Anda di halaman 1dari 3

Departemen Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Indonesia

OPINI KASUS BIOREMEDIASI PT CHEVRON PASIFIC INDONESIA

Oleh: Fajri Mulya Iresha 0906489706 S2 Teknik Lingkungan UI

Menyibak Tabir Skandal Bioremediasi PT Chevron Pasific Indonesia (CPI)


PT Chevron Pasific Indonesia merupakan termasuk perusahaan garda terdepan dalam melakukan proses bioremediasi pada lahan terkontaminasi minyak mentah di Indonesia. Namun adanya tuntutan hukum dari jaksa Penuntut umum yang mendakwa Team Leader Produksi di Sumatera Light South (SLS) Kukuh, Manajer Lingkungan Sumatera Light Operation Endah Rumbiyati, Team Leader Sumatera Light North Widodo, Direktur PT Sumigita Jaya (SJ) Herland, dan Direktur PT Green Planet Indonesia (GPI) Recksy Prematuri melakukan korupsi dalam proyek bioremediasi menodai kiprah PT CPI. Berkaca pada peraturan perundang-undangan tentang bioremediasi di Indonesia, Peraturan Pemerintah (PP) 18 junto 85 Tahun 1999 dan Keputusan Menteri (Kepmen) Nomor 128 Tahun 2003 ada beberapa kejanggalan dalam proses hukum yang telah dijalankan. Menurut Edison Effendi, seseorang berstatus ahli bioremediasi yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) untuk memberikan keterangan di depan persidangan kasus bioremediasi PT Chevron Pacific Indonesia (CPI) menyatakan, pelaksanaan bioremediasi pada industri hulu minyak dan gas bumi (migas) tidak wajib mengikuti Keputusan Menteri Lingkungan Hidup (Kepmen LH) Nomor 128 Tahun 2003. Dalam keterangannya pula seharusnya lahan wajib dilakakan remediasi adalah tanah yang terpapar TPH (Total Petroleum Hydocarbon) sebesar 7,515% berdasarkan pengalaman di lapangan. Sementara, di dalam peraturan hanya disebutkan tidak lebih dari 15%. Hal lain yang janggal adalah Edison Effendi yang didatangkan JPU adalah orang yang telah beberapa kali kalah tender bioremediasi CPI. Tentang alasan Kementerian Lingkungan Hidup membiarkan proyek bioremediasi walaupun belum ada pembaruan izin, kata Nelly yang merupakan saksi dari Kementrian Lingkungan Hidup, "Undang-undang mengatakan bahwa lahan terkontaminasi perlu diisolasi agar tak mencemari lingkungan," dan ia melanjutkan." Namun dengan adanya undang-undang lingkungan yang baru, maka setiap pembaruan izin mensyaratkan adanya Amdal, " Atusan baru ini menyebabkan adanya masa transisi, dan harus kami pertimbangkan situasinya." Apalagi, katanya, CPI sudah melaksanakan proyek bioremediasi sesuai Kepmen No.128 Tahun 2003. Nelly juga mengakui bahwa dirinya mengetahui adanya beberapa izin yang habis, tetapi kegiatan bioremediasi tetap dilaksanakan tanpa menunggu keluarnya izin baru. Hal ini terjadi karena terdapat beberapa lokasi pencemaran tanah oleh minyak yang cukup besar yang harus segera diolah di lapangan bioremediasi untuk menghindari pencemaran lebih besar. Dari kejadian tersebut terlihat beberapa kelemahan peraturan di Indonesia. Seharusnya yang mendanai biaya remediasi adalah perusahaan yang melakukan pengeboran minyak bumi itu sendiri apalagi PT CPI adalah perusahaan asing bukan dari cost recovery dari pemerintah Indonesia. Selain itu, perlu adanya angka yang akurat dan tepat agar tidak terjadi bias dalam penetapan TPH. Juga perlu adanya pengawasan dan akreditasi untuk laboratorium tempat pengujian kandungan kontaminasi yang terjadi agar didapat hasil dengan akurasi yang tinggi pula. Dengan adanya RPP tentang B3, Limbah B3 , dan Dumping B3 diharapkan kegiatan pengelolaan terhadap lingkungan terutama yang menyangkut kontaminasi dan remediasi tanah berlangsung secara baik dan terarah. Dengan dibebankannya proses remediasi kepada si penghasil limbah, diharapkan kegiatannya dilakukan secara lebih terorganisir dan profesional dengan didukung dengan angka pencemar yang jelas serta dengan pengawasan yang ketat pula dari pemerintah. Dengan demikin diharapkan iklim investasi migas di Indonesia tetap terjaga tetapi tidak terjadi

pencemaran lingkungan di Indonesia yang berdampak pada kesehatan dan penurunan kesejahteraan masyarakat.