Anda di halaman 1dari 8

ESTIMASI POPULASI GASTROPODA Muchammad Ali Adlan 09/288498/PN/11847/PD Budidaya Perikanan

INTISARI Gastropoda merupakan organisme dari filum moluska yang memiliki struktur tubuh yang lunak. Gastropoda dicirikan sebagai organisme yang berjalan menggunakan kaki perutnya (gastopodhos). Estimasi merupakan metode yang digunakan untuk memprakirakan cacah densitas suatu organisme dalam suatu wilayah tertentu. Metode ini dilakukan tanpa menggunakan plot. Acara estimasi populasi gastropoda ini bertujuan untuk menerapkan metode plotless (tanpa plot) untuk memprakirakan populasi makrobentos di daerah perairan serta untuk mempelajari korelasi antara populasi gastropoda dengan beberapa parameter lingkungan. Pengamatan populasi gastropoda ini dilakukan pada tanggal 5 april 2010, di Sungai Code, khususnya di daerah hulu. Hasil estimasi populasi gastropoda menunjukkan bahwa densitas populasi gastropoda di daerah hulu sebesar 49 individu/L. Hal tersebut menunjukkan bahwa densitas populasi gastropoda di daerah hulu cukup tinggi jika dibandingkan dengan daerah lainnya. Karena di daerah hulu kandungan DO masih cukup melimpah, nilai suhu dan pH masih termasuk dalam rentang suhu dan pH optimum bagi organisme perairan. Selain itu kadar CO2 dan alkalinitas yang masih tergolong rendah mengakibatkan kadar tersebut tidak banyak berpengaruh terhadap kehidupan organisme gastropoda. Jikalaupun itu berpengaruh namun masih dapat ditolerir oleh organisme gastropoda tersebut. Secara menyeluruh menunjukkan bahwa densitas populasi gastropoda di Sungai Code bervariasi. Densitas populasi gastropoda paling tinggi terdapat di daerah hulu. Densitas tertinggi kedua terdapat di daerah tengah kota. Dan densitas populasi gastropoda paling rendah terdapat di daerah hilir. Perbedaan-perbedaan densitas tersebut dipengaruhi oleh parameter-parameter lingkungan, baik biologi, fisika maupun kimia. Kata kunci : Sungai, estimasi, gastropoda, densitas.

PENDAHULUAN sungai merupakan ekosistem lotik yang merupakan ekosistem perairan yang bentuk perairannyamengalir. Sungai secara alami terbentuk oleh sumber air tanah ataupun air permukaan. Dalam perjalanan arus air, air sungai terus menerus mmengalami perubahan. Perubahan-perubahan tersebut tyerjadi karena beberapa sebab. Antara lain karena terlarutnya benda-benda organik, erosi tanah ataupun deposisi (Brotowidjoyo, 1999). Sungai pada umumnya lebih dangkal jika dibandingkan dengan danau atau telaga. Air

sungai umumnya jenuh dengan oksigen, cukup mendapatkan cahaya dan biasanya air sungai tidak banyak mengadung plankton. Tumbuhan yang tumbuh di sungai biasanya berupa perifiton, yaitu tumbuhan yang menempel pada substrat. Bbbaik berupa batu-batuan atau kayu-kayuan. Di sungai jarang ada timbunan bahan organik di dasar sungai karena sungai memiliki arus. Sehingga kandungan bahan organik tersebut selalu ikut terbawa oleh arus air (Effendy, 2003). Makrobbentos merupakan sebutan bagi organisme yang seluruh, atau sebagian, hidupnya terdapat di dasar perairan. Baik itu perairan lentik yang menggenang ataupun lotik yang mengalir. Organismeyang menempati daaerah sungai memiliki keanekaragaman yang lumayan tinggi. Mulai dari mikroorganisme yang berupa plankton hingga makroorganisme seperti cacing annelida, moluska, nematoda, turbellaria dan lain sebagainya (Probosunu, 1999). Gastropoda merupakan organisme dari filum moluska, yaitu hewan betubuh lunak. Kelompok hewan ini banyak jumlahnya dan mudah dijumpai mulai dari perairan tawar hingga perairan asin (laut). Bahkan di daratan pun banyak dijumpai kelompok hewan ini (Pratiwi, 2003). Gastropoda, dinamakan demikian, karena kelompok hewan ini aktif bergerak menggunakan kaki perutnya yang disebut Gastropodhos. Dan karena tubuhnya yang lunak kelompok hewan ini sebagian besar dilindungi oleh cangkang yang ada di luar tubuhnya. Namun ada pula yang tida terlindungi oleh cangkang. Bentuk cangkang moluskabermacam-macam, namun pada kelompok gastropoda memiliki modifikasi yang sama, yaitu terlihat pada peristiwa torsi. Torsi merupakan peristiwa memutarnya cangkang beserta mantel, rongga mantel dan massa viceralnya hingga 180. Baik itu memutar searah jarum jam ataupun berlawanan arah jarum jam (Sugiarti, 2005). Dengan melaksanakan pengamatan inikita dapat mempelajari hubungan antara populasi gastropoda di perairan sungai dengan beberapa parameter lingkungan. Serta mampu mempelajari penerapan metode estimasi plotless yang digunakan untuk memprakirakan densitas populasi gastropoda.

