Anda di halaman 1dari 31

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM BIOFARMASETIKA DAN FARMAKOKINETIKA PEMBUATAN PEREAKSI DAN PEMBUATAN KURVA KALIBRASI SULFADIAZIN DAN FUROSEMIDA

OLEH : ANGGI ARFAH NURSAHADA NIM 111501016

LABORATORIUM BIOFARMASETIKA DAN FARMAKOKINETIKA FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2013

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pereaksi merupakan suatu proses dimana zat-zat baru yaitu hasil reaksi, terbentuk dari beberapa zat aslinya. Reaksi kimia dikatakan atau berlangsung apabila salah satu hal berikut harus teramati yaitu reaksi tersebut menghasilkan gas, endapan, perubahan suhu dan perubahan warna. dan reaksi kimia juga merupakan proses perubahan zat pereaksi menjadi produk (Basset., dkk, 1994). Normalitas dari solusi adalah 'molaritas' dikalikan dengan jumlah setara per mol (mol jumlah ion hidroksida atau hidronium per mol) untuk molekul. Untuk NaOH ada satu ekuivalen per mol (satu mol ion hidroksida rilis per mol NaOH dilarutkan dalam air) sehingga 'normalitas' adalah 'Molaritas' kali 1 eq/mol (Basset., dkk, 1994). Pereaksi pembatas adalah zat yang jumlah partikelnya habis terlebih dahulu sehingga mengakibatkan reaksi terhenti. Pereaksi pembatas jumlahnya membatasi jumlah pereaksi lain yang dapat bereaksi. Pereaksi pembatas dapat ditentukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: 1. Tuliskan persamaan reaksi yang telah disertakan, 2. Tentukan jumlah mol setiap pereaksi, 3. Bagi mol setiap pereaksi dengan koefisien reaksinya, hasil bagi mol perkoefisien terkecil merupakan pereaksi pembatas, 4. Gunakan mol pereaksi pembatas sebagai patokan untuk menghitung jumlah pereaksi yang habis (pereaksi pembatas), jumlah pereaksi yang yang bersisa dan jumlah zat hasil reaksi yang terbentuk (Muchtaridi & Justiana, 2007).

1.2 Tujuan Percobaan Untuk mengetahui cara pembuatan aquadest bebas CO2 Untuk mengetahui cara dan hasil perhitungan pembuatan pereaksi NaOH 1N Untuk mengetahui cara dan hasil perhitungan pembuatan pereaksi NaOH 0,2N Untuk mengetahui cara dan hasil perhitungan pembuatan cairan lambung buatan Untuk mengetahui cara dan hasil perhitungan pembuatan NaCI 0,9% yang isotonis dengan cairan tubuh Untuk mengetahui cara dan hasil perhitungan pembuatan dapar fosfat pH 7,4 Untuk mengetahui cara dan hasil perhitungan kurva absorpsi dan kurva kalibrasi Sulfadiazin dalam medium lambung buatan pH 1,2 Untuk mengetahui cara dan hasil perhitungan kurva absorpsi dan kurva kalibrasi Furosemid

1.3 Manfaat Percobaan Agar praktikan mengetahui cara pembutan pereaksi untuk ekperimen pada uji invitro Agar praktikan mengetahui guna pereaksi untuk eksperimen pada uji invitro

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Proses perubahan kimia disebut dengan reaksi kimia yang ditandai dengan terbentuknya zat baru. Zat yang berubah pada suatu reaksi kimia disebut pereaksi (reaktan) sedangkan zat baru yang dihasilkan melalui suatu reaksi kimia disebut dengan hasil reaksi (produk). Reaksi kimia biasanya ditandai dengan terjadinya perubahan warna, terbentuknya endapan, terbentuknya gas dan terjadi perubahan suhu. Perubahan suhu pada reaksi kimia terjadi karena pada reaksi tersebut terlibat sejumlah energi dalam bentuk panas (kalor) (Astuti, 2009). Jenis Jenis Reaksi Kimia 1. Pembakaran. Pembakaran adalah suatu reaksi dimana suatu unsur atau senyawa bergabung dengan oksigen membentuk senyawa yang mengandung oksigen sederhana. 2. Penggabungan (sintetis) suatu reaksi dimana sebuah zat yang lebih kompleks terbentuk dari dua atau lebih zat yang lebih sederhana (baik unsur maupun senyawa). 3. Penguraian adalah suatu reaksi dimana suatu zat dipecah menjadi zatzat yang lebih sederhana 4. Penggantian (Perpindahan tanggal) adalah suatu reaksi dimana sebuah unsur pindahan unsur lain dalam suatu senyawa 5. Metatesis (pemindahan tanggal) adalah suatu reaksi dimana terjadi pertukaran antara dua reaksi (Petrucci & Hill, 2005).

