Anda di halaman 1dari 27

TUGAS RESUME KASUS ABORTUS

FEBRINA VISELITA NPM 220112130098

UNIVERSITAS PADJADJARAN FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN BANDUNG 2013

Definisi Abortus adalah berakhirnya masa kehamilan sebelum anak dapat hidup di

dunia luar, tanpa mempersoalkan penyebabnya. Bayi baru mungkin hidup di dunia luar bila berat badannya telah mencapai > 500 gr atau umur kehamilan > 20 minggu (Sastrawinata, 2004). Abortus adalah keluarnya janin sebelum mencapai viabilitas. Dimana masa gestasi belum mencapai usia 22 minggu dan beratnya kurang dari 500gr (Derek liewollyn & Jones, 2002). Abortus adalah isitilah yang diberikan untuk semua kehamilan yang berakhir sebelum periode viabilitas janin, yaitu yang berakhir sebelum berat janin 500 gram. Bila berat badan tidak diketahui, maka perkiraan lama kehamilan kurang dari 20 minggu lengkap (139 hari), dihitung dari hari pertama haid terakhir normal yang dipakai (Taber, 1994). 2 Angka Kejadian Abortus Angka kejadian abortus diperkirakan frekuensi dari abortus spontan berkisar 10-15%. Frekuensi ini dapat mencapai angka 50% jika diperhitungkan banyak wanita mengalami kehamilan dengan usia sangat dini, terlambatnya menarche selama beberapa hari, sehingga seorang wanita tidak mengetahui kehamilannya. Di Indonesia, diperkirakan ada 5 juta kehamilan per-tahun, dengan demikian setiap tahun terdapat 500.000-750.000 janin yang mengalami abortus spontan (Prawirohardjo, S, 2002). 3 Etiologi dan Faktor yang Mempengaruhi Penyebab abortus merupakan gabungan dari beberapa faktor. Umumnya abortus didahului oleh kematian janin. Umunya abortus didahului oleh kematian janin. Faktor- faktor yang dapat menyebabkan terjadinya abortus, yaitu: 1 Faktor Janin

Kelainan yang paling sering dijumpai pada abortus adalah gangguan pertumbuhan zigot, embrio, janin atau plasenta. Kelainan tersebut biasanya menyebabkan abrtus pada trimester pertama, yakni: a b c 2 a Kelainan telur, telur kosong (blighted ovum), kerusakan embrio, atau kelainan kromosom ( monosomi, trisomi, atau poliploidi) Embrio dengan kelainan lokal Abnormalitas pembentukan plasenta (hipoplasi trofoblas) Infeksi Infeksi maternal dapat membawa resiko bagi janin yaang sedang berkembang, terutama pada akhir trimester pertama atau awal trimester kedua. Tidak diketahui penyebab kematian janin secara pasti, apakah janin yang menjadi terinfeksi ataukah toksin yang dihasilkan oleh mikroorganisme penyebabnya. Penyakit-penyakit yang dapat menyebabkan abortus: ; Virus Misalnya rubella, sitomegalovirus, virus herpes simpleks, varicella zoster, vaccinia, campak, hepatitis, polio, dan ensefalomielitis. ; ; b c Bakteri Misalnya Salmonella typhi. Parasit Misalnya Toxoplasma gondii, Plasmodium.

Faktor Maternal

Penyakit vaskular Misalnya hipertensi vaskular. Kelainan endokrin Abortus spontan dapat terjadi bila produksi progesteron tidak mencukupi atau pada penyakit disfungsi tiroid; defisiensi insulin.

d e

Faktor imunologis Ketidakcocokan (inkompatibilitas) sistem HLA (Human Leukocyte antigen). Trauma kasusnya jarang terjadi, umunya abortus terjadi segera setelah trauma tersebut, misalnya trauma akibat pembedahan: ; Pengangkatan ovarium yang mengandung korpus luteum graviditaum sebelum minggu ke-8

; f

Pembedahan intraabdominal dan operasi pada uterus saat hamil.