METODOLOGI Praktikum estimasi populasi gastropoda ini dilakukan pada hari senin, tanggal 5 april 2010 pada pukul 14.00-16.00 WIB, dan berlokasi di Sungai Code, Yogyakarta, khususnya di daerah hulu atau sebelum masuk daerah perkotaan. Pada praktikum estimasi gastropoda ini dilakukan pengamatan populasi gastropoda yang hidup di Sungai Code. Metode pengamatan yang digunakan adalah metode estimasi plotless, atau metode prakiraan tanpa menggunakan plot. Mula-mula ditentukan dahulu 30 titik yang akan dijadikan sampel data. Lalu pada masing-masing titik dicari organisme gastropoda yang paling dekat dengan titik lalu diukur jaraknya. Kemudian dicatat dan dihitung densitas gastropodanya, dengan rumus : D = 2 / (s-2) = (s-1)/Y Y = Yi Yi = (Xi)2 D = Densitas gastropoda = Estimasi densitas gastropoda s = Jumlah titik sampel yang diambil Y = Luas area kajian X = Jarak terdekat gastropoda dengan titik sampel Pada praktikum ini juga dilakukan pengamatan terhadap parameter-parameter lingkungan fisik maupun kimia. Parameter fisik meliputi suhu udara, suhu air, kecepatan arus dan debit air. Sedangkan parameter kimia meliputi DO, CO2 , alkalinitas dan pH atau derajat keasaman.

HASIL DAN PEMBAHASAN Stasiun I 27 28,5 0,18 0,34 II 26,7 26,5 0,26 0,52 III 27,1 28 0,32 0,82 IV 32 33 0,59 2,50 V 24 28 0,46 1,92 VI 25,5 28,5 0,43 2,30 VII 34 34 0,51 1,80 VIII 30,1 29 0,79 0,97 IX 30.3 27,6 0,24 0,77

Parameter
F I S I K

Suhu udara (C) Suhu air (C) Kecepatan (m/s) Debit (m3/s)

K I M I A

DO (ppm) CO2 (ppm) Alkalinitas (ppm) Ph Densitas plankton

5,13 8,30 104 6,6 160 2,48 50

5,18 16,8 132 6,8 150 1,81 56,2

5,80 11,9 136 6,75 178 2,2 393

6,60 9 122 7,3 515 0,11 381

2,19 12 145 6,75 298 0,7 168

3,30 13,3 144 6,9 83 1,6 93,7

3,60 28,3 150 6,9 308 0,2 8,3

4,80 26 164 6,9 85 0,2 256

5,68 16 168 6,8 105 0,96 62,5

B I O L O G I

(idv/L) Diversitas plankton Densitas makrobentos (idv/L) Diversitas makrobentos Densitas gastropoda

1,54 1457

1,44 0,51

1,86 49

0,44 976

0,87 8,2

1,49 3,4

1,1 0,00

1,9 0,4

2,64 4,86

Stasiun I, II, III Stasiun IV, V, VI

: daerah hulu : daerah tengah kota

Stasiun VII, VIII, IX : daerah hilir

Pembahasan stasiun III Berdasarkan hasil pengamatan dan setelah dilakukan beberapa perhitungan diperoleh bahwa densitas populasi gastropoda sdi sungai Code, khususnya daerah hulu (stasiun III) menunjukkan nilai densitas sebesar 49 individu/L. Angka tersebut merupakan angka yang cukup tinggi jika dibandingkan dengan stasiun di daerah lain (daerah tengah kota dan hilir). Pada daerah lain nilai densitas populasi gastropoda berkisar antara 1 hingga 8, bahkan ada yang bernilai 0,002 individu/L. Cacah densitas yang cukup tinggi tersebut tidak lepas karena pengaruh parameter-parameter lingkungan yang terdapat didalamnya. Kadar DO sebesar 5,80 ppm merupakan kadar oksigen yang cukup jenuh dan dengan kadar oksigen terlarut sebesar itu sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan oksigen bagi organisme-organisme perairan (Effendy, 2003). Karena kadar DO yang lebih dari cukup mengakibatkan organisme lebih suka pada perairan tersebut. Tak terkecuali populasi gastropoda.