Kebenaran hasil pengujian dan penetapan kadar, antara lain tergantung pada mutu pereaksi yang digunakan. Kecuali dinyatakan lain, semua pereaksi yang digunakan dalam pengujian dan penetapan kadar harus mempunyai mutu untuk analisis, pereaksi dalam pereaksi indikator dan larutan tidak boleh digunakan dalam terapi (Depkes, 1995). Larutan adalah campuran yang homogen antara zat terlarut dan pelarut. Tidak semua zat padat dapat larut dalam air. Bila pasir dicanpurkan ke dalam air, setelah beberapa saat pasir akan terpisah dari air. Pasir akan mengendap di bagian bawah, sedangkan air di bagian atas. Campuran seperti ini disebut campuran heterogen, biasanya disingkat campuran. Larutan dapat berwujud padat, cair, ataupun gas. Contoh larutan yang berwujud padat adalah kuningan yang merupakan campuran homogen dari seng dengan tembaga. Contoh larutan yang berwujud cair adalah air gula, air garam, dan sebagainya. Contoh larutan yang berwujud gas adalah udara yang merupakan campuran dari berbagai jenis gas, terutama gas nitrogen dan gas oksigen (Astuti, 2009). Pembuatan aquadest bebas CO2 Air murni adalah air yang dimurnikan yang diperoleh dengan destilasi, perlakuan menggunakan penukar ion osmosis balik atau proses yang sesuai. Dibuat dari air yang memenuhi persyaratan air minum. Tidak mengandung zat tambahan lain. Pemerian cairan jernih,tidak berwarna dan tidak berbau dengan pH antara 5,0 dan 7,0 dilakukan penetapan secara potensiometrik pada larutan yang ditambahkan 0,30 ml larutan kalium klorida (p) pada jenuh 100 ml zat uji (Depkes RI, 1995).

Pembawa air merupakan pembawa umum yang dipilih karena tidak mengiritasi, tidak toksik, air menimbulkan efek melarutkan pada sebagian terbesar zat-zat yang berhubungan dengan adanya dan tidak menjadi murni serta mengandung garam-garam anorganik dalam jumlah yang berbeda, biasanya natrium, kalium, kalsium, magnesium dan besi. Air murni biasanya mengandung kurang dari 0,1% jumlah zat-zat padat, yang ditentukan dengan menguapkan 100 ml. Pembuatan aquadest bebas CO2 agar tidak membentuk komplek kelat sehingga harus ditutup setelah pemanasan (Petrucci & Ralph, 1989). Karbondioksida merupakan sumber karbon utama dalam proses

fotosintesis. Karbondioksida ini merupakan senyawa sisa metabolisme, yaitu respirasi seluler yang terjadi dalam tubuh makhluk hidup. Karbon dioksida (rumus kimia: CO2) atau zat asam arang adalah sejenis senyawa kimia yang terdiri dari dua atom oksigen yang terikat secara kovalen dengan sebuah atom karbon. Ia berbentuk gas pada keadaan temperatur dan tekanan standar dan hadir di atmosfer bumi (Petrucci & Ralph, 1989). Karbondioksida (CO2) merupakan salah satu gas yang terdapat dalam air. Berdasarkan bentuk dari gas Karbondioksida (CO2) di dalam air, CO2 dibedakan menjadi: CO2 bebas yaitu CO2 yang larut dalam air, CO2 dalam kesetimbangan, CO2 agresif. Dari ketiga bentuk Karbondioksida (CO2) yang terdapat dalam air, CO2 agresiflah yang paling berbahaya karena kadar CO 2 agresif lebih tinggi dan dapat menyebabkan terjadinya korosi sehingga berakibat kerusakan pada logam logam dan beton. Menurut Powell CO 2 bebas yang asam akan merusak logam apabila CO2 tersebut bereaksi dengan air.karena akan merusak logam (Harun F.R 1996).

