Anda di halaman 1dari 14

UJIAN TENGAH SEMESTER MATA KULIAH PEMASARAN AGRIBISNIS TAHUN 2012/2013 Takehome Exam SOAL-SOAL UTS Pemasaran Agribisnis

1. Jelaskan peranan pemasaran dalam sistem agribisnis , berikan contoh kasus nya pada agribisnis di Indonesia? 2. Apakah yang dimaksud dengan pendekatan kelembagaan (institutional approach) dan fungsional (functional approach) dalam analisis pemasaran agribisnis, jelaskan dan berikan contohnya berdasarkan studi kasus yang telah anda lakukan? 3. Apakah yang dimaksud dengan Struktur-Perilaku_Kinerja (StructureConduct-Performance) dalam mengevaluasi sistem pemasaran suatu

komoditas hasil pertanian! Berikan contoh kasus berdasarkan studi kasus yang anda lakukan! 4. Apakah yang dimaksud dengan marjin pemasaran? Apakah analisis marjin permasaran dapat dikombinasikan dengan pendekatan kelembagaan dan fungsional? Jelaskan dengan studi kasus yang ada lakukan! 5. Jelaskan faktor penyebab terjadinya fluktuasi harga pada komoditas pangan strategis, (kedelai dan daging sapi) pada bulan ramadhan lalu? Saran apakah yang dapat dilakukan untuk mengatasi fluktuasi harga tersebut!

Jawaban UTS Pemasaran Agribisnis 1. Peranan pemasaran dalam sistem agribisnis adalah Membantu produsen lebih mengetahui kebutuhan konsumen. Bagi Konsumen dapat mengetahui harga berapa untuk produk tertentu yang pada akhirnya tercapai kepuasan konsumen, dan produsen mendapatkan keuntungan. Memberikan pilihan berbagai jenis makanan dan produk lainnya dengan harga murah dan mudah ditemukan. Berperan penting dalam perekonomian, dengan menjembatani gabungan antara kebutuhan produsen dan konsumen (dari ruang,waktu,

informasi,nilai, serta kepemilikan). 80% tenaga kerja dalam bidang agribisnis terlibat dalam pemasaran. 76% dari uang makanan setiap konsumen dibelanjakan untuk pemasaran. Aktivitas pemasaran agribisnis menghasilkan lebih 16% pada GNP tahunan Amerika. contoh kasusnya pada agribisnis di Indonesia adalah Meliputi kegiatan untuk memahami kebutuhan pelanggan dan secara efektif melakukan upaya pemasaran di tempat penjualan (pasar) dimana kebutuhan itu dirasakan. Khol (1980) mendefinisikan pemasaran produk pertanian sebagai seluruh kinerja kegiatan perusahaan dalam aliran barang,mulai dari titik dimana dihasilkan hingga ke tangan pelanggan. Kata seluruh mewakili lingkup pemasaran pertanian yang luas, sedangkan interval kegiatan menunjukkan adanya saling-ketergantungan antar pelaku. Dalam kegiatan demikian fungsi pemasaran pertanian juga menghubungkan antara daerah penghasil dengan lokasi dimana produk dibutuhkan. Bila kegiatan agribisnis dapat dibedakan menjadi sektor produk makanan (food), industri dan sektor input; maka kegiatan pemasaran terlibat dalam sektor tersebut. Kegiatan ini meliputi penjualan, periklanan, penelitian pemasaran, pengembangan produk baru, pelayanan pelanggan, distribusi fisik, dan penentuan harga keseluruhannya fokus kepada kebutuhan dan keinginan pelanggan, dan akhirnya berupaya menciptakan kepuasan pelanggan. Kegiatan pemasaran pertanian sering juga disebut sebagai sistem pemasaran pertanian, karena

melibatkan banyak pihak mulai dari petani, broker, pengolah, penjual partai besar, grosir, hingga kepada pelanggan. Masing-masing kegiatan berbeda fungsi dalam memberikan pelayanannya.

