Anda di halaman 1dari 10

Pratikum Fisiologi Pemeriksaan Fungsi Indera Pendengaran

Dicky Ariyono Bumbungan 41110056

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Duta Wacana 2013

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Seperti yang kita ketahui semua, Telinga merupakan Oragan yang sangat penting didalam tubuh kita ini, yang tentunya harus dijaga agar tetap berfungsi sebagaimana mestinya. Telinga sendiri selain untuk mendengan, juga memiliki fungsi sebagai keseimbangan. Telinga manusia merupakan organ yang sangat kompleks. Telinga manusia merupakan saluran yang terbuka di bagian luar dan bersatu dengan tulang tengkorak. Telinga merupakan organ tubuh yang berfungsi untuk mendengar suara atau bunyi. Suara yang dapat kita dengar adalah suara - suara yang memiliki frekuensi antara 20 Hz 20.000 Hz. Bagian bagian Telinga ini terbagi atas tiga bagian, yaitu yaitu telinga luar (auris externa), telinga tengah (auris media), dan telinga dalam (auris interna). Dalam proses pengiriman suara dari luar hingga da pat di terjemahkan di otak, terdapat banyak organ yang akan dilewati oleh respon suara. Mulai dari mengubah respon suara menjadi impuls yang akan di terjamahkan di dalam otak. Pada proses tersebut bisa saja terjadi gangguan. Gangguan tersebut dapat berasal dari dalam maupun dari luar. Pada praktikum kali ini, akan di uji bagaimana respon suara tersebut akan diubah menjadi impuls. Suara dapat merambat melalui udara dan juga melalui tulang. Pada pemeriksaan, kali ini akan dapat di lihat gangguan pendengaran tersebut berasal dari mana agar dapat di tangani lebih dini jika di temukan kelainan.

B. Tujuan 1.Menguji kepekaan indera pendengaran 2.Menguji dan memeriksa jenis jenis ketulian

BAB II DASAR TEORI


Telinga memiliki beberapa bagian antara lain : a. Telinga bagian luar (auris externa) Terdiri atas: - Daun telinga, berfungsi untuk menampung getaran. - Saluran telinga luar atau lubang telinga, berfungsi menyalurkan getaran. - Kelenjar minyak, berfungsi menyaring udara yang masuk sebagai pembawa gelomban g suara. - Membran timpani atau selaput gendang, berfungsi menerima dan memperbesar getaran suara.

b. Telinga bagian tengah (auris media) Telinga bagian tengah terletak di sebelah dalam membran timpani. Fungsi dari telinga bagian tengah adalah untuk meneruskan getaran dari suara telinga bagian luar ke telinga bagian dalam. Pada telinga tengah terdapat saluran Eustachius dan tiga tulang pendengaran. - Saluran Eustachius, berfungsi untuk mengurangi tekanan udara di telinga tengah sehingga tekanan udara di lu ar dan di dalam akan sama. Keseimbangan tekanan ini akan menjaga gendang telinga supaya tidak rusak. Saluran ini akan tertutup dalam keadaan biasa, dan akan terbuka jika kita menelan sesuatu. - Tulang pendengaran, berfungsi untuk mengantarkan dan memperbes ar getaran ke telinga bagian dalam. Tulang pendengaran ada tiga, yaitu tulang martil, tulang landasan, dan tulang sanggurdi. Tulangtulang ini menghubungkan gendang telinga dan tingkap jorong. c. Telinga bagian dalam (auris interna) Telinga bagian dalam ber fungsi mengantarkan getaran suara ke pusat

pendengaran oleh urat saraf. Penyusun telinga bagian dalam adalah sebagai berikut. - Tingkap jorong, berfungsi menerima dan menyampaikan getaran. - Rumah siput, berfungsi menerima, memperbesar, dan menyampaikan getaran suara ke saraf pendengaran. Di dalam saluran rumah sifut terdapat cairan limfe dan terdapat ujung -ujung saraf pendengaran. - Tiga saluran setengah lingkaran, berfungsi sebagai alat untuk mengetahui posisi tubuh dan menjaga keseimbangan Fisiologi pendengaran Gelombang gelombang suara suara pertama kali ke ditangkap meatus dan oleh pinna kemudian auditorius

