Anda di halaman 1dari 64

10

BAB II
KAJIAN TEORI

2.1 Persamaan Diferensial Parsial
Persamaan diferensial parsial dapat dikatakan sebagai persamaan yang
mengandung satu atau lebih turunan-turunan parsial. Persamaan tersebut merupakan
laju perubahan terhadap dua atau lebih variabel bebas, yang dikatakan dengan waktu
dan jarak (ruang) (Triatmojo, 2002:199).
Persamaan diferensial parsial (PDP) adalah suatu persamaan yang
mengandung dua atau lebih derivatif parsial untuk suatu fungsi dari dua atau lebih
variabel bebas. Tingkat derivatif parsial tertinggi merupakan tingkat persamaan
diferensial parsial tersebut. Sedangkan pangkat tertinggi dari order tertinggi
merupakan derajat dari persamaan diferensial tersebut (Soeharjo,1996).
Ketika ada sebuah fungsi w(x, y) yang bergantung pada dua variabel bebas x
dan y, dan jika diturunkan terhadap x maka y bernilai konstan dan jika diturunkan
terhadap y, x bernilai konstan. Adapun notasi pelambangannya secara berturut urut
adalah
w
x
dan
w

, dengan simbol o menunjukkan turunan parsialnya. Notasi itu dapat


dipakai untuk pengerjaan turunan orde dua. Turunan terhadap x dari
w
x

dilambangkan dengan

2
w
x
2
dan turunan terhadap y dari
w
x
adalah

2
w

2
dan seterusnya.
Turunan parsial x dapat dituliskan berupa w
x
(Levine, 1997:4).
11

Dalam persamaan diferensial parsial muncul turunan parsial yang menyatakan


hukum Fisika tertentu. Misalnya, persamaan difensial parsial
o
2
u
ot
2
= o
2
o
2
u
ox
2

yang menggambarkan gerak bentuk gelombang, dapat berbentuk gelombang
samudera, gelombang suara, gelombang cahaya dan gelombang yang lainnya.
Andaikan bahwa adalah suatu fungsi dua peubah x dan y. J ika y konstan,
misalkan y = y
0
, maka (x, y
0
) menjadi fungsi satu peubah x. Turunannya di x = x
0

disebut turunan parsial terhadap x di (x
0
, y
0
). J adi,

x
(x
0
, y
0
) = lim
x-0
(x
0
+x, y
0
) -(x
0
, y
0
)
x

Demikian pula, turunan parsial terhadap y di (x
0
, y
0
) dinyatakan oleh

(x
0
, y
0
)
dan dituliskan sebagai

(x
0
, y
0
) = lim
-0
(x
0
, y
0
+y) -(x
0
, y
0
)
y

Daripada menghitung
x
(x
0
, y
0
) dan

(x
0
, y
0
) secara langsung dari definisi di atas,
secara khas dicari
x
(x, y) dan

(x, y) dengan menggunakan aturan baku untuk


turunan kemudian disubstitusikan x = x
0
dan y = y
0
(Purcell & Varberg, 1987:251).
Notasi untuk turunan parsial, jika z = (x, y) maka,

x
(x, y) =
x
=
o
ox
=
o
ox
(x, y) =
oz
ox
=
1
=
1
=
x

(x, y) =

=
o
oy
=
o
oy
(x, y) =
oz
oy
=
2
=
2
=


12

x
(x
0
, y
0
) =
oz
ox
_
(x
0
,
0
)

(x
0
, y
0
) =
oz
oy
_
(x
0
,
0
)

Dari notasi turunan tersebut di atas, maka dapat diketahui turunan dari turunan
parsial dari z = (x, y) yaitu:
1. Untuk mencari
x
pandang y sebagai konstanta dan diferensialkan (x, y)
terhadap x
2. Untuk mencari

pandang x sebagai konstanta dan diferensialkan (x, y)


terhadap y
Untuk turunan yang lebih tinggi, jika adalah fungsi dari dua variabel, maka
turunan parsialnya
x
dan

juga fungsi dua variabel. Sehingga, dapat ditinjau


turunan parsial dari (
x
)
x
, (
x
)

, (

)
x
' dan (

' yang disebut turunan parsial


kedua dari . J ika z = (x, y), dengan menggunakan notasi tersebut maka,
(
x
)
x
=
xx
=
11
=
o
ox
_
o
ox
] =
o
2

ox
2
=
o
2
z
ox
2

(
x
)

=
x
=
12
=
o
oy
_
o
ox
] =
o
2

oyox
=
o
2
z
oyox

(

)
x
=
x
=
21
=
o
ox
_
o
oy
] =
o
2

oxoy
=
o
2
z
oxoy

(

=
22
=
o
oy
_
o
oy
] =
o
2

oy
2
=
o
2
z
oy
2

13

Dari notasi
x
(atau

2
]
x
) berarti bahwa dideferensialkan terhadap x kemudian
terhadap y. Sedangkan dalam menghitung
x
urutannya dibalik (Stewart, 2003).

2.2 Persamaan Diferensial Parsial Linear dan Tak Linear
Persamaan diferensial (PD) diklasifikasikan menjadi PD linear dan tak linear.
PD linear orde-n dengan variabel terikat y dan variabel bebas x yaitu suatu persamaan
yang bisa dinyatakan sebagai:
o

(x)
J

y
Jx

= b(x), o
n
(x) = u
n
=0

PD di atas dikatakan linear jika mempunyai ciri-ciri yaitu variabel terikat y dan
derivatifnya hanya berderajat satu, tidak ada perkalian antara y dan derivatifnya serta
antara derivatif, dan variabel terikat y bukan fungsi transenden (Baiduri,2002:4).
Sedangkan PD nonlinear adalah persamaan diferensial yang bukan persamaan linear
(Ross, 1984:5).
Bentuk umum PDP linear tingkat dua dengan dua variabel bebas adalah
A
o
2
u
ox
2
+2B
o
2
u
oxoy
+C
o
2
u
oy
2
+
ou
ox
+E
ou
oy
+Fu +0 = u
(2.1)
dengan A, B, C, D, E, F, dan G diberikan oleh fungsi x dan y. Dalam kasus tertentu
fungsi tersebut merupakan fungsi konstant (Kaplan, 1963). Persamaan (2.1)
merupakan PDP linear. Sedangkan, PDP orde kedua dalam dua variabel yang tidak
memenuhi persamaan (2.1) adalah PDP tidak linear, perhatikan contoh berikut:
14

a.
u
t
= o
2

2
u
x
2
(Linear)
b.

2
u
x
2
+

2
u

2
+u = sinx (Linear)
c. u
u
x
+y
u

+u = 1 (Tidak Linear)
d.

2
u
x
2
+

2
u

2
+u
2
= u (Tidak Linear)

2.3 Orde Persamaan Diferensial Parsial
Orde suatu persamaan diferensial adalah orde turunan tertinggi yang muncul
dalam persamaan tersebut (Stewart, 2003: 5). Persamaan diferensial parsial dengan
dua variabel bebas dikatakan berorde satu jika turunan tertinggi dari variabel
terikatnya adalah satu. Bentuk umum persamaan diferensial parsial linear dan non
linear berorde satu adalah:
o(x, t)
o:(x, t)
ox
+b(x, t)
o:(x, t)
ot
= c(x, t):(x, t) +J(x, t)
(2.2)
dengan o, b, c, uan J adalah fungsi dan di setiap titik (x, t) merupakan vektor
|o(x, t), b(x, t)] yang terdefinisi dan tidak nol. Persamaan (2.2) dapat ditulis
F(x, t, :(x, t), :
x
(x, t), :
t
(x, t)) = u
dengan :
x
(x, t) =
(x,t)
x
uan :
t
(x, t) =
(x,t)
t
(Zauderer, 2006: 63).
Demikian halnya dengan persamaan diferensial parsial dengan dua variabel
bebas dikatakan berorde dua, tiga, empat hingga berorde m jika turunan tertinggi dari
15

variabel terikatnya adalah dua, tiga, empat atau m. Bentuk umum persamaan
diferensial parsial linear dan non linear berorde dua, tiga, empat dan berorde n
a. o
]

2
u
x
i
x
]
n
]=1
+ b

u
x
i
n
=1
+cu +J = u
n
=1

b. o
]k

3
u
x
i
x
]
x
k
n
k=1
n
]=1
+ b
]

2
u
x
i
x
]
n
]=1
+
n
=1
n
=1
c

u
x
i
n
=1
+Ju +c = u
c. o

4

4
u
x
i
1
x
i
2
x
i
3
x
i
4
n

4
n

3
=1
n

2
=1
+
n

1
=1
b

3

3
u
x
i
1
x
i
2
x
i
3
n

3
=1
n

2
=1
+ c

2

2
u
x
i
1
x
i
2
n

2
=1
+
n

1
=1
n

1
=1
J

1
u
x
i
1
n
=1
+cu + = u
d. o

1
,
2
,
3
,,
m

m
u
x
i
1
x
i
m
n

4
n

m
=1
n

2
=1
+ = u
n

1
=1


(Zauderer, 2006: 137).

2.4 Metode Pemisahan Variabel
Metode pemisahan variabel adalah teknik klasik yang efektif untuk
menyelesaikan beberapa tipe dari persamaan diferensial parsial. Misalnya saja solusi
u(x, t) untuk persamaan diferensial parsial sebagai kombinasi linear tak hingga
fungsi komponen sederhana u
n
(x, t), n = u,1,2, yang juga memenuhi persamaan
dan kondisi batasnya (Nagle & Saff, 1993:536).
Untuk menentukan solusi komponen u
n
(x, t) , pertama kita misalkan
u
n
(x, t) = X
n
(x)I
n
(t). Selanjutnya dilakukan proses substitusi dari bentuk ini ke
16

persamaan diferensial dan dengan menggunakan kondisi batasnya yang nantinya


menghasilkan dua persamaan diferensial biasa untuk fungsi X
n
(x) dan I
n
(t). Dengan
cara ini akan dihasilkan solusi untuk persamaan diferensial parsial (Nagle, 1993:536).

