Anda di halaman 1dari 48

DAFTAR ISI

J U N I 2 0 0 9 • V O L 11 • N O. 1 26


Sajian Utama
Artikel
4 Tema Kesadaran (Mindfulness)
Oleh Redaksi 29 Ceramah
7 Liputan Waisak Oleh Juliyanto dan Ismail 33 Wawancara
9 Liputan Raker PVVD Oleh Shirley 43 Cerbung
10 Introspeksi Nyamuk Oleh Henry Filcozwen
Jen Lain-Lain
12 Rubrik Buddhis Menulis 2 Daftar Isi
Oleh Henry Filcozwen Jen 3 Dari Redaksi
15 Spiritful Drizzle Anjing Hachiko, Arti Sebuah 22 Karikatur
Kesetiaan 41 Berita
Oleh Willy Yanto Wijaya 45 Birthday
19 Artikel Dharma Murid yang Menolong Semut 46 Crew
Oleh Redaksi 47 Kuis
24 Ulasan Sutta Ketenangan dan Pandangan
Tenang
Oleh Willy Yandi Wijaya
27 Renungan Berpikir Menyelidik = Renungan =
Meditasi = Kesadaran
Oleh Willy Yandi Wijaya
39 Liputan Raker Sekber Oleh IPMKBI Jabar
2 BVD • JUNI 2009
DARI REDAKSI

Namo Buddhaya,
SUSUNAN REDAKSI Sesuai dengan tema Waisak kita pada bulan Mei
yang lalu, maka redaksi menyamakan tema BVD
Pelindung : bulan ini dengan tema Waisak, yaitu Kesadaran
Persamuhan Umat Vihara (Mindfulness).
Vimala Dharma
Pada BVD kali ini, redaksi akan mencoba men-
gupas tentang apa yang dimaksud dengan
Redaksi : Kesadaran (Mindfulness). Selain itu pada edisi
Pemimpin Redaksi : kali ini juga ada ceramah tentang Wanita-wanita
Shirley Buddhis yang dibawakan oleh Bhikkhuni Karma
Humas : Lekshe Tsomo dari Amerika yang beberapa
Shirley waktu lalu berkunjung ke VVD. Juga ada wawan-
Editor : cara oleh tim redaksi dengan beliau, yang akan
Yulian, Juandi mengupas perihal beliau pertama kali mengenal
Layouter : Buddhis dan asal mula keinginan beliau untuk
Shirley menjadi seorang Bhikkhuni. Semoga tulisan-
Illustrator : tulisan dalam BVD kali ini dapat bermanfaat bagi
Shirley kita semua.
Keuangan :
Shirley Akhir kata, kami mengucapkan terima kasih
Sirkulasi : kepada pembaca yang telah setia membaca dan
Shirley mengikuti BVD dari awal hingga edisi ini. Kami
Blog-er & Reporter : akan terus berusaha memberikan yang terbaik
Juliyanto, Ismail untuk edisi-edisi berikutnya. Jika ada masukan
Cover April : dan saran, mohon dikirim ke e-mail kami.
Shirley
Mettacittena
Kontributor BVD: REDAKSI
Hendry Filcozwei Jan, Huiono,
Willy Yanto Wijaya, Willy Yandi
Wijaya, Endrawan Tan, Alvin,
Yenny Lan

Kontributor BVD Kecil :


Angel, Yen-Yen

3 BVD • JUNI 2009


T E M A
Oleh : Redaksi

KESADARAN
(Mindfulness)
S
eseorang bijak
mengatakan, kunci
hidup adalah “kesadaran
yang intinya untuk dapat
menikmati hidup, berada dan
memiliki kesadaran setiap
saat”. Kesadaran mikro adalah
kesadaran dalam keseharian
kita. Kita menyadari sepenuhnya
apa yang sedang kita lakukan,
pikirkan dan rasakan. Pernahkah
anda mengatakan sesuatu
kemudian menyesalinya ? Anda bahkan tidak pernah habis berpikir
mengapa Anda bisa berbuat seperti itu?
Banyak permasalahan yang sebenarnya terjadi karena
kurangnya kesadaran pada saat kita melakukannya. Kita baru sadar
telah bercanda tidak pada tempatnya, begitu ada kawan yang
merasa terluka. Kita baru menyadari telah bertindak kasar, setelah
orang lain sakit hati. Anda baru sadar telah berbohong setelah hal
itu menimbulkan masalah.

Semua ini terjadi karena manusia senantiasa melabeli ”Aku”,


”Saya”, ”Punyaku”, ”Milikku”. Semua label tersebut adalah permainan
ego. Ego bekerja dan mempertahankan diri, memperkuat
pengaruh, semakin memperbesar dirinya, dan semakin kuat
mencengkeram. Kita, manusia, senantiasa mengidentifikasi diri kita
dengan sesuatu. Hal ini tampak dalam pernyataan ”Saya marah”,
Ini ideku”, ”Ini rumahku”, ”Tubuhku gemuk”, ”Mobilku rusak”, dan
masih banyak lagi pernyataan yang serupa. Saat kita berkata ”Saya
marah” maka kita mengidentifikasikan ”saya” dengan ”marah”.

4 BVD • JUNI 2009


T E M A
Oleh : Redaksi

Berarti ”saya” sama dengan ”marah”. Saat kita berkata ”Ini ideku”
maka kita menyamakan diri kita dengan ide kita. Itulah sebabnya
bila ada orang yang mengkritik ide kita maka kita bisa marah besar.
Mengapa? Karena kita menganggap orang itu mengkritik diri kita,
bukan ide kita. Selain pelabelan “aku”, kita juga memperlakukan
”aku” adalah entitas yang berbeda dengan ”orang” atau ”aku” yang
lain. Aku tidak bisa ada tanpa adanya ”yang lain”, kamu, dia, mereka.
Untuk mempertegas separasi ini ego biasanya menggunakan
emosi negatif yang dimunculkan dengan menggunakan strategi
”mengeluh/menyalahkan” dan ”membenci” orang lain. Semakin kita
sering mengeluh atau menyalahkan orang lain maka semakin jelas
separasi di antara kita dan mereka. Mengeluh dan menyalahkan
diperkuat oleh emosi benci.

Ada dua penyebab ketidaksadaran kita melakukan sesuatu hal.


Kita sering melakukan sesuatu secara otomatis. Karena
rutinnya maka kita melakukan tanpa berpikir panjang (yang kita
sebut sebagai energi kebiasaan). Kita hanya bergerak seperti robot.
Kita tidak menyadari bahwa perasaan apa yang muncul di dalam diri
kita saat itu, dan setiap saat. Padahal perasaan inilah yang mendorong
kita untuk melakukan berbagai tindakan. Kalau perasaan dibarengi
dengan kata hati. Menyadari perasaan yang sering berubah silih-
berganti, maka kunci keberhasilan hidup adalah mampu mengenali
perasaan dan mendifinisikan perasaan yang silih berganti. Begitu
kita marah, sadarilah kita sedang marah. Begitu kita sedang takut,
sadarilah kita sedang takut. Begitu kita sedang tergoda, apakah oleh
kekuasaan, jabatan, harta, tahta. Maka kita harus mampu menyadari
perasaan yang bakal muncul. Sadari, akui perasaan.ini kesadaran
tepat waktu. Dengan demikian kita akan mampu membunuh
“monsternya” selagi ia masih kecil. Sejauh mana kita dapat menjaga
kesadaran kita setiap saat maka itulah mindfulness yaitu hidup
dalam kondisi pikiran yang terjaga.

Kesadaran membuat kita lebih fokus , membantu


memberikan perhatian pada apa yang tengah kita kerjakan persis
pada saat kita mengerjakan. Memberikan perhatian membuat
5 BVD • JUNI 2009
T E M A
Oleh : Redaksi

kita hidup di dalamnya, menikmati dan mengapresiasikan semua


kekayaan batinyang bersih ke dalamnya. ini benar-benar membantu
kita melihat apa yang sebenarnya terjadi.

Menikmati hidup berkualitas hanya dengan menyadari.


Dengan menyadari tidak hanya menjadikan hidup pribadi
berkualitas tetapi juga, kualitas hubungan kita dengan orang lain.
Karena kunci kualitas hubungan dengan orang lain terletak pada
kemampuan mendengarkan. Nah dengan memberikan penuh pada
apa yang sedang terjadi kita akan mampu menjadi pendengar yang
baik. Anda akan menjadi orang yang menyenangkan karena dapat
memberikan perhatian penuh pada kawan berbicara.

Kesadaran adalah tetap


diam dan hanya mengamati
semua bentuk pikiran yang
muncul dari dalam dirinya
dan membiarkannya musnah
tanpa perlu mengeluarkan
reaksi. Tujuan kita melatih
perhatian murni supaya
mencapai kesadaran adalah
hanya mendengarkan luapan
berbagai bentuk pikiran
kita, misalnya kemarahan.
Dalam kemarahan, kita tahu luapan emosi kita dalam kemarahan
hanya perlu diungkapkan dan kita mendengarkannya tanpa perlu
memberikan reaksi dan dengan demikian emosi itu pun akan
musnah dengan sendirinya. Kesadaran adalah menentukan tujuan,
tetap berada di dalam tujuan itu, menyadari semua fenomena yang
muncul dan membiarkannya musnah kembali tanpa harus larut
didalamnya. Kesadaran membuat kita tetap berada dalam tujuan
dengan menyadari semua emosi yang muncul dan membiarkannya
musnah supaya kita tetap berada dalam tujuan. Ini pula menjadi
tujuan kegiatan kita setiap hari rabu dan jum’at, KPD. Belajar, berlatih
dan berbagi hidup berkesadaran guna memfasilitasi terjadinya
Transformasi Diri, Transformasi Soaial dan Pelestarian Lingkungan
Hidup.

