Anda di halaman 1dari 67

KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan

rahmat dan hidayah-NYA serta kesehatan kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan Tugas Rancangan Elemen Mesin Berdasarkan kurikulum pada perguruan tinggi Institut Tekhnologi Medan (ITM), dimana setiap mahasiswa/I Fakultas Tekhnologi Industri khususnya jurusan Tekhnik Mesin, wajib menyelesaikan tugas rancangan roda gigi. Dalam kesempatan ini penulis membuat rancangan roda gigi YAMAHA VEGA ZR dengan data sebagai berikut: Daya : 6 KW Putaran : 7500 rpm Dalam rancangan ini penulis menyajikan perhitungan untuk memperoleh ukuran-ukuran dan bahan yang akan digunakan pada roda gigi YAMAHA VEGA ZR. Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan laporan ini dan masih jauh dari yang diharapkan. Untuk itu penulis dengan lapang dada menerima kritik dan saran dari pembaca yang sifatnya membangun untuk kesempurnaan laporan ini. Pada kesempatan ini penulis tidak lupa mengucapkan banyak terimakasih kepada: 1. Kedua orang tua penulis, atas semua nasihat dan pengorbanan moril dan material serta doanya kepada penulis sehingga terselesaikannya tugas ini. 2. Bapak Ir.Nasri pilly,MT selaku dosen pembimbing penulis dalam menyusun tugas rancangan roda gigi ini 3. Kepada teman-teman mahasiwa yang membantu penulis dalam menyelesaikan tugas ini Semoga laporan ini bermanfaat bagi penulis dan sebagai bahan pertimbangan untuk tugas lainnya. TERIMAKASIH Medan ,27 mei 2013 Penulis ( DIAN SYAHPUTRA) Nim : 10 202 067

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ....................................................................................... 1 DAFTAR ISI ..................................................................................................... 2 SKET GAMBAR RODA GIGI ........................................................................ 3 KETERANAGAN GAMBAR ......................................................................... 4 CARA KERJA . ............................................................................ 5 BAB I PENDAHULUAN ............................................................................ 6 1.1 Pengertian Roda Gigi .................................................................. 6 1.2 Jenis-jenis Roda Gigi .................................................................. 6 1.3 Pemilihan Jenis Roda Gigi .......................................................... 11 BAB II POROS ..................................................... ...................................... 12 2.1 Pengertian Poros.. 12 2.2 Perhitungan Poros 13 2.3 Perhitungan Poros Output 19 BAB III SPLINE DAN NAAF. .......................................................... 23 3.1 Spline dan Naaf................................................................ 23 3.2 Perhitungan Spline dan Naaf ...................................................... 24 BAB IV PERENCANAAN RODA GIGI... .................................................... 34 4.1 Perencanaan Roda Gigi................... ........................................... 34 BAB V BANTALAN. 50 5.1 Bantalan.. 50 5.2 Perencanaan Bantalan. 52 BABVI PELUMASAN DAN TEMPERATUR KERJA MESIN................... 58 BAB VII PERAWATAN ................................................................................. 63 BABVIII KESIMPULAN DAN SARAN ........................................................ 65 LITERATUR ..................................................................................................... 69

KETERANGAN GAMBAR NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 NAMA BAGIAN Rumah roda gigi Pinion A Pinion B Pinion C Pinion D Bantalan input Poros input Bantalan output Poros out put Gear F (4) Gear G (3) Gear H (2) Gear I (1) Spline Baut pengikat JUMLAH 1 1 1 1 1 2 1 2 1 1 1 1 1 4 5

PRINSIP KERJA RODA GIGI Pada posisi netral Putaran dari poros engkol diteruskan melalui sistem transmisi ke poros input. Pada transmisi , putaran dari poros input diteruskan ke roda gigi yang terdapat pada poros input. Karena gigi-gigi pada poros input tidak berhubungan dengan gigi-gigi pada poros output, maka putaran dari poros input tidak dapat diteruskan ke poros output. Kecepatan I Bila pedal pemindah daya (persenelling) ditekan ke depan, maka garpu pemindah gigi akan menggerakkan pinion B sehingga menyatu dengan pinion A. Sehinggan putaran dari poros input diteruskan ke gear I dengan perantaraan yang berlawanan dengan poros input, selanjutnya poros output ditransmisikan ke belakang. Kecepatan II Untuk mengubah kecepatan cukup dengan menekan pedal pemindah gigi ke depan, maka garpu akan menekan pinion B ke kanan. dan akan menggerakan gear I (1) kekanan menyatu dengan gear H (2). Sehingga putaran dari poros input dapat diteruskan ke poros output melalui hubungan antara gear H(2) dengan pinion B. Kecepatan III Untuk kecepatan III garpu pemindah menggerakkan pinion B kekanan sehingga menyatu pada pinion C. Dengan berhubungnya pinion ini, maka putaran dari poros input dapat diteruskan ke poros output melalui roda gigi G (3). Kecepatan IV Pada kecepatan IV garpu pemindah gigi akan menggerakan gear G(3) sehingga berhubungan langsung dengan gear F(4), sehingga putaran dari poros input dapat diteruskan keporos output melalui pinion D ke gear F(4).

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Pengertian Roda Gigi Roda gigi adalah salah satu mekanisme yang dipergunakan untuk memindahkan daya putaran dari poros yang satu ke poros yang lain. Pada umumnya putaran poros yang digerakkan lebih besar putarannya dari pada putaran poros penggerak, tetapi dapat juga terjadi sebaliknya dan biasanya poros-poros penggerak dengan poros yang digerakkan mempunyai putaran yang berlawanan. Sistem pemindahan daya dan putaran tidak hanya dapat dilakukan oleh roda gigi, tetapi juga dapat dilakukan dengan sabuk dan rantai. Fungsi transmisi adalah : Memperbesar momen pada saat momen yang besar diperlukan. Memperkecil momen pada saat kendaraan berjalan dengan kecepatan tinggi, hal ini akan mengurangi bahan bakar dan memperkecil suara yang terjadi pada kendaraan. Untuk memundurkan jalannya kendaraan dengan adanya perkaitan gigi-gigi pada transmisi dikarenakan mesin hanya berputar pada satu arah. 1.2 Jenis-jenis Roda Gigi 1.2.1 Roda gigi dengan poros sejajar. Yaitu dimana roda giginya sejajar pada bidang slinder (bidang jarak bagi), dimana slinder tersebut saling bersinggungan. a. Roda gigi lurus. Roda gigi lurus berfungsi untuk mentransmisikan daya yang positif antara dua poros yang sejajar dengan sebuah perbandingan kecepatan angular (sudut) yang konstan.

Gambar. 1.1 Roda gigi lurus

b. Roda gigi miring. Roda gigi miring berbeda dengan roda gigi lurus. Dalam hal ini gigi yang dibuat tidak sejajar dengan poros slinder, namun mempunyai sudut helix. Jumlah gigi membentuk kontak serentak pada roda gigi miring. Roda gigi miring jumlah pasangan gigi yang membentuk kontak serentak lebih besar dari pada roda gigi lurus, sehingga pemindahan momen dan putaran melalui gigi tersebut terjadi secara halus. Sifat ini sangat bagus untuk mentransmisikan putaran yang tinggi dan daya yang besar. Namun roda gigi ini lebih besar karena berbentuk ulir sehingga menimbulkan gaya reaksi yang sejajar dengan poros.

Gambar. I.2. Roda gigi miring

c. Roda gigi miring ganda. Roda gigi miring ganda ini mempunyai gaya aksial yang timbul pada gigi yang mempunyai alur gigi bentuk V yang gaya-gayanya akan saling meniadakan. Roda gigi ini mempunyai perbandingan reduksi kecepatan keliling dan daya yang diteruskan dapat diperbesar, akan tetapi melihat bentuknya sangatlah sukar dalam pembentukannya.

Gambar.I.3 Roda gigi miring

d. Roda gigi dalam. Roda gigi ini dipergunakan sebagai alat pemindah daya untuk ukuran-ukuran kecil dengan perbandingan reduksi yang besar. Sebab roda gigi pinionnya terletak didalam roda giginya dan biasanya searah.

Gambar. I.4.Roda gigi dalam

e. Batang gigi dan Pinion. Batang gigi ini merupakan profil dasar pembuatan gigi pasangan. Batang gigi dari pinion dipergunakan untuk membuat putaran menjadi gerakan halus.

1.2.2. Roda gigi dengan poros berpotongan dimana porosnya tidak sejajar dan tidak segaris. a. Roda gigi kerucut lurus. Seperti gambar dibawah ini roda gigi kerucut mempunyai bidang gerak bagi dan batang kerucut, puncaknya terletak di titik potong sebagai poros. Roda gigi kerucut adalah yang paling mudah dipakai dan dibuat, tetapi roda gigi ini menimbulkan suara yang cukup besar ( berisik) diakibatkan perbandingan kontaknya yang kecil.

Gambar. I.5.Roda gigi kerucut lurus

b. Roda gigi kerucut spiral. Roda gigi ini mempunyai perbandingan yang besar dan dapat mentransmisikan daya dan putaran yang tinggi dengan beban yang besar.

Gambar. I.6.Roda gigi kerucut spiral.

1.2.3. Roda gigi yang mempunyai poros tegak lurus. Roda gigi ini dipakai pada poros-poros yang menjulang dan tegak lurus tanpa adanya slip yang besar, dan merupakan pemindahan daya yang dibutuhkan pada konstruksi permesinan. Roda gigi ini dapat digolongkan menjadi: a. Roda gigi silang. Roda gigi silang ini mempunyai poros yang menyilang antara poros penggerak dengan poros yang digerakkan.

Gambar. I.7.Roda gigi miring silang

b. Roda gigi cacing. (worm gear). Roda gigi cacing fungsinya untuk memindahkan daya yang tidak berpotongan ( tegak lurus). Batang penggerak jenis ulir dipasang pada sebuah atau lebih roda gigi dan biasanya disebut roda cacing. Roda gigi cacing ini mempunyai fungsi yang sama, hanya gerakannya saja yang berbeda. Gerakan roda gigi globoid lebih halus dari pada gigi silindris.

10

Gambar. I.8.Roda gigi cacing slindris

Selain roda gigi yang diuraikan diatas ada lagi roda gigi yang dapat meneruskan putaran seperti: 1. Roda gigi Hipoid. 2. Roda gigi Permukaan. I.3. Pemilihan Jenis Roda Gigi. Dari jenis roda gigi yang penulis ketahui, penulis lebih cenderung memilih roda gigi lurus. Alasan penulis memilih roda gigi lurus karena sangat mudah untuk dimengerti, apalagi fungsinya untuk mentransmisikan daya yang positif antara dua poros yang sejajar dengan sebuah perbandingan kecepatan angular (sudut) yang konstan.