2.5 Masalah Nilai Batas
Masalah nilai batas (MNB) melibatkan suatu persamaan diferensial parsial
dan semua penyelesaiannya yang memenuhi syarat yang dinamakan syarat batas
(Spiegel, 1983: 276).
Misal persamaan diferensial linear orde dua
o
2
(x)y

+o
1
(x)y

+o
0
(x)y = (x) (2.3)
dengan koefisien-koefisien o
2
(x), o
1
(x), o
0
(x) dan fungsi (x) merupakan fungsi-
fungsi yang kontinu di dalam selang o x b dengan o
2
(x) = u di dalam selang
ini. Menentukan penyelesaian y(x) dari persamaan differensial (2.3) pada sebuah
titik x = x
0
di dalam selang o x b dan memenuhi dua syarat awal yang
diberikan
y(x
0
) = y
0
uan y

(x
0
) = y
1
(2.4)
yang merupakan suatu masalah nilai awal (MNA). Dalam banyak MNA variabel
bebas x dari persamaan diferensial pada umumnya menyatakan waktu, x
0

menyatakan waktu awal dan y
0
dan y
1
menyatakan syarat awal. Bila variabel x bebas
merupakan variabel yang menyatakan tempat (space variabel), maka mencari suatu
17

penyelesaian y(x) dari persamaan diferensial yang memenuhi syarat pada titik akhir
dari selang o x b
y(o) = A uan y(b) = B (2.5)
dengan A dan B dua buah konstanta, disebut syarat batas. Persamaan diferensial
(2.3), bersama-sama dengan syarat batas (2.5), merupakan suatu masalah nilai batas
(MNB). Bentuk dari syarat batas pada titik akhir dapat sangat berbeda-beda (Finzio
dan Ladas, 1982: 244).
Ada beberapa bentuk khusus syarat batas yang digunakan dalam aplikasi,
yaitu
Separated : o
1
y(o) +o
2
y

(o) = c
1
, b
1
y(b) +b
2
y

(b) = c
2
,
Dirichlet : y(o) = c
1
, y(b) = c
2

Neumann : y(o) = c
1
, y(b) = c
2

Periodic : y(-I) = y(I), y

(-I) = y

(I)
y(u) = y(2I), y

(u) = y

(2I)
dengan periodenya adalah 2T. Bentuk Dirichlet dan Neumann adalah syarat batas
yang khusus digunakan pada masalah nilai batas (Nagle & Saff, 1996: 612).
Contoh:
Pandang persamaan
ou
ot
(x, t) = [
o
2
u
ox
2
(x, t), u < x < I, t > u
(2.6)


18

dengan boundary condition


u(u, t) = u(I, t) = u, t > u (2.7)
u(x, u) = (x), u < x < I (2.8)
Misal
u(x, t) = X(x)I(t)
Maka
u
t
= X(x)I'(t) dan

2
u
x
2
= X
ii
(x)I(t).
(2.9)
Substitusi (2.9) ke persamaan (2.6) menghasilkan
X(x)I
i
(t) = [X
ii
(x)I(t)
dan pemisahan variabelnya menghasilkan
I
i
(t)
[I(t)
=
X
ii
(x)
X(x)
.
Selanjutnya
1
|
(t)
[1(t)
= K dan
X
||
(x)
X(x)
= K
atau
I
i
(t) -[KI(t) = u dan X
ii
(x) -KX(x) = u (2.10)
Karena persamaan (2.9) maka kondisi batas (2.7) menjadi
X(u)I(t) = u dan X(I)I(t) = u, t > u
Karena I(t) = u, t > u maka u(x, t) u atau X(u) = X(I) = u (10)
Dengan mengombinasi boundary condition (2.8) dan persamaan (2.10) maka
X
ii
(x) -KX(x) = u, X(u) = X(I) = u (2.11)
19

Untuk menyelesaikan persamaan (2.11) maka dibawa ke bentuk persamaan


diferensial biasa r
2
-K = u.
Untuk penyelesaiannya maka terdapat tiga kasus,
Kasus 1: J ika K > u, maka akar-akarnya adalah _K. Maka solusi umum dari
persamaan (2.11) adalah
X(x) = C
1
c
Kx
+C
2
c
-Kx

Untuk menentukan C
1
dan C
2
maka dikombinasikan dengan boundary condition nya
sehingga:
X(u) = C
1
+C
2
= u
C
2
= -C
1

X(I) = C
1
c
KL
+C
2
c
-KL
= u
C
1
[c
KL
-c
-KL
= u
C
1
[c
2KL
-1 = u
Karena K > u maka [c
2KL
-1 > u sehingga C
1
= C
2
= u, sehingga tidak ada
solusi nontrivial untuk K > u.
Kasus 2: J ika K = u, maka akar-akarnya adalah kembar, r = u. Maka solusi umum
dari persamaan (2.11) adalah
X(x) = C
1
+C
2
x
20

Boundary condition pada persamaan (2.11) menghasilkan C


1
= u dan C
1
+C
2
I = u.
Sehingga C
1
= C
2
= u . Karena K = u maka tidak ada solusi nontrivial untuk
persamaan (2.11).
Kasus 3: J ika K < u, maka akar-akarnya adalah _i-K. Maka solusi umum dari
persamaan (2.11) adalah
X(x) = C
1
cos -Kx +C
2
sin -Kx
Karena boundary condition pada persamaan (2.11) maka menghasilkan
C
1
= u
C
1
cos -Kx +C
2
sin -Kx = u
C
2
sin -Kx = u
Maka C
2
= u atau sin-Kx = u . sin-Kx = u hanya ketika -Kx = nn atau
K = -[
nn
L

2
, dengan n = 1,2,S,
Maka solusi nontrivial nya adalah
X
n
(x) = o
n
sin(
nnx
I
)
dengan o
n
adalah konstan.
Karena kita punya K = -[
nn
L

2
maka persamaan (2.10) menjadi
I
i
(t) +[ [
nn
I

2
I(t) = u
untuk setiap n = 1,2,S,

21

Maka solusi umum nya adalah


I
n
(t) = b
n
c
-[[
nn
L

2
t

Maka u
n
(x, t) = X
n
(x)I
n
(t) = o
n
sin(
nnx
L
) b
n
c
-[[
nn
L

2
t
= c
n
c
-[[
nn
L

2
t
sin(
nnx
L
)
dengan c
n
adalah konstan (Nagle & Saff, 1996:536-539).

2.6 Tipe-tipe Persamaan Diferensial Parsial
Pada tipe hiperbolik, ditentukan persamaan diferensial parsial homogen
p(x)
o
2
u(x, t)
ot
2
+Iu(x, t) = u, x e 0, t > u
(2.12)
dengan kondisi batas
o(x)u(x, t) +[(x)
ou(x, t)
on
_
u
= u, t > u
o
1
u(u, t) -[
1
u
x
(u, t) = u, o
2
u(l, t) +[
2
u
x
(l, t) = u, t > u
dan kondisi awal
u(x, o) = (x), u
t
(x, u) = g(x), x e 0.
Dengan memisalkan u(x, t) = H(x)N(t), maka persamaan diferensial parsial di atas
menjadi bentuk
N

(t)
N(t)
= -
LM(x)
p(x)M(x)
. Selanjutnya dihasilkan IH(x) = zp(x)H(x) dan
dihasilkan pemisahan variabel dalam persamaan diferensial di atas, yaitu N

(t) +
zN(t) = u (Zauderer, 2006:180-183).


22

Persamaan Hiperbola jika: B


2
-4AC > u
Contoh: Persamaan Gelombang
o
2
y
ot
2
= C
2
o
2
y
ox
2

Pada tipe parabolik, ditentukan persamaan diferensial parsial
p(x)
ou(x, t)
ot
+Iu(x, t) = u, x e 0, t > u
dengan kondisi batas seperti pada tipe hiperbolik dan kondisi awal adalah
u(x, u) = (x), x e 0
Dengan memisalkan u(x, t) = H(x)N(t), maka persamaan diferensial parsial diatas
menjadi bentuk
N
|
(t)
N(t)
= -
LM(x)
p(x)M(x)
. Selanjutnya dihasilkan IH(x) = zp(x)H(x) dan
dihasilkan pemisahan variabel dalam persamaan diferensial diatas, yaitu N
i
(t) +
zN(t) = u (Zauderer, 2006:180-183).
Persamaan Parabola jika: B
2
-4AC = u
Contoh: Persamaan Perambatan Panas
oI
ot
= K
o
2
I
ox
2

Pada tipe eliptik, ditentukan persamaan diferensial parsial
p(x)
o
2
u(x, t)
oy
2
+Iu(x, y) = u, x e 0, u < y < l
dengan kondisi batas seperti pada tipe hiperbolik dan kondisi awal adalah
u(x, u) = (x), u(x, l) = g(x), x e 0
23

Dengan memisalkan u(x, t) = H(x)N(t), maka persamaan diferensial parsial di atas


akan menjadi bentuk -
N
||
()
N()
= -
LM(x)
p(x)M(x)
. Selanjutnya dihasilkan IH(x) =
zp(x)H(x) dan dihasilkan pemisahan variabel dalam persamaan diferensial di atas,
yaitu N
ii
(y) -zN(y) = u (Zauderer, 2006:180-183).
Persamaan Eliptik jika: B
2
-4AC < u
Contoh: Persamaan Poisson
o
2

ox
2
+
o
2

oy
2
+g = u
dan persamaan Laplace
o
2

ox
2
+
o
2

oy
2
= u

2.7 Metode Pemisahan Variabel Persamaan Diferensial Parsial Nonlinear
2.7.1 Perkalian dan penjumlahan solusi-solusi terpisah
Pemisahan dari variabel-variabel adalah pendekatan yang biasanya digunakan
untuk menyelesaikan persamaan linear dari model matematika fisika yang dihadapi.
Untuk persamaan-persamaan yang melibatkan dua variabel bebas x, y dan variabel
tidak bebas w, maka pendekatan ini merujuk pada pencarian solusi analitik dalam
bentuk perkalian fungsi-fungsi yang bergantung pada argumen yang berbeda yaitu
w(x, t) = (x)(t) (2.13)
24

Integral untuk beberapa kelas khusus dari persamaan diferensial parsial nonlinear
orde satu berdasarkan mencari solusi analitik dalam bentuk penjumlahan fungsi-
fungsi yang bergantung pada argumen yang berbeda.
w(x, t) = (x) +(t) (2.14)
Untuk orde dua dan yang lebih tinggi maka solusi analitiknya boleh menggunakan
bentuk (2.13) atau (2.14). Masing-masing solusi disebut penyelesaian-penyelesaian
perkalian fungsi-fungsi terpisah dan penjumlahan fungsi-fungsi terpisah (Polyanin &
Zaitsev, 2003).
Selanjutnya, terdapat kasus-kasus sederhana dari pemisahan variabel untuk
persamaan persamaan diferensial parsial nonlinear. Dalam kasus yang jarang terjadi,
pemisahan variabel dalam persamaan nonlinier dilakukan dengan menggunakan
teknik yang sama seperti persamaan linear. Secara khusus, solusi analitik adalah
menemukan penyelesaian dalam bentuk perkalian atau penjumlahan fungsi-fungsi
yang bergantung pada argumen yang berbeda. Solusi analitik tersebut disubtitusikan
pada persamaan dan melakukan prosedur manipulasi aljabar dasar, diperoleh
persamaan dengan dua variabel terikat yang berbeda (untuk persamaan dengan dua
variabel). Kemudian disimpulkan bahwa masing-masing pihak harus sama dengan
jumlah konstan yang sama yang disebut pemisahan konstan. Selanjutnya
dipertimbangkan contoh-contoh konkret (Polyanin, 2003).