Natrium Hidroksida (NaOH) Mengandung tidak kurang dari 95% dan tidak lebih dari 100,5% alkali jumlah,dihitung sebagai NaOH, mengandung Na2CO3 tidak lebih dari 3,0%. Pemerian : putih atau praktis putih, massa melebur berbentuk pellet, serpihan atau batang atau bentuk lain, keras rapuh dan menunjukkan perpecahan hablur. Bila dibiarkan di udara, akan cepat menyerap karbon dioksida dan lembab. Kelarutan mudah larut dalam air dan dalam etanol.(Depkes RI,1994) NaOH hanya berisi satu fungsi kimia yang signifikan, yang merupakan hidroksida dasar, OH-. Jadi, untuk NaOH solusi, molaritas dan normalitas akan hal yang sama. Jadi, solusi 1,0 N NaOH dalam air juga merupakan 1,0 M larutan NaOH dalam air, dan 0,1 N larutan NaOH dalam air adalah 0,1 M larutan NaOH dalam air. untuk membuat M 1.0 (= 1,0 N) larutan NaOH dalam air, timbang 40,0 gram NaOH, larutkan di sekitar 0,8 liter air, dan kemudian menambahkan air untuk solusi untuk mengambil volume total hingga 1,0 liter persis. dan lakukan hal yang sama untuk membuat 0,1 M (= 0,1 N) solusi: menimbang 0,1 mol NaOH (= 4.0 g), larutkan dalam air, dan tambahkan air yang cukup untuk membuat total volume setara dengan tepat 1 liter (Ansel, 2005). Natrium klorida, Mengandung tidak kurang dari 99% dan tidak lebih dari 101,0% NaCI dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan, tidak mengandung zat tambahan. Pemerian: hablur bentuk kubus, tidak berwarna atau serbuk hablur putih,rasa asin. Kelarutan mudah larut dalam air mendidih, larut dalm gliserin,sukar larut dalam etanol (Depkes RI, 1994).

Natrium Klorida juga dikenal dengan garam dapur, atau halit, adalah senyawa kimia dengan rumus molekul NaCl. Senyawa ini adalah garam yang paling memengaruhi salinitas laut dan cairan ekstraselular pada banyak organisme multiselular. Sebagai komponen utama pada garam dapur, natrium klorida sering digunakan sebagai bumbu dan pengawet makanan (Ansel, 2005). Sodium Chlorida atau Natrium Chlorida (NaCl) yang dikenal sebagai garam adalah zat yang memiliki tingkat osmotik yang tinggi. Zat ini pada proses perlakuan penyimpanan benih recalsitran berkedudukan sebagai medium inhibitor yang fungsinya menghambat proses metabolisme benih sehingga perkecambahan pada benih recalsitran dapat terhambat (Ansel, 2005). Dengan kemampuan tingkat osmotik yang tinggi ini maka apabila NaCl terlarut di dalam air maka air tersebut akan mempunyai nilai atau tingkat konsentrasi yang tinggi yang dapat mengimbibisi kandungan air (konsentrasi rendah)/low concentrate yang terdapat di dalam tubuh benih sehingga akan diperoleh keseimbangan kadar air pada benih tersebut. Hal ini dapat terjadi karena H2O akan berpindah dari konsentrasi yang rendah ke tempat yang memiliki konsentrasi yang tinggi. Hal ini merupakan hal yang sangat menguntungkan bagi benih recalsitran, karena sebagaimana kita ketahui benih recalsitran yaitu benih yang memiliki tingkat kadar air yang tinggi dan sangat peka terhadap penurunan kadar air yang rendah. Kadar air yang tinggi menyebabkan benih recalsitran selalu mengalami perkecambahan dan berjamur selama masa penyimpanan atau pengiriman ketempat tujuan. Namun dengan perlakuan konsentrasi sodium chlorida (NaCl) maka hal ini dapat teratasi (Ansel, 2005).

Konsentrasi suatu larutan dalam hubungannya dengan tekanan osmosis di pengaruhi oleh jumlah partikel zat terlarut dalam larutan hal ini terjadi apabila zat terlarut bukan elektrolit (seperti gula) sehingga konsentrasi larutan sepenuhnya tergantung pada jumlah molekul yanga ada.tapi apabila zat terlarut adalah elektrolit seperti natrium klorida maka jumlah partikel yang menunjang larutan ini tidak hanya pada konsentrasi molekul yang ada tapi juga pada tingkat ionisasi. Cairan tubuh, termasuk darah dan cairan mata mempunyai tekanan osmosis yang sebanding dengan larutan natrium klorida dalam air 0,9%. Jadi suatu larutan NaCl dengan konsentrasi tersebut dikatakan isoosmotik, atau memiliki suatu tekanan osmosis yang seimbang dengan fisiologis (Ansel, 2005). Cairan Lambung Proses pencernaan dapat dilakukan dengan cara mekanik dan kimiawi. Proses mekanik adalah proses pengubahan makanan yang berukuran besar sampai ukurannya lebih kecil.Proses ini dibantu dengan gigi, lambung dan usus selain itu juga dibantu dengan adanya gerakan peristaltik. Sedangkan pencernaan kimiawi adalah pengubahan secara kimia dilakukan dengan bantuan enzim (Poedjiadi, 1994). Pepsin adalah enzim pencernaan yang dilepaskan dalam perut sebagai pepsinogen. Asam klorida merangsang pelepasan pepsinogen.Ketika pepsinogen terkena asam klorida dalam lambung, pepsinogen berubah menjadi pepsin. Dengan fungsi utama pepsin adalah untuk memecah protein yang ditemukan dalam berbagai makanan seperti daging dan telur menjadi fragmen yang lebih kecil (polipeptida) (Poedjiadi, 1994).