11

BAB II POROS 2.1. Pengetian Poros Poros merupakan salah satu bagian yang terpenting dalam setiap mesin. Hampir semua mesin meneruskan tenaga bersama-sama dengan putaran. Putaran utama dalam transmisi seperti itu dipegang oleh poros. Macam-macam poros Poros untuk penerus daya di klasifikasikan menurut pembebanannya sebagai berikut: 1. Poros Transmisi Poros semacam ini mendapat beban puntir murni atau puntir lentur. Daya di transmisikan pada poros ini melalui koling, roda gigi, puli, sabuk atau sprocket rantai, dan lain-lain. 2. Spindel Poros transmisi yang relative pendek, sepeti poros utama mesin perkakas, di mana beban utamanya berupa puntiran, di sebut spindle. 3. Gandar Poros seperti ini di pasang di antara gandar. Tata cara perencanaan tersusun dalam sebuah diagram aliran, hal-hal yang perlu di perhatikan antara lain, yaitu: Pertama kali ambillah suatu kasus di mana daya P( kW ) harus ditransmisikan dan putaran poros n ( Rpm ). Dalam hal ini perlu dilakukan pemeriksaan terhadap daya P. Daya yang besar mungkin terjadi pada saat start atau mungkin beban yang besar terjadi terus-menerus setelah start, dengan demikian perlu adanya factor koreksi. Jika p adalah daya nominal yang di keluarkan oleh motor penggerak, maka berbagai macam factor keamanan yang dapat di ambil. Jika factor koreksi adalah fc, maka daya rencana Pd ( kW ) sebagai patokan adalah :
Pd = fcxP

roda-roda kereta barang, dimana tidak

mendapat beban puntir, bahkan kadang-kadang tidak boleh berputar, di sebut

....................................[1] 12

Jika daya di berikan dengan Power Staring ( PS ) maka harus di kalikan dengan 0,73 untuk mendapatkan daya dalam kW.
Pd = 0,735 xP

Jika momen puntir ( di sebut juga sebagai momen rencana ) adalah T ( Kg.mm ) maka
T = 9,74 x10 5 Pd .............. [2] n

Tegangan geser yang di izinkan

( Kg.mm ) untuk pemakaian umum pada

poros dapat di peroleh dengan berbagai cara, dalam hal ini digunakan metode SF. Dimana harga Sf1 6,0 untuk bahan S-C dengan pengaruh masa dan baja paduan, sedangkan harga untuk Sf2 yaitu poros ditinjau akan di beri pasak atau di buat bertangga karena pengaruh kosentrasi tegangan cukup besar, adalah 1,3 sampai 3,0. Dan B kekuatan tarik ( Kg/mm2)
a = B
Sf 1 xSf 2

..................... [3]

Untuk mendapatkan diameter poros ds (mm) ada factor Kt yaitu, di pilih 1,0 jika bebab dikenakan secara halus, 1,0-1,5 jika terjadi sedikit kejutan atau tumbukan, 1,5-3,0 jika terjadi beban atau tumbukan yang besar. Dan juga factor C b diambil 1,22,3 , jika tidak akan terjadi beban lentur cukup di ambil 1,0.
5,1xK t xC b xT ds = a
1 3

.................[4]

Sedangkan tegangan geser yang terjadi

( Kg/mm2 )di karnakan adanya

momen rencana T (Kg.mm), dan pada suatu diameter poros d (mm), yaitu :

a =

5,1xT .................................. [5] d s3

2.2. Perhitungan Poros Dalam merencanakan suatu elemen mesin pasti ada hal-hal yang penting dan perlu diperhatikan. Begitu pula pada poros. Pada perencanaan poros ini antara lain : Pemasangan yang mudah dan cepat Ringkas dan ringan Aman pada putaran tinggi, getaran dan tumbukan yang kecil

13

Gerakan aksial pada poros sedikit mungkin sebab pada waktu panas terjadi pemuaian.

Poros merupakan salah satu bagian yang terpenting dalam setiap mesin. Hampir semua mesin meneruskan tenaga bersama-sama dengan putaran. Putaran utama dalam transmisi seperti itu dipegang oleh poros. Dalam bab ini akan di bicarakan adalah proses penerus daya yang dipakai untuk meneruskan momen. Oleh karena itu perlu diperhatikan jenis bahan yang dipergunakan biasanya dalam proses di buat dari baja yang mempunyai sifat-sifat sebagai berikut : Tahan terhadap momen puntir Mempunyai elastisitas yang baik Tidak mudah patah

Dalam tugas rancangan poros pemindahan ini spesifikasi yang dipilih adalah untuk kendaraan roda dua, yaitu: VEGA ZR dengan data-data sebagai berikut: Daya (P) Putaran (n) Gigi transmisi Pola pengoperan : 6 kW : 7500 rpm : 4 speed : N- 1 - 2 - 3 - 4.

Jika P merupakan daya nominal out put dari motor penggerak, maka daya rencana pada (kW) adalah daya nominal dikalikan factor keamanan f c maka dapat di tulis P d = P . fc
Table 2.1 harga factor keamanaan

Daya yang di transmisikan Daya rata-rata yang diperlukan Daya maksimum Daya nominal Nilai f c = 1,2 - 2.0 (Daya maksimum ), dari table 2.1 fc = 1,5 ( diambil ) Maka daya rencana hasil koreksi di dapat : Pd = P . fc

fc 0.8-1,2 1,2-2.0 1,5 1,5

14

= 6 kW . 1,5 = 9 Kw Momen puntir (T) Poros Input


pd T = 9,74 x10 5 ................................................[7] n

Dimana : T = Momen Pd = Daya rencana ( 9 kW ) n = Putaran (7500 rpm ) Maka diperoleh


Pd Tin = 9,74 x10 5 n
9 kW = 9,74 x 105 7500 rpm

= 1168,8 Kg.mm
Tabel 2.2 Baja karbon untuk kontruksi mesin dan baja batang yang difinis dingin untuk poros [8]

Standart dan macam Baja karbon konstruksi mesin (JIS G 4501)

Lambang S30C S35C S40C S45C S50C S55C S35C-D S45C-D S55C-D

Perlakuan panas Penormaan _ _ _

Kekuatan tarik (Kg/mm2) 48 52 55 58 62 66 53 60 72

Keterangan

Batang baja yang difinis dingin

Ditarik dingin, digerinda, dibubut, gabungan antara terebut. hal-hal atau

15

Bahan poros dipilih dari bahan baja karbon kontruksi mesin (JIS G 4501) S45C dan kekuatan tarik yaitu 58 Kg/mm2 dengan tegangan geser yang di izinkan dapat dirumuskan sebagai berikut :
a = B
Sf 1xSf 2

( Kg/mm2)........ [ 9]

Dimana : a = Tegangan geser yang diizinkan (Kg/mm2) B = Tegangan patah izin poros 58 Kg/mm2 Sf1 = Faktor keamanan untuk pengaruh massa untuk bahan SC (baja karbon), 5,6 s/d 6,0 maka diambil 6 sesuai dengan standart ASME Sf2 = Faktor keamanan untuk bentuk poros, dimana harga ini sebesar 1,33,0. Maka diambil 1,6 sesuai standart ASME Maka : a = Sf 1xSf 2 =
58Kg / mm 2 6 x1,6

= 6.041 Kg/mm2 Perhitungan Untuk Mencari Diameter Poros Input (dsin) ds in


5,1xCbxKtxT = a
1 3

( mm) ...................................[10]

Dimana : ds in = diameter poros in put Cb Kt T = Faktor keamanan terhadap beban lentur roda gigi 1,2 2,3 ( diambil 1,8 ) = Faktor keamanan standart ASME, jika beban dikenakan dengan kejutan atau tumbukan besar 1,5-3,0 ( diambil 2,3 )
1

= Momen torsi rencana 1168,8 Kg.mm


5,1xCbxKtxT = a
3

Maka : ds in

5,1x1,8 x 2,3 x1168,8 Kg .mm 6.041 Kg / mm 2

= 15.98 mm

16 mm (di ambil dari tabel 2.3 )

Table 2.3 Diameter Poros Standart ( SULARSO 1987)

16

10 11

*224 (24) 25 28 30 *31,5

40 42 45 48 50

100 (105) 110 *112 120 125 130

*224 240 250 260 280 300 *315 320 340 *3350 360 380

400 420 440 450 460 480 500 530 560 600 630

4,5

*11,2 12

*12,5 35

55 56 60 170 63 180 190 200 65 70 71 75 80 85 90 95 220 140 150 160

*5,6 6 *6,3

14 (15) 16 17 18 19 20 22

*35,5 38

7 *7,1 8 9

Keterangan tabel 2.3, yaitu : 1. 2. 3. Tanda * menyatakan bahwa bilangan yang bersangkutan dipilih dari bilangan standart Bilangan dlm kurung ( ) hanya dipakai untuk bagian dimana dipasang bantalan gelinding Bilangan bercetak tebal, miring, dan bergaris bawah merupakan bilangan yang diambil pada perencanan perhitungan ini.