2. Yang dimaksud dengan pendekatan kelembagaan (institutional approach) adalah Pendekatan yang mempelajari fungsi pemasaran dilihat dari segi organisasi/kelembagaan yang terlibat dalam kegiatan pemasaran,adapun kegiatan pemasarannya antara lain: Produsen sebagai penghasil barang jadi Supplier sebagai penyedia bahan baku Perantara Pedagang Perusahaan Saingan Konsumen, dan sebagainya

Contoh kasus yang telah saya lakukan adalah : Peranan lembaga pemasaran dan distribusinya menjadi tolok ukur keber hasilan pengembangan agribisnis sayuran. Hal ini dapat dijelaskan karena fungsinya sebagai fasilitator yang menghubungkan antara defisit unit (konsumen) dan surplus unit (produsen). Pembinaan terhadap lembaga tersebut sangat diperlukan karena serangkaian aktivitasnya menjadi penentu besarnya margin antara harga ditingkat petani dan konsumen, namun tidaklah berarti lembaga pemasaran itu tidak memper- oleh untung (Gumbira, 2001). Hasil kajian terhadap permasalahan pemasaran di desa penelitian

menunjukkan bahwa sebagian besar para petani (60 %) menjual hasil produksinya kapada pengepul atau pedagang perantara, sebanyak 30 % menjual kepada pedagang pengecer di pasar-pasar tradisional terdekat (pasar lokal) dan sisanya yaitu sebesar 10 % menjual langsung kepada konsumen. Selanjutnya pedagang pengepul (pedagang antar kabupaten) lebih banyak mendistribusikan barang dagangannya diluar kabupaten dibandingkan dalam kabupaten bahkan ada yang menjualnya antar pulau yaitu ke pulau Jawa. Biasanya kelompok pedagang ini sebagian besar menjual ke pasar induk Kumbasari atau pasar Badung dan hanya sebagian kecil saja yang mengirim

ke luar daerah Bali. Beberapa permasalahan pokok yang masih dijumpai di daerah basis produksi antara lain masih kuatnya peran dan pengaruh tengkulak (para spekulan) sehingga sering memaksa produsen harus menjual hasil nya kepada pihak-pihak tertentu. Kondisi seperti ini tanpa disadari sering merugikan para petani mengingat harga transaksi /harga pasar terlalu rendah. Beberapa alasan pihak petani melakukan hal tersebut adalah adanya kepentingan keuangan modal atau kepentingan mendesak yang lainnya serta kadang-kadang terjerat oleh kemudahan-kemudahan peminjaman modal oleh tengkulak. Dalam hal harga, masih sering terjadi fluktuasi yang sangat tinggi, salah satu diantaranya disebabkan terjadinya prilaku-prilaku yang bersifat spekulatif yang dilakukan oleh hampir semua pihak baik petani sendiri, pedagang, maupun pengusaha dengan alasan yang relatif bervariasi. Usahausaha penangan pasca panen masih relatif rendah baik yang dilakukan oleh petani ataupun dari pihak pemasar sendiri, dengan alasan belum terjaminnya stabilitas harga di daerah produksi. Kehadiran perusahaan yang berteknologi tinggi, dengan fasilitas pendingin (cold storage) belum mampu meningkatkan nilai tambah produk dalam arti keseluruhan, mengingat keterbatasan kapasitas yang dimiliki perusahan itu sendiri.

Pendekatan fungsional (functional approach) adalah pendekatan yang mempelajari pemasaran yang dilakukan. Adapun yang dilakukan. Adapun kegiatan pokok pemasaran adalah a) Pembelian Pembelian ini bisa diartikan pembeli barang-barang untuk dijual maupun pembelian barang-barang yang merupakan bahan masukan lainnya untuk menghasilkan produk suatu perusahaan. Fungsi pembelian akan sangat penting artinya bagi perusahaan karena menyangkut hasil produk yang nanti dijual dipasar. Hal yang penting untuk diperhatikan di sini adalah bahwa kegiatan pembelian sangat berhubungan dengan bagaimana penanganan persediaan, kualitas dan keahlian dalam menganalisa pasar.

b) Pengangkutan Pengangkutan adalah kegiatan memindahkan barang baik dari bahan baku ke proses produksi maupun setelah menjadi barang jadi dari pabrik ke konsumen. Kegunaan fungsi ini adalah mempercepat proses pendistribusian barang ke segmen-segmen pasar yang dipilih maupun memperlancar proses produksi dan kontinuitas kegiatan operasional perusahaan sehari-hari.

