Anda di halaman 1dari 23

PROPOSAL PENELITIAN

Nama : Muhammad Tanzili


NIM/NIMKO : 2005.0006.2394/2005.4.037.0310.1.00071
Fakultas : Ushuluddin
Jurusan : Tafsir Hadist
Prog. Studi : Strata 1 (S1)
Angkatan : 2005
Judul :

KONSEP ADIL MENURUT QURAISH SHIHAB

DALAM TAFSIR AL-MISBAH

A. Latar Belakang Masalah

Orientasi Al-Qur'an adalah membangun kebajikan jalan kehidupan


manusia, mewujudkan kemaslahatan umat, membimbing kejalan yang lurus,
menuju jalan yang lebih selamat dan sahih, baik di dunia maupun di akhirat.
(Zuhaili Wahbah, 1996: viii).

Kebajikan, kemaslahatan, serta keamanan tidak akan pernah terwujud jika


nilai-nilai keadilan dan kebijaksaan terlepas dari ruh kehidupan manusia. (Iaman
Ghazali, 2007: 146), mengatakan, kehidupan rumah tangga harus dilandasi
keadilan, dan bahwa masyarakat secara keseluruhan dapat berkembang dan lestari
hanya jika dilandasi prinsip persamaan dan keadilan: firman Allah Q. S. An-
Nisaa': 135"

ْ‫سكُمْ َأوِ اْلوَالِدَيْ ِن وَال ْقرَِبيَ إِ ن‬


ِ ُ‫سطِ ُشهَدَاءَ لِلّهِ وََل ْو عَلَى أَْنف‬
ْ ِ‫يَا أَّيهَا الّذِينَ آمَنُوا كُونُوا َقوّامِيَ بِاْلق‬

َ‫يَكُ ْن َغنِيّا َأوْ َفقِيًا فَاللّ هُ َأوْلَى ِبهِمَا فَل تَّتِبعُوا اْل َهوَى أَ نْ َتعْدِلُوا وَإِ نْ َت ْلوُوا َأوْ ُت ْع ِرضُوا فَإِنّ اللّ ه‬
‫كَانَ بِمَا َتعْمَلُونَ َخبِيًا‬

"Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar


penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biar pun terhadap dirimu sendiri
atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya atau pun miskin, maka Allah
lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena
ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata)
atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui
segala apa yang kamu kerjaan"

Menegakkan keadilan di atas muka bumi tidak hanya diwajibkan kepada


manusia, tapi merupakan kewajiban utama Nabi yang menerima petunjuk dan
syari'at Allah. Firman Allah:

َ‫سطِ وََأْنزَلْنَا الْحَدِيد‬


ْ ِ‫ب وَالْمِيزَا نَ ِلَيقُو مَ النّا سُ بِاْلق‬
َ ‫ت وَأَْنزَْلنَا َمعَهُ مُ الْكِتَا‬
ِ ‫َلقَدْ َأرْ سَ ْلنَا رُ ُسلَنَا بِالَْبيّنَا‬

ٌ‫ي َعزِيز‬
ّ ‫س وَلَِيعْلَ َم الّلهُ مَنْ َيْنصُ ُر ُه َورُسَُلهُ بِاْل َغْيبِ إِ ّن الّلهَ َق ِو‬
ِ ‫س شَدِي ٌد َومَنَافِعُ لِلنّا‬
ٌ ‫فِيهِ بَ ْأ‬

"Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa


bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan
neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami
ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat
bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah
mengetahui siapa yang menolong (agama) Nya dan rasul-rasul-Nya padahal Allah
tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa". (Q. S. Al-
Hadiid: 25).

Setiap tatanan kehidupan, baik dalam keluarga, masyarakat, dan dalam


pemerintahan, dari tiap individunya harus tertanam sifat keadilan. Karena
keadilan ialah pengakuan dan perlakuan yang seimbang antara hak dan
kewajiban. Hal ini dapat mengantarkan sifat saling mengerti bahwa setiap kita
mempunyai hak hidup. Jadi keadilan pada pokoknya terletak pada keseimbangan
atau keharmonisan antara menuntut hak dan menjalankan kewajiban. Joko Tti
Prasetya, (2004:134).

Demikian pula, menurut Rachmat Ramadhana, (2008: 200-201), seorang


yang mempunyai sifat adil akan bersikap, berbuat, dan bertindak porposional,
bijak, dan adil dalam mengambil keputusan apa pun. Sebagaimana firman Allah:

ْ‫حتِ فَإِنْ جَاءُوكَ فَاحْكُمْ َبيَْنهُمْ َأوْ َأ ْعرِضْ َعْنهُ ْم وَإِ ْن ُت ْعرِضْ َعْنهُم‬
ْ ّ‫سَمّاعُونَ لِلْكَذِبِ أَكّالُونَ لِلس‬

َ‫ب الْ ُمقْسِ ِطي‬


ّ ‫ح‬
ِ ُ‫سطِ إِ ّن الّلهَ ي‬
ْ ِ‫ضرّوكَ شَْيئًا وَإِنْ حَكَ ْمتَ فَاحْكُمْ َبيَْنهُمْ بِاْلق‬
ُ ‫َفلَنْ َي‬

Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong,


banyak memakan yang haram. Jika mereka (orang Yahudi) datang kepadamu
(untuk meminta putusan), maka putuskanlah (perkara itu) di antara mereka, atau
berpalinglah dari mereka; jika kamu berpaling dari mereka maka mereka tidak
akan memberi mudarat kepadamu sedikit pun. Dan jika kamu memutuskan
perkara mereka, maka putuskanlah (perkara itu) di antara mereka dengan adil,
sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang adil". (Q. S. Al-Maidah: 42)

Ayat di atas menuntut agar semua orang dalam situasi yang sama
diperlakukan dengan sama. Magnis Suseno, (1987: 81), dan keadilan hanya akan
terwujud dalam kehidupan sesama apabila kita memperlakukan objek dengan
cara terbaik yang sesuai dengan keadaannya. Thoha Faz, (2007: 280).