Dari tabel 2.3 dapat dilihat diameter standart poros berdasarkan hasil perhitungan diameter poros input maka diambil harga yang terdekat dari diameter standart yaitu 16 mm. Maka tegangan geser () yang terjadi pada diameter poros input. Yaitu :

17

T = 5,1 3 ..............................................................[12] ds 1168,8 Kg / mm 2 = 5,1 3 16

= 1,45 Kg/mm2 Berdasarkan perhitungan diatas maka poros input tersebut aman untuk dipakai karena tegangan geser yang terjadi ( ) lebih kecil sama dengan dari tegangan geser izin ( a ) 1,45 Kg/mm2 2.3 Perhitungan Poros Output Pada poros output, putaran terjadi berubah-ubah sesuai kecepatan yang di kehendaki. Untuk itu putaran yang direncanakan adalah putaran ( n ) yang tertinggi pada poros output yaitu : Di mana, n out = putaran poros output n I = putaran poros input = Perbandingan poros putaran yang di reduksi, dimana nilai i 4 untuk
n i 7500rpm 4

a 6,041 Kg/mm2

n out =

n i

roda gigi lurus . n out = =

= 1875 rpm

Nilai

f c = 1,2 - 2.0 (Daya maksimum ), dari tabel 2.1 fc = 1,5 ( diambil )

Maka daya rencana hasil koreksi di dapat : Pd = P . fc...................................................................[13] = 6 kW . 1,5

18

= 9 kW Momen puntir Poros Output(Tout)


pd T = 9,74 x10 5 ...........................................[14] n

Dimana : T

= Momen

Pd = Daya rencana (9 kW) n out = Putaran (1875 rpm ) Maka diperoleh T out = 9,74 x10 5 ............................................[15] nout
9kW = 9,74 x 105 1875 rpm

Pd

= 4675,2 Kg.mm Bahan poros dipilih dari bahan baja karbon kontruksi mesin (JIS G 4501) dan kekuatan tarik yaitu 55 Kg/mm2 dengan tegangan geser yang di izinkan dapat dirumuskan sebagai berikut :
a = B
Sf 1xSf 2

( Kg/mm2)................................[16]

Dimana : a =Tegangan geser yang diizinkan (Kg/mm2) B = Tegangan patah izin poros 58 Kg/mm2 Sf1 = Faktor keamanan untuk pengaruh massa untuk bahan SC (baja karbon), maka diambil 6 sesuai dengan standart ASME Sf2 = Faktor keamanan untuk bentuk poros, dimana harga ini sebesar 1,3-3,0. Maka diambil 1,9 sesuai standart ASME Maka : a = Sf 1xSf 2 =
58Kg / mm 2 6 x1,9

= 5,088 Kg/mm2 Perhitungan Untuk Mencari Diameter Poros Output (dsout) ds out =
5,1xCbxKtxT a
1 3

( mm) ............................[17]

19

Dimana : ds out = diameter poros in put Cb Kt = Faktor keamanan terhadap beban lentur roda gigi 1,2 2,3 ( diambil 1,8 ) = Faktor keamanan standart ASME, jika beban dikenakan dengan kejutan atau tumbukan besar 1,5-3,0 ( diambil 2,3 )

Tout = Momen torsi poros output 4787,2 Kg.mm


1

Maka : ds out = =

5,1xCbxKtxTout a

5,1x1,8 x 2,3 x 4675,2 Kg .mm 5,088 Kg / mm 2

= 26.87 mm

28 mm (di ambil dari tabel 2.3 )

Dari tabel 2.3 dapat dilihat diameter standart poros berdasarkan hasil perhitungan diameter poros output maka diambil harga yang terdekat dari diameter standart yaitu 28 mm. Maka tegangan geser () yang terjadi pada diameter poros output. Yaitu :

T = 5,1 out 3 ........................................................[18] ds out


4675,2 Kg / mm 2 = 5,1 3 28

= 1,086 Kg/mm2 Berdasarkan perhitungan diatas maka poros output tersebut aman untuk dipakai karena tegangan geser yang terjadi ( ) lebih kecil sama dengan dari tegangan geser izin ( a ) 1,086 Kg/mm2 a
5,088 Kg/mm2

BAB III SPLINE DAN NAAF 3.1. Spline Dan Naaf

20

Spline adalah alur-alur yang terdapat pada poros sebagai tempat dudukan roda gigi yang memeliki naaf. Spline digunanakan bertujuan untuk meneruskan daya, dan dalam hal ini putaran poros ke roda gigi. System ini dijumpai pada banyak system permesinan. Gambar spline terlihat pada

Gambar 3.1. Spline

Untuk mendapatkan suatu nilai dimensi atau ukuran pada rancangan ini ada beberapa ketentuan-ketentuan untuk medapatkan ukuran-ukuran tersebut: Ds = Diameter spline ds = Diameter poros = 0,810 x Ds ws = Tebal spline =0,15 x Ds Hs = Tinggi spline = 0,095 x Ds Dalam merancang suatu poros, karna spline ini adalah termasuk dalam poros maka harus diperhitungkan nilai-nilai keamanannya Tegangan geser yang di izinkan

( Kg.mm ) untuk pemakaian umum pada

poros dapat di peroleh dengan berbagai cara, dalam hal ini digunakan metode Sf. Dimana harga Sf1 6,0 untuk bahan S-C dengan pengaruh masa dan baja paduan, sedangkan harga untuk Sf2 yaitu poros ditinjau akan di beri pasak atau di buat bertangga karena pengaruh kosentrasi tegangan cukup besar, adalah 1,3 sampai 3,0. Dan B kekuatan tarik ( Kg/mm2)
a = B
Sf 1 xSf 2

21

Sedangkan tegangan geser yang terjadi


5,1xT d s3

( Kg/mm2 )di karenakan adanya

momen rencana T (Kg.mm), dan pada suatu diameter poros d (mm), yaitu :

a =

3.2 PERHITUNGAN SPLINE DAN NAAF Spline adalah alur-alur yang terdapat pada poros sebagai tempat dudukan roda gigi yang memeliki naaf. Pada perencanaan ini ada dua jenis spline yaitu spline peros input dan spline pada poros output. Spline digunanakan bertujuan untuk meneruskan daya, dan dalam hal ini putaran poros ke roda gigi. Sistem ini dijumpai pada banyak sistem permesinan. Gambar spline terlihat .

Gambar 3.2. Poros Spline

3.2.1. PERHITUNGAN SPLINE DAN NAAF PADA POROS INPUT Di ketahui : Daya ( P in ) Putaran ( n in) Torsi ( T in ) = 6kW = 7500 rpm = 1168,8 Kg/mm

Pada perencanaan spline ini terdapat ketentuan-ketentuan antara lain sebagai berikut: Ds in ws in hs in = Dimeter Spline Input = Tebal Spline Input = 0,15 Ds = Tinggi Spline Input = 0,095 Ds 22

ds in

= Diameter poros Input = 0,810 Ds

Diameter spline Dan Naaf Input (Ds in) ds in Ds in = 0,810 Ds =


ds in 0,810
16mm

= 0,810mm = 19,75 mm( 19 mm untuk spline, 19,75 mm untuk naaf ) Tebal Spline Dan Naaf Input (ws in) ws in = 0.156 x Ds in = 0,156 x 19,75 mm = 3,08 mm (3 mm untuk slpine, 3,08 mm untuk naaf ) Tinggi Spline Dan Naaf Input ( hs in ) hs = 0,095 x Ds in = 0,095 x 19,75 mm = 1,87 mm ( 1,87 mm untuk spline, 2 mm untuk naaf ) Panjang Alur Spline Input (Lsin) untuk poros pejal. Ls in = De 3 2 ds in dimana : De = Diameter efektif De = =
Ds in + dsin mm 2
19,75 +16 mm 2

= 17,8 mm De 3 17,8 3 mm Ls in = = 22 mm 2 = ds in 16 2 mm Jumlah Spline Dan Naaf Input ( ns in )

23

ns in

( dsin + hsin x 2) = ws in 2

gigi

3,14(16mm + 2mmx 2) = 3,08mm ( gigi ) 2

= 10 ( 10 gigi spline = 10 gigi naaf ) Pemeriksaan Kekuatan Poros Spline Input Diketahui : Diameter Spline Input ( Ds in) = 19,75 mm Torsi Input ( T in ) Pemeriksaan Tegangan Geser Izin Bahan poros dipilih dari bahan baja karbon kontruksi mesin (JIS G 4501) dan kekuatan tarik yaitu 55 Kg/mm2 dengan tegangan geser yang di izinkan dapat dirumuskan sebagai berikut :
a = B
Sf 1xSf 2

= 1168.8kg/mm

( Kg/mm2)

Dimana : a =Tegangan geser yang diizinkan (Kg/mm2) B = Tegangan patah izin poros 55 Kg/mm2 Sf1 = Faktor keamanan untuk pengaruh massa untuk bahan SC (baja karbon), maka diambil 6 sesuai dengan standart ASME Sf2 = Faktor keamanan untuk bentuk poros, dimana harga ini sebesar 1,33,0. Maka diambil 1,6 sesuai standart ASME
B

Maka : a = Sf 1xSf 2 =
55Kg / mm 2 6 x1,6

= 5,729 Kg/mm2 Tegangan Geser Yang Terjadi

T = 5,1 in 3 Dsin

24

= 5,1

1168,8 Kg / mm 2 3 19,75

= 0,77 Kg/mm2 Berdasarkan perhitungan diatas maka poros spline input tersebut aman untuk dipakai karena tegangan geser yang terjadi ( ) lebih kecil sama dengan dari tegangan geser izin ( a ) a

0,77 Kg/mm2 5,729 Kg/mm2 3.2.2 PERHITUNGAN POROS SPLINE DAN NAAF OUTPUT Di ketahui : Daya ( P out ) Torsi ( T out ) berikut: Ds out = Dimeter Spline Output hs out ds out = Tinggi Spline Output = Diameter poros Output = 0,095 Ds = 0,810 Ds = 6 kW = 4675,2 Kg.mm Putaran ( n out ) = 1875 rpm Pada perencanaan spline ini terdapat ketentuan-ketentuan antara lain sebagai

Diameter Spline Dan Naaf Output (Ds out) ds out = 0,810 Dsout Ds out =
ds out 0,810
27,08mm

= 0,810mm

= 33,43 mm ( 33 mm umtuk spline, 33,43 untuk naaf )

Tebal Spline Dan Naaf Output (ws out) ws out = 0.156 x Ds out = 0,156 x 33,43 mm = 5,21 mm ( 5 mm untuk spline, 5,21 mm untuk naaf )

25

Tinggi Spline Dan Naaf Output ( hs out ) hsout = 0,095 x Ds out = 0,095 x 33,43 mm = 3,17 mm ( 3,17 mm untuk spline, 4 untuk naaf ) Panjang Alur Spline Output (Lsin) untuk poros pejal. Ls out = dimana : De = Diameter efektif De = =
Dsout + ds out mm 2
33,43 + 26.87 mm = 30,15 mm 2

De 3 2 ds out

De 3 30,15 3 mm Ls out = = 37.96 mm 2 = ds out 26.87 2 mm Jumlah Spline Dan Naaf Output ( ns out ) ns out

( ds out + hs out x 2) = ws out gigi 2


3,14( 26.87mm + 3,17 mmx 2) = 5,21mm 2

gigi

= 18 gigi ( 18 gigi spline, 18 gigi naaf )

Pemeriksaan Kekuatan Poros Spline Output Diketahui : Diameter Spline Output ( Ds out) = 33,43 mm Torsi Input ( T out ) =4675,2 kg.mm

26

Pemeriksaan Tegangan Geser Izin Bahan poros dipilih dari bahan baja karbon kontruksi mesin (JIS G 4501) dan kekuatan tarik yaitu 55 Kg/mm2 dengan tegangan geser yang di izinkan dapat dirumuskan sebagai berikut :
a = B Sf 1xSf 2