6 BVD • JUNI 2009


LIPUTAN
Oleh : Ismail dan Julyanto

Waisak 2553 BE
B
ulan mei di kenal sebagai
bulan yang familiar dengan
bulan suci waisak bagi umat
buddhis, pada hari suci Waisak ini
kita memperingati tiga peristiwa
dalam kehidupan Buddha yaitu
lahirnya pangeran Sidharta Gotama
diTaman Lumbini, Pangeran Sidharta
mencapai penerangan sempurna
( kebuddhaan), Sang Buddha
parinibbana di Kusinara. Untuk
tahun ini peringatan Hari Trisuci Waisak yang ke 2553 BE(Buddhis Era)
jatuh tepat Tanggal 9 mei 2009. Di VVD(vihara vimala dharma) Acara
Kebaktian bersama dimulai jam 9.00 pagi. Satu jam sebelum Acara
di mulai, vihara sudah di penuhi oleh umat-umat yang berdatangan.
Karena Padatnya umat di Vihara, panitia harus menyediakan tenda
di halaman Vihara sebelum perayaan serta kursi tambahan untuk
umat di lantai bawah. Kebaktian waisak tahun ini dihadiri oleh Yang
Arya Dharmasurya Bhumi Mahatera dan Yang Arya Nyanadhammo
dan Kebaktian dipimpin oleh Dhika.
Pertama-tama Acara dimulai dengan Pembukaan dan Sambutan
Selamat Datang yang dibawakan Oleh kedua MC, yaitu Ismail dan
Phelia. Setelah sambutan, Anggota Sangha di persilahkan Memasuki
Ruangan Bhaktisala, dilanjut dengan Penyalaan Lilin Oleh Pemimpin
Kebaktian dan Penyalaan Lilin Panca warna Oleh Anggota Sangha.
Kemudian Kebaktian Dimulai dengan Pembacaan Parita Namaskara,
Persembahan Puja, Tuntunan Trisarana dan Pancasila, Pembacaan
Parita buddhanusati, Dhammanusati, Sanghanusati, dan Maha
Manggala Sutta. Setelah Membacakan Parita-Parita Suci, Para umat
dengan tenang Mendengarkan Tuntunan Dharma Yang dibawakan
Oleh Yang Arya Dharmasurya Bhumi. Setelah mendengarkan
7 BVD • JUNI 2009
LIPUTAN

Dhammadesana, para tamu dan Umat disuguhi dengan Lantunan


Lagu Rohaniah yang dibawakan Oleh Vocal group Pemuda Vihara
vimala Dhamma. Lagu yang dibawakan adalah Cahahya Tiratana,
Bulan Waisaka, dan Waisak Down. Kemudian Acara dilanjutkan
dengan Bermeditasi Untuk Merenungi Detik-detik Waisak Tepat
Pada Jam 11 Lewat 1 Menit.
Setelah selesai bermeditasi kebaktian
di lanjutkan dengan pemberkahan air
suci oleh Yang arya Nyana Dhammo,
kemudian kebaktian ditutup dengan
paritta ettavata dan anggota sangha
meninggalkan ruangan bhaktisala.
Acara kemudian di akhiri oleh ucapan
salam hangat oleh kedua MC. Setelah
selesai acara puja bhakti waisak, para
tamu dan umat di persilah kan untuk
mengikuti acara ramah tamah sambil menikmati santapan ringan
yang telah di sediakan oleh panitia.

P
ada hari yang sama, Vihara Buddha Gaya mengundang kita
untuk mengisi acara perayaan Waisak di sana. Selain VVD,
VBG juga mengundang berbagai pihak untuk berpartisipasi
menyumbangkan acara seperti KMB-KMB dari universitas di
Bandung, VG dan beberapa acara lainnya yang dipersiapkan oleh
VBG sendiri. Acara dilaksanakan di panggung vihara Samudera
Bakti. Giliran kita tampil sekitar jam 8 malam. VVD menyumbangkan
acara medley dengan trio penyanyi Yenni, Marcellina dan Santiani.
Mereka bertiga membawakan lagu “H adirkan Cinta” yang disambut
dengan meriah, bahkan masing-masing mendapat bunga dari
penonton^^,
Demikian berlangsungnya acara puja waisak BE 2553, semoga
melalui peringatan waisak tahun ini, umat buddhis di harapkan
bisa mengembangkan wawasan dharma serta mempraktekannya
dengan lebih baik lagi dalam kehidupannya sehari-hari.

8 BVD • JUNI 2009


LIPUTAN
Oleh : Shirley

Raker PVVD
P
ada hari Sabtu, 6 Juni 2009, Pemuda Vihara
Vimala Dharma (PVVD) mengadakan Rapat
Kerja untuk yang pertama kalinya dalam
kepengurusan yang baru ini. Acara ini dibuka
dengan mambo dance dari para peserta dengan
menggunakan rok yang dibuat dari tali raffia
yang telah disediakan oleh BPH. Kemudian acara
dilanjutkan dengan permainan perkenalan, yaitu
memangil orang maju dengan nama panggilan
yang kita buat sendiri lalu orang yang ditunjuk
h a r u s
membuat
gerakan-
gerakan aneh yang kemudian harus
ditiru oleh semua peserta rapat.
Presentasi kerja dari setiap divisi
punkemudian dimulai bergiliran.
Setelah 5 divisi maju, makan malam
yang ditunggu-tunggu pun datang.
Setelah makan malam, acara diisi
oleh renungan yang dibawakan oleh

Ko Robet, yang sangat bagus


dan mengharukan sehingga
beberapa orang tidak dapat
menahan air matanya. Barulah
kemudian kelima divisi terakhir
mempresentasikan program
kerja mereka. Presentasi ditutup
dengan Divisi Media Komunikasi
sebagai divisi terakhir yang
presentasi, kemudian dilanjutkan
dengan berfoto-foto ria.

9 BVD • JUNI 2009


IN T RO SPE KS I
Oleh : Hendry Filcozwei Jan

“K
ita tidak boleh
m e m b u n u h
makhluk hidup”
begitu yang penulis katakan
kepada Dhika dan Ray, anak
penulis. Itu pula yang Dhika
dapatkan dari Sekolah
Minggu Buddhis (SMB). Itu
merupakan sila pertama dari
Pancasila Buddhis. Pānātipātā
veramani sikkhapadam
samādiyāmi yang artinya:
Aku bertekad melatih diri untuk menghindari pembunuhan.
Untuk hewan yang tidak mengganggu kehidupan manusia, kucing,
anjing, ayam, ikan, dan lain-lain, tidak terlalu sulit untuk menanamkan
nilai Buddhis ini. Dhika & Ray mudah menangkap pesan ini. Dari
sekolah (TK-nya), Dhika juga diberitahu agar menyayangi hewan.
Tidak boleh membunuh atau menyakiti binatang peliharaan.
Yang jadi masalah adalah memberi pengertian mengapa kita tidak
boleh membunuh binatang/ hewan yang mengganggu kehidupan
kita. Nyamuk misalnya, yang menghisap darah kita dan bisa
menyebarkan penyakit malaria dan demam berdarah.
“Mengapa kita tidak boleh membunuh nyamuk? ‘Dia ‘kan suka gigit
kita?” tanya Dhika. Agak bingung juga menjelaskannya. Kata Ibu
Guru, “Kita boleh membunuh binatang yang mengganggu kita”
lanjutnya.
“Semua makhluk (termasuk binatang tentunya), sayang kepada
anaknya. Mama dan Papa sayang Dhika dan Ray. Begitu juga
binatang, mereka sayang anaknya. Anaknya juga sayang pada orang
tua. Coba kalau satu semut (atau nyamuk) Dhika bunuh, nanti Mama
dan Papanya akan nangis mencari anaknya. Atau yang Dhika bunuh
itu Mama atau Papanya, anaknya akan menangis dan tak ada yang
10 BVD • JUNI 2009
IN T RO SPE KS I
Oleh : Hendry Filcozwei Jan

kasih makan. Semut itu pasti sedih dan mungkin juga mati. Kasihan
‘kan?” begitu penjelasan penulis. Sekarang, mereka (Dhika & Ray)
sudah mulai bisa memahami bahwa kita tidak boleh membunuh
makhluk apa pun.
Kadang penulis tertawa melihat mereka berdua sedang
memperhatikan semut yang sedang berjalan. Kalau salah satunya
iseng mengganggu semut, yang satu pasti bilang “Eh... jangan
diganggu, jangan dibunuh, nanti Mama dan Papanya nangis”
Agak susah memang menumbuhkan kesadaran untuk tidak
membunuh kepada anak kecil. Awalnya (saat Dhika masih kecil/
belum sekolah), penulis bilang, “Kalau Dhika bunuh semut, nanti
Mama dan Papanya akan datang dan mencari Dhika. Dhika sedang
tidur, semut-semut akan menggigit Dhika.” Hal ini membuat Dhika
takut membunuh semut.
Jadi tidak hanya semut, nyamuk, makhluk lain pun tidak boleh
dibunuh. Yang terjadi, kadang penulis sendiri yang sering lupa
(jangan dicontoh ya?). Penulis melihat nyamuk yang terbang dan
akan menggigit, penulis memukulnya. Dan tepat pula, alhasil
nyamuknya mati. Dhika yang melihat akan protes, “Papa kok bunuh
nyamuk?” Ups... jadi bingung deh. “Maaf, tadi Papa tidak sengaja”
kata penulis membela diri. “Ya, Papa janji tidak akan membunuh
nyamuk lagi” lanjut penulis.
Kalau hanya sekedar bicara memang gampang, tapi anak kecil
lebih mudah belajar dari teladan (contoh). So... sebagai orang tua,
kita harus bisa menjaga sikap karena apa yang kita lakukan dengan
cepat akan ditiru anak.
NB:
Artikel Introspeksi ini dan artikel Introspeksi lama, akan hadir
dalam bentuk ebook dan dapat di-download di www.vihara.
blogspot.com atau www.wihara.co.cc (sekarang masih dalam
proses pengerjaan).
11 BVD • JUNI 2009
BUDDHIS MENULIS

Oleh : Hendry Filcozwei Jan

Judul Tulisan
Apa yang sebaiknya dijadikan judul tulisan? Umumnya, judul tulisan
tentu berkaitan dengan isi tulisan. Misalkan penulis membuat
artikel Introspeksi berjudul “nyamuk” maka dalam tulisan itu ada
kata nyamuk dan cerita tentang nyamuk. Atau bisa juga kata yang
tak ada tak ada dalam tulisan, namun kata itu mewakili apa yang
telah ditulis dalam artikel. Misalkan saja judulnya “perasaanku”
isinya seperti ini: Aku ingin marah, tapi tak tahu pada siapa. Entah
mengapa, hari ini aku merasa kesal sekali, dan seterusnya. Sama
sekali tak menggunakan kata perasaanku.
Tapi terkadang, ada penulis yang memberi judul yang “aneh” untuk
tulisannya. Sah-sah saja... Misalkan dia menulis tentang komputer.
Judulnya “Jangan Dibaca.” Mengapa membuat judul seperti ini? Ini
hanya trik untuk menarik perhatian. Penulis yakin, judul seperti itu
(menyuruh kita jangan membaca) malah membuat kita penasaran
dan membacanya. Terlepas nanti isinya bagus atau tidak, kita sudah
terpancing untuk membaca tulisan itu. (zwei)
Untuk edisi Juni 2009, ada 2 pembaca yang mengirimkan tulisan
untuk rubrik “Buddhis Menulis.” Karena memenuhi syarat, maka
tulisan dari Minokaro Ashell  (tanpa identitas diri seperti nama, usia,
status, dan nama kota) dan Selfy Parkit (usia 25 tahun, guru TK asal
Tangerang) ini kami muat. Tulisan Minokaro Ashell berjudul “Ag” dan
Selfy Parkit berjudul “Komunikasi”
Bagaimana isinya, silakan pembaca yang menilai. Selamat
membaca…
Menulis artikel tentang apa saja, maksimal 1.000 karakter (termasuk
judul dan spasi). Yang memenuhi syarat akan dimuat di BVD & blog.
Kamu berani? Ayo… siapa lagi yang mau menjawab tantangan ini?