25

Contoh 1:
Persamaan gelombang dengan nonlinear eksponensial

t
2
= o

x
[c
xw
w
x

(2.15)
mempunyai solusi pemisahan penjumlahan. Dengan mensubtitusikan (2.14) ke (2.15)
dan dibagi dengan c
x
, diperoleh persamaan:
c
-x

tt
ii
= o(c
xq

x
i
)
x
i

Kemudian tiap ruas dipisahkan dan disamadengankan konstanta (C):
c
-x

tt
ii
= C uan o(c
xq

x
i
)
x
i
= C
(2.16)
Penyelesaian PDB dari bentuk (2.16) menghasilkan sebuah solusi dari persamaan
(2.15) dengan bentuk (2.13) (Polyanin & Zaitsev, 2003).
2.7.2 Struktur Solusi Pemisahan secara Umum
a. Bentuk umum dari solusi-solusi
Untuk mempermudah penjelasan, dibatasi pada kasus persamaan matematika
fisika dalam dua variabel bebas x, y dan variabel dependen w. Persamaan pemisahan
linear dari matematika fisika mempunyai solusi analitik
w(x, y) =
1
(x)
1
(y) +
2
(x)
2
(y) ++
n
(x)
n
(y) (2.17)
dengan w

(x)

(y) adalah solusi partikulir, fungsi

(x)uan (y) dengan i


yang berbeda.
Persamaan diferensial parsial nonlinear dengan nonlinear kuadratik

1
(x)g
1
(y) |w]
1
+
2
(x)g
2
(y) |w]
2
++ (2.18)
26

m
(x)g
m
(y) |w]
m
= u
juga mempunyai solusi analitik bentuk (2.17). Pada bentuk (2.18) |w]

adalah
bentuk-bentuk diferensial yang merupakan perkalian-perkalian bilangan bulat non
negatif dari fungsi w dan turunan parsialnya yaitu
o
x
w, o

w, o
xx
w, o
x
w, o

w, o
xxx
w dll. Lihat solusi (2.17) dari persamaan nonlinear
(2.18) sebagai solusi pemisahan secara umum. Tidak seperti persamaan linear, pada
persamaan nonlinear fungsi

x dengan indeks i yang berbeda biasanya berhubungan


satu sama lain [dan untuk fungsi
]
(y) ]. Secara umum, fungsi

(x) uan
]
(y) dalam (2.17) harus diidentifikasi.
Perhatikan bahwa solusi yang paling umum dari solusi pemisahan secara
umum adalah solusi dari bentuk khusus
w(x, y) = (x)(y) +_(x);
variabel bebas di sisi kanan dapat ditukarkan. Dalam kasus khusus _(x) = u, ini
adalah solusi pemisahan perkalian, dan jika _(x) = 1, ini adalah solusi pemisahan
penjumlahan.
b. Bentuk umum dari persamaan diferensial fungsional
Secara umum, pada subtitusi bentuk (2.17) persamaan diferensial (2.18)
diperoleh persamaan diferensial fungsional

1
(X)
1
() +
2
(X)
2
() ++
k
(X)
k
() = u (2.19)
untuk

(x) dan

(y) . Fungsional
]
(X) dan
]
() masing-masing bergantung
pada x dan y,
27

]
(X) =
j
(x,
1
,
i
1
,
ii
1
, ,
n
,
i
n
,
ii
n
)

]
() =
j
(y,
1
,
i
1
,
ii
1
, ,
n
,
i
n
,
ii
n
)
(2.20)
Sebagai penyederhanaan, rumus ini ditulis untuk kasus dari persamaan orde dua
(2.18). Untuk persamaan orde tinggi, sisi kanan persamaan (2.20) akan berisi turunan
orde tinggi dari

dan
]
.
2.7.3 Solusi Persamaan Diferensial Fungsional dengan Diferensiasi
a. Penjelasan metode
Di bawah ini, dijelaskan suatu prosedur untuk membangun solusi persamaan
diferensial fungsional. Hal ini melibatkan tiga tahap berturut-turut
1. Asumsikan bahwa
k
u . Persamaan (2.19) dibagi dengan
k
dan diturunkan
terhadap y. Ini menghasilkan persamaan yang serupa tetapi dengan bentuk yang
lebih sederhana.

1
(X)

1
() +

2
(X)

2
() ++

k-1
(X)

k-1
() = u

]
(X) =
]
(X),

]
() = _

]
()

k
()
_

i

Selanjutnya diteruskan prosedur di atas sampai diperoleh dua bentuk persamaan
pemisahan

1
(X)

1
() +

2
(X)

2
() = u (2.21)
Terdapat kasus nondegenerate: |

1
(X)| +|

2
(X)| u dan |

1
()| +
|

2
()| u . Maka persamaan (2.21) ekuivalen dengan persamaan diferensial
biasa.

1
(X) +C

2
(X) = u, C

1
() -

2
() = u
28

dengan C adalah konstan. Persamaan

2
= u dan

1
= u sesuai dengan kasus
limit C = .
Kasus two degenerate:

1
(X) u,

2
(X) u =

1,2
() orc ony:

1
() u,

2
() u =

1,2
(X)orc ony.
2. Solusi dua bentuk persamaan (2.21) harus disubstitusikan ke persamaan
diferensial fungsional (2.19) untuk menghilangkan konstanta yang berlebihan dari
pengintegralan (ini muncul karena persamaan (2.21) yang diperoleh dari (2.19)
dengan diferensiasi).
3. Kasus
k
u harus diperlakukan secara terpisah (karena dilakukan pembagian
persamaan dengan
k
u pada tahap pertama). Demikian juga, harus dipelajari
semua kasus-kasus lain di mana fungsional dari persamaan diferensial fungsional
lanjut yang telah dibagi itu menghilang.
b. Contoh konstruksi dalam membangun pemisahan solusi analitik secara
umum.
Contoh 4:
Persamaan parabolik nonlinear orde dua.
w
t
= ow

2
w
x
2
+b [
w
x

2
+C
(2.22)
Dicari pemisahan solusi analitik dari persamaan (2.22) dalam bentuk
w = (t) +(t)0(x) (2.23)
Subtitusikan (2.23) ke (2.22) sehingga menghasilkan
29

t
i
-C +
t
i
0 = o0
xx
ii
+
2
|o00
xx
ii
+b(0
x
i
)
2
] (2.24)
Persamaan (2.24) dibagi dengan
2
dan diturunkan terhadap t dan x sehingga
diperoleh [

t
|

t
i
0
x
i
= o [
q

t
i
0
xxx
iii
.
Memisahkan variabel-variabel sehingga kita mendapatkan persamaan diferential
biasa.
0
xxx
iii
= K0
x
i
(2.25)
[

t
|

t
i
= oK[
q

t
i
(2.26)
dengan K adalah konstan.
Solusi umum dari persamaan (2.25) diberikan
0 = _
A
1
x
2
+A
2
x +A
3
jika K = u
A
1
c
xx
+A
2
c
-xx
+A
3
jika K = z
2
> u
A
1
sin(zx) +A
2
cos(zx) + A
3
jika K = -z
2
< u
(2.27)
dengan A
1
, A
2
, A
3
konstan.
Persamaan (2.46) diintegralkan sehingga menghasilkan
=
B
t+C
1
, (t) sebarang J ika K = u
= B +
1
uK

t
|

, (t) sebarang jika K = u


(2.28)
dengan B adalah konstan. Pada proses subtitusi solusi (2.27) dan (2.28) ke (2.24)
dapat menghilangkan konstanta yang berlebihan dan mendefinisikan fungsi dan
.

30

Di bawah ini disimpulkan hasil:


1. Solusi untuk o = -b uan o = -2b.
w =
c(u+2b)
2(u+b)
(t +C
1
) +C
2
(t +C
1
)
-
c
c+2b
-
(x+C
3
)
2
2(u+2b)(t+C
1
)
(sesuai untuk K = u)
uengan C
1
, C
2
, C
3
konstan.
2. Solusi untuk b = o:
w =
1
ux
2

t
|

+(A
1
c
xx
+A
2
c
-xx
) (sesuai untuk K = z
2
> u)
dengan fungsi = (t) adalah turunan dari persamaan diferensial biasa
autonomous.
Z
tt
ii
= ocz
2
+4o
2
z
4
A
1
A
2
c
2z
, = c
z

yang mana solusi itu dapat ditemukan dalam bentuk implicit. Pada kasus khusus,
A
1
= u atau A
2
= u kita mempunyai = C
1
exp[
1
2
ocz
2
t
2
+C
2
t.
3. Solusi b = -o:
w = -
1
ux
2

t
|

+|A
1
sin(zx) +A
2
cos(zx)] (sesuai untuk K = -z
2
< u)
dengan fungsi = (t) adalah turunan dari persamaan diferensial biasa
autonomous.
Z
tt
ii
= -ocz
2
+o
2
z
4
(A
1
2
+A
2
2
)c
2z
, = c
z

yang mana solusi itu dapat ditemukan dalam bentuk implisit.



31

2.7.4 Solusi Persamaan Diferensial Fungsional dengan Splitting.


a. Penjelasan metode
Penyederhanaan persamaan diferensial fungsional (2.19)-(2.20) dengan
diferensiasi, menyebabkan adanya konstanta yang berlebihan dari pengintegralan.
Konstanta tersebut harus dihilangkan pada saat tahap akhir. Selain itu, persamaan
yang dihasilkan mungkin saja memiliki orde yang lebih tinggi daripada persamaan
asli. Untuk menghindari kesulitan-kesulitan ini, harus dibawa solusi persamaan
diferensial fungsional ke solusi persamaan fungsional bilinear dari suatu bentuk
standar dan solusi dari sistem persamaan diferensial biasa. Dengan demikian masalah
asli dibagi menjadi dua masalah sederhana. Di bawah ini dijelaskan langkah-langkah
dasar metode pemisahan
1. Pada tahap pertama diperlakukan persamaan (2.19) sebagai persamaan fungsional
murni yang bergantung pada dua variabel X dan Y, dengan
n
=
n
(X) dan

n
=
n
() tidak diketahui jumlahnya (n =1, , k). Dapat ditunjukkan bahwa
persamaan fungsional bilinear (2.19) memiliki solusi yang berbeda untuk k-1:

(X) = C
,1

m+1
(X) +C
,2

m+2
(X) ++C
,k-m

k
(X),
i = 1, , m;

m+]
() = -C
1,]

1
() -C
2,]

2
() --C
m,]

m
(), ] =
1, , k -m;
(2.29)
2. Pada tahap kedua, disubstitusikan

(X) dan
]
() dari (2.20) ke semua solusi
(2.29) untuk mendapatkan sistem persamaan diferensial biasa (untuk fungsi yang
32

tidak diketahui
p
(x) dan
q
(y) ). Penyelesaian sistem ini didapatkan solusi
pemisahan secara umum dari bentuk (2.17).

















Gambar 2.1: Skema umum untuk mengkonstruksi solusi pemisahan secara
umum dengan splitting method.
PersamaanAwal:F(x, y, w, w
x
, w

, w
xx
, w
x
, w

, ) = u
Mencarisolusipemisahansecaraumum
Mendefinisikansolusi:w =
1
(x)
1
(y) ++
n
(x)
n
(y)
Substitusikankepersamaanawal
Menuliskankembalipersamaandiferensialfungsional
Memakaisplittingprosedure
Diperoleh:(i)persamaanfungsional,(ii)menentukansistempersamaandiferensialbiasa
Perlakukanpersamaanfungsional(i)
Menyelesaikanpersamaanfungsional:
1
(x)
1
(y) ++
k
(x)
k
(y) = u
Substitusikan
m

m
padasistemyang
telahditentukan(ii)
Menyelesaikansistempersamaandiferensialbiasayangtelahditentukan
Memperoleh
m
dan
m
darisistempersamaan
diferensialbiasayangtelahditentukan
Menuliskankembalisolusipemisahansecaraumumdaripersamaanawal
33

b. Solusi dari persamaan fungsional sederhana dan aplikasinya


1. persamaan fungsional

1
+
2

2
+
3

3
= u (2.30)
dengan

adalah semua fungsi dari argumen yang sama dan

adalah semua fungsi


dari argumen lainnya, yang mana mempunyai dua solusi

1
= A
1

3
,
2
= A
2

3
,
3
= -A
1

1
-A
2

2
;

1
= A
1

3
,
2
= A
2

3
,
3
= -A
1

1
-A
2

2
;
(2.31)
Sebarang konstanta diubah namanya menjadi A
1
= C
1,1
dan A
2
= C
2,1
pada solusi
pertama, dan pada solusi kedua A
1
= -
1
C
1,2
dan A
2
=
C
1,1
C
1,2
. Fungsi dari sisi sebelah
kanan persamaan (2.30) diasumsikan sebarang.
2. Persamaan fungsional

1
+
2

2
+
3

3
+
4

4
= u (2.32)
dengan

semua fungsi dari argumen yang sama dan

adalah semua fungsi dari


argumen lainnya, mempunyai solusi

1
= A
1

3
+A
2

4
,
2
= A
3

3
+A
4

4
;

3
= -A
1

1
-A
3

2
,
4
= -A
2

1
-A
4

2
;
(2.33)
bergantung pada empat konstanta sebarang A
1
, , A
4
. Lihat solusi (2.29) dengan
k = 4, m = 2, C
1,1
= A
1
, C
1,2
= A
2
, C
2,1
= A
3
dan C
2,2
= A
4
.
Fungsi dari sisi kanan persamaan (2.31) diasumsikan sebarang.