( Kg/mm2)

Dimana : a =Tegangan geser yang diizinkan (Kg/mm2) B = Tegangan patah izin poros 55 Kg/mm2 Sf1 = Faktor keamanan untuk pengaruh massa untuk bahan SC (baja karbon), maka diambil 6 sesuai dengan standart ASME Sf2 = Faktor keamanan untuk bentuk poros, dimana harga ini sebesar 1,33,0. Maka diambil 1,9 sesuai standart ASME Maka : a = Sf 1xSf 2 =
55Kg / mm 2 6 x1,9

= 4,824 Kg/mm2 Tegangan Geser Yang Terjadi

T = 5,1 out 3 Ds out


= 5,1
4675,2 Kg / mm 2 3 33,43

= 0,638 Kg/mm2 Berdasarkan perhitungan diatas maka poros spline output tersebut aman untuk dipakai karena tegangan geser yang terjadi ( ) lebih kecil sama dengan dari tegangan geser izin ( a ) a 0,638Kg/mm2 4,824 Kg/mm2 3.2.3 PEMERIKSAAN KEKEUATAN NAAF INPUT Naaf adalah tempat kedudukan poros spline. Yang berfungsi untuk menerusankan daya dari poros spline ke roda gigi. Naf terlihat pada gambar 3.3. Direncanankan adalah sebagai berikut :

27

Gambar 3.3 Naaf Table 3.1 Nilai Konstanta Bahan ( C )

Bahan Besi tuang Bt 18 Besi tuang Bt 26 Besi tuang Bt 52 Baja St 34 Baja St 42 Baja St 50 Baja St 60 Baja St 70

B ( Kg/cm2 ) 350 - 450 550 650 700 1000 700 900 800 950 850 1100 950 1200 1200 1400

C ( Kg/cm2 ) 25 35 35 65 55 65 70 85 100

Pada perancangan naaf ini diambil data data dari tebel 3.1 yaitu Tabel Nilai Konstanta Bahan. Sebagai berikut: Bahan Kekuatan tarik ( B ) : Besi tuang Bt 52 : 700 1000 Kg/cm2 = 70 100 Kg/mm2 Bahan naf dari bahan besi tuang Bt 52 dengan kekuatan tarik (B) = 70100 Kg/mm2, (di ambil 100 Kg/mm2) sehingga tegangan geser izin (g) pada naaf adalah:
B g = Sf 1xSf 2

Dimana : Sf1 = 6 Sf2 = 2,1 Maka : B =


B = Sf 1xSf 2
100 Kg / mm 2 6 x 2,1

= 7,93 Kg/mm2

28

Pada naaf ini juga perlu dilakukan pemeriksaan pemeriksaan untuk menguji naaf tersebut, pemeriksaan yang dilakukan sebagai berikut : Pemeriksaan tegangan geser (a) yang terjadi naaf input a =
Fbin Win xLnin

Fb = Fs

Dimana : Fbin = Fsin = gaya pada naaf & spline Win = lebar spline dan naaf Lnin = panjang naaf Gaya yang bekerja pada jari-jari naaf rata-rata (Fbin)
Tin T = Fbin = rm Ds in + dsin 2
1168,8 Kg / mm = 19,75 +16 mm 2

= 65.38Kg Gaya yang bekerja pada setiap spline (Fsin = Fbin) Fsin = =
Fbin Z in
65.38 Kg 10

Zin = Jumlah spline input = 10 buah

= 6,538 Kg Maka pemeriksaan tegangan yang terjadi pada spline atau naaf sebagai berikut : ain =
Fbin Win xLnin
65.38 Kg

= 3,08mmx 22mm = 0,96 Kg/mm2 Pemeriksaan tegangan tumbuk pada naaf input (cin) cin = =
Fbin Acin

Dimana Acin = hsin x Lsin = 2mm x 22mm =44mm2 = Luas yang mengalami tumbukan

65.38 Kg 44mm 2

= 1,48 Kg/mm

29

Menurut analisa perhitungan yang telah dilakukan maka naaf ini aman digunakan karena tegangan-tegangan yang terjadi tidak ada yang melebihi tegangan geser izin. 3.2.4 PEMERIKSAAN KEKUATAN NAAF OUTPUT Pada perancangan naaf ini diambil data data dari tebel 3.3 yaitu Tabel Nilai Konstanta Bahan. Sebagai berikut: Bahan Kekuatan tarik ( B ) : Besi tuang Bt 52 : 700 1000 Kg/cm2 = 70 100 Kg/mm2 Bahan naf dari bahan besi tuang Bt 52 dengan kekuatan tarik (B) = 70100 Kg/mm2, (di ambil 100 Kg/mm2) sehingga tegangan geser ijin (g) pada naaf adalah:
B g = Sf 1xSf 2

Dimana : Sf1 = 6 Sf2 = 2,1 Maka : g =


B = Sf 1xSf 2
100 Kg / mm 2 6 x 2,1

= 7,93 Kg/mm2 Pada naaf ini juga perlu dilakukan pemeriksaan pemeriksaan untuk menguji naaf tersebut, pemeriksaan yang dilakukan sebagai berikut :

Pemeriksaan tegangan geser (a) yang terjadi naaf output aout = Dimana : Fbout Wout Lnout
Fbout Wout xLnout

Fbout = Fsout

= Fsout = gaya pada naaf & spline output = lebar spline dan naaf out = panjang naaf out

Gaya yang bekerja pada jari-jari naaf rata-rata (Fbout) Tout T = Fbout = rm Dsout + dsout 2

30

4675,2 Kg / mm = 33,43 + 26.87 mm 2

= 155.06 Kg Gaya yang bekerja pada setiap spline (Fsout = Fbout) Fsout = =
Fbout Z out
155.06 Kg 10

Zout = Jumlah spline output = 10 buah

= 15.506Kg Maka pemeriksaan tegangan yang terjadi pada spline atau naaf out sebagai berikut : aout =
Fbout Wout xLnout
155.06 Kg

= 5,21mmx37,74mm = 0,0079 Kg/mm2 Pemeriksaan tegangan tumbuk pada naaf output (cout) cout =150,9mm2 =
155.06 Kg 150,9mm 2

Fbout Ac out

Dimana Acout= hsout x Lsout = 4mm x 37,74mm

= Luas yang mengalami tumbukan

= 1,03 Kg/mm Menurut analisa perhitungan yang telah dilakukan maka naaf ini aman digunakan karena tegangan tegangan-tegangan yang terjadi tidak ada yang melebihi tegangan geser izin. BAB IV PERENCANAAN RODA GIGI 4.1. Perencanaan Roda Gigi Dalam pembuatan roda gigi terlihat banyaknya variasi roda gigi ini bertujuan untuk memvariasikan kecepatan putar pada roda gigi. Dengan demikian putaran dapat di percepat ataupun diperlambat dengan perhitungan besarnya perbandingan diameter roda gigi. Terlihat pada rangkaian roda gigi pada gambar di bawah ini.

31

Gambar 4.1 Rangkaian roda gigi

Untuk perencanaan roda gigi telah diperoleh data-data sebagai berikut: Daya ( P ) Putaran ( n ) = 6 kW = 7500 Rpm

4.1.1. Perencanaan First Gear (Pinion 1) First gear adalah roda gigi penggerak. Pada perencanaan ini disebut roda gigi 1 pada pemakaiannya. Adapun perhitungan dari roda gigi ini adalah sebagai berikut :

Table 4.1. Konstanta Bahan ( C )

Bahan Besi tuang Bt 18 Besi tuang Bt 26 Besi tuang Bt 52

B ( Kg/cm2) 350 450


550 650 700 1000

C( Kg/cm2) 25 35 35 65

32

Baja St 34 Baja St 42 Baja St 50 Baja St 60 Baja St 70

700 900 800 950 850 1100 950 1200 1200 1400
Table 4.2. Faktor pemasangan ( )

55 65 70 85 100

Cara Pemasangan Dengan kolager dst Pemasangan teliti Pemasangan biasa Jumlah gigi, z = 20

Sampai 30
Sampai 25 Sampai 15

= 25 (untuk pemasangan teliti)


c = konstanta bahan baja St 60, C = 85 kg/cm 2 Sehingga :
m =3
=3

45618 xP xCxZ1 xn
45618 x6 25 x85 Kg / cm 2 x 20 x7500 Rpm

= 0.09 mm = 0.1mm Besar modul yang di gunakan di sesuaikan dengan harga modul standart JIS B 1701 1973.
Table 4.3 Harga modul stsndart ( JIS B 1701 1973 )

Seri ke1 0,1 0,2 0,3 0,4 0,5 0,6 0,8 1,0 1,25

Seri ke2 0,15 0,25 0,35 0,45 0,55 0,7 0,75 0,9 1,75

Seri ke3

Seri ke1 4 5 6 8

Seri ke2 3,5 4,5 5,5 7 9 11 14 18 22

Seri ke3 3,75

0,65

10 12 16 20

6,5

33

1,50 2,0 2,5 3,0


Keterangan ;

25 2,25 2,75 3,25 32 40 50

28 36 45

Dalam pemilihan utamakan seri ke 1, jika terpaksa baru kemudian ke seri 2 dan 3

Maka diameter puncak (Dp) dapat dicari dengan persamaan : Dp = M . z = 0.1 x 20 = 2 mm ; d = dp = Diameter puncak. Maka lingkaran dedendum (Dd) : Dd = dp + (2 x m) = 2 + (2 x 0.1) = 2.2 mm. Lingkaran addenum (Da) : Da =Dp 2 . 1,25 . M = 2.2 (2 x 1,25 x 0.1) = 1.95 mm. Tinggi kepala (addendum) Ha : Ha = m Ha = 0.1 mm. Tinggi kaki (dedendum) Hf : Hf = 1,25 x M = 1,25 x 0.1 = 0.125 mm. Tinggi gigi (Ht) : Ht = Hf + Ha. = 0.125 + 0.1 = 0.225 mm. Tebal gigi (Tt) : Tt =

.M
2

34

3,14 0.1 2

= 0.157 mm. Lebar gigi (b) : b = (G-10) x M = 8 x 0.1 = 0.8 mm. a. Pemeriksaan kekuatan gigi pada first gear. Pada pemeriksaan roda gigi ini banyak sekali fenomena yang terjadi pada gigi tersebut, mulai dari gaya-gaya yang bekerja pada gigi, tegangan lanjut dan momen lentur. Gaya tangensial yang terjadi pada gigi (Ft) : Ft = =
102.Pd v

(kg) (m/det)

.dp.nl
60.1000

dimana: Ft = gaya tangensial Pd = daya rancangan V = kecepatan keliling


102 x9 . 3.53

Maka Ft: =

= 260.1 kg Sedang momen yang terjadi (M) : M = Ft . z = 260.1 x 20 = 5202 kg.mm.