Dari sekian banyak uraian di atas menjelaskan tentang keadilan yang


berlaku di sekitar kehidupan sesama manusia agar tercipta suatu tatanan
kehidupan yang harmonis dengan tanpa ada yang merasa diperlakukan tidak adil.

Lain dari pada itu. Adalah keadilan Allah terdahap segenap ciptaan-Nya.
Firman Allah:

َ‫سهُمْ يَ ْظلِمُون‬
َ ُ‫إِنّ الّلهَ ل يَ ْظلِمُ النّاسَ شَْيئًا وَلَكِ ّن النّاسَ َأْنف‬

"Sesungguhnya Allah tidak berbuat lalim kepada manusia sedikit pun,


akan tetapi manusia itulah yang berbuat lalim kepada diri mereka sendiri". (Q.S.
At-Taubah : 70).

Ahmad Thoha Faz, (2007: 288-289), menafsirkan ayat di atas, bahwa


setiap kejadian yang tidak menyenangkan bukan berarti Allah itu kejam, dalam
bebarapa konteks dikatakan Allah sebagai "murka-Ku". Namun, sesungguhnya
Dia tidak pernah berbuat curang dan garang. Kitalah yang merusak diri kita
sendiri dengan menabrak hukum-hukum-Nya. Murka-Nya adalah keadilan-Nya.
Penyakit yang kita derita adalah cambuk Allah di dunia untuk mendidik hamba-
Nya untuk bersabar (mengubah diri), dan juga kreatif mencari obat. Dari pada itu
keadilan Tuhan pada hakekatnya manisfestasi khusus dari cinta-Nya.

Dalam sejarah Islam, berkenaan dengan keadilan Allah ada satu aliran
yang menyebut golongan ahl al-'adl (golongan yang mempertahankan keadilan
Tuhan), dimana aliran ini memegang lima prinsip dasar, dan di antara salah
satunya adalah tentang al-'adl (keadilan Tuhan). Menurutnya, Allah tidak
menyukai kerusakan dan tidak pula menciptakan perbuatan manusia. Dia
mengayomi segala kebaikan yang diperintakan, dan terlepas dari segala kejahatan
yang dilarang-Nya. Dia kuasa untuk mencegah ketika manusia berbuat kejahatan.
Tetapi Allah tidak melakukan hal itu, karena jika demikian berarti Dia
menghilangkan ujian dan cobaan-Nya (dari manusia). Harahap dan Nasutioan,
(2003: 7-8).

Pendapat di atas senada dengan pendapat Hamka, (2003: 171), bahwa


“Allah tidak melakukan aniaya terhadap hamba-Nya walau sebesar zarrah
sekalipun”. Dengan sifat keadilan Allah tersebut diharapkan kita dapat
meneladani, karena dengan sifat ini akan mengantarkan kepada tidak menganiaya
antara sesama.

Setelah menerangkan makna dan peranan keadilan dalam kehidupan


manusia, nilai keadilan sungguh sangat menentukan keharmonisan suatu
masyarakat dan tegaknya suatu tatanan kehidupan yang berkeadilan sosial dapat
mengantarkan kepada kesejahteraan masyarakat.

Namun dari realita yang ada saat ini, suatu tatanan masyarakat yang utuh
justru dirusak dan dinodai oleh sifat khianat dari tiap pribadi itu sendiri, sehingga
kezaliman meraja lela yang mengantarkan manusia kepada kehancuran dan
perpecahan antara sesama. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Ibnu Taimiyah
"Manusia tidak pernah berselisih paham tentang pendapat bahwa akibat dari
kezaliman itu mulia; oleh karena itu orang mengatakan bahwa Allah
memenangkan Negara yang adil meskipun kafir dan tidak membantu Negara
yang zalim meskipun mukmin". (Ahmadi Thaha, 2007: 127).

Kita tahu bahwa kezaliman yang mendarah daging dan berkembang biak
di kalangan jajaran pemerintahan Islam hususnya, bukan berarti mereka buta akan
makna adil dan penerapan keadilan, akan tetapi mereka tidak dapat menundukkan
dan melepaskan diri dari perbudakan dan penjara hawa nafsu mereka.