34

Persamaan (2.32) juga mempunyai dua solusi yang lain

1
= A
1

4
,
2
= A
2

4
,
3
= A
3

4
,
4
=
-A
1

1
-A
2

2
-A
3

3
;

1
= A
1

4
,
2
= A
2

4
,
3
= A
3

4
,
4
=
-A
1

1
-A
2

2
-A
3

3
;
(2.34)
yang melibatkan tiga konstanta sebarang. Pada solusi pertama A
1
= C
1,1
, A
2
=
C
2,1
, dan A
3
= C
3,1
dan di solusi kedua A
1
= -
1
C
1,3
, A
2
= C
1,1
C
1,3
dan A
3
=
C
1,2
C
1.3
.
Solusi (2.34) terkadang disebut degenerated, untuk menegaskan fakta bahwa solusi
(2.34) memuat lebih sedikit konstanta sebarang daripada solusi (2.33).
Contoh 5:
Persamaan nonlinear

2
w
xt
+[
w
x

2
-w

2
w
x
2
= v

3
w
x
3

(2.35)
dicari solusi analitik dari bentuk
w = (t)0(x) +(t) (2.36)
Substitusi (2.36) ke dalam persamaan (2.35) sehingga menghasilkan

t
i
0
x
i
-0
xx
ii
+
2
|(0
x
i
)
2
-00
xx
ii
] -v0
xxx
iii
= u
Persamaan diferensial fungsional ini dapat dikurangi ke persamaan (2.32) dengan

1
=
t
i
,
2
= ,
3
=
2
,
4
= v,

1
= 0
x
i
,
2
= -0
xx
ii
,
3
= (0
x
i
)
2
-00
xx
ii
,
4
= -0
xxx
iii

(2.37)

35

Substitusi (2.37) ke persamaan (2.33) diperoleh sistem persamaan

t
i
= A
1

2
+A
2
v, = A
3

2
+A
4
v, (0
x
i
)
2
-00
xx
ii
=
-A
1
0
x
i
+A
3
0
xx
ii
,
0
xxx
iii
= A
2
0
x
i
-A
4
0
xx
ii

Ini dapat ditunjukkan bahwa dua persamaan terakhir di (2.37) adalah konsisten jika
dan hanya jika fungsi 0 dan turunannya bergantung linear.
0
x
i
= B
1
0 +B
2
(2.38)
enam konstanta B
1
, B
2
, A
1
, A
2
, A
3
, uan A
4
harus memenuhi tiga kondisi
B
1
(A
1
+B
2
-A
3
B
1
) = u,
B
2
(A
1
+B
2
-A
3
B
1
) = u,
B
1
2
+A
4
B
1
-A
2
= u
(2.39)
Integralkan (2.38) sehingga menghasilkan
0 = _
B
3
exp(B
1
x) -
B
2
B
1
, ]iko B
1
= u
B
2
x +B
3
, ]iko B
1
= u
(2.40)
dengan B
3
adalah sebarang konstanta.
Dua persamaan pertama di (2.38) menyebabkan dan :
= _
A
2
v
C cxp(-A
2
vt)-A
1
, ]iko A
2
= u
-
1
A
1
t+C
, ]iko A
2
= u
= A
3
+A
4
v (2.41)
dengan C adalah sebarang konstanta.
Formula (2.40), (2.41) dengan relasi (2.39) mengarahkan untuk menemukan solusi
persamaan (2.35) dalam bentuk (2.36):
36

w =
x+C
1
t+C
2
+C
3
, ]iko A
2
= B
1
= u, B
2
= -A
1

w =
C
1
c
-Zx
+1
xt+C
2
+vz, ]iko A
2
= u, B
1
= -A
4
, B
2
= -A
1
-A
3
A
4

w = C
1
c
-x(x+[vt)
+v(z +[), ]iko A
1
= A
3
= B
2
= u, A
2
= B
1
2
+A
4
B
1

w =
v[+C
1
c
-Zx
1+C
2
c^-vx[t
+v(z -[), ]iko A
1
= A
3
B
1
-B
2
, A
2
= B
1
2
+A
4
B
1

dengan C
1
, C
2
, C
3
, [, uan z sebaiang konstanta.
Analisis dari solusi kedua persamaan (2.34) dari persamaan fungsional (2.32)
menyebabkan solusi persamaan diferensial (2.35) lebih dari dua
w =
x
t +C
1
+(t), w = (t)c
-xx
-

t
i
(t)
z(t)
+vz
dengan (t) dan (t) sebarang fungsi, dan C
1
uan z adalah sebarang konstanta.
2.7.5 Penyederhanaan Skema untuk Mengkonstruksi Solusi Pemisahan secara
Umum
a. Penjelasan penyederhanaan skema
Untuk membangun solusi analitik dari persamaan (2.18) dengan nonlinear
kuadratik yang tidak bergantung secara eksplisit pada x (semua

konstan), ini masuk


akal untuk menggunakan pendekatan yang disederhanakan berikut. Seperti
sebelumnya, dicari solusi dalam bentuk penjumlahan terbatas (2.17). Disumsikan
bahwa sistem koordinat fungsi {

(x)] diatur oleh persamaan diferensial linear


dengan koefisien konstan. Solusi yang paling umum untuk persamaan tersebut adalah
bentuk
37

(x) = x

(x) = c
x
i
x
,

(x) = sin(o

x) ,

(x) =
cos([

x)
(2.42)
Rangkaian fungsi ini terhingga (dalam berbagai kombinasi) dapat digunakan
untuk mencari solusi pemisahan (2.17), dengan z

, o

, dan [

dianggap sebagai
parameter bebas. Sistem fungsi lain {

(y)] ditentukan dengan menyelesaikan


persamaan nonlinear karena mengganti (2.17) ke dalam persamaan yang
dipertimbangkan.
b. contoh konstruksi solusi analitik persamaan orde tinggi
contoh 6:
Persamaan lapisan batas laminar di plat yang direduksi menjadi persamaan nonlinear
tunggal orde tiga untuk stream function:
ow
oy
o
2
w
oxoy
-
ow
ox

o
2
w
oy
2
= v
o
3
w
oy
3

Selanjutnya dicari solusi pemisahan secara umum dengan bentuk
w(x, y) = x(y) +0(y)

2.8 Metode Pemisahan Variabel Fungsional
2.8.1 Struktur penyelesaian terpisah fungsional
Misalkan persamaan linear untuk w = w (x, y) yang diperoleh dari
persamaan linear matematika fisika untuk z = z (x, y) dengan perubahan nonlinear
dalam variabel w = F(z) . Kemudian jika persamaan linear untuk z mempunyai
38

solusi terpisah, persamaan nonlinear yang ditransformasikan untuk w akan


mempunyai penyelesaian analitik dari bentuk
w(x, y) = F(z), dimana z =
m
(x)
m
(y).
n
m=1
(2.43)
Perlu dicatat bahwa banyak persamaan diferensial nonlinear yang tidak dapat
direduksi menjadi persamaan linear yang memiliki penyelesaian analitik dari bentuk
(2.43) juga. Penyelesaian-penyelesaian tersebut disebut penyelesaian terpisah
fungsional. Secara umum, fungsi-fungsi
m
(x),
m
(y), uan F(z) pada (2.64) tidak
diketahui sebelumnya dan harus diidentifikasi.
Persamaan diferensial fungsional yang dihasilkan dari substitusi (2.43) dalam
persamaan diferensial parsial asli direduksi ke bentuk persamaan fungsional bilinear
standar. Dalam pemisahan variabel fungsional, mencari solusi dalam bentuk w =
F((x) +(y)) dan w = F((x)(y)) menghasilkan hasil yang setara, karena dua
bentuk adalah ekivalen secara fungsional. Maka dari itu, kita punya F((x)(y)) =
F((x) +(y)), dimana F
1
(z) = F(c
z
),
1
(x) = ln(x), dan
1
(y) = ln(y).
Dalam mengkonstruksi solusi pemisahan fungsional dengan bentuk w = F((x) +
(y)) , diasumsikan bahwa dan bukan konstanta. Fungsi F(z) bisa dihitung
dengan persamaan diferensial biasa atau dengan overdetermined system dari
persamaan, keduanya mungkin dipakai.



39

2.8.2 Penyelesaian Terpisah Fungsional Khusus


Untuk mempermudah analisis, beberapa dari fungsi di (2.43) bisa di singkat
sebuah priori dan fungsi yang lain yang akan didefinisikan. Ini disebut sebuah
penyelesaian pemisahan fungsional khusus. Lihat kembali pemisahan fungsional
khusus dari bentuk (2.43) dalam kasus khusus dengan komposit argumen adalah
linear di salah satu variabel bebas (misal: di x). Disubstitusikan (2.43) ke persamaan
yang dipelajari dan mengeliminasi x menggunakan ekspresi dari z untuk
mendapatkan persamaan diferensial fungsional dengan dua argumen.
Berikut adalah solusi sederhana pemisahan fungsional dari bentuk khusus (x
dan y dapat ditukar)
w = F(z), z =
1
(y)x +
2
(y) (z adalah linier di x);
w = F(z), z =
1
(y)x
2
+
2
(y) (z adalah kuadratik di x);
w = F(z), z =
1
(y)c
xx
+
2
(y) (z memuat eksponensial x).
Solusi pertama disebut solusi traveling-wave umum. Dalam rumus terakhir,
c
xx
dapat diganti dengan cosb(ox + b), sinb(ox + b), atau sin(ox + b) untuk
mendapatkan 3 modifikasi yang lain.
Setelah mensubstitusikan sembarang pernyataan diatas ke persamaan dasar,
harus dihilangkan x dengan bantuan pernyataan z. Ini akan menghasilkan sebuah
persamaan diferensial fungsional dengan dua argument, y dan z.