Cairan lambung adalah merupakan cairan yang ada di dalam lambung. Komponen getah lambung terdari dari air, asam klorida dan enzim. Sekresi dari getah lambung diatur oleh mekanisme syaraf dan hormonal. Impuls parasimpatis yang terdapat pada medula dihantarkan melalui syaraf vagus dan merangsang gastrik glands untuk mensekresikan pepsinogen, asam klorida, mukus, dan hormon gastrin. Ada tiga faktor yang merangsang sekresi lambung, yaitu : fase sefalik, fase gastrik, dan fase intestinal (Poedjiadi, 1994). Asam lambung mempunyai pH sekitar 1,00 sampai 2,00. Fungsi utamanya adalah pemecahan molekul protein dengan mengaktivasi pepsin. Fungsi lainnya adalah kerja pendahuluan terhadap protein sebelum dipecah pepsin, yaitu berupa denaturasi dan hidrolisis, aktivasi pepsinogen menjadi pepsin, mempermudah penyerapan Fe, sedikit menghidrolisis suatu disakarida, merangsang pengeluaran sekretin, suatu hormon yang terdapat dalam duodenum, dan mencegah terjadinya fermentasi dalam lambung oleh mikroorganisme (Poedjiadi, 1994). . Prinsip dari aktivitas di perut adalah memulai pencernaan protein. Bagi

orang dewasa, pencernaan terutama dilakukan melalui enzim pepsin. Pepsin memecah ikatan peptide antara asam amino yang membentuk protein. Rantai protein yang terdiri dari asam amino dipecah menjadi fragmen yang lebih kecil yang disebut peptide. Pepsin paling efektif di lingkungan yang sangat asam di perut (pH=2) dan menjadi inaktif di lingkungan yang basa (Syukri, 2002). Pepsin disekresikan menjadi bentuk inakatif yang disebut pepsinogen, sehingga tidak dapat mencerna protein di sel-sel zymogenic yang

memproduksinya. Pepsinogen tidak akan diubah menjadi pepsin aktif sampai ia melakukan kontak dengan asam hidroklorik yang disekresikan oleh sel parietal.

10

Kedua, sel-sel lambung dilindungi oleh mukus basa, khususnya setelah pepsin diaktivasi. Mukus menutupi mukosa untuk membentuk hambatan antara mukus dengan getah lambung (Syukri, 2002). Pepsin adalah suatu komponen yang besar yang memiliki berat molekul 35.000 daltons dan pH optimum kira-kira 1.0 untuk subrat kasein dan

hemoglobin jika substrat adalah protein asli. Pepsin akan memotong grup karbolik dari asam amino seperti fenilalanin dan tirosin. Pepsin tidak memotong ikatan yang ada di valin, alanin, atau glisin. Pepsin tidak bekerja pada pH 6.0 (Syukri, 2002). Dapar Fosfat Kalium dihidrogen fosfat, atau kalium fosfat monobasa, (MKP) -KH2PO4adalah larut garam yang digunakan sebagai pupuk, sebuah aditif makanan dan fungisida. Ini adalah sumber fosfor dan kalium. Ini juga merupakan agen penyangga. Pembuatan dapar fosfat untuk mempertahankan PH sediaan pH yang baik adalah kapasitas dapar yang dimilikinya memungkinkan penyimpanan lama dan darah dapat menyesuaikan diri serta pH ideal = 7,4 sesuai pH darah. Bila pH > 9 terjadi nekrosis pada jaringan dan bila pH < 3 sangat sakit waktu disuntikkan (Keenan & Pudjaatmaja, 1992). Furosemid merupakan obat diuretic kuat, terutama diberikan pada penderita hipertensi. Pada pemberian secara oral, obat ini hanya sekitar 60 % yang dapat terabsorpsi. Sangat rendahnya fraksi obat yang terabsorpsi tersebut merupakan akibat dari kelarutannya yang sangat kecil, karena furosemid sangat sukar larut dalam air (Tianti., dkk, 2005).