Table 4,4 Faktor bentuk gigi Y.

Jumlah gigi 10 11 12

Y 0,201 0,226 0,245

Jumlah gigi 25 27 30

Y 0,339 0,349 0,358

35

13 14 15 16 17 18 19 20 21 23

0,261 0,276 0,289 0,295 0,302 0,308 0,314 0,320 0,327 0,333

34 38 43 50 60 75 100 150 300 Batang gigi

0,371 0,383 0,396 0,408 0.421 0,434 0,446 0,459 0,471 0,484

Untuk mencari tegangan lentur yang terjadi dapat dilihat sebagai berikut : Ft = Tb . b . M . Y Tb = Dimana : Tb = Tegangan lentur (kg/mm2) Ft = Gaya tangensial (kg) b = Lebar gigi (mm) Y = Faktor bentuk gigi (Tabel 4.4) Untuk : z Y = 20 = 0,320
Ft b.M .Y
260.1

Ft b.M .Y

Tb =

= 0.8 x0.1x0,320 = 10160.2 kg/mm2. b. Ukuran utama counter main shaft first gear (1). Untuk mencari harga-harga dan diameter roda gigi penggerak (gear) harus diketahui besarnya perbandingan transmisi antara roda gigi yang berpasangan i , yaitu jumlah gigi pada gear berbanding jumlah gigi pada pinion.

36

Harga dan perbandingan transmisi untuk roda gigi biasanya antara 4 5, maka untuk speed satu diambil i = 4 sehingga didapat persamaan dengan rumus : no =
nl i

Dimana : no = Putaran counter gear. nl = Putaran roda gigi i = Perbandingan transmisi : 4 (diambil)

Disubstitusikan : no =
7500 = 1875 rpm. 4

Untuk mencari z2 (jumlah pada gear) maka dapat dilihat dibawah ini : z2 = z1 . i Dimana : z1 = Jumlah gigi pada pinion i = Perbandingan transmisi (dipilih) Disubstitusikan ke angka : z2 = 20 . 4 = 80. Dalam hal roda gigi berpasangan antara pinion dengan gear, besarnya harga modul, lebar gigi, tebal gigi, dan tinggi gigi dinilai sama. Maka harga diameter dari roda gigi (gear) dapat dicari yaitu : Dp = Lingkaran puncak =M.z = 0.1 . 80 = 8 mm. Lingkaran dedendum (Dd) : Dd = dp 2 . 1,25 . M = 8 2 x (1,25 x 0.1) = 0.75 mm. Lingkaran addendum (Da) : = dp + 2 . M = 8 + 2 .x0.1 37

= 8.2 mm. 4.1.2. Perencanaan Ukuran utama Main Shaft Second Gear (Pinion 2) Pada perencanaan pinion 2 roda gigi sama juga dengan perhitungan roda gigi penggerak pada pinion 2. Dalam hal ini harga modul dan jumlah gigi ditentukan terlebih dahulu. Direncanakan jumlah gigi ke 2 (z) : 21 (diambil). Maka :

M =3

45618 x 6 25 x85 Kg / cm 2 x 21x7500 Rpm

=0.09 mm = 0.1 mm Maka diameter puncak dari roda gigi (pinion 2) dapat diketahui : Dp = M . z = 0.1 X 21 = 2.1 mm Lingkaran dedendum (Dd) : Dd = Dp + 2 . M = 2.1 + 2 X 0.1 = 2.3 mm Lingkaran addendum (Da) : Da = Dp 2 . 1,25 . M = 2.1 2 . (1,25 X0.1) = 0.53 mm. Tinggi kepala (addendum) Ha : Ha = M = 0.1 mm. Tinggi kaki (dedendum) Hf : Hf = 1,25 . M = 1,25 . 0.1 = 0.125 mm. Tinggi gigi (Ht) : Ht = Hf + Ha = 0.125 + 0.1 = 0.225 mm. 38

Tebal gigi (Tt) : Tt = =

.M
2 3.14 0.1 2

= 0.157 mm Lebar gigi (b) : b = (G 10) . M = 8 X 0.1 = 0.8 mm a. Pemeriksaan terhadap kekuatan gigi pada pinion 2. Dalam konstruksi roda gigi ini banyak sekali fenomena yang terjadi pada gigi tersebut, maka gaya-gaya yang bekerja pada gigi : tegangan lentur, momen lentur. Gaya tangensial yang terjadi pada gigi (Ft) : Ft = V = Dimana : n = momen puntir rancangn V = kecepatan keliling Ft = gaya tangensial Pd = daya rancangsan Dp = Diameter puncak
102.Pd V

.Dp.nl
60.1000

(m/det)

Maka : V =
2.1 7500
60.1000

= 0,83 m/det. Sehingga harga Ft dapat dicari : Ft =


102 9 0.83

= 1113.7 kg

39

Sedangkan momen yang terjadi (M) : M = Ft . r = 1113.7 . 21 = 23388.5 kg . mm Untuk mencari tegangan lentur yang terjadi dapat dilihat sebagai berikut : Tb =
Ft b.M .Y

Dimana:Y = 0.320 M =momen yang terjadi Ft =gaya tangensial Tb=tegangan lentur yang terjadi Tb =
1113.7 0.8 0.1 0.320

= 43503.9 kg/mm2. b. Ukuran utama counter shaft seconder gear (II). Untuk mencari harga-harga dari diameter roda gigi penggerak (gear) harus diketahui besarnya perbandingan transmisi antara roda gigi berpasangan (i). Harga i = 3 diambil untuk speed 2. no = =
nl i 7500 3

= 2500 rpm. Dan untuk mencari z2 (jumlah gigi pada gear) maka dapat dilihat sebagai berikut : z2 = i . z = 3 . 21 = 63 mm. Maka pada roda gigi yang berpasangan antara pinion dan gear dapat dihitung parameternya yaitu : Dp = M . z = 0,1 . 63 = 6.3 mm. Lingkaran addendum (Da) : Da = Dp 2 (1,25) M = 6.3 2 (1,25) 0.1 40

= 6.05 mm. Lingkaran dedendum (Dd) : Dd = Dp + 2 . M = 6.3 + 2 . 0,1 = 6.5 mm. 4.1.3 Perencanaan Utama Main Shaft Gear (Pinion III). Untuk mengetahui harga- harga dari roda gigi penggerak yang ke 3 harus terlebih dahulu direncanakan / ditentukan parameternya yaitu modul dan jumlah gigi yang akan dirancang. Dalam hal ini jumlah gigi (z) = 22. Maka diameter puncak dapat dicari : Dp = M . z = 0.1 . 22 = 2.2 mm. Lingkaran dedendum (Dd) : Dd = Dp + 2 . M = 2.2 + 2 . 2 = 6.2 mm. Lingkaran addendum (Da) : Da = Dp 2 (1,25 . M) = 2.2 2 (1,25 . 0,1) = 1.95 mm. Tinggi kepala (addendum) Ha : Ha = M = 0.1 mm Tinggi kaki (dedendum) Hf : Hf = 1,25 . M = 1,25 . 0,1 = 0.125 mm Sedangkan tinggi gigi (Ht) : Ht = Hf + Ha = 2,5 + 0,1 = 0.25 mm 41

Tebal gigi (Tt) : Tt = . =.


M 2 0. 1 2

= 0.05 mm. Lebar gigi (b) : b = (G 10) . M = 8 . 0,1 = 0.8 mm a. Pemeriksaan terhadap kekuatan gigi pada pinion ke tiga. Dalam konstruksi roda gigi ini banyak yang harus di perhatikan, yaitu gaya yang bekerja pada gigi, tegangan lentur yang terjadi, dan momen lentur. Gaya tangensial yang terjadi pada gigi (Ft) : Ft = V = =
102.Pd V

.Dp.no
60.1000

.2.2 2500
60.1000

= 0.29 rad/det. Maka : Ft = =


102.Pd V 102.9 0.29

= 3165,5 g Sedangkan momen yang terjadi (M): M = Ft . r = 3165.5 . 22 = 69641.37 g . mm b. Ukuran utama counter shaft third gear (III) . Untuk mengetahui harga-harga dan diameter roda gigi yang digerakkan, harus diketahui terlebih dahulu besarnya perbandingan transmisi (i). Harga i = 2 untuk speed 3.

42

Maka : n2 = =
nl i 7500 2

= 3750 rpm. Dan untuk mencari z2 (jumlah gigi pada pinion) dapat dihitung dengan persamaan sebagai berikut : z2 = i . z = 2 . 22 = 44 buah. Maka pada roda gigi yang berpasangan ini antara gear dan pinion dapat dihitung parameternya yaitu : Diameter puncak (Dp) : Dp = M . z2 = 0,1 . 44 = 4,4 mm. Lingkaran addendum (Da) : Da = Dp 2 (1,25 . M) = 4.4 2 (1,25 . 0,1) = 4.15 mm. Lingkaran dedendum (Dd) : Dd = Dp + 2 . M = 4.4 + 2 . 0,1 = 4.6 mm. Sedangkan harga dari addendum, dedendum, tinggi gigi, dan tebal gigi sama dengan pinion 3 4.1.4.Perencanaan Ukuran Utama Main Shaft (Pinion IV) Roda gigi penggerak terakhir adalah pinion 4 dimana akan menggerakkan gigi empat dan posisinya adalah top speed. Dalam hal ini gigi dan harga modul juga ditentukan terlebih dahulu. z = 25 buah. Maka diameter puncak dari roda gigi dapat diketahui :

43

Dp = M . z = 0.1 . 25 = 2.5 mm Lingkaran dedendum (Dd) : Dd = Dp + 2 . M = 2.5 + 2 . 0,1 = 2.7 mm. Lingkaran adendum (Da) : Da = Dp 2 (1,25 . M) = 2.5 2 (1,25 . 0,1) = 2.25 mm. Tinggi kepala (addendum) Ha : Ha = M = 0.1 Tinggi kaki (dedendum) Hf : Hf = 1,25 . M = 1,25 . 0,1 = 0.125 mm Tinggi gigi (Ht) : Ht = Hf + Ha = 0.125 + 0,1 = 0.225 mm Tebal gigi (Tt) : Tt = .
M 2 0,1 2

= 3,14 .