40

2.9 Persamaan Linier Homogen dengan Koefisien Konstan


Suatu persamaan diferensial linier homogen orde dua dengan koefisien
konstan
oy
ii
+by
i
+cy = u (2.44)
dengan o, b, c adalah konstanta real dan o = u, maka solusi umum dari persamaan
(2.64) adalah
y = c
1
y
1
+c
2
y
2

dengan c
1
uan c
2
konstan.
Selanjutnya jika y = c
x
disubstitusikan ke persamaan (2.44) maka diperoleh
or
2
c
x
+brc
x
+cc
x
= u
c
x
(or
2
+br +c) = u .
Karena c
x
tidak mungkin dama dengan nol, maka persamaan diatas dapat dibagi
dengan c
x
, sehingg kita peroleh
or
2
+br +c = u (2.45)
Akibatnya y = c
x
adalah solusi untuk persamaan (2.44) jika dan hanya jika r
memenuhi persamaan (2.45). Persamaan (2.45) disebut auxiliary equation yang
dihubungkan dengan persamaan homogen.
Disini auxiliary equation adalah kuadratik, dan akar-akarnya adalah sebagai berikut:
r
1
=
-b +b
2
-4oc
2o
, uan r
2
=
-b -b
2
-4oc
2o

41

Ketika b
2
-4oc > u, akar r
1
uan r
2
adalah real dan nyata. J ika b
2
-4oc = u, maka
akar-akarnya real dan sama. Ketika b
2
-4oc < u maka akar-akarnya adalah
bilangan kompleks konjugat.
J ika auxiliary equation mempunyai akar-akar real yang berbeda (distinct real
roots) yaitu akar-akar real r
1
dan r
2
, maka c

1
x
dan c

2
x
adalah solusi untuk
persamaan (2.44). Oleh karena itu, solusi umum dari persamaan (2.44) adalah
y(x) = c
1
c

1
x
+c
2
c

2
x

dengan c
1
dan c
2
konstan.
J ika auxiliary equation mempunyai akar kembar (repeated root) yaitu r, maka
solusi untuk persamaan (2.44) adalah c
x
dan xc
x
, dan solusi umumnya adalah
y(x) = c
1
c
x
+c
2
xc
x

dengan c
1
dan c
2
konstan.
J ika auxiliary equation mempunyai akar-akar kompleks (complex conjugate
roots) yaitu o _i[, maka solusi untuk persamaan (2.45) adalah
c
ux
cos [x uan c
ux
sin[x
dan solusi umumnya adalah
y(x) = c
1
c
ux
cos [x +c
2
c
ux
cos [x
dengan c
1
dan c
2
konstan (Nagle, 1993:153-162).



42

2.10 Konstruksi Persamaan Saint Venant 2D


Pandang persamaan Navier-Stokes
ou
ot
+u
ou
ox
+:
ou
oy
= -
op
ox
+v _
o
2
u
ox
2
+
o
2
u
oy
2
_
(2.46)
o:
ot
+u
o:
ox
+:
o:
oy
= -
op
oy
+v _
o
2
:
ox
2
+
o
2
:
oy
2
_
(2.47)
dan persamaan kontinuitas
ou
Jx
+
o:
Jy
= u
(2.48)
Selanjutnya akan dikonstruksi kondisi kinematik permukaan perairan dengan
fungsi permukaan perairan z = p(x, y, t).






Gambar 2.2: Penampang gelombang perairan dangkal
Erich Zauderer (2006) dalam bukunya yang berjudul Partial Differential
Equations of Applied Mathematics menyebutkan bahwa:
Distribusi probabilitas :(x, t) memenuhi persamaan diferensial
:(x, t +) = p:(x -o, t) +q:(x +o, t)
Free surface (p)
River bottom(-b)
43

Persamaan ini menyebutkan bahwa probabilitas partikel di x pada saat t + sama


dengan probabilitas partikel di x -o pada saat t dikalikan dengan probabilitas p
yang berpindah ke kanan ditambah dengan probabilitas partikel di x +o pada saat t
dikalikan dengan probabilitas q yang berpindah ke kanan, sehingga distribusi
probabilitas permukaan perairan p(x, y, t) dapat dinyatakan sebagai berikut
p(x, y, t +) = pp(x -o, y) +gp(x +o, y)
Bentuk di atas dapat diuraikan kembali menjadi
p(x, y) +p
t
(x, y) = p jp(x, y) -op
x
(x, y) +
1
2
o
2
p
xx
(x, y)[ +
q _p(x, y) +op
x
(x, y) +
1
2
o
2
p
xx
(x, y)_
atau
p
t
(x, y) = (p +q -1)p(x, y) +(q -p)op
x
(x, y) +
1
2
(p +q)o
2
p
xx
(x, y)
Dengan asumsi bahwa probabilitas p +q = 1, maka bentuk terakhir dapat ditulis
p
t
(x, y) = (q -p)op
x
(x, y) +
1
2
o
2
p
xx
(x, y)
yakni
p
t
(x, y) =
(q -p)

op
x
(x, y) +
1
2
o
2

p
xx
(x, y)
Dengan asumsi q -p = u dan lim
6-0,:-0
6
:
= y = u, maka
p
t
(x, y) = up
x
(x, y) +E(o
2
)
yakni
p
t
(x, y) = up
x
(x, y)
44

Sehingga diperoleh distribusi probabilitas permukaan perairan pada saat partikel


berada di x -o, y pada saat t dan x +o, y pada saat t, yaitu
p
t
(x, y) = up
x
(x, y) (2.49)
Selanjutnya, distribusi probabilitas permukaan perairan pada saat partikel
berada di x, y -o pada saat t dan x, y +o pada saat t
p(x, y, t +) = pp(x, y -o) +gp(x, y +o)
Bentuk di atas dapat diuraikan kembali menjadi
p(x, y) +p
t
(x, y) = p _p(x, y) -op

(x, y) +
1
2
o
2
p

(x, y)_ +
q jp(x, y) +op

(x, y) +
1
2
o
2
p

(x, y)[
atau
p
t
(x, y) = (p +q -1)p(x, y) +(q -p)op

(x, y) +
1
2
(p +q)o
2
p

(x, y)
Dengan asumsi bahwa probabilitas p +q = 1, maka bentuk terakhir dapat ditulis
p
t
(x, y) = (q -p)op

(x, y) +
1
2
o
2
p

(x, y)
yakni
p
t
(x, y) =
(q -p)

op

(x, y) +
1
2
o
2

(x, y)
Dengan asumsi q -p = u dan lim
6-0,:-0
6
:
= y = :, maka
p
t
(x, y) = :p

(x, y) +E(o
2
)
yakni
p
t
(x, y) = :p

(x, y)
45

Sehingga diperoleh distribusi probabilitas permukaan perairan pada saat partikel


berada di x, y -o pada saat t dan x, y +o pada saat t, yaitu
p
t
(x, y) = :p

(x, y) (2.50)
Sehingga penjumlahan persamaan (2.49) dan (2.50) adalah
2p
t
(x, y) = up
x
(x, y) +:p

(x, y)
yakni
p
t
(x, y) =
u
2
p
x
(x, y) +
:
2
p

(x, y)
Jz = p
t
(x, y) = u
s
p
x
(x, y) +:
s
p

(x, y) (2.51)
Sehingga diperoleh persamaan (2.51) yang merupakan kondisi kinematik di
permukaan.
Setelah kondisi kinematik di permukaan sudah didapatkan, selanjutnya akan
dikonstruksi kondisi batas di dasar perairan dengan fungsi z = -b(x, y). Kondisi
batas di dasar perairan didapatkan serupa dengan kondisi kinematik di permukaan.
Distribusi probabilitas z pada saat berada di x -o, y pada saat t dan x +o, y pada
saat t
-b(x, y, t +) = -p|b(x -o, y)] -g|b(x +o, y)]
Bentuk di atas dapat diuraikan kembali menjadi
-|b(x, y) +b
t
(x, y)] = -p _b(x, y) -ob
x
(x, y) +
1
2
o
2
b
xx
(x, y)_ -
q jb(x, y) +ob
x
(x, y) +
1
2
o
2
b
xx
(x, y)[

46

atau
-b
t
(x, y) = (-p -q +1)b(x, y) +(p -q)ob
x
(x, y) +
1
2
(-p -q)o
2
b
xx
(x, y)
yakni
-b
t
(x, y) = -(q -p)ob
x
(x, y) +(-1)
1
2
o
2
b
xx
(x, y)
sehingga
b
t
(x, y) =
-(q -p)
-
ob
x
(x, y) +E(o
2
)
Dengan asumsi q -p = u dan lim
6-0,:-0
6
:
=u (kecepatan di x), maka
b
t
(x, y) = ub
x
(x, y) +E(o
2
)
yakni
b
t
(x, y) = u
b
b
x
(x, y)
Sehingga diperoleh distribusi probabilitas dasar perairan pada saat partikel berada di
x -o , ypada saat t dan x +o , ypada saat t, yaitu
b
t
(x, y) = u
b
b
x
(x, y) (2.52)
Distribusi probabilitas dasar perairan pada saat partikel berada di x, y -o
pada saat t dan x , y +o pada saat t
-b(x, y, t +) = -p|b(x, y -o)] -g|b(x, y +o)]
Bentuk di atas dapat diuraikan kembali menjadi
-|b(x, y) +b
t
(x, y)] = -p _b(x, y) -ob

(x, y) +
1
2
o
2
b

(x, y)_ -
q jb(x, y) +ob

(x, y) +
1
2
o
2
b

(x, y)[
47

atau
-b
t
(x, y) = (-p -q +1)b(x, y) +(p -q)ob

(x, y) +
1
2
(-p -q)o
2
b

(x, y)
yakni
-b
t
(x, y) = -(q -p)ob

(x, y) +(-1)
1
2
o
2
b

(x, y)
sehingga
b
t
(x, y) =
-(q -p)
-
ob

(x, y) +E(o
2
)
Dengan asumsi q -p = u dan lim
6-0,:-0
6
:
=: (kecepatan di y), maka
b
t
(x, y) = :b

(x, y) +E(o
2
)
yakni
b
t
(x, y) = :
b
b

(x, y)
Sehingga diperoleh distribusi probabilitas dasar perairan pada saat partikel berada di
x, y -o pada saat t dan x, y +o pada saat t yaitu
b
t
(x, y) = :
b
b

(x, y) (2.53)
Selanjutnya penjumlahan persamaan (2.52) dan (2.53) adalah
2b
t
(x, y) = u(-b)
x
(x, y) +:(-b)

(x, y)
yakni
ub
x
(x, y) +:b

(x, y) = u


48

Sehingga diperoleh kondisi batas di dasar perairan sebagai berikut


u
b
b
x
+:
b
b

= u (2.54)
Dalam hal ini, b(x, y) adalah kedalaman perairan.
Selanjutnya akan dilakukan pengintegralan fungsi kontinu. Dalam hal ini
z = p(x, y, t), maka z = p(x(t), y(t)). Selanjutnya berdasarkan kondisi kinematik di
permukaan (2.51) dan kondisi batas di dasar perairan (2.54), maka
u
b
b
x
+:
b
b

= u
yakni
= u
b
(-b)
x
+:
b
(-b)

= u
Pinch (1992:37) dalam buku yang berjudul Optimal Control and The
Calculus of Variations menyebutkan bahwa
_ _p
o
ox
+p
o
ox
] Jt
t
1
t
0

dapat diselesaikan dengan mengintegralkan masing-masing ditambahkan dengan
kondisi batasnya sehingga
_ p
o
ox
Jt = _p
o
ox
__
t
1
t
0
t
1
t
0
-_ p
o
ot
_
o
ox
] Jt
t
1
t
0

Akibatnya, integral fungsi kontinu
_
ou
Jx
+_
o:
Jy
q
-h
q
-h
= _u
__ uJz
q
-h
_
x
-u
s
p
x
+u
b
(-b)
x
+__ :Jz
q
-h
_

-:
s
p

+:
b
(-b)

= u
49

__ uJz
q
-h
_
x
+__ :Jz
q
-h
_

-u
s
p
x
-:
s
p

+u
b
(-b)
x
+:
b
(-b)

= u
__ uJz
q
-h
_
x
+__ :Jz
q
-h
_

-u
s
p
x
-:
s
p

+u = u
__ uJz
q
-h
_
x
+__ :Jz
q
-h
_

-p
t
= u
(2.55)
Selanjutnya ditentukan fungsi tekanan di permukaan maupun di dasar
perairan. Tekanan di perairan di pengaruhi oleh tekanan atmosfir (p
u
), gaya gravitasi
bumi terhadap permukaan (g) dan gaya gravitasi bumi terhadap dasar.