Kelainan uterus Hipoplasia uterus, mioma (terutama mioma submukosa), incarcerata. serviks inkompeten atau retroflexio dari faktor uterigravidi ini masih

g 3

Faktor

psikosomatik

Pengaruh

dipertanyakan. Faktor Eksternal a Radiasi Dosis 1-10 rad bagi janin pada kehamilan 9 minggu pertama dapat merusak janin dan dosis yang lebih tinggi dapat menyebabkan keguguran. b Obat-obatan Antagonis asam folat, antikoagulan, dan lain-lain. Sebaiknya tidak menggunakan obat-obatan sebelum kehamilan 26 minggu, kecuali telah dibuktikan bahea obat tersebut tidak membahayakan janin, atau untuk pengobatan penyakit ibu yang parah. c Bahan-bahan kimia lainnya, seperti bahan yang mengandung arsen dan benzen. (Sastrawinata,2004) 4 a Klasifikasi Abortus Abortus spontan adalah abosrtus yang terjadi secara alamiah tanpa interval luar (buatan) untuk mengakhiri kehamilan tersebut. Penanganannya : Lakukan penilaian awal untuk segera menentukan kondisi pasien (gawat darurat, komplikasi berat, atau masih cukup stabil), segera upayakan stabilisasi pasien sebelum melakukan tindakan lanjutan (evaluasi medik atau merujuk), temukan dan hentikan dengan segera sumber perdarahan, lakukan pemantauan ketat tentang kondisi pasca tindakan dan perkembangan lanjutan, (Sarwono, 2001). b Abortus provokatus (induced abortion) adalah abortus yang disengaja, baik dengan memakai obatobatan maupun alatalat.

Abortus terapeutik adalah penghentian kehamilan dikarenakan alasan medis, dengan alasan bila kehamilan dilanjutkan, dapat membahayakan jiwa ibu (berdasarkan indikasi medis) biasanya perlu mendapat persetujuan 2 sampai 3 tim dokter ahli.

Abortus kriminalis adalah abortus yang terjadi oleh karena tindakantindakan yang tidak legal atau tidak berdasarkan indikasi medis.

Abortus inkompletus (keguguran bersisa) adalah hanya sebagian dari hasil konsepsi yang dikeluarkan, yang tertinggal adalah desidua atau plasenta. Penanganannya : bila ada tandatanda syok maka atasi dulu dengan pemberian cairan dan tranfusi darah. Kemudian keluarkan jaringan secepat mungkin dengan metode digital dan kuretase. Setelah itu beri obatobat uterotonika dan antibiotika.

Abortus insipiens (keguguran sedang berlangsung) adalah bortus yang sedang berlangsung, dengan ostium sudah terbuka dan ketuban yang teraba kehamilan tidak dapat dipertahankan lagi. Penanganannya : bila ada tandatanda syok maka atasi dulu dengan pemberian cairan dan tranfusi darah. Kemudian keluarkan jaringan secepat mungkin dengan metode digital dan kuretase. Setelah itu beri obatobat uterotonika dan antibiotika.

Abortus imminens (keguguran membakat), dalam hal ini keluarnya fetus masih dapat dicegah dengan memberikan obatobat hormonal dan anti spasmodika serta istirahat. Penanganannya : Tidak perlu pengobatan khusus atau tirah baring total, jangan melakukan aktivitas fisik berlebihan atau hubungan seksual, jika perdarahan berhenti lakukan asuhan antenatal seperti biasa. Lakukan penilaian jika perdarahan terjadi lagi. Perdarahan terus berlangsung nilai kondisi janin (uji kehamilan atau USG) lakukan konfirmasi kemungkinan adanya penyebab lain.

Missed abortion adalah keadaan dimana janin sudah mati, tetapi tetap berada dalam rahim dan tidak dikeluarkan selama 2 bulan atau

lebih. Penanganannya : Berikan obat dengan maksud agar terjadi his sehingga fetus dan desidua dapat dikeluarkan, kalau tidak berhasil lakukan dilatasi dan kuretase. Hendaknya juga diberikan uterotonika dan antibiotika. (Mohctar, 1998) 5 Manifestasi Klinis 1. Terlambat haid atau amenorhe kurang dari 20 minggu 2. Pada pemeriksaan fisik : keadaan umum tampak lemah kesadaran menurun, tekanan darah normal atau menurun, denyut nadi normal atau cepat dan kecil, suhu badan normal atau meningkat 3. Perdarahan pervaginam mungkin disertai dengan keluarnya jaringan hasil konsepsi 4. Rasa mulas atau kram perut, didaerah atas simfisis, sering nyeri pingang akibat kontraksi uterus 5. Pemeriksaan ginekologi : a b Inspeksi Vulva : perdarahan pervaginam ada atau tidak jaringan hasil konsepsi, tercium bau busuk dari vulva Inspekulo : perdarahan dari cavum uteri, osteum uteri terbuka atau sudah tertutup, ada atau tidak jaringan keluar dari ostium, ada atau tidak cairan atau jaringan berbau busuk dari ostium. c Colok vagina : porsio masih terbuka atau sudah tertutup, teraba atau tidak jaringan dalam cavum uteri, besar uterus sesuai atau lebih kecil dari usia kehamilan, tidak nyeri saat porsio digoyang, tidak nyeri pada perabaan adneksa, cavum douglas tidak menonjol dan tidak nyeri. Manifestasi klinis masing-masing abortus: a Tanda dan gejala pada abortus Imminen : terdapat keterlambatan datang bulan, terdapat perdarahan, disertai sakit perut atau mules, pada pemeriksaan dijumpai besarnya rahim sama dengan umur kehamilan dan terjadi kontraksi otot rahim, hasil periksa dalam terdapat perdarahan dari