c) Penjualan Penjualan adalah kegiatan pemasaran yang paling pokok karena penjualan dapat mempengaruhi naik turunnya pendapatan

perusahaan,sedangkan mati hidupnya perusahaan amat bergantung pencapaian target penjualan yang diharapkan dapat menambah masukan pendapatan perusahaan. Cara-cara apapun akan dilakukan agar penjualan produksi perusahaan dapat dipertahankan atau bahkan dapat ditingkatkan.

d) Penyimpanan Penyimpanan adalah menyimpan barang produksi perusahaan atau barang yang akan dijual untuk semnetara waktu sebelum dipasarkan. Kegunaan fungsi penyimpanan baik untuk konsumen, penyalur, maupun perusahaan adalah: a. Produsen atau perusahaan bertujuan untuk menstabilkan harga b. Spekulasi penentuan harga produksi c. Efisiensi dana

e) Pembelanjaan Pembelanjaan merupakan fungsi untuk mendapatkan dana atau modal, baik dari supplier bahan baku, maupun dana (kredit) jangka pendek dari bank atau lembaga keuangan lainnya.

f) Penanggungan Resiko

Fungsi ini merupakan kegiatan untuk menghindari dan mengurangi resiko yang berkaitan dengan pemasaran,misalnya: risiko akibat gempa bumi, banjir,turunnya kualitas, dan melesetnya pasar,dll.

g) Standardisasi dan grading Standardisasi adalah penentuan batas-batas dasar dalam bentu khusus terhadap barang-barang baik berdasarkan jumlah, kualitas, kapasitas, kekuatan, ataupun ukuran fisik barang. Sedangkan grading adalah kegiatan mengelompokkan barang ke dalam kelompok standar kualitas yang sudah diakui secara Internasional.

h) Pengumpulan Informasi Pasar Informasi pasar menyangkut secara keseluruhan situasi pasar yang akan dimasuki perusahaan untuk menawarkan barang. Informasi pasar ini biasanya meneliti dan mengevaluasi bagaimana tingkah laku konsumen yang akan dilayani,penentuan harga jual barang agar dapat bersaing dengan barang sejenis, bagaimana daya beli konsumen, dan sebaliknya.

contohnya berdasarkan studi kasus yang telah anda lakukan? Secara normatif teridentifikasi ada beberapa komponen sistem yang mempunyai hubungan kontekstual dengan sistem manajemen pemasaran agribisnis sayuran tersebut. Hasil kajian elemen berikut dianggap sebagai unsur penting. Elemen elemen sistem yang dimaksud antara lain: 1) elemen pelaku langsung; 2) elemen kebutuhan; 3) elemen tujuan; 4) tolok ukur ; 5) elemen kendala; 6) aktivitas yang dibutuhkan dan 7) lembaga terkait. Kendatipun elemen tersebut dikatakan mempunyai hubungan kontekstual terhadap system namun bahasan harus ditekankan terhadap unsur yang mempunyai hubungan fungsional dan keterkaitan kinerja antar komponen. Dengan demikian diperlukan penajaman lebih lanjut terhadap masing-masing elemen, selanjutnya disebut dengan sub-elemen dari sistem. Pembandingan antar sub-elemen dari semua elemen sistem secara keseluruhan dapat ditentukan beberapa sub-elemen kunci seperti petani (elemen pelaku), pembinaan pelaku usaha, jaminan modal, dan