12 BVD • JUNI 2009


BUDDHIS MENULIS

Oleh : Hendry Filcozwei Jan

Komunikasi
Rasanya tak menyangka kalau suatu saat di dalam kehidupan kita
yang tenang dan biasa, tahu-tahu kedatangan berita kalau ternyata
kita memiliki saudara tiri di luar sana, yang kita sendiri belum pernah
mengenal ataupun bertemu dengannya. Reaksi pertama kali yang
mungkin terjadi adalah kaget dan tak percaya kalau hal itu bisa saja
terjadi.

Anehnya walaupun saudara tiri/


sekandung, karena lama tidak
pernah bertemu, maka otomatis
seperti orang asing yang baru
saja kenal dan merasa tidak
akrab. Di balik itu semua status/
label menjadi tidak penting lagi
rupanya. Bayangkan saja, dengan
orang lain yang bukan saudara
sendiri kita malah bisa lebih akrab melebihi saudara sekandung.
Tetapi hubungan kita dengan saudara sendiri? Jangankan akrab,
kita mungkin malah sering berantem. Memang setiap keakraban
suatu hubungan didasari oleh komunikasi yang baik. Tanpa adanya
komunikasi yang baik, sering bertemu pun menjadi tak berarti lagi.

Pesan: Komunikasi yang baik dasar keharmonisan hubungan.

13 BVD • JUNI 2009


BUDDHIS MENULIS
Oleh : Hendry Filcozwei Jan

Ag
Sudah 2 tahun lebih Ag hadir dalam keluarga kami. Kami sering
mengajaknya bermain. Tapi tampaknya Ag membenciku. Aku tak
tahu kenapa, padahal sampai sekarang kami tinggal satu atap.
Saat aku lewat, ia “berteriak” tak karuan Begitu aku mengelusnya, ia
diam menatapku. Ag hanya bermanja manja pada ayah dan kakak
laki-lakiku.. Ibuku sering memarahinya karena kenakalannya. Lama-
lama aku mulai risih pada Ag. Aku pernah berpikir untuk menjualnya
pada orang lain.
Meski demikian, Ag jago menangkap tikus. Kalau ia berhasil
menangkap satu ekor, ia akan menghampiri kami, meletakkan
buruannya di tanah, dan menatap kami. Lagaknya seperti
seorang pemburu yang berhasil menangkap seekor T-Rex.

Suatu hari aku pergi membaca sebuah buku.. Di buku  itu  tertulis,
“Miniature Pinscher  angkuh dan loyal. Ia sering menyalak pada
orang-orang..” Akhirnya aku mengerti kenapa Ag, anjing kecilku,
selalu “berteriak” padaku. Hahaha. XD

Pelajaran: Jangan menilai seseorang secara subjektif.


Note:
Ingin melihat tulisan dari teman-teman Anda yang telah
mengirimkan tulisannya? Masuk ke www.vihara.blogspot.com atau
www.wihara.co.cc lalu klik “Buddhis Menulis” untuk melihat tulisan
kiriman pembaca atau klik “1000=1” untuk melihat tulisan-tulisan
pengasuh BM, siapa tahu akan dapat banyak ide dari sana.

14 BVD • JUNI 2009


SPIRITFUL DRIZZLE

Oleh : Willy Yanto Wijaya

Anjing Hachiko, Arti


Sebuah Kesetiaan
J
ika Anda mengunjungi Shibuya,
pusat perbelanjaan terpadat di
Tokyo, Anda mungkin akan men-
emukan sebuah patung anjing di salah
satu pintu keluar stasiun. Patung ini
didirikan untuk mengenang Hachiko,
anjing ras Akita yang sangat terkenal
akan kesetiaannya.
1923. Di musim dingin yang
menggigit, diantara hamparan salju
di Prefektur Akita, seekor anak anjing
ditinggalkan oleh pemiliknya. Profesor
Hidesaburo Ueno yang menemukan anak anjing ini merasa iba, dan
membawanya pulang. Anak anjing yang imut dan lucu ini benar-benar
menggemaskan dan membawakan kegembiraan hati bagi Profesor
Ueno. Setiap hari Profesor selalu berbagi makanan dengannya,
memandikannya dan merawatnya. Profesor memberikan nama
“Hachiko” kepada anak anjing ini.

Hachiko pun sangat menyukai Profesor. Pada tahun 1924,


Hachiko dibawa ke Tokyo oleh Profesor Ueno, yang memang mengajar

15 BVD • JUNI 2009


SPIRITFUL DRIZZLE

Oleh : Willy Yanto Wijaya

jurusan pertanian di Universitas Tokyo. Setiap hari Profesor berangkat


ke kampus menggunakan densha (kereta api) dari stasiun Shibuya.
Setiap hari pula Hachiko selalu menemani Profesor berangkat ke
stasiun Shibuya. Setelah Profesor berangkat, Hachiko pun akan pulang
ke rumah dengan sendirinya, kemudian sore harinya, datang lagi ke
stasiun Shibuya untuk menunggu kepulangan Profesor. Setiap kali
Profesor turun dari densha, Hachiko pun terlihat telah menunggunya.
Hachiko dan Profesor kemudian akan pulang ke rumah bersama-
sama.

Demikianlah hari demi hari Hachiko selalu mengantarkan dan


menemani Profesor Ueno.

Suatu hari, Profesor merasa kurang sehat. Walaupun demikian,


Profesor tetap berangkat mengajar seperti biasanya. Hachiko pun,
seperti biasanya, menemani Profesor berangkat ke stasiun Shibuya.
Ketika sedang mengajar, Profesor tiba-tiba limbung dan terjatuh.
Profesor Ueno mengalami serangan stroke. Murid-murid dan staf
kampus yang kaget, segera membawa Profesor ke rumah sakit. Akan
tetapi, nyawa Profesor tidak tertolong lagi.

Hachiko, sore harinya, seperti biasa berangkat lagi dari rumah


ke stasiun Shibuya untuk menunggu kepulangan tuannya. Akan tetapi,
kali ini, diantara kerumunan orang-orang yang turun dari densha,
tidak ada sang Profesor. Hachiko terus menunggu dan menunggu,
berharap sosok sang Profesor akan menghampirinya, dan bersama-
sama pulang ke rumah.

16 BVD • JUNI 2009


SPIRITFUL DRIZZLE

Oleh : Willy Yanto Wijaya

Siang tergantikan malam. Akan tetapi, Profesor yang


ditunggu-tunggu, tidak kunjung datang. Hachiko pun pulang kembali
ke rumah.

Keesokan harinya, Hachiko datang lagi ke stasiun Shibuya,


menunggu kepulangan sang Profesor. Akan tetapi, lagi-lagi Profesor
yang dinanti-nantikan tak kunjung tiba.

Esok harinya, Hachiko datang lagi ke stasiun dan menunggu.


Esoknya lagi... dan esoknya lagi. Tidak peduli hamparan salju yang
membeku di musim dingin, maupun udara musim panas yang lembab
dan gerah, setiap harinya Hachiko pasti selalu datang menunggu.

Para penumpang yang mengetahui bahwa Hachiko sedang


menunggu tuannya yang tidak akan pernah kembali lagi, merasa
simpati dan mencoba memberitahukan, “Hachiko, tuanmu tidak akan
pernah kembali lagi, tidak perlu menunggu lagi.”

Akan tetapi, Hachiko tetap menunggu. Tanpa pernah absen


seharipun, selama hampir 11 tahun, Hachiko tetap menunggu...

Suatu pagi, seorang petugas stasiun menemukan tubuh


seekor anjing yang sudah kaku meringkuk di pojokan jalan. Anjing
itu telah menjadi mayat. Hachiko sudah mati. Kesetiaannya kepada
tuannya pun terbawa sampai mati.

Warga yang mendengar kematian Hachiko pun berdatangan


ke stasiun Shibuya. Mereka ingin menghormati untuk terakhir kalinya,
menghormati arti dari sebuah kesetiaan yang kadang justru sulit

17 BVD • JUNI 2009


SPIRITFUL DRIZZLE
Oleh : Willy Yanto Wijaya

ditemukan pada diri manusia.

Untuk mengenang Hachiko, warga pun membuat sebuah


patung di dekat stasiun Shibuya. Jika Anda mengunjungi Shibuya,
Anda akan menemukan patung Hachiko di sisi utara stasiun
Shibuya saat ini.

Sampai saat ini pun, sekitaran patung Hachiko suka dijadikan


tempat janjian bertemu oleh orang-orang ataupun sepasang
kekasih. Mereka berharap akan ada kesetiaan seperti yang telah
dicontohkan oleh Hachiko saat mereka menunggu maupun berjanji
untuk datang.

Oleh orang Jepang, Hachiko dikenang dengan sebutan 忠


犬ハチ公 (Chuuken Hachiko) yang berarti “Hachiko yang setia”.