Melihat kesemerawutan dan kekacauan dalam tatana kehidupan umat


Islam, lahirlah seorang intelektual muslim mencoba untuk menghelai dan
memandu manusia dari kesesatan menuju kebenaran dan dari kesalah artian
dalam memaknai keadilan. Dengan harapan manusia mampu membumikan nilai-
nilai keadilan dalam tatanan kehidupan umat. Sebagaimana Quraish Shihab
mengatakan, (2007: 172): bahwa,
"Kesejahteraan sosial dimulai dari perjuangan mewujudkan dan
menumbuhsuburkan aspek-aspek akidah dan etika pada diri pribadi, karena
dari diri pribadi yang seimbang akan lahir masyarakat seimbang. Masyarakat
Islam pertama lahir dari Nabi Muhammad Saw, melalui kepribadian beliau yang
sangat mengagumkan. Pribadi ini melahirkan keluarga seimbang: Khadijah, Ali
bin Abi Thalib, Fathimah Az-Zahra', dan lain-lain. Kemudian lahir di luar
keluarga itu Abu Bakar Ash-Shiddiq r. a., dan sebagainya, yang juga
membentuk keluarga, dan demikian seterusnya, sehingga pada akhirnya
terbentuklah masyarakat yang seimbang antara keadilan dan kesejahteraan
sosialnya".

Tidak pada yang demikian itu saja, Qurasih Shihab pun memaklumatkan
bahwa, salah satu sendi kehidupan bermasyarakat adalah keadilan. Berbuat
baik melebihi keadilan seperti memaafkan kepada yang bersalah atau
memberikan bantuan kepada yang malas akan dapat menggoyahkan sendi-sendi
tatanan kehidupan bermasyarakat. Memang Al-Qur'an memerintahkan perbuatan
adil dan kebajikan seperti firman-Nya, "Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu)
berlaku adil dan berbuat kebajikan" (QS Al-Nahl: 90), karena ihsan (kebajikan)
dinilai sebagai sesuatu yang melebihi keadilan. Namun dalam kehidupan
bermasyarakat, keadilan lebih utama daripada kedermawanan atau ihsan.
Kemudian Quraish Shihab, (2007: 158) menambahkan bahwa, "Keadilan
harus ditegakkan di mana pun, kapan pun, dan terhadap siapa pun. Bahkan, jika
perlu dengan kekerasan. Karena ia adalah salah satu cara untuk menegakkan
keadilan".

Paling tidak ada empat makna keadilan yang diungkapkan oleh para pakar
agama: pertama: adil dalam arti "persamaan (hak manusia)". Kedua: adil dalam
arti "seimbang (keseimbangan dan kesesuaian bukan lawan kata keadilan)".
Ketiga: adil dalam arti "menempatkan sesuatu pada tempatnya (antara hak sesama
manusia)". Dan yang keempat: "adil yang dinisbatkan kepada Ilahi" Quraish
Shihab, (2007: 152-155).

Demikian untuk memahami makna keadilan secara mendetail dari


penafsiran Quraish Shihab tentang keadilan dalam tafsirnya Al-Misbah, perlu
kiranya peneliti mengkaji lebih jauh lagi, sehingga diharapkan dapat mengungkap
model corak penafsirannya dan interpretasi terhadap makna keadilan atau sikap
adil sesama manusia.

Dari ragam makna keadilan di atas maka peneliti akan mengedepankan


pembasahan tentang "keadilan manusia". Karena dengan sikap ini manusia akan
sadar betapa pentingnya keadilan yang dapat mengantarkan kepada ketakwaan
dan tentunya akan melahirkan masyarakat yang damai sejahtera.

Kata 'adl yang dalam berbagai bentuk terulang sebanyak 21 kali di 12


surat. Kemudian al-qisth. Terulang sebanyak 23 kali di 17 surat. dan kata al-
mizan terulang sebanyak 19 kali di 13 surat. Pada ketiga kata inilah yang menjadi
pembahasan peneliti.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, peneliti kemudian membatasi


masalah ini pada penafsiran Quraish Shihab tentang adil (keadilan manusia)
dalam Tafsir Al-Misbah yang selanjutnya dirumuskan dalam bentuk pertanyaan,
sebagai berikut:

1. Bagaimana penafsiran Quraish Shihab tentang makna adil dalam


Tafsir Al-Misbah?

2. Bagaimana metode Quraish Shihab dalam menafsirkan makna


keadilan dalam tafsir Al-Misbah?

3. Bagaimana konsep keadilan manusia menurut Quraish Shihab?

C. Tujuan Penelitian

Sebagaimana yang dinukilkan oleh Kaelan, (2005:234) bahwa, Tujuan


sebuah kajian atau penelitian adalah rumusan singkat dalam menjawab masalah
penelitian. Oleh karena itu, tujuan kajian ini adalah diharapkan dapat
mendeskripsikan penafsiran Quraish Shihab tentang makna keadilan. Tujuan
penelitian ini difomulasikan dalam bentuk pernyataan sebagai berikut:

1. Mendeskripsikan penafsiran Quraish Shihab dalam


mengungkap makna adil dalam Tafsir Al-Misbah.

2. Mendeskripsikan metode Quraish Shihab dalam menafsirkan


makna keadilan dalam tafsir Al-Misbah.