11

Furosemid merupakan obat golongan diuretika kuat, yang efektif untuk pengobatan udem akibat gangguan jantung, hati atau ginjal dan hipertensi. Pengobatan dengan furosemid sering menimbulkan permasalahan bioavaibilitas per oral. Permasalahan bioavailabilitas yang timbul sering dikaitkan dengan laju disolusi furosemid yang rendah (Sutriyo., dkk, 2005). BAB III METODOLOGI PERCOBAAN 3.1 Alat-Alat yang Digunakan Neraca analitik, labu tentukur 10 ml, labu tentukur 100 ml, labu tentukur 1000 ml, bekerglass 250 ml, bekerglass 1000 ml, batang pengaduk, maat pipet 10 ml, bola karet, pH universal, botol aquadest. 3.2 Bahan-Bahan yang Digunakan Natrium hidroksida (NaOH), kalium hidrogen fosfat (KH2PO4), natrium klorida (NaCl), asam klorida (HCl), Aquadest bebas CO2, sulfadiazine serbuk, furosemid serbuk, pepsin,aquadest. 3.3 Hewan Percobaan ----3.4 Prosedur 1. Pembuatan aquadest bebas CO2 Nama bahan: Aquadest 10 L Cara kerja: didihkan 5 liter aquadest kuat kuat dibuka tutupnya setelah mendidih dan biarkan tetap mendidih selama 5 menit

12

Dinginkan Di masukkan ke dalam wadah 2. Pembuatan NaOH 1 N Nama bahan: NaOH Aquadest bebas CO Cara kerja: dilarutkan 44 g NaOH dicukupkan hingga 1000 ml aquadest bebas CO2 dimasukkan kedalam wadah 3. Pembuatan NaOH 0,2 N Nama bahan: NaOH Aquadest bebas CO2 Cara kerja: dilarutkan 13,2 g NaOH dicukupkan dengan aquadest bebas CO2 hingga 1,5 L dimasukkan kedalam wadah 4. Pembuatan NaCl 0.9 % Nama bahan: NaCL 0.9%, aquadest Cara kerja: dilarutkan 27 g NaCl dengan aquadest dicukupkan dengan air hingga 3000 ml dimasukkan dalam wadah 5. Pembuatan Cairan Lambung Buatan Nama bahan: Natrium klorida

13

HCl(p) Aquadest Cara kerja ditimbang sebanyak 12 g natrium klorida dilarutkan dalam 42 ml asam klorida pekat dicukupkan dengan air hingga 6 liter dimasukkan dalam wadah

6. Pembuatan dapar fosfat PH 7,4 Bahan: kalium hydrogen fosfat NaOH 0,2 N Aquadest Cara kerja: dicampurkan 1,25 liter KH2PO4 0,2 M dengan NaOH 0,2 N sebanyak 977,5 ml dilarutkan sampai larut dicukupkan dengan aquadest bebas CO2 hingga volume 5 liter dimasukkan dalam wadah 3.3.2. Pengukuran Kurva Absorpsi dan Kurva Kalibrasi Sulfadiazin Timbang seksama 250 mg SD, larutkan dalam medium dan encerkan sampai 1000 ml (C = 250 mcg/ml). Pipet 4 ml dari LIB I encerkan sampai 100 ml (C = 10 ppm). Kemudian pipet 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10 ml dari larutan LIB II (C= 10 ppm) encerkan sampai 10 ml

14

hingga diperoleh konsentrasi 4, 5, 6, 7, 8, 9, dan 10 mcg/ml. Ukur absorbansinya dengan spektrofotometer UV. 3.3.3. Pengukuran Kurva Absorpsi dan Kurva Kalibrasi Furosemida Timbang seksama 50 mg Furosemida yang dikeringkan pada suhu 104oC selama 3 jam, larutkan dalam medium dan encerkan sampai 100 ml (C = 500 mcg/ml). Pipet 2 ml dari LIB I encerkan sampai 100 ml (C = 10 ppm). Kemudian pipet 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10 ml dari larutan LIB II (C= 10 ppm) encerkan sampai 10 ml hingga diperoleh konsentrasi 4, 5, 6, 7, 8, 9, dan 10 mcg/ml. Ukur absorbansinya dengan spektrofotometer UV BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Aquadest bebas CO2 sebanyak 10 L NaOH 0,1 N ditimbang sebanyak 44.011 g NaOH 0, 2 N ditimbang sebanyak 13,20 g NaCl 0,9% di timbang sebanyak 27 g Cairan lambung buatan di timbang NaCl senbanyak 12 g dan HCl sebanyak 42 ml KH2PO4 ditimbang sebanyak 1,25 L dan dilarutkan dengan NaOH 977,5 ml Kurva kalibrasi Sulfadizin: Terlampir Kurva Kalibrasi Furosemid: Terlampir 4.2 Grafik

