Anda di halaman 1dari 5

1.

alasan ukuran diseragamkan Proses hidrolisis dan delignifikasi dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu enzim, ukuran partikel, temperatur, pH, waktu, perbandingan cairan terhadap bahan baku (volume substrat), dan pengadukan. Ukuran partikel yang kecil akan meningkatkan luas permukaan serta meningkatkan kelarutan dalam air (Saraswati, 2006). Laju reaksi meningkat seiring dengan waktu terhadap ukuran partikel. Semakin kecil ukuran partikel memberikan waktu pemasakan yang semakin cepat. Pada satu waktu optimum tertentu pelepah sawit akan mencapai kadar selulosa yang maksimal. 2. delignifikasi Delignifikasi dengan alkali menyebabkan pecahnya ikatan eter antara unit-unit fenil propana, menurunkan bobot molekul dan menghasilkan gugus hidroksil fenol bebas. Reaksi yang terjadi akan menaikkan hidrofilitas lignin sehingga mudah larut. Penambahan basa akan menyebabkan tingginya konsentrasi ion hidroksil dalam larutan pemasak sehingga mempercepat pemutusan pada ikatan intra molekul lignin saat ekstraksi dan mempercepat delignifikasi. Pada Gambar 5, selama berlangsungnya proses pemasakan dalam digester yang berisi larutan soda api (NaOH), polimer lignin akan terdegradasi dan kemudian larut dalam larutan pemasak. Larutnya lignin ini disebabkan oleh terjadinya transfer ion hidrogen dari gugus hidroksil pada lignin ke ion hidroksil (Gilligan, 1974). Menurut Murdiyatmo dalam Darnoko et al. (1995), mengatakan bahwa alkali (NaOH) selain dapat melarutkan lignin juga dapat melarutkan hemiselulosa.

3. ekstrak abu TKS Abu TKS memiliki kadar kalium (K), silikat (SiO2) dan karbonat (CO3) yang tinggi dibandingkan dengan unsur atau senyawa lainnya yang ada di dalam abu TKS. Perbandingan ini dapat dilihat pada Tabel 2.2.

Berdasarkan analisa abu TKS, kalium adalah komponen dominan di dalam abu TKS. Logam kalium dimungkinkan dalam bentuk senyawa kalium karbonat (K2CO3). Hal ini dapat dibuktikan dengan uji alkalinitas terhadap abu TKS (Sibrani dkk, 2007). Dengan sifat basa yang dimiliki kalium ketika dilarutkan dengan air, maka KOH yang terdapat dalam larutan ekstrak abu TKS dapat dijadikan pengganti NaOH, sumber alkali yang umumnya digunakan sebagai larutan pemasak. Hal ini disebabkan oleh kalium mempunyai sifat yang mirip dengan Natrium diantaranya sangat reaktif terutama dalam air dan merupakan basa kuat. Kalium dan karbonat larut dalam air membentuk ion K+ dan CO32- seperti terlihat dalam Persamaan 2.1. Ion karbonat bersifat reaktif sehingga akan mengikat ion H+ yang ada di dalam air dan membentuk HCO3- (Persamaan 2.2). Sedangkan ion kalium bersifat reaktif sehingga di dalam air berikatan dengan ion OH- membentuk KOH, sehingga larutan ekstrak abu TKS bersifat basa dengan pH > 7.

Kalium hidroksida (KOH) yang terbentuk dalam larutan ekstrak abu TKS akan bereaksi dengan komponen pelepah sawit pada saat proses pemasakan berlangsung. Reaksi komponen pelepah sawit dengan ekstrak abu TKS adalah reaksi delignifikasi oleh KOH terhadap gugus fenol dari struktur lignin (Achmed, 1986). 4. hemiselulosa Hidrolisis hemiselulosa secara enzimatis tidak menghasilkan produk yang beracun. Hemiselulosa merupakan salah satu komponen lignoselulosa yang sering diartikan sebagai selulosa dengan bobot molekul rendah. Hemiselulosa bersifat tidak tahan terhadap perlakuan panas (Fengel dan Wegener, 1995), strukturya amorf dan mudah dimasuki pelarut (Sjostrom, 1995), dapat diekstraksi menggunakan alkali dan ikatannya lemah sehingga mudah dihidrolisis (Winarno, 1984). Xilan atau polimer xilosa adalah komponen yang paling banyak terdapat dalam hemiselulosa tanaman (Whistler, 1950). Menurut Whistler (1950), xilan bersifat dapat larut dalam larutan alkali (NaOH atau KOH 2-15 persen) dan larut dalam air. Sedangkan berdasarkan hasil penelitian Richana (2006), xilan bersifat larut sempurna dalam alkali (NaOH 1 %), larut dalam air panas dan sedikit larut dalam air dingin, serta tidak larut dalam asam (HCl 1 N). 5. ekstraksi xilan Hespell et al. (1997) menyatakan bahwa ekstraksi xilan dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa pelarut seperti natrium hidroksida (NaOH), amonium hidroksida (NH 4OH) dan kalium hidroksida (KOH). Di antara ketiga pelarut tersebut, yang paling baik digunakan adalah natrium hidroksida, karena NaOH merupakan alkali yang paling kuat dalam mendegradasi struktur dinding sel. Hal ini sesuai dengan pernyataan Soltes (1983) bahwa hemiselulosa sangat mudah diekstraksi dengan menggunkan NaOH. Laju ekstraksi hemiselulosa meningkat secara bertahap dengan peningkatan konsentrasi NaOH yang digunakan.

Menurut Somaatmadja (1981), syarat pelarut yang digunakan pada proses ekstraksi adalah tidak berbahaya bagi pekerja, tidak bersifat racun dan dapat melarutkan xilan dengan cepat dan sempurna, murah serta mudah diusahakan sebagai pertimbangan ekonomi.

6. hidrolisis hemiselulosa Hidrolisis adalah pemecahan kimiawi suatu molekul karena pengikatan air, sehingga menghasilkan molekul-molekul yang lebih kecil (Gaman dan Sherrington, 1981).

Degradasi/hidrolisis menggunakan enzim memiliki banyak keuntungan karena sifatnya yang sangat selektif, hemat energi dan tidak mencemari lingkungan.