Gambar 2.3: Ilustrasi tekanan atmosfer dan gaya gravitasi
Dalam hal ini g(b(x, y)) dapat diabaikan sehingga
p(x, y) = p
u
(x, y) +g(p(x, y))
Dengan p
u
(x, y) adalah suatu konstanta, akibatnya jika dianggap p
u
(x, y) =
p(x
0
, y
0
) = u maka p(x, y) = g(p(x, y))
p
u
(x, y)
g(p(x, y))
g(b(x, y))
50

Sehingga distribusi probabilitas p pada saat partikel berada di x +o, y pada saat t
dan distribusi probabilitas p pada saat partikel berada di x +o, y pada saat t
dikalikan g adalah sama.
p(x +o, y) = g|p(x +o, y)]
Bentuk di atas dapat diuraikan menjadi
p(x, y) +op
x
(x, y) = g|p(x, y) +op
x
(x, y)]
atau
op
x
(x, y) = g(p(x, y)) -p(x, y) +gop
x
(x, y)
Karena p(x, y) dan p(x, y) dianggap sama, maka
p
x
(x, y) = g_
o
o
p
x
(x, y)_
sehingga
p
x
(x, y) = gp
x
(x, y) (2.56)
Begitu juga distribusi probabilitas p pada saat partikel berada di x, y +o pada saat t
dan distribusi probabilitas p pada saat partikel berada di x, y +o pada saat t
dikalikan g adalah sama.
p(x, y +o) = g|p(x, y +o)]
Bentuk di atas dapat diuraikan kembali menjadi
p(x, y) +op

(x, y) = g|p(x, y) +op

(x, y)]
atau
op

(x, y) = g(p(x, y)) -p(x, y) +gop

(x, y)
51

Karena g(p(x, y)) -p(x, y) dianggap sama, maka


p

(x, y) = g_
o
o
p

(x, y)_
sehingga
p

(x, y) = gp

(x, y) (2.57)
Persamaan (2.56) dan (2.57) Navier-Stokes menjadi:
ou
ot
+u
ou
ox
+:
ou
oy
= -gp
x
+v _
o
2
u
ox
2
+
o
2
u
oy
2
_
(2.58)
o:
ot
+u
o:
ox
+:
o:
oy
= -gp

+v _
o
2
:
ox
2
+
o
2
:
oy
2
_
(2.59)
Selanjutnya konstruksi kondisi tangensial stress di x dan di y (kondisi tekanan
permukaan). J ika diasumsikan permukaan air laminer/flat horizontal, maka bentuk
tekanan di batas searah x dan y (stress boundary conditions):

Gambar 2.4: Kondisi tekanan di permukaan perairan
Akibatnya tekanan searah x adalah up
x
= p
t
-:p


Artinya u
x
p
x
= p
t
-:

= p
x
(x
1
, y
1
) -p
u
(x
0
, y
0
) = |u
u
-u
s
|


52

Sehingga diperoleh kondisi tangensial stress di x


u
x
p
x
= y
1
(|u
u
-u
s
|)
Tekanan searah y adalah :p

= p
t
-:p
x

artinya :

= p
t
-u
x
p
x
= p

(x
1
, y
1
) -p
u
(x
0
, y
0
) = |:
u
-:
s
|
Sehingga diperoleh kondisi tangensial stress di y:
:

= y
1
|:
u
-:
s
|
Maka
v j

2
u
x
2
+

2
u

2
[ = v j(u
x
)
x
+(:

[
= v(u
x
)
x
+v(:


= y
1
(|u
u
-u
s
|) +y
1
|:
u
-:
s
|
Selanjutnya ditentukan kondisi batas untuk tekanan di dasar perairan. Pada daerah
dasar perairan, tekanan/stress hanya dipengaruhi oleh gaya gravitasi bumi.
p(x, y) = g(-b(x, y))
atau
p(x, y) - g(-b(x, y)) = u
Sehingga stress searah x dan y adalah
p(x +o, y) = g(-b(x +o, y))
p(x, y +o) = g(-b(x, y +o))
Untuk stress searah sumbu x:
p(x, y) +op
x
(x, y) = g(-b(x, y) +o(-b
x
)(x, y))
53

atau
op
x
(x, y) = g(-b(x, y)) -p(x, y) +o(-b
x
)(x, y)
Karena g(-b(x, y)) -p(x, y) = u
Maka p
x
(x, y) = -b
x
(x, y)
Untuk stress searah sumbu y:
p(x, y) +op

(x, y) = g(-b(x, y) +o(-b

)(x, y))
atau
op

(x, y) = g(-b(x, y)) -p(x, y) +o(-b

)(x, y)
Karena g(-b(x, y)) -p(x, y) = u
maka p

(x, y) = -b

(x, y)
Kondisi tekanan di dasar perairan dapat diilustrasikan dalam gambar di bawah ini:

Gambar 2.5: Kondisi tekanan di dasar perairan
yaitu
b
t
(x, y) = u
b
b
x
(x, y)
b
t
(x, y) = :
b
b

(x, y)
u
b
b
x
+:
b
b

= u

54

Artinya stress searah sumbu x di dasar hanya dipengaruhi kecepatan di dasar


u
x
= u
b

sehingga fungsi stress searah x adalah:
u
x
b
x
= y
B
(u
b
)
Selanjutnya
:

= :
b

Artinya fungsi stress searah y adalah:
:

= y
B
(:
b
)
Sehingga kondisi batas di dasar perairan
u
x
b
x
= y
B
(u
b
) dan :

= y
B
(:
b
)
Selanjutnya the laterally/depth shallow water equation (konstruksi persamaan
di sepanjang x dan sepanjang y perairan dangkal) adalah sebagai berikut.
a) Konstruksi persamaan lateral/searah x





Gambar 2.6: Pergerakan partikel pada batas kiri dan kanan


l(x, y) r(x, y)
B(x, y) = |l(x, y) - r(x, y)|
55

Konstruksi persamaan diferensial di x di kanan


a) u

= ur(x +o, y) +:r(x, y +o)


yakni
u

= ur
x
(x, y) +:r

(x, y)......................kondisi kecepatan ke kanan


b) u
I
= ul(x -o, y) +:r(x, y -o)
yakni
u
I
= ul
x
(x, y) +:l

(x, y)..........................kondisi kecepatan ke kiri


b) Kondisi batas kekentalan di kiri dan kanan
v(u
x
l
x
-u

) = y
I
u.........................................kondisi batas kekentalan di kanan
-v(u
x
r
x
-u

) = y

u.........................................kondisi batas kekentalan di kiri


c) Integral Persamaan Momentum Navier-Stokes terhadap batas kanan dan kiri
Dengan mengasumsikan bahwa x
1
= r(x, y) dan x
2
= l(x, y), B(x, y) =
|x
2
-x
1
| = |l(x, y) -r(x, y)|, dan integral percepatan=kecepatan, yaitu ]
u
x
Jz = u
dan ]
u
x
Jz = |
]uJz]
x
,
Sehingga rata-rata kecepatan sepanjang x adalah:
u
1
=
1
B
_ uJx
x
2
=I
x
1
=

u
2
=
1
B
_ uJy
x
2
=I
x
1
=



56

Rata-rata permukaan p:
p
1
=
1
B
_ pJx
x
2
x
1

p
2
=
1
B
_ pJy
x
2
x
1

Rata-rata kecepatan searah sumbu y:
I
1
=
1
B
_ :Jx
I


I
2
=
1
B
_ :Jy
I


Selanjutnya adalah integral ruas kiri x momentum Navier-Stokes (2.58) adalah
] j
u
t
+u
u
x
+:
u

[
x
2
=I
x
1
=
Jx
= [] u Jx
x
2
=I
x
1
=

t
+[] uu Jx
I


x
+[] :u Jx
I

+u|
l
r
[] u Jx
I


x
+:|
l
r
[] u Jx
I


Karena :|
l
r
[] u Jx
I

diabaikan maka:
_ _
ou
ot
+u
ou
ox
+:
ou
oy
_
x
2
=I
x
1
=
Jx
= (Bu
1
)
t
+(u
1
Bu
1
)
x
+(BI
1
u
1
)

+u

|ur
x
(x, y) +:r

(x, y) -u

] -
u
I
|ul
x
(x, y) +:l

(x, y) -u
I
]
= (Bu
1
)
t
+(Bu
1
u
1
)
x
+(BI
1
u
1
)

+(u

|ur
x
(x, y) -u

] -u
I
|ul
x
(x, y) -u
I
]) +
u

|:r

(x, y)] -u
I
|:l

(x, y)]
57

= (Bu
1
)
t
+(Bu
1
u
1
)
x
+(BI
1
u
1
)

+|u(u

r
x
(x, y) -u
I
l
x
(x, y))] -u

+u
I
u
I
+
|u

:r

(x, y)] -|u


I
:l

(x, y)]
= (Bu
1
)
t
+(Bu
1
u
1
)
x
+(BI
1
u
1
)

+j]
(u -u
1
)Jx
I

[
x
+
j]
(u -u
1
)(: -I
1
)Jx
I


(2.60)
Selanjutnya adalah integral gradient tekanan barotropik pada ruas kanan x
momentum Navier-Stokes (2.58) adalah

p
I
l(x -o, y) p(x, y, t +) p

r(x +o, y)
Gambar 2.7: Pergerakan partikel di x momentum
sehingga:
p((x, y, t +) = pl(x -o, y) +pr(x +o, y)
Bentuk diatas dapat diuraikan kembali sebagai berikut:
p(x, y) +p
t
(x, y) = p|l(x, y) -ol
x
(x, y)] +p|r(x, y) +or
x
(x, y)]
atau
p(x, y) +p
t
(x, y) = p|l(x, y) -r(x, y)] -pol
x
(x, y) +por
x
(x, y)

yakni
p(x, y) +p
t
(x, y) = p(x, y) -pol
x
(x, y) +por
x
(x, y)
atau
p
t
(x, y) = -opl
x
(x, y) +opr
x
(x, y)