kanalis servikalis, dan kanalis servikalis masih tertutup, dapat dirasakan kontraksi otot rahim, hasil pemeriksaan tes kehamilan masih positif. b Tanda dan gejala pada abortus Insipien : perdarahan lebih banyak, perut mules atau sakit lebih hebat, pada pemariksaan dijumpai perdarahan lebih banyak, kanalis servikalis terbuka dan jaringan atau hasil konsepsi dapat diraba. c Tanda dan gejala abortus Inkomplit : perdarahan memanjang, sampai terjadi keadaan anemis, perdarahan mendadak banyak menimbulkan keadaan gawat, terjadi infeksi ditandai dengan suhu tinggi, dapat terjadi degenerasi ganas (kario karsinoma). d Tanda dan gejala abortus Kompletus : uterus telah mengecil, perdarahan sedikit, canalis servikalis telah tertutup. e Tanda dan gejala Missed Abortion : rahim tidak membesar, mengecil karena absorbsi air ketuban dan maserasi janin, buah dada mengecil kembali.

Patogenesis

Kebanyakan abortus spontan terjadi segera setelah kematian janin yang kemudian diikuyi oleh perdarahan ke dalam desidua basalis, lalu terjadi perubahan-perubahan nekrotik pada daerah implantasi, infiltrasi sel-sel peradangan akut, dan akhirnya perdarahan per vaginam. Buah kehamilan terlepas seluruhnya atau sebagian yang diinterpresikan sebagai benda asing dalam rongga rahim. Hal ini menyebabkan kontraksi uterus dimulai, dan segera setelah itu terjadi pendorongan benda asing itu keluar rongga rahim (ekspulsi). Perlu ditekankan bahwa pada abortus spontan, kematian embrio biasanya terjadi paling lama 2 minggu sebelum perdarahan. Oleh karena itu, pengobatan untuk mempertahankan janin tidak layak untuk dilakukan jika telah terjadi perdarahan banyak karena abortus tidak dapat dihindari.

Sebelum minggu ke-10, hasil konsepsi biasanya dikeluarkan dengan lengkap. Hal ini disebabkan sebelum minggu ke-10 vili korialis belum menanamkan diri dengan erat ke dalam desidua hingga telur mudah lepas secara keseluruhannya. Antara minggu ke 10-12 korion tumbuh dengan cepat dan hubungan vili korialis dengan desidua makin erat hingga mulai saat tersebut sering sisa-sisa korion (plasenta) tertinggal kalau terjadi abortus. 7 a Pemeriksaan Diagnostik Tes Kehamilan Positif bila janin masih hidup, bahkan 2-3 minggu setelah abortus b Pemeriksaaan Doppler atau USG untuk menentukan apakah janin masih hidup c Pemeriksaan kadar fibrinogen darah pada missed abortion Pemeriksaan Diagnostik dan Hasil 1. Test HCG Urine 2. Ultra Sonografi janin 3. Kadar Hematocrit/Ht %) 4. Kadar Hemoglobin %) 5. Kadar SDP U/dl) 6. Kultur Indikator kehamilan Kondisi janin/cavum ut Status Hemodinamika Status Hemodinamika Resiko Infeksi Kuman spesifik Positif terdapat janin/sisa Penurunan (< 35 mg Penurunan (< 10 mg Meningkat(>10.000 Ditemukan kuman

Diagnosa Banding Kehamilan etopik terganggu, mola hidatidosa, kemamilan dengan kelainan serviks. Abortion imiteins perlu dibedakan dengan perdarahan implantasi yang biasanya sedikit, berwarna merah, cepat terhenti, dan tidak disertai mules-mules.