Patung Hachiko di dekat Stasiun


Shibuya

18 BVD • JUNI 2009


ARTIKEL DHARMA
Oleh : Redaksi

MURID YANG
MENOLONG SEMUT

S
ebagai seorang umat Bud-
dhis, kita diajarkan untuk
tidak membunuh makhluk
hidup, apa pun makhluk hidup-
nya. Tetapi terkadang, kita secara
sadar maupun tak sadar mem-
bunuh makhluk hidup hampir
setiap hari, entah itu membunuh
semut yang mengerumuni kue
kita, membunuh tikus yang
mengganggu rumah, mem-
bunuh nyamuk, dan sebagainya.
Setelah membunuh pun jarang sekali timbul perasaan bersalah. ‘Toh
cuma binatang kecil, tidak akan berdampak besar terhadap karma
saya’, begitulah sebagian besar orang akan berpikir.
Memang, karma buruk membunuh binatang kecil seperti
nyamuk dan semut tidak akan sebesar karma buruk yang akan kita
dapatkan jika kita membunuh binatang yang lebih besar, misalnya
sapi atau kerbau. Tetapi itu tidak berarti bahwa karma buruk kita
membunuh binatang kecil tersebut tidak akan berpengaruh kepada
masa depan kita. Ada sebuah kisah yang dapat menggambarkan hal
ini.
Guru Hui-gan yg memiliki kekuatan supranatural (Divyacakshu
/ dibbacakkhu) merasa sedih sekali pada suatu hari karena mengetahui
bahwa muridnya, Li-chang yg baru berusia 19 tahun harus meninggal
satu bulan lagi karena karma buruk masa lalu yg dibuatnya. Beliau tidak

19 BVD • JUNI 2009


ARTIKEL DHARMA
Oleh : Redaksi

menceritakan hasil penglihatannya tersebut agar tidak membuat Li-


chang bersedih, melainkan menasihatkan muridnya untuk pulang
kerumah orang-tuanya, berkumpul selama 40 hari dengan alasan
sudah lama sekali tidak menjenguk orang-tuanya. Dengan demikian
diharapkan, Li-chang dapat menghabiskan hari-hari terakhirnya
bersama orang-tuanya.
Li-chang menuruti dan melakukan perjalanan menembus
hutan yg memakan waktu cukup lama juga. Di tengah perjalanan, Li-
chang menemukan koloni (berjumlah jutaan) semut terperangkap
dalam genangan air dan berada di tengah-tengah batu yg di
kelilingi oleh air banjir. Li-chang dengan sigap dan spontan mencari
dahan kayu yg banyak dan di buatkan sebagai jembatan, sehingga
seluruh semut berikut telur-telur
semut yg belum menetas dapat
di seberangkan ke tempat yg
kering oleh para semut pekerja.
Sesudahnya, dia melanjutkan
perjalanan lagi pulang ke rumah
orang-tuanya.
Setelah melewati masa
40 hari sebagaimana izin yg di
perolehnya dari gurunya, Li-chang
kemudian muncul di hadapan
gurunya yg terkejut melihat
kedatangannya tanpa kekurangan
apa pun. Guru Hui-gan mencoba melihat kembali dengan kekuatan
batinnya dan mendapatkan bahwa muridnya akan hidup sampai
umur 91 tahun. Guru Hui-gan menanyakan apa yg telah di lakukannya
selama perjalanan. Li-chang hanya bisa menjawab tidak melakukan
apa-apa. Guru Hui-gan mencoba melihat perjalanan muridnya ini,
dan kemudian menjadi maklum bahwa muridnya telah menolong
jutaan makhluk hidup dengan tulus dan penuh kasih sayang, yang
mana secara tidak langsung telah memperpanjang usianya. Guru

20 BVD • JUNI 2009


ARTIKEL DHARMA
Oleh : Redaksi

Hui-gan berucap terima-kasih kepada Bodhisattva.


Cerita tersebut menggambarkan bahwa ternyata kehidupan
sekecil itupun dapat berdampak sangat besar pada hidup seseorang.
Li-chang yang telah seharusnya berumur pendek karena karma
masa lalunya yang buruk, ternyata dapat berumur panjang karena ia
menolong kehidupan kecil yang terkadang bahkan diabaikan orang.
Jika pada waktu itu, dia tidak memiliki kepekaan untuk menolong
para semut itu, mungkin takdirnya akan terjadi sesuai dengan apa
yang telah dilihat oleh gurunya.
Perbuatan menghargai
makhluk hidup sekecil apa pun akan
menghasilkan buah karma yg baik,
bukan karena kebaikan makhluk itu
untuk membalas kita, tetapi karena
kebaikan hati nurani kita sendiri yg
sanggup menimbulkan kasih yg
setulusnya. Dengan perbuatan baik
kecil yang kita lakukan, kita pun
mungkin dapat mengubah masa
depan kita, seperti yang telah terjadi
pada Li-chang.
Melalui cerita ini, kita juga dapat menarik pelajaran bahwa
ternyata masa depan bisa diubah, dengan karma-karma yang kita
lakukan sekarang. Orang yang divonis berumur pendek, dapat
berumur panjang dengan melakukan karma-karma baik. Begitu
pula dengan orang yang dianggap berumur panjang, dapat menjadi
berumur pendek karena berbuat karma-karma buruk.
Jadi, mulai sekarang, perhatikanlah kehidupan kecil di
sekeliling kita yang biasanya tidak kita perhatikan. Mulailah
mengasah hati kita untuk lebih peka. Dengan demikian, mungkin
kita pun bisa mengubah masa depan kita menjadi lebih baik.

21 BVD • JUNI 2009


KAR I KAT U R

22 BVD • jUNI 2009


KAR I KAT U R

23 BVD • JUNI 2009


ULASAN SUTTA
Oleh : Willy Yandi Wijaya

KETENANGAN DAN PAN-


DANGAN TENANG


“Ada dua hal, o para biku, yang merupakan bagian dari
pengetahuan tertinggi. Apakah dua hal itu? Ketenangan
dan Pandangan Terang [renungan].
Jika Ketenangan dikembangkan, manfaat apa yang
dihasilkannya? Pikiran menjadi berkembang. Dan
apakah manfaat dari pikiran yang berkembang? Semua
nafsu ditinggalkan.
Jika pandangan terang [renungan] dikembangkan,
manfaat apa yang diperoleh? Kebijaksanaan menjadi
berkembang. Dan apa manfaat dari kebijaksanaan yang
berkembang? Semua kebodohan ditinggalkan.
Pikiran yang dikotori oleh nafsu tidak terbebas; dan
kebijaksanaan yang dikotori oleh kebodohan tidak
dapat berkembang. Karena itu, para biku, melalui
pudarnya nafsu terdapat pembebasan pikiran; dan
melalui pudarnya kebodohan terdapat pembebasan
oleh kebijaksanaan.”
Anguttara Nikaya II, iii, 10

P
erlu diketahui bahwa asal muasal
meditasi buddhis, yang dibagi
menjadi dua oleh Buddhaghosa
yaitu meditasi ketenangan (samatha) dan
meditasi pandangan terang (vipassana),
salah satunya adalah berdasarkan sutta
(teks yang diyakini sebagai ucapan
Buddha) ini.
24 BVD • jUNI 2009
ULASAN SUTTA
Oleh : Willy Yandi Wijaya
willyyandi@yahoo.com

Cermati kalimat awal terdapat kata ‘pengetahuan tertinggi’. Menurut


ulasan Bhikkhu Bodhi, ‘pengetahuan tertingg’ (vijjabhagiya)
merupakan unsur-unsur pokok dari pengetahuan tertinggi (vijja),
yang bisa mengacu pada:
1. Tiga Pengetahuan Sejati (tevijja), yaitu pengetahuan menge-
nai ingatan kelahiran terdahulu, mengenai kematian para
makhluk dan kelahiran kembali mereka, dan pengetahuan
mengenai hancurnya noda-noda (pencapaian arahat/Bud-
dha)
2. Pembagian berunsur delapan, yaitu pengetahuan pandan-
gan terang, kekuatan
untuk menciptakan tu-
buh yang dibentuk oleh
pikiran, dan 6 pengeta-
huan langsung (abhiñña).
Jadi ketenagan dan pandangan
terang (Renungan) adalah bagian
dari pengetahuan tertinggi
tersebut.
Sebelum membahas lebih lanjut, perlu pemahaman mengenai apa
itu ‘ketenangan’ dan ‘pandangan terang’. Ketenangan adalah suatu
bentuk konsentrasi atau pengontrolan pikiran yang akan memuncak
dalam konsentrasi yang begitu tinggi, tenang dan damai (jhana).
Sedangkan pandangan terang atau renungan adalah pengetahuan
yang memahami bentukan-bentukan sebagai tidak kekal (anicca),
tidak memuaskan sehingga membawa penderitaan (dukkha) dan
tanpa-diri (anatta).
Terjemahan Tripitaka Cina dari Sanskerta terhadap kata ‘vipassana’
adalah ‘renungan/penyelidikan’. Beberapa biku Therawada saat ini
menganggap terjemahan ‘vipassana’ sebagai ‘renungan’ bermakna
lebih tepat daripada pandangan terang/penembusan (insight). Hal

25 BVD • JUNI 2009


ULASANSUTTA
oleh : Willy Yandi Wijaya
tersebut diperkuat oleh Anggutara
Nikaya 5.26 yang menyatakan
“faktor vipassana-nya adalah
mendengarkan Dhamma, dan juga
mencakup antara lain mengajar,
mengulang, merefleksikan kembali
Dhamma tersebut”.
Dalam sutta tersebut, Buddha
dengan jelas mengatakan bahwa
ketenangan dan pandangan
terang/renungan sama-sama
diperlukan untuk melengkapi Jalan Mulia Berunsur Delapan. Jadi
TIDAK BENAR jika hanya dengan melaksanakan meditasi vipassana,
akan membawa pada pencerahan. Lebih tepat dikatakan bahwa
dengan mengembangkan vipassana, yaitu renungan-renungan
mengenai anicca, dukkha dan anatta akan membawa seseorang
kepada kebijaksanaan (Pandangan Benar) dengan padamnya
kebodohan, serta dengan melatih ketenangan batin (samatha)
atau pengembangan kesadaran akan membuat seseorang dapat
mengontrol nafsu-nafsu keinginan (keserakahan) untuk mencapai
pembebasan pikiran. Jadi jelas dengan pelatihan ketenangan dan
pandangan terang/renungan seseorang dapat menghancurkan
keserakahan dan kebodohan [batin]. Namun, hal tersebut
belumlah cukup untuk membawa seseorang mencapai pencerahan.
Kebencian atau penolakan belumlah dilenyapkan. Dengan
pengembangan welas asih dan cinta kasihlah kebencian dapat
dilenyapkan. Ketika keserakahan, kebodohan dan kebencian lenyap
sepenuhnya itulah yang dinamakan nirwana atau pencerahan dan
menjadi Buddha. Jadi ketenangan dan pandangan terang/renungan
yang disebutkan dalam sutta tersebut adalah bagian dari Kelompok
Konsentrasi (Samadhi) dalam Jalan Mulia Berunsur Delapan yang
perlu dikembangkan.