3. Mendeskripsikan konsep keadilan manusia menurut Quraish


Shihab

D. Kegunaan Penelitian

Bakker dan Zubair, (1990: 11) mengungkap bahwa, fungsi dari penelitian
adalah, sebuah formulasi atau jalan untuk menemukan dan memberikan
penafsiran yang benar. Shingga ilmu pengetahuan tidak berdiri di tempat dan
surut kebelakang. Kemudian Kaelan, (2005:235) menyatakan bahwa suatu
penelitian atau kajian harus memiliki nilai guna baik secara praktis maupun
akademis. Berikut kegunaan dari penelitian ini:

1. Secara Akademis:

Kajian ini diharapkan dapat menjadi tambahan informasi penting dan


jembatan untuk mengkaji disiplin ilmu yang serupa terhadap penelitian
mendatang. Kemudian, mengingat kajian ini merupakan salah satu sendi-sendi
terpenting yang dapat mengantarkan ketakwaan dan ketakwaan menciptakan
kesejahteran umat manusia. Lain dari pada itu, kajian ini berfungsi untuk
menambah literatur khususnya di Perpustakaan IDIA, berkenaan dengan
kajian di bidang tafsir dan teologi.
2. Secara Praktis:

Kiranya dengan mendeskripsikan penafsiran Quraish Shihab tentang


makna keadilan dalam kitab tafsirnya Al-Misbah diharapkan dapat
mengurangi kezaliman, membuang khianat, kesewenang-wenangan dan
diktatorisme dalam interaksi dengan sesama manusia yang lain, Ahmadi
Thaha, (2007: 127) yang dinukil dari Ibnu Taimiah. Lebih dari pada itu, dapat
mengantarkan manusia kepada ketakwaan demi mencapai kesejahteraan umat.

E. Alasan Pemilihan Judul

Ada dua alasan mengapa peneliti memilih judul ini:

1. Alasan Obyektif.

Keadilan merupakan "salah satu organ" terpenting dalam mengantarkan


manusia kepada ketakwaan yang dapat melahirkan kesejahteraan umat manusia.
Sebagaimana Firman Allah dalam surat Al-Maaidah: 8. " Hai orang-orang yang
beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran)
karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu
terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku
adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah,
sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan". Quraish
Shihab, (2007: 147-148).

Disamping demikian itu, Tafsir Al-Misbah dengan, warna keindonesiaan


penulis memberi warna yang menarik dan khas serta sangat relevan untuk
memperkaya khazanah pemahana dan penghayatan umat Islam terhadap rahasia
makna ayat Allah. (http://www.freelists.org/post/ppi/ppiindia tafsir-Al-Misbah)

Kemudian, keadilan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia


karena dalam hidupnya manusia menghadapi hal tersebut dalam tiap harinya.
Joko Tri Prssetya, (2004: 137).

2. Alasan Suyektif.

Quraish Shihab adalah salah satu mufasir kontemporer yang banyak


menyumbangkan gagasan dan pemikiran dalam berbagai forum dan kajian
ilmiah hususnya di bidang tafsir Al-Qur'an. Kemudian dilihat dari latar belakang
pendidikannya, beliau telah menspeliasasikan pendidikannya dalam ilmu Tafsir
Al-Qur'an.

Dan yang paling penting dari pada itu, kajian ini selaras dengan jurusan
peneliti, kemudian Tafsir Al-Misbah disajikan dalam bahasa Indonesia, sehingga
memungkinkan dan memudahkan peneliti untuk mengkaji dan
menyelasaikannya.

F. Batasan Istilah Dalam Judul

1. Quraish Shihab

Ulama’ sekaligus mufasir kelahiran Rampang, lebih tepatnya di


Sulawesi Selatan yang bertepatan pada 16 Februari 1944. Nama panjang
pakar tafsir ini adalah, Prof, Dr, Muhammad Qurash Shihab, M.A. beliau
cukup di kenal pada kalangan ilmuah kontemporer, karena telah banyak
menyumbangkan gagasan dan keilmuan hususnya dalam bidang Tafsir Al-
Qur'an. Tafsir Al-Misbah yang beliau sajikan telah mengambarkan akan
keluasan ilmu dan pengetahuannya juga memperlihatkan bahwa beliau
memang ahli dalam bidang Tafsir. lihat Shihab, (2008:5). Bahkan pada tahun
1998-2006 dipercaya sebagai Dewan Pentashih Al-Qur’an Departemen
Agama RI (lihat Shihab, 2006: hal. Sampul depan).

2. Keadilan

Kata adil terambil dari kata 'adala yang terdiri dari huruf 'ain, daal,
dan laam. Rangkaian huruf-huruf ini mengandung dua makna yang bertolak
belakang, yakni "lurus dan sama" dan "bengkok, berbeda".

Artinya keadilan adalah ketidak berpihakan seseorang kepada


seseorang yang berselisih. Lihat Sulaiman Al-Kumayi, (2005: 242).

Setidaknya di dalam Al-Qur’an Allah menggungkapkan kata adil


dengan macam kata al-‘adl, al-qisth, kemudian dengan kata al-miizaan. Pada
hal demikian inilah yang akan menjadi pembahasan pokok dalam peneliti ini.

Pertaman: kata al-‘adl

Kata al-‘adl terdapat dalam Al-Qur’an terdapat sebanyak 21 kali di 11


surat dengan beragam bentuknya. Yaitu dalam surat Al-Baqara: 48, 123, 282.
Surat An-Nisaa’: 3, 58, 129, 135. Al-Maaidah: 8, 95, 106. Al-An’am: 70, 150.
Al-‘araf: 159, 181. An-Naml: 15, 60. An-Nahl: 76, 90. Asy-Syura: 15. Al-
Hujurat: 9. Ath-Thalaaq: 2.