dukungan pemerintah (elemen kebutuhan), distribusi keuntungan dan resiko yang kurang adil (elemen kendala), peningkatan pangsa pasar (elemen tujuan), dan meningkatnya kualitas SDM pelaku usaha (elemen tolok ukur pencapaian tujuan) serta pengembangan sistem insentif sebagai aktivitas yang dibutuhkan. Analisis terhadap elemen pelaku agribisnis ditemukan bahwa petani sebagai pelaku langsung produksi teridentifikasi sebagai sub-elemen kunci. Hasil pembandingan antar subelemen dari elemen pelaku agribisnis, mengindikasikan bahwa petani mempunyai tingkat hubungan fungsional yang tertinggi, dibandingkan pelaku lainnya seperti : pedagang, pengumpul, pengusaha jasa transportasi, eksportir/pedagang antar pulau dan konsumen. Implikasinya, subelemen petani mempunyai kekuatan penggerak yang terbesar ter- hadap sistem, sehingga diklasifikasikan kedalam sektor indipendent. Karenanya, untuk mewujudkan kinerja sistem yang efektif harus diprioritaskan terhadap sub-elemen petani tersebut. Prioritas kepentingan, baik dalam pembinaan, pelayanan maupun penyediaan fasilitas sesuai dengan kebutuhan petani itu sendiri. Berbeda dengan petani sebagai pelaku produksi, pelaku langsung lainnya apakah itu pedagang, pengusaha jasa transportasi, pedagang antar pulau selaku pihak pemasar mempunyai keterkaitan yang bersifat linkage terhadap konsumen dan masyarakat sekitar. Klasifikasi sub-elemen kedalam sektor linkage menunjukkan bahwa terjadinya hubungan yang begitu kuat antar sub-elemen, implikasinya, sub-elemen ini harus dikaji secara hati-hati. Hubungan antar peubah tidak stabil, artinya setiap tindakan pada peubah tersebut akan memberikan dampak terhadap yang lainnya dan umpan balik pengaruhnya bisa memperbesar dampak. Dari kajian yang telah dilakukan ternyata tidak ada satupun sub-elemen dari elemen pelaku agribisnis yang terklasifikasi kedalam sektor dependent atau autonomous. Hal ini menunjukkan bahwa adanya hubngan fungsional yang kuat antar sub-elemen, atau hubungan saling mempengaruhi (linkage). 3. Pendekatan ini pertama diperkenalkan oleh J.S. Bain 1964 yang didasarkan pada tiga hal yang berkaitan struktur, perilaku, dan penampilan pasar. Struktur pasar akan mempengaruhi tingkah laku pasar, selanjutnya tingkah laku perusahaan di pasar akan mempengaruhi penampilan pasar. Pendekatan SCP banyak dikritisi oleh beberapa ahli seperti Scherer (1990), kalau terlalu bersifat seterministik untuk memahami fungsi ketidaksempurnaan pasar. Suatu kondisi yang sering terjadi di Negara yang sedang berkembang, seperti

Indonesia. Model SCP dinamik, diasumsikan memiliki hubungan interdepensi atau simultan diantara struktur pasar, perilaku pasar, dan penampilan pasar. Contoh kasus: Pemasaran komoditas anggur (Vitis sp) dianalisa tentang struktur, perilaku dan kinerja pasarnya dengan metode SCP (Structure, Conduct, Performance). Model ini pertama kali dikembangkan dalam bidang organisasi industri, memiliki keunggulan antara lain analisis yang lebih komprehensif dan kesimpulan yang dihasilkan jauh lebih baik jika dibandingkan dengan menggunakan analisis tradisionil yang memiliki kecenderungan menggunakan analisis parsial (Stifel, 1975). Komoditas anggur (Vitis sp) banyak membutuhkan waktu dan melibatkan banyak lembaga pemasaran sejak diproduksi sampai akhirnya ke konsumen akhir. Peranan dan aktifitas lembaga pemasaran disini sangatlah penting. Dari lembaga pemasaran akan membentuk struktur pasar. Struktur pasar merupakan dimensi yang menjelaskan tentang jumlah penjualan dan distribusinya dalam berbagai ukuran, jumlah pembeli dan distribusinya dengan berbagai bentuk, differensiasi produk dan hambatan untuk keluar masuk pasar. Dalam penelitian ini untuk mengidentifikasi struktur pasar, di lihat dari: jumlah penjual dan pembeli, hambatan keluar masuk pasar, konsentrasi rasio, elastisitas transmisi harga, dan pengetahuan informasi pasar. Hasil beberapa penelitian terdahulu, sebagian besar menyatakan struktur pasar berbagai macam produk pertanian yang diteliti, mengarah pada struktur pasar persaingan tidak sempurna yang bercorak monopsoni dan oligopsoni. Dalam kondisi demikian, maka jumlah produsen yang banyak akan berhadapan dengan satu atau beberapa orang pembeli, sehingga penentuan harga lebih didominasi oleh pembeli (produsen sebagai penerima harga), sehingga mengakibatkan kerugian pada petani. Dilain pihak juga dengan adanya struktur pasar dan perilaku pasar, maka akan mempengaruhi kinerja pasar, dalam hal ini adalah share harga yang diterima petani, distribusi margin dan share biaya dan keuntungan yang diterima oleh lembagalembaga pemasaran yang terlibat dalam aktivitas pemasaran. Marjin pemasaran adalah selisih antara harga di tingkat konsumen dengan harga di tingkat produsen. Apabila bagian harga yang diterima petani rendah, marjin pemasaran yang tinggi dan distribusi keuntungan antara lembaga pemasaran tidak merata. Dengan demikian marjin pemasaran juga diperoleh dengan menjumlahkan biaya pemasaran dan keuntungan, sehingga semakin besar biaya pemasaran dan keuntungan pemasaran

makin besar marjin pemasaran akan mempengaruhi kinerja pasara pada komoditas anggur.