26 BVD • jUNI 2009


RENUNGAN
oleh : Willy Yandi Wijaya

Berpikir Menyelidik = Renungan =


Meditasi = Kesadaran

B
erbicara mengenai kesadaran dalam agama Buddha, biasanya
selalu dikaitkan dengan meditasi. Pun, meditasi diasosiasikan
dengan duduk bersila dengan mata tertutup dan menarik
nafas. Ya, memang hal tersebut tidak salah namun cara berpikir
yang salah bisa membuat umat Buddha salah dalam memahami
arti pentingnya kesadaran.
Secara mudah, kesadaran adalah suatu kondisi yang mengetahui
mengenai diri sendiri, termasuk tindakan, cara berpikir dan wujud
diri. Kesadaran memegang peranan yang fundamental bagi
manusia karena kesadaran manusia
lebih tinggi dibanding hewan.
Manusia secara sadar mengetahui
apa yang sedanga dilakukan dan
dapat mempertimbangkan akibat-
akibat yang akan timbul. Bahkan
kesadaran yang membuat manusia
tahu apa yang sebelumnya telah ia
perbuat.
Sang Buddha adalah seorang guru
yang sangat sadar yang menyadari
bahwa kesadaran diperlukan dan harus dilatih oleh setiap manusia
karena tanpa kesadaran yang tinggi, keseimbangan hidup maupun
kebahagian dan kedamaian akan sulit dicapai. Tanpa kesadaran yang
tinggi, kewaspadaan juga menjadi rendah sehingga bisa berakibat
penderitaan. Contohnya terkadang kita melakukan sesuatu tanpa
kesadaran akibat-akibat yang mungkin terjadi, sehingga ketika
akibat buruk terjadi, kita menjadi menderita. Bahkan terkadang
dapat mengakibatkan kematian. Kesadaran dan kewaspadaan
ketika berkendaran sangat diperlukan karena tanpa kesadaran akan
membuat banyak penderitaan, termasuk dampaknya bagi orang

27 BVD • JUNI 2009


RENUNGAN
oleh : Willy Yandi Wijaya
lain.
Lalu bagaimana melatih kesadaran kita?? Dengan berpikir menyelidik
kita dapat melatih kesadaran kita. Selalu berpikir dan berpikir di mana
pun kita berada! Kita harus berpikir apa akibat jika kita melakukan
perbuatan ini. Kita juga harus berpikir apa akibat jika kita berbuat
itu. Sebelum melakukan sesuat, BERPIKIRLAH‼ Pertimbangkan
akibat yang mungkin terjadi pada orang lain maupun diri sendiri,
keluarga dan teman. Dengan hati, pikirkan bahwa tindakan kita
dapat menyakiti orang lain.
Kesadaran juga dapat dilatih
dengan merenung. Sebenarnya
renungan sangat amat dianjurkan
oleh Buddha sendiri. Sati lebih tepat
diartikan sebagai ‘Perenungan’.
Dengan merenung setiap
tindakan dan akibat-akibatnya,
kita akan menjadi lebih waspada
dan sadar dalam setiap tindakan
yang dilakukan. Merenung sama
dengan berpikir menyelidiki suatu
hal.
Renungan yang secara formal
dilakukan dengan duduk, berdiri amupun berbaring dikatakan
sebagai meditasi. Meditasi sebenarnya merenung itu sendiri. Dalam
Buddhis meditasi atau renungan diarahkan pada penyelidikan
mengenai sifat-sifat dunia ini, yaitu selalu berubah, bahwa manusia
menderita karena selalu ingin, ingin dan ingin, serta bahwa
keegoisan yang telah mengondisikan manusia menjadi benci
maupun serakah.
Jadi marilah kita kembangkan kesadaran kita melalui renungan,
meditasi maupun berpikir menyelidik. Di mana dan kapan pun
dapat kita lakukan. Mungkin ketika di dalam kendaraan, di ruang
tunggu, maupun sesaat sebelum tidur. Pikir dan renunglah berdasar
28 BVD • jUNI 2009
ARTIKEL DHARMA
Ditulis kembali Oleh : Redaksi

Wanita - Wanita dalam


Sumber : Ceramah Dharma oleh Prof. Dr. Karma Lekse Tsomo

Buddhis
A
gama Buddha awalnya dim-
ulai dari seorang wanita,
yaitu Ratu Maha Maya, yang
telah melahirkan Pangeran Sid-
harta yang nantinya akan menjadi
Buddha. Tidak lama setelah mela-
hirkan Pangeran Sidharta, Ratu
Maha Maya pun meninggal. Maka
tokoh wanita kedua dalam agama
Buddha adalah Maha Pajapati, adik
dari Ratu Maha Maya yang kemu-
dian menjadi ibu tiri Pangeran Sid-
harta. Maha Pajapati lah yang mer-
awat dan membesarkan Pangeran
Sidharta seperti anaknya sendiri.
Nantinya dia akan menjadi wanita
pertama yang ditahbiskan Sang Buddha menjadi seorang bhikk-
huni, dan kemudian dia akan menjadi pemimpin Bhikhunni Sangha
yang pertama.
Tokoh wanita Buddhis penting yang ketiga adalah Sujatta,
wanita yang memberikan dana kepada Pangeran Sidharta ketika
beliau sedang menyiksa diri di hutan Uruwella. Berkat makanan yang
diberikan oleh Sujatta itulah akhirnya Pengeran Sidharta menyadari
kalau cara praktek meditasinya salah, bahwa menyiksa diri sampai
meninggal tidak akan memberikan manfaat apapun. Setelah itu,
Pangeran Sidharta menerima dana makanan dari Sujatta setiap hari
sampai tubuhnya sehat kembali. Dengan demikian, Sujatta adalah
orang pertama yang berlindung kepada Buddha. Jadi, umat Buddha
yang pertama kali ternyata adalah wanita.

29 BVD • JUNI 2009


ARTIKELDHARMA
Selain mereka bertiga, masih banyak wanita-wanita yang
berkontribusi besar dalam Buddhis pada masa Sang Buddha
walaupun Sangha Bhikhunni sendiri baru terbentuk 6 atau 7 tahun
setelah Sangha terbentuk. Banyak dari para wanita tersebut yang
telah mencapai tingkatan tertentu, seperti memiliki kekuatan
supranatural, memilikikemampuan meditasi yang hebat, bahkan
banyak diantara mereka yang juga sudah mencapai Arahat.
Terk adang
timbul pertanyaan dan
persepsi yang salah
mengenai Vinaya khusus
untuk Bhikkhuni. Para
Bhikkhuni mendapatkan
Vinaya yang lebih banyak
dan lebih ketat daripada
para Bhikkhu. Bahkan
dalam salah satu vinaya
disebutkan bahwa
betapapun seniornya
seorang bhikkhuni, dia
tetap harus memberi hormat kepada seorang bhikkhu yang bahkan
baru saja ditahbiskan pada hari itu juga. Hal ini menimbulkan
kesan bahwa kaum wanita dinomorduakan oleh Buddhis, padahal
hal tersebut salah. Vinaya dibuat ketat untuk para bhikkhuni agar
mereka terlindungi dari para bhikkhu, sehingga baik bhikkhu
maupun bhikkhuni dapat berlatih bersama. Hal ini dilakukan karena
Sang Buddha mengapresiasi kemampuan bhikkhuni sama seperti
kemampuan para bhikkhu. “Wanita dan pria memiliki kesempatan
yang sama untuk mencapai pembebasan,” begitulah sabda Sang
Buddha. Sedangkan untuk masalah vinaya bhikkhuni yang harus
menghormat pada bhikkhu tersebut, ternyata hal tersebut bukanlah
kemauan Sang Buddha. Para ahli menemukan bahwa tulisan
tersebut baru ditambahkan beberapa waktu setelah Sang Buddha
parinibbana.
Dengan kata lain, sebenarnya jenis kelamin tidak penting

30 BVD • jUNI 2009


ARTIKEL DHARMA
dalah Buddhis. Hal yang paling penting adalah pikiran, bagaimana
caranya kita bisa memurnikan pikiran. Jika berbicara soal pikiran,
maka tidak ada lagi yang namanya perbedaan jenis kelamin, hanya
bagaimana caranya memurnikan pikiran tersebut. Bahkan jikalau
kita pada kehidupan ini memiliki jenis kelamin pria, bisa jadi pada
kehidupan kita sebelumnya, kita berjenis kelamin wanita. Jadi,
perbedaan jenis kelamin itu bukan masalah.
Sayangnya, penyebaran para bhikkhuni tidak bisa seluas
penyebaran bhikkhu. Hal ini disebabkan karena di beberapa daerah
di belahan dunia ini masih menganut paham bahwa kedudukan
wanita berada di bawah pria, seperti misalnya di Thailand, Nepal,
Bangladesh, Laos, dan lain-lain. Di negara-negara tersebut tidak ada
seorang pun bhikkhuni karena tidak diakui. Para wanita yang ingin
mengabdi pada Buddha Dharma pun tidak bisa menjadi bhikkhuni,
tetapi hanya sebatas tinggal di vihara dan menjadi pelayan di sana.
Bahkan mereka pun tidak diizinkan memakai jubah coklat, tetapi
hanya jubah putih seperti uppasaka dan uppasika pada umumnya.
Kebanyakan dari mereka tidak mendapatkan pendidikan yang layak
sehingga banyak diantaranya yang bahkan membaca pun tidak
bisa. Hal ini sungguh sangat memprihatinkan.
Begitulah keadaannya di
tahun 1977, inilah yang menjadi
dasar terbentuknya konferensi
internasional untuk membahas
masalah para wanita Buddhis
tersebut. Pertemuan ini diawali
hanya dengan ramah tamah
beberapa negara secara biasa.
Tetapi kemudian Dalai Lama
dan 1500 delegasi dari berbagai
Negara di belahan dunia datang,
sehingga akhirnya pertemuan ini
menjadi konferensi resmi untuk
membicarakan bagaimana caranya
mengangkat derajat para wanita

31 BVD • JUNI 2009


ARTIKEL DHARMA
dalam Buddhis.
Kita sebagai orang yang lahir dan tinggal di Indonesia, sudah
sepatutnya bersyukur dengan berlimpahnya harta yang tidak kita
sadari sebelumnya. Orang-orang di Amerika, tidak memiliki vihara-
vihara besar seperti yang kita miliki di Indonesia. Mereka biasanya
melaksanakan praktek meditasi dan sebagainya di dalam apartemen
sempit yang harus disewa. Buku-buku tentang Dhamma pun tidak
banyak beredar di sana, sedangkan kita di sini, ada begitu banyak
buku Dhamma tetapi kita tidak pernah membacanya. Para wanita
di Negara-negara seperti yang disebutkan diatas tidak memiliki
kemampuan untuk membaca, tetapi kita mampu. Tempat sudah
memadai, sumber-sumber banyak berserakan, dan kemampuan
kita pun sangat mendukung, tetapi kita tidak pernah menyadarinya,
dan akhirnya malah menyia-nyiakan karunia yang kita miliki. Kita
memiliki kesempatan besar untuk belajar Dhamma dan kenyataan
tersebut harus dipergunakan sebaik mungkin. Karena itu, sejak
sekarang, mulailah untuk memanfaatkan kesempatan yang kita
miliki tersebut dengan sebaik mungkin.