15

Terlampir 4.3 Pembahasan Dari hasil percobaan maka pembuatan aquadest bebas CO2 dengan 10 liter aquadest yang didihkan selama 5 menit dan ditutup kembali dilakukan pembuatan aquadest bebas CO2 supaya tidak membentuk kompleks khelat dalam air. Pembuatan NaOH dengan konsentrasi 0,2 N ditimbang sebanyak 12 gram dan dilebihkan 10% untuk menhindari faktor penyimpangan dan NaOH 1N ditimbang sebanyak 44,01 gram yang keduanya sama-sama dilarutkan dalam 1000 ml aquadest bebas CO2. Pembuatan cairan lambung sebanyak 6 liter dengan menimbang 12 gram natrium klorida yang dilarutkan dalam asam klorida pekat sebanyak 42 ml dan di encerkan dengan aquadest hingga 6 liter dan pembuatan NaCl 0,9%. Pembuatan dapar fosfat untuk mempertahankan pH, yang dibuat dengan menimbang kalium hidrogem fosfat yang dilarutkan dalam natrium hidroksida sebanyak 977,5 ml. Sediaan pH yang baik adalah kapasitas dapar yang dimilikinya memungkinkan penyimpanan lama dan darah dapat menyesuaikan diri serta pH ideal = 7,4 sesuai pH darah. Bila pH > 9 terjadi nekrosis pada jaringan dan bila pH < 3 sangat sakit waktu disuntikkan (Ansel, 2005). 4.4 Perhitungan 4.4.1 Pembuatan Pereaksi 1. pembuatan aquadest bebas CO2 aquadest sebanyak 5 liter 2. pembuatan NaOH 1 N Jumlah NaOH 1 N yang dibuat 1 L

16

N=

1=

gr = 40 gram dilebihkan 10% = 40 + (10% x 40) = 44 gram

3. pembuatan NaOH 0,2 N Jumlah NaOH 0,2 N yang dibuat 1,5 L N= x

0,2 =

gr = 12 gram dilebihkan 10% = 12 + (10% x 12) = 13,2 gram 4.Pembuatan NaCl 0,9% Jumlah NaCl 0,9 % yang akan dibuat 3 L =

17

gr2 = 27 gram

5.Pembuatan Medium Lambung Buatan pH 1,2 Jumlah medium lambung buatan yang dibuat 5 L Nacl = 2 gram x 5 L = 10 gram

HCl (p) = 7 ml x 5 = 35 ml Aquadest hingga = 1 x 5 = 5 ml

6. pembuatan dapar fosfat Kalium hydrogen fosfat = 50 5000/200 = 1250 ml = 1,25 L Kalium hydrogen fosfat yang ditimbang:

g KH2PO4 = 34,02 gram

NaOH 0,2 N

= 39,1 5000/200

= 977,5 ml

Aquadest bebas CO2 ad 5000 ml

Pengukuran Kurva Absorpsi dan Kurva Kalibrasi Sulfadiazin LIB I

18

C=

x 1000 mcg/ml = 250 ppm

LIB II C= x 250 ppm = 10 ppm

LIB III 1. V1. C1 = V2. C2 4ml. 10 = 10ml. C2 C2 = 4 ppm 2. V1. C1 = V2. C2 5ml. 10 = 10ml. C2 C2 = 5 ppm 3. V1. C1 = V2. C2 6ml. 10 = 10ml. C2 C2 = 6 ppm 4. V1. C1 = V2. C2 7ml. 10 = 10ml. C2 C2 = 7 ppm 5. V1. C1 = V2. C2 8ml. 10 = 10ml. C2 C2 = 8 ppm 6. V1. C1 = V2. C2

19

9ml. 10 = 10ml. C2 C2 = 9 ppm 7. V1. C1 = V2. C2 10ml. 10 = 10ml. C2 C2 = 10 ppm

Tabel 1. Data Kurva Absorpsi Sulfadiazin dalam medium lambung buatan pH 1,2 No. Konsentrasi 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. (X) 0,0000 4,0000 5,0000 6,0000 7,0000 8,0000 9,0000 10,0000 X=49 X=6,125 Absorbansi (Y) 0 0,469 0,426 0,481 0,530 0,592 0,652 0,703 Y=3,853 XY=28,236 Y=0,481 X2=371 Y2=2,1832 XY 0 1,876 2,13 2,886 3,71 4,736 5,868 7,03 X2 0 16 25 36 49 64 81 100 Y2 0 0,2199 0,1814 0,2313 0,2809 0,3504 0,4251 0,4942