Kedua: kata al-qisth

Kemudian kata Al-Qisth terdapat sebanyak 23 kali di 17 surat. Di


dalam surat Al-Baqara: 282. Al-An-‘am: 152. Al-Hujurat: 9. An-Nisaa’: 3,
127, 135. Al-Maaidah: 8, 42. Al-An’am: 152. Al-‘Araaf: 29. Al-Mumtahanah:
8. Al-‘imraan: 18, 21. Yunus: 4, 47, 54. Hud: 85. Al-israa’: 35. Al-Anbiyaa’:
47. As-Syu’araa’: 182. Ar-Rahman: 9. Al-Hadiid: 25. Al-Ahzab: 5.

Dan yang ketiga: kata al-miizaan

Sedangkan kata Al-Miizan terdapat sebanyak 19 kali di 13 surat


seperti dalam surat Al-An’am: 152. Al-‘raaf: 8, 85. Hud: 84, 85. As-Syura: 17.
Ar-Rahman: 7, 8, 9. Al-Hadiid: 25. Al-Kahfi: 105. Al-israa’: 35. As-Syu’araa’:
182. Al-Mu’minun: 102, 102. Al-Qaari’ah: 6, 8. Al-Mutaffifin: 3. Al-
Anbiyaa’: 47.
2. Sekilas Tentang Tafsir Al-Misabah

Tafsir al-Misbah. Oleh Prof. Dr. M. Quraish Shihab dan diterbitkan


oleh Lentera Hati. Tafsir al-Misbah adalah sebuah tafsir Al-Qur'an lengkap 30
Juz pertama dalam kurun waktu 30 tahun terakhir yang ditulis oleh tafsir
terkemuka Indonesia. Warna keindonesiaan penulis memberi warna yang
menarik dan khas serta sangat relevan untuk memperkaya khasanah
pemahamaa dan penghayatan umat Islam terhadap rahasia makna ayat Allah
SWT.

Tafsir al-Misbah terdiri dari 15 Jilid, yaitu jilid 1 terdiri dari surah Al-
Fatihah sampai dengan Al-Baqarah, Jilid 2 surah Ali-Imran sampai dengan
An-Nisa, jilid 3 surah Al-Maidah, jilid 4 surah Al-An’am, jilid 5 surah Al-
A’raf sampai dengan At-Taubah, jilid 6 surah Yunus sampai dengan Ar-Raa’d,
jilid 7 surah Ibrahim sampai dengan Al-Isra, jilid 8 surah Al-Kahf sampai
dengan Al-Anbiya, jilid 9 surah Al-Hajj sampai dengan Al-Furqan, jilid 10
surah Asy-Syu’ara sampai dengan Al-‘Ankabut, jilid 11 surah Ar-Rum sampai
dengan Yasin, jilid 12 surah As-Saffat sampai dengan Az-Zukhruf, jilid 13
surah Ad-Dukhan sampai dengan Al-Waqi’ah, jilid 14 surah Al-Hadad sampai
dengan Al-Mursalat, dan jilid 15 surah Juz A’mma.
(http://www.freelists.org/post/ppi/ppiindia-Tafsir-Al-Misbah)

G. Kajian Pustaka

Sepanjang pengetahuan penulis, penelitian cermat dan menyeluruh


tentang keadilan dalam Al-Qur’an belum ditemukan. Pembahasan terkait
pernah dilakukan oleh Joko Susannto. Dengan judul “Keadilan Shabat Dalam
Periwayatan Hadis: Suatu Tinjauan Predikat Adil Sebagai Perawi” , dalam
penelitian tersebut penulis menggunakan Analisis Teoritis dan Kerangka
Konseptual. Sementara dari penelitian tersebut ia berkesimpulan bahwa,
setiap para sahabat Nabi bersifat adil. Hal ini berdasarkan penelitian terhadap
keadilan para sahabat dalam periwayatan ahdist dan didukung oleh dalil-dalil
Al-Qur’an dan Hadist Nabi. Joko Susanto, 2006: 77. Bila kita cermati dari
hasil kesimpulan tersebut, peneliti dapat menyimpulkan bahwa, keadilan
sangat berperan penting dalam periwayatan Hadist Nabi. Dan sifat ketidak
adilan dapat tertolaknya suatu periwayatan.

Kemudian, pembicaraan tentang keadilan manusia banyak dibahas


dalam beberapa buku dan literatur, seperti. Apa yang dikatakan Sulaiman Al-
Kumayi, (2007: 242-243) bahwa, ia membagi keadilan menjadi tiga bagian.
Pertama, mengenai segala yang dilakukan manusia terhadap Tuhannya.
Artinya manusia harus berprilaku layaknya seorang hamba kepada tuannya,
tentunya sebatas kemampuannya. Ia dituntut untuk memberikan apa yang
harus diberikan kepada orang yang tepat dengan cara yang benar pula. Kedua,
adalah kewajiban yang harus dijalani manusia terhadap sesama manusia
lainnya. Dengan cara memenuhi semua hak-hak sesama, menghormati
pemimpin mereka, amanat dalam segala hal. Kemudian yang ketiga,
kewajiban manusia terhadap para leluhur mereka, yaitu dengan cara
menunaikan wasiat, membayar hutang dan sebagainya.

Dalam pembahsan di atas penulis mengambarkan keadilan dari sudut


pandang tasawuf. Yang mana seorang hamba harus meneladani sifat
Tuhannya. Sehingga dapat menumbuhkan suburkan sifat keadilan dalam
dirinya dan tidak akan curang kepada siapa pun.

