Anda di halaman 1dari 29

Demam Tifoid

Disusun Oleh : Shindy Octaviana

Pembimbing : Dr. Letkol CKM Eny Ambarwati Sp.PD, FINASIM


KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT DALAM RUMAH SAKIT TK.II MOH. RIDWAN MEURAKSA PERIODE 21 JANUARI 31 MARET 2013

Definisi
Demam Tifoid adalah Sindrom sistemik yang diakibatkan oleh infeksi bakteri akut pada usus halus.

Etiologi
Demam tifoid disebabkan oleh Salmonella typhi, basil gram negatif, berflagel, dan tidak berspora. S. typhi memiliki 3 macam antigen yaitu antigen O, antigen H, dan antigen Vi.

Etiologi
Kuman ini tumbuh dalam suasana aerob dan fakultatif anaerob. Mati pada suhu 56C dan pada keadaan kering. Dapat bertahan hidup selama 4 minggu dalam air dan subur pada medium yang mengandung garam empedu.

Epidemiologi
Demam tifoid dan paratifoid merupakan salah satu penyakit infeksi endemik di Asia, Afrika, Amerika Latin Karibia dan Oceania, termasuk Indonesia. Penyakit ini tergolong penyakit menular yang dapat menyerang banyak orang melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi. Di Indonesia prevalensi 91% kasus demam tifoid terjadi pada umur 3-19 tahun, kejadian meningkat setelah umur 5 tahun. laki-laki lebih banyak dari perempuan dengan perbandingan 3:1

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perjalanan Penyakit Infeksi Salmonela

Barier pejamu Lokal : pH, motilitas, flora usus Umum : imunitas humoral & selular Organisme Jumlah bakteri virulensi (serotipe) Resistensi terhadap antibiotik

PATOGENESIS

Perjalanan Penyakit Demam Tifoid

Manifestasi Klinis

Masa tunas rata-rata 10-14 hari. Selama masa inkubasi mungkin ditemukan gejala prodromal Gejala klinis, yaitu : 1. Demam Pada kasus-kasus yang khas, demam berlangsung 3 minggu. Bersifat febris remiten dan suhu tidak tinggi. Selama minggu pertama, suhu tubuh berangsur-angsur meningkat setiap hari, biasanya menurun pada pagi hari dan meningkat pada sore dan malam hari. Pada minggu kedua penderita terus berada dalam keadaan demam. Dalam minggu ketiga suhu badan berangsur-angsur turun dan normal kembali pada akhir minggu ketiga.

Manifestasi Klinis
2. Gangguan

saluran pencernaan Pada penderita demam tifoid dapat ditemukan bibir kering, dan ragaden, coated tounge. Pada abdomen mungkin ditemukan keadaan perut kembung (meteorismus). Bisa di dapatkan hepatosplenomegali. Biasanya didapatkan konstipasi,akan tetapi mungkin pula normal bahkan dapat terjadi diare.

Manifestasi Klinis
3. Gangguan kesadaran Umumnya kesadaran penderita menurun walaupun tidak seberapa dalam, yaitu apatis sampai somnolen. Jarang terjadi sopor, koma atau gelisah. Disamping gejala-gejala yang biasa ditemukan tersebut kadang-kadang ditemukan pula gejala lain berupa roseola pada punggung dan ekstremitas dan bradikardia pada anak besar.

Gambaran Klinis

Relaps
Relaps

atau kambuh merupakan keadaan berulangnya gejala penyakit tifus abdominalis, akan tetapi berlangsung lebih ringan dan lebih singkat. Biasanya terjadi dalam minggu kedua setelah suhu badan normal kembali.

Laboratorium
Darah tepi Anemia, pada umumnya terjadi karena supresi sumsum tulang, defisiensi Fe, atau perdarahan usus. Leukopenia, namun jarang kurang dari 3000/uL. Limfositosis relatif dan anaeosinofilia pada permulaan sakit. Trombositopeni terutama pada demam tifoid berat.

Laboratorium
Biakan Salmonela Biakan darah terutama pada minggu I perjalanan penyakit. Kultur tinja terutama pada minggu II perjalanan penyakit.

Uji Serologi Widal

Mengukur antigen O dan H Sebaiknya diperiksa pada minggu ke 2-4 demam Diagnostik antigen O 1/200 titer konvalensens 4x titer akut Sensitif, tidak spesifik Hasil harus selalu dikonfirmasikan dengan gejala klinis

Tes TUBEX

Tes aglutinasi kompetitif semi kuantitatif yang sederhana dan cepat (kurang lebih 2 menit) Tes ini sangat akurat dalam diagnosis infeksi akut karena hanya mendeteksi adanya antibodi IgM dan tidak mendeteksi antibodi IgG dalam waktu beberapa menit

Diagnosis Banding
Pada fase awal sering disalah artikan
dengan Gastroenteritis, Sindrom Viral, Bronchitis dan bronchopneumonia.

Malaria, TB Milier, Meningitis, Hepatitis


Kronik, DHF, Faringitis, Rhinofaringitis, Pneumoni, Campak, Varicella, Encephalitis, Sepsis

Pengobatan
Suportif

Tirah baring Kebutuhan cairan dan kalori yang cukup Diet rendah serat dan mudah dicerna

Pengobatan Antibiotik (1)

Kloramfenikol 4 kali 500mg. Hingga 7 hari bebas demam. Kotrimoksazol 2 kali 2 tablet ( 80 mg trimetropim dan 400 sulfametoksazol) Amoksisilin 100 mg/kgBB/hari, 10 hari anak

Pengobatan Antibiotik (2)

Seftriakson 80 mg/kgBB/hari intravena, intramuskular, per-infus, 5 hari i Sefiksim 15 20 mg/kgBB/hari oral, 10 hari (dalam penelitian) Siprofloxasin 2 kali 500 mg selama 10 hariunt. anak

Komplikasi
Komplikasi intestinal Perforasi yang bermanifestasi dengan penurunan temperatur Penurunan tekanan darah dan peningkatan denyut nadi. Sepsis Komplikasi ekstra-intestinal Hepatitis dan kolesistitis Pnemonia Myocarditis toksik Komplikasi neurology

Komplikasi

Pengobatan Komplikasi

Ensefalopati
dexametason 1-3 mg/ BB/hari,3-5 hari

Peritonitis, perdarahan saluran cerna


puasa, nutrisi parenteral, transfusi darah (atas indikasi)

Perforasi
laparatomi

Suportif
Cairan, koreksi dehidrasi, asidosis, hipoelekrolitemia

Prognosis

Tergantung pada terapi Umur Status kesehatan Serotype salmonella yang


menginfeksi

Komplikasi.

Pencegahan
Higiene perorangan Higiene lingkungan Membasmi karier Meningkatan kualitas sanitasi dan penggunaan air bersih

VAKSIN

Parenteral heat-phenol
inactivated Oral live-attenuated preparation dari Stv strain Ty21a

Vaksin dari kapsul Vi


polisakarida

TERIMA KASIH