32 BVD • JUNI 2009


Oleh Redaksi WAWANCARA

P
ada kesempatan kali ini, redaksi menda-
patkan kesempatan langka untuk me-
wawancarai salah satu bhikkhuni yang
terkenal di seluruh dunia, yaitu Prof. Dr. Karma
Lekshe Tsomo. Beliau adalah perintis dari per-
kumpulan wanita internasional, Sakyadhita.
Beliau yang merupakan orang Amerika, telah
merintis jalan yang tidak mudah demi menjadi
seorang bhikkhuni. Berikut adalah hasil wawan-
cara kami dengan beliau.

T : Sudah berapa lama Anda menjadi bhikkhuni?

J : Saya menjadi bhikkhuni sudah sejak tahun 1977, jadi sudah


sekitar 32 tahun.

T : Kenapa Anda mau menjadi bhikkhuni?

J : Saya sangat menyukai Buddhisme. Sudah sejak kecil saya


menyukainya. Saya ingin menjadi bhikkhuni pada umur 19 tahun,
tapi saya tidak menemukan satu pun vihara di Amerika. Jadi,
aku melihat-lihat di sekitar Asia. Baru ketika berumur sekitar 32
tahun, saya menemukan tempat di mana saya bisa mempelajari
dan mempraktekkan Buddhis. Semakin banyak saya belajar
dan mempraktekkan Buddhis, semakin saya menyukai Buddhis,
semakin kuat keinginan saya untuk menjadi bhikkhuni.

T : Ke mana saja Anda pergi mencari tempat untuk mempelajari


agama Buddha? India?

J : Tempat pertama yang saya datangi adalah Jepang. Saya pergi


ke Jepang pada 1974, tapi saya tidak menemukan guru yang bisa
menahbiskan saya. Jadi saya kembali berkelana, pergi ke berbagai
tempat di berbagai Negara, termasuk India juga tentunya, untuk
mencari seorang guru yang bisa menahbiskan saya menjadi
seorang bhikkhuni.

T : Kenapa Anda begitu inginnya menjadi seorang bhikkhuni?

33 BVD • JUNI 2009


WAWANCARA
J : Saya ingin menjadi seorang bhikkhuni karena saya ingin
memusatkan seluruh energi saya untuk memperdalam Buddhis.
Saya ingin menghabiskan seluruh waktu saya untuk Dharma.
Itulah yang memotivasi saya untuk menjadi bhikkhuni. Karena
saya seorang wanita, maka saya hanya bisa ditahbiskan menjadi
bhikkhuni yang dilakukan oleh seorang bhikkhuni juga. Tapi
saya tidak menemukan satupun vihara untuk bhikkhuni. Jadi
membutuhkan waktu yang cukup lama sampai saya akhirnya
menjadi seorang bhikkhuni.

T : Di Indonesia, kebanyakan orang yang ingin menjadi bhikkhu


atau bhikkhuni akan menghadapi masalah, terutama masalah
dengan keluarga. Apakah Anda juga mengalaminya?

J : Tentu saja. Di Amerika, Buddhis adalah sesuatu yang masih baru.


Tidak ada support sedikit pun untuk para bhikkhuni di Amerika.
Kemudian saya pergi ke India untuk belajar, tetapi sekali lagi,
India adalah negeri yang miskin. Guru saya adalah orang Tibet
dan mereka juga sangat miskin. Jadi saya tidak memiliki support
sama sekali. Tapi di beberapa Negara seperti Korea, Taiwan,
Vietnam situasinya bagus. Para bhikkhu dan bhikkhuni benar-
benar didukung oleh masyarakat sekitar. Tetapi tidak halnya
dengan Amerika dan India.

T : Bagaimana cara penanggulangan masalah ini?

J : Yaa… saya hanya tetap berlatih. Makan lebih sedikit (karena


India miskin). Hehehe. Tidak ada pilihan lain. Tetapi karena India
begitu miskinnya, latihan di sana sangat berat. Tinggal di gunung
yang terkadang sulit sekali mendapatkan air bersih, pada musim
dingin suhunya sangat dingin, pada musim panas panasnya
keterlaluan, pada musim hujan setiap hari akan turun hujan.
Benar-benar kehidupan yang sangat berat. Jadi, harus kuat dan
tabah menghadapinya serta terus berlatih.

T : Kami dengar Anda adalah pendiri dari Sakyadhita?

J : Benar. Kami pertama kali mengadakan pertemuan adalah pada


tahun 1987 karena kami menyadari bahwa wanita-wanita Buddhis
di berbagai Negara memiliki kesulitan yang sama yaitu kenyataan
bahwa bhikkhu begitu didukung penuh sementara bhikkhuni

34 BVD • JUNI 2009


Oleh Redaksi WAWANCARA

tidak mendapatkan dukungan sama sekali. Banyak bhikkhuni yang


tidak mendapatkan pendidikan, sama sekali tidak bisa membaca.
Jadi kami berpikir kami perlu berkumpul membicarakan hal
tersebut bersama-sama, dengan membuat pesta minum teh,
yang kemudian malah menjadi konferensi besar ketika Dalai
Lama dan 1500 orang lainnya datang ke upacara pembukaan.
Selama satu minggu kami berdiskusi, membicarakan masalah
ini, memikirkan apa yang bisa kami lakukan. Pada akhirnya, kami
membuat perkumpulan pertama bagi para wanita Buddhis di
seluruh dunia, Sakyadhita. Tujuan lain dari perkumpulan ini adalah
untuk menyatukan seluruh wanita Buddhis dari seluruh dunia,
yang berbeda suku, bahasa, latar belakang, dan lain-lain, untuk
bekerja demi satu tujuan, memperbaiki kondisi wanita Buddhis.
Setiap 2 tahun kami mengadakan pertemuan. Dan dari tahun ke
tahun, situasi semakin membaik bagi para wanita Buddhis.

T : Lalu, apa saja yang dilakukan Sakyadhita?

J : Kami memiliki anggota dari berbagai Negara di seluruh dunia.


Setiap Negara memiliki proyeknya masing-masing yang berbeda
satu sama lain. Misalnya peningkatan kesejahteraan, pelindung
wanita, dan lain-lain. Proyek saya sendiri adalah dalam bidang
pendidikan. Tugas saya adalah menyediakan pendidikan bagi
para wanita Buddhis, terutama di Negara berkembang dan
Negara terbelakang. Hal ini sudah berkembang di 15 tempat, 3 di
antaranya sudah bisa mandiri. Jadi saya cukup optimis.

T : Bagaimana pendapat Anda tentang Buddhis di Negara barat


seperti Amerika dan Eropa?

J : Banyak orang di Negara Barat tertarik dengan Buddhis. Di


Amerika, kami mempunya banyak macam Buddhis. Ada Buddhis
yang berasal dari Negara-negara di Asia dan mereka memiliki
viharanya sendiri, seperti vihara Thailand, vihara Kamboja, vihara
Korea, vihara Taiwan, dan sebagainya. Cara kebaktian mereka
pun berbeda-beda sesuai dengan daerahnya masing-masing.
Selain itu, ada juga Buddhis Amerika. Mereka mempraktekkan
Buddhis, mempelajari Buddhis, tetapi tidak begitu suka chanting.
Mereka memusatkan pembelajaran pada meditasi dan juga
dalam kegiatan-kegiatan sosial.

35 BVD • JUNI 2009


WAWANCARA
T : Bagaimana pandangan Anda tentang Buddhis di Indonesia?

J : Saya sangat tertarik dan terkagum dengan Buddhis di Indonesia.


Kalian memiliki sejarah Buddhis yang cukup panjang. Saya tahu
ada banyak peninggalan Buddhis di Indonesia, seperti Candi
Borobudur. Kalian sudah memiliki perkumpulan sendiri, sekolah-
sekolah, vihara-vihara yang sangat bagus seperti vihara ini. Saya
cukup kagum karena ternyata situasi kalian di sini jauh lebih
baik dibandingkan di Amerika. Kami di Amerika tidak memiliki
hal seperti itu. Kami menggunakan apartemen satu kamar untuk
berlatih meditasi dan belajar Dharma, dan terkadang kami
kesulitan membayar sewanya, tidak ada uang untuk membayar
guru, dan lain-lain. Saya tahu kalian juga kesulitan mencari
guru di sini, tapi kesulitan itu juga ada di setiap Negara. Kalian
sudah cukup beruntung di sini. Dan saya pikir Indonesia tetap
membutuhkan bhikkhuni ebih banyak, mereka bisa membantu
banyak dalam perkembangan Buddhis di Indonesia.

T : Menurut Anda, apa itu kesadaran (mindfulness)?

J : Kesadaran (mindfulness) adalah untuk menaruh perhatian


pada setiap hal yang kita lakukan, ucapan, perbuatan, dan
pikiran. Berlatih kesadaran sangatlah penting karena ketika kita
bermeditasi duduk, dan setelah kita melakukannya kita akan
kembali ke aktivitas kita sehari-hari. Dengan tetap menyadari dan
menaruh perhatian pada hal yang kita lakukan sehari-hari inilah
cara untuk mempraktekkan meditasi pada kehidupan sehari-
hari. Hal ini bisa dilakukan semua orang, tidak peduli apapun
agamanya. Hal ini dapat membuat kita menjadi seseorang yang
lebih baik.

T : Kami pernah dengar bahwa kita dapat bermeditasi di semua


tempat, semua waktu. Bagaimana menurut Anda?

J : Itu tergantung dari bagaimana kamu mendefinisikan meditasi.


Jika kamu mendefinisikan meditasi seperti meditasi duduk,
memusatkan pikiran pada satu hal, maka untuk melakukannya
di tempat lain, misalnya pada saat mengendarai mobil, tentu
akan sulit. Meditasi sendiri ada banyak macamnya. Tidak ada
definisi yang universal untuk meditasi. Jika dianalogikan ada
berbagai macam sebutan untuk ‘salju’ bagi orang Eskimo, seperti

36 BVD • JUNI 2009


Oleh Redaksi WAWANCARA
itulah meditasi dalam Buddhis. Ada latihan Samantha Bhavana,
Vipassana Bhavana, latiahn visualisasi. Semua itu adalah meditasi.
Bahkan terkadang membaca suatu teks pun bisa berarti meditasi,
seperti bhanting misalnya.

T : Anda bilang bahwa ada banyak cara mempraktekkan meditasi.


Lalu, praktek meditasi apakah yang terbaik?

