Anda di halaman 1dari 2

Memahami dan menjelaskan tentang pola makan seimbang dalam islam Dalam hal makan rasulullah saw menekankan

agar umatnya cukup mengonsumsi makanan yang dapat menegakkan tulang punggungnya, sehingga staminanya tidak merosot dan tubuh tetap sehat. Sebab ukuran normal lambung manusia hanya sekitar 1500 ml, bila dibagi tiga maka masing-masing cukup untuk menampung 500 ml. Maka dari itu, jika harus lebih, cukuplah makan sepertiga volume yang bisa ditampung dalam perut, sepertiga minuman dan sepertiga lagi untuk nafas (udara). Sebagaimana sabda beliau; Tidak ada bencana yang lebih buruk yang diisi oleh manusia daripada perutnya sendiri. Cukuplah seseorang itu mengonsumsi beberapa kerat makanan yang dapat menegakkan tulang punggungnya. Kalau terpaksa, maka dia bisa mengisi sepertiga perutnya dengan makanan, sepertiga lagi dengan minuman, sepertiga sisanya untuk nafas. (HR. Ahmad, AlTirmidzi, dan Al-Nasai). Nafas perlu porsi tempat juga karena ada keterkaitan lambung dan pernafasan. Bagian atas lambung menempati posisi langsung di bawah diafragma, lambung menerima makanan setelah dikunyah, ditelan, dan melewati kerongkongan. Jika lambung diisi terlalu banyak makanan maka ukurannya pun akan melebar dan mendatangkan ketidaknyamanan dan sulit bernafas. mengakibatkan terjadinya kerusakan jantung dan melemahnya organ-organ tubuh untuk menjalankan aktifitas sehari-hari, termasuk juga dalam menjalankan ibadah Jadi, bimbingan rasulullah kepada umatnya dalam hal makan ialah mengonsumsi makanan dalam jumlah sedikit, tapi mampu memenuhi kebutuhan gizi. Sepertiga untuk makan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga lagi untuk nafas. Islam menganjurkan umatnya mengonsumsi makanan sehat. Sebab makanan sehat hakikatnya adalah obat. Oleh karena itu pantas jika ada ungkapan bahwa siapa yang makan makanaan sehat maka ia tak perlu makan obat. Allah berfirman:

Dan Kami naungi kamu dengan awan, dan Kami turunkan kepadamu "manna" dan "salwa". Makanlah dari makanan yang baik-baik yang telah Kami berikan kepadamu... (QS. 2: 57) Lebih detail Ibnul Qayyim menjabarkan; Kalangan medis sepakat bahwa selama penggunaan makanan sehat sudah cukup digunakan dalam pengobatan, tidak perlu menggunakan obat. Selama bisa menggunakan obat-obbatan sederhana, tidak perlu menggunakan obat-obatan kimia. Mereka menegaskan (kata Ibnul Qayyim), Setiap penyakit yang masih bisa diatasi dengan makanan sehat dan pencegahan, tidak memerlukan obat-obatan. (Abu Umar Basyier 2011: 243). Jenis makanan sehat dalam islam : 1.Karbohidrat : gandum, beras, jagung, dan sejenisnya. Rasulullah lebih sering makan gandum. 2.Zat besi : kurma. Sebiji kurma mengandung 60 70% KH, 2,5 % Lemak, 33% air, 32% Metalic Nacl dan 10% olive.

3.Daging. Daging hewan merupakan sumber asam amino esential yang merupakan unsur utama pembentukan tubuh manusia. Rasulullah saw sering mengkonsumsi daging kambing dan unta. Dan Kami beri mereka tambahan dengan buah-buahan dan daging dari segala jenis yang mereka ingini. (QS. At-Thur: 22). 4.Sayur dan buah-buahan. Anas bin Malik menceritakan, Nabi suka sekali makan labu. Suatu hari Nabi diajak makan. Aku pun mengikuti beliau dengan pandanganku. Aku sengaja meletakkan potongan labu ke hadapan beliau karena aku tahu beliau amat menyukai labu. (HR. Tirmidzi dan Abu Dawud). Al-Quran menyebutkan bahan makanan olahan nabati tiga kali lebih banyak dari hewani. Kini pakar medis menyebut sumber penyakit berbahaya disebabkan konsumsi melebih batas terhadap daging dan lemak, serta sedikitnya mengkonsumsi buah dan sayuran. Mengenai konsumsi daging melebihi batas, Imam Sadiq berkata, "Makanlah daging sekali saja selama sepekan, dan jangalah berlebihan dalam mengkonsumsi daging." Ilmu gizi menjelaskan bahwa konsumsi daging dan penumpukan protein meningkatkan produksi asam urat yang menyebabkan rasa nyeri pada persendian. Untuk itu ilmu gizi menyarankan variasi konsumsi makanan sebagaimana disarankan Rasulullah. Beliau bersabda, "Orang yang sehat senantiasa mewaspadai jenis makanan tertentu dan meninggalkan sebagian jenis makanan lainnya." Imam Ridha as berkata, "Islam mengharamkan maupun memakruhkan segala sesuatu yang membahayakan tubuh manusia. Namun sebaliknya, membolehkan apa saja yang baik bagi jasmani dan ruhani manusia."

Anda mungkin juga menyukai