9 (1

Penatalaksanaan Abortus Imminens adalah peristiwa terjadinya perdarahan dari uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu, dimana hasil konsepsi masih

dalam uterus, dan tanpa adanya dilatasi serviks. Diagnosis abortus imminens ditentukan apabila terjadi perdarahan pervaginam pada paruh pertama kehamilan. Yang pertama kali muncul biasanya adalah perdarahan, dari beberapa jam sampai beberapa hari kemudian terjadi nyeri kram perut. Nyeri abortus mungkin terasa di anterior dan jelas bersifat ritmis, nyeri dapat berupa nyeri punggung bawah yang menetap disertai perasaan tertekan di panggul, atau rasa tidak nyaman atau nyeri tumpul di garis tengah suprapubis. Kadang-kadang terjadi perdarahan ringan selama beberapa minggu. Dalam hal ini perlu diputuskan apakah kehamilan dapat dilanjutkan. Sonografi vagina,pemeriksaan kuantitatif serial kadar gonadotropin korionik (hCG) serum, dan kadar progesteron serum, yang diperiksa tersendiri atau dalam berbagai kombinasi, untuk memastikan apakah terdapat janin hidup intrauterus. Dapat juga digunakan tekhnik pencitraan colour and pulsed Doppler flow per vaginam dalam mengidentifikasi gestasi intrauterus hidup. Setelah konseptus meninggal, uterus harus dikosongkan. Semua jaringan yang keluar harus diperiksa untuk menentukan apakah abortusnya telah lengkap. Kecuali apabila janin dan plasenta dapat didentifikasi secara pasti, mungkin diperlukan kuretase. Ulhasonografi abdomen atau probe vagina Dapat membantu dalam proses pengambilan keputusan ini. Apabila di dalam rongga uterus terdapat jaringan dalam jumlah signifikan, maka dianjurkan dilakukan kuretase. Penanganan abortus imminens meliputi : ; Istirahat baring. Tidur berbaring merupakan unsur penting dalam pengobatan, karena cara ini menyebabkan bertambahnya aliran darah ke uterus dan berkurangnya rangsang mekanik. ; Terapi hormon progesteron intramuskular atau dengan berbagai zat progestasional sintetik peroral atau secara intramuskular.Walaupun bukti efektivitasnya tidak diketahui secara pasti.

; (2

Pemeriksaan ultrasonografi untuk menentukan apakah janin masih hidup. Abortus Insipiens Abortus Insipiens adalah peristiwa perdarahan uterus pada

kehamilan sebelum 20 minggu dengan adanya dilatasi serviks uteri yang meningkat tetapi hasil konsepsi masih dalam uterus. Dalam hal ini rasa mules menjadi lebih sering dan kual perdarahan bertambah. Pengeluaran hasil konsepsi dapat dilaksanakan dengan kuret vakum atau dengan cunam ovum, disusul dengan kerokan. Penanganan Abortus Insipiens meliputi : a Jika usia kehamilan kurang 16 minggu, lakukan evaluasi uterus dengan aspirasi vakum manual. Jika evaluasi tidak dapat, segera lakukan: ; Berikan ergomefiin 0,2 mg intramuskuler (dapat diulang setelah 15 menit bila perlu) atau misoprostol 400 mcg per oral (dapat diulang sesudah 4 jam bila perlu). ; b ; ; Segera lakukan persiapan untuk pengeluaran hasil konsepsi dari uterus. Jika usia kehamilan lebih 16 minggu : Tunggu ekspulsi spontan hasil konsepsi lalu evaluasi sisa-sisa hasil konsepsi. Jika perlu, lakukan infus 20 unit oksitosin dalam 500 ml cairan intravena (garam fisiologik atau larutan ringer laktat dengan kecepatan 40 tetes permenit untuk membantu ekspulsi hasil konsepsi. ; (3 Pastikan untuk tetap memantau kondisi ibu setelah penanganan Abortus lnkompletus Abortus Inkompletus adalah pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan masih ada sisa tertinggal dalam uterus. Apabila plasenta (seluruhnya atau sebagian) tertahan di uterus, cepat atau lambat akan terjadi perdarahan yang merupakan tanda

