakan, terpisah, dan realistik dengan sikap positif yang lebih dominan

Daftar Pustaka Lovinger, Sophie L. Child Psychotherapy: From Initial Therapeutic Contact to Termination. New Jersey: Jason Aronson, Inc., 1998 Chethik, Morton. Techniques of Child Therapy. 2nd edition. New York: The Guilford Press, 2000 Whaley and Wong. Nursing Care infants and children. Fourth Edition,Mosby Year Book,Toronto Canada, 1991 Hurlock E B, 1991,Perkembangan Anak Jilid I, Erlangga Jakarta. Soetjiningsih, Tumbuh Kembang Anak, EGC,Jakarta., 1995 http://minddisorders.com.Ob-Ps Play-theraphy,html=ixzz2oNirDypo

10.8 MAINAN ANAK DAN TERAPI BERMAIN


Contoh kurikulum untuk terapi bermain Setiap sesi permainan harus meliputi kegiatan berbahasa, bergerak dan bermain. Kegiatan berbahasa Ajari anak lagu setempat. Ajak anak untuk tertawa, berbicara dan menjelaskan apa yang sedang dilakukannya. Kegiatan bergerak/motorik Selalu semangati anak untuk menampilkan kegiatan motorik yang sesuai. Kegiatan bermain

Gelangan tali (mulai umur 6 bulan) Gulungan benang dan barang-barang kecil lain (misalnya potongan leher botol plastik) dijadikan gelang. Ikat gelang dalam satu tali, dengan menyisakan panjang ujung tali sebagai gantungan.

Permainan Balok (mulai umur 9 bulan) Balok-balok kecil dari kayu. Haluskan permukaan balok dengan ampelas dan warnai dengan warna cerah, jika memungkinkan.

Mainan masuk-masukan (mulai umur 9 bulan) Potong bagian dasar dua buah botol yang berbentuk sama, tapi berbeda ukuran. Botol yang berukuran kecil harus dapat dimasukkan ke dalam botol yang lebih besar.

Mainan keluar-masuk (mulai umur 9 bulan) Berbagai plastik atau karton dan barang kecil (jangan terlalu kecil, hingga dapat tertelan anak).

Bunyi-bunyian (mulai umur 12 bulan) Potongan panjang bekas botol plastik berbagai warna dimasukkan ke dalam botol transparan yang ditutup erat. Tetabuhan (mulai umur 12 bulan) Aneka kaleng logam dengan tutup yang erat.

Boneka (mulai umur 12 bulan) Gunting 2 lembar kain menyerupai boneka dan jahit kedua ujungnya menjadi satu dengan meninggalkan sedikit lubang. Tarik bagian dalam boneka ke arah luar dan isi dalamnya dengan kain bekas. Jahit bagian yang masih terbuka dan gambarkan wajah pada kepala boneka tersebut.

Botol Penyimpanan (mulai umur 12 bulan) Satu botol plastik transparan berukuran besar dengan leher yang kecil dan benda-benda kecil panjang yang dapat masuk melalui leher botol tersebut (jangan terlalu kecil hingga tertelan anak).

Mainan dorongan (mulai umur 12 bulan) Buat lubang di tengah dari dasar dan tutup kaleng, Rentangkan sepotong kawat (kira-kira sepanjang 60 cm) melalui tiap lubang dan ikat ujungnya di dalam kaleng. Letakkan beberapa tutup botol dari logam ke kaleng dan tutup erat. Kaleng dapat didorong seperti kereta.

Mainan tarikan (mulai umur 12 bulan) Sama seperti diatas, hanya gunakan benang sebagai pengganti kawat. Kaleng di tarik.

Tumpukan tutup botol (mulai umur 12 bulan) Potong sedikitnya tiga botol plastik dengan bentuk yang sama menjadi dua bagian dan tumpuk.

Cermin (mulai umur 18 bulan)

Tutup kaleng tanpa tepi yang tajam.

Permainan susun gambar (mulai umur 18 bulan) Gambar suatu bentuk (misalnya boneka) menggunakan krayon pada sepotong karton persegi. Potong gambar tersebut menjadi dua atau empat bagian.

Buku (mulai umur 18 bulan) Gunting 3 potongan karton berbentuk persegi dan berukuran sama. Tempel dan rekatkan atau buatlah gambar di kedua sisi masing-masing potongan. Buatlah 2 buah lubang pada satu sisi potongan dan jahitkan tali di tepinya untuk membuatnya serupa buku.