Persamaan Regresi:
a=

XY (X .Y ) / n = 28,236 (49.3,853) / 8 =0,0654 371 ( 49) 2 / 8 X (x) / n


2 2

b=Y-aX=0,481-(0,0654.6,125)=0,080

r2 =

( X

XY (X .Y ) / n ( X ) / n)(Y (Y )
2 2

/ n)

20

r2 =

28,236 ( 49.3,853) / 8 (371 ( 49) 2 / 8)(2,1832 (3,853) 2 / 8)

=0,962

Persamaan garis regresi: Y=0,0654 x+0,080 Pengukuran Kurva Absorpsi dan Kurva Kalibrasi Furosemid LIB I

C=

= 500 ppm

LIB II C= = 10 ppm

LIB III 1. V1. C1 = V2. C2 4ml. 10 = 10ml. C2 C2 = 4 ppm 2. V1. C1 = V2. C2 5ml. 10 = 10ml. C2 C2 = 5 ppm 3. V1. C1 = V2. C2 6ml. 10 = 10ml. C2 C2 = 6 ppm 4. V1. C1 = V2. C2 7ml. 10 = 10ml. C2

21

C2 = 7 ppm 5. V1. C1 = V2. C2 8ml. 10 = 10ml. C2 C2 = 8 ppm 6. V1. C1 = V2. C2 9ml. 10 = 10ml. C2 C2 = 9 ppm 7. V1. C1 = V2. C2 10ml. 10 = 10ml. C2 C2 = 10 ppm Tabel 2. Data Kurva Absorpsi Furosemida dalam medium Dapar Fosfat pH 7,4 No . 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Konsentrasi(X) 0,0000 4,0000 5,0000 6,0000 7,0000 8,0000 9,0000 10,0000 X=49 X=6,125 Absorbansi(Y) 0 0,457 0,475 0,524 0,597 0,682 0,743 0,787 Y=4,265 Y=0,533 XY 0 1,828 2,375 3,144 4,179 5,456 6,687 7,87 X2 0 16 25 36 49 64 81 100 Y2 0 0,2088 0,2256 0,2745 0,3564 0,4651 0,5520 0,619 Y2=2,7014

XY=31,539 X2=371

Persamaan Regresi:
a=

XY (X .Y ) / n = 31,539 (49.4,265) / 8 =0,0764 371 ( 49) 2 / 8 X (x) / n


2 2

22

b=Y-aX=0,533-(0,0764.6,125)=0,0650

r2 =

( X

XY (X .Y ) / n ( X ) / n)(Y (Y )
2 2

/ n)

r2 =

31,539 (49.4,625) / 8 (371 (49) 2 / 8)(2,7014 (4,265) 2 / 8)

=0,9845

Persamaan garis regresi: Y= 0,0764x + 0,0650 Kurva absorbsi sulfadiazine : NO. 1 2 3 Panjang gelombang 370,5 304,5 242,5 Absorbansi 0,0011 0,0917 0,03977

Kurva absorbsi furosemida : NO. 1 2 3 Panjang gelombang 327,5 276,5 228,0 Absorbansi 0,1163 0,4951 0,7731

23

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Pembuatan aquadest bebas CO2 sebanyak 5 liter Pembuatan pereaksi NaOH 1 N ditimbang sebanyak 44 gram yang dilarutkan dalam 1 liter air bebas CO2 dan dilebihkan sebanyak 10% untuk menghindari persen kesalahan Pembuatan pereaksi NaOH 0,2 N ditimbang sebanyak 13,20 g yang dilarutkan dalam 1,5 liter air bebas CO 2 dan dilebihkan sebanyak 10% untuk menghindari persen kesalahan Pembuatan NaCl 0,9% ditimbang sebanyak 27 g yang dilarutkan dalam 3000 ml air Pembuatan cairan lambung buatan dengan 12 g NaCl dan HCl sebanyak 42 g yang dicukupkan hingga 6 liter Pembuatan dapar fosfat pH 7,4 dalam 5 liter aquadest bebas CO 2 yang ditimbang kalium hydrogen fosfat 34,02 yang dilarutkan dengan 977,5 ml NaOH 0,2 N 4.5 Saran Diharapkan praktikan lebih teliti dalam pembutan pereaksi agar terhindari dari persentase kesalahan dalam pelarutan. Untuk kedepan praktikan harus lebih mengetahui prinsip pembuatan pereaksi