utama abortus inkompletus. Pada abortus yang lebih lanjut, perdarahan kadang-kadang sedemikian masif sehingga menyebabkan hipovolemia berat. Penanganan abortus inkomplit : a Jika perdarahan tidak seberapa banyak dan kehamilan kurang 16 minggu, evaluasi dapat dilakukan secara digital atau dengan cunam ovum untuk mengeluarkan hasil konsepsi yang keluar melalui serviks. Jika perdarahan berhenti, beri ergometrin 0,2 mg intramuskulera taum iso prostol4 00 mcg per oral. b ; Jika perdarahan banyak atau terus berlangsung dan usia kehamilan kurang 16 minggu, evaluasi hasil konsepsi dengan : Aspirasi vakum manual merupakan metode evaluasi yang terpilih. Evakuasi dengan kuret tajam sebaiknya hanya dilakukan jika aspirasi vakum manual tidak tersedia. ; Jika evakuasi belum dapat dilakukan segera beri ergometrin 0,2 mg intramuskuler (diulang setelah 15 menit bila perlu) atau misoprostol 400 mcg peroral (dapat diulang setelah 4 jam bila perlu). c Jika kehamilan lebih dari 16 minggu: ; Berikan infus oksitosin 20 unit dalam 500 ml cairan intravena (garam fisiologik atau ringer laktat) dengan k ecepatan 40 tetes permenit sampai terjadi ekspulsi hasil konsepsi ; Jika perlu berikan misoprostol 200 mcg per vaginam setiap 4 jam sampai terjadi ekspulsi hasil konsepsi (maksimal 800 mcg) ; ; Evaluasi sisa hasil konsepsi yang tertinggal dalam uterus. Pastikan untuk tetap memantau kondisi ibu setelah penanganan. (4 Abortus Kompletus

Pada abortus kompletus semua hasil konsepsi sudah dikeluarkan. Pada penderita ditemukan perdarahan sedikit, ostium uteri telah menutup, dan uterus sudah banyak mengecil. Diagnosis dapat dipermudah apabila hasil konsepsi dapat diperiksa dan dapat dinyatakan bahwa semuanya sudah keluar dengan lengkap. Penderita dengan abortus kompletus tidak memerlukan pengobatan khusus, hanya apabila penderita anemia perlu diberikan tablet sulfas ferrosus 600 mg perhari atau jika anemia berat maka perlu diberikan transfusi darah. (5 Abortus Servikalis Pada abortus servikalis keluarnya hasil konsepsi dari uterus dihalangi oleh ostium uteri eksternum yang tidak membuka, sehingga semuanya terkumpul dalam kanalis servikalis dan serviks uteri menjadi besar, kurang lebih bundar, dengan dinding menipis. Padap emeriksaand itemukan serviks membesar dan di atas ostium uteri eksternum teraba jaringan. Terapi terdiri atas dilatasi serviks dengan busi Hegar dan kerokan untuk mengeluarkan hasil konsepsi dari kanalis servikalis. (6 Missed Abortion Missed abortion adalah kematian janin berusia sebelum 20 minggu, tetapi janin yang telah mati itu tidak dikeluarkan selama 8 minggu atau lebih. Etiologi missed abortion tidak diketahui, tetapi diduga pengaruh hormone progesterone. Pemakaian Hormone progesterone pada abortus imminens mungkin juga dapat menyebabkan missed abortion. Diagnosis Missed abortion biasanya didahului oleh tanda-tanda abortus imminens yang kemudian menghilang secara spontan atau setelah pengobatan. Gejala subyektif kehamilan menghilang, mamma agak mengendor lagi, uterus tidak membesar lagi malah mengecil, tes kehamilan menjadi negatif. Dengan ultrasonografi dapat ditentukan segera apakah janin sudah mati dan besamya sesuai dengan usia kehamilan. Perlu diketahui pula bahwa missed abortion kadang-kadang disertai oleh gangguan pembekuan

darah karena hipofibrinogenemia, sehingga pemeriksaan ke arah ini perlu dilakukan. Penanganan Setelah diagnosis missed abortion dibuat, timbul pertanyaan apakah hasil konsepsi perlu segera dikeluarkan. Tindakan pengeluaran itu tergantung dari berbagai faktor, seperti apakah kadar fibrinogen dalam darah sudatr mulai turun. Hipofibrinogenemia dapat terjadi apabila janin yang mati lebih dari I bulan tidak dikeluarkan. Selain itu faktor mental penderita perlu diperhatikan karena tidak jarang wanita yang bersangkutan merasa gelisah, mengetahui ia mengandung janin yang telah mati, dan ingin supaya janin secepatnya dikeluarkan. (7 Abortus Habitualis Abortus habitualis adalah abortus spontan yang terjadi 3 kali atau lebih berturut turut. Pada umumnya penderita tidak sukar menjadi hamil, tetapi kehamilannya berakhir sebelum 28 minggu. 10 a b Komplikasi Perdarahan, perforasi, syok dan infeksi Pada missed abortion dengan retensi lama hasil konsepsi dapat terjadi kelainan pembekuan darah 11 1 Pengkajian Biodata : mengkaji identitas klien dan penanggung yang meliputi ;