disalurkan

kanalis

externus.Gelombang suara akan dihantarkan ke membrane timpani. membrane timpani berfungsi sebagai resonator yang menghasilkan u lang getaran dari sumber suara sebagai respon terhadap perubahan tekanan yang dihasilkan oleh gelombang suara dipermukaan luarnya . Membrane timpani bergerak keluar masuk kemudian disalurkan ke manubrium maleus, maleus bergoyang pada suatu sumbu melalui taut prosseus panjang &pendeknya sehingga prosseus pendek menyalurkan getaran ke manubrium incus yang kemudian akan disalurkan ke kepala stapes . Getaran ini akan diterusk an oleh ketiga tulang dengar ke jendela oval . Getaran struktur koklea pada jendela oval d iteruskan ke cairan limfe yang ada di dalam saluran vestibulum. Getaran cairan tadi akan menggerakkan membran reissmer dan menggetarkan cairan limfe dalam saluran tengah. Perpindahan getaran cairan lim fe di dalam saluran tengah menggerakkan membran basher yang dengan sendirinya akan menggetarkan cairan dalam saluran timpani. Perpind ahan ini menyebabkan melebarnya membran pada jendela bundar. Getaran dengan frekuensi tertentu akan menggetarkan selaput -selaput basilar, yang akan menggerakkan sel -sel rambut ke atas dan ke bawah. Rangsangan fisik ta di diubah oleh adanya perbedaan ion kalium dan ion Na menjadi aliran listrik y ang diteruskan ke cabang N.VIII

yang kemudian meneruskan ran gsangan ke pusat sensori pendengaran di otak melalui saraf pusat yang ada di lobus temporalis. (Guyton, 2007)

Gelombang suara adalah gerakan udara yang merambat yang terdiri dari daerah daerah bertekanan tinggi akibat kompresi(pemadatan) molekul udara bergantian dengan daerah molekul daerah bertekanan ditandai rendah oleh akibat adanya

penjarangan(peregangan )

udara.Suara

nada (tone), intensitasnya (kekuatan,keras-lemahnya),dan suara,kulaitas) 1

timbre (warna

Nada suatu suara ditentukan oleh frekuensi getaran.Semakin besar frekuensi getaran ,semakin tinggi nada .Telinga manusia dapat mendeteksi gelombang suara dengan frekuensi dari 20 sampai 20.000 siklus per detik tetapi paling peka untuk frekuensi antara 1000 dan 4000 siklus per detik.

Intensitas

atau

kekuatan, suara

bergantung

pada

amplitudo

gelombang suara atau perbedaan tekanan antara daerah pemadatan bertekanan tinggi dan daerah peregangan bertekanan rendah.Dalam rentang pendengaran,semakin suara.Kekuatan suara diukur besar dalam amplitudonya,semakin desibel(dB) yaitu keras ukuran

logaritmik intensitas dibandingkan dengan suara paling lemah yang masih terdengar -ambang pendengaran. 3 Warna suara atau kualitas, suatu suara bergantung pada

overtone,yaitu frekuensi tambahan yang mengenai nada dasar.Garpu tala memiliki nada murni,tetapi sbagian besar suara tidaklah

murni.Warna suara memungkink an pendengar dapat membedakan sumber gelombang suara karena setiap sumber suara menghasilkan pola nada tambahan yang berbeda beda. (Sherwood,2012)

Pada pemeriksaan dapat dilakukan :

Tes Rinne

: Adalah tes untuk membandingkan hantaran udara dan

hantaran melalui tulang pada telinga yang diperiksa Tes Weber : Adalah tes pendengaran untuk membandingkan hantaran

tulang kiri dengan telinga kanan Tes Schwabach : Adalah tes dengan membandingkan hantar an tulang orang yang di periksa dengan pemeriksa yang pendengarannya normal Tes Bing : Cara pemeriksaan : dengan tragus telinga yang di tekan

sampai menutup liang liang sehingga tuli konduktif kira -kira 30 dB. Penala di getarkan dan diletakkan pada pertengahan kepala. Penilaian : Bila terdapat laterasi ke telinga tertutup, berarti telin ga tersebut normal. Bila bunyi pada telinga yang ditutup tidak bertambah keras, berarti telinga tersebut menderita tuli konduktif

(FKUI,2007) Alat bantu pendengaran bermanfaat pada kasus -kasus tuli hantaran yang tidak dapat di sembuhkan, tetapi kurang berguna untuk tulis saraf. Alat ini memotong pintas sistem hantaran yang defektif dengan memperkuat dan menyalurkan gelombang suara melalui tulang ke telinga dalam untuk menggerakkan cairan. Namun sistem sel reseptor jalur saraf harus masih utuh agar dapat didengar (Sherwood,2012)

BAB V PEMBAHASAN
1. Pemeriksaan Kepekaan Pada pemeriksaan kali ini probandus akan mendengarkan suara detik jam weker yang akan di dekatkan perlahan -lahan mendekati telinga dengan ruangan yang ideal ( hening). Dengan pemeriks aan ini, kita dapat mengetahui seberapa peka kah telinga probandus. Diketahui sebelumnya bahwa, Semakin besar suara semakin besar amplitudonya,semakin tinggi frekuensi semakin tinggi nadanya. Pada pemeriksaan ini juga, sebelah telinga probandus akan ditu tup agar telinga yang satunya dapat fokus untuk mendengarkan suara. Sehingga hasil yang di dapatkan adalah akurat. Pada proses pendengaran, bunyi / suara akan masuk melalui MAE yang akan menggetarkan membran timpani dan ossicula auditiva. Lalu akan masuk ke cochlea dan menggerakkan cairan di dalammnya sehingga dapat