58

yakni
p
t
(x, y) =
-o

pl
x
(x, y) +
o

pr
x
(x, y)

atau
p
t
(x, y) = ypl
x
(x, y) +ypr
x
(x, y) ,vlim
6 -0
:-0
6
:
= y
sehingga:
] p
x
Jx = [] p Jx
I


x
I

+p
t
(x, y)
] p
x
Jx = [] p Jx
I


x
I

-p
I
l
x
(x, y) +p

r
x
(x, y)
= (Bp
1
)
x
-(p
I
-p
1
)l
x
+(p

-p
1
)r
x
(2.61)
Selanjutnya integral kekentalan pada ruas kanan x momentum Navier-Stokes
(2.60) dari kiri ke kanan adalah
_v _
o
2
u
ox
2
+
o
2
u
oy
2
_
I

Jx = _ |(vu
x
)
x
+(vu

]
I

Jx
Dengan menggunakan asumsi kondisi batas kekentalan di sepanjang sumbu x yaitu:
v(u
x
l
x
-u

) = y
I
u
v(u
x
r
x
-u

) = y

u
Dalam hal ini
vu(x, y, t +) = vur(x +o, y) +vul(x -o, y)
Bentuk diatas dapat diuraikan kembali menjadi
vu(x, y) +vu
t
(x, y) = vur(x, y) +vuor
x
(x, y) +vul(x, y) -vuol
x
(x, y)
59

atau
vu(x, y) +vu
t
(x, y) = vu(r(x, y) -l(x, y)) +vuor
x
(x, y) -vuol
x
(x, y)
yakni
vu(x, y) +vu
t
(x, y) = vu(x, y) +vuor
x
(x, y) -vuol
x
(x, y)
sehingga
vu
t
(x, y) = vuor
x
(x, y) -vuol
x
(x, y)
yakni
vu
t
(x, y) = vu
o

r
x
(x, y) -vu
o

l
x
(x, y)
sehingga
vu
t
(x, y) = vur
x
(x, y) -vul
x
(x, y)
Sehingga integral ruas kiri pada kekentalan Navier-Stokes adalah
_ (vu
x
)
x
Jx +
I

_ (vu

Jx
I


= __ vu
x
Jx
I

_
x
+__ vu

Jx
I

+v(u
x
l
x
-u

) - v(u
x
r
x
-u

)
= __ vu
x
Jx
I

_
x
+__ vu

Jx
I

+v(u
x
l
x
-u
x
r
x
) +v(u

-u

)
= (I
1
B(u
1
)
x
)
x
+(I
1
B(u
1
)

+v(u
x
l
x
-u
x
r
x
)
= (I
1
B(u
1
)
x
)
x
+(I
1
B(u
1
)

+vu
1

(2.62)

60

Sehingga diperoleh kesimpulan umum integral x momentum Navier-Stokes sebagai


berikut:
1. Ruas kiri Navier-Stokes (2.60)
(Bu
1
)
t
+(Bu
1
u
1
)
x
+(BI
1
u
1
)

+j]
(u -u
1
)Jx
I

[
x
+
j]
(u -u
1
)(: -I
1
)Jx
I


dengan j]
(u -u
1
)Jx
I

[
x
+j]
(u -u
1
)(: -I
1
)Jx
I

diabaikan karena terlalu


kecil
2. Integral tekanan (2.61)
(Bp
1
)
x
-(p
I
-p
1
)l
x
+(p

-p
1
)r
x

dengan -(p
I
-p
1
)l
x
+(p

-p
1
)r
x
diabaikan karena terlalu kecil
3. Integral kekentalan (2.62)
(v
1
B(u
1
)
x
)
x
+(v
1
B(u
1
)

+vu
1

Sehingga persamaan x momentum Saint Venant 2D adalah:
(Bu
1
)
t
+(Bu
1
u
1
)
x
+(BI
1
u
1
)

=
-g(Bp
1
)
x
+(v
1
B(u
1
)
x
)
x
+(v
1
B(u
1
)

+vu
1

(2.63)
Dengan cara yang analog, maka dapat dikonstruksi y momentum Saint
Venant dengan integral Navier Stokes.



61

Maka integral ruas kiri y momentum Navier-Stokes (2.47) adalah


_ _
o:
ot
+u
o:
ox
+:
o:
oy
_
x
2
=I
x
1
=
Jy
= _ _ : Jy
x
2
=I
x
1
=
_
t
+__u:Jy
I

_
x
+__::Jy
I

+:|
l
r
__:Jy
I

_
x
+:|
l
r
__:Jy
I


Dengan menggunakan kondisi batas di kiri dan di kanan
v(ur
x
(x, y) +:r

(x, y) -u

) = y

u
-v(ul
x
(x, y) +:l

(x, y) -u
I
) = y
I
u
maka
_ _
o:
ot
+u
o:
ox
+:
o:
oy
_
x
2
=I
x
1
=
Jy
= (BI
2
)
t
+(u
2
BI
2
)
x
+(BI
2
I
2
)

+:

|ur
x
(x, y) +:r

(x, y) -:

]
-:
I
|ul
x
(x, y) +:l

(x, y) -:
I
]
= (BI
2
)
t
+(u
2
BI
2
)
x
+(BI
2
I
2
)

+(:

|ur
x
(x, y) -:

] -:
I
|ul
x
(x, y) -:
I
])
+:

|:r

(x, y)] -:
I
|:l

(x, y)]
= (BI
2
)
t
+(u
2
BI
2
)
x
+(BI
2
I
2
)

+|u(:

r
x
(x, y) -:
I
l
x
(x, y))] -:

+:
I
:
I
+|:

:r

(x, y)] -|:


I
:l

(x, y)]
= (BI
2
)
t
+(u
2
BI
2
)
x
+(BI
2
I
2
)

(2.64)

62

Selanjutnya integral gradient tekanan barotropik pada ruas kanan y


momentum Navier-Stokes (2.59) adalah

p
I
l(x -o, y) p(x, y, t +z) p

r(x +o, y)
Gambar 2.8: Pergerakan partikel di y momentum
sehingga
p((x, y, t +) = pl(x -o, y) +pr(x +o, y)

Bentuk di atas dapat diuraikan kembali menjadi
p(x, y) +p
t
(x, y) = p|l(x, y) -ol
x
(x, y)] +p|r(x, y) +or
x
(x, y)]

atau
p(x, y) +p
t
(x, y) = p|l(x, y) -r(x, y)] -pol
x
(x, y) +por
x
(x, y)

sehingga
p(x, y) +p
t
(x, y) = p(x, y) -pol
x
(x, y) +por
x
(x, y)

didapatkan
p
t
(x, y) = -opl
x
(x, y) +opr
x
(x, y)

yakni
p
t
(x, y) =
-o

pl
x
(x, y) +
o

pr
x
(x, y)

atau
p
t
(x, y) = ypl
x
(x, y) +ypr
x
(x, y) ,vlim
6 -0
:-0
6
:
= y

63

sehingga
] p

Jy = [] p Jy
I

+p
t
(x, y)
_p
x
Jx = __p Jy
I

-p
I
l
x
(x, y) +p

r
x
(x, y)
= (Bp
2
)

-(p
I
-p
1
)l
x
+(p

-p
1
)r
x
(2.65)
Selanjutnya integral persamaan kontinu dengan batas l(x, p) dan r(x, p)
adalah
_
ou
Jx
Jz +_
o:
Jy
Jz
I

= u
__ u
I

Jz_
x
-ul
x
+ur
x
+__ :
I

Jz_

-:
I
+:

= u
__ u
I

Jz_
x
+__ :
I

Jz_

-ul
x
-:
I
+ur
x
+:

= u
(Bu
1
)
x
+(BI
1
)

-ul
x
-:
I
+ur
x
+:

= u
(Bu
1
)
x
+(BI
1
)

= u
Selanjutnya integral persamaan kontinu sepanjang y adalah
_
ou
Jx
+_
o:
Jy
q
-h
q
-h
= u
__ uJz
q
-h
_
x
+__ :Jz
q
-h
_

-p
t
= u
_ _-p
t
+__ uJz
q
-h
_
x
+__ :Jz
q
-h
_

_Jx = u
I(x,q)
(x,q)

64

[-] pJx
I


t
-pl
x
+pr
x
+j] Jx
I

] uJz
q
-h
[
x
-(] uJz
q
-h
)(l
x
) +(] uJz
q
-h
)(r
x
) +
j] Jx
I

] uJz
q
-h
[

-] :
I
Jz
q
-h
+] :

Jz
q
-h
= u
[-] EJx
I


t
-El
x
+Er
x
+j] Jx
I

] uJz
q
-h
[
x
-(] uJz
q
-h
)(l
x
) +
(] uJz
q
-h
)(r
x
) +j] Jx
I

] uJz
q
-h
[

-] :
I
Jz
q
-h
+] :

Jz
q
-h
= u
A
totuI
+__ Bu
2
q
-h
_
x
= u
Selanjutnya integral kekentalan pada ruas kanan y momentum Navier-Stokes dari
kiri ke kanan adalah
_v _
o
2
:
ox
2
+
o
2
:
oy
2
_
I

Jy = _ |(v:
x
)
x
+(v:

]
I

Jy
Dengan menggunakan asumsi kondisi batas kekentalan di sepanjang sumbu y
v(-:
x
p
x
-:

) = y
1
(:
u
-:
s
)
Dalam hal ini
v:(x, y, t +) = v:p(x +o, y) +v:(-b(x -o, y))
Bentuk di atas dapat diuraikan kembali menjadi
v:(x, y) +v:
t
(x, y)
= v:p(x, y) +v:op
x
(x, y) +vu(-b(x, y)) -v:o(-b
x
(x, y))
atau
v:(x, y) +v:
t
(x, y)
= v:(p(x, y) -(-b(x, y))) +v:op
x
(x, y) -v:o-(b
x
(x, y))
65

sehingga
v:(x, y) +v:
t
(x, y) = v:(x, y) +v:op
x
(x, y) -v:o(-b
x
(x, y))
atau
v:
t
(x, y) = v:op
x
(x, y) -v:o(-b
x
(x, y))
sehingga
v:
t
(x, y) = v:
o

p
x
(x, y) -v:
o

(-b
x
(x, y))
didapatkan
v:
t
(x, y) = v:p
x
(x, y) -v:(-b
x
(x, y))
Sehingga integral ruas kiri pada kekentalan Navier-Stokes adalah
]
(v:
x
)
x
Jy +
I

] (v:

Jy
I


= __ v:
x
Jy
I

_
x
+__ v:

Jy
I

+v(-:
x
p
x
-:

)
= __ v:
x
Jy
I

_
x
+__ v:

Jy
I

+v(-:
x
p
x
-:

)
= (v
2
B(I
2
)
x
)
x
+(v
2
B(I
2
)

+v(-:
x
p
x
-:

)
= (v
2
B(I
2
)
x
)
x
+(v
2
B(I
2
)

+vI
2

(2.66)




66

Diperoleh kesimpulan umum integral y momentum Navier-Stokes sebagai berikut:


1. Ruas Kiri Navier-Stokes (2.64)
(BI
2
)
t
+(u
2
BI
2
)
x
+(BI
2
I
2
)

+ju[:

r
x
(x, y) -:
I
l
x
(x, y)[ -:

+
:
I
:
I
+|:

:r

(x, y)] -|:


I
:l

(x, y)]
dengan |u(:

r
x
(x, y) -:
I
l
x
(x, y))] -:

+:
I
:
I
+|:

:r

(x, y)] -
|:
I
:l

(x, y)] diabaikan karena terlalu kecil


2. Integral Tekanan (2.65)
(Bp
2
)

-(p
I
-p
1
)l
x
+(p

-p
1
)r
x

dengan -(p
I
-p
1
)l
x
+(p

-p
1
)r
x
diabaikan karena terlalu kecil
3. Integral Kekentalan (2.66)
(v
2
B(I
2
)
x
)
x
+(v
2
B(I
2
)

+vI
2

Sehingga persamaan y momentum Saint Venant 2D adalah:
(BI
2
)
t
+(u
2
BI
2
)
x
+(BI
2
I
2
)

=
-g(Bp
2
)

+(v
2
B(I
2
)
x
)
x
+(v
2
B(I
2
)

+vI
2







(2.67)
67

2.11 Kajian Batas dalam Al-Quran


Perhatikan Q. S. Al-Baqarah ayat 286

#=3` !# $ ) $`` $9 $ M6. $= $ M6F.# $/ ${#? ) $ &
$'z& $/ `s? $= #) $. F=m ? %!# $=6% $/ $=s? $
%$ $9 / ## $ # $9 $m# M& $99 $$ ? )9# 69#


Artinya:
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. ia
mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari
kejahatan) yang dikerjakannya. (mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah
Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah
Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan
kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan
kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. beri ma'aflah kami; ampunilah
kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong kami, maka tolonglah kami
terhadap kaum yang kafir."