nama, umur, agama, suku bangsa, pendidikan, pekerjaan, status perkawinan, perkawinan ke- , lamanya perkawinan dan alamat 2 3 a Keluhan utama : Kaji adanya menstruasi tidak lancar dan adanya Riwayat kesehatan, yang terdiri atas : Riwayat kesehatan sekarang yaitu keluhan sampai saat klien pergi ke Rumah Sakit atau pada saat pengkajian seperti perdarahan pervaginam di luar siklus haid, pembesaran uterus lebih besar dari usia kehamilan. b Riwayat kesehatan masa lalu perdarahan pervaginam berulang

Riwayat pembedahan : Kaji adanya pembedahan yang pernah

dialami oleh klien, jenis pembedahan, kapan, oleh siapa dan di mana tindakan tersebut berlangsung. 5 Riwayat penyakit yang pernah dialami : Kaji adanya penyakit yang pernah dialami oleh klien misalnya DM , jantung, hipertensi, masalah ginekologi/urinary , penyakit endokrin , dan penyakit-penyakit lainnya. 6 Riwayat kesehatan keluarga : Yang dapat dikaji melalui genogram dan dari genogram tersebut dapat diidentifikasi mengenai penyakit turunan dan penyakit menular yang terdapat dalam keluarga. 7 Riwayat kesehatan reproduksi : Kaji tentang mennorhoe, siklus menstruasi, lamanya, banyaknya, sifat darah, bau, warna dan adanya dismenorhoe serta kaji kapan menopause terjadi, gejala serta keluahan yang menyertainya 8 Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas : Kaji bagaimana keadaan anak klien mulai dari dalam kandungan hingga saat ini, bagaimana keadaan kesehatan anaknya. 9 10 Riwayat seksual : Kaji mengenai aktivitas seksual klien, jenis Riwayat pemakaian obat : Kaji riwayat pemakaian obatkontrasepsi yang digunakan serta keluhan yang menyertainya. obatankontrasepsi oral, obat digitalis dan jenis obat lainnya. 11 Pola aktivitas sehari-hari : Kaji mengenai nutrisi, cairan dan

elektrolit, eliminasi (BAB dan BAK), istirahat tidur, hygiene, ketergantungan, baik sebelum dan saat sakit. 12 a Pemeriksaan fisik, meliputi : Inspeksi adalah proses observasi yang sistematis yang tidak hanya terbatas pada penglihatan tetapi juga meliputi indera pendengaran dan penghidung. Hal yang diinspeksi antara lain : mengobservasi kulit terhadap warna, perubahan warna, laserasi, lesi terhadap drainase, pola pernafasan terhadap kedalaman dan kesimetrisan, bahasa tubuh, pergerakan dan

postur, penggunaan ekstremitas, adanya keterbatasan fifik, dan seterusnya b Palpasi adalah menyentuh atau menekan permukaan luar tubuh dengan jari. Sentuhan : merasakan suatu pembengkakan, mencatat suhu, derajat kelembaban dan tekstur kulit atau menentukan kekuatan kontraksi uterus. Tekanan : menentukan karakter nadi, mengevaluasi edema, memperhatikan posisi janin atau mencubit kulit untuk mengamati turgor. Pemeriksaan dalam : menentukan tegangan/tonus otot atau respon nyeri yang abnormal c Perkusi adalah melakukan ketukan langsung atau tidak langsung pada permukaan tubuh tertentu untuk memastikan informasi tentang organ atau jaringan yang ada dibawahnya. Menggunakan jari : ketuk lutut dan dada dan dengarkan bunyi yang menunjukkan ada tidaknya cairan , massa atau konsolidasi. Menggunakan palu perkusi : ketuk lutut dan amati ada tidaknya refleks/gerakan pada kaki bawah, memeriksa refleks kulit perut apakah ada kontraksi dinding perut atau tidak d Auskultasi adalah mendengarkan bunyi dalam tubuh dengan bentuan stetoskop dengan menggambarkan dan menginterpretasikan bunyi yang terdengar. Mendengar : mendengarkan di ruang antekubiti untuk tekanan darah, dada untuk bunyi jantung/paru abdomen untuk bising usus atau denyut jantung janin. (Johnson & Taylor, 2005 : 39) 13 Pemeriksaan laboratorium Darah dan urine serta pemeriksaan penunjang : rontgen, USG, biopsi, pap smear.