24

DAFTAR PUSTAKA

Ansel, H.C. (1985). Introduction to Pharmaceutical Dosage Forms. Georgia: Lea & Febiger Astuti, D.W. (2009). Cepat Tuntas Kuasai Kimia. Jakarta: Indonesia Cerdas Basset, J., dkk. (1994). Vogels Textbook of Quantitative Inorganic Analiysis Including Elementary Instrumental Analysis. London: Longman Group UK Limited Depkes RI. (1995). Farmakope Indonesia. Edisi 4. Jakarta: Depkes RI Petrucci, R.H & Hill. J.W. (1989). General Chemistry. London: Pearson Prentice Hall Poedjiadi, A. (1994). Daftar Biokimia. Jakarta: UI Press Rustamadji & Danu, S.S. (2005). Evaluasi Kebijakan Pengendalian Mutu Obat Dengan Uji Ketersediaan Hayati. JMPK. Vol.8(4). Sutriyo., dkk. (2005). Pengaruh Polivinil Pirolidon Terhadap Laju Disolusi Furosemid dalam Sistem Dispersi Padat. Majalah Ilmu Kefarmasian. Vol.2(1). Syukri, Y. (2002). Biofarmasetika. Jakarta: UI Press Tianti., dkk. (2005). Ketersediaan Hayati Dispersi Padat Furosemid dengan Polietilenglikol 4000 (Peg 4000) pada Kelinci Jantan. Majalah Farmasi Indonesia. Vol.16(2).

25

FLOWSHEET Pembuatan 3 L Aquadest Bebas CO2

5 L Aquadest dikalibrasi dirigen 5 L dimasukkan aquadest ke ceret penangas air listik didihkan dibuka tutup ceret selama 5-15 menit tetapi masih dalam keadaan dipanaskan ditutup tutup ceretnya dicukupkan sampai batas kalibrasi Hasil

Pembuatan 1 L larutan NaOH 1 N 44 g NaOH dilarutkan dalam aquadest bebas CO2 hingga 1000 ml Hasil

Pembuatan 1,5 L larutan NaOH 0,2 N 13,2 g NaOH

26

dilarutkan dalam aquadest bebas CO2 hingga 1,5 L Pembuatan 6 L Dapar Fosfat (pH = 7,4) hasil 300 ml Kalium Dihidrogen Fosfat diencerkan dengan Aquadest hingga 1,5 L ditambahkan 1,173 L larutan NaOH 0,2 N diencerkan dengan Aquadest hingga 6 L Hasil Pembuatan 3 L larutan NaCl 0,9 % 45 g NaCl dilarutkan dalam Aquadest hingga 3L Hasil

Pembuatan 6 L cairan lambung buatan 12 g NaCl ditambahkan 19,2 pepsin dilarutkan dalam 42 ml HCl pekat ditambahkan Aquadest secukupnya hingga 5L Hasil

27

Pembuatan Kurva Kalibrasi Furosemid Furosemid Ditimbang 50 mg Dilarutkan dengan medium dapar fosfat pH 7,4 Diencerkan sampai 100 ml Dipipet 2 ml dari larutan LIB I Diencerkan sampai 100 ml Dipipet 4; 5; 6; 7; 8; dan 9 ml dari larutan Diencerkan sampai 10 ml dengan konsentrasi pengukuran 4; 5; 6; 7; 8; dan 9 mcg/ml Diukur absorbansi dengan spektrofotometer Hasil

28

Pembuatan Kurva Kalibrasi Sulfadiazin Sulfadiazin Ditimbang 250 mg Dilarutkan dengan medium lambung buatan pH 1,2 Diencerkan sampai 1000 ml Dipipet 4 ml dari larutan LIB I Diencerkan sampai 100 ml Dipipet 4; 5; 6; 7; 8; 9 dan 10 ml dari larutan Diencerkan sampai 10 ml dengan

konsentrasi pengukuran 4; 5; 6; 7; 8; 9 dan 10 mcg/ml Diukur absorbansi dengan spektrofotometer Hasil

29

Lampiran 4. Daftar alat

Gambar 1. Gelas ukur

Gambar 2. Spektofotometer

Gambar 3. Beaker glass

Gambar 4. Erlenmeyer

Gambar 5.Labu Ukur

Gambar 6. Pipet Tetes

30

Gambar 7. Termometer

Gambar 8. Neraca Analitik

31

Anda mungkin juga menyukai