J : Itu, sekali lagi, tergantung masing-masing orang. Setiap orang


bisa mempunyai cara bermeditasi terbaik bai dirinya sendiri,
yang berbeda dengan orang lain. Bagi sebagian orang, mungkin
Samantha adalah cara yang paling cocok, tetapi bagi orang lain
mungkin vipassana lah yang lebih cocok, ada pula orang yang
lebih menyukai latihan visualisasi. Bisa juga kita mengombinasikan
beberapa cara meditasi, jika kita merasa nyaman dengannya.
Itulah indahnya Buddhisme, kita memiliki banyak variasi.

T : Anda mengatakan bahwa orang Amerika tidak menyukai


chanting. Mengapa?

J : Itu karena mereka tidak mengerti bahasanya. Mereka tidak


mengerti Chinesse atau bahasa Tibet. Juga karena mereka tidak
mengerti makna dari chanting itu sendiri karena mereka tidak
mengerti bahasanya. Jadi bagi orang Amerika, chanting terdengar
seperti nyanyian bahasa aneh tanpa arti. Tapi bagi mereka yang
mengerti bahasanya, seperti bahasa Pali dan sebagainya, maka
makna dari chanting sendiri akan terasa dalam sekali.

T : Apa kendala terbesar Anda dalam mempraktekkan Dharma?

J : Ada banyak sekali hambatan. Pada tahun 1950an, di Amerika


tidak ada buku-buku tentang Dharma, tidak ada vihara, tidak
ada guru yang bisa mengajarkan. Aku pergi ke perpustakaan
pada sekitar tahun 1956 dan di seluruh perpustakaan hanya ada
2 buku tentang agama Buddha. Aku membaca salah satunya
dan merasa, ‘ini dia’. Aku merasa inilah jalanku. Tapi apa yang
bisa aku lakukan? Tidak ada guru, tidak ada buku-buku lain.
Akhirnya aku bolos sekolah dan pergi ke Jepang selama dua
minggu. Aku mencari guru ke mana-mana, tapi aku tidak dapat
menemukannya. Lalu aku pergi ke Thailand, Nepal, India, Srilanka,
tapi tetap tidak dapat menemukan guru. Kemudian setelah aku

37 BVD • JUNI 2009


WAWANCARA
menjadi bhikkhuni, aku pergi ke India, dan di sana keadaannya
sangat mengkhawatirkan, tidak hanya karena kemiskinannya, tapi
juga karena adanya perbedaan gender yang sangat kentara sekali.
Untuk seorang bhikkhu, semuanya tersedia dengan baik dan gratis,
tapi untuk para bhikkhuni tidak satu pun.

T : Jadi Anda mengenal Buddhis dari sebuah buku. Apa yang membuat
Anda tertarik untuk membacanya?

J : Itu karena nama belakang saya adalah Zenn. Karena nama inilah
anak-anak di kelas sering mengejek saya. “oh, apa aku seorang
Buddhis Zen atau apa?”. Karena inilah saya jadi penasaran dengan
Buddhis, dan kemudian saya mencari informasi tentang Buddhis ke
perpustakaan.

T : Jadi tidak ada seorang pun dalam keluarga Anda yang Buddhis?

J : Tidak. Ibu saya adalah seorang Kristen yang sangat taat dan ayah
saya beragama Kapitalis. Agamanya adalah uang. Kami termasuk
keluarga yang cukup mampu, tapi mereka berdua kelihatannya tidak
bahagia. Karena itulah saya memutuskan untuk menjadi seorang
bhikkhuni, tetapi saya terpaksa melakukannya dengan apa yang
saya punya sendiri, tanpa dukungan dari orang tua. Tidak satupun
dari orang tua saya yang mendukung keinginan saya untuk menjadi
seorang bhikkhuni.

T : Pertanyaan terkahir. Apakah ada nasihat yang bisa Anda berikan


untuk kami, para warga Bandung?

J : Saya berharap para warga Bandung menyadari betapa berharganya


hadiah yang telah mereka peroleh, dengan budaya Buddhis kuno
dan kesempatan yang sangat besar untuk mempelajari Buddhis.
Serta tanggung jawab mereka yang besar untuk mengembangkan
Buddhis di Indonesia.

T : Baiklah, kami kira cukup sekian. Terima kasih untuk kesempatan


dan waktunya.

38 BVD • JUNI 2009


Oleh IPMKBI Jabar LIPUTAN

Rapat Kerja Sekber PMVBI Jabar

S
abtu (23/05/09), bertempat di Vihara Bodhicitta Gadog-Pacet,
Sekber PMVBI (Pemuda Buddhayana) Jabar mengadakan
pelantikan pengurus-pengurus yang sudah disusun
sebelumnya. Persaudaraan Muda-mudi Vihara (PMV) yang tergabung
dalam pemuda Buddhayana Jawa Barat ini tersebar di berbagai
penjuru di Jawa Barat dan terbagi menjadi 3 wilayah. Wilayah 1
meliputi Bandung, Cirebon, dan sekitarnya; wilayah 2 meliputi
Cianjur, Pacet, Sukabumi, Bogor, dan sekitarnya; dan wilayah 3
meliputi Purwakarta, Rengasdengklok, Karawang, dan sekitarnya. 

Acara hari pertama diisi dengan


perkenalan antar sesama pengurus
secara keseluruhan dan juga
perkenalan yang lebih khusus
pada masing-masing biro/ wadah
fungsional. Perkenalan dilakukan
dengan permainan, dimana setiap
peserta memiliki 44 kertas berbentuk
hati yang sebelumnya telah ditulis nama panggilannya masing-
masing. Kemudian kertas berbentuk hati tersebut ditukarkan
kepada teman-teman lainnya sambil tersenyum dan berjabat
tangan. Jumlah kertas tersebut melambangkan jumlah peserta
yang hadir disana, dan menurut Sdri.Ivana kertas tersebut sengaja
dibuat berbentuk hati dengan sepenuh hati oleh Sdri.Ivana dan
adiknya Iwena (terima kasih yah atas persembahan cintanya :) -red) 

Acara perkenalan yang lebih mendalam selanjutnya dilakukan


pada masing-masing biro/ wadah fungsional; Forum Komunikasi
Dharmaduta Muda Buddhis Indonesia (FKDMBI), Ikatan Pengelola
Media Komunikasi Buddhis Indonesia (IPMKBI), Ikatan Pembina
Gelanggang Anak-anak Buddhis Indonesia (IPGABI) dan Biro Sumber
Daya Manusia (SDM). Pada acara perkenalan malam itu, yang tampak
menonjol adalah FKDMBI. Hal itu disebabkan teman-teman FKDMBI

39 BVD • JUNI 2009


LIPUTAN
yang bisa hadir hanya sejumlah 4 orang, tetapi mereka yang paling
ramai dan heboh (biar sedikit tetap solid dan semangat yah-red). 
Selain acara perkenalan dan permainan, ada sesi tambahan dari Sdr.
Robet yang memberikan inspirasi dan motivasi bagi semua teman-
teman. Renungan inspiratif ini dikemas sangat menarik dalam
bentuk tayangan video, musik, dan cerita sehingga teman-teman
sangat antusias dalam mengikuti sesi ini, walaupun sudah larut
malam. Pesan yang terkandung dalam renungan ini adalah bahwa
umur tidak menjadi masalah dalam memberikan kontribusi bagi
orang lain. Jangan berpikir kita tidak bisa, karena kita terlalu ‘muda’
atau terlalu ‘tua’ untuk berkarya dalam Sekber! What a power of
word! Hari itu pun berakhir saat teman-teman makan jagung rebus
bersama-sama dan juga tentunya ada acara foto-foto dan tidur.

Hari kedua (24/05/09) dimulai dengan rutinitas bersih diri dan


makan pagi bersama, kemudian kebaktian bersama dan sharing
dari Ivana, Rahka dan Sunarti (a.k.a Neneng) tentang retret
berkesadaran yang baru saja mereka ikuti pada 7-10 Mei 2009. Acara
puncak pun dimulai, Pelantikan pengurus yang dihadiri + 40 orang
dengan Ketua Sekber Jabar (Ivana MK), Wakil Ketua Wilayah I (Robet
Safei), Wakil Ketua II (Haryanto Setiawan), Biro Kesekretariatan dan
keuangan (Neneng dan Amelia), DPD FKDMBI (I putu Gede Ardi),
DPD IPMKBI (Susan Wijayanti), DPD IPGABI (Yenni), Kepala Biro
SDM (Metta). Pada hari itu Sdr. Metta tidak hanya dilantik sebagai
pengurus, melainkan merangkap sebagai MC (emang serba bisa
yah. TOP deh -red). Pelantikan kali ini juga dihadiri oleh perwakilan
Sangha Agung Indonesia (Bhante Badra Joti), Ketua MBI Dati.I Jabar
(Bpk.Ang Tiong Hien), Ketua MBI Dati II kab cianjur (Ibu Suntari),
Ketua MBI Dati III Kec. Pacet (Bpk.Nardi), Wakil Sekjen (Sdr.Suryanto)
serta pihak-pihak lain yang tidak
dapat disebutkan satu-persatu. 

Selesai pelantikan tidak ketinggalan


acara yang cukup ditunggu yaitu
foto-foto. Sehabis foto-foto, teman-
teman pun makan siang, packing
barang-barang dan pulang ke kota
masing-masing.
40 BVD • JUNI 2009
Oleh Redaksi BERITA

Pada Hari Senin, 8 Juni 2009 telah diadakan


upacara pemberkahan di Dharmasala Vihara
Vimala Dharma antara Sdr. Sonny Budiman,
S.T. dengan Sdri. Fanny Evania, S.T.

Akan diselenggarakan Retreat


Samatha dan Vipassana oleh
Sayalay Dipankara.

dengan jadwal sebagai berikut : 


Tanggal               : 10 - 15 Sept 2009
Tempat                : Kintamani, Bali 
Pendaftaran           : arisstefanlie@gmail.com

==============================================

Tanggal              : 16 - 26 Sept 2009


Tempat               : Kayagata-sati Meditation Centre, Cibodas
Pendaftaran          : daftarhadaya@gmail.com
subject format       : daftar retreat sayalay dipankara (nama
pendaftar) 
Contact Person       : tanu (081320055000) , lily
(081809708682/ 02170565386)

Biodata Sayalay Dipankara :


Sayalay Dipankara dilahirkan pada tahun  1964  di  Myanmar. Saat
usia masih sangat muda, beliau sudah melatih meditasi tanpa
bimbingan dari luar. Ketika dewasa, beliau mulai melatih meditasi
dengan bimbingan dari beberapa Guru Besar meditasi.  