Keluarga berencana : Kaji mengenai pengetahuan klien tentang KB, apakah klien setuju, apakah klien menggunakan kontrasepsi, dan menggunakan KB jenis apa. 14 Data lain-lain : Kaji mengenai perawatan dan pengobatan yang telah diberikan selama dirawat di RS.Data psikososial. Kaji orang terdekat dengan klien, bagaimana pola komunikasi dalam keluarga, hal yang menjadi beban pikiran klien dan mekanisme koping yang digunakan. Status sosio-ekonomi : Kaji masalah finansial klien Data spiritual : Kaji tentang keyakinan klien terhadap Tuhan YME, dan kegiatan keagamaan yang biasa dilakukan.

12
No. 1.

Asuhan Keperawatan
Diagnosa Keperawatan Tujuan Intervensi Rasional kondisi

Ketidakseimbangan cairan: kurang dari Tidak terjadi kebutuhan tubuh berhubungan dengan volume perdarahan.

defisit 1 cairan,

Kaji

1
an akibat memiliki

Pengeluar cairan abortus pervaginal sebagai

status hemodinamika.

seimbang antara intake dan output baik jumlah maupun kualitas. 2


hari. Ukur pengeluaran cairan per

karekteristik bervariasi.

2
cairan dari

Jumlah ditentukan jumlah harian dengan

kebutuhan ditambah

jumlah cairan yang hilang pervaginal.

3 3
sejumlah pengganti Berikan cairan sesuai pada

Tranfusi mungkin diperlukan kondisi perdarahan massif.

kebutuhan per hari.

4 Penilaian dapat melalui


Pengukura n nilai ambang nyeri dapat dengan nyeri 2 dalam nyeri. dilakukan skala Meningka tkan koping klien melakukan guidance mengatasi

4 Evaluasi hemodinamika. Nyeri berhubungan dengan kerusakan Klien dapat beradaptasi 1 jaringan intrauteri dengan dialami nyeri yang status

dilakukan secara harian pemeriksaan fisik.

2.

Kaji kondisi nyeri 1 yang dialami klien.

maupun dsekripsi.

Terangkan penyebabnya.

yang diderita klien dan

Kolaborasi pemberian analgetika.

3
nyeri dilakukan

Menguran gi onset terjadinya dapat dengan

pemberian

analgetika maupun dalam

oral sistemik spectrum

luas/spesifik.

3.

Keterbatasan aktivitas berhubungan dengan kelemahan, penurunan sirkulasi

Kllien dapat melakukan 1 aktivitas tanpa adanya komplikasi

Kaji beraktivitas.

tingkat 1 klien

Mungkin tidak berarti, perlu untuk kondisi mengalami perubahan tetapi masif diwaspadai menccegah perdarahan

kemampuan klien untuk

2
pengaruh terhadap

Kaji aktivitas kondisi

klien lebih buruk.

Aktivitas merangsang peningkatan vaskularisasi pulsasi reproduksi. dan organ

uterus/kandungan.

Bantu

klien

untuk kebutuhan sehari-hari.

memenuhi 3 aktivitas klien optimal. melakukan

Mengistir atkan klilen secara

4
untuk

Bantu

tindakan sesuai dengan 4 kemampuan/kondisi klien.

Mengopti malkan imminens, kondisi istirahat sangat Menilai kondisi umum klien. klien, pada abortus mutlak diperlukan.

5 Evaluasi perkembangan klien 5 kemampuan

melakukan aktivitas.

4.

Cemas berhubungan dengan perubahan Klien status kesehatan.

akan 1

Kaji kecemasan klien.

tingkat 1 ui

Mengetah sejauh mana kecemasan tersebut mengganggu klien.

menunjukkan kecemasan berkurang/hilang. 2

Beri pada

kesempatan 2 klien untuk perasaan

Ungkapan dapat

mengungkapkan perasaannya.

memberikan lega mengurangi kecemasan.

rasa

sehingga

Mendengarkan keluhan klien dengan 3 empati.