Terapi bermain Pengertian Terapi Bermain

Bermain adalah aktivitas yang menyenangkan dan merupakan kebutuhan yang sudah melekat dalam diri setiap anak. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Suwarni (2000 : 41) bahwa bermain merupakan suatu kegiatan yang dilakukan untuk memperolah kesenangan tanpa mempertimbangkan hasil akhir. Menurut Sudono (2000: 1) bermain adalah suatu kegiatan yang dilakukan dengan atau tanpa mempergunakan alat yang menghasilkan pengertian atau pemberian informasi, memberi kesenangan, maupun mengembangkan imajinasi anak. Bermain juga dapat digunakan sebagai terapi. Terapi merupakan penerapan sistematis dari sekumpulan prinsip belajar terhadap kondisi atau tingkah laku yang dianggap menyimpang dengan tujuan melakukan perubahan. Perubahan yang dimaksud bisa berarti menghilangkan, mengurangi, meningkatkan, atau memodifikasi suatu kondisi tingkah laku tertentu. Dari pengertian diatas, dapat disimpulakn bahwa terapi bermain adalah usaha untuk mengubah tingkah laku yang bermasalah, dengan melakukan kegiatan untuk memperoleh kesenangan dan mengembangkan imajinasi anak. Terapi bermain merupakan salah satu upaya untuk membantu anak tuna grahita agar dapat berkembang baik dari aspek fisik, intelektual, dan sosialnya secara optimal melalui bermain ( Astati, 1995 : 120 ). Dengan bermain, anak mendapatka masukan-masukan untuk diproses bersama dengan pengetahuan apa yang dimilkinya, anak dapat belajar berkomunikasi dengan sesama teman, baik dalam hal mengemukakan isi pikiran dan perasaannya maupun untuk belajar memahami apa yang diucapkan teman. Selain itu anak akan belajar berbagi hak, menggunakan mainan secara bergilir, melakukan kegiatan bersama, mempertahankan hubungan yang sudah terbina, mencari cara untuk memecahkan masalah yang dihadapi, memahami kaitan antara dirinya dengan lingkungan sosialnya, belajar bergaul dan memahami aturan ataupun tata cara pergaulan. Ciri ciri Bermain Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Smith et all: Garvey: Rubin, Fein dan Vanderberg ( dalam Tedjasaputra, 2003) diungkapkan ciri kegiatan bermain meliputi berbagai hal, sebagai berikut : dilakukan berdasarkan motivasi instrinsik, yakni motivasi yang timbul atas keinginan dan kepentingannya sendiri. persaan dari orang yang terlibat dalam kegiatan bermain diwarnai olah emosiemosi negatif. Jika kalau emosi positif tidak muncul setidaknya kegiatan bermain mempunyai nilai bagi anak. fleksibilitas yang ditandai mudahnya kegiatan beralih dari satu aktifitas ke aktifitas yang lainnya.

bebas memilih. Hal ini merupakan elelmen yang sangat penting bagi konsep bermain pada anak-anak. kegiatan bermain mempunyai kerangka tertentu yang memisahkan antara kehidupan nyata sehari-sehari dengan fantasi.

Manfaat bermain Menurut Wiliard dan Spackmans (1999) perkembangn fisik. Melalui permainan anak dapat mengembangkan dan melaksanakan berbagai keterampilan jasmani seperti keterampilan motorik kasar, juga keterampilan motorik halus. Anak juga dapat menyalurkan tenaga (energi). perkembangan intelektual (kognitif). Melalui permainan, anak belajar berfikir dan menyelasaikan masalah. Mereka menemukan begaimana hal-hal tertentu saling berkaitan, mengembangkan konsep seperti warna, bentuk, ukuran dan tekstur, mengembangkan konsentrasi, dan mengembangkan rasa ingin tahu. Permainan membuat anak menjadi lebih kreatif. perkembangan bahasa. Dengan bermain anak dapat mempraktekkan bahasa, mengubah pembendaharaan kata dan sarana komunikasi. perkembangan sosial-emosional. Dengan bermain anak akan belajar melakukan kegiatan bersama, mempertahankan hubungan yang sudah terbina dan mencari permasalahan dan cara untuk memecahkannya. Anak juga dapat menyalurkan perasaan-perasaan atau dorongan yang muncul dari dalam dirinya.