4. Menurut Tomek dan Robinson (1977), marjin pemasaran adalah perbedaan harga antara harga yang dibayar oleh konsumen dengan harga yang diterima oleh produsen. Di dalam marjin pemasaran terdapat dua komponen, yakni : 1. Marketing cost, yaitu imbalan terhadap faktor yang dipakai di dalam proses pemasaran yang terdiri dari upah, sewa, bunga dan laba. 2. Marketing charge, yaitu imbalan terhadap jasa yang diberikan oleh lembaga pemasaran mulai dari pedagang pengumpul, pedagang besar, prosesor, maupun pengecer. Dalam proses pengaliran barang dari produsen ke konsumen, masing-masing lembaga pemasaran mengeluarkan biaya pemasaran dan menarik keuntungan sebagai balas jasa, maka jika petani produsen komoditi pertanian mengharapkan untuk memperoleh harga yang lebih tinggi, dapat ditempuh cara, yaitu : 1. Menaikkan harga eceran di tingkat konsumen dengan syarat biaya pemasaran dan keuntungan adalah tetap. 2. Menurunkan biaya pemasaran dan keuntungan lembaga pelaku pemasaran dipungut oleh masing-masing lembaga pemasaran, dengan syarat harga eceran pada tingkat konsumen adalah tetap. 3. Harga di tingkat konsumen dan biaya pemasaran tetap, tetapi keuntungan lembaga pelaku pemasaran diturunkan. 4. Harga di tingkat konsumen dan keuntungan lembaga pelaku pemasaran tetap, tetapi biaya pemasaran diturunkan. Tingginya marjin pemasaran bukanlah ukuran yang pasti bahwa kinerja pasar adalah inefisien. Bila marjin pemasaran cukup besar, maka perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut : 1. Digunakannya teknologi baru yang menyebabkan rendahnya biaya produksi, sehingga marjin pemasaran yang telah tertentu nampak amat tinggi jika dibandingkan dengan biaya produksi.

2. Sebagai akibat spesialisasi geografis dalam berproduksi menyebabkan bertambah tingginya biaya pengangkutan (place utility), dan akibatnya marjin pemasaran bertambah besar. 3. Meningkatnya kegunaan waktu (time utility) dalam produk pertanian yang mengakibatkan adanya tambahan biaya untuk penyimpangan dan pengolahan. 4. Adanya kecenderungan konsumen, terutama di negara-negara maju untuk mengkonsumsi komoditas dalam bentuk yang lebih siap atau instant (form utility), sehingga mengakibatkan marjin pemasaran bertambah besar. 5. Tingginya upah buruh terutama dalam perdagangan eceran, dapat juga meningkatkan nilai marjin pemasaran. Dari yang telah diuraikan, temyata tingginya nilai marjin pemasaran adalah sebagai akibat dari ditingkatkannya atau diperbaikinya kegunaan tempat, kegunaan waktu dan bentuk dalam kegiatan pemasaran. Hal ini mencerminkan jasa-jasa yang diinginkan oleh konsumen dan itu konsumen bersedia membayarnya serta keterkaitan pendekatan kelembagaan dan pendekatan fungsional dalam analisa marjin pemasaran. Contoh kasus: Susiyana (2005) melakukan analisis rantai persediaan komoditas jerukmedan dengan melakukan studi kasus di Pasar Induk Kramat jati dan Carrefour Cempaka Mas Jakarta. Data primer pada penelitian tersebut

diperoleh dari hasil wawancara dengan 4 pedagang grosir Kramat jati, 3 pedagang pengecer grosir Cililitan, 7 pedagang pengecer serta pihak marketing Carrefour. Data sekunder diperoleh dari BPS, Pasar Induk Kramat Jati, Dirjen Perkebunan, Departemen Pertanian, Dinas Pertanian, Dirjen Tanaman Pangan dan Hortikultura, dan instansi-instansi lain. Penelitian

tersebut membahas struktur jaringan, aktivitas dan marjin pemasaran rantai pasokan serta elastisitas transmisinya. Elastisitas transmisi yaitu perbandingan perubahan nisbi dari harga di tingkat pengecer dengan perubahan harga di tingkat petani. Anggota primer SC jeruk medan adalah pedagang antar pulau (PAP), pedagang grosir, pedagang eceran, perusahaan pemasok dan swalayan.