Kadar CO2 dalam sungai di daerah hulu didapati sebesar 11,90 ppm. Nilai tersebut merupakan nilai yang cukkup tinggi. Pasalnya kadar CO2 bebas yang baik untuk kepentingan perikanan adalah kurang dari 5 ppm. Namun kadar CO2 pada kisaran 10 ppm masih dapat ditilerir oleh organisme perairan, termasuk gastropoda. Bahkan ada beberapa organisme perairan yang mampu mentolerir kadar CO2 hingga batas 60 ppm, dengan syarat didukung dengan adanya kadar oksigen yang cukup (Effendy, 2003). Alkallinitas di stasiun III menunjukkan nilai sebesar 136 ppm. Mmenurut Effendy (2003) nilai alkalinitas yang baik bagi dunia perikanan adalah berkisar antara 30-500 ppm. Jadi kadar alkalinitas sebesar 136 ppm merupakan nilai yang masih tergolong baik bagi tumbuh kembang organisme perairan. Dan hal tersebut terbukti dengan tumbuh kembangnya populasi gastropoda di perairan tersebut hingga mencapai densitas sebesar 49 individu/L. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa kecepatan arus air sebesar 0,32 m/s. Kecepatan arus suatu sungai dipengaruhi oleh topografi sungai itu sendiri, semakin curam maka kecepatan arus akan semakin tinggi. Ada tidaknya penghalang juga mempengaruhi kecepatan arus sungai. Kecepatan sungai secara langsung ataupun tidak mempengaruhi besar-kecilnya debit air, semakin cepat maka debit air yang dihasilkan juga semakin besar. Kecepatan arus pada stasiun III menunjukkan bahwa dalam waktu satu detik arus sungai mampu membawa suatu benda sejauh 0,32 meter. Hal ini menunjukkan bahwa arus sungai Code termasuk arus yang sedang. Bagi gastropoda arus yang sedang tidak begitu berpengaruh karena gastropoda merupakan organisme yang hidup di daerah dasar perairan, sehingga masih banyak benda-benda yang mampu menolongnya dengan menhalangi atau mengurangi arus air sehingga gastropoda tidak terbawa arus, seperti batu-batuan. Selain itu gastropoda juga mampu menempel pada substrat-substrat tertentu, seperti batu-batuan. Sehingga gastropoda mampu untuk bertahan pada perairan yang berarus seperti sungai (Suwignyo, 2005). Besar-kecilnya debit air dipengaruhi oleh lebar sungai, kedalaman sungai serta substrat dasar sungai. Keadaan substrat dasar perairan di stasiun III menunjukkan adanya daerah berbatu dan daerah berpasir,namun didominasi oleh daerah berbatu. Perairan dengan dasar berbatu merupakan habitat bagi banyak jenis gastropoda. Jadi tidak heran jika diperairan sungai tersebut banyak dijumpai populasi gastropoda, bahkan mencapai densitas sebesar 49 individu/L (Suwignyo, 2005).

Pembahasan umum Secara umum nilai densitas gastropoda paling tinggi ditunjukkan oleh data dari daerah hulu, yaitu stasiun I. Lalu diikuti oleh data dari stasiun IV yang merupakan daerah tengah kota. Dan nilai densitas paling rendah ditunjukkan oleh data dari stasiun VII yang merupakan daerah hilir. Daerah hulu memiliki nilai densitas gastropoda yang sangat tinggi hingga mencapai 1.457 individu/L hal ini menunjukkan bahwa kualitas air di daerah hulu masih sangat baik. Hal tersebut juga didukung dengan kadar oksigen terlarut dalam air (DO) yang memadai untuk kebutuhan-kebutuhan organisme yang tinggal di dalamnya. Hal ini selaras dengan apa yang telah dikemukakan oleh Fardiaz (1992). Bbahwa semakin tinggi kadar oksigen terlarut (DO) maka perairan tersebut semakin diminati oleh organisme-organisme perairan. Tidak terkecuali pada kelompok gastropoda. Kadar CO2 dan alkalinitas juga memberi kontribusi dalam menentukan derajat kualitas air di daerah hulu. Kadar CO2 dan alkalinitas pada daerah hulu tergolong kadar yang sedang, tidak terlalu sedikit ataupun terlalu banyak. Pasalnya jika kadar CO2 dan alkalinitas terlalu tinggi atau terlalu rendah akan mengakibatkan keadaan perairan terlalu asam atau terlalu basa. Hal tersebut sangat berpengaruh buruk terhadap berlangsungnya kehidupan organisme-organisme dalam perairan tersebut. Bahkan akan dapat mengakibatkan kematian pada organisme-organisme perairan yang hidup di dalamnya. Pada daerah hilir densitas gastropoda menunjukkan nilai yang sangat rendah, berkisar antara 0,4 hingga 4,86 Individu/L. Bahkan ada data dari stasiun VII yang menunjukkan bahwa nilai densitas gastropodanya sebesar o,oo2 individu/L (mendekati nilai nol). Hal ini dimungkinkan terjadi karena kadar oksigen terlarut (DO) dalam air sangat rendah, belum mmencukupi batas minimal untuk memenuhi kebutuhan metabolisme organisme yang terkandung di dalamnya. Pada data daerah hilir tercatat kadar DO yang mencapai 3,60 ppm. Hal ini jelas menunjukkan bahwa jumlah kadar DO tersebut tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan minimal DO yang dibutuhkan oleh organisme untuk melangsungkan metabolisme. Karena batas minimal DO dalam air adalah sebesar 5 ppm (Fardiaz, 1992). Dari data pengamatan di daerah hilir menunjukkan bahwa suhu sebesar 27,6-29C, dan hal teresebut masih termasuk dalam rentang suhu optimum perkembangan organisme perairan (25-30C). Nilai pH yang didapat sebesar 6,8-6,9 juga menunjukkan bahwa nilai pH masih dalam kisaran nila pH optimum bagi organisme-

