Anda di halaman 1dari 3

Pokok Pokok Teori Adler Teori Adler dapat dipahami lewat pengertian-pengertian pokok yang dipergunakannya untuk membahas

s kepribadian. Adapun pegertian-pengertia pokok dalam teori Adler sebagai berikut. 1. Individualitas sebagai Pokok Persoalan Menurut Adler tiap orang adalah konfigurasi motif-motif, sifat-sifat, serta nilai-nilai yang khas. Setiap tindakan yang dilakukan oleh seseorang membawakan corak khas kehidupannya yang bersifat individual. 2. Pandangan Teleologis: Finalis Semu Adler sangat dipegaruhi oleh filsafat seakan-akan yang dirumuskan oleh Hans Vaihinger. Vaihinger mengemukakan, bahwa manusia hidup dengan berbagai macam cita-cita atau pikiran yang semata-mata bersifat semu, yang tidak ada buktinya atau pasangannya dengan realitas. Gambaran semu itu misalnya semua manusia ditakdirkan sama. Gambaran semu ini memungkinkan manusia untuk menghadapi realitas dengan lebih baik. Di dalam filsafat Vaihinger itu Adler menemukan gagasan bahwa manusia lebih didorong oleh harapan-harapannya terhadap masa depan daripada pengalamanpengalaman masa lampaunya. Tiap orang mempunyai rancangan hidup rahasia yang tak disadari, yag

diperjuangkannya terhadap segala rintangan. Tujuan yang ingin dikejar manusia itu mungkin hanya suatu fiksi, yaitu suatu cita-cita yang tak mungkin direalisasikan, namun hal ini merupakan sebuah pelecut yang nyata bagi usaha manusia, dan karenanya juga menjadi sumber keterangan bagi tingkah lakunya. Menurut Adler, prang yang normal dapat membebaskan diri akhirnya dari fiksi ini. 3. Dua Doronga Pokok Dua dorongan pokok yang terdapat dalam diri manusia yang melatarbelakangi tingkah lakunya, yaitu: a. Dorongan kemasyarakatan yang mendorong mausia bertindak sesuatu yang mengabdi kepada masyarakat, dan

b. Dorongan keakuan, yang mendorong manusia bertindak yang mengabdi kepada aku sendiri. Megenai dorongan keakuan ini pendapat Adler mengalami perkembangan. Sejak tahun 1900 dia telah sampai pada kesimpulan bahwa dorongan agresif lebih penting daripada dorongan seksual. Kemudian nafsu agresif itu diganti dengan keinginan berkuasa, dan lebih kemudian lagi hal ini digantinya denga dorongan untuk superior, dorongan untuk berharga, untuk lebih sempurna. Superioritas disini bukanlah keadaan yang obyektif, seperti kedudukan social yang tinggi dsb, melainkan adalah dorongan keadaan subyektif, pengalaman atau perasaan cukup berharga. Sejak lahir sampai mati dorongan superioritas itu membawa pribadi dari satu fase perkembangan ke fase selanjutnya. 4. Rasa Rendah Diri dan Kompensasi Adler memperluas pendapatnya tentang rasa rendah diri atau inferiority, pengertian ini mencakup segala rasa kurang berharga yang timbl karena ketidakmampua psikologis atau social yang dirasa secara subyektif, ataupun karena keadaan jasmani yang kurang sempurna. Pada mulaya Adler menyatakan inferioritas itu dengan kebetinaan dan kompesasinya disebut proses kejantanan, aka tetapi kemudian dia memasukkan hal tersebut ke dalam pengertian yang lebih luas yaitu rasa diri kurag atau rasa redah diri yang timbul karena perasaan kurang berharga atau kurang mampudalam bidang penghidupan apa saja. Adler berpendapat, bahwa rasa rendah diri itu bukanlah suatu pertada ketidaknormalan, melainkan justru merupakan pendorong bagi segala perbaikan dalam kehidupan manusia. Tetapi dalam keadaan normal rasa rendah diri itu merupakan pendorong kea rah kemajuan atau kesempurnaan(superior). Bagi Adler tujua manusia bukanlah mendapatkan kenikmata, akan tetapi mecapai kesempurnaan. 5. Dorongan Kesempurnaan Pada mula-mulanya Adler hanya mementingkan dorongan keakuan, masalah rendah diri dan usaha menjadi superior, hal inilah yang membuat kecaman. Hal inilah yang memperluas pendapatnya dan mencakup juga dorongan kemasyarakatan. Dorongan kemasyarakatan itu adalah dasar yang dibawa sejak lahir karena pada dasarnya manusia adalah makhluk social.

Jadi kalau diikuti perkembangan Teori Adler itu maka dapat digambarkan demikian : a. Mula-mula manusia dianggap didorong oleh dorongan untuk mengejar kekuatan dan kekuasaan sebagai lataran untuk mecapai kompensasi bagi rasa redah dirinya. b. Selanjutnya manusia dianggapnya didorong oleh dorongan kemasyarakatan yang dibawa sejak lahir yang menyebabkan dia menempatkan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi. c. 6. Gaya Hidup Gaya hidup ini adalah prisip yang dapat dipakai landasan untuk memahami tingkah laku seseorang. Hal inilah yang melatarbelakangi sifat khas seseorang. Tiap orang punya tujuan sama yaitu mencapai superioritas, namun caranya untuk mengejar tujuan itu boleh dikata tak terhingga banyaknya, ada yang dengan membayangka akalnya, ada yang dengan melatih otot-ototnya dsb. Gaya hidup seseorang itu telah terbentuk antara umur tiga sampai lima tahun, dan selanjutnya segala pengalaman dihadapi serta diasimilasikan sesuai dengan gaya hidup yang khas itu. Menurut Adler gaya hidup itu ditentukan oleh inferioritas yang khusus, jadi gaya hidup itu adalah suatu betuk kompensasi terhadap kekurang sempurnaan tertentu. Teori Adler tentang gaya hidup sebagai dasar tingkah laku ini akhirnya tidak memuaskan dia sendiri. Karena hal ini dipandangnya terlalu mekanitis, karena itu dicarinya pengertia yang lebih memadai, dan akhirnya hal ini dikemukakanya:diri yang kreatif. 7. Diri Yang Kreatif Diri yang kreatif inilah yang memberi arti kepada hidup, yang menetapkan tujuan serta membuat alat untuk mencapainya.