Anggota sekunder SC ini yaitu distributor dan supermarket collector. Marjin pemasaran dihitung berdasarkan ketiga saluran pemasaran yang terjadi, yaitu : 1. Petani PAP Grosir Pasar Induk Kramat Jati Pengecer 2. Petani PAP Grosir Cililitan Perusahaan Pemasok Pengecer 3. Petani PAP Grosir Cililitan Perusahaan Pemasok Swalayan Pola saluran 3 memiliki marjin pemasaran yang paling besar. Saluran pemasaran 1 memperoleh total keuntungan yang terbesar. Pola saluran

pemasaran 1 juga yang paling efisien karena memiliki total biaya, keuntungan dan marjin pemasaran yang terendah serta rasio keuntungan dan biaya tertinggi. Pola saluran pemasaran 1 dapat memberikan nilai lebih bagi petani karena menghasilkan farmers share (bagian petani) yang tinggi. Korelasi harga antara pedagang pengecer dan hipermarket dengan agennya adalah positif dan nyata berdasarkan perhitungan koefisien korelasi harga dan uji statistik. Nilai elastisitas transmisi harga yang tidak sama dengan satu

menunjukkan sistem pemasaran komoditas jeruk medan belum efisien.

5.

Dalam empat tahun belakangan ini tercatat tiga kali terjadi lonjakan

harga kedelai. Setiap krisis tersebut, solusi jangka pendek menjadi senjata penenang. Persoalan mendasar untuk mewujudkan swasembada kedelai tidak pernah diwujudkan dan selalu menjadi slogan para elit negeri ini. Tekad dan janji pemerintah agar 2014 bisa tercapai swasembada kedelai bakal menjadi slogan dan isapan jempol belaka. Sebagaimana beras, jagung, gula, garam, ikan, serta buah-buahan tropis lainnya, kedelai pun bernasib sama dengan sejumlah janji tanpa solusi. Hampir setiap tahun persoalan yang sama terus berulang. Untuk krisis kedelai, tercatat pada Januari 2008 dan Februari 2011 juga pernah terjadi lonjakan harga akibat pasokan yang menipis. Ketidakberdayaan negara atas pasar menjadi persoalan mendasar yang berdampak pada ketergantungan impor dan fluktuasi harga. Melonjaknya harga kedelai akibat pasokan yang terbatas menjadi bukti bahwa berbagai program dan upaya yang dirancang beberapa tahun lalu tidak efektif. Lonjakan harga kedelai yang berakibat pada meningkatnya biaya produksi tahu dan tempe tersebut sebenarnya sudah berulang kali terjadi. Selama lonjakan itu pula, belum pernah ada solusi tepat dalam produksi dan tata niaga

untuk mengatasi lonjakan harga kedelai. Ketergantungan Indonesia pada kedelai impor sangat tinggi. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2011, produksi kedelai lokal hanya 851.286 ton atau 29 persen dari total Indonesia harus mengimpor kedelai 2.087.986 ton untuk memenuhi 71 persen kebutuhan kedelai dalam negeri. Pada 2012, total kebutuhan kedelai nasional 2,2 juta ton. Jumlah tersebut akan diserap untuk pangan atau perajin 83,7 persen; industri kecap, tauco, dan lainnya 14,7 persen; benih 1,2 persen; dan untuk pakan 0,4 persen. Impor kedelai terbesar Indonesia dari Amerika Serikat dengan jumlah 1.847.900 ton pada 2011. Kemudian, impor dari Malaysia 120.074 ton, Argentina 73.037 ton, Uruguay 16.825 ton, dan Brasil 13.550 ton. Anomali cuaca di Amerika Serikat dan Amerika Selatan menyebabkan pasokan kedelai pun turun dan harganya melonjak. Harga kedelai internasional pada minggu ke-3 Juli 2012 mencapai 622 dolar AS per ton atau Rp 8.345 per kilogram (kg) untuk harga impor di dalam negeri.