Adapun Joko Tri Prasetya, (2004: 136-137) beliau meninjau keadilan


dari sisi sifat-sifatnya dan membaginya menjadi tiga kelompok. Pertama,
keadilan legal atau keadilan moral. Artinya, setiap orang hendaklah
menjalankan pekerjaannnya menurut sifat dasarnya yang paling cocok
baginya. Kedua, keadilan distributif, yaitu perlakuan sama terhadap hal-hal
yang sama dan sebalinya. Ketiga, keadilan komutatif, yaitu keadilan
merupakan asas pertalian dan ketertiban dalam masyarakat.

Kemudian pembahasan tentang penafsiran keadilan tidak sedikit


ditemukan dalam kitab tafsir-tafsir. Seperti, Al-Ghazali, (2007: ) mengatakan
bahwa, keadilan harus ditegakkan dan dijalin antara muslim dan musuh
mereka. Firman Allah dalam surat Al-Mumtahaanah: 8-9.

“Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku “adil”
terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula)
mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang
yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan
sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu karena agama dan
mengusir kamu dari negerimu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu.
Dan barang siapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah
orang-orang yang lalim”.

Al-Ghazali, (2007: 212) menafsirkan ayat di atas, bahwasanya


keadilan adalah tidak akan tega seorang muslim membiarkan saudara kita
terpuruk dalam pendindasan dan penjajahan kaum kafir. Artinya, harus ada
rasa solidaritas antara sesama muslim dan kerjasama atau tolong-menolong
untuk mengubah suatu keadaan kepada yang lebih baik. Upaya tersebut
merupakan wujud dari keadilan dan penghormatan kepada nilai-nilai
kemanusia. Penafsiran ini berupa perpaduan antara metode tafsir analitis dan
tematis. Disini beliau menafsirkan bahwa bersifat adil adalah dengan
merasakan setiap kesedihan dan penderitaan yang dirasa oleh orang lain.

H. Metode Kajian

1. Pendekatan dan Jenis Penelitian.

Penelitian ini dilakukan melalui riset kepustakaan (library reserch),


dengan melalui pendekatan kualitatif, karena objek pembahasannya terfokus
pada ayat-ayat tentang keadilan yang sumber datanya diambil dari buku-buku,
literatur-literatur dan kitab-kitab tafsir yang ada hubungan langsung atau tidak
langsung dengan pembahasan. Kemudian metode yang digunakan yaitu
deskriptif, analitis, komparatif dan induktif. Deskriptif analitis digunakan
untuk mengungkap dan mejelaskan makna keadilan dalam Tafsir Al-Misbah.
Kemudian metode komporatif digunakan untuk membandingkan persamaan
dan perbandingan antara penafsiran Quraish Shihab tentang ayat-ayat yang
membahas tentang keadilan dengan para ulama’ lainnya. Gina Maulana,
(2004: 5). Dan metode induktif untuk menarik suatu kesimpulan dari
pembahasan ini.

2. Sumber Data.

Sumber data penelitian, sebagaiman yang diungkap oleh kaelan,


(2005: 148). Bahwa sumber data harus relevan dengan penelitian yang
dilakukan. Yang dibagi menjadi sumber data primer dan skunder.

Adapun, karena penelitian ini meneliti penafsiran Quraish Shihab,


maka sepenuhnya Sumber data primernya adalah kitab Tafsir Al-Misbah dan
buku-buku yang secara langsung berkaitan dengan objek material penelitian.
Kaelan, (2005: 148), terutama Tafsir Al-Misbah. Karya ini dipilih, karena
peneliti akan mengkaji penafsiran Quraish Shihab terhadap ayat-ayat yang
berbicara tentang keadilan.

Sedangkan sumber data skundernya diperoleh dari bahan-bahan


pustaka tertulis yang berupa buku, laporan hasil penelitian, makalah, jurnal
ilmiah, atau literatur-literatur lain. Kaelan, (2005: 149). Untuk hal ini peneliti
membanginya dalam beberapa katagori. Pertama: kitab-kitab tafsir. Seperti,
Tafsir Al-Qur’an Majid An-Nuur: karya Teungku Muhammad Hasbi Ash-
Shiddieqy. Tafsir Ibnu Katsir: karya Ibnu Katsir. Tafsir Al-Azhar karya
Hamka. Dan tafsir Fi Fizalil Qur’an, karya Sayyaid Kutb. Menikmati Jamuan
Allah, karya Muhammad Al-Ghazali yang terdiri dari tiga jilid. Sumber-
seumber data ini dipilih karena akan dijadikan bahan perbandingan dan
pendukung pendapat Quraish Shihab dalam menafsirkan ayat-ayat tentang
keadilan. Kedua. Buku-buku karya Qurasih Shihab sendiri yang berkaitan
dengan pembahasan ini. Seperti. Wawasan Al-Qur’an :Tafsir Tematik Atas
Pelbagai Persoalan Umat”. Menabur Pesan Ilahi: Al-Qur’an dan Dinamika
Kehidupan Masyarakat.

Kemudian penliti menggunakan buku Metodologi Penelitian Filsafat,


karya Anton Bakker dan Achmad Charris Zubair; Metologi Penelitian
Kualitatif Bidang Filsafat, karya Kaelan. Karya-karya ini digunakan sebagai
buku panduan dalam penelitian ini.