= 0,157 mm Lebar gigi (b) : b = (6-10) . M = 8 . 0,1 = 0,8 mm a. Pemeriksaan t erhadap kekuatan gigi pada pinion IV.

44

Hal-hal yang diperlukan pada konstruksi roda gigi adalah gaya tangensial yang bekerja seperti tegangan lentur dan momen lentur. Untuk mengetahui hal diatas akan dihitung dengan cara seperti dibawah ini : Ft = V = =
102.Pd V

.Dp.nl
60.1000

.50.2666,67
60.1000

= 6,98 rad/det. Maka : Ft =


102.Pd V

102.9,83 = 143,64 m/s. 6,98

Sedangkan momen yang terjadi adalah (M) : M = Ft . r = 143,64 . 25 = 3591 kg . mm. Untuk mencari tegangan lentur yang terjadi dipakai persamaan : Tb = Dimana : Y = Faktor bentuk gigi Y = 0,399 Maka : Tb = 16.2.0,339 = 13,24 kg/mm2 b. Ukuran utama counter shaft fourth gear (4). Untuk menghitung parameter pada gear 4 juga harus diketahui perbandingan transmisi (i) dalam hal ini i = 1,5. Maka :
143,64

Ft b.M .Y

45

no =

nl i
8000

= 1,5 Dimana :

= 5333,33 rpm. nl = Putaran lentur shaft fourth gear no = Putaran roda gigi. Dan untuk mencari z2 (jumlah gigi pada gear) dapat dihitung dengan persamaan dibawah ini : z2 = z1 . i = 25 . 1,5 = 37,5 mm. Diambil : 38

Maka diameter puncak (Dp) dapat dihitung : Dp = M . z = 2 . 38 = 76 mm. Lingkaran addendum (Da) : Da = Dp 2 (1,25 . M) = 76 2 (1,25 . 2) = 71 mm. Lingkaran dedendum (Dd) : Dd = Dp + 2 . M = 76 + 2 . 2 = 80 mm. Haga-harga pada addendum, dedendum, tinggi gigi, lebar gigi, dan modul adalah sama untuk gigi yang berpasangan. Dalam hal ini yaitu pinion 4.

46

BAB V BANTALAN 5.1 Bantalan Bantalan adalah elemen mesin yang menumpu poros berbeban, sehingga putaran atau gerakan bolak-baliknya dapat berlangsung secara halus, aman, dan panjang umur Klasifikasi Bantalan Bantalan dapat di klasifikasikan sebagai berikut : 1. Atas dasar gerakan bantalan terhadap poros a. Bantalan luncur, pada bantalan ini terjadi gesekan luncur antara poros dan bantalan karena permukaan poros ditumpu oleh permukaan bantalan dengan perantara lapisa pelumas. b. Bantalan gelinding, pada bantalan ini terjadi gesekan gelinding antara bagian yang berputar dengan yang diam melalui elemen gelinding seprti bola (peluru), rol, atau rol jarum, dan rol bulat. 2. Atas dasar beban terhadap poros a. Bantalan radial, arah beban yang di tumpu bantalan ini adalah tegak lurus sumbu poros.

47

b. Bantalan aksial, arah beban ini sejajar dengan sumbu poros. c. Bantalan gelinding khusus, bantalan ini dapat menumpu beban yang arahnya sejajar dan tegak lurus sumbu poros. Bagian-bagian bantalan dapat dilihat pada gambar 5.1 di bawah ini:

H Gambar 2.14. Nama bagian-bagian bantalan


www.bonesbearings.com/gap/maintenance.html

Gambar.5.1 Bantalan Hal-Hal Penting Dalam Perancangan Bantalan Radial Dalam perancangan ini diambil bantalan radial karena, roda gigi yang di gunakan adalah roda gigi lurus secara keseluruhan yang dalam hal ini nilai gaya aksial Fa dianggap tidak ada. Sebelumnya kita menentukan nilai ekivalen P (Kg) P = X . Fr + Y . Fa Dimana :P = Gaya ekivalen (Kg) X = Faktor Radial Y = Faktor Aksial Fr = Gaya Radial Fa = Gaya Aksial

Fr =

T D 2
T = Torsi D = Diameter luar bantalan Beban dinamis spesifik (C) yang tejadi :

Dimana :
fh fn

C =P

Dimana : fh = Life factor fn = Speed factor

48

Lh fh = 500

Dimana : Lh yaitu umur nominal bantalan bola


33,3 fn = n
1 3

Dimana : n = Putaran 5.2. PERENCANAAN BANTALAN ( BEARING ) Bantalan yaitu elemen mesin yang menumpu poros berbeban sehingga putaran atau gerak bolak-balik dapat berputar secara halus, aman dan tahan lama. Bantalan harus kokoh untuk memungkinkan poros serta elemen mesin lainnya bekerja dengan baik. Jika bantalan tidak berfungsi dengan baik, maka prestasi seluruh mesin akan menurun atau tidak bekerja dengan baik. Terlihat gambar bagian-bagian bantalan radial pada gambar (a) dan bantalan radial utuh pada gambar (b).

a Gambar 5.2 Bantalan radial

Dalam perancangan bantalan ini terdapat dua jenis bantalan yaitu, bantalan pada poros in put dan pada poros out put Gaya yang menekan bantalan adalah gaya yang bekerja pada roda gigi yang saling berhubungan, dan dalam perancangan ini di gunakan jenis bantalan radial. Perhitungan Bantalan Pada Poros Input Bedasarkan hasil perhitungan poros input pada bab sebelumnya di peroleh bantalan dengan spesifikasi dengan melihat table 5.1 yaitu table ukuran bantalan.

49

Table 5.1Ukuran bantalan

Nomor bantalan Jenis terbuka Dua sekat Dua sekat tanpa kontak d

Ukuran luar(mm) D B r

Kapasitas nominal dinamis spesifik C(Kg)

Kapasitas nominal statis spesifik C0 (Kg) 196 229 263 296 465 530 740 915 1010 1320 1430 236 305 360 460 635 730 1050 1430 1650 1880 2100 365 450 545 660 785 1080 1440 1840 2300 3100 3650

6000 6001 6002 6003* 6004 6005* 6006 6007 6008 6009 6010 6200 6201 6202 6203 6204 6205 6206 6207 6208 6209 6210 6300 6301 6302 6303 6304 6305 6306 6307 6308 6309 6310

6001ZZ 02ZZ 6003ZZ 04ZZ 05ZZ 6006ZZ 07ZZ 08ZZ 6009ZZ 10ZZ 6200ZZ 01ZZ 02ZZ 6203ZZ 04ZZ 05ZZ 6206ZZ 07ZZ 08ZZ 6209ZZ 10ZZ 6300ZZ 01ZZ 02ZZ 6303ZZ 04ZZ 05ZZ 6306ZZ 07ZZ 08ZZ 6309ZZ 10ZZ

6001VV 02VV 6003VV 04VV 05VV 6006VV 07VV 08VV 6009VV 10VV 6200VV 01V 02VV 6203VV 04VV 05VV 6206VV 07VV 08VV 6209VV 10VV 6300VV 01VV 02VV 6303VV 04VV 05VV 6306VV 07VV 08VV 6309VV 10VV

10 12 15 17 20 25 30 35 40 45 50 10 12 15 17 20 25 30 35 40 45 50 10 12 15 17 20 25 30 35 40 45 50

26 28 32 35 42 47 55 62 68 75 80 30 32 35 40 47 52 62 72 80 85 90 35 37 42 47 52 62 72 80 90 100 110

8 8 9 10 12 12 13 14 15 16 16 9 10 11 12 14 15 16 17 18 19 20 11 12 13 14 15 17 19 20 23 25 27

0,5 0,5 0,5 0,5 1 1 1,5 1,5 1,5 1,5 1,5 1 1 1 1 1,5 1,5 1,5 2 2 2 2 1 1,5 1,5 1,5 2 2 2 2,5 2,5 2,5 3

360 400 440 470 735 790 1030 1250 1310 1640 1710 400 535 600 750 1000 1100 1530 2010 2380 2570 2750 635 760 895 1070 1250 1610 2090 2620 3200 4150 4850

* Angka yang bercetak tebal, miring, dan bergaris bawah adalah bantalan yang diambil pada perancangan ini Maka di peroleh bantalan poros input : 50

Diameter poros (ds) 16,1 mm Diameter dalam bantalan (d) 17 mm Lebar bantalan (B) 10 mm Diameter luar bantalan (D) 35 mm Kapasitas nominal dinamis spesifik (C) 470 Kg Kapasitas nominal statis (C0) 296 Kg Nomor bantalan 6003 Dalam rancangan bantalan poros intput ini yang di gunakan adalah bantalan

radial, dimana gaya aksial Fa = 0. Pada bantalan ini gaya ekivalen (P) yang bekerja adalah P = X x Fr + Y x Fa Dimana : X = Faktor radial = 0,56 (untuk baris tunggal) dari table 5.2 Y = Faktor axial = 1,0 dari table 5.2 ` Fr = Daya radial Fa = Gaya aksial = 0

Tabel 5.2 faktor-faktor V, X, Y dan X0, Y0


Beban Putar Pada Cincin Dalam V
Fa/C0 = 0,014 = 0,028 = 0,056 = 0,084 = 0,11 = 0,17 = 0,28 = 0,42 = 0,56 = 20o = 25o = 30o = 35o = 40o

Jenis bantalan

Beban Putar Pada Cincin luar

Baris Tunggal Fa/VFr>e X Y


2,30 1,19 1,71 1,55 1,45 1,31 1,15 1,04 1,00 1,00 0,87 0,76 0,66 0,57

Baris Ganda Baris Tunggal Fa/VFr e Fa/VFr>e X Y X Y


2,30 1,90 1,71 1,55 1,45 1,31 1,15 1,04 1,00 1,63 1,41 1,24 1,07 0,93 0,19 0,22 0,26 0,28 0,30 0,34 0,38 0,42 0,44 0,57 0,68 0,80 0,95 1,14