organisme perairan. Kadar CO2 sebesar 16- 28,3 ppm masih menunjukkan kadar yang masih dalam batas yang bisa ditoleransi oleh organisme-organisme perairan. Begitu pula dengan kadar alkalinitas sebesar 150-168 ppm juga masih dalam kisaran yang mampu ditoleransi oleh organisme-organisme perairan. Jadi satu-satunya parameter yang menjadi sumber permasalahan pada daerah hilir adalah kadar oksigen terlarut (DO) yang tidak mencapai batas minimal untuk memenuhi kebutuhan metabolisme organisme-organisme perairan. Sehingga organisme lebih memilih perairan yang memiliki pasokan nutrisi (oksigen) yang cukup (DO lebih dari 7 ppm) (Effendy, 2003).

KESIMPULAN Densitas gastropoda di stasiun III, daerah hulu, menunjukkan angka yang cukup tinggi. Tingginya populasi gastropoda tersebut tidak lepas akan pengaruh tingginya kadar oksigen terlarut. selain itu juga karena pengaruh kadar karbondioksida bebas, alkalinitas, derajat keasaman serta parameter-parameter lingkungan lainnya. Karena antara parameter yang satu dengan parameter yang lain saling berkaitan dan saling berpengaruh. Secara umum densitas gastropoda di daerah hulu masih sangat tinggi karena didukung oleh parameter-parameter lingkungan yang yang masih sangat baik. Densitas gastropoda di daerah tengah kota lebih rendah daripada daerah hulu. hal ini dimungkinkan karena adanya limbah-limbah, baik limbah organik maupun limbah rumah tangga, yang mengakibatkan kualitas perairan menurun dan daya dukung lingkungan pada daerah tersebut juga menurun. Densitas gastropoda paling rendah terdapat pada daerah hilir, karena pada daerah hilir diperoleh data yang menunjukkan bahwa kadar oksigen di daerah ini sangat minim, sehingga organisme enggan untuk mendiami daerah tersebut sebagai tempat tinggal. Berdasarkan densitas gastropoda kualitas air di Sungai Code paling baik terdapat di daerah hulu. kualitas kedua terdapat pada daerah tengah sungai. Dan kualitas terburuk terdapat di daerah hilir.

SARAN 1. Masyarakat ataupun pihak yang terkait diharapkan menjaga kualitas air di ekosistem sungai. Karena sungai merupakan salah satu sumber daya air yang sangat dibutuhkan oleh manusia juga organisme lainnya. 2. Masyarakat diharapkan untuk tidak lagi menjadikan sungai sebagai tempat sampah. 3. Masyarakat juga diharapkan agar tidak membuang limbah-limbah rumah tangga ke sungai. 4. Masyarakat di sekitar aliran sungai diharapkan untuk memanfaatkan sungai dengan beasaskan wawasan lingkungan sehingga tidak sampai merusak ekosistem sungai.

DAFTAR PUSTAKA Brotowodjoyo. M. D, et al. 1999. Pengantar Lingkungan Perairan dan Budidaya Air. Liberty. Yogyakarta. Effendy, H. 2003. Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumber Daya dan Lingkungan Air. Kanisius. Yogyakarta. Fardiaz, S. 1992. Polusi Air dan Udara. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Direktorat Jendral Perguruan Tinggi. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Pratiwi, D. A. 1992. Buku Penuntun Biologi. Erlangga. Jakarta. Probosunu, N. 1999. Petunjuk Praktikum Ekologi Perairan. Laboratorium Ekologi Perairan. Jurusan Perikanan. Fakultas Pertanian. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta. Suwignyo, S. 2005. Avertebrata air. Jilid I. Penebar Swadaya. Jakarta.