Dan untuk menentukan masalah ayat-ayat tentang keadilan, peneliti


menggunakan Konkordasi Qur'an: Panduan Kata Dalam Mencari Ayat
Qur'an karya Ali Audah, Ensiklopedi Al-Qur'an karya Wahbah Zuhaili, dkk.,
Fath Al-Rahmaan dan "Al-Qur'aan Al-Kariim Ma'a Al-Tafsii" ,edisi IV
(digital).

3. Teknik Pengumpulan Data.

Langkah awal yang dilakukan penulis dalam penelitian ini adalah


mengklasifikasikan ayat-ayat yang berhubungan dengan masalah penelitian,
yaitu ayat-ayat yang membahas tentang keadilan, seperti yang telah peneliti
sebutkan. Masalah ayat-ayat yang berhubunga tersebut sepenuhnya diambil
dari kitab Tafsir Al-Misbah karangan Qurasih Shihab.

Langkah selanjutnya adalah mendeskripsikan ayat-ayat tersebut


menurut Penafsiran Quraish Shihab. Kemudian penafsiran Quraish Shihab
terhadap ayat-ayat keadilan dibandingkan dengan pendapat lain dan
penafsiran para mufassir.
4. Metode Analisis Data.

Dalam penyelesaina penelitian ini, peneliti menggunakan beberapa


metode untuk menganalisis data yang dikumpulkan, yaitu:

a. Metode
Interpretasi.
Dalam hal ini peneliti akan menemukan dan mendeskripsikan
penafsiran Quraish Shihab tentang ayat-ayat keadilan dalam Tafsri Al-
Misbah. Sehingga peneleti akan menemukan, menuturkan, dan
mengungkapkan makna objek yang terkandung. Kaelan, (2005: 76)

Peneliti berusaha untuk menelaah dan mengungkap penafsiran


Quraish Shihab tentang ayat-ayat keadilan dalam Tafsri Al-Misbah. Untuk
itu, penulis tidak hanya memahami naskah seperti apa yang diungkapkan
oleh Quraish Shihab Tetapi juga memaparkan makna yang terkandung di
balik bahasa dalam Tafsri Al-Misbah tentunya setelah mengadakan
perbandingan dengan pendapat lain.

b. Metode Deskriptif
Historis.
Peneliti akan melukiskan, menjelaskan dan menerangkan latar
belakang Quraish Shihab yang berhubungan dengan: riwayat hidup,
pendidikan, dan segala hal yang berkaitan dengan perkembangan
pemikiran Quraish Shihab.

c. Metode Deskripsi.
Peneliti berusaha menguak secara teratur seluruh penafsiran
Quraish Shihab tentang ayat-ayat tentang keadilan, yaitu dengan
memberikan deskripsi mengenai metode penerapan yang dipakai oleh
Quraish Shihab dalam Tafsri Al-Misbah, khususnya metode penafsiran
yang dipakai oleh Quraish Shihab dalam menafsirkan ayat-ayat tentang
keadilan.

d. Komparasi.
Dalam hal ini, peneliti akan mengkomparasikan antara penafsiran
Quraish Shihab dengan pendapat dan penafsiran mufassir lain yang
berhungan dengan pembahasan tentang ayat-ayat keadilan. Dalam artian
membandingkan dua pemikiran atau pendapat lebih dari satu. Kaelan,
(2005, 94)

e. Metode Induktif
Metode ini adalah suatu proses mengambil kesimpulan setelah
proses pengumpulan data dan analisis data. Kaelan, (2005: 95). Yaitu
melalui suatu sintesis dan penyimpulan secara induktif.

I. Sistematika Pembahasan

Penelitian ini akan dikaji secara sistematis dalam lima bab. Bab I,
pendahuluan, meliputi: latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan kajian,
kegunaan kajian, alasan pemilihan judul, batasan istilah dalam judul, kajian
pustaka dan sistematika pembahasan.

Bab II, landasan teori. Dalam bagian ini peneliti akan mengungkapkan apa
sebebarnya keadilan itu dalam Al-Qur’an, pembahasan akan berkisar pada kata-
kata yang menunjuk kepada makna keadilan. Yaitu kata Al-‘Adl, Al-Qisth, dan Al-
Miizaan. Pada bab ini pula akan diungkap apa makna keadilan tentunya setelah
ayat-ayat tersebut diklasifikasikan.

Bab III, peniti akan memaparkan latar belakang kehidupan Quraish Shihab
dan sejarah penulisan Tafsir Al-Misbah. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui
latar belakang kehidupan Quraish Shihab dan paparan singkat tentang Tafsir Al-
Misbah, sehingga penliti dapat menguak dan mengangkat makna penafsiran
Quraish Shihab mengenai pembahasan keadilan.

Bab IV, pembahasan yang meliputi: penafsiran Quraish Shihab terhadap


ayat-ayat tentang keadilan, metode yang diterapkan oleh Quraish Shihab dalam
menafsirkan ayat-ayat tersebut dan konsep takwil menurut Quraish Shihab dalam
ayat-ayat yang membahas tentang keadilan.

Bab V, berisi kesimpulan mengenai penafsiran Quraish Shihab tentang


ayat-ayat keadilan dalam Tafsir Al-Misbah kemudian dilanjutkan dengan saran
dari penulis.