Baris Ganda

e X0 Y0 X0 Y0

Bantal an Alur Dalam

1,2

0,56

0,56

0,6

0,5

0,6

0,5

Bantal an Bola Sudut

1,2

0,43 0.41 0,39 0,37 0,35

1,09 0,92 0,78 0,66 0,55

0,70 0,67 0,63 0,60 0,57

0,5

0,42 0,38 0,33 0,29 0,26

0,84 0,76 0,66 0,58 0,52

51

Untuk bantalan garis tunggal, bila Fa / VFr e, X = 1, Y = 0 Gaya radial

Fr =

Tin D 2

Dimana :Tin

= Torsi input = 1196,8 Kg/mm

1196,8 Kg .mm 35mm 2

D = Diameter luar bantalan

= 68,38 Kg Maka: P = X x Fr + Y x Fa = 0,56 x 68,38 Kg + 1 x 0 = 38,29 Kg


Table 5.3Bantalan untuk permesinan serta umurnya
Umur Lh 2000-4000(jam) Pemakian jarang Factor beban fw 1-1,1 Kerja halus tanpa tumbukan Alat listrik rumah tangga,speda 5000-15000(jam) Pemakaian sebentar-sebentar (tidak terusmenerus) 20000-30000(jam) Pemakaian terusmenerus Pompa, poros transmisi, separator, pengayak , mesin perkakas , pres putar , separator sentripugal , setrifus pemurni gula ,motor listrik Motor kecil, roda meja, pemegang pinyon, roda gigi reduksi, kereta rel Penggetar, penghancur 40000-60000 (jam) Pemakaian terusmenerus dengan keandalan tinggi Poros transmisi utama yang memang peranan penting motormotor listrik yang penting Pompa penguras, rol kalender, kips angin, penggiling bola, motor rel kereta listrik

Konveyor, mesin pengangkat, lift, tangga jalan

1,1-1,3 Kerja biasa 1,2-1,5 Kerja dengan getaran atau tumbukan Mesin pertanian Otomobil, mesin jahit Alat-alat besar, unit roda gigi dengan getaran besar

Beban dinamis spesifk (C) yang terjadi adalah : C = P fn Dimana : fh : Life factor fn : Speed factor life factor (fh) adalah : Lh = umur nominal untuk bantalan bola. Yaitu 60000 jam(diambil pemakaian sebentar-sebentar). Berdasarkan table 5.3 52
fh

Lh fh = 500

60000 = 500

= 4,93

Speed fector (fh) adalah :


33,3 fn = n
33,3 = 8000
1 3

n = putaran poros yaitu 8000 Rpm

= 0,16 Maka beban dinamis yang ditimbulkan yaitu : C = Px fn = 38,29 Kgx 0,16 =1179,81Kg Perhitungan Bantalan Pada Poros Output Bedasarkan hasil perhitungan poros input pada bab sebelumnya di peroleh bantalan dengan spesifikasi dengan melihat table 5.1 yaitu table ukuran bantalan. Maka di peroleh bantalan poros output : Diameter poros (ds) 27,08 mm Diameter dalam bantalan (d) 25 mm Lebar bantalan (B) 12 mm Diameter luar bantalan (D) 47 mm Kapasitas nominal dinamis spesifik (C) 790 Kg Kapasitas nominal statis (C0) 530 Kg Nomor bantalan 6005
4,93 fh

Dalam rancangan bantalan poros output ini yang di gunakan adalah bantalan radial, dimana gaya aksial Fa = 0. Pada bantalan ini gaya ekivalen (P) yang bekerja adalah Dimana : X Y ` Fr Fa Gaya radial P = X . Fr + Y . Fa = Faktor radial = 0,56 (untuk baris tunggal), dari table 5.2 = Faktor axial = 1,0 . Dari table 5.2 = Daya radial = Gaya aksial = 0

53

Fr =

Tout D 2

Dimana :Tout = Torsi output = 4878,2 Kg.mm

4878,2 Kg .mm Fr = 47 mm 2
= 207,5 Kg Maka: P = X .Fr + Y. Fa = 0,56 x 207,5 Kg + 1 x 0 = 116,2 Kg Beban dinamis spesifk (C) yang terjadi adalah : C = P fn fn : Speed factor life factor (fh) adalah : Lh
fh

= Diameter luar bantalan

Dimana : fh : Life factor

= umur nominal untuk bantalan bola. Yaitu 60000 jam(diambil


1 1

pemakaian sebentar-sebentar). Berdasarkan table 5.1


fh = = 500 500 Lh
3

60000

= 4,93

Speed fector (fh) adalah :


33,3 fn = n5
1 3

nout = putaran poros yaitu 9988,24 Rpm = Putaran poros output pada kec 4

33,3 9988,24

= 0,149 Maka beban dinamis yang ditimbulkan yaitu : C = Px fn = 116,2 Kgx 0,149 = 3844,7 Kg
4,93 fh

54

BAB VI PELUMASAN DAN TEMPERATUR KERJA MESIN 6.1. Pelumasan dan Temperatur Kerja Mesin Pada perancangan pelumas kali ini disamakan atara pelumas roda gigi dengan pelumas mesin, karena gear box tercakup dalam klasifikasi mesin pada kendaraan roda dua ini. Sifat-sifat Utama Dari Pelumasan Yaitu : Sebagai Pelumas Oli melumasi permukaan metal yang bersinggungan dengan cara membentuk lapisan film. Lapisan oli ( oil film ) tersebut berfungsi untuk mencegah kontak langsung antara permukaan metal yang membatasi keausan dan kehilangan tenaga minim. Terlihat pada gambar 6.1

55

Gambar 6,1 Roda Gigi yang Terlapisi Oli ( Oil Film ) Bersifat Pendingin Pembakaran menimbulkan panas dan komponen mesin menjadi panas sekali. Hal ini akan menyebabkan keausan yang cepat, bila tidak di turunkan temperaturnya. Untuk melakukan ini oli perlu di sirkulasikan di sekeliling komponen agar dapat menyerap panas dan mengeluarkannya dari mesin. Sebagai Perapat Oli membentuk semacam selaput oli antara dua roda gigi atau lebih yang berkaitan. Ini berfungsi sebagai perapat ( seal ) yang dapat mencegah hilangnya tenaga masin. Sebagai pembersih Kotoran akan mengendap dalam komponen-komponen mesin. Ini akan menambah gesekan dan menyumbat saluran oli. Oli akan membersihkan kotoran-kotoran yang menempel dan mencegah tertimbunnya kotoran dalam mesin dengan pergantian oli secara bekala. sebagai Penyerap Tegangan Oli menyerap dan menekan tekanan lokal yang beraksi pada komponen yang di lumasi, serta melindungi agar komponen tersebut tidak menjadi tajam saat tejadinya gesekan-gesekan pada bagian-bagian yang bersinggungan. Syarat-Syarat Oli Mesin atau Roda Gigi Harus mempunyai kekentalan yang tepat Kekentalan harus relative stabil tanpa terpengaruh adanya perubahan temperatur Oli harus sesuai dengan penggunaan metal Tidak merusak dan anti karat terhadap komponen Tidak menimbulkan busa Perhitungan Pelumasan dan Temperatur Kerja Mesin

56

Untuk mecari luas bidang gesek pada roda gigi, dimana luas bidang gesek roda gigi A ( mm ), lebar gigi b ( mm ), tinggi gigi Ht atau tinggi kepala ditambah tinggi kaki, jumlah gigi Z ( gigi ). Maka : A = 2 x b x Ht x Z Karna dalam hal ini ada empat pasang roda gigi in dan out, maka luas total yaitu :
Ain / out = A1 + A2 + A3 + A4

Untuk mendapatkan luas total Atot , yaitu: Atot = Ain + Aout Diambil diameter linkar jarak bagi rata-rata pada roda gigi input dan out put pada kecepatan 4 d4 (mm), dengan kecepatan keliling V ( m/s ), dan n 4 putaran kecepatan 4 (Rpm).
V = d4 =

xd 4 xn 4
60 d in + d out 2

Dimana : din = d1 pada kecepatan 4 dout = d2 pada kecepatan 4 6.2. PERHITUNGAN TEMPERATUR DAN PELUMASAN Gesekan di sertai tenaga interaksi phisik antara obyek, dan gesekan selalu mengakibatkan keausan. Permukaan gigi adalah subyek gesekan akibat slip dan gesekan di karenakan putaran. Besarnya beban permukaan roda gigi, permukaan yang kasar dan kecepatan meluncur menghasilkan gesekan yang besar dan bertambah panas yang di timbulkan. Untuk alasan tersebut, oli roda gigi diperlukan dengan memenuhi kondisi berikut : Kekentalannya harus sesuai Mempunyai kemampuan memikul beban Tahan terhadap panas dan oksidasi

57

Telihat pada gambar (a) bantalan yang terlumasi dan (b) roda gigi yang terlapisi dengan selaput oli:

a Gambar 6.2 Bantalan dan Roda Gigi yang Terlumasi

Untuk mengetahui panas pada roda gigi sistem transmisi ini terlebih dahulu di cari luas penampang luas roda gigi tersebut:

6.2.1. Luas Bidang Gesek Pada Roda Gigi Input Untuk mencari luas bidang gesek pada roda gigi input di gunakan persamaan yaitu: Ain = 2 x b x Ht x Zin Dimana : Ain = Luas bidang gesek pada roda gigi input (mm2) b = Lebar gigi keseluruhan (mm) Ht = Tinggi gigi keseluruhan (mm) Zin = Jumlah roda gigi input Maka : Luas bidang gesek roda gigi input pada kecepatan 1 (Ain1) Ain1 = 2 x b x Ht x Zin1 = 2 x 30mm x 4,5mm x 18 = 4860 mm2 Luas bidang gesek roda gigi input pada kecepatan 2 (Ain2) Ain2 = 2 x b x Ht x Zin2 = 2 x 30mm x 4,5mm x 28 = 7560 mm2 58

Luas bidang gesek roda gigi input pada kecepatan 3 (Ain3) Ain3 = 2 x b x Ht x Zin3 = 2 x 30mm x 4,5mm x 37 = 9990mm2 Luas bidang gesek roda gigi input pada kecepatan 4 (Ain4) Ain4 = 2 x b x Ht x Zin4 = 2 x 30mm x 4,5mm x 44 = 11880 mm2 Maka laus total bidang gesek roda gigi input ( Ain )

A
Ain

in

= Ain1 + Ain2 + Ain3 + Ain4

= ( 4860 + 7560 + 9990 + 11880 ) mm2 = 34290 mm2

6.2.2. Luas Bidang Gesek Pada Roda Gigi output Untuk mencari luas bidang gesek pada roda gigi output di gunakan persamaan yaitu: Aout = 2 x b x Ht x Zout

Dimana : Aout = Luas bidang gesek pada roda gigi output (mm2) b Ht Maka : Luas bidang gesek roda gigi output pada kecepatan 1 (Aout1) Aout1 = 2 x b x Ht x Zout1 = 2 x 30mm x 4,5mm x 71 = 19170 mm2 Luas bidang gesek roda gigi output pada kecepatan 2 (Aout2) Aout2 = 2 x b x Ht x Zout2 = 2 x 30mm x 4,5mm x 61 = 16470 mm2 Luas bidang gesek roda gigi output pada kecepatan 3 (Aout3) = Lebar gigi keseluruhan (mm) = Tinggi gigi keseluruhan (mm)