Dengan mendengarkan keluahan klien secara empati maka klien akan merasa diperhatikan.

Jelaskan pada klien 4 tentang proses penyakit dan terapi yang diberikan.

Menamba h pengetahuan klien sehingga klien tahu dan mengerti tentang penyakitnya. Menciptak an ketenangan batin sehingga kecemasan dapat berkurang.

dorongan 5 spiritual/support.

Beri

5.

Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan perdarahan, kondisi vulva lembab.

Tidak selama

terjadi

infeksi 1

Kaji keluaran/dischart dan bau.

kondisi 1 yang yang

Perubahan terjadi pada dishart dikaji setiap saat dischart keluar. Adanya warna yang lebih gelap disertai bau tidak enak mungkin merupakan tanda infeksi.

perawatan

perdarahan.

keluar ; jumlah, warna,

Terangkan klien

pada

Infeksi dapat timbul akibat kurangnya kebersihan genital yang lebih luar.

pentingnya

perawatan vulva selama masa perdarahan.

Lakukan pemeriksaan pada dischart. biakan

3
kuman

Berbagai dapat teridentifikasi melalui dischart.

Lakukan perawatan vulva.

Inkubasi

kuman

pada

area dapat

Terangkan klien infeksi.

pada cara

genital yang relatif cepat menyebabkan infeksi.

mengidentifikasi tanda

Berbagai manifestasi klinik dapat menjadi tanda nonspesifik infeksi; demam peningkatan nyeri merupakan infeksi. dan rasa mungkin gejala

Anjurkan suami untuk melakukan perdarahan.

pada tidak hubungan

senggama selama masa

6
penting senggama kondisi

Pengertian pada keluarga sangat artinya dalam perdarahan untuk kebaikan ibu;

dapat memperburuk

kondisi sekaligus

system

reproduksi ibu dan meningkatkan resiko infeksi pasangan. 6. pada

Perubahan pola

tidur

berhubungan Klien mengungkapkan tidurnya terganggu.

akan pola tidak

1
tidur.

Kaji

pola

1
tidur

Dengan mengetahui klien, pola akan

dengan adanya nyeri.

memudahkan dalam menentukan intervensi selanjutnya.

Ciptakan lingkungan yang nyaman dan tenang.

2
klien

Memberik an kesempatan pada untuk Susu mengandung protein yang tinggi beristirahat.

Anjurkan klien minum susu

hangat tidur.

sebelum

sehingga merangsang tidur.

dapat untuk

4
jumlah

Dengan penjaga klien yang dibatasi maka kebisingan di ruangan klien beristirahat. dapat dapat Memberik an kesempatan pada klien untuk Diazepam berfungsi merelaksasi sehingga mudah tidur. untuk otot klien beristirahat. dikurangi sehingga

4
jumlah klien.

Batasi penjaga

Memberlak ukan jam besuk.

Kolaborasi dengan tim medis

dapat tenang dan

pemberian tidur Diazepam.

obat

DAFTAR PUSTAKA Achadiat, Chrisdiono M. (2004). Prosedur Tetap Obstetri dan Ginekologi. Jakarta: EGC Bobak, Irene. (2005). Buku Ajar Keperawatan Maternitas Ed. 4. Jakarta: EGC Hamilton, C. Mary. (1995). Dasar-dasar Keperawatan Maternitas, edisi 6. EGC: Jakarta. Mansjoer, Arif, dkk. (2001). Kapita Selekta Kedokteran, Jilid 1. Media Aesculapius: Jakarta. Manuaba, Ida Bagus Gde. (2004). Penuntun Kepaniteraan Klinik Obstetri dan Ginekologi. Jakarta: EGC Morgan, Geri, and Hamilton, Carole. (2009). Obstetri & Ginekologi: Panduan Praktik. Jakarta: EGC Prawirohardjo, Sarwono. (2005). Ilmu Kandungan. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo : Jakarta. Sastrawinata, Sulaiman; Martaadisoebrata, Djamhoer; F. Wirakusumah, Firman. (2003). Ilmu Kesehatan Reproduksi: obstetri patologi. Jakarta: EGC Sinclair, Constance. (2009). Buku Saku Kebidanan. Jakarta: EGC Taber, Ben-Zion. (1994). Kapita Selekta Kedaruratan Obstetri dan Ginekologi. Jakarta: EGC

Anda mungkin juga menyukai