J. Daftar Pustaka (Sementara)

Zuhaili, Wahbah dkk. 2007. Ensiklopedia Al-Qur’an. Jakarta: Gema Insani.

Al-Ghazali, Muhammad. Menikmati Jamuan Allah: Inti Pesan Qur’an Dari Tema
Ke Tema. Terjemahan oleh Ahmad Syaikhl dan Ervan Nurtawab. 2003.
Jakarta: PT Serambi Ilmu Semerta.

Al-Kumayi, Sulaiman. 2005. Kecerdasan 99: Cara Meraih Kemenangan dan


Ketenangan Hidup Lewat Penerapan 99 Nama Allah. Jakarta: Hikmah.

Maulana, Ahmad Gina. 2004. ‘Ibad Al-Rahman dalam Al-Qur’an: Menurut


Penafsiran Syaikh Nawawi Al-Bantani. Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah.
Skripsi ini tidak diterbitkan.

Bakker, Anton dan Zubair, Achmad Charris. 1990. Metodologi Penelitian


Filsafat. Yogyakarta: Kanisius.

Rais, Dhiauddin. 2001. Teori Politik Islam. Terjemahan oleh Abdul Hayyi’ al-
Kattani. Jakarta: Gema Insani.

Shihab, Quraish. 2007. Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Tematik atas Pelbagai


Persoalan Umat. Jakarta: Mizan.
Hamka. 1994. Falsafah Hidup. Jakarta: Pustaka Panjimas.

---------1990. Tasauf Modern. Jakarta: Pustaka Panjimas.

Al-Qardawi, Yusuf. 2005. Aqidah Salaf dan Khalaf. Terjeman oleh Arif Munandar
Riswanto. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.

Rahman, Jalaluddin. 1992. Konsep Perbuatan Manusia Menurut Al-Qur’an.


Jakarta: Bulan Bintang.

Kaelan. 2005. Metode Penelitian Kualitatif Bidang Filsafat. Yogyakarta:


Paradigma.

Moleong, Lexy J. 2005. Metodologi Penelitian Kualitatatif. Bandung: Remaja


Rosdakarya.

Susanto, Ali Adi Joko. 2006. Keadilan Sahabat Dalam Periwayatan Hadis: Suatu
Tinjauan Predikat Adil Sebagai Periwayat”. Jakarta:UIN Syarif
Hidayatullah. Skripsi ini tidak diterbitkan.

Nasution, Harun. 2008. Teologi Islam: Aliran-Aliran, Sejarah Analisa


Perbandingan. Jakarta: UI-Press.

Al-Banjari, Racmat Ramadhaan. Membaca Kepribadian Muslim Seperti


Membaca Al-Qur’an . 2004. Malang: Pustaka Zamzam.

Toha, Ahmad Faz. 2007. Titik Ba: Paradigm Revolusioner Dalam Kehidupan
Dan Pembelajaran. Bandung: Mizan.

Prasetya, Joko Tri dkk. 2004. Ilmu Budaya Dasar. Jakarta: Rineka Cipta.

Suseno, Franz Magnis. 1987. Etika Politik: Prinsip-Prinsip Moral Dasar


Kenegaraan Modern. Jakarta: Gramedia.

Yusuf. M. Yunan. 2003. Corak Pemikiran Kalam Tafsir Al-Azhar: Sebuah Telaah
Atas Pemikiran Hamka Dalam Teologi Islam. Jakarta: Permadani.

Thaha, Ahmadi. 2007. Ibnu Taimiah: Sejarah Hidup Dan Pemikiran. Surabaya:
PT Bina Ilmu.

Lampiran I
I. Sistematika Laporan Penelitian
BAGIAN AWAL
Halaman Sampul
Halam Judul
Halaman Persetujuan
Halaman Pengesahan
Halaman Motto
Halaman Persembahan
Kata Pengantar
Daftar Isi
Dafatar Table (Jika ada)
Daftar Gambar (Jika ada)
Daftar Lampiran
BAGIAN INTI
BAB I : PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan Kajian
D. Kegunaan Kajian
E. Alasan Pemilihan Judul
F. Metode Kajian
G. Batasan Istilah Dalam
Judul
H. Sistematika Penulisan

BAB II :KATA-KATA ADIL DALAM TAFSIR AL-MISBAH


A. Klasifikasi Ayat-Ayat tentang keadilan dalam
Tafsir Al-Misbah
1. A
l-‘
Ad
l
2. Al-
qis
th
3. Al-
Mi
iza
an
B. Keadilan Menurut Mufassir
C. Konsep Keadilan Menurut Quraish Shihab
BAB III :KULTUR KESEJARAHAN QURAISH SHIHAB
DAN TAFSIR AL-MISBAH
A. Latar Belakang Kultur
B. Latar Belakang Pendidikan
C. Peran Quraish Shihab dalam Kanca Intelektual
Muslim
D. Karya-Karya Quraish Shihab
BAB IV : PEMBAHASAN
A. Penafsiran Quraish Shihab terhadap Ayat-Ayat
keadilan
1. Al
-‘
A
dl
2. Al
-
Q
is
th
3. Al
-
M
ii
za
a
n
B. Metode Quraish Shihab Dalam Menafsirkan Ayat-
Ayat keadilan
C. Konsep Keadilan Menurut Quraish Shihab
BAB V : PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran
BAGIAN AKHIR
Daftar Pustaka
Lampiran-lampiran