Zout = Jumlah roda gigi output

59

Aout3 = 2 x b x Ht x Zout3 = 2 x 30mm x 4,5mm x 52 = 14040 mm2 Luas bidang gesek roda gigi output pada kecepatan 4 (Aout4) Aout4 = 2 x b x Ht x Zout4 = 2 x 30mm x 4,5mm x 44 = 11880 mm2 Maka laus total bidang gesek roda gigi output ( Aout )

out

= Aout1 + Aout2 + Aout3 + Aout4

= ( 19170 + 16470 + 14040 + 11880 ) mm2 Aout = 61560 mm2 Luas Total Pada Semua Roda Gigi ( Atot ), Yaitu: Atot = Ain + Aout = ( 34290 + 61560) mm2 = 95850 mm2 BAB VII PERAWATAN Elemen-elemen mesin yang direncanakan untuk transmisi mesin akan mengalami pembebanan sesuai dengan penggunaannya. Seiring dengan pembebanan itu akan mempengaruhi umur dari suatu elemen mesin atau masa pakai dari mesin itu sendiri. Terkadang suatu peralatan tidak dapat dioperasikan sampai batas jam operasi yang ditentukan oleh pabrik pembuat mesin itu sendiri, tetapi terkadang dapat juga melebihi jam operasi dan peralatan mesin juga baik kondisinya. Hal itulah yang menjadikan kita mengambil suatu tindakan yaitu peralatan tepat yang harus digunakan didalam bagian-bagian mesin. Dalam perencanaan roda gigi analisa yang dilakukan adalah berdasarkan pembebanan-pembebanan yang terjadi erat hubungannya dengan pemakaian kendaraan YAMAHA ZUPITER Z ini. Hal ini dibuktikan dengan beban maksimum yang dapat diangkat oleh kendaraan ini. Jika pada buku petunjuk pemakaian, kendaraan hanya diperbolehkan 2 orang saja,

60

petunjuk ini harus diteliti karena desain peralatan yang digunakan telah dirancang untuk semaksimal mungkin. Pada saat mengendarai sepeda motor, yang perlu diperhatikan adalah pengaturan kecepatan pada saat pengoperasian transmisi kecepatan. Tidak dibenarkan mengoper gigi pada saat putaran mesin masih tinggi, cara yang benar dalam mengurangi putaran mesin dari poros engkol sejenak dengan bantuan kopling. Dalam hal ini kopling yang digunakan adalah kopling basah. Dengan diturunkannya tarikan mesin, maka secara otomatis kopling dalam pengoperasian gigi akan terjadi hentakan atau benturan. Semakin sering hal ini dilakukan maka tidak terutup kemungkinan gigi-gigi akan sompel / rusak. Pelumasan Suatu hal yang perlu diperhatikan adalah pelumasan. Dimana pelumasan fungsinya untuk mengurangi gesekan-gesekan antara dua bahan yang bersinggungan. Maka dengan adanya pelumasan akan mengurangi keausan dan sekaligus akan menambah umur dari peralatan, dalam hal ini adalah roda gigi dan bantalan. Pelumasan diperhitungkan dengan sekian jam operasi atau sekian ribu kilometer, kemudian pelumas harus diganti dengan yang baru. Kebersihan Suatu hal yang tidak boleh luput dari kita adalah kebersihan dari peralatan, karena peralatan ini adalah paduan-paduan dari logam dan juga berhubungan langsung dengan udara luar, yang mengakibatkan teroksidasinya peralatan-peralatan tersebut dan akhirnya menimbulkan korosi pada komponen mesin. Bagian / komponen mesin yang harus diperhatikan kebersihannya yaitu : a. Saringan udara, agar udara yang masuk ke slinder bebas dari kotorankotoran, sehingga menghasilkan proses yang baik pada saat pembakaran. Oleh karena itu saringan udara harus dibersihkan setiap 6000 km. b. c. 3000 km. 61 Busi juga harus diperhatikan kebersihannya supaya terjadi proses pembakaran yang baik. Membersihkan sisa pembakaran yang terlihat pada slinder, penutup blok dan permukaan atas piston dan saluran-saluran campuran bahan bakar setiap

BAB VIII KESIMPULA DAN SARAN 8.1 KESIMPULAN Dari hasil analisa mulai dari bab II pada perencanaan roda gigi ini, maka dapat disimpulkan data-data perencanaan sebuah roda gigi kendaraan roda dua YAMAHA JUPITER-Z adalah sebagai berikut : Daya Putaran Speed Pola pengoperasian : 88 Hp : 8000 rpm : 4 kecepatan. : N-1-2-3-4-N (rotari)

1. Hasil perhitungan poros. Bahan poros baja karbon (JIS G4501) S 45 C yang mempunyai tegangan tarik (Tb = 58 kg / mm2). Momen puntir / momen rencana (T) :1196,8 Kg.mm

62

Diameter poros out put Dimeter poros in put Tegangan geser yang terjadi Tegangan geser izin 2. Hasil perhitungan spline. Panjang spline (L) Lebar spline (W) Tinggi spline (h) Dimeter spline maksimum (D) Diameter spline minimum (d) Jumlah spline (K)

: 28 mm : 16 mm : 1,49 Kg/mm 2 : 6,041 Kg/mm 2 : 22 mm :.3,08 mm : 1,87 mm :.33,43 mm : 19,75 mm : 10 : 0,79 Kg/mm 2

Tegangan geser yang terjadi pada spline (Tg)

Tegangan geser yang diizinkan pada spline (Tg) : 5,729 Kg/mm 2 3. Hasil perhitungan roda gigi. Bahan roda gigi yang direncanakan : Baja St 60

3.1.a Bahan shaft first gear Diameter puncak (Dp) Tinggi gigi (ht) Tebal dasar gigi (Tp) Lebar gigi (B) dedendum (hf) addendum (ha) Modul (M) Jumlah gigi (Zl) Tegangan lentur 3.1.b Counter shaft first gear Diameter puncak (Dp) dedendum (hf) addendum (ha) 63 : 160 mm : 2.5 mm : 2 mm : 40 mm : 4,5 mm : 3,14 mm :.16 mm : 2.5 mm : 2 mm :2 : 20 : 17,5 Kg/mm 2

Jumlah gigi (Z2) 3.2.a Main shaft second gear Diameter puncak (Dp) Tinggi gigi (ht) Lebar gigi (Tt) Tebal gigi (B) dedendum (hf) addendum (ha) Modul (M) Jumlah gigi (Z) 3.2.b Counter shaft second gear Diameter puncak (Dp) dedendum (hf) addendum (ha) Jumlah gigi (Z)

: 80

: 42 mm : 4,5 mm : 3,14 mm : 16 mm : 2.5 mm : 2 mm :2 : 21 : 126 mm : 2.5 mm : 2 mm : 63

3.3.a Main shaft third gear Diameter puncak (Dp) dedendum (hf) addendum (ha) Jumlah gigi (Z) Modul (M) Tinggi gigi (ht) Tebal gigi (Tt) Lebar gigi (B) 3.3.b Counter shaft third gear Diameter puncak (Dp) dedendum (hf) addendum (ha) 64 : 88 mm : 2.5 mm : 2 mm : 44 mm : 2.5 mm : 2 mm : 22 :2 : 4,5 mm : 3,925 mm : 16 mm

Jumlah gigi (Z) 3.4.a Main shaft fourth gear. Diameter puncak (Dp) dedendum (hf) addendum (ha) Jumlah gigi (Z) Modul (M) Tinggi gigi (ht) Tebal gigi (Tt) Lebar gigi (B) 3.4.b Counter shaft fourth gear. Diameter puncak (Dp) dedendum (hf) addendum (ha) Jumlah gigi (Z) Modul (M)

: 44

: 50 mm : 2.5 mm : 2 mm : 25 :2 : 4,5 mm : 3,14 mm : 16 mm : 76 mm :.2.5 mm : 2 mm : 38 :2

4. Hasil perhitungan bantalan Nomor bantalan Diameter dalam bantalan input (d) Diameter luar bantalan input(D) Tebal bantalan (B) Diameter dalam bantalan output Diameter luar bantalan output Lebar bantalan Kapasitas dinamis spesifik (C) Kapasitas statis spesifik (Co) 5. Pelumasan. 65 : 6003 :.17mm : 35mm : 10mm : 28 mm : 47 mm : 12 mm : 790Kg : 530Kg

Pelumasan yang dipakai Jenis pelumasan Absolute (Viscosity) 8.2 SARAN

: Hidrodinamika. : SAE 30. : 3,988 Cp.

Dalam hal ini penulis menghimbau kepada pengguna buku ini sebagai referensi nantinya, hendaklah lebih teliti dalam menyelesaikan tugas rancangan Roda gigi ataupun tugas-tugas lainnya, sehingga tugas anda jauh lebih baik. Banyak sekali faedah yang dapat dipetik dari tugas rancangan Roda Gigi ini, jika dikerjakan sesuai prosedur yang sebagai mana mestinya. Diantaranya: 1. Sebagai pembelajaran untuk membuat skripsi 2. Menambah wawasan dengan banyaknya literatur yang diambil 3. Lebih bertanggung jawab dengan apa yang kita tulis. Akhirnya penulis mengucapkan terima kasi banyak kepada Bapak Edy Susanto, ST,MT sebagai pembimbing, kedua orang tua yang telah memebantu baik moril maupun materil, dan tak terlupakan teman-teman yang tentunya sedikit banyaknya turut berperan dalam penyelesaian tugas rancangan Roda Gigi ini.

LITERATUR 1. DASAR-DASAR PERENCANAAN DAN PEMILIHAN MESIN, oleh Ir. Sularso Msc. PT. Pradya Paramita. Edisi satu 1987, Jakarta. 2. J.S. Sukai, L.D. Michael, Sandi Harahap. PERENCANAAN TEHNIK MESIN. Edisi IV. Jilid I. Penerbit Erlangga.

66

Jakarta 1984. 3. Umar Sutrisno, PERENCANAAN TEHNIK MESIN. Penerbit Erlangga 1986. 4. MECHANICAL ENGINEERING AND BOOK, By Kault. 5. DASAR-DASAR PERHITUNGAN KEKUATAN BAHAN. Penerbit Restu Agung Jakarta, Edisi I tahun 1986. 6. ELEMEN MESIN, Drs. Daryanto.Penerbit Rineke Cipta

67