merangsang organo corti. Lalu di ubah menjadi impuls yang akan di terjemahkan di cerebri. Kepekaan telinga seseorag dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, misalnya karena gaya hidup ( sering menggunakan earphone, sering

mendengarkan suara yang keras), trauma, dan adanya sumbatan pada MAE (mis: karena serangga , kotoran , atau benda asing lainnya). Sehingga dengan adanya beberapa faktor di atas, tingkat kepekaan pendengaran seseorang akan menurun. Selain faktor di atas, ada faktor lain yaitu usia. Karena sejalannya usia, akan menurunkan tingkat pendengaran dan kepekaannya. 2. Tes Rinne Tujuan melakukan tes Rinne adalah untuk membandingkan atara hantaran tulang( Bone Conduction ) dengan hantaran udara (Air Conduction ) pada satu telinga pasien. Garpu tala 288 Hz kita bunyikan, lalu menempatkan

tangkainya tegak lurus mastoid pasien (belakang meatus akustikus eksternus). Setelah pasien tidak mendengarbunyinya, segera garpu tala kita pindahkan didepan meatus akustikus eksternus pasien. TesRinne positif jika pasien masih dapat mendengarnya. Sebaliknya tes rinne negatif jika pasien tidak dapat mendengarnya . Normalnya hantaran udara lebih baik jika dibandingkan dengan hantaran tulang. Kesalahan pemeriksaan pada tes rinne dapat terjadi baik berasal dari pemeriksa maupun pasien. Kesalahan dari pemeriksa misalnya meletakkan garputala tidak tegak lurus, tangkaigarputala mengenai rambut pasien dan kaki garputala mengenai aurikulum pasien. Juga bisakarena ja ringan lemak planum mastoid pasien tebal.Kesalahan dari pasien misalnya pasien lambat memberikan isyarat bahwa ia sudah tidak mendengar bunyi garputala saat kita menempatkan garputala di planum mastoid pasien.Akibatnya getaran kedua kaki garputala sudah be rhenti saat kita memindahkan garputalakedepan meatus akustukus eksternus 3. Tes Weber Tujuan melakukan tes weber adalah untuk membandingkan hantaran tulang antara kedua telinga pasien. Cara kita melakukan tes weber yaitu: membunyikan garputala 512 Hz lalu t angkainyakita letakkan tegak lurus pada garis horizontal. Menurut pasien, telinga mana yang mendengaratau mendengar lebih keras. Jika telinga pasien mendengar atau mendengar lebih keras 1 telinga maka terjadi lateralisasi ke sisi telinga tersebut. Jika ked ua pasien sama-sama tidak mendengaratau sam -sama mendengaar maka berarti tidak ada lateralisasi.Getaran melalui tulang akan dialirkan ke segala arah oleh tengkorak, sehingga akan terdengar diseluruh bagian kepala. Pada keadaan patologis pada MAE atau cavu m timpani misal: otitis media purulenta pada telinga kanan. Juga adanya cairan atau pus di dalam

cavum timpani iniakan bergetar, biala ada bunyi segala getaran akan didengarkan di sebelah kanan . 4. Tes Schwabach Bertujuan untuk membandingkan daya transport me lalui tulang mastoid antara pemeriksa (normal) dengan probandus. Penguji meletakkan pangkal garpu tala yang sudah digetarkan pada puncak kepala probandus. Probandus akan mendengar suara garputala itu makin lama makin melemah dan akhirnya tidak mendengar su ara garputala lagi. Pada saat garputala tidak mendengar suara garputala, maka penguji akan segera memindahkan garputala itu, ke puncak kepala orang yang diketahui normal ketajaman pendengarannya

(pembanding). Bagi pembanding dua kemungkinan dapat terjadi : akan mendengar suara, atau tidak mendengar suara . Tuli konduktif. Saat Konduktif. tes Schwach memanjang, jika hasilnya itu menandakan terjadinya terjadi Tuli tuli

Sedangkan

memendek,

maka

Sensorineural.Tetapi dapat terjadi kesahalan juga pada tes ini jik a, Misalnya tangkai garpu tala tidak berdiri dengan baik, kaki garpu tala tersentuh, atau pasien lambat memberikan isyarat tentang hilangnya bunyi. 5. Tes Bing Tes Bing adalah aplikasi dari apa yang disebut sebagai efek oklusi, dimana garpu tala terdengar lebih keras bila telinga normal ditutup (bing +) , jika suara tidak ada perubahan setelah telinga di tutup maka hasilnya bing ( -). Bing negatif dapat menandakan bahwa adanya tulo konduktif. TES Rinne Weber Schwabach Bing Tuli Konduksi Negatif Lateralisasi ke sisi sakit Memanjang Negatif Tuli Neurosensoris Positif Lateralisasi ke sisi sehat Memendek Positif

BAB VI KESIMPULAN