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Bermain Menurut Setiawani (2000), faktor-faktor yang mempengaruhi permainan anak: kesehatan. Anak-anak yang sehat mempunyai banyka energi untuk bermain dibandingkan dengan anak-anak yang kurang sehat, sehingga anaka-anak yang sehat banyak menghabiskan waktunya untuk bermain. intelegensi. Anak yang cerdas lebih aktif dibandingkan dengan anak-anak yang kurang cerdas. Anak yang cerdas lebih menyukai permainan permainan yang bersifat intelektual atau permainan yang banyak merangsang daya pikir mereka. jenis kelamin. Anak perempuan lebih sedikit melakukan permainan yang menghabiskan banyak energi daripada anak laki-laki perbedaan ini bukan berarti

bahwa anak perempuan sebaiknya menjadi anak lembut dan bertingkah laku halus. lingkungan. Anak yang dibesarkan dilingkungan yang kurang menyediakan peralatan, waktu, dan ruang bermain bagi anak, akan menimbulkan aktivitas bermain anak berkurang. status sosial ekonomi. Anak yang dibesarkan dilingkungan keluarga yang yang status ekonominya tinggi lebi banyak memfalisitasi anak-anak mereka dengan permainan yang lengkap.

5. Tujuan Terapi Bermain Menurut Astati (1995), tujuan terapi bermain bagi anak tuna grahita antara lain: pengembangan aspek fisik. Meningkatkan ketahanan otot-otot dan organ tubuh melatih keseimbangan. pengembangan aspek intelektual. Meliputi kemampuan berkomunikasi, menghitung angka, mengartikan peraturan main, menceritakan apa yang didengar maupun yang dilihatnya. pengembangan emosi. Meliputi penerimaan atas pimpinan orang lain, menghilangkan sikap pemarah, agresif, pasif, menarik, diri, memunculkan diri. pengembangan sosialisasi. Meliputi bagaiman dapat bermain bersama, meningkatkan hubungan yang sehat dalam kelompok (berteman), menerima ketentuan permainan, menerima bila dipimpin oleh orang lain. melatih keberanian dan ketangkasan.

6. Prinsip prinsip Pelaksanaan prinsip korelasi. Prinsip ini menganjurkan agar bahan bermain tidak hanya untuk latihan tertentu saja akan tetapi hendaknya dapat dilakukan untuk kebutuhan latihan bidang lain. prinsip skala perkembangan mental. Mengingat kecerdasan anak tuna grahita berbeda-beda maka dalam memberikan terpai bermain hendaknya memperhatikan perbedaan itu.

prinsip spontanitas. Bermain tidak ada unsur paksaan, tetapi bersifat spontanitas. Maksudnya tidak ada syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi pada waktu ikut bermain, tidak ditentukan lamanya, dan tidak ditentukan waktunya dsb. prinsip sosialisasi. Kemampuan sosial anak dapat berkembang dengan seringnya ia bermain bersama-sama dengan anak yang lainnya. prinsip pengulangan. Karakteristik anak tuna grahita adalah cepat lupa. Oleh karena itu setiap mempelajari sesuatu selalu diadakan pengulangan. Demikian juga dengan bermain. prinsip konsentrasi. Sekalipun bermain bersifat untuk kesenangan tetapi dalam bermain juga menuntut pemusatan perhatian.

7. Hal hal yang Perlu Diperhatikan dalam Terapi Bermain Menurut Astati (1995), hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan terpai bermain pada anak tuna grahita : Keadaan anak. Keadaan anak tuna grahita berbeda-beda sehingga perbedaanperbedaan ini harus diketahui dalam melaksanakan terapi bermain. Pelatih dan pembimbing. Pelatih hendaknya mengetahui tentang keadaan anak, sehingga dalam membantu anak bermain tidak mengalami kesulitan. Tempat bermain. Tempat ditentukan berkaitan dengan penggunaan bahan, jenis-jenis bermain yang dilakukan dan tujuan yang akan dihadapi. Bahan bermain. Penentuan bahan bermain ereat kaitannya dengan kemampuan, usi, dan jenis kelamin pada anak tuna grahita. Peralatan bermain. Alat yang digunakan hendaknya mudah diperoleh, dapat digunakan anak, tidak mudah rusak dan tidak berbahaya. Pendekatan. Pendekatan yang digunakan ada bermacam-macam. Hal ini tergantung pada tujuan dan karakteristik anak tuna grahita. Suasana bermain. Agar suasana bermain berjalan dengan baik, maka harus dihindari jangan sampai anak merasa tertekan, takut, atau terpaksa dalam bermain. Keamanan. Untuk menjaga keamanan anak harus dibiasakan menunggu giliran, menggunakan alat dengan tenang, mengambil dan menyimpan alat pada tempatnya, dan lain-lain. Evaluasi. Evaluasi bermain sebaiknya diadakan setiap kali bermain.