Ayat tersebut menyatakan bahwa Allah S.W.T tidak membebani para hamba-
Nya melainkan sesuai dengan batas kemampuan mereka. Allah S.W.T menciptakan
manusia berbeda-beda. Satu cerdas dan berpotensi besar, salah satunya kurang cerdas
dan berpotensi sedikit, satu kuat, satunya lemah dan kurus. Harus diterima bahwa
sebagian dari perbedaan-perbedaan ini adalah kelaziman penciptaan (IRIB, 2010).
Dengan ayat ini Allah S.W.T menyatakan bahwa seseorang dibebani hanyalah
sesuai dengan batas kesanggupannya. Agama Islam adalah agama yang tidak
membebani manusia dengan beban yang berat dan sukar. Mudah, ringan dan tidak
68

sempit adalah asas pokok dari agama Islam (Tafsir DEPAG RI, 2009). Sesuai dengan
firman Allah S.W.T dalam Q. S. Al-Hajj ayat 78 sebagai berikut:
$... _ /3= 9# lm ...
Artinya:
...dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan...
Begitu pula firman Allah S.W.T dalam Q. S. An-Nisa ayat 28:
` !# & # 3 ,=z }# $
Artinya:
Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat
lemah.

Yaitu dalam syari'at di antaranya boleh menikahi budak bila telah cukup syarat-
syaratnya.
Firman-Nya pula dalam Q. S. Al-Baqarah ayat 185:
`... !# `6/ ``9# ` `6/ `9# ...
Artinya:
...Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran
bagimu...
Kemudian Allah S.W.T menerangkan hasil beban yang telah dibebankan dan
dilaksanakan oleh manusia, yaitu amal saleh yang dikerjakan mereka, maka
balasannya akan diterima dan dirasakan oleh mereka berupa pahala dan surga.
69

Sebaliknya perbuatan dosa yang dikerjakan oleh manusia, maka hukuman karena
mengerjakan perbuatan itu akan dirasakan dan ditanggung pula oleh mereka, yaitu
siksa dan azab di neraka (Tafsir DEPAG RI, 2009).
Ayat ini mendorong manusia agar mengerjakan perbuatan yang baik serta
menunaikan kewajiban-kewajiban yang telah ditetapkan oleh agama.
Ayat ini memberi pengertian bahwa perbuatan baik itu adalah perbuatan yang mudah
dikerjakan manusia karena sesuai dengan watak dan tabiatnya, sedang perbuatan yang
jahat adalah perbuatan yang sukar dikerjakan manusia karena tidak sesuai dengan
watak dan tabiatnya (Tafsir DEPAG RI, 2009).
Manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah yang suci dan telah tertanam dalam
hatinya jiwa ketauhidan. Sekalipun manusia oleh Allah S.W.T diberi persediaan
untuk menjadi baik dan persediaan menjadi buruk, tetapi dengan adanya jiwa tauhid
yang telah tertanam dalam hatinya sejak ia masih dalam rahim ibunya, maka tabiat
ingin mengerjakan kebajikan itu lebih nyata dalam hati manusia dibanding dengan
tabiat ingin mengerjakan kejahatan. Adanya keinginan yang tertanam pada diri
seseorang untuk mengerjakan suatu pekerjaan yang baik akan memberikan
kemungkinan baginya untuk mendapat jalan yang mudah dalam mengerjakan
pekerjaan itu apalagi bila ia berhasil dan dapat menikmati usahanya itu, maka
dorongan dan semangat untuk mengerjakan pekerjaan baik yang lain semakin
bertambah pada dirinya (Tafsir DEPAG RI, 2009).
Setiap jiwa akan mendapat pahala kebaikan yang dilakukannya dan dosa atas
kejahatan yang dilakukannya, Allah S.W.T mengampuni keterbatasan mereka dalam
70

mengemban kewajiban-kewajiban dan hal-hal haram yang dilanggar, tidak


memberikan sanksi atas kesalahan dan kelupaan mereka, Dia sangat memudahkan
syariat-Nya dan tidak membebani mereka hal-hal yang berat dan sulit sebagaimana
yang dibebankan kepada orang-orang sebelum mereka serta tidak membebankan
mereka sesuatu yang di luar batas kemampuan mereka. Dia telah mengampuni,
merahmati dan menolong mereka atas orang-orang kafir (Zidniagus, 2009).
Berkaitan dengan isi penyampaian Allah dalam Al-Quran terdapat pula
batasan tentang apa yang boleh manusia ketahui dan tidak boleh diketahui manusia.
Hal ini tergambar dalam Q. S. Al-Isra ayat 85, sebagai berikut:
=` y9# % y9# & 1 $ F?& =9# ) =%
Artinya:
Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh itu termasuk urusan
Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit".

Ayat ini berisi tentang hukum membahas ruh. Berdasarkan ayat ini, maka
mayoritas manusia dapat mengetahui bahwa hukum membahas ruh adalah haram.
Allah S.W.T menyatakan bahwa manusia tidak diperbolehkan mengkaji dan
mempertanyakan roh secara mendalam karena roh merupakan rahasia Allah S.W.T
dan hanya Allah S.W.T yang benar-benar mengetahui. Sedangkan manusia cukup
diberi sedikit pengetahuan mengenai roh tersebut. Manusia dengan pengetahuan yang
sedikit yang dimilikinya, mempunyai beragam pendapat tentang hukum membahas
ruh, sebagai berikut (Kajian IKPMA, 2007):
71

1. Pendapat Imam Abdul Salam al-Laqni dan Mayoritas Muhaqqiqin.


Mayoritas Muhaqqiqin tidak terlalu dalam membahas tentang hakikat ruh
dengan jenis dan pasal yang berbeda, itu semua disebabkan karena tidak adanya
pengetahuan yang mereka dengar tentang ruh dan juga tidak didapati nash Syari
(Allah S.W.T) yang menjelaskan hal itu. Maka menurut mereka alangkah lebih
baiknya kalau kita tidak terlalu jauh dalam membahas ruh, serta hukumnya makruh
(Bayjuri, 2004).
2. Imam al-J unaidi seorang sufi berpendapat bahwa ruh itu adalah rahasia Allah
S.W.T, dan menurutnya seoarang hamba tidak boleh membahas ruh terlalu jauh. Dan
perkataannya menunjukan pengharaman (Muyassar, 1988:15).
3. Menurut Syaikh as-Sahr Wardi bahwa pembahasan tentang ruh sangatlah
sulit. Manusia hanya diberi sedikit pengetahuan tentang itu. Maka tidak pantas bagi
manusia terlalu jauh dalam membahasnya (Wardi, 2004).
Dari tiga pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa dari sudut pemikiran
Islam menolak tentang pembahasan ruh dengan alasan tidak ada adab kepada as-
Syari, dan haram hukumnya karena ruh adalah termasuk rahasia dan urusan Tuhan.
Namun ada pendapat lain yang perlu kita perhatikan, selain bahwa para filsuf Islam
sudah pasti membolehkan dalam hal membahas ruh, mulai dari Alkindi filosof Arab
pertama dalam risalah pendeknya Tentang Ruh, Ibnu Sina, Ibnu Tufail, Miskawaih,
Ibnu Rusd dan lain-lain dari ulama salaf dan khalaf (Kajian IKPMA, 2007).
Didalam bukunya, DR. Mohammad Sayed Ahmad al-Musayyar (1988)
bersama mayoritas ulama berpendapat bahwa didalam firman-Nya surah al-Isra ayat
72

85 tidak ada indikasi pengharaman tentang membahas ruh ataupun indikasi


pemakruhannya. Menurutnya para ulama yang melarang membahas ruh didasari oleh
beberapa hal, diantaranya adalah pemahaman tentang makna ruh yang diartikan
sebagai Rahasia Allah S.W.T, bahwa ruh termasuk alam mujarrad (murni adanya)
yang tidak bisa didapati dan adanya hadits yang menerangkan tentang Asbab an-
Nuzul ayat tersebut.
Selanjutnya, dalil-dalil ulama yang membolehkan membahas ruh adalah
sebagai berikut:
1. Para ahli tafsir tidak sepakat bahwa ruh yang dimaksud dalam ayat tersebut
adalah arwah bani adam. Imam al-Alusi dalam bukunya yang berjudul Ruh al-
Maani berpendapat bahwa yang dimaksud adalah hakikat ruh manusia. Selain itu,
dalam beberapa riwayat sahih Bukhari dan Muslim terdapat pertanyaan tentang ruh,
salah satunya adalah hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa ruh yang
dimaksud adalah J ibril a.s, serta riwayat dari Ali Bin Abi Thalib bahwa yang
dimaksud ruh adalah malaikat yang memiliki 70 ribu wajah (Katsir, 2003).
2. Ibnu Qayyim berkata dalam salah satu kitabnya: bahwa mayoritas ulama salaf
bahkan semuanya berpendapat bahwa yang dimaksudkan dengan ruh dalam ayat
tersebut adalah bukan arwah Bani Adam, melainkan ruh yang Allah S.W.T beritakan
pada kitabnya, bahwasanya ia akan ada bersama para malaikat di hari kiamat, ruh itu
adalah malaikat yang mulya (J auziyah, 2003).
3. Imam Ibnu Hajar berkata bahwa pendapat Imam J unaidi dan para pengikutnya
telah menyalahi pendapat mayoritas Sufi Mutaakhir karna mereka banyak membahas
73

tentang ruh, bahkan sebagian dari para sufi menjelaskan hakikat ruh serta mengklaim
aib bagi orang yang melarang membahas ruh (Atsqolani, 2004).
4. Para Nabi dan ulama banyak berbicara tentang Allah S.W.T, mulai dari sifat-
sifat-Nya, Asma al-Husna-Nya, lalu membahas tentang wujud, wahdaniat, kalam al-
Ilahi dan sebagainya, dan kita tidak mendengar seorang pun yang mengharamkan
untuk membahasnya ataupun memakruhkannya, padahal sudah jelas bahwa al-Quran
menjelaskan bahwa Allah S.W.T itu Esa. Maka ruh derajatnya tidak lebih tinggi dari
pada semua hal yang berhubungan dengan-Nya (Muyassar, 1988:19-20).