Harga ini jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan harga tertinggi pada 2011, yaitu bulan Februari sekitar 513 dolar AS per ton atau harga paritas impor di dalam negeri sekitar Rp 6.536 per kg. Dengan harga kedelai impor yang menembus Rp 8.000 per kg menyebabkan para perajin tempe dan tahu terancam gulung tikar karena daya beli konsumen yang terbatas. Harga kedelai tersebut meningkat dari rata-rata Rp 5.500-Rp 6.500 per kg. Di tengah gejolak harga kedelai, perlu dipahami bahwa ada dua persoalan dalam pasokan kedelai, yakni produksi dan distribusi. Untuk produksi, sekalipun banyak janji ada jutaan hektare (ha) lahan terlantar, Indonesia selalu kesulitan dalam ekspansi lahan sampai pada tingkat pemanfaatan. Selain perluasan lahan, pemerintah juga menargetkan peningkatan produksi kedelai dengan sistem tumpang sari dengan potensi lahan setara 200 ribu ha. Selain perluasan lahan, Kementerian Pertanian juga mengupayakan

peningkatan produktivitas dari 1,3 ton per ha menjadi 1,54 ton per ha, pemberian bantuan benih unggul, meningkatkan penggunaan pupuk, dan pengendalian organisme pengganggu tanaman. Saat ini, jika berbicara soal kedelai pada tingkat petani, maka minat budidaya sangat rendah. Petani lebih memilih padi dan jagung dibandingkan kedelai yang minim insentif dan sulit

dalam pemasarannya. Sebenarnya, faktor harga jual yang rendah pun menyebabkan petani enggan untuk menanam kedelai. Untuk itu, ketika harga kedelai melonjak justru lebih banyak disuarakan oleh para konsumen dan produsen tahu serta tempe. Sebaliknya, petani justru berharap pada harga yang layak dibandingkan dengan rata-rata Rp 5.000 per kg di tingkat petani saat ini. Berbagai faktor yang kurang menunjang peningkatan produksi tersebut adalah akibat dari dibukanya keran impor kedelai sejak satu dekade silam. Indonesia pernah swasembada kedelai pada 1992 dengan proteksi. Tetapi setelah krisis moneter 1998, Dana Moneter Internasional (IMF) mendikte Indonesia agar tidak memberikan proteksi kepada kedelai. Dengan konsumsi kedelai dalam negeri yang mencapai 1,9 juta ton per tahun, hal itu menjadi peluang bisnis yang sangat menguntungkan. Dalam letter of intent (LoI) IMF, proteksi impor yang selama ini dipegang Badan Urusan Logistik (Bulog) harus dihapuskan sehingga impor bisa masuk. Awalnya, kemampuan impor kedelai Indonesia tidak terlalu besar karena kapasitas finansialnya terbatas, sedangkan produksi kedelai di negara-negara produsen berlimpah. Sejauh ini harus diakui bahwa hampir tidak ada kebijakan pemerintah yang menyentuh persoalan tata niaga kedelai yang pada praktiknya hanya dikuasai segelintir orang. Menurunkan dan menaikkan bea masuk (BM) hanyalah cara jangka pendek untuk mensiasati situasi darurat. Setelah itu, pemerintah kembali berkutat pada program peningkatan produksi. Praktik kartel yang sudah diketahui banyak kalangan elit bangsa ini, termasuk DPR pun, nyaris tidak mampu dicarikan solusinya. Pola yang mirip ada pada impor beras, gula, garam, dan produk impor lainnya. Sebenarnya, Indonesia mampu memproduksi sendiri berbagai komoditas pertanian yang terlanjur diimpor. Persoalannya terletak pada kemauan para pemimpin bangsa ini dalam bekerja sama untuk mencapai tujuan tersebut. Data Badan Pusat Statistik (BPS) selama bulan Januari-Juni 2011 menunjukkan bahwa impor pangan Indonesia mencapai 11,33 juta ton dengan nilai sekitar Rp 45 triliun. Komoditas impor itu bervariasi, seperti beras, jagung, kedelai, dan terigu. Angka tersebut menunjukkan betapa negara yang

tergolong miskin anggaran ini, terpaksa menguras segala sumber daya untuk membayar komoditas impor yang seharusnya bisa diproduksi sendiri.

Anda mungkin juga menyukai