8. Penerapan Terapi Bermain melalui Permainan Lempar Tangkap Bola

Jumlah Pemain Tempat bermain Jenis bola Cara bermain

: tidak terbatas : lapangan atau ruang dala kelas : bola plastik ukuran besar :

anak-anak bermain kesamping, menghadap guru atau anak yang menjadi lawan mainnya guru atau anak yang menjadi lawan dalam jarak tertentu melemparkan bola kepada anak yang dihadapannya. Anak harus menangkap bola dengan kedua tangannya lalu melempar kembali bola kepada guru ata anak yang menjadi lawannya begitu seterusnya. Tujuan dari permainan ini adalah : melatih kecepatan motorik kasar anak. Melatih konsentrasi, agar perhatian anak dapat terpusat pada suatu objek Melatih ketangkasan.

9. Penerapan Terapi Bermain Melalui Permainan Itik Berbaris Jumlah pemain Tempat bermain : tidak terbatas : halaman atau ruangan yang agak luas

Jenis bola : bola yang agak besar (bola yang mudah dipegang anak dengan satu tangan Cara bermain :

anak berbaris memanjang kebelakang sambil berjongkok dan kedua tangan memegang bahu kawan yang ada didepannya. Guru membuat garis awal (start) dan garis akhir (finish) dengan jarak sesuai kemampuan anak. Di garis akhir (finish) disediakan dua bola. Bola ini adalah makanan itik yang akan dinikamati bersama-sama.

Guru memberikan aba-aba jalan maka dua kelompok itik berbaris itu mulai berjalan dengan tetap berjongkok dan memegang bahu kawan untuk mengambil bola. Tujuan dari permainan ini adalah : melatih kedisiplinan anak,

melatih kekompakan antar teman sebaya melatih kerja sama membangun interaksi sosial, komunikasi sosial melatih motorik anak.

10. MAHKOTA RAJA Manfaat Permainan Latihan motorik halus Kerjasama Melatih Kreatifitas Melatih Kognitif :

Bahan dan Peralatan

Daun secukupnya ( daun nangka, mangga, jambu air dan sebagainya) Lidi penyemat :

Langkah Kegiatan

Ajaklah anak anak melipat daun secara horizontal. Mintalah anak-anak untuk menangkupkan sisi lembar daun yang telah dilipat pada sisi daun yang lain. Mintalah anak untuk menyematkan lidi pada rangkaian kedua daun itu. Tangkupkan lembar demi lembar daun berikutnya pada daun yang telah terangkai. Jangan lupa sematkan lidi. Ukurlah lebar mahkota dengan lingkar kepala anak agar pas bila dikenakan. Mintalah anak-anak menyambungkan kedua keujung rangkaian daun dan berilah lidi penyemat. Ajaklah anak bermain peran dengan seting kerajaan. Biarkan anak memilih perannya masing-masing.

11. LOMPAT GEOMETRI Manfaat Permainan :

Mengenal bentuk geometri Latihan fisik Berasosialisasi Mengenal warna

Bahan dan Peralatan

Tempat yang lapang Kapur tulis :

Langkah Kegiatan

Pilihlah tempat yang lapang untuk bermain, bisa di halaman rumah atau di dalam ruangan. Gambaran bentuk-bentuk geometri, seperti segi tiga, bujur sangkar, jajar genjang, atau lingkaran pada tanah atau lantai menggunakan kapur tulis. Tunjukkan nama-nama bentuk geometri tersebut pada anak-anak. Ajaklah anak-anak untuk melompat dari bentuk geometri yang satu ke bentuk geometri yang satu ke bentuk geometri yang lain, sambil menyebut bentuk geometri itu. Lakukan berulang-ulang hingga anak-anak merasa puas.