41 BVD • JUNI 2009


BERITA
Ketika kuliah, beliau diperkenalkan oleh seorang profesornya, yang
juga merupakan Guru Besar Abhidhamma yang terkenal di Myanmar,
kepada Y.M. Pha-Auk Sayadaw untuk mendapat bimbingan langsung
Meditasi Samatha dan Vipassana. Beliau berhasil mencapai kemajuan
batin dalam waktu yang  sangat singkat dibawah bimbingan dari
gurunya yang sangat baik kemampuannya tersebut.

Tahun 1990 dia ditahbiskan sebagai seorang Sayalay di Vihara Pha-Auk


Tawya. Sejak itu, beliau dilatih untuk menjadi guru meditasi. Sayalay
Dipankara mempunyai pengalaman dalam mengajarkan setiap dari
40 Kamatthana seperti yang tertulis di kitab Visuddhi Magga seperti
Anapanasati, Empat Unsur Meditasi, Metta, Buddhanussati, Asubha,
Marananussati dan 8 Samapatti ( Jhana 1 sampai Jhana 8 ), Kasina,
dll dan Meditasi Vipassana.

Tahun 1996, beliau diundang ke Sri Lanka oleh yang sangat terhormat


Yang Mulia Mahathera Ariya Dhamma untuk mendampingi gurunya,
Y.M. Pha-Auk Sayadaw untuk membimbing para Yogi. Sejak itu, beliau
sering diundang oleh berbagai Pusat Buddhist terkenal lainnya di
berbagai negara untuk mengajar meditasi dan membimbing Retreat
Meditasi yang intensif selama 2 bulan. Negara-negara tersebut
seperti Amerika ( Insight Meditation Center), Canada, Taiwan ( Hong
Shih Foundation ), Inggris ( Amaravati dan Citta Vevekha ), Jepang,
Malaysia, Singapore, Australia, New Zealand dan lainnya.

Selama tinggal  di Inggris,  Oxford University  dan  Manchester


University mengundang beliau untuk diskusi Mind Training. Beliau
juga diundang untuk The Western Conference mengenai Jhana di
Jubilados Foundation/Leigh Brasington, Santa Fe, New Mexico pada
tahun 2001.

Sejak akhir tahun 2005, beliau mulai membimbing retreat di Brahma


Vihari Meditation Centre, Maymyo, Myanmar yang telah berhasil
dirikannya dan merupakan cabang dari Pha-Auk Tawya Meditation

42 BVD • JUNI 2009


Oleh : Emilya Kirei Cerita Bersambung
Hati Mey
Hari ini begitu cerah, di rumah salah satu muridku, dia minta
langit tampak matahari bersinar tambahan belajar.”
terang, tidak ada tanda-tanda “Oh..gak apa apa. Oh ya,
akan turun hujan. Mey berjalan Mey, boleh aku minta nomor telepon
dengan semangat menuju toko kamu?” tanya Dewo.
buku didekat rumahnya. Hari ini dia “Boleh, nomornya
berniat membeli novel yang sudah 0812116****.”
lama diincarnya, novel karya Amelia, ”Terima kasih, Mey” kata Dewo
penulis muda berbakat. Dengan setelah menyimpan nomor HP Mey.
wajah sumringah Mey berjalan ke “Sampai ketemu lagi yah,” tambahnya
arah kasir. ceria.
“Hei Mey,”tiba-tiba terdengar ”Ok,” balas Mey.
suara memanggil namanya. ‘Dewo…Cowo itu sekarang
Mey memandang cowok lebih suka bicara dibandingkan dulu.
yang barusan memanggil namanya Seingatnya dulu Dewo orangnya
dengan bingung. pendiam. Tapi sekarang berbeda.
“Ini aku Mey, Dewo, masak Mungkin karena pekerjaannya juga,’
kamu lupa sih? Dulu aku kan suka pikir Mey dalam perjalanan menuju
maen ke rumah kamu, suka minjem rumah muridnya.
PR fisika dan matematika.” Malamnya Mey mulai
‘Hmm, bukannya Dewo dulu membaca halaman pertama dari novel
rambutnya gondrong kok sekarang yang tadi siang dibelinya. Sedang
pendek , tapi jadinya lebih cakep asyik-asyiknya menikmati bacaannya,
sih,’ batin Mey. tiba-tiba HP nya bordering.
“Oh, Dewo, apa kabar, Wo? ”Halo?”sapa Mey ramah.
Sekarang kerja dimana?” tanya Mey ”Halo juga, Mey. Ini aku, Dewo,
setelah berhasil mengenali sedikit yang tadi siang ketemu di toko buku,”
kemiripan Dewo sekarang dengan kata suara di seberang sana.
yang dulu. ”Oh, Dewo. Apa kabar, Wo?”
”Aku sekarang usaha sendiri tanya Mey.
Mey, usaha sablon kecil-kecilan tapi ”Kabar baik, Mey. Eh, aku
lumayanlah buat ngisi kantong tiap ganggu gak yah?” tanya Dewo.
bulan. He..he… Kalau kamu gimana, “Nggak kok, emang ada apa
Mey? Masih ngajar?” tanya Dewo. yah?” tanya Mey.
”Masih, Wo, sekarang “Aku pengen ngobrol-ngobrol
jadwal aku padat, hampir tiap hari aja sama kamu,” jelas Dewo lagi.
aku ngajar. Eh, Wo, udah dulu yah, “Oh, begitu. Boleh aja sih.”
soalnya bentar lagi aku mesti ke Akhirnya mengalirlah

43 BVD • JUNI 2009


Cerita Bersambung
percakapan diantara mereka, Sambil membisikkan sesuatu ke koki
dari soal kerjaan, hobi sampai tersebut dan segera diiyakan dengan
nostalgia saat mereka masih SMU anggukan dari sang koki, setelah
dulu. Setelah telepon pertama selesai melaksanakan rencananya,
itu, hampir tiap malam Dewo Dewo segera kembali ke meja.
menelepon Mey walaupun hanya ”Wah, pesanannya kok belum
sekedar untuk mengetahui datang juga yah?” kata Dewo.
kabarnya saja. Lama kelamaan ”Mungkin bentar lagi, Wo,”
hubungan mereka menjadi jawab Mey.
semakin dekat. Pada malam ”Nah, itu dia yang ditunggu-
seperti biasanya mereka berdua tunggu,” kata Dewo senang setelah
makan malam bersama. Entah melihat pelayan yang tadi ditemuinya
kenapa malam itu Mey terlihat di belakang menuju meja mereka.
sangat cantik di mata Dewo, ”Mey, kamu harus cobain
dengan baju baby doll pink- creme sup nya, aku jamin kamu bakal
nya Mey terlihat berbeda dari ketagihan,’’ promosi Dewo.
biasanya. ‘’Ok,” kata Mey sambil
”Mey, malam ini kamu mencicipi sesendok sup creme.
cantik banget,” puji Dewo. ”Iya, Wo, emang enak,” kata
”Makasih yah, Wo, atas Mey setuju dengan selera Dewo.
pujiannya,” kata Mey sambil Ketika mengambil sup yang
tersipu malu. kedua kalinya, tiba-tiba ada sesuatu
”Oh ya, Mey, kamu mau yang berkilau didalam sendok.
pesan apa?” tanya Dewo. ”Lho, apa ini, Wo?” tanya Mey
“Aku terserah kamu aja, aneh.
Wo,” jawab Mey. ”Gak tau. Mungkin garamnya
“Ok,” kata Dewo sambil kebanyakan,” sahut Dewo acuh tak
memanggil pelayan dan acuh.
menyerahkan catatan kecil berisi ”Tapi ini bukan garam, Wo. Ini
pesanan mereka berdua. cincin. Trus ada tulisannya lagi,” kata
Sambil menunggu Mey sambil membaca apa tulisannya.
pesanan datang, Dewo dan Mey Dengan terkejut ia menyadari bahwa
berbincang-bincang seputar namanya lah yang diukir pada cincin
keromantisan suasana di cafe tersebut.
tersebut. Sesaat Dewo beranjak Dewo langsung tersenyum
dari tempatnya dan bergegas ke dan berkata, ”Mey, cincin ini buat
belakang dengan alasan ke kamar kamu. Mau gak kamu jadi pacar aku?”
kecil. Sesampainya di belakang
Dewo langsung menuju dapur Bersambung
tempat si koki cafe tersebut
menyediakan hidangan mereka.

44 BVD • JUNI 2009


BIRTHDAY
2
7
Yanto Halim
Wei Cing- Aryasuryani
Bulan Juni
9 Fei Fung
9 Ridani Faunika
9 Salim
10 Imelda
10 Lukas

13 Dodi
13 Andi H
15 Frans L. 25 joni wintarja
16 Sunardi Chandra 27 Teddy K
16 Mei Sy 29 Lim Hai Ban
17 Nathania 29 Lie Sien
17 Nely
19 Dyan Ananda
20 Erlia

22 Imelda selviany
22 Darmadi
22 Sisca
22 Stanley
23 Lirawati H
24 Nila + Ny Kreshna
25 Fendy
25 Linda
25 Yessie
45 BVD • JUNI 2009
CREW Oleh : Angel

BPH
Herman
STAFF
Juandi
FMIPA ITB 08
31 Juli 1990
Koordiv
Shirley
STEI ITB 08
15 September 1990

Yulian Praticno
FTMD 08
28 Juli 1990
Kontributor
BVD Kecil
Vin Cent Angel
27 September 1990 &
Akuntansi Unpar 08 Yen Yen

Ismail
2 September
1990
IT Likmi 07 Kontributor
Hendry Filcozwei Jan, Hui-
ono, Willy Yanto Wijaya,
Juliyanto Willy Yandi Wijaya, En-
Teknik Elektro ITB 07 drawan Tan, Alvin, Yenny
3 Juli 1989 Lan

46 BVD • JUNI 2009


KUIS

P E R TA N YAA N
Suatu keluarga ingin mengundang makan bersama
dengan syarat:
2 orang 1 piring nasi
3 orang 1 mangkuk sup
4 orang 1 porsi daging
Hidangan yang tersedia adalah 39 hidangan.
Berapa orang yang dapat diundang??

Bagi pembaca yang ingin


menjadi donatur, dapat
langsung ditransfer
ke rekening:

BCA KCP
Jawaban kuis BVD edisi Mei: MARANATHA
“Ke manakah arah desamu?” 2821509442 atas nama
Pemenang Edisi Maret 2008 yaitu: RATANA SURYA SUTJIONO
Wenata (08191017****)

Kirimkan jawaban Anda paling lambat tanggal 1 Juli 2009


dengan format :
Quiz BVD_Juni_jawaban_nama_kota asal

via SMS ke : 085659797476


via email ke : redaksibvd@yahoo.com

